Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK TETESAN LATEKS PADA BEBERAPA PERIODE PENGUMPULAN HASIL KLON PB 260 YANG MENGALAMI GUGUR DAUN SEKUNDER
Gugur daun sekunder sangat mempengaruhi produksi lateks pada tanaman karet. Penelitian observasi dilakukan untuk mengetahui pola aliran dan produksi lateks pada beberapa waktu pengumpulan hasil tanaman karet klon PB 260 berumur 12 tahun yang mengalami gugur daun sekunder dengan intensitas ±70-75%. Penelitian dilakukan pada bulan September-November 2017 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, Deli Serdang, Sumatera Utara dengan sistem sadap S/2 d3.ET2.5% Ga1.0 6/y(m) pada panel B0-2. Lateks dikumpulkan dari lima pohon yang diulang sebanyak tiga kali dengan ancak sadap sebagai ulangan. Waktu pengumpulan lateks terdiri dari 20, 40, 60, dan 80 menit setelah disadap. Parameter pengamatan meliputi kecepatan aliran lateks (ml/menit), produksi per pohon per sadap (g/p/s), indeks produksi (g/p/s/cm), dan  kadar padatan total (%). Hasil pengamatan menunjukkan kecepatan aliran lateks menurun secara signifikan pada periode 0 - 40 menit setelah sadap, sedangkan setelah 40 menit penurunan kecepatan aliran lateks tidak signifikan. Produksi lateks dan indeks produksi menurun secara signifikan di setiap 20 menit periode pengamatan, sedangkan kadar padatan total lateks tidak berbeda nyata selama 0 - 80 menit setelah sadap.Â
TEKNIK SEROLOGI UNTUK DETEKSI DINI PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus) MENGGUNAKAN METODE DOTBLOT
Teknik serologi dengan memanfaatkan antibodi di dalam serum dapat mendeteksi mikroorganisme tertentu. Hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh antibodi yang dapat mengenali antigen JAP baik itu dari fruiting body maupun miselium. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi stadium serangan JAP melalui deteksi dini pada daun dan tanah menggunakan antibodi JAP dan mendeteksi sebaran miselium JAP di dalam tanah areal perkebunan karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian antibodi menggunakan metode dot-blot dapat mendeteksi adanya serangan JAP baik di daun maupun di akar tanaman karet. Secara visual reaksi antigen antibodi memberikan lingkaran warna coklat. Semakin gelap warna lingkaran membran berarti semakin tinggi tingkat reaksi antigen-antibodi. Pembacaan dengan perangkat lunak Corel Draw pada dot-blot antigen daun/tanah tanaman sehat memiliki nilai intensitas RGB lebih tinggi dibandingkan tanaman yang terinfeksi JAP. Semakin parah tanaman terserang JAP maka intensitas RGB semakin menurun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi paket teknologi berupa kit yang dapat mendeteksi gejala serangan dini JAP pada tanaman karet. Kepraktisan atau kemudahan dalam mengidentifikasi merupakan salah satu syarat dalam mengembangkan teknologi ini untuk penerapan early warning system terhadap serangan JAP kedepanny
DAMPAK PENERAPAN AGREED EXPORT TONNAGE SCHEME (AETS) TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI KARET INDONESIA
Karet merupakan komoditi rakyat yang berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Namun harga karet alam berfluktuasi dengan tren menurun, sehingga mempengaruhi pendapatan negara dan kesejahteraan petani karet Indonesia. Oleh sebab itu, negara – negara produsen karet alam alam forum ITRC bersepakat untuk melakukan pembatasan ekspor dengan skema yang kemudian disebut agreed export tonnage scheme (AETS) sebagai upaya stabilisasi harga karet di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penerapan AETS sebagai kebijakan perdagangan karet alam terhadap kesejahteraan petani karet Indonesia. Analisis menggunakan model ekonometrik dalam bentuk sistem persamaan simultan yang diestimasi dengan metode Two Stage Least Squares (2SLS) menggunakan data series tahunan 1992–2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan AETS mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Adapun kesejahteraan petani yang paling tinggi diperoleh apabila seluruh negara anggota ITRC menerapkan AETS sesuai dengan kesepakatan
PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF BERBASIS MINYAK KELAPA SAWIT TERHADAP SIFAT MEKANIK KOMPOSIT KARET ALAM
Karet alam memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh karet sintesis, seperti daya pantul, kuat tarik, ketahanan sobek, ketahanan abrasi, viskoselastisitas, dan fleksibilitas pada suhu rendah. Namun karet alam juga memiliki kelemahan seperti ketahanan terhadap panas, ozon, dan sinar matahari serta ketahanan terhadap minyak, minyak tanah dan pelarut hidrokarbon yang rendah. Kandungan asam lemak tidak jenuh dalam minyak kelapa sawit relatif tinggi, sekitar 37-56 % sehingga minyak kelapa sawit memiliki potensi dikonversikan menjadi asam dimer sebagai bahan utama dalam pembuatan bioelastomer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan bioelastomer berbasis minyak kelapa sawit dapat meningkatkan nilai torsi maksimum, delta torsi, nilai kekerasan, kekuatan sobek, dan pampatan tetap dari kompon dan vulkanisat karet. Namun penambahan bioelastomer berbasis minyak kelapa sawit dalam kompon karet juga berakibat menurunkan waktu pra vulkanisasi, waktu pemasakan optimum, nilai tegangan putus, perpanjangan putus, ketahanan retak lentur, dan nilai kepegasan pantul. Hasil pengujian ketahanan minyak vulkanisat karet menunjukkan bahwa formula kompon karet  B3 (mengandung 7,5 phr bioelastomer berbasis minyak kelapa sawit) memiliki nilai perubahan massa yang paling kecil sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk barang jadi karet yang tahan terhadap minyak
TANTANGAN BUDIDAYA KARET DALAM KONDISI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
Kesadaran terhadap dampak pemanasan global dan perubahan iklim perlu terus ditingkatkan. Artikel ini menyampaikan perubahan kondisi iklim saat ini dan dampaknya terhadap kultur teknis tanaman karet. Dampak pemanasan global dan perubahan iklim meliputi peningkatan suhu dan kekeringan yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, memperpanjang periode tanaman belum menghasilkan (TBM), menurunkan hasil, dan meningkatkan potensi kejadian kering alur sadap (KAS). Anomali cuaca juga dapat menyebabkan curah hujan berlebihan yang dapat mengganggu kegiatan panen, menyebabkan kehilangan hasil dan meningkatkan serangan penyakit daun dan akar. Ancaman lain adalah evolusi gulma menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya perakitan klon yang adaptif terhadap perubahan iklim global. Pada bagian akhir disampaikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak perubahan iklim pada tanaman karet antara lain penanaman tanaman penutup tanah, pembuatan rorak dan konservasi air untuk mengurangi dampak kekeringan; penerapan sistem penyadapan tipologi klon, diagnosis lateks dan manajemen panel sadap untuk pencegahan KAS;Â pengolahan lahan, penggunaan bahan kimia dan agensia hayati untuk pengendalian penyakit jamur akar putih (JAP); modifikasi jarak tanam dan penggunaan tanaman pemecah angin untuk antisipasi serangan angin; penggunaan pelindung hujan mengurangi kehilangan hasil; serta pengendalian gulma terpadu dan tumpang sari untuk menekan pertumbuhan gulma di areal tanaman karet
MITIGASI KEKERINGAN PADA PERKEBUNAN KARET (Hevea brasiliensis Müll. Arg.) MELALUI PENDEKATAN PHYTOBIOME
El-Nino menimbulkan dampak musim kemarau yang berkepanjangan di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kekeringan yang terjadi pada saat musim kemarau dapat menurunkan produksi karet hingga 50%. Mitigasi untuk meminimalisir dampak kekeringan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan phytobiome. Pendekatan phytobiome diharapkan dapat meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap kekeringan baik dengan mekanisme drought tolerance maupun drought avoidance. Selain itu, dengan lingkungan biotik dan abiotik yang mendukung, lengas tanah juga semakin tersedia untuk tanaman. Upaya mitigasi dengan pendekatan phytobiome dilakukan secara komprehensif baik terhadap tanaman, lingkungan hidup tanaman, maupun organisme yang hidup di sekitar tanaman tersebut. Mitigasi dampak kekeringan terhadap tanaman karet dengan pendekatan phytobiome dapat dilakukan dengan perakitan dan adopsi klon-klon unggul toleran kekeringan, penggunaan root trainer untuk memperbaiki arsitektur akar, aplikasi senyawa osmoregulator, aplikasi asam humat, irigasi, penggunaan LCC sebagai mulsa, pembuatan rorak, dan inokulasi jamur mikoriza atau DSE. Penelitian tentang upaya mitigasi tersebut pada tanaman karet masih tergolong minim, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut agar pertumbuhan dan produksi karet tetap stabil selama terjadi kekeringan
PEMANFAATAN SKRAP KARET ALAM UNTUK PRODUKSI BROWN CREPE (BRCR) MENGGUNAKAN PENGERING SURYA DAN PENGERING SEMI TERBUKA
Skrap adalah koagulum yang berasal dari lateks pada saat penyadapandan menggumpal secara alami pada bidang sadap pohon karet, hingga saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Pada penelitian ini skrap dicoba dijadikan brown crepe (BRCR) dengan menggunakan mesin giling kreper, dilanjut dikeringkan dengan menggunakan pengering surya. Perlakuan terdiri atas jenis bahan olah karet (skrap dan lum mangkok) dan metode pengeringan (ruangan semi terbuka dan ruangan pengering matahari). Parameter yang diamati terdiri atas lama pengeringan, penentuan mutu secara visual dan penentuan mutu teknis (plastisitas awal/Po, indeks ketahanan plastisitas/PRI, viskositas Mooney dan kadar abu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skrap dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan BRCR, baik menggunakan ruangan semi terbuka maupun ruangan pengering surya. Pengeringan menggunakan ruangan pengering surya lebih cepat dibandingkan ruangan semi terbuka. Produk BRCR yang diolah dari skrap hanya memenuhi persyaratan jenis mutu BRCR 3X. Produk BRCR dari skrap mempunyai nilai plastisitas dan viskositas yang lebih rendah dibandingkan BRCR dari lum mangkok, tetapi mempunyai kadar abu yang lebih tinggi
TANGGAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis Muell Arg) KLON PB 330 DAN SIFAT KIMIA MEDIA TANAM DENGAN PEMBERIAN PEMBENAH TANAH
Pembibitan karet perlu dikelola dengan baik karena mutu bibit karet yang dihasilkan sangat menentukan performa perkebunan karet. Selain penggunaan klon unggul anjuran, peningkatan produktivitas lahan juga merupakan hal penting dalam meningkatkan produktivitas hasil tanaman karet, diantaranya adalah dengan penggunaan pembenah tanah. penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pertumbuhan bibit karet klon PB 330 dan sifat kimia media tanam dengan pemberian pembenah tanah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok non-faktorial enam ulangan dengan pembenah tanah sebagai perlakuan sebanyak tiga perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembenah tanah kompos kandang ayam mampu meningkatkan kandungan C-organik, N-total, P-tersedia, dan K-tersedia media tanam berturut-turut sebesar 92.06%, 175.00%, 74.14%, dan 82.14%. Pembenah tanah kompos jerami mampu meningkatkan kandungan C-organik, N-total, dan K-tersedia media tanam berturut-turut sebesar 92.06%, 175.00%, dan 3.57%, tetapi belum mampu meningkatkan kandungan P-tersedia media tanam. Pembenah tanah kompos kandang sapi hanya mampu meningkatkan kandungan C-organik dan N-total media tanam, tetapi menurunkan kandungan P-tersedia dan K-tersedia media tanam.            Pembenah tanah kompos kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan bibit karet asal stump klon PB 330 dibandingkan dengan pembenah tanah kompos jerami, kompos kandang sapi, dan kontrol
ANALISIS FINANSIAL PENGGUNAAN TEKNOLOGI STIMULAN GAS ETILEN PADA KONDISI HARGA KARET YANG DINAMIS
Peranan stimulan sangat besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman karet. Stimulan cair dapat meningkatkan produksi lateks kurang dari 50%, sedangkan stimulan gas mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 100%. Meskipun demikian, hal tersebut belum sepenuhnya berpengaruh terhadap minat adopsi teknologi stimulan gas etilen. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat adopsi teknologi stimulan gas etilen adalah harga jual karet yang rendah dan harga teknologi yang mahal. Agar penerapan teknologi ini dapat menghasilkan keuntungan, maka nilai dari peningkatan produktivitas yang dicapai harus mampu menutup segala biaya yang telah dikeluarkan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian mengenai produktivitas minimal yang harus diperoleh agar mampu menutup segala biaya yang ditimbulkan dan peluang aplikasi teknologi stimulan gas pada kondisi harga karet yang fluktuatif. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis Break Even Point dilanjutkan dengan melakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui peningkatan produktivitas yang harus diperoleh apabila terjadi gejolak ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas yang harus dicapai agar berada pada posisi BEP saat harga karet rendah (US 2,0/kg, produktivitas yang harus dicapai hanya sekitar 59,3 gr/pohon/sadap. Syarat volume produksi untuk mencapai BEP dari hasil penelitian ini secara faktual mampu dicapai oleh perkebunan karet pada kondisi harga dan biaya tertentu
PENGARUH ASAM SULFAT SEBAGAI BAHAN KOAGULAN LATEKS TERHADAP KARAKTERISTIK KARET DAN MUTU KARET
Penggunaan koagulan lateks yang tepat mampu menghasilkan karet bermutu baik. Namun, jaminan ketersediaan dan harga koagulan lateks anjuran menyebabkan petani karet beralih menggunakan koagulan non-anjuran. Penelitian ini mempelajari tentang mutu karet yang digumpalkan dengan koaglan anjuran asam format dan koagulan non-anjuran asam sulfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot basah koagulum asam format lebih berat dibandingkan bobot basah koagulum asam sulfat, meskipun waktu koagulasi dengan menggunakan asam sulfat lebih cepat dibandingkan waktu koagulasi dengan bahan penggumpal asam format. Mutu karet yang dihasilkan oleh penggumpalan asam format berdasarkan parameter kadar karet kering, kadar abu dan kadar zat menguapnya lebih baik dibandingkan dengan mutu karet yang digumpalkan menggunakan asam sulfat