JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Tren Penggunaan Antikoagulan Oral Direk dan Warfarin pada Pasien Fibrilasi Atrium

    Full text link
    Treatments used in atrial fibrillation therapy, such as those of anticoagulants, consist of vitamin K antagonists (warfarin) and direct oral anticoagulants (dabigatran, apixaban, rivaroxaban, and edoxaban). The use of warfarin requires regular monitoring of prothrombin time (PT) and international normalised ratio (INR). The therapeutic dose range is narrow, but the price is cheaper. Oral anticoagulants are directed, the incidence of major bleeding is lower, ease of use, food and drug interactions are minor, the half-life is shorter, and there is a lack of laboratory monitoring needs. Based on this problem, researchers conducted a study to determine the trend of using warfarin and oral anticoagulants in patients with atrial fibrillation at a public hospital in Jakarta. This study uses a qualitative approach, with longitudinal methods and retrospective data using outpatient medical records for the period 2014 to 2018. The trend of using warfarin anticoagulants decreased from 82.3% in 2014 to 62% in 2016, while oral anticoagulants were reduced. Direct oral anticoagulants are rivaroxaban and dabigatran, which are more widely used than apixaban, and edoxaban; no data on their use has been obtained. The opposite was true from 2017 to 2018, when the use of warfarin increased and caused a decrease in the use of direct oral anticoagulants. This research is expected to contribute to various parties, both health practitioners and academics, in terms of selecting therapies for atrial fibrillation.Pengobatan yang digunakan dalam terapi fibrilasi atrium, seperti yaitu antikoagulan, yang terdiri dari antagonis vitamin K (warfarin) dan antikoagulan oral direk (dabigatran, apiksaban, rivaroksaban, dan edoksaban). Penggunaan warfarin membutuhkan pemantauan rutin protrombin time (PT) dan international normalised ratio (INR), rentang dosis terapi sempit, namun harganya lebih murah. Antikoagulan oral direk, insiden perdarahan mayor lebih rendah, kemudahan penggunaan, interaksi makanan dan obat minor, waktu paruh lebih pendek, dan kurangnya kebutuhan pemantauan laboratorium. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti melakukan kajian untuk mengetahui tren penggunaan warfarin dan antikoagulan oral direk pada pasien fibrilasi atrium pada salah satu rumah sakit di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode longitudinal dan data bersifat retrospektif menggunakan rekam medis pasien rawat jalan periode tahun 2014 sampai tahun 2018. Tren penggunaan antikoagulan warfarin mengalamipenurunan dari 82,3% tahun 2014 menjadi 62% tahun 2016, sedangkan antikoagulan oral direk mengalamipeningkatan. Antikoagulan oral direk rivaroksaban dan dabigatran lebih banyak digunakan dibandingkanapiksaban, dan edoksaban tidak diperoleh data penggunaannya. Hal sebaliknya pada tahun 2017 sampai2018, dimana penggunaan warfarin mengalami peningkatan dan menyebabkan penurunan penggunaanantikoagulan oral direk. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada berbagai pihakbaik praktisi kesehatan maupun akademisi dalam hal pemilihan terapi untuk fibrilasi atrium

    Tingkat Kejadian Hipoglikemia pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta JKN dan Non-JKN pada Masa Pandemi COVID-19 di Kalimantan Tengah

    Full text link
    Community activity restrictions during the COVID-19 pandemic in Indonesia impact the quantity and quality of health services for type 2 diabetes (T2DM). This limitation could increase the risk of hypoglycemia in type 2 diabetes patients. The study aimed to compare the incidence rate of hypoglycemia between national (NHIP) and non-national health insurance participants (N-NHIP) with T2DM during the COVID-19 pandemic in Indonesia. The study used a cross-sectional design and was conducted at a government hospital in Central Borneo. Data was collected by consecutive sampling from September to November 2021. Sixty-two participants were divided into two groups (NHIP and N-NHIP groups). Each group consisted of 31 participants. They were interviewed regarding their experience with hypoglycemia in the last three months. The incidence rate of hypoglycemia in N-NHIP was higher than in NHIP (93.55% vs. 87.10%; p>0.05). Hypoglycemia is mostly presented in patients using a combination of short-acting and long-acting insulin. The incidence rate of hypoglycemia in T2DM during the COVID-19 pandemic in Central Borneo was relatively high. In future studies, it is necessary to analyse the factors that significantly affect the incidence of hypoglycemia in the population of T2DM patients in Indonesia.Penerapan program pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi COVID-19 di Indonesia berdampak pada pelayanan kesehatan diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Hal ini meningkatkan risiko hipoglikemia pada pasien DMT2. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat kejadian hipoglikemia pada pasien DMT2 peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) dan non-JKN pada masa pandemi COVID-19 di Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan di RSUD X Kalimantan Tengah. Data dikumpulkan secara consecutive sampling dari Bulan September-November 2021. Enam puluh dua (62) peserta dibagi menjadi dua kelompok: kelompok JKN dan non-JKN dengan masing-masing 31 peserta. Pasien diwawancara terkait pengalaman hipoglikemia yang dialami dalam tiga bulan terakhir. Tingkat kejadian hipoglikemia pada kelompok non-JKN lebih tinggi dibandingkan kelompok JKN (93,55% vs 87,10%; p>0,05). Hipoglikemia paling banyak dialami oleh pasien DMT2 penggunaan kombinasi insulin kerja pendek dan insulin kerja panjang. Tingkat kejadian hipoglikemia pada pasien DMT2 Peserta JKN dan Non-JKN pada masa pandemi COVID-19 di RSUD X Kalimantan Tengah relatif tinggi. Pada penelitian selanjutnya, perlu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hipoglikemia pada DMT2

    Aktivitas Penumbuh Rambut Sediaan Hair Tonik Minyak Esensial Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) and Minyak Kelapa

    Full text link
    Cinnamaldehyde in cinnamon essential oil, lauric acid, myristic acid, and oleic acid in virgin coconut oil (VCO) were used in hair tonic preparations as hair growth agents. This study aimed to evaluate particle size and obtain optimum formulation of the hair tonic preparation and to observe growth activity with various levels of cinnamon essential oil and VCO. This research an experimental with rabbit used 4 test were divided into 6 treatment groups: 1) positive control (Regrou®); 2) normal control (without treatment); 3) negative control (hair tonic basis); 4) F1(1% cinnamon essential oil: 2.5% VCO); 5), F2 (3% cinnamon essential oil : 2.5% VCO); and 6), F3 (5% cinnamon essential oil: 2.5% VCO). The particle size analysis selected in formula 2 that cycle stable during storage, and fall into the microemulsion size range of 20-200 nm and there was no difference cycle because the significance was >0.05. The hair growth activity was determined using Average Growth Daily Gain.(AGD) formula and then.was analyzed.statistically using.One Way Anova. The results showed that had hair growth activity that was not significantly different. However, when compared with the positive control, formula 3 has hair growth activity above the positive control.Sinamaldehid pada minyak atsiri kayu manis dan kandungan asam laurat, asam miristat, asam oleat pada VCO (virgin coconut oil) dapat digunakan sebagai penumbuh rambut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ukuran partikel, aktivitas pertumbuhan rambut dari sediaan hair tonik dengan variasi kadar minyak atsiri kayu manis dan VCO , serta mendapatkan konsentrasi yang optimal. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan enam kelompok perlakuan diantaranya kontrol positif (Regrou®); kontrol normal (tanpa perlakuan); kontrol negatif (basis hair tonic); F1(1% minyak atsiri.kayu manis: 2,5% VCO); F2 (3%.minyak atsiri kayu manis: 2,5% VCO); dan F3(5% minyak atsiri kayu manis: 2,5% VCO). Analisis ukuran partikel dipilih pada formula 2 dimana menunjukkan siklus stabil selama penyimpanan, dan masuk dalam rentang ukuran mikroemulsi 20-200 nm yang menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (>0.05) pada siklus. Data aktivitas pertumbuhan rambut dihitung menggunakan. rumus AGD.(Average Growth Daily Gain).kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa.hair tonik kombinasi minyak atsiri kayu manis dengan VCO pada F1, F2, dan F3 tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas pertumbuhan rambut pada kelinci. Secara AGD kemampuan pada F2 dan F3 sebagai penumbuh rambut menunjukkan nilai di atas kontrol positif

    Sifat Fisika dan Kimia, Indeks Iritasi dan Aktivitas Anti-inflamasi dari Salep Minyak Atsiri Syzygium aromaticum dengan Penambahan Enhancer

    Full text link
    This research aimed to evaluate how enhancers affect the properties of Syzygium aromaticum oil in both water-soluble and hydrocarbon bases. Physical and chemical characteristic tests, irritation index evaluations, and anti-inflammatory activity assessments were carried out to analyze the Syzygium aromaticum oil ointment. The pH tests were conducted to measure the chemical characteristics and viscosity, adhesivity, spreadability tests were conducted to measure the physical characteristics of the ointment. Rabbit-based tests were used to determine the irritation index, mice induced by crotton oil were used in anti-inflammatory activity assessments. The pH tests revealed no significant differences between both of ointments. The ointment in the water-soluble base had higher viscosity and adhesivity but lower spreadability than the ointment in the hydrocarbon base. The epidermis thickness of watersoluble and hydrocarbon-based ointments was 3.81±0.40 μm and 4.22±0.15 μm, while the number of cells with COX-2 expression was 18.24±6.51 and 21.01±5.96. The addition of enhancers did not cause any irritation in either ointment. The study concluded that the formula of Syzygium aromaticum oil in a water-soluble ointment with the addition of propylene glycol and oleic acid (70:30) as enhancers provided better physical and chemical characteristics, a lower irritation index, and higher anti-inflammatory activity compared to the hydrocarbon.Berdasarkan penelitian sebelumnya, salep minyak cengkeh basis larut air memiliki sifat fisik dan indeks iritasi yang optimal dengan konsentrasi 2,5% dan 5% pada basis hidrokarbon. Pengembangan dilakukan dengan penambahan asam oleat dan propilen glikol sebagai enhancer dengan komposisi 7:3 dalam basis larut air dan 0:100 dalam basis hidrokarbon. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan enhancer terhadap sifat fisik, kimia, indeks iritasi dan aktivitas anti-inflamasi salep dalam basis larut air dan hidrokarbon. Salep dievaluasi sifat fisik (viskositas, daya lekat dan daya sebar), kimia (pH), indeks iritasi menggunakan kelinci dan aktivitas anti-inflamasi menggunakan mencit dengan menghitung tebal epidermis dan ekspresi COX-2. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan nilai pH yang signifikan antara kedua salep (P>0,05). Salep dalam basis larut air memiliki viskositas dan daya rekat yang lebih tinggi, daya sebar lebih rendah daripada hidrokarbon. Penambahan enhancer pada kedua salep tidak menimbulkan iritasi, tebal epidermis kelompok salep larut air dan hidrokarbon rerata 3,81±0,40 μm dan 4,22±0,15 μm, sedangkan jumlah sel yang mengekspresikan COX-2 rerata 18,24±6,51 dan 21,01±5,96. Dapat disimpulkan formulasi minyak cengkeh dalam basis larut air dengan penambahan enhancer propilen glikol dan asam oleat (70:30) menghasilkan sifat fisik, kimia, indeks iritasi dan aktivitas anti-inflamasi yang lebih baik dibandingkan dengan salep hidrokarbon

    Informasi Obat pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan di RSUD X Surabaya: Apa yang diberikan dan apa yang diketahui?

    Full text link
    The prevalence of Diabetes Mellitus (DM) in Indonesia has increased 0.5% in the last five years. This study aimed to evaluate information provided and level of knowledge among DM patients on their treatment at the outpatient clinic at the X Public Hospital (Rumah Sakit Umum Daerah, RSUD), Surabaya, Indonesia. This was a cross-sectional study using a checklist developed by The Food And Drug Supervisory Agency which consists of 11 types of information. The data were analysed descriptively; to test the relationship between the amount of information provided and the patient's level of knowledge, Spearman correlation analysis was used. A total of 110 patients were included in this study (response rate 90.91%). The mean of information provided and understood by patients was 6.48/11±0.73 and 7.48/11±0.90, respectively. There was a significant relationship between information provided to and known by patients (p=0.001). Characteristic factors such as age (p=0.001), education level (p=0.001), and sources of information related to DM (p=0.014) were shown to influence DM patients' knowledge of their treatment. This study indicated the importance of providing clear and complete drug information, especially for patients on long-term therapy, to improve their knowledge, thus potentially increasing adherence and optimizing therapy outcomes.Prevalensi Diabetes Mellitus (DM) di Indonesia mengalami peningkatan sebanyak 0,5% dalam lima tahun terakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat informasi yang diberikan dan tingkat pengetahuan pasien DM terkait pengobatan yang diterima di klinik rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) X, Surabaya, Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan checklist yang dikembangkan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dimana terdiri dari 11 jenis informasi. Data dianalisis secara deskriptif, dan untuk melihat hubungan antara informasi yang diberikan dan tingkat pengetahuan pasien digunakan analisis korelasi Spearman. Terdapat 110 pasien yang bersedia berpartisipasi di dalam penelitian ini (response rate 90,91%). Ratarata jumlah informasi yang diberikan dan dipahami adalah 6,48/11±0,73 dan 7,48/11±0,90. Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah informasi yang diberikan dan yang diketahui pasien (p=0,001). Faktor karakteristik seperti usia (nilai p=0,001), tingkat pendidikan (nilai p=0,001), dan sumber informasi terkait DM (nilai p=0,014) dapat mempengaruhi pengetahuan pasien DM terhadap pengobatannya. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pemberian informasi yang jelas dan lengkap terutama pada pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang karena dapat meningkatkan pengetahuan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan dan mengoptimalkan keberhasilan terapi

    Uji Efek Anti-inflamasi dan Analgesik Ekstrak Etanol 70% Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Blume.) Secara In Vivo

    Full text link
    Cinnamon bark is known as a medicinal plant to has anti-inflammatory and analgesic effects in vitro. This activity is due to bark of cinnamon containing several compounds including cinnamaldehyde, cinnamic alcohol, cinnamic acid and coumarin. The aim of this study was to observe anti-inflammatory and analgesic effects in vivo. Anti-inflammatory test using Winter method and rats. Rats were divided into five groups negative control (aquadest), positive control (sodium diclofenac), and three extract groups with different doses (300, 400, and 500 mg/kg BW). In an analgesic test using the Siegmund method and mice. Mice were also divided into five groups negative control (aquadest), positive control (sodium diclofenac), and three extract groups with different doses (300, 400, 500 mg/kg BW). Based on a statistical test, 70% ethanol extract of cinnamon bark has anti-inflammatory and analgesic effects, also showed that there was a significant difference between the positive controls and the three extract doses. This shows that the anti-inflammatory and analgesic activity of diclofenac sodium is better than the ethanol extract of cinnamon bark in reducing the edema volume of rats and the amount of mice stretch. In conclusion,cinnamon bark showed no significant increment in high doses of anti-inflammatory and analgesic.Kulit batang kayu manis adalah salah satu tanaman mengandung senyawa aktif yang memiliki efek anti-inflamasi dan analgesik secara in vitro. Aktivitas ini disebabkan karena kulit batang kayu manis mengandung beberapa senyawa termasuk sinalmadehid, sinamat alkohol, asam sinamat dan kumarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti-inflamasi dan analgesik in vivo. Pengujian antiinflamasi menggunakan metode Winter dan hewan uji tikus. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (natrium diklofenak), dan 3 kelompok ekstrak dengan dosis 300, 400 dan 500 mg/kg BB. Pada uji analgesik, digunakan metode Siegmund dengan hewan uji mencit. Mencit dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (natrium diklofenak), dan 3 kelompok ekstrak dengan dosis 300, 400, dan 500 mg/kg BB. Berdasarkan hasil pengujian statistik, diperoleh bahwa ekstrak etanol 70% kulit batang kayu manis memiliki aktivitas anti-inflamasi dan analgesik serta terdapat perbedaan bermakna antara kontrol positif dengan ketiga dosis ekstrak. Hal ini menujukkan bahwa aktivitas anti-inflamasi dan analgesik dari natrium diklofenak masih lebih baik dibanding ekstrak etanol kulit batang kayu manis dalam menurunkan volume udem tikus dan jumlah geliat mencit. Dari hasil pengujian juga didapat bahwa peningkatan dosis tidak memberikan peningkatan efektivitas anti-inflamasi dan analgesik

    Optimasi Fast Disintegrating Tablet Difenhidramin HCl Menggunakan Modifikasi Pati Pisang Kepok Kuning, Crospovidone, dan Microcrystalline Cellulose

    Full text link
    Diphenhydramine HCl is an antihistamine drug that is available in conventional tablet form. This study aimed to produce the optimum formula for a diphenhydramine fast disintegrating tablet (FDT) using a modification of starch, crospovidone, and microcrystalline cellulose (MCC) to produce quality tablets that meet the tablet's physical requirements and tablet dissolution. Starch modification was made using a two-step method of starch cross-link, then continued with silica coprecipitation. FDT was prepared by the direct compression method. Optimisation with the simplex lattice design (SLD) model uses three components: co-process starch crosslink-silica, crospovidone, and MCC, which obtained 14 formula designs. The hardness, wetting time, disintegration time, and percent dissolution are optimisation parameters. Equations, contour plots, and desirability values were determined as the optimum formula. Based on the research results, an optimum formula was obtained with the proportion of co-process cross-link starch-silica was 56.185 mg, crospovidone at 6 mg, and MCC at 45.815 mg. The result of hardness was 5 kg, wetting time 51.061 seconds, disintegration time 63.129 seconds, and dissolution was 100.972%. The interaction of the three components reduces hardness and increases disintegration time, wetting time, and percent dissolution.Difenhidramin HCl merupakan golongan antihistamin yang tersedia dalam bentuk tablet konvensional. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formula optimum fast disintegrating tablet (FDT) difenhidramin HCl menggunakan modifikasi pati, crospovidone, dan MCC yang berkualitas memenuhi syarat fisik tablet dan persen terdisolusi tablet. Modifikasi pati dibuat menggunakan dua tahapan metode yaitu crosslink pati kemudian dilanjutkan coprecipitation silica. FDT dibuat dengan metode kempa langsung. Optimasi dilakukan dengan model simplex lattice design (SLD) menggunakan 3 komponen yaitu: co-process pati crosslink-silica, crospovidone, dan MCC, sehingga didapatkan 14 rancangan formula. Kekerasan, wetting time, waktu hancur dan persen terdisolusi sebagai parameter optimasi. Berdasarkan model SLD didapatkan persamaan untuk masing-masing parameter tersebut, contour plot dan nilai desirability sehingga dapat menentukan formula optimum. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan formula optimum dengan proporsi co-process pati crosslink-silica 56,185 mg, crospovidone 6 mg, dan MCC 45,815 mg yang menghasilkan kekerasan tablet 5 kg, wetting time 51.061 detik, waktu hancur 63,129 detik, dan persen terdisolusi 100,972%. Interaksi ketiga komponen berpengauh menurunkan kekerasan, meningkatkan waktu disintegrasi, meningkatkan wetting time tablet, serta meningkatkan persen terdisolusi

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Metode Kuantitatif pada Pasien Pneumonia Rawat Inap di Rumah Sakit Nusa Tenggara Barat

    Full text link
    Abstract Overuse of antibiotics is a public health challenge that can lead to antimicrobial resistance. To reduce the occurrence of antibiotic resistance, it is necessary to evaluate the use of antibiotics to determine the rational use of drugs using quantitative methods, namely the ATC /DD method. The purpose of the study was to determine the use of antibiotics and describe the pattern of antibiotic use in inpatients at West Nusa Tenggara Hospital using the ATC /DD method and DU90%. The research method is a cross-sectional study design with retrospective data collection on adult pneumonia patients hospitalized in the period Januari-December  2019 and 2022, data obtained from medical records. The results of the study met the inclusion criteria of 218 patients with the majority being male 117 (53.67%) and the most age > 65, namely 66 (30.28%). Antibiotic use has a total DDD value of 185.56 DDD/100 days of care with the highest antibiotic DDD value being ceftriaxone which is 104.00 DDD/100 days of hospitalization while antibiotics that are included in the DU 90% are ceftriaxone, levofloxacin, cefoperazon and meropenem. Conclusion the most antibiotics used were ceftriaxone 104.00 DDD/100 days of length of stay.Penggunaan antibiotik secara berlebihan adalah tantangan kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan resistensi terhadap antimikroba. Untuk mengurangi terjadinya resistensi antibiotik diperlukan evaluasi penggunaan antibiotik untuk menentukan penggunaan obat secara rasional dengan menggunakan metode kuantitatif yaitu metode anatomical therapeutic chemical and defined daily dose (ATC/DDD.) Tujuan penelitian yaitu mengetahui penggunaan antibiotik dan gambaran pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Nusa Tenggara Barat menggunakan metode ATC/DDD dan drug utilization  (DU) 90%. Metode penelitian yaitu desain study cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif pada pasien pneumonia dewasa rawat inap periode 2019 dan 2022, data diperoleh dari rekam medis, Hasil penelitian yang memenuhi kriteria inklusi 218 pasien dengan mayoritas laki-laki  117 (53,67%) dan umur paling banyak > 65 yaitu 66 (30,28%). Penggunaan antibiotik memiliki nilai total DDD sebesar 185,56 DDD/100 hari rawat dengan nilai DDD antibiotik tertinggi adalah seftriakson yaitu 104,00 DDD/100 hari rawat inap sedangkan antibiotik yang masuk dalam DU 90 % yaitu seftriakson, levofloxacin, sefoperazon dan meropenem. Kesimpulan antibiotik yang digunakan paling banyak seftriakson dengan nilai 104,00 DDD/100 hari rawat inap

    Content

    Full text link
    -

    Kualitas dan Potensi Beberapa Kaplet/Tablet/Kapsul Antibiotik Pemenang e-Katalog 2017, Obat Sejenis Pengganti dan Originatornya

    Full text link
    The price of drugs that win the e-Catalogue tender has long been considered too low by some pharmaceutical companies, and some even below their production cost. On the other hand, the fact that only pharmaceutical products with BPOM distribution licenses are eligible for the price tender, the quality of such e-Catalogue winners should not be of concern. This study aimed to evaluate the quality of several items of antibiotic products, an important drug category that can cause serious impacts if its quality is compromised. Samples used in the study were product items with the highest demands: Amoxicillin 500 mg, tetracycline 500 mg, cefadroxil 500 mg, and ciprofloxacin 500mg listed in the e-Catalogue 2017 as well as their generic and branded generic (OND) alternatives, and its respective originators. The quality parameters of the samples were evaluated according to the Indonesian Pharmacopoeia 5th Edition (FI-V). Antibiotic potency assays were conducted by using the Plate-Cylinder Method with S. aureus ATCC 25922 and E. coli ATCC 6538 as the testing bacteria. The results showed that all samples met the FI-V requirements on antibiotic content, weight uniformity, disintegration time, and dissolution. However, antibiotic potency of the e-Catalogue 2017 winners tend to be lower than their generic and OND alternatives as well as their respective originators, with a wide disparity: 10.3–18.2 percentage points, or a relative disparity of 12.0–26.4%, except for amoxicillin 500 mg caplet, in the assays using S. aureus. In conclusion, tetracycline 500 mg, cefadroxil 500mg, and ciprofloxacin 500 mg caplets/tablets/capsules listed in the e-Catalogue 2017 contain active pharmaceutical ingredients of lower qualities than their more expensive alternativesHarga obat pemenang e-Katalog dinilai oleh sebagian kalangan industri farmasi terlalu rendah, bahkan beberapa di bawah biaya produksi wajar. Di sisi lain, karena hanya obat dengan izin edar resmi BPOM yang mengikuti lelang, kualitas obat e-Katalog mestinya terjamin baik. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi kualitas beberapa sediaan antibiotik, kategori obat penting yang dapat menimbulkan dampak serius jika kualitasnya bermasalah. Sebagai sampel adalah item sediaan dengan RKO tertinggi: Kaplet/tablet/kapsul amoksisilin 500 mg, tetrasiklin 500 mg, sefadroksil 500 mg, dan siprofloksasin 500 mg pemenang e-Katalog 2017 serta OGB non-pemenang e-Katalog, sediaan dengan nama dagang (OND), dan originator masing-masing. Parameter kualitas sediaan dievaluasi menurut Farmakope Indonesia Edisi 5 (FI-V). Dilakukan pula uji potensi antibiotik dengan Metode Lempeng-Silinder, menggunakan S. aureus ATCC 25922 dan E. coli ATCC 6538 sebagai bakteri uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel memenuhi persyaratan FI-V terkait kadar antibiotik, keseragaman bobot, waktu hancur, dan disolusi. Namun demikian, potensi antibiotik sediaan pemenang e-Katalog cenderung lebih rendah dibanding OGB non-pemenang e-Katalog, OND maupun originatornya, dengan disparitas yang lebar: 10,3–18,2 percentage points atau disparitas relatif 12,0–26,4%, kecuali untuk kaplet amoksisilin 500mg, pada uji dengan S. aureus. Dapat disimpulkan bahwa kaplet/tablet/kapsul tetrasiklin 500mg, sefadroksil 500mg dan siprofloksasin 500mg pemenang   e-Katalog 2017 menggunakan bahan obat aktif dengan kualitas yang lebih rendah dibanding sediaan alternatif masing-masing yang lebih mahal

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇