Jurnal Politeknik Negeri Jakarta
Not a member yet
2322 research outputs found
Sort by
The Eksperimental Study of Cold Form Steel Closed Box Section 32 mm x 31 x 0,3 mm Under 3 Point Flexural Loading Test
Cold-formed steel materials are widely used in the construction industry. One such application is closed box cold-formed steel beams, which are commonly used as battens in ceiling structures. Cold-formed steel is produced through cold roll forming or bending processes, resulting in folds along the profile. This study aims to investigate the effects of these folds on stiffness, deflection, ductility, and failure patterns. A total of 18 specimens, with lengths of 500 mm and 1100 mm, were tested using three-point bending tests. The folds were varied in location: placed in the top area, bottom area, and the side area. Tensile coupon tests were also testing to determine the material properties of the cold-formed steel. The results show that beams with a length of 500 mm can carry greater vertical loads compared to those with a length of 1100 mm. Additionally, the displacement and rotation observed in the 500 mm beams were smaller than those in the 1100 mm beams, which more significant deflection and rotation. Beams with folds located in the top area and bottom area shower greater load-carry capacity than those with folds in the web area. The failure patterns of the 500 mm beams were dominantly characterized by excessive deformation in the bottom are due to vertical loading. Similar deformation was observed in the 1100 mm beams. This excessive deformation occurred beneath the point of vertical load application with a roller-type support. Momen capacity of the experimental test results was also compared with the theoretical calculation using the Direct Strength Method, the results showed a comparative value that was almost close, but it is better to modify the formula to the theoretical formula of the Direct Strength Method for cross-sections with folds.Material baja canai dingin sering digunakan pada dunia konstruksi, salah satunya adalah balok baja canai dingin boks tertutup yang sering digunakan untuk reng pada plafon. Baja canai dingin dibuat dengan pembentukan gilas dingin (cold roll forming) atau penekukan, akibat proses ini terbentuk lipatan yang terjadi pada profil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lipatan terhadap kekakuan, lendutan, daktilitas dan pola kegagalan yang terjadi. Sebanyak total 18 spesimen dengan panjang 500 mm dan 1100 mm telah di uji menggunakan pengujian lentur 3 titik. Variasi pengujian dibuat dengan meletakkan lipatan pada area tekan (flens atas), area tarik (flens bawah) dan area samping (badan). Pengujian tarik Coupon juga dilakukan untuk mengetahui mutu material baja canai dingin. Hasil penelitian menunjukan balok dengan panjang 500 mm dapat menahan beban vertikal yang lebih besar dibandingkan balok dengan panjang 1100 mm, penurunan dan rotasi yang terjadi pada balok dengan panjang 500 mm juga memiliki nilai lebih kecil dibandingkan dengan balok 1100 mm yang memiliki nilai lendutan dan rotasi yang lebih signifikan. Pengaruh lipatan yang diletakkan pada area tekan (flens atas) dan pada area tarik (flens bawah) pada balok menunjukkan nilai kemampuan menahan beban yang lebih besar dibandingkan dengan balok dengan lipatan di samping (badan). Pola kegagalan yang terjadi pada balok panjang 500 mm didominasi oleh deformasi eksesif pada area tekan (flens atas) akibat beban vertikal dan hal ini juga terjadi pada balok dengan panjang bentang 1100 mm . Deformasi eksesif ini terjadi di bawah lokasi beban vertikal dengan perletakkan tipe roll
CONNECTION OF PRECAST BEAM WITH HIGH PERFORMANCE STRENGTH OF CONCRETE (HPSC) SYSTEM
The application of high-performance strength concrete (HPSC) in precast beam systems is gaining attention as a means to enhance construction efficiency and structural performance. Previous studies, such as those by Graybeal, have demonstrated the effectiveness of ultra-high-performance concrete (UHPC) in precast bridge deck applications. Similarly, materials like epoxy grout, epoxy-based grout, and rapid-set concrete have shown favorable properties for accelerating construction processes and improving durability. This research aims to evaluate the feasibility of using HPSC in precast beam connections, specifically to reduce the required length of reinforcement at the joint. The goal is to develop a system that can be effectively implemented in global construction practices. The study investigates a precast beam system using HPSC and compares it to a conventional cast-in-place beam. The focus is on key performance metrics including deflection, ultimate load capacity, and ductility. The influence of compressive strength on reinforcement length reduction is assessed in reference to ACI guidelines, which suggest that higher concrete compressive strength allows for shorter rebar development lengths. The precast beam (P1) utilizing the HPSC system achieved a compressive strength of fc’ = 44.81 MPa at the connection. Compared to the conventional beam (K1), P1 showed improved structural behavior, with a reduced deflection of 40.11 mm at an ultimate load of 110.02 kN, whereas K1 exhibited a deflection of 138.11 mm at an ultimate load of 113.82 kN. The ductility of the HPSC system was measured at 4.81, indicating enhanced deformation capacity under load. The findings confirm that the use of HPSC in precast beam connections not only meets structural requirements but also contributes to a reduction in reinforcement length. This supports faster and potentially more costeffective construction, aligning with global needs for innovative and efficient building practices
NUMERICAL STUDY ON THE BEHAVIOUR OF TOP STORY INTERIOR BEAM-COLUMN JOINTS ON STEEL SPECIAL MOMENT FRAMES
In steel special moment frames (SMFs), the strong-column–weak-beam (SCWB) principle is typically applied to ensure a sway mechanism with beam hinging. However, for interior joints in top stories, this approach may lead to uneconomical column sizes and unfavorable hinge formation. As an alternative, the strong-beam–weak-column (SBWC) principle may offer more practical solutions. This study investigates the seismic behavior of top-story interior joints in SMFs, introducing novelty by directly comparing the conventional SCWB philosophy with the alternative SBWC approach. Finite element models were developed in ABAQUS to simulate pushover loading conditions and evaluate hinge formation, loaddisplacement response, and panel zone deformation. Three joint configurations were analyzed to represent different design scenarios. Results show that SCWB joints achieve beam hinging as intended, but the distribution is not ideal due to unbalanced stiffness at the top story. SBWC joints develop plastic hinges in the column with more symmetrical yielding, though accompanied by higher shear demands in the panel zone. These findings suggest that SBWC criteria may be applied in top-story interior joints as a viable and more economical alternative to SCWB, provided that panel zone plastic deformation is explicitly addressed in design
Analisis Perancangan Suspensi Belakang pada Kendaraan Listrik Berbasis Standar ISO 2631-1
Perkembangan kendaraan listrik menuntut sistem suspensi yang tidak hanya stabil, tetapi juga nyaman, terutama pada konfigurasi motor penggerak belakang yang menyebabkan distribusi massa menjadi asimetris. Penelitian ini menganalisis karakteristik suspensi belakang kendaraan listrik empat roda menggunakan model massa–pegas–redaman satu derajat kebebasan (1-DOF), dengan evaluasi berdasarkan standar kenyamanan ISO 2631-1. Objek studi berupa kendaraan listrik ringan dengan distribusi massa belakang dominan, menghasilkan beban kerja suspensi belakang sebesar 1.052,5 kg. Hasil perhitungan menunjukkan gaya statis per pegas sebesar 5.162,5 N dan kekakuan pegas 51.625 N/m, menghasilkan frekuensi natural 1,11 Hz yang berada dalam rentang kenyamanan optimal. Dengan damping ratio 0,25, diperoleh koefisien redaman 3,685 Ns/m dan waktu redaman sekitar 2,3 detik. Simulasi osilasi menunjukkan bahwa nilai ini memberikan keseimbangan terbaik antara kenyamanan dan stabilitas, dibandingkan rasio 0,10 dan 0,40. Temuan ini menunjukkan bahwa desain suspensi belakang yang diusulkan layak diterapkan pada kendaraan listrik dengan distribusi massa tidak merata dan mampu memenuhi standar kenyamanan internasional.Perkembangan kendaraan listrik menuntut sistem suspensi yang tidak hanya stabil, tetapi juga nyaman, terutama pada konfigurasi motor penggerak belakang yang menyebabkan distribusi massa menjadi asimetris. Penelitian ini menganalisis karakteristik suspensi belakang kendaraan listrik empat roda menggunakan model massa–pegas–redaman satu derajat kebebasan (1-DOF), dengan evaluasi berdasarkan standar kenyamanan ISO 2631-1. Objek studi berupa kendaraan listrik ringan dengan distribusi massa belakang dominan, menghasilkan beban kerja suspensi belakang sebesar 1.052,5 kg. Hasil perhitungan menunjukkan gaya statis per pegas sebesar 5.162,5 N dan kekakuan pegas 51.625 N/m, menghasilkan frekuensi natural 1,11 Hz yang berada dalam rentang kenyamanan optimal. Dengan damping ratio 0,25, diperoleh koefisien redaman 3,685 Ns/m dan waktu redaman sekitar 2,3 detik. Simulasi osilasi menunjukkan bahwa nilai ini memberikan keseimbangan terbaik antara kenyamanan dan stabilitas, dibandingkan rasio 0,10 dan 0,40. Temuan ini menunjukkan bahwa desain suspensi belakang yang diusulkan layak diterapkan pada kendaraan listrik dengan distribusi massa tidak merata dan mampu memenuhi standar kenyamanan internasional
Optimisasi Desain dan Kinerja Alat Kupas Kulit Polong Kacang Tanah yang Portable
The peeling machine for peanut shells, which has limitations and achieves a peeling capacity of only 85%, requires optimization. To this end, the friction, pressure, and gravity involved are analyzed. The design concept of the peeling machine considers the topographic conditions, particularly in the East Nusa Tenggara (NTT) region. The result of this optimization produces the 'Peeling Machine for Peanut Shells.' The resulting peeling machine has the following specifications: height of 700 mm, length of 50 mm, width of 37 mm, operated manually, with a production capacity of approximately 0.86 ounces per second. The performance, in terms of rotation speed and the number of peeled peanuts, shows a significant correlation with increased capacity. Increasing the diameter of the blades also contributes to higher output. At a speed of 60 rpm, a closer blade distance (11 mm) yields the best results, indicating that the optimization of machine design needs to consider the blade distance in relation to the rotation speed to enhance efficiency.Alat atau mesin pengupas kulit polong kacang tanah, yang memiliki keterbatasan dan capaian kapasitas pengupasan hanya 85%, perlu dilakukan optimisasi alat pengupas tersebut. Untuk itu dikaji gaya gesek, tekanan dan gravitasi yang terjadi. Konsep perancangan alat kupas mempertimbangan kondisi topografi, khususnya di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil optimisasi ini menghasilkan, “Alat kupas kulit polong kacang tanah”. Alat kupas kulit polong kacang tanah yang dihasilkan memiliki spesifikasi sebagai berikut, tinggi 700 mm, panjang 50 mm, lebar 37 mm, dioperasikan manual, kapasitas produksi mencapai ± 0,86 ons/detik. Kinerja, antara kecepatan putaran dan jumlah kacang yang terkupas memiliki korelasi yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas. Peningkatan diameter mata juga berkontribusi terhadap hasil yang lebih tinggi. Pada kecepatan 60 rpm, jarak mata yang lebih dekat (11 mm) memberikan hasil terbaik, menunjukkan bahwa optimasi desain mesin perlu mempertimbangkan jarak mata dalam hubungan dengan kecepatan putaran untuk meningkatkan efisiensi
Analisis Konsumsi Energi Listrik Serta Peluang Penghematan Energi Sistem Pencahayaan Dan Sistem Tata Udara Gedung Pusat Perbelanjaan
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi konsumsi energi listrik dan mengidentifikasi potensi penghematan energi pada sistem pencahayaan dan tata udara di Plaza XYZ, sebuah pusat perbelanjaan enam lantai di Jakarta Barat yang belum memiliki sistem pemantauan energi. Metode yang digunakan berupa pendekatan kuantitatif melalui observasi lapangan dan analisis data teknis. Evaluasi dilakukan terhadap jumlah lampu, kapasitas AC split, dan performa chiller menggunakan parameter COP dan kW/TR. Hasil menunjukkan nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) tergolong boros. Potensi penghematan mencapai 6.927,19 kWh/bulan untuk pencahayaan dan 1.145,40 kWh/bulan untuk tata udara. Rekomendasi diarahkan pada optimalisasi sistem untuk efisiensi energi gedung.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi konsumsi energi listrik dan mengidentifikasi potensi penghematan energi pada sistem pencahayaan dan tata udara di Plaza XYZ, sebuah pusat perbelanjaan enam lantai di Jakarta Barat yang belum memiliki sistem pemantauan energi. Metode yang digunakan berupa pendekatan kuantitatif melalui observasi lapangan dan analisis data teknis. Evaluasi dilakukan terhadap jumlah lampu, kapasitas AC split, dan performa chiller menggunakan parameter COP dan kW/TR. Hasil menunjukkan nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) tergolong boros. Potensi penghematan mencapai 6.927,19 kWh/bulan untuk pencahayaan dan 1.145,40 kWh/bulan untuk tata udara. Rekomendasi diarahkan pada optimalisasi sistem untuk efisiensi energi gedung
Perencanaan Layout 3D untuk Sistem Pengolahan Air Limbah di Kapal Penumpang
As an archipelagic nation, Indonesia relies heavily on passenger ships to maintain inter-island connectivity. However, the operation of these vessels generates domestic wastewater that may cause marine pollution if not properly managed. A vacuum based piping system offers an efficient technical solution especially suitable for limited onboard space. This study aims to design a 3D layout of a vacuum assisted sanitary wastewater collection system and to calculate the required vacuumarator capacity to transfer waste from toilets and sinks to a holding tank for further treatment by STP. The research applied an engineering design approach consisting of five stages: regulatory review, technical data collection, vacuum capacity calculation, component specification comparison, and 3D modeling. Results show that the required vacuum capacity ranges from 490 to 840 flushes per hour, depending on whether ISO or vendor calculation. The Jets 15MB-D was selected due to its compatibility with the minimum STP capacity, energy efficiency, lightweight and compact, and suitability with DN40 pipe connections. The 3D layout places the vacuumarator near the STP to minimize pressure loss and simplify maintenance. The proposed design complies with MARPOL Annex IV and BKI rules and can serve as a reference for retrofitting sanitary systems on domestic passenger ships.Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada kapal penumpang untuk konektivitas antarpulau. Operasional kapal ini menghasilkan limbah domestik yang berpotensi mencemari laut jika tidak dikelola dengan baik. Sistem perpipaan berbasis vakum menjadi solusi teknis yang efisien dan sesuai untuk ruang sempit di kapal. Penelitian ini bertujuan merancang layout secara 3D sistem pengumpulan dan pengolahan limbah sanitasi berbasis vakum serta menghitung kapasitas vacuumarator yang dibutuhkan agar limbah dari toilet dan wastafel dapat dialirkan ke holding tank dan diproses oleh STP. Metode yang digunakan adalah rekayasa desain dengan lima tahap: kajian regulasi, pengumpulan data teknis, perhitungan kapasitas vakum, komparasi spesifikasi komponen, dan pemodelan 3D. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan kapasitas vakum berkisar 490–840 flushes/jam tergantung perhitungan ISO atau vendor. Jets 15MB-D dipilih karena memenuhi kapasitas minimum STP, hemat energi, ringan, dan kompatibel dengan pipa DN40. Model layout 3D menunjukkan penempatan vacuumarator berdekatan dengan STP untuk meminimalkan rugi tekanan dan memudahkan perawatan. Desain yang dihasilkan memenuhi ketentuan MARPOL Annex IV dan BKI, serta dapat menjadi acuan retrofit sistem sanitasi kapal penumpang domestik
Konveyor dan Pendinginan dalam Pengasapan Ikan Semi Otomatis: Sebuah Pendekatan Technopreneurship untuk Meningkatkan Kualitas Produk
The fish smoking industry in Wonosari Village, Demak Regency, produces around 20-25 tons daily, relying on traditional methods that often result in inconsistent quality and compromised hygiene. This study seeks to boost efficiency and product quality by introducing semi-automatic smoking technology powered by technopreneurship principles. The technology integrates conveyor systems and rapid cooling to streamline the smoking process. Using an experimental approach with a technopreneurship twist, the research team collected data through observations, interviews, and prototype testing at Sentra Asap Indah. The testing focused on temperature control, smoking duration, and product quality analysis, including texture, aroma, and food safety. The prototype demonstrated significant efficiency gains, cutting smoking time by 30% and standardizing the process. The rapid cooling system successfully brought the fish temperature down from 80°C to 30°C within 30 minutes, a crucial step in preventing bacterial growth and preserving texture. The overall quality of the smoked fish, in terms of color, taste, and aroma, showed consistent improvement. By integrating conveyor systems for process standardization and rapid cooling for enhanced food safety, this technopreneurship initiative has the potential to increase the competitiveness of local smoked fish products and drive business sustainability.
Industri pengasapan ikan di Desa Wonosari, Kabupaten Demak berproduksi sekitar 20-25 ton/hari yang masih menggunakan metode tradisional, yang dapat terjadi inkonsistensi kualitas dan rendahnya higienitas. Penelitian ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan kualitas produk ikan asap melalui penerapan teknologi pengasapan semi-otomatis berbasis Technopreneurship yang mengintegrasikan sistem konveyor dan pendinginan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan pendekatan Technopreneurship (Techno POL4T). Pengumpulan data dilakukan di Sentra Asap Indah melalui observasi, wawancara, dan pengujian prototipe alat pengasapan semi-otomatis. Pengujian meliputi pengukuran suhu, waktu pengasapan, dan analisis kualitas produk akhir (tekstur, aroma, keamanan pangan). Prototipe alat berhasil dikembangkan dan diuji, menunjukkan peningkatan efisiensi yang signifikan. Sistem ini mampu mengurangi waktu pengasapan hingga 30% dan menstandarisasi proses. Pendinginan cepat terintegrasi efektif menurunkan suhu ikan dari 80oC menjadi 30oC dalam 30 menit, yang krusial untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan mempertahankan tekstur. Kualitas produk secara keseluruhan (warna, rasa, aroma) teruji konsisten dan lebih baik. Integrasi konveyor untuk standardisasi waktu dan pendinginan cepat untuk keamanan pangan adalah implementasi Technopreneurship yang strategis. Konsistensi kualitas produk yang dihasilkan meningkatkan daya saing dan membuka potensi nilai jual yang lebih tinggi, sekaligus mendukung keberlanjutan usaha dan standar higiene sentra pengasapan
IMPLEMENTASI KANSEI ENGINEERING DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM PERANCANGAN KEMASAN BUBUR AYAM CIREBON
Kemasan berbahan dasar styrofoam saat ini digunakan sebagai kemasan utama produk bubur ayam Cirebon. 95,3% konsumen menyatakan bahwa kemasan tersebut masih dianggap belum memenuhi preferensi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan desain kemasan bubur ayam Cirebon terbaik berdasarkan preferensi konsumen. Perancangan kemasan yang sesuai dengan preferensi konsumen dapat dilakukan melalui implementasi pendekatan Kansei Engineering. Pendekatan Kansei Engineering memiliki kapabilitas dalam menginterpretasikan perasaan konsumen dan mentransformasikannya menjadi suatu spesifikasi desain. Hasil dari penelitian ini adalah rancangan desain kemasan dengan elemen: material plastik rigid (X1.1), bentuk badan kotak (X2.2), bentuk tutup cembung (X3.2), fitur tambahan pegangan & alat makan (X4.6), warna solid (X5.1), dan area desain sticker (X6.1). Rancangan desain kemasan yang dihasilkan mewakili kebutuhan preferensi konsumen terhadap kemasan Bubur Ayam Cirebon
The Sales Process For Meeting Room Reservations At Hotel Neo Tendean South Jakarta
This research examines the sales process for meeting room reservations at Hotel Neo Tendean South Jakarta. The hotel industry in Jakarta, a major business hub, is experiencing significant growth, driven by the high demand for MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) facilities rather than solely tourism. Meeting rooms are crucial amenities, adding value for clients who require comfortable spaces with technical and catering support. Hotel Neo Tendean implements a systematic and structured sales process, from initial promotion via telemarketing to post-event services. This study aims to explain this comprehensive sales procedure, identify the obstacles encountered, and present the solutions implemented. The findings provide practical insights into effective meeting room sales strategies within the hotel industry, contributing to improved service quality and client satisfaction