JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Analisis Natrium Siklamat pada Kue Telur Gabus yang Beredar di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo

    Full text link
    Cork egg cake is a traditional cake famous for its sweet taste. Sodium cyclamate is a sweetener that is added to snacks, one of which is cork egg cake. Excess sodium cyclamates can trigger cancer development. The Head of the National Food and Drug Agency of the Republic of Indonesia issued regulation number 4 of 2014 concerning the maximum limit for the use of food additives. The sweetener in the snack food category was 250 mg/kg. This study was conducted to determine the level of sodium cyclamate in cork egg cakes circulating in Ir. Soekarno Sukoharjo market. The type of research was quantitative with a descriptive research design. The method used in this research was qualitative analysis using the precipitation method and quantitative analysis using UV-Vis spectrophotometry. Qualitative analysis showed that samples B and C were positive for sodium cyclamate. The results of the quantitative analysis showed that the average levels of sodium cyclamate in cork egg cakes B and C were 1.02 mg/kg and 1.03 mg/kg. The concentrations of the two samples were still below the limit requirements of BPOM No. 4 in 2014.Kue telur gabus merupakan kue tradisional yang terkenal dengan rasa yang manis. Natrium siklamat merupakan bahan pemanis yang ditambahkan dalam makanan ringan salah satunya adalah kue telur gabus. Natrium siklamat yang digunakan secara berlebihan tanpa diimbangi asupan gizi lainnya dapat memicu kanker. Kepala badan pengawas obat dan makanan Republik Indonesia membuat aturan nomor 4 tahun 2014 tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan. Pemanis kategori pangan dalam makanan ringan adalah 250 mg/kg. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kadar natrium siklamat pada kue telur gabus yang Beredar di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif dengan metode pengendapan dan analisa kuantitatif menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil analisa kualitatif menunjukkan sampel B dan C positif natrium siklamat. Kemudian hasil analisa kuantitatif menunjukkan rata rata kadar natrium siklamat dalam kue telur gabus B dan C yaitu 1,02 mg/kg dan 1,03 mg/kg. Kadar kedua sampel tersebut masih berada dibawah batas persyaratan Perka BPOM Nomor 4 Tahun 2014

    Mekanisme Molekuler Imunomodulasi oleh Huangqi (Astragali Radix) Menggunakan Sistem Farmakologi Jejaring

    Full text link
    Astragali Radix (Astragalus membranaceus (Fisch.) Bge. var. mongholicus (Bge.) Hsiao, also known as Huangqi) has been used to improve stamina and immunity for thousands of years. However, the bioactive components and their mechanisms are still unclear, limiting its clinical application. In this research, for the first time, network pharmacology was used to investigate the molecular mechanisms of Huangqi and its bioactive components that play an important role in improving the immune system. An amount of 1,430 immunomodulation-related target proteins was collected from the human genome database, with 171 target proteins from 20 bioactive components, and resulted in 60 intersection target proteins. Subsequently, the networks of common target and protein-protein interaction (PPI) were analyzed. The results showed that Huangqi influenced the modulations of lymphocytes (B cells and T cells), natural killer cells, macrophages, cytokines, immunoglobulins, and immune signal transduction. To a certain limit, this study revealed the potential bioactive components and pharmacological mechanisms of Huangqi in immunomodulation. It was able to direct novel drug development for treating immune system deficiency.Astragali Radix (Astragalus membranaceus (Fisch.) Bge. var. mongholicus (Bge.) Hsiao, juga dikenal sebagai Huangqi) telah digunakan untuk meningkatkan stamina dan sistem kekebalan selama ribuan tahun, tetapi komponen bioaktif dan mekanismenya yang tidak jelas sangat membatasi aplikasi klinisnya. Dalam penelitian ini, untuk pertama kalinya, farmakologi jejaring digunakan untuk menginvestigasi mekanisme molekuler Huangqi beserta komponen bioaktifnya yang berperan penting pada peningkatan sistem imun. Sejumlah 1.430 protein target terkait imunomodulasi dikumpulkan dari basis data genom manusia, dengan 171 protein target terkait Huangqi dikumpulkan dari 20 komponen bioaktifnya, menghasilkan 60 protein target yang beririsan. Selanjutnya, analisis pengayaan untuk jejaring target umum dan jejaring interaksi protein-protein (PPI) dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Huangqi memengaruhi modulasi limfosit (sel B dan sel T), sel pembunuh alami, makrofag, sitokin, imunoglobulin, dan transduksi sinyal imun. Dalam batas tertentu, penelitian ini mengungkapkan komponen bioaktif potensial dan mekanisme farmakologis Huangqi pada imunomodulasi, dan memberikan arah untuk pengembangan obat baru untuk pengobatan defisiensi sistem kekebalan tubuh

    Evaluasi Keamanan dari Pengembangan Formula Nanopartikel Kurkumin pada Mencit dan Potensi Antioksidan In-VitroEvaluasi Keamanan dari Pengembangan Formula Nanopartikel Kurkumin pada Mencit dan Potensi Antioksidan In-Vitro

    No full text
    Curcumin has various activities such as antioxidant, anti-inflammatory, antitumor, and antibacterial. The bioavailability of curcumin is low and needs to be optimized. The manufacture of curcumin nanoparticles with several solvents is one way to increase the bioavailability of curcumin. This study aims to examine the safety of curcumin nanoparticles through acute and subchronic toxicity tests and the antioxidant activity of the formula. Acute toxicity test was performed by OECD 425 method, using AOT425StatPgm device for the LD50. Subchronic toxicity test was carried out by OECD 407 method using 4 groups: normal, a dose of 50;100; and 200 mg/kg BW for 28 days, then evaluate body weight, clinical biochemistry, and hematology. An antioxidant activity test was carried out using DPPH. The results showed were the LD50 value of curcumin nanoparticles was>5000 mg/kg BW and the results of the subchronic toxicity test (p>0.05) did not show any significant differences in AST, ALT, BUN, creatinine, albumin, and hematology compare to the normal group. The IC50 of curcumin and curcumin nanoparticles were 118.76 µg/mL and 90.87 µg/mL, respectively. It can be concluded that curcumin nanoparticles are safe and do not affect kidney and liver function and the antioxidant activity of the curcumin nanoparticle formulation is greater than that of curcumin.Kurkumin memiliki berbagai aktivitas seperti antioksidan, anti-inflamasi, antitumor, dan antibakteri. Bioavaibilitas kurkumin rendah dan perlu dioptimalkan. Pembuatan nanopartikel kurkumin dengan beberapa pelarut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan bioavailabilitas kurkumin.  Penelitian ini bertujuan menguji keamanan nanopartikel kurkumin melalui uji toksisitas akut dan subkronis serta aktivitas antioksidan formula nanopartikel kurkumin. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode OECD 425, menggunakan perangkat AOT425StatPgm untuk penentuan LD50. Uji toksisitas subkronik dilakukan dengan metode OECD 407 menggunakan 4 kelompok dosis yaitu normal, dosis 50;100; dan 200 mg/kg BB selama 28 hari, serta dilakukan evaluasi berat badan, parameter biokimia klinis, dan parameter hematologi. Uji aktivitas antioksidan kurkumin dan nanopartikel kurkumin secara in vitro, dilakukan dengan menggunakan DPPH. Hasil penilitian menunjukkan yaitu nilai LD50 nanopartikel kurkumin >5000 mg/kgBB dan hasil uji toksisitas subkronik (p>0,05) tidak menunjukan adanya perbedaan bermakna pada AST, ALT, BUN, kreatinin, albumin dan hematologi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Nilai rata-rata IC50 kurkumin dan nanopartikel kurkumin adalah 118,76µg/mL dan 90,87µg/mL. Dapat disimpulkan bahwa nanopartikel kurkumin aman dan tidak mempengaruhi fungsi ginjal dan hati serta aktivitas antioksidan formulasi nanopartikel kurkumin lebih besar dibandingkan dengan kurkumin

    DNA Barcoding Tanaman Mangga Kasturi (Mangifera casturi) Asal Kalimantan Selatan Berbasis DNA Kloroplas Gen rbcL dan matK

    Full text link
    This study aims to see the genetic diversity of the musk mango (Mangifera casturi) plant in South Kalimantan based on DNA barcode techniques using sequences from the rbcL gene and the matK gene. The plant samples used in this study were the leaves of the musk mango (Mangifera casturi) taken from eight regencies and cities in South Kalimantan Province, namely from Amuntai, Astambul, Barito Kuala, Peat, Kandanga, Babirik, Tabalong, and Tanah Laut. Isolation and DNA analysis of the musk mango plant was carried out in the research laboratory of the Faculty of Biotechnology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta. The analysis of the genetic diversity of the musk mango began with the stage of amplifying genomic DNA (gDNA) using rbcL and matK primers. The results of the DNA isolation samples showed a high concentration level of 17-91 ng/µL with a purity of 1.72 -1.92 ng/µL. When PCR was carried out using rbcL and matK primers, from 8 areas in South Kalimantan, 5 samples (Babirik, Tabalong, Kandangan, Amuntai, Batola, Peat, and Tanah Laut) were amplified with rbcL primers and 6 samples (Tanah Laut, Babirik, Tabalong , Amuntai, Peat, and Kandangan) amplified with matK primer. The relationship between the musk mango in South Kalimantan can be seen from the phylogenetic tree.Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman genetik tanaman mangga kasturi (Mangifera casturi) di Kalimantan Selatan menggunakan sekuens dari gen rbcL dan gen matK. Sampel tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun mangga kasturi (Mangifera casturi) yang diambil dari delapan kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu dari Kota Amuntai, Astambul, Barito Kuala, Gambut, Kandanga, Babirik, Tabalong, dan Tanah Laut. Isolasi dan analisis DNA tanaman mangga kasturi dilakukan di laboratorium penelitian Fakultas Bioteknologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Analisis keragaman genetik mangga kasturi dimulai dengan tahap amplifikasi DNA genom (gDNA) menggunakan primer rbcL dan matK. Hasil isolasi DNA sampel menunjukkan konsentrasi yang tinggi yaitu 17-91 ng/µL dengan kemurnian berkisar antara 1,72-1,92 ng/µL. Pada saat PCR dilakukan dengan primer rbcL dan matK, dari 8 wilayah di Kalimantan Selatan, terdapat 5 sampel (Babirik, Tabalong, Kandangan, Amuntai, Batola, Gambut, dan Tanah Laut) dapat teramplifikasi menggunakan primer rbcL dan 6 sampel (Tanah Laut, Babirik, Tabalong, Amuntai, Gambut, dan Kandangan) teramplifikasi menggunakan primer matK. Hubungan antara mangga kasturi di Kalimantan Selatan dapat dilihat dari pohon filogenetiknya

    Aktivitas Achyranthes Aspera Linn. dalam Menurunkan Kadar Kolesterol dan Glukosa Darah Hewan Uji Resistensi Insulin

    Full text link
    The most common causative factor in patients with type 2 diabetes is insulin resistance. Achyranthes Aspera Linn. is known as a medicinal plant which has been shown based on previous research to reduce total cholesterol, triglyceride, and blood glucose levels, but the effective dose is not yet known in insulin resistance rats. Further study is necessary to ensure the effect and also the dose. The purpose of the research was to determine the activity of the extract in reducing levels of total cholesterol, triglycerides, blood glucose, and OGTT in insulin resistance rats. 7 groups (each group consist of 4 animals) were divided, i.e. normal control (not induced), negative group (given with Na-CMC 0.5%), positive group 1 (fenofibrate), positive group 2 (metformin HCl), extract group dose 250, 500, and 750 mg / kg BW for 14 days of treatment. Induction of insulin resistance using streptozotocin. Total cholesterol, triglyceride, blood glucose, and OGTT levels were measured using a clinical spectrophotometer.  Oneway ANOVA followed by the Tukey test were used to analyze the data.  Data indicated that the third dose extract (750 mg/kg BW) could lower total cholesterol, triglycerides, blood glucose, and OGTT with the percentages of reduction of 48.83%, 48.95%, and 61.31%, respectively, and at OGTT the smallest AUC value was 23,991 mg/dL per minute.Faktor penyebab terbanyak pada pasien diabetes melitus tipe 2 adalah resistensi insulin. Jarong diketahui sebagai tanaman obat yang berdasarkan penelitian sebelumnya terbukti menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan glukosa darah, namun belum diketahui dosis efektifnya pada tikus resistensi insulin.  Sehingga perlu penelitian lanjutan untuk menentukan efek dan dosis. Tujuan riset ini yaitu menilai aktivitas ekstrak etanol 70% daun jarong dalam menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, glukosa darah, serta Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) tikus resistensi insulin. Sebanyak 28 ekor hewan uji (4 ekor tiap kelompok) dibagi dalam 7 macam perlakuan, terdiri dari kontrol normal (tidak diinduksi), kelompok negatif (suspensi Na CMC 0,5%), kelompok positif 1 (fenofibrat), kelompok positif 2 (metformin HCl), kelompok ekstrak dosis 250, 500, dan 750 mg/kgBB selama perlakuan 14 hari. Induksi resistensi insulin menggunakan streptozotocin. Kadar trigliserida, kolesterol total, glukosa darah, dan TTGO diukur menggunakan spektrofotometer klinikal. Analisis data dengan oneway ANOVA kemudian uji Tukey. Data menunjukkan ekstrak daun jarong dosis 750 mg/kgBB mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, glukosa darah, dan TTGO dengan persentase penurunan berturut-turut 48,83%, 48,95%, dan 61,31%, serta pada TTGO nilai AUC terkecil yaitu 23.991 mg/dL per menit pada tikus resistensi insulin

    Formulasi Sediaan Pelembab Ekstrak Buah Melon Orange (Cucumis melo L. var. reticulatus) Dalam Bentuk Krim

    Full text link
    Environmental factors such as extreme sunlight may disrupt skin’s moisture balance and cause the skin to dry out. Therefore, skincare products such as moisturisers are highly needed. In this study, orange melon (Cucumis melo L. var. reticulatus) was added to increase the value of the moisturiser product. Orange melon contains sucrose as the moisturising substance and antioxidant substance which helps to normalize the skin. The extraction process was carried out using juicer. The fruit extract was used at 10% (FI), 20% (FII), and 30% (FIII). This study aims to know the impact of increasing orange melon extract concentration on the physical characteristics of cream and its moisturising effect and antioxidant activity as well as the best formula. The evaluations consisted of physical characteristics, moisturising effect, and antioxidant test with DPPH method. The statistical results showed that the increase in extract concentration significantly affect the physical characteristics (pH, viscosity, spreadibility, ease of removal, adhesivity) and moisturising effect of the creams. Increasing extract concentration would cause a significant increase in the moisturising effect of creams containing synthetic humectants. The best formula which fulfilled the requirements of physical characteristics and effectiveness test, while possessing antioxidant effect was F2 (20% orange melon extract).Faktor eksternal lingkungan seperti paparan sinar matahari yang ekstrim dapat menganggu keseimbangan kulit dan menyebabkan kulit menjadi kering. Oleh itu, dibutuhkan suatu produk perawatan kulit seperti pelembab. Pada penelitian ini, sediaan topikal pelembab ini dikombinasikan dengan bahan alam yakni buah melon orange (Cucumis melo L. var. reticulatus) untuk menambah nilai guna dari sediaan. Buah melon orange mengandung senyawa humektan sukrosa sekaligus senyawa antioksidan yang mampu menormalkan kondisi kulit kering. Metode ekstraksi terpilih adalah metode perasan. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 10% (F1), 20% (F2) dan 30% (F3). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi ekstrak melon orange terhadap mutu fisik, efektivitas daya melembabkan, daya antioksidan serta mengetahui formula sediaan krim pelembab terbaik. Evaluasi sediaan meliputi mutu fisik, efektivitas daya pelembab, dan aktivitas antioksidan sediaan. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Hasil analisa statisitik menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak melon orange berpengaruh signifikan terhadap mutu fisik : pH, viskositas, daya sebar, daya tercucikan air, daya lekat dan efektivitas daya pelembab. Peningkatan konsentrasi ekstrak menyebabkan peningkatan signifikan pada efektivitas daya pelembab sediaan yang mengandung senyawa pelembab sintetis. Formula terbaik yang memenuhi spesifikasi uji mutu fisik dan efektivitas serta memiliki nilai tambah khasiat antioksidan adalah F2 (konsentrasi ekstrak 20%)

    Standarisasi Eksrtak Etanol 96% Daun Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.)

    Full text link
    Advantages of Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) include anti-inflammatory, Spasmolytic, Antiviral, and Hypotensive Properties. The objective of this study was to standardize the Cantigi leaf extract. Non-specific parameters include total ash content, acid insoluble ash content, water content, dry loss, determination of heavy metals (Hg, As, Cd, Pb, hydroquinone), mold number, yeast, total plate count, and solvent residue. Specific parameters included extracts soluble in ethanol and water. Cantigi leaves are extracted by kinetic maceration using solvents such as n-hexane, ethyl acetate, and 96% ethanol. To obtain a thick extract, 96% ethanol extract was evaporated using a rotary evaporator. The experiment produced 44.5 g of the cantigi leaf extract in 96% ethanol. Phytochemical screening presents alkaloids, saponins, tannins, flavonoids, triterpenoids, steroids, essential oils, and quinones. Ethanol soluble extract was 9.49% and that of the water-soluble extract was 22.21%. A total of ash 3.66%, an acid insoluble ash 0.35%, water content 6.31%, and drying loss 6.49%. Results of the heavy metal contamination test revealed that no traces of Hg, As, Cd, Pb, or hydroquinone were found, along with 10 yeast molds, 10 plates, and 0.005% residual ethanol solvent. Based on the results, cantigi leaf extract met the standard of extract quality.Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) memiliki banyak manfaat, yaitu untuk antiradang, spasmolitik, antivirus, dan hipotensi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan standarisasi ekstrak daun cantigi dengan menggunakan parameter spesifik dan non spesifik. Parameter spesifik meliputi ekstrak larut dalam etanol dan larut dalam air, sedangkan parameter non spesifik meliputi kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar air, susut kering, penetapan logam berat (Hg, As, Cd, Pb, hidrokuinon), angka kapang khamir, angka lempeng total, dan residu pelarut. Prosesnya ekstraksi daun cantigi dengan maserasi kinetik menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%. Ekstrak etanol 96% diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil diperoleh 44,5 g ekstrak etanol 96% daun cantigi. Selain itu, dilakukan penapisan fitokimia. Hasil pemeriksaan menunjukkan senyawa alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, triterpenoid, steroid, minyak atsiri, dan kuinon. Hasil pengujian kadar sari larut etanol sebesar 9,49%, kadar sari larut air 22,21%. Hasil kadar abu total 3,66%, kadar abu tidak larut asam 0,35%, kadar air 6,31% , susut pengeringan 6,49%. Hasil uji cemaran logam berat Hg, As, Cd, Pb, hidrokuinon tidak terdeteksi, angka kapang khamir < 10, angka lempeng total < 10, sisa residu pelarut etanol 0,005%. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak daun cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) memenuhi standarisasi mutu ekstrak

    Optimalisasi Komposisi Koktail dan Pengembangan Proses Fermentasi Up-scale dari Empat Strain Bakteri Komensal Kulit

    Full text link
    Analyzing the actual microbial composition in the skin microbiome is riveting to create a potential sourceof active substances in skincare products. Our previous study isolated four bacterial strains from Javanese male and female skin samples, Staphylococcus hominis MBF12–19J, Staphylococcus warneri MBF02–19J, Bacillus subtilis MBF10–19J, and Micrococcus luteus MBF05–19J. This study aimed to determine the composition of those strains in a bacterial cocktail and optimize the condition for up-scale laboratory production of the cocktail. To assess the ability of bacteria to coexist and live in cocktail communities, simultaneous monitoring was performed using the Deferred Growth Inhibition Assay (DGIA) method and real-time PCR for DNA copy number measurement. Results showed the best composition based on even distribution and cell growth viability was at the ratio 1.5:1:0.5:0.5 of Micrococcus luteus MBF05-19J, Bacillus subtilis MBF10-19J, Staphylococcus warneri MBF02-19J, Staphylococcus hominis MBF12-19J, which is equivalent to DNA copy number/mL 1.209 x 1024 CFU : 2.484 x 1041 CFU : 2.645 x 1041 CFU : 9.041 x 1035 CFU, respectively. The optimum growth incubation time of individual bacterial cultures for an up-scale 2-L bio-fermentor mixture was as follows; Micrococcus luteus MBF05-19J = 21 hrs; Bacillus subtilis MBF10-19J = 7 hrs; Staphylococcus warneri MBF02-19J = 17 hrs; Staphylococcus hominis MBF12-19 = 15 hrs. For up-scale conditions, the fermentation incubation time was 3 hours at 37oC, agitation 50 RPM, and aeration 5% dissolved oxygen.Menganalisis komposisi mikroba sebenarnya dalam mikrobioma kulit sangat menarik untuk menciptakan sumber potensial zat aktif dalam produk perawatan kulit. Penelitian kami sebelumnya mengisolasi empat strain bakteri dari sampel kulit pria dan wanita Jawa, Staphylococcus hominis MBF12–19J, Staphylococcus warneri MBF02–19J, Bacillus subtilis MBF10–19J, dan Micrococcus luteus MBF05–19J. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi galur-galur tersebut dalam koktail bakteri dan mengoptimalkan kondisi untuk produksi koktail skala besar di laboratorium. Untuk menilai kemampuan bakteri untuk hidup berdampingan dan hidup dalam komunitas koktail, pemantauan simultan dilakukan menggunakan metode Deferred Growth Inhibition Assay (DGIA) dan real-time PCR untuk pengukuran jumlah salinan DNA. Hasil penelitian menunjukkan komposisi terbaik berdasarkan pemerataan dan viabilitas pertumbuhan sel adalah pada rasio 1,5:1:0,5:0,5 Micrococcus luteus MBF05-19J, Bacillus subtilis MBF10-19J, Staphylococcus warneri MBF02-19J, Staphylococcus hominis MBF12-19J, yang setara dengan nomor salinan DNA/mL masing-masing 1,209 x 1024 CFU : 2,484 x 1041 CFU : 2,645 x 1041 CFU : 9,041 x 1035 CFU. Waktu inkubasi pertumbuhan optimum kultur bakteri individu untuk campuran skala bio-fermentor 2-L adalah sebagai berikut; Micrococcus luteus MBF05-19J = 21 jam; Bacillus subtilis MBF10-19J = 7 jam; Staphylococcus warneri MBF02-19J = 17 jam; Staphylococcus hominis MBF12-19 = 15 jam. Untuk kondisi up-scale, waktu inkubasi fermentasi adalah 3 jam pada suhu 37oC, agitasi 50 RPM, dan aerasi 5% oksigen terlarut

    Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Manajemen Diri dan Kepatuhan Penggunaan Obat Pasien Dabetes Mellitus di Klinik Gading Yogyakarta

    Full text link
    Diabetes mellitus is a global disease. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and accuracy of diabetes mellitus drug use and the relationship between the level of knowledge and adherence to diabetes mellitus drug use at the Gading Clinic Yogyakarta. This study was observational. Participants were typed 2 diabetes mellitus patients in the JKN referral program at the Gading Yogyakarta Clinic. Data were collected through questionnaires on knowledge related to diabetes mellitus, accuracy, and adherence. Data analysis was performed using the SPSS program with the chisquare test. The results showed a correlation between knowledge and self-management (p = 0.007), while no correlation was found between knowledge and medication adherence (p = 0.734). Based on these results, there was a correlation between diabetes mellitus knowledge and self-management in patients with type 2 diabetes mellitus at the Gading Clinic in Yogyakarta.Diabetes Melitus adalah salah satu penyakit yang menjadi permasalahan di dunia. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat diabetes melitus dan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan kepatuhan penggunaan obat diabetes mellitus di Klinik Gading Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan observasional yang bersifat correlation study. Responden pada penelitian ini adalah pasien rujuk balik penderita diabetes mellitus tipe 2 di Klinik Gading Yogyakrata. Data dikumpulkan melalui kuesioner tentang pengetahuan terkait penyakit diabetes melitus, ketepatan dan kepatuhan penggunaan obat. Analisa data dilakukan dengan Uji Chi Square. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan manajemen diri (p value = 0,007) dan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan penggunaan obat (p value = 0,734). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang diabetes melitus memiliki hubungan terhadap manajemen diri pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Gading Yogyakarta

    Penetapan Kadar Vitamin E dalam Ekstrak n-Heksan Buah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) dan CPO (Crude Palm Oil) dengan Metode KCKT

    Full text link
    Palm fruit (Elaeis guineensis Jacq) is a natural source of vitamin E (tocopherol). This study has determined vitamin E levels in n-hexane extracts of palm fruit (Elaeis guineensis Jacq) and CPO (Crude Palm Oil) using HPLC (High Performance Liquid Chromatography) method. The subject were palm fruit and CPO obtained from plantations and palm fruit mills PT X located in Kampar district, Riau. Extraction of palm fruit and CPO using ultrasonication and saponification method. Measurement using HPLC obtained optimum conditions using mobile phase acetonitrile: water (86:14), flow 1 mL/minute, UV-Vis detector at wavelength 284 nm and obtained retention time is 3,488 minutes.  Determination of the calibration curve is obtained the regression equation y = 702,872x + 3273,26 and r2 = 0,9985. The result of the determination vitamin E levels in the palm fruit extract and CPO sequentially is (469,4008 ± 2,5879) µg/mg and for CPO is (262,5248 ± 6,3987) µg/mg.Buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan sumber alami dari vitamin E (tokoferol). Penelitian ini telah diperoleh kadar vitamin E dalam ekstrak n-heksana buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dan CPO (Crude Palm Oil) dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel pada penelitian ini adalah buah kelapa sawit dan CPO yang diperoleh dari perkebunan dan pabrik kelapa sawit (PKS) PT.X yang berada di Kabupaten Kampar, Riau. Ekstraksi buah kelapa sawit dan CPO menggunakan metode ultrasonikasi dan saponifikasi. Pengukuran dengan KCKT diperoleh kondisi optimum berupa fase gerak asetonitril : air (86:14), laju alir 1 mL/menit, detektor Uv-Vis pada panjang gelombang 284 nm dan diperoleh waktu retensi pada 3,488 menit. Pada penentuan kurva kalibrasi didapatkan persamaan regresi y = 702,872x + 3273,26 dan r2 = 0,9985. Hasil penetapan kadar vitamin E pada ekstrak buah kelapa sawit dan CPO secara berurutan adalah sebesar (469,4008 ± 2,5879) µg/mg dan (262,5248 ± 6,3987) µg/mg

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇