Puslit Penelitian Karet E-Journal System Portal
Not a member yet
531 research outputs found
Sort by
KOMPARASI PENDAPATAN PETANI KARET YANG MENJUAL BOKAR KE PASAR LELANG DAN NON LELANG DI KECAMATAN SEMBAWA KABUPATEN BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapatnya perbedaan antara pendapatan petani yang menjual hasil bokar ke pasar lelang dan petani yang menjual hasil bokar ke pasar non lelang. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Pengambilan sampel menggunakan metode Probability Sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 89 petani karet yang terdiri petani menjual bokar ke pasar lelang sebanyak 64 responden dan petani menjual bokar ke pasar non lelang sebanyak 25 responden. Metode penelitian dilakukan secara kuantitatif yaitu matematik dan statistik. Analisis data menggunakan analisis matematik untuk mengetahui perbedaan pendapatan petani yang menjual bokar ke pasar lelang dengan petani menjual bokar ke pasar non lelang. Sementara analisis statistik menggunakan Independent Sampel T Test bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pendapatan petani yang menjual bokar ke pasar lelang dan petani menjual bokar ke pasar non lelang. Hasil penelitian dengan analisis matematik menunjukan bahwa pendapatan petani yang menjual bokar ke pasar lelang lebih tinggi dari pada petani yang menjual bokar ke pasar non lelang dengan tingkat pendapatan masing-masing sebesar IDR 299.173,76 dan IDR 252.524. Selanjutnya hasil analisis statistik menunjukan terdapat perbedaan pendapatan petani yang menjual bokar ke pasar lelang dan non lelang dengan nilai signifikansi sebesar 0.00. Jika dibandingkan dengan taraf signifikan 5% maka signifikansi bernilai lebih kecil sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata terhadap perbedaan pendapatan
DIAGNOSIS PENYAKIT GUGUR DAUN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.)
One of the causal of the low rubber production is the presence of plant diseases. Important diseases in rubber plants generally cause symptoms of leaf fall, due to Colletotrichum spp., Corynespora sp., and Oidium sp. Currently, there is an incidence of new rubber leaf fall disease with symptoms that are different from the diseases previously found in rubber plantations. This disease is widespread in Sumatra, Kalimantan, and Southeast Asia. There are many suspicions about the pathogens that cause the disease, but there is no precise diagnosis. Therefore, an accurate diagnosis is needed as a basis for determining an effective and efficient disease control strategy. This research was carried out to determine the causal agents of leaf fall disease with symptoms of round leaf spots that can cause leaf fall. Diagnosis was carried out by isolating the pathogen from several rubber clones, inoculating the pathogen to healthy rubber plants, identifying morphologically and molecularly, and re-isolating from inoculated plants. The results of Koch's postulates and morphological and molecular identification determined that the causal agents of leaf fall disease at rubber plants with round spots was the fungus Pestalotiopsis microspora
PENGARUH KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR DUA FASE WARNA BATANG PADA STEK BATANG BAWAH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Agr)
Ketersediaan biji karet sebagai bahan tanam untuk batang bawah seringkali terkendala iklim serta musim biji yang hanya ada satu kali dalam setahun. Stek batang karet dari tanaman seedling dilakukan sebagai upaya dalam memenuhi ketersediaan batang bawah dengan penambahan auksin untuk memicu pertumbuhan akar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi auksin dan fase warna batang yang paling tepat untuk pertumbuhan akar pada stek batang bawah karet. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Getas pada bulan Februari sampai September 2018. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor yaitu fase warna batang dan konsentrasi IBA dengan jumlah 60 tanaman setiap perlakuan sebagai ulangan. Faktor pertama adalah fase warna batang yang terdiri dari dua yaitu cokelat dan hijau. Faktor kedua yaitu konsentrasi IBA yang terdiri dari 0, 100, 200, dan 300 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek batang cokelat dengan konsentrasi IBA 100 ppm memberikan respon terbaik pada persentase berakar sebesar 54,84% dan panjang akar 7,93 cm, sedangkan stek batang hijau menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan IBA 300 ppm dengan persentase berakar sebesar 34,38% dan panjang akar 5,83 cm pada pengamatan 3 Bulan Setelah Stek. Panjang akar stek pada 6 BSS tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata baik pada perlakuan penambahan IBA maupun warna batang
PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN BATANG BAWAH KARET MELALUI METODE PEMANGKASAN TAJUK
Dalam kondisi permintaan bibit karet yang minim, upaya memperlambat pertumbuhan batang bawah diperlukan agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemangkasan tajuk terhadap pertumbuhan batang bawah karet dalam polibeg. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan, setiap satuan percobaan terdiri dari 10 polibeg tanaman. Perlakuan pemangkasan tajuk terdiri dari tiga taraf yaitu P0 (kontrol, tanpa pemangkasan), P1 (Pemangkasan dua tahap, di atas karangan daun pertama (6 minggu setelah tanam (mst)) dan di atas karangan daun kedua (9 mst), dan P2 (Pemangkasan satu tahap di atas karangan daun pertama (6 mst)). Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan P1 memiliki laju pertumbuhan diameter batang nyata lebih rendah (0,30 mm/minggu) dibanding kontrol (0,38 mm/minggu), sedangkan perlakuan P2 tidak berbeda nyata (0,35 mm/minggu) dibanding kontrol. Â Pada 22 mst, panjang dan bobot kering akar tidak berbeda nyata antar perlakuan. Ketebalan kulit pada perlakuan kontrol nyata lebih tinggi dibanding P1 dan P2 namun persentase keberhasilan okulasi tidak berbeda nyata antar perlakuan (P0 = 63%, P1 = 56%, dan P2 = 74%). Jika diameter batang bawah maksimal yang dianjurkan adalah 26 mm, maka dengan perlakuan P0 hanya dapat dipertahankan selama 17 bulan, sedangkan P1 selama 22 bulan dan P2 selama 19 bulan. Pemangkasan dua tahap dapat memperpanjang masa pakai batang bawah karet selama 5 bulan dibanding tanpa pemangkasan dan dapat menjadi alternatif bagi penangkar untuk menyiasati kondisi permintaan bibit yang minim
OPTIMASI KONDISI SUHU DAN KELEMBABAN SERTA PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP KEBERHASILAN AKLIMATISASI TANAMAN KARET ASAL EMBRIOGENESIS SOMATIK
Aklimatisasi merupakan periode kritis dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Kematian planlet akibat terjadinya perubahan kondisi lingkungan dari in vitro ke ex vitro sering terjadi pada periode tersebut, sehingga perlu dilakukan upaya memanipulasi kondisi lingkungan untuk memperoleh kondisi yang optimum. Penelitian bertujuan untuk mengoptimasi kondisi suhu dan kelembaban serta melihat pengaruh komposisi media tanam yang sesuai untuk proses aklimatisasi bibit karet asal embriogenesis somatik di rumah kaca. Optimasi iklim dalam sungkup plastik dilakukan dengan menggunakan alat fogging system. Penelitian menggunakan 210 planlet klon PB 260 yang berasal dari Cirad, Perancis. Planlet ditanam pada tujuh kombinasi media tumbuh menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan tiga ulangan dan setiap ulangan terdiri dari sepuluh tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap persentase tanaman hidup, tinggi, diameter dan jumlah daun tanaman selama aklimatisasi. Optimasi suhu dan kelembaban dalam sungkup plastik berhasil dilakukan pada kondisi suhu di bawah 30oC dan kelembaban di atas 90%. Pengamatan menunjukkan bahwa jenis media berpengaruh terhadap kemampuan tanaman bertahan hidup. Persentase tanaman bertahan hidup mencapai 90% ditemukan pada media tanah dan campuran cocofiber, gambut dan zeolit. Jenis media tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi, diameter dan jumlah daun tanaman selama dua bulan aklimatisasi. Pengaruh nyata jenis media tanam hanya ditemukan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman tiga bulan setelah aklimatisasi. Dalam kondisi keterbatasan ketersediaan top soil, campuran media cocofiber, gambut dan zeolit dapat digunakan sebagai alternatif media pengganti tanaman karet
KARAKTERISTIK FISIOLOGIS DAN HASIL LATEKS TANAMAN KARET KLON GT1 DENGAN PERLAKUAN SISTEM SADAP PENDEK PADA PERKEBUNAN KARET RAKYAT
Indonesia memiliki areal perkebunan karet terluas di dunia, yaitu sekitar 3,67 juta Ha pada tahun 2017, namun dari sisi produksi hanya berada pada posisi kedua setelah Thailand. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisiologis dan hasil lateks tanaman karet klon GT 1 dengan perlakuan sistem sadap pendek di perkebunan karet rakyat. Penelitian dilaksanakan di Desa Halaban Dusun Sidorejo Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian tempat 500-700 m dpl dan jenis tanah ultisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non-faktorial dengan lima ulangan dan tiga perlakuan sistem sadap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode Januari-Juni, kadar fosfat anorganik (FA) lebih tinggi pada perlakuan panjang alur sadap S/4 d3 ET 2,5% dibandingkan dengan panjang alur sadap S/2 d3 ET 2,5%, dan S/8 d3 ET 2,5%. Hasil lateks dengan panjang alur sadap S/2 d3 ET 2,5% lebih tinggi pada saat daun tanaman karet optimal (Januari), dan awal gugur daun (Februari), sedangkan hasil lateks pada fase awal daun baru (Maret-April), dan daun flush (Mei-Juni), lebih tinggi pada panjang alur sadap lebih pendek (S/8 d3 ET 2,5%)
EVALUASI KINERJA KLON KARET UNGGUL DENGAN PENERAPAN SISTEM SADAP INTENSITAS RENDAH
Harga karet yang rendah pada saat ini menjadi tantangan bagi perusahaan perkebunan untuk mengupayakan komoditas ini tetap menguntungkan. Upaya yang dapat dilakukan adalah efisiensi biaya terutama pada penggunaan tenaga kerja. Penyadapan dengan menggunakan frekuensi sadap rendah (d4) merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk mengurangi jumlah tenaga penyadap,namun yang menjadi kendala adalah tidak semua klon karet unggul memiliki respon yang baik dengan penerapan sistem sadap frekuensi rendah. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengevaluasi produktivitas klon-klon karet unggul dari beberapa perkebunan di Provinsi Sumatera Utara yangmenerapkan sistem sadap 1/2S d3 dan 1/2S d4 dengan menggunakan stimulan etephon konsentrasi 2,5%. Hasil evaluasi di beberapa perkebunan memperlihatkan bahwa produksi karet pada klon-klon unggul rekomendasi yang disadap dengan frekuensi sadap d3 masih lebih tinggi dibandingkan dengan d4, namun terdapat beberapa klon,seperti PB 330, IRR 104, IRR 220, dan RRIM 901yang memiliki produksi tergolong tinggi yang disadap dengan menggunakan frekuensi sadap d4. Klon-klon karet tersebut potensial dikembangkan sebagai klon karet yang respon terhadap penyadapan frekuensi rendah
PERTUMBUHAN BATANG BAWAH TANAMAN KARET PADA BEBERAPA FREKUENSI PEMUPUKAN NPK DAN PUPUK ORGANIK BRIKET DALAM ROOT TRAINER
Pemupukan anorganik memegang peranan penting pada pembibitan tanaman karet dalam root trainer. Efektivitas pemupukan anorganik dipengaruhi oleh frekuensi pemupukan yang tepat dan pemberian pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK pada beberapa frekuensi pemupukan dan pupuk organik briket gambut rawa pening terhadap pertumbuhan batang bawah tanaman karet dalam root trainer. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Getas, Salatiga, Jawa Tengah pada bulan April sampai September 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomize Design). Perlakuan terdiri atas tanpa pemupukan, pupuk NPK 1 minggu, dan kombinasi frekuensi pemupukan (1, 2, 3, dan 4 minggu) dengan pupuk organik briket (1 dan 2 buah). Kombinasi pupuk NPK pada semua frekuensi pemupukan dengan pupuk organik briket gambut rawa pening menunjukkan tinggi tanaman, diameter batang, bobot tanaman, bobot akar, dan kandungan hara daun yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pemupukan dan memiliki efektivitas agronomi yang lebih tinggi dibandingkan pupuk NPK 1 minggu. Perlakuan pupuk NPK setiap 1 minggu +2 pupuk organik briket merupakan perlakuan dengan efektivitas agronomi tertinggi (EAR 339%). Sedangkan efektivitas agronomi terrendah ditunjukkan pada perlakuan pupuk NPK setiap 4 minggu +1 pupuk organik briket (EAR 206%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penambahan pupuk organik briket gambut rawa pening dapat mengurangi frekuensi pemupukan anorganik hingga 4 kali dengan efektivitas agronomi yang masih lebih tinggi dibandingkan pupuk NPK 1 mingg
EFISIENSI TEKNIS PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI SUMATERA SELATAN: ANALISIS TWO-STAGE BOOTSTRAP DEA
Produktivitas karet yang rendah merupakan masalah yang dihadapi oleh petani karet rakyat di Sumatera Selatan, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat efisiensi produksi dan mengidentifikasi faktor-faktor (determinan) yang memengaruhi efisiensi yang terkait dengan produksi karet rakyat di Indonesia. Kegiatan survei dilakukan di Sumatera Selatan, dengan menganalisis 380 petani sampel yang dipilih melalui prosedur pengambilan sampel acak bertingkat. Two-stage bootstrap DEA digunakan untuk mengestimasi tingkat efisiensi teknis dan determinannya menggunakan data cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor efisiensi teknis yang menggunakan bootstrap DEA rata-rata lebih rendah (0,764) dibandingkan skor DEA konvensional (0,802). Namun demikian, skor efisiensi yang dikoreksi bias (bootstrap DEA) masih dalam kisaran interval kepercayaan, yang menunjukkan bahwa skor efisiensi DEA konvensional terlalu tinggi. Hasil regresi terpotong (the truncated regression) menunjukkan bahwa pengalaman berkebun karet dan sistem sadap yang digunakan petani berpengaruh signifikan terhadap efisiensi teknis usaha tani karet
PENENTU EKSPOR KARET ALAM INDONESIA: STUDI PADA SEPULUH NEGARA TUJUAN UTAMA
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap peran dari faktor-faktor penentu ekspor karet alam Indonesia di sepuluh negara tujuan utama pada periode 2003 hingga 2017. Faktor-faktor penentu yang dimaksud adalah jarak relatif, nilai tukar, daya saing (RCA dan ISP), kebijakan perdagangan IRCo, Foreign Direct Investment (FDI), dan harga internasional. Dengan menggunakan metode analisis data panel, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel jarak relatif Indonesia ke negara tujuan berpengaruh negatif ke perkembangan nilai ekspor karet alam Indonesia, sedangkan indeks RCA, indeks spesialisasi perdagangan (ISP), kebijakan perdagangan IRCo, Foreign Direct Investment (FDI), dan harga internasional terbukti berpengaruh positif pada nilai ekspor perdagangan karet alam Indonesia. Selanjutnya kehadiran efek J-curve terbukti dapat diverifikasi seiring dengan ditemukannya indikasi hubungan non-linear antara nilai tukar riil (RER) dengan nilaiekspor karet alam Indonesia