Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
    531 research outputs found

    PENGARUH FAKTOR ABIOTIK TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT KARET DAN METODE PERAMALAN EPIDEMI

    Full text link
    Faktor iklim yang meliputi suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan, dan angin sangat menentukan perkembangan penyakit. Secara umum, Indonesia memiliki kondisi iklim yang sangat sesuai bagi semua perkembangan penyakit karet. Namun, dari sekian banyak faktor iklim tersebut, suhu, kelembaban dan curah hujan merupakan faktor yang sangat penting dalam epidemiologi penyakit tanaman. Faktor tersebut banyak digunakan dalam peramalan timbulnya epidemi suatu penyakit tanaman. Sampai saat ini, peramalan epidemi penyakit karet masih terbatas hanya berdasarkan metode pengamatan langsung dan tidak langsung(dengan data iklim) dan dirasakan belum sempurna. Saat ini telah dikembangkan peramalan e pidemi penyakit dengan menggunakan model analisis matematik berdasarkan hubungan faktor iklim dan perkembangan penyakit karet pada berbagai penyakit lain. Hal ini sangat membantu dalam mengembangkan manajemen pengendalian penyakit tersebut dan upaya antisipasi akan timbulnya epidemi penyakit. Dalam tulisan ini diuraikan pengaruh faktor iklim terhadap perkembangan penyakit karet dan beberapa metode peramalan akan timbulnya epidemi penyakit tersebut sebagai landasan antisipasi untuk mencegah timbulnya epidemi atau kerusakan berat oleh penyakit tersebut. Peramalan untuk penyakit daun karet mengggunakan model pengamatan langsung dan analisis data iklim dengan menggunakanfungsi TE. Peramalan penyakit akar dengan menggunakan persamaan regresi berdasarkankematian tanaman pada tahun tertentu dan pola simple interest disease. Peramalan untuk penyakit cabang batang dengan menggunakan data curah hujan yang dihubungkan denganperkembangan patogen sehingga akan dihasilkan kurva sigmoid atau kurva-s dan pola compound interest disease

    IDENTIFIKASI PENYEBAB KEJADIAN LUAR BIASA PENYAKIT GUGUR DAUN KARET DI INDONESIA

    Full text link
    Karet merupakan komoditi yang penting  dan sumber pendapatan petani bagi Indonesia. Salah satu penyebab rendahnya produksi karet di Indonesia karena adanya gangguan  berbagai penyakit.  Akhir-akhir ini, salah satu penyakit karet yang menjadi oubreak di pertanaman karet Indoensia yaitu penyakit gugur daun.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penyakit gugur daun yang saat ini oubreak di Indonesia, mengisolasi serta mengkarakterisasi  patogen penyebabnya.  Hasil pengamatan dilapangan menujukkan gejala penyakit mengakibatkan pengguguran daun secara terus menerus hingga 75-90%,  kanopi  menjadi tipis dan produksi  turun hingga 25 – 45% (Data Balai Penelitian Sembawa Bulan mei-juni 2018), Pengukuran intensitas penyakit berdasarkan  kategori dari International Rubber Research and Development Board (IRRDB). Penyakit ini menyerang semua klon dan semua stadia tanaman baik di pembibitan, kebun entres, tanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan.  Berdasarkan hasil secara morfologi terlihat bahwa patogen ini adalah Pestalotiopsis sp dan diperoleh 2 gejala hasil postulat koch. Â

    STUDI KOMPARASI MODEL PARAMETRIK DAN NON-PARAMETRIK DALAM ESTIMASI EFISIENSI TEKNIS PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI SUMATERA SELATAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi efisiensi teknis yang menggunakan teknik parametrik dan non-parametrik dikarenakan kedua metode tersebut masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan analisis komparasi di antara tiga metode analisis yaitu Stochastic Frontier Analysis (SFA), Data Envelopment Analysis (DEA), dan Bootstrap DEA terhadap data dari 380 petani karet di Sumatera Selatan. Hasil analisis stochastic frontier menunjukkan bahwa rata-rata skor efisiensi teknis dari kebun sampel adalah 0,72, yang menunjukkan bahwa rata-rata kebun karet sampel dalam penelitian ini tidak sepenuhnya efisien. Sedangkan hasil dari data envelopment analysis (DEA) yang tidak memperhitungkan randomness menunjukkan bahwa estimasi efisiensi teknis rata-rata sebesar 0,80, yang menunjukkan bahwa estimasi efisiensi teknis yang dihasilkan dari analisis DEA ​​terlalu tinggi. Kelemahan model DEA tersebut dapat diatasi dengan menerapkan model Bootstrap DEA. Pada analisis Bootstrap DEA, efisiensi teknis rata-rata berkurang menjadi 0,76, yang lebih mendekati nilai efisiensi teknis rata-rata SFA. Hal ini dikarenakan bootstrap DEA dapat menghasilkan interval kepercayaan dan estimasi efisiensi DEA dengan bias yang terkoreksi. Perbedaan kinerja di antara ketiga model-model ini dapat dikaitkan dengan asumsi bahwa perkiraan efisiensi teknis dengan pendekatan non-parametrik DEA hanya bergantung pada efek inefisiensi petani, sedangkan perkiraan efisiensi teknis dengan pendekatan parametrik (SFA) bergantung pada inefisiensi petani dan faktor lain di luar kontrol petani

    PERAN INDUSTRI KARET DALAM PEREKONOMIAN PROVINSI JAMBI: PENDEKATAN SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa linkages dan dampak industri karet alam terhadap perekonomian daerah Jambi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Provinsi Jambi tahun 2015. Metode penelitian ini adalah dengan mendisagregasi matriks SNSE dari ordo 52x52 menjadi 55x55 dengan mendisagregasi sektor perkebunan menjadi 4 sektor, yaitu industri ban; industri karet remah dan karet asap; industri barang-barang lainnya dari karet; dan industri kayu, barang dari kayu, dan lain lain. Hasil temuan menunjukkan bahwa industri karet primer maupun hilir berperan signifikan terhadap perekonomian Provinsi Jambi, yaitu sebesar IDR 29,86 Trilliun atau 69,17% dari nilai tambah faktor produksi di Provinsi Jambi dan penyerapan tenaga kerja sebesar 630 ribu orang atau 40,2% dari jumlah tenaga kerja di Provinsi Jambi. Hasil temuan menunjukkan bahwa forward dan backward linkage dari semua industri karet primer dan dua jenis industri karet hilir (industri karet remah dan karet asap; dan industri kayu, barang dari kayu dan lain lain) memiliki forward linkage < 1 dan backward linkage >1 sehingga hanya efektif sebagai leading sector saja. Perubahan yang terjadi di sektor lain atau menggunakan pembangunan sektor lain tidak akan efektif untuk mendorong pertumbuhan keempat subsektor industri karet tersebut. Sektor industri karet primer dan dua jenis industri karet hilir tersebut akan tumbuh jika sektor itu sendiri yang ditumbuhkan. Dari aspek penggandaan pendapatan secara total, subsector perkebunan karet memiliki penggandaan pendapatan total yang tertinggi. Dengan demikian, untuk meningkatkan pendapatan pada agisbisnis karet secara keseluruhan, maka pemilihan pembangunan fokus di subsector perkebunan karet merupakan kebijakan  yang strategis dan prioritas karena penggandaan pendapatan totalnya yang tertinggi (1,35) disusul oleh perkebunan selain karet (1,28); industri kayu, barang dari kayu (1,17) dan industri karet remah dan karet asap (1,09).  Kebaruan penelitian ini adalah secara spesifik mendisagregasi sektor perkebunan karet menjadi subsubsektor perkebunan karet yang lebih rinci

    KERAGAAN 215 PROGENI F1 TANAMAN KARET HASIL PERSILANGAN 2011-2012 DI PENGUJIAN SEMAIAN

    Full text link
    Salah satu upaya untuk menghasilkan klon karet unggul baru adalah melalui persilangan buatan antar klon tetua yang memiliki karakter spesifik dan hubungan kekerabatan genetik yang jauh. Berdasarkan Standart Operational Procedure (SOP) seleksi progeni F1 hasil persilangan terdiri dari beberapa tahap yaitu seleksi progeni F1, uji pendahuluan, uji lanjutan, dan uji adaptasi. Pada penelitian ini dilaporkan hasil seleksi 215 progeni F1 hasil persilangan tiga kombinasi klon tetua yaitu BPM 24 x PB 260, IRR 104 X PB 260 dan PB 260 X TJIR 1 dengan klon pembanding AVROS 2037. Pengamatan dilakukan terhadap lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, panjang alur sadap, produksi normal dengan sistem sadap S/2d3, dan aplikasi ethrel 2,5% setiap bulan, serta ketahanan progeni terhadap penyakit gugur daun utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara parameter produksi dengan lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, dan panjang alur sadap. Berdasarkan seleksi 1% parameter produksi lateks, terpilih tujuh progeni yaitu HP2011/215, HP2011/54, HP2011/170, HP2011/200, HP2011/213, HP2011/158, dan HP2011/18. Progeni tersebut akan diuji ke tahap selanjutnya

    DAMPAK KEKERINGAN TERHADAP PROSES FISIOLOGIS, PERTUMBUHAN, DAN HASIL TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Müll. Arg.)

    Full text link
    Indonesia adalah produsen karet terbesar kedua di dunia dengan luas areal penanaman mencapai 3,66 juta ha dan produksi sebesar 3,68 juta ton karet kering pada tahun 2017.  Produktivitas perkebunan karet di Indonesia tergolong belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah curah hujan yang rendah pada musim kemarau dan fenomena El-Nino yang menyebabkan kekeringan. Efek kekeringan adalah terjadinya defisit air pada tanaman, sehingga tekanan turgor menurun dan memicu ketidaknormalan fungsi organ tanaman. Parameter fisiologis tanaman yang dipengaruhi oleh kekeringan misalnya tekanan osmotik dan turgor, konduktansi stomata, fotosintesa, transpirasi, respirasi, dan aktivitas antioksidan. Efek kekeringan yang dominan pada proses fisiologis tanaman adalah perubahan konduktansi stomata. Menutupnya stomata ini dipicu oleh hormon asam absisat (ABA) yang diproduksi di akar dan dibawa ke daun sebagai informer stomata ketika terjadi cekaman kekeringan. Konduktansi stomata juga sangat mempengaruhi besarnya fotorespirasi. Selain itu penutupan stomata juga mengakibatkan penurunan asimilasi CO2, sehingga dalam paparan cahaya yang berlebihan, over reduksi pada pusat reaksi fotosintesa PSII terjadi dan reactive oxygen species (ROS) misalnya superoksida, hidrogen peroksida, hidroksil radikal, dan oksigen singlet terbentuk. Tanaman yang toleran kekeringan beradaptasi terhadap kondisi cekaman kekeringan secara fisiologis dengan beberapa mekanisme, diantaranya adalah melalui peningkatan produksi hormon ABA, penutupan stomata, osmoregulasi, dan produksi antioksidan. Beberapa klon karet yang relatif toleran terhadap cekaman kekeringan adalah klon RRIM 600 dan GT1. Pada akhirnya, kekeringan yang terjadi akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman

    PERANAN PUPUK DAN FUNGISIDA TERHADAP PEMULIHAN TAJUK AKIBAT PENYAKIT GUGUR DAUN PESTALOTIOPSIS PADA KLON GT 1 DI KEBUN PERCOBAAN PUSAT PENELITIAN KARET SEMBAWA

    Full text link
    Penyakit gugur daun Pestalotiopsis (PGDP mengalami outbreak dengan luas serangan di Indonesia mencapai 382.000 ha pada tahun 2019. Akibatnya, penurunan produksi karet lebih dari 30%. Hingga saat ini,  cara yang efektif untuk pengendalian penyakit ini belum dilaporkan. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan meningkatkan sistem pertahanan tanaman dan menekan jumlah inokulum di perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk dan fungsida terhadap kerapatan tajuk dan penambahan produksi pada klon GT 1 yang terserang  PGDP. Dibandingkan kontrol, pemupukan 100 % dosis rekomendasi meningkatkan kerapatan tajuk 4% dengan kenaikan produksi 3 g/p/s. Pemberian ekstra 25% Nitrogen dan ekstra Kalium dapat memicu  kerapatan tajuk berturut-turut 5% dan 6% dengan kenaikan produksi 5 dan 6 g/p/s. Kerapatan tajuk terbukti meningkat baik dengan penyemprotan fungisida di gawangan maupun pengasapan pada daun muda masing-masing 9%, dan diiringi kenaikan produksi berturut-turut 5 g/p/s. Kombinasi aplikasi pupuk ektra 25% N, K dan fungisida pada gawangan dan fogging memberikan kerapatan tajuk 9% dan kenaikan produksi 10 g/p/s.  Pemupukan berperan dalam meningkatkan tajuk dan produksi.  Aplikasi fungisida di gawangan dan fogging dapat mempertahankan tajuk lebih baik

    KOMPARASI PERPADUAN SIR20/SBR DAN SIR 3CV/BR SEBAGAI BASE ELASTOMER TERHADAP KARAKTERISTIK KOMPOSIT KARET UNTUK TELAPAK BAN PEJAL VULKANISIR

    No full text
    Industri ban vulkanisir turut berperan penting dalam menggerakan agroindustri hilir karet di dalam negeri. Telapak ban menjadi bagian utama dalam menentukan mutu ban vulkanisir. Perpaduan karet alam dengan karet sintetik sering kali digunakan dalam merancang formulasi kompon karet untuk pembuatan telapak ban. Penelitian ini mengkaji penggunaan perpaduan karet alam/karet sintetik jenis SIR 20/SBR dan SIR 3CV/BR dalam mempersiapkan komposit karet untuk telapak ban pejal pada roda forklift vulkanisir. Perpaduan karet alam/karet sintetik diatur pada komposisi 75/25; 70/30; dan 65/35, sementara seluruh dosis bahan kimia karet ditetapkan sama pada semua kondisi percobaan. Mutu telapak ban pejal yang diperoleh dievaluasi berdasarkan hasil pengujian parameter kekerasan, kuat tarik, perpanjangan putus, ketahanan sobek, ketahanan retak lentur, dan ketahanan ozon. Hasil karakterisasi sifat fisika dan mekanik komposit karet untuk telapak ban pejal vulkanisir menunjukkan bahwa secara umum perpaduan karet SIR 20/SBR memiliki performa yang lebih baik dibandingkan perpaduan karet SIR 3CV/BR. Rasio SIR 20/SBR sebesar 75/25 dipilih sebagai komposisi teroptimum karena menghasilkan nilai kekerasan (57 Shore A), kuat tarik (23,77 N/mm2), perpanjangan putus (570%) yang tertinggi. Meskipun demikian nilai ketahanan sobek (29,7 kN/m) dan ketahan retak lentur (80 kCs) pada perpaduan karet tersebut masih perlu dtingkatkan

    STUDI PENDAHULUAN KONSTRUKSI PETA PAUTAN GENETIK DAN IDENTIFIKASI QUANTITATIVE TRAIT LOCI YANG TERPAUT DENGAN PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KARET

    Full text link
    Hevea brasiliensis merupakan salah satu spesies utama penghasil karet alam. Upaya pengembangan klon-klon karet unggul baru yang memiliki produksi lateks tinggi dan karakter agronomis yang baik perlu dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu faktor pembatas upaya tersebut adalah lamanya waktu seleksi yang dibutuhkan yakni berkisar 25-35 tahun. Pendekatan alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah seleksi dengan bantuan marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta pautan genetik dan identifikasi QTL yang terpaut dengan pertumbuhan awal tanaman karet. QTL dapat digunakan sebagai penanda molekuler untuk deteksi dini potensi pertumbuhan lilit batang klon karet. Analisis dilakukan pada 201 progeni F1 hasil persilangan klon PB 260 x SP 217. Fenotipe data pertumbuhan lilit batang dilakukan pada tanaman F1 umur 16-22 bulan yang ditanam pada areal seluas lima ha. Penyusunan peta pautan genetik populasi dilakukan menggunakan 263 marka SSR terseleksi. Pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan lilit batang populasi umur 22 bulan berkisar 5,5 – 25,04 cm dengan rata-rata 14,66 cm. Rata-rata penambahan lilit batang progeni F1 setiap bulan berkisar 0,4 – 1 cm. Koefisien keragaman menunjukkan bahwa terdapat keragaman pertumbuhan lilit batang yang cukup tinggi pada populasi. Tiga QTL yang terpaut pertumbuhan awal lilit batang tanaman karet umur 22 bulan setelah tanam berhasil teridentifikasi pada LG 14 dengan LOD 4,64, LG 13 dengan LOD 3,5, dan LG 1 dengan LOD 3. Pada LG 14 dengan LOD 4,1 berhasil teridentifikasi QTL terpaut peningkatan lilit batang dari umur 16 sampai 22 bulan. Posisi lokus gen atau sekuen DNA yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan lilit batang tersebut ditunjukkan oleh marka TAs2185 di mana gen tersebut memberikan pengaruh sebesar 11,7% terhadap pertumbuhan lilit batang tanaman karet. Keberadaan QTL tersebut perlu dianalisis secara berkala untuk mengetahui kestabilan sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu seleksi untuk lilit batang

    HASIL PROGRAM PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI MUSI BANYUASIN, STUDI KASUS : PADA PETANI BINAAN PERUSAHAAN â€Xâ€

    Full text link
    Perlu adanya kegiatan pengembangan perkebunan karet rakyat supaya terjadi peningkatan produktivitas dan mutu karet alam. Kegiatan pembinaan dan pendampingan untuk mensejahterakan petani menjadi tanggungjawab perusahaan yang beroperasional di wilayah pedesaan. Program ini dilakukan dengan menyeleksi calon petani calon lahan, melakukan pelatihan dan praktik lapang, membangun  kebun karet serta melaksanakan kegiatan pendampingan dalam bentuk monitoring berkala di kebun. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan tanggung jawab sosial Perusahaan X dalam  pembangunan petani karet dan lingkungan desa secara berkelanjutan. Kajian ini dilakukan dengan metode survei lapangan di wilayah desa binaan Perusahaan X dan wawancara mendalam menggunakan kuisioner. Kajian ini menunjukkan bahwa petani telah memperoleh manfaat dari hasil panen getah karet selama kurun waktu 13 – 17 tahun program . Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan, adopsi teknologi, produktifitas lahan, dan kesejahteraan petani binaan. Selain itu, terdapat nilai investasi aset dan pendidikan bagi anak petani.Â

    365

    full texts

    531

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇