3121 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN HASIL TERNAK LELE DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BIOFLOK
ABSTRAKDesa abiansemal merupakan salah satu desa peternak lele. Permasalahan warga desa abiansemal khususnya peternak lele yang menjadi prioritas untuk dipecahkan adalah pada proses produksi, minimnya pengetahuan peternak tentang sistem bioflok dan butuh waktu untuk mengubah paradigma mereka yang masih menggunakan metode konvensional. Masalah lainnya yang segera menjadi prioritas adalah dari segi aspek pemasaran perlu sentuhan informasi terhadap usahanya agar mendorong pembudidaya untuk memperluas pasar. Kelompok peternak lele ini perlu pendampingan dan pelatihan oleh kepakaran untuk menolong pembudi daya ikan pada khususnya dan membantu dalam produksi kualitas ikan. Selain itu untuk meningkatkan produksi dibutuhkan sistem bioflok dari bentuk kolam, pengaturan air, cara pakan, pemberian probiotik, airrato/oksigen dan kepadatan jumlah tebar dalam upaya meningkatkan hasil ternak lele yang berkualitas. Kelompok Usaha distributor lele juga memerlukan pendampingan terhadap manajemen produksi yang sesuai dengan harapan dan permintaan pasar. Kelompok ini merupakan kelompok vital keberlanjutan masyarakat desa abiansemal dan diharapkan mampu berkembang dalam laju kemajuan usaha masyarakat di desa tersebut. Metode pelaksanaan yang dilakukan dalam kegiatan ini dengan Pelatihan, Pendampingan dan demontrasi. Tujuan pendampingan ini adalah diharapkan mampu meningkatkan produksi dan kualitas ikan sehingga mampu mengembangkan usahanya sesuai dengan harapan konsumen, baik dari segi aspek produksi maupun aspek pemasaran sehingga mampu memberikan kesejahteraan masyarakat desa abiansemal dan dapat terus berkembang baik dari segi usaha pendukung seperti usaha pertanian dan perikanan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan teknik survey dan wawancara kepada sejumlah kelompok lele yang ada di kabupaten badung.Kata Kunci: Peningkatan Produksi, Kelompok Ternak Lele, SisTem Bioflok.ABSTRACTAbiansemal village is one of the villages of catfish farmers. The problems of rural residents, especially catfish farmers, which are the priority to be solved are in the production process, lack of knowledge of farmers about biofloc systems and it takes time to change the paradigm of those who still use conventional methods. Another problem that immediately becomes a priority is that in terms of marketing aspects, information needs to be touched on its efforts to encourage farmers to expand the market. This group of catfish farmers needs assistance and training by expertise to help fish farmers in particular and assist in the production of quality fish. In addition to increasing production, a bioflok system is needed from the form of ponds, water regulation, feeding method, probiotics distribution, airrato/oxygen and density of stocking quantities in an effort to improve the quality of livestock catfish. The catfish distributor business group also needs assistance with production management in accordance with market expectations and demands. This group is a vital group for the sustainability of rural communities and is expected to be able to develop in the pace of progress of the business community in the village. The method of implementation carried out in this activity is Training, Mentoring and demonstration. The aim of this assistance is to increase fish production and quality so that it is able to develop its business according to consumer expectations, both in terms of production aspects and marketing aspects so as to be able to provide welfare to rural communities and continue to grow in terms of supporting businesses such as agriculture and fisheries. This method used in this study was survey and interview techniques to a number of catfish groups in Badung district.Keywords: Increase of Production , Catfish Farming Group, Bioflok System
PELATIHAN SQUARE STEPPING EXERCISE BAGI LANJUT USIA DI BANJAR TAINSIAT
ABSTRAKSeseorang yang memasuki lanjut usia (lansia) akan banyak mengalami penurunan fungsi tubuh. Salah satu penurunan fungsi yang terjadi adalah gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan merupakan faktor paling banyak menjadi penyebab lansia mengalami jatuh. Jatuh pada kondisi lansia inilah yang nantinya mengakibatkan penurunan aktifitas fungsional, sehingga mengakibatkan lansia akan tergantung kepada orang lain. Untuk itu perlu adanya sebuah program yang bertujuan meningkatkan keseimbangan. Perkumpulan lansia di banjar tainsiat adalah perkumpulan yang beranggotakan lebih dari 40 orang lansia yang aktif melakukan pertemuan setiap minggu. Sejauh pengamatan pengabdi, belum ada kegiatan yang mereka lakukan untuk meningkatkan keseimbangan. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pelatihan kepala lansia tentang latihan keseimbangan dengan memberikan solusi berupa pelatihan square stepping exercise. Hasil dari pengabdian masyarakat ini adalah lansia mampu mengaplikasikan square stepping exerciseKata Kunci: Lansia, Square Stepping exercise, latihanABSTRACTSomeone who enters the elderly (elderly) will experience a lot of decline in body function. One of the decreasing functions that occurs is a balance disorder. Balance disorder is the most common factor causing the elderly to fall. Falling on the condition of the elderly is what will later lead to a decrease in functional activities, so that the elderly will depend on others. For this reason, it is necessary to have a program that aims to improve balance. Elderly associations in Banjar Tainsiat are associations with more than 40 elderly people who actively hold meetings every week. As far as observers there are no activities that they have done to improve balance. The purpose of this activity is to provide training for the elderly about balance training by providing a solution in the form of a square stepping exercise training. The result of this community service is that the elderly are able to apply stepping square exercisesKeywords: Elderly, Square Stepping, Exercis
Efektivitas Konseling Eksistensi Humanistik dengan Kebermaknaan Hidup pada Tunanetra
Abstrak. Akibat dari kondisi disabilitas yang dialami, penderita tuna netra kerap kali merasa kehilangan makna hidup. Penelitian ini hendak menguji implementasi konseling eksistensi humanistik pada peningkatan makna hidup penderita tuna netra. Lima orang penderita tunanetra dipilih untuk mengikuti konseling eksistensi humanistik. Sesi konseling terdiri atas tujuh sesi yang masing-masing sesi dirancang untuk meningkatkan pemahaman diri hingga perubahan sikap. Hasil uji analisis menggunakan teknik Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan kebermaknaan hidup dari partisipan penelitian setelah melalui sesi konseling. Implikasi konseling humanistik dan kebermakanaan hidup pada penelitian ini dibahas lebih lanjut.Kata kunci: kebermaknaan hidup, konseling eksisteni, humanistik, tuna netr
Psychological Well-Being Warga Perempuan Desa Tenganan Pegringsingan Yang Melakukan Perkawinan Endogami
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan menemukan dinamika psychological well-being warga perempuan Desa Tenganan Pegringsingan yang melakukan perkawinan endogami. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek adalah tiga orang warga perempuan yang telah melakukan pernikahan endogami lebih dari lima tahun. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam terhadap Subjek dan informan. Hasilnya ketiga Subjek menemukan kebahagiaan melalui pemenuhan empat dimensi dari enam dimensi psychological well-being yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan dan tujuan hidup. Meskipun hanya memenuhi empat dimensi, ketiga Subjek tetap dapat menemukan kebahagiannya. Kebahagiaan dimaknai Subjek dengan kondisi keluarga yang harmonis dan tanpa konflik.Kata Kunci: psychological well-being, perkawinan endogami, Tenganan Pegringsinga
Perbedaan Variabel Demografis terhadap Career Anchors pada Siswa dengan Kepribadian Conscientiousness di SMAN 1 Kuta Utara
Abstrak. Penelitian ini menggunakan Career Anchor Assessment Inventory; penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dan mengapa orientasi karir siswa diarahkan pada perbedaan jenis kelamin, etnis, dan usia. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan dimensi Big Five Personality Inventory dari aspek conscientiousness untuk menentukan tingkat kesungguhan partisipan dalam pengambilan keputusan karir dan menghubungkannya dengan orientasi karir mereka. Sebanyak 290 partisipan dari SMAN 1 Kuta Utara disurvei. Analisis statistik dilakukan degan menggunakan analisis ANOVA serta uji Pearson Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan siswa mendapatkan nilai tertinggi pada dimensi Entrepreneurial Creativity dan Lifestyle, sementera dimensi Managerial Competence paling rendah. Selanjutnya, terdapat perbedaan antara jenis kelamin dan usia dengan dimensi Entrepreneurial Creativity (p= .027) dan Lifestyle (p= .037), sementara tidak ada perbedaan penilaian karir antar etnis. Di sisi lain, ditemukan adanya korelasi antara nilai conscientiousness siswa yang tinggi dengan dimensi Entrepreneurial Creativity yang menunjukkan niat untuk menjadi wirausahawan di masa depan.Kata kunci: Career Anchors, Conscientiousness, jenis kelamin, etnis, usi
Kecemasan Penyandang Disabilitas dalam Mencari Pekerjaan di Kawasan Wisata Kuta Bali
Abstrak. Penyandang disabilitas di Kabupaten Badung tahun 2017 terus meningkat setiap tahunnya. Kebijakan pemerintah Badung maupun Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2015 kurang berpihak terhadap penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas menjadi kelompok termarjinalkan dan terhegemoni di tengah geliat industri pariwisata yang berlimpah dolar di kawasan wisata Kuta tersebut. Oleh sebab itu, penyandang disabilitas mengalami kecemasan dalam mencari pekerjaan selama ini. Masalah yang dikaji dalam artikel ini adalah kecemasan yang dialami oleh penyandang disabilitas dalam mencari pekerjaan di kawasan wisata Kuta Bali serta jenis pekerjaan yang dilakukan di kawasan wisata Kuta Bali? Dalam mengkaji masalah ini dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan kajian budaya. Penelitian ini menghasilkan dua hal: Pertama, penyandang disabilitas mengalami kecemasan dalam mencari pekerjaan di kawasan wisata Kuta, sehingga mereka terpaksa bekerja yang kurang sesuai dengan potensi dirinya. Kedua, penyandang disabilitas terpaksa bekerja sebagai cleaning service dan operator CCTV di kawasan wisata Kuta. Kecemasan ini akan terus meningkat jika pemerintah dan pengusaha kurang berpihak sera memberdayakan penyandang disabilitas yang sesuai dengan potensi dirinya.Kata kunci: kecemasan, penyandang disabilitas, kawasan wisata kut
SOCIAL-CULTURAL APPROACHING CAN PREVENTING SPREAD OF RADICALISM AND ESTABLISH TOLERANCE IN INDONESIA
ABSTRACKThe spread of radicalism has ruined the Indonesian social, cultural, economic and political aspect. The social foundation which sticks to everyone is dependable to each other. No one is able to go through his life well without others. However, the world civilisation is kept on improving alongside with the increasing population thus creating complex plurarity. Not only the plurarity in personality but also in all lines which create unstopable plurarity in religion, beliefs, customs and cultures, languages and others. The situation becomes a positive area and also becomes an exclusive challenge for the ongoing community society in the county. Recently, the trending hot social issues in Indonesia are miserable, namely the spread of radicalism, terrorism and intolerance. Intolerance has happened on several areas become a serious task for the security department to encounter and overcome. These situations have urged the needof social community perspective to as the preventing indicators for the of radicalism and establish tolerance in Indonesia. The method applied was a qualitative method with a cultural study approach and applied social practice theory. The aim of the study was preventing the spread of radicalism and establish tolerance in Indonesia through a socio-cultural approaches. The results of the study found that the socio-cultural approaches can preventing the spread of radicalism and establish tolerance in Indonesia. Thus, community are not afraid of activities and social harmony is establish in Indonesia.Keywords: Social-cultural approaching; Radicalism; Tolerance; Indonesia
MANAGING WASTE THROUGH TECHNOLOGY UTILIZATION
ABSTRACTWell-known as a traveler’s choice destination, Bali has recently been highlighted by its waste crisis, specifically, due to massive plastic usage. It is obvious, that the volume of waste is increasingly widespread. Focusing on Information System, this study develops a trash pickup service application, which can be considered as a tool for people’ awareness towards waste management response, as well as taking a part in its running process. Taking advantage of Community Service as one of the main pillars in Tridharma Perguruan Tinggi, development process involves a local waste management organization that located in Denpasar City, and academics to experience factual learning, while providing them opportunities for giving back to the community.Keywords: app development, technology utilization, waste managemen
THE IMPACT OF TOURISM IN THE VILLAGE OF SOUTH KUTUH KUTA BADUNG: ECONOMIC, SOCIAL CULTURAL, AND ENVIRONMENTAL PERSPECTIVES
ABSTRACTBadung is one of the regencies in Bali with various tourism objects and has become a source of government income. Government of Bali always tries to develop the tourism places in Bali. One of the examples where government develops Bali’s tourism places is South Kutuh Kuta Village where one of the 6 villages in South Kuta district has many potential tourism places.The development of tourism in Kutuh Village has experienced significant progress and this has had both positive and negative impacts. So the purpose of this paper is to find out the impact of tourism in Kutuh Village, South Kuta from an economic, socio-cultural and environmental perspective.The positive economic impact of tourism is opening up business and employment opportunities and increasing the level of welfare of the people, while the negative impact is that the sale of several land areas of competitively owned land is relatively expensive and consumptive prices. In adidition, from Socio-cultural impact, the positive impact of tourism is the increasing of education, knowledge, national and International human relationship. On the other hand, the negative impacts of tourism in socio-cultural are land ownership shifting and the changing of job vacancy jobs. Moreover, the positive impact in environment is the changes of nature’s condition, changes of environment that becomes tourism place, changes of life pattern. The negative impact of tourism for environment is traditional environmental pollution and other important issues. The solution needs â€awig-awig†and “perarem†village and the support of all stockeholders and the community.Keywords: tourism development, impact, tourism, economic, socio-cultural