Jurnal Mahasiswa IKIP Siliwangi
Not a member yet
6108 research outputs found
Sort by
Self-Talk Strategy: A Qualitative Investigation in Building English Speaking Skill
This study investigates the types of self-talk and students' perceptions of the impact of using self-talk in building their English-speaking skills. By using a qualitative descriptive approach, data were collected through questionnaires, semi-structured interviews, and observations with six second-semester students of the English language education program at Universitas Hamzanwadi. The findings reveal that students used two types of self-talk strategies to build their English-speaking skills, which are instructional self-talk and motivational self-talk. Students viewed self-talk as an effective strategy to support technical preparation for speaking, reduce anxiety, and increase self-confidence. The benefits of using self-talk include reduced anxiety and nervousness, increased confidence, motivation, fluency, and skills, as well as creating space for self-practice. Thus, it can be concluded that self-talk is proven to be a solution for regulating affective and cognitive aspects in order to build English speaking skills
Higher Education Students’ Perceptons of Using Memrise Mobile Application for English Vocabulary Learning
This study explores higher education students’ perceptions of using the Memrise mobile application for English vocabulary learning and the challenges they experience. Using a qualitative descriptive design, data were collected from 28 University students through open-ended questionnaires and analyzed using thematic analysis. The findings show that students perceive Memrise as an engaging and user-friendly Mobile-Assisted Language Learning (MALL) tool that supports vocabulary retention, pronunciation, and learning motivation through repetition, multimedia features, and gamification. However, limitations were also identified, including insufficient academic vocabulary, limited contextual and grammatical explanations, and difficulties in applying vocabulary in academic contexts. Overall, Memrise is considered an effective supplementary tool for vocabulary learning in higher education when integrated with formal instruction
STRATEGI PERENCANAAN KOMUNIKASI PADA KOMUNITAS GERAKAN SUBUH BERJAMAAH DI KOTA BENGKULU
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi komunikasi Gerakan Subuh Berjamaah (GSB) di Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan subjek empat orang melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi data dilakukan dengan triangulasi waktu, subjek, dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GSB menggunakan strategi komunikasi tatap muka dan media digital. Tatap muka dilakukan melalui hubungan personal dengan pengurus masjid, sedangkan media digital seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi. Strategi produksi media dirancang sesuai kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan karakteristik audiens. Pendekatan ini efektif menjangkau lintas usia, khususnya generasi muda, serta mendorong perubahan perilaku keagamaan, sosial, dan sikap individu melalui pembinaan rutin berbasis Al-Qur’an. Dampak positif juga terlihat pada kehidupan keluarga, akademik, dan masyarakat. Dengan demikian, strategi komunikasi dan pembinaan GSB terbukti mampu menumbuhkan kesadaran keagamaan serta partisipasi sosial berkelanjutan
Efektivitas penggunaan papan pecahan terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa Sekolah Dasar
Media pembelajaran pecahan diyakini dapat mendukung pengembangan keterampilan pemahaman matematika. Namun kenyataannya, guru belum benar-benar menerapkan penggunaan media dalam pendidikan karena terlalu banyak waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan media pembelajaran. Dari masalah tersebut, peneliti dalam penelitian ini membahas mengenai pentingnya menggunakan media pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika materi pecahan pada siswa kelas III. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media papan pecahan terhadap peningkatan pemahaman konsep bilangan pecahan sebelum dan sesudah menggunakan media. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi eskperimental. Data dari penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, studi literatur dan tes. Kemudian data dianalisis dengan uji prasyarat berupa uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis (paired sample t-test) dan N-Gain. Pembelajaran matematika dengan menggunakan media papan pecahan dilakukan dalam 3 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media papan pecahan efektif digunakan pada pembelajaran pecahan dan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata posttest di kelas eksperimen dan kontrol. Pada kelas eksperimen nilai rata-rata N-Gain 80,36%, sedangkan nilai rata-rata pada kelas kontrol sebesar 44,9%
Pengembangan media pop-up book dalam keterampilan menulis karangan narasi sederhana kelas II Sekolah Dasar
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran untuk memfasilitasi pembelajaran teks narasi sederhana kelas II Sekolah Dasar. Metode yang digunakan adalah Design Based Reseach (DBR) dengan mengacu pada model Reeves yang terdiri dari empat tahapan yaitu : (1) Identifikasi dan analisis masalah oleh peneliti dan praktisi secara kolaboratif, (2) Mengembangkan prototype solusi yang didasarkan pada patokan teori, design principle yang ada dan inovasi teknologi, (3) Melakukan proses berulang untuk menguji dan memperbaiki solusi secara praktis, (4) Refleksi untuk menghasilkan design principle serta meningkatkan implementasi dari solusi secara praktis. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, studi dokumen, judgment (validasi ahli), dan angket respon pengguna yakni pendidik dan peserta didik. Data yang didapatkan kemudian di analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran berbasis Pop-Up Book. Hasil penilaian dari ahli media, ahli materi, ahli bahasa, dan pengguna menyatakan media pembelajaran Pop-Up Book karangan narasi sederhana ini “sangat layak” untuk memfasilitasi pembelajaran teks narasi sederhana kelas II Sekolah Dasar dengan perolehan nilai 84,6%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Pop-Up Book yang dikembangkan “sangat layak” untuk memfasilitasi pembelajaran Teks Narasi Sederhana kelas II Sekolah Dasar serta mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran
Peran ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan global masa depan
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ilmu pengetahuan dalam membentuk pengalaman, makna, dan refleksi sosial partisipan dalam menghadapi tantangan global. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan observasi partisipatif digunakan untuk memahami dinamika internalisasi pengetahuan, interaksi sosial, dan transformasi perspektif. Data dikumpulkan melalui analisis 30 jurnal nasional dan internasional, wawancara mendalam dengan guru dan orang tua, serta observasi praktik pembelajaran di sekolah dasar, dan dianalisis menggunakan metode tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama: pertama, internalisasi ilmu pengetahuan sebagai sarana memahami dunia dan diri; kedua, interaksi sosial dan peran model dalam proses pembelajaran; dan ketiga, transformasi perspektif yang mendorong tindakan etis dan kesadaran sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi sains kritis sebagai lensa utama dalam memahami pengalaman partisipan serta memperkaya pemahaman tentang bagaimana pendidikan sains dapat menciptakan pengalaman belajar yang transformatif dan kontekstual. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat konsep literasi sains kritis, pembelajaran sosial, dan pembelajaran transformatif, sementara secara praktis memberikan implikasi bagi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, dan kebijakan pendidikan yang menekankan refleksi, kolaborasi, serta kesadaran global peserta didik.
Analyzing Figures of Speech in Sherlock Holmes’ Utterances in Sherlock (Season 1, Episode 1: "A Study in Pink")
This study explores the use of figures of speech in Sherlock Holmes’s utterances in Sherlock (Season 1, Episode 1: A Study in Pink). The research highlights the importance of analyzing figurative language in television dialogue as a medium to enrich character portrayal and narrative depth. Using Leech's (1969) theoretical framework, this study identifies and categorizes 64 instances of figures of speech, including irony, metaphor, hyperbole, and litotes. Data collection involved transcript analysis and time-coding of Sherlock’s dialogue. Findings reveal that irony is the most frequently used figure of speech, followed by metaphor and hyperbole. These rhetorical devices serve to emphasize Sherlock's intellectual sharpness and dramatic communication style, engaging the audience while subtly conveying layered meanings. This research underscores the value of figurative language in enhancing the storytelling experience and character complexity in television series
The Effect of Digital Didactic Intervention on Measures of Central Tendency Towards Students’ Statistical Thinking
Statistical thinking is an essential competency for prospective mathematics teachers in responding to data-driven decision making within the context of Society 5.0. However, learning obstacles frequently emerge in higher education statistics courses due to instructional practices that emphasize procedural computation rather than conceptual and contextual understanding. This study aims to describe the implementation of a didactical design to reduce students’ learning obstacles in statistical thinking through the topic of measures of central tendency. A qualitative descriptive method was employed involving 38 mathematics education students enrolled in an introductory statistics course. The didactical design integrated the Theory of Didactical Situations (TDS) and the DORA model (Describe, Organize, Represent, Analyze–Interpret) and was delivered through an interactive e-module developed on the AnyFlip platform. Data were collected using a post-implementation statistical thinking test based on DORA, classroom observations, semi-structured interviews, and reflective field notes. Learning activities were organized into four TDS stages action, formulation, validation, and institutionalization to support reflective and adidactical learning processes. The results indicate that students were able to construct statistical concepts more meaningfully and reduce previously identified learning obstacles, particularly in linking numerical results with graphical representations. In conclusion, the integration of TDS and the DORA model supported by interactive e-modules effectively enhances students’ statistical thinking skills, as evidenced by the reduction of learning obstacles among prospective mathematics teachers
Penyuluhan penggunaan obat maag secara tepat di posyandu lansia Desa Wonorejo
Pengobatan mandiri menjadi area yang semakin penting dalam layanan kesehatan. Hal ini dapat menggerakkan pasien menuju kemandirian yang lebih besar dalam mengambil keputusan mengenai penanganan penyakit ringan, sehingga mendorong pemberdayaan masyarakat. Salah satu jenis penggunaan obat yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah penggunaan obat maag secara mandiri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan untuk memudahkan masyarakat dalam memahami penggunaan obat Maag secara tepat. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Lansia Bina Sejahtera Desa Wonorejo RT 1 RW 17 dengan sasaran peserta penyuluhan adalah masyarakat lansia dengan kuota peserta sebanyak 50 peserta. Hasil dari kegiatan ini adalah lansia desa Wonorejo paham terhadap kegiatan pengabdian masyarakat terkait penggunaan obat maag dan lansia di desa tersebut rata – rata tidak menderita maag akut dan kronis.
Kata Kunci: penyuluhan, obat maa
Peningkatan kualitas layanan melalui pelatihan pelayanan prima dan hygiene sanitasi di Kampung Wisata Prenggan Yogyakarta
Kampung Wisata Prenggan, Yogyakarta, merupakan desa wisata budaya yang mengandalkan UMKM lokal sebagai penggerak utama ekonomi dan pengalaman wisata. Namun demikian, pelaku UMKM masih menghadapi permasalahan prioritas berupa kualitas layanan yang belum terstandar serta penerapan hygiene dan sanitasi yang belum konsisten, khususnya pada usaha kuliner dan aktivitas yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Kondisi ini berpotensi menurunkan kepuasan pengunjung, kepercayaan wisatawan, dan daya saing destinasi. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan pelayanan prima dan hygiene sanitasi yang aplikatif dan sesuai dengan konteks desa wisata berbasis komunitas. Metode pelaksanaan meliputi tahapan sosialisasi, pelatihan intensif selama dua hari (12–13 Desember 2025), penerapan teknologi sederhana, pendampingan, evaluasi, serta perencanaan keberlanjutan program. Luaran yang ditargetkan adalah meningkatnya pemahaman dan praktik pelayanan prima, penerapan standar kebersihan dasar yang konsisten, serta terbentuknya kualitas layanan yang lebih seragam antar UMKM. Secara strategis, program ini mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan ekonomi lokal dan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Kegiatan PkM ini menerapkan Global Code of Ethics for Tourism melalui penghormatan terhadap budaya dan nilai lokal dalam pelayanan prima berbasis kearifan Kampung Wisata Prenggan, perlindungan kesehatan dan martabat manusia melalui pelatihan hygiene dan sanitasi, penerapan prinsip keberlanjutan dengan praktik layanan yang ramah lingkungan, peneguhan tanggung jawab dan profesionalisme pelaku pariwisata sebagai pemangku kepentingan utama, serta pemberdayaan pelaku usaha dan pekerja pariwisata lokal melalui peningkatan kompetensi layanan secara etis dan berkelanjutan