JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Hubungan Demografi Tenaga Kefarmasian terhadap Patient safety di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Kota Semarang

    Full text link
    Patient safety is a fundamental element in providing patient care and is a component of patient rights. Pharmaceutical services are one aspect of patient safety implementation. Patient safety is a variable used to monitor and evaluate the service quality of pharmacy staff in hospitals. This study aims to determine the relationship between the demographic characteristics of pharmaceutical personel with the implementation of patient safety at the Sultan Agung Islamic Hospital, Semarang City. This research is an analytic observational study using a cross sectional design. The research subjects who met the inclusion criteria were 39 pharmacists. Data collection was carried out in November 2020 using a questionnaire adapted from 6 patient safety aims by the 2018 National Hospital Accreditation Standard (SNARS) edition 1.1. Data analysis using Spearman's-Rho and Eta correlation test. The results of research conducted from 39 respondents showed that the implementation of patient safety has been carried out properly. This is due to there was a demographic correlation on patient safety including length of work for patient safety of 0.672 and a weak correlation between age and education status on the implementation of patient safety at the Sultan Agung Hospital, Semarang. The correlation coefficient values are 0.238 and 0.370 with a significance value of p<0.05. There is a significant relationship between length of work and the application of patient safety and there is no significant relationship between gender, profession, marital status, age, last education and place of work with a significance of p> 0.05.Keselamatan pasien adalah prinsip dasar dalam melaksanakan perawatan pasien yang menjadi bagian dari hak pasien. Pelayanan kefarmasian salah satu bagian dari pelaksana keselamatan pasien. Keselamatan pasien adalah variabel yang digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan tenaga kefarmasian di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara demografi karakteristik tenaga kefarmasian dengan pelaksanaan patient safety di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan desain cross sectional. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 39 tenaga kefarmasian. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan november 2020 menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari 6 sasaran keselamatan pasien oleh Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) 2018 edisi 1.1. Analisis data menggunakan Spearman’s-Rho dan uji korelasi Eta. Hasil penelitian yang dilakukan dari 39 responden menunjukkan bahwa pelaksanaan keselamatan pasien telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan adanya korelasi demografi terhadap keselamatan pasien meliputi lama kerja terhadap patient safety sebesar 0,672 dan korelasi lemah usia dengan status pendidikan terhadap implementasi patient safety di RSI Sultan Agung Semarang. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,238 dan 0,370 dengan nilai signifikansi p<0,05. Terdapat hubungan bermakna antara lama kerja dengan penerapan patient safety dan tidak terdapat hubungan bermakna antara Jenis kelamin, profesi, status pernikahan,  usia, pendidikan terakhir dan tempat bekerja dengan signifikansi p>0,05

    Aktivitas Anti-Acne Daun Turi (Sesbania grandiflora (L.) Poir.) terhadap Propionibacterium acne

    Full text link
    Turi (Sesbania grandiflora (L.) Poir.) is a native Indonesian plant with many benefits. One of the benefits of Turi leaves is that they can be used as antibacterial agents. Turi leaves contain several compounds with antibacterial bioactivity including tannins, flavonoids, and saponins. This study aimed to examine the activity of Turi leaf extracts against Propionibacterium acne, a bacterium that causes acne. Antibacterial activity testing was performed using the good diffusion method with three replicates. The test groups were X1, X2, and X3, which had extract concentrations of 5%, 7.5%, and 10%, respectively. The positive control group was treated with clindamycin disks. The results of measurements of the diameter of the inhibition zone showed that the mean for groups X1, X2, and X3 were 19.67 mm, 22 mm, and 23.67 mm, respectively. The positive control group was 37 mm. Based on the classifi cation of bacterial growth inhibition responses, the results of the inhibition zone diameter after deducting the good diameter × 10 mm were classifi ed as less eff ective for group X1 and weak for groups X2 and X3. The positive control group was classifi ed as strong. This study concluded that the antiacne activity of Turi leaf extracts at a concentration of less than 10% was weak when compared to the positive control.Tanaman Turi (Sesbania grandiflora (L.) Poir.) merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat dan kaya akan manfaat. Salah satu manfaat daun Turi dapat dijadikan sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri dihasilkan dari senyawa yang ada di dalam daun Turi diantaranya adalah tanin, flavonoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak etanol daun Turi terhadap bakteri Propionibacterium acne yakni bakteri penyebab jerawat. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi sumuran dengan 3 kali replikasi. Kelompok uji yaitu X1, X2 dan X3 yang memiliki konsentrasi ekstrak berturut-turut sebesar 5%, 7,5% dan 10%. Sedangkan kelompok kontrol positif menggunakan Clindamycin disk. Hasil pengukuran diameter zona hambat didapatkan rata-rata untuk kelompok X1, X2 dan X2 masing-masing adalah 19,67 mm, 22 mm dan 23,67 mm. Sedangkan untuk kelompok kontrol positif sebesar 37 mm. Berdasarkan klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri, hasil diameter zona hambat setelah dikurangi diameter sumuran sebesar 10 mm termasuk ke dalam klasifikasi kurang efektif untuk kelompok X1 dan klasifi kasi lemah untuk kelompok X2 dan X3. Sedangkan untuk kelompok kontrol positif termasuk dalam klasifi kasi kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aktivitas antiacne ekstrak daun Turi pada konsentrasi kurang dari 10% adalah lemah bila dibandingkan dengan kontrol positif

    Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksan, Kloroform, Etil Asetat Rimpang Bangle (Zingiber casumounar Roxb.) terhadap Staphylococcus aureus

    Full text link
    The Zingiber casumounar Roxb. It is often used by the public as a traditional medicine for the treatment of rheumatism and throat inflammation. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of the n-hexane fraction, chloroform, and ethyl acetate of the bangle rhizome against Staphylococcus aureus. In this study, antibacterial activity testing of the n-hexane fraction, chloroform, and ethyl acetate of the rhizome of Z. casumounar Roxb was performed. against S. aureus by using the diffusion method. Fractions obtained from the liquid partition results of the ethanol extract 96% of Z. casumounar Roxb. using n-hexane, chloroform, and ethyl acetate. The test results of antibacterial activity of all three fractions indicated the ability to inhibit the growth of S. aureus. Antibacterial activity shows different inhibition zones, namely with an average value in crude extracts of 8.59±0.4 mm, while extracts of n-hexane fractions of 11.67±1.0 mm, chloroform fractions of 11.39±0.6 mm and ethyl acetate fractions of 13.21±0.3 mm. The ethyl acetate fraction had the highest antibacterial activity based on the area of its inhibitory zone.Zingiber casumounar Roxb. sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisonal untuk pengobatan reumatik dan peradangan pada tenggorokan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada fraksi n-heksan, kloroform dan etil asetat dari rimpang bangle terhadap Staphylococcus aureus. Pada penelitian dilakukan pengujian aktivitas antibakteri terhadap fraksi n-heksan, kloroform dan etil asetat dari rimpang Z. casumounar Roxb. terhadap S. aureus dengan metode difusi. Fraksi diperoleh dari hasil partisi cair cair ekstrak etanol 96% Z. casumounar Roxb. menggunakan n-heksan, kloroform dan etil asetat. Hasil uji aktivitas antibakteri dari ketiga fraksi menunjukkan adanya kemampuan untuk menghambat pertumbuhan S. aureus. Aktivitas antibakteri menunjukkan zona hambat yang berbeda yaitu dengan nilai rata-rata pada ekstrak kasar 8,59±0,4 mm, sedangkan ekstrak fraksi n-heksan 11,67±1,0 mm, fraksi kloroform 11,39±0,6 mm dan fraksi etil asetat 13,21±0,3 mm. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi dengan melihat luas zona hambatnya

    Pengembangan Essence dari Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)

    Full text link
    Sappan wood (Caesalpinia sappan L.) was reported to have natural antioxidant properties. Brazillin is the compound responsible for its antioxidant effect.  Antioxidants are needed to prevent premature aging of the skin. Essence is a cosmetic that contains topical antioxidants. Essence has advantages over other skincare products, and essence is easier to absorb into the skin. The objective of the present study was to optimize and evaluate the Essence of sappan wood ethanolic extract for treatment as a cosmetic antioxidant. Simplex lattice design was adopted to evaluate the effect of butylene glycol and glycerin concentration on Essence characteristics. The method used in the extraction is maceration with ethanol solvent. The results showed that both butylene glycol and glycerin significantly enhanced the viscosity and pH value of the sappan essence formulation. The optimum Essence formula consisted of 10% butylene glycol with a predicted viscosity value of 2,944 dPas and a pH of 5,075. The characteristics of the optimum formula of sappan wood extract Essence have a thick texture, a characteristic odor of colored extract brownish yellow, homogeneous, and has a spreadabillity of 14 cm.Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dilaporkan memiliki sifat antioksidan alami. Brazillin merupakan salah satu kandungan senyawanya yang berkhasiat sebagai antioksidan. Antioksidan dapat digunakan untuk mencegah penuaan dini pada kulit. Essence adalah salah satu kosmetik yang mengandung antioksidan topikal. Essence memiliki keunggulan dibandingkan produk perawatan kulit lainnya dan essence lebih mudah menyerap ke dalam kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan dan mengevaluasi essence ekstrak etanol kayu secang sebagai antioksidan topikal. Simplex lattice design digunakan untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi butilen glikol dan gliserin pada karakteristik essence. Metode yang digunakan dalam ekstraksi adalah maserasi dengan pelarut etanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa butilen glikol dan gliserin dapat meningkatkan viskositas dan nilai pH essence. Formula essence optimum terdiri dari 10% butilen glikol dengan prediksi nilai viskositas 2,944 dPas dan pH 5,075. Formula optimum essence ekstrak kayu secang memiliki tekstur kental, bau khas ekstrak, berwarna kuning kecoklatan, homogen, dan memiliki daya sebar 14 cm

    Pemanfaatan Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa Linn.) untuk Meningkatkan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Remaja Putri Penderita Anemia

    Full text link
    This research aims to prove the provision benefits of Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) calyx extract to increase hemoglobin and hematocrit levels in female adolescents anemia. This research is a true experiment with a randomized pre-test and post-test control group design. Totals of samples were 40 female adolescents with anemia according to the inclusion and exclusion criteria divided by randomization sampling technique, consisting of two groups intervention groups and control groups. Data analysis used paired t-test statistical test to determine the difference between pretest and post-test each group and an independent t-test to determine the difference between the different groups. The average difference in hemoglobin and hematocrit levels in the intervention group was higher than in the control group. The average difference in hemoglobin levels in the intervention group was 1.8 g/dL in and the control group was 0.9 g/dL, (p < 0.05), The difference in the average hematocrit level in the intervention group was 5.6% and the control group was 2.7% (p < 0.05). The researchers also found significant statistics differences between hemoglobin and hematocrit levels of female adolescents from intervention and control groups s with a p-value < 0.05. The combination of Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) calyx extract and Fe2+ tablet was effective to increasing hemoglobin and hematocrit levels in female adolescents with anemia.Tujuan dari penelitian adalah membuktikan manfaat pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) terhadap peningkatan kadar hemoglobin, hematokrit dan eritrosit remaja putri penderita anemia. Penelitian ini merupakan true eksperiment with randomized pretest and posttest control group design. Jumlah sampel 40 remaja putri anemia sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dengan teknik sampling acak, terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Analisis data dengan uji statistik paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan selisih rata-rata kadar hemoglobin dan hematokrit kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Selisih rata-rata kadar hemoglobin kelompok intervensi 1,8 gr/dL dan kelompok kontrol 0,9 gr/dL (p< 0.05), selisih rata-rata kadar hematokrit kelompok intervensi 5,6% dan kelompok kontrol 2,7% (p< 0.05). Serta terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada kadar hemoglobin dan hematokrit remaja putri anemia antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol p-value < 0,05. Pemberian ekstrak kelopak bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa Linn.) dan tablet Fe2+ efektif meningkatkan kadar hemoglobin dan hematokrit pada remaja putri penderita anemia

    Optimalisasi Produksi Fikosianin pada Sianobakteria Laut BTM 11 dan Uji Aktivitas Antioksidannya

    Full text link
    Phycocyanin (PC)-producing cyanobacteria has shown many pharmaceutical applications, the main one is the antioxidant properties. Biosynthesis of PC-producing cyanobacteria is affected by many factors like nitrogen availability and light intensity during cultivation. This study aims to analyze the optimum concentration of nitrogen and light intensity during the cultivation of PC biosynthesis of marine cyanobacteria BTM 11 and identify its antioxidant properties This study was an experimental laboratory method and the PC level was determined through the variation of sodium nitrate (NaNO3) as a source of nitrogen dissolved in media and using different light intensities. The most optimum nitrogen and light intensity values of PC were measured by its antioxidant activity by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) free radical capture method. Data was analyzed by one-way ANOVA and the post-hoc Duncan to see whether p<0.05. The result showed that there was a significant difference in the PC level that was cultivated with the variation of NaNO3 concentrations. The highest PC level was observed in media containing 525 mg of NaNO3 and the optimum light intensity of 4500 lux. The result of the antioxidant activity assay showed that the BTM11’s PC’s antioxidant activity had its IC50 at 91.89 μg/mL and the IC50 of ascorbic acid was 2.39 μg/mLPigmen fikosianin (PC) dari sianobakteria telah banyak menunjukkan efek farmasetikal termasuk salah satunya efek antioksidan. Biosintesis PC oleh sianobakteria dipengaruh oleh beberapa faktor, diantaranya ketersediaan nitrogen dan intensitas cahaya yang dipaparkan selama kultivasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kadar nitrogen dan intensitas cahaya optimum untuk biosintesis PC serta mengetahui aktivitas antioksidan dari PC yang diisolasi dari sianobakteria laut BTM 11. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik dengan mengamati respon PC dari variasi pemberian natrium nitrat (NaNO3) sebagai sumber nitrogen dalam media serta intensitas cahaya yang berbeda. PC dari hasil nitrogen dan intensitas cahaya yang optimum diuji aktivitas antioksidannya dengan metode penangkapan radikal bebas 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Data hasil perlakuan variasi NaNO3 dan intensitas cahaya dianalisis dengan one-way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila p<0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan respon kadar PC dari tiap variasi konsentrasi NaNO3 Kadar PC tertinggi didapat dari media dengan konsentrasi NaNO3 525,0 mg dan intensitas cahaya optimum 4.500 lux Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan PC memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 91,89 μg/mL sedangkan IC50 dari asam askorbat sebesar 2,39 μg/mL

    Efek Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dan Amoksisilin terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara In Vitro

    Full text link
    Staphylococcus aureus and Escherichia coli often infect humans and risky cause antibiotics resistance including amoxicillin. This encourages us finding alternative active ingredients: Moringa oleifera leaf. This study evaluated antibacterial activity of combination of Moringa leaf extract (KDK) and amoxicillin (KA) against S. aureus and E. coli in vitro. The research methods with true experimental research with post-test control group design. KDK obtained by maceration. Four concentrations of KDK test materials (20, 30, 40, 50%) and 1 concentration of KA (3 mg/mL). Disc diffusion test method taken and the parameter measured: the diameter of the disc inhibition zone. Data analyzed by One-way ANOVA and further Tukey’s test. KDK+KA against S. aureus (20.77±1.79 – 21.33±1.74 mm)>KDK (11.45±0.21 – 12.45±0.28 mm) or KA (14.50±0.42 mm). KDK+KA against E. coli (15.53±0.71 – 17.87±0.42 mm)>KDK (9.00±0.28 – 10.30±0.42 mm) or KA (13.45±0.35 mm). A significant (p<0.05) was obtained between the combination group (KDK+KA) versus a group (KDK or KA). The combination of Moringa leaf ethanol extract and amoxicillin synergistically effected as antibacterial against S. aureus and E. coli in vitro.Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah bakteri yang sering menginfeksi manusia dan beresiko resistensi terhadap antibiotik termasuk amoksisilin. Hal ini mendorong pentingnya upaya menemukan alternatif termasuk dari tanaman, salah satunya kelor (Moringa oleifera Lam). Tujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol daun kelor (KDK) dan amoksisilin (KA) terhadap S. aureus dan E. coli secara in vitro. Metode penelitian true experimental dengan post-test control group design. Uji KDK ada 4 konsentrasi (20, 30, 40, 50%) dan KA 1 konsentrasi (3 mg/mL). Metode uji dengan difusi cakram agar dan parameter yang diukur diameter zona hambat cakram. Data dianalisis dengan Oneway ANOVA dan uji lanjut Tukey. Kombinasi KDK+KA terhadap S. aureus (20,77±1,79 – 21,33±1,74 mm)>KDK (11,45±0,21 – 12,45±0,28 mm) dan KA (14,50±0,42 mm). Kombinasi KDK+KA terhadap E. coli (15,53±0,71 – 17,87±0,42 mm)>KDK (9,00±0,28 – 10,30±0,42 mm) dan KA (13,45±0,35 mm). Terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok (KDK+KA) dengan kelompok (KDK atau KA). Kombinasi ekstrak daun kelor dan amoksisilin menghasilkan efek sinergisme sebagai antibakteri terhadap S. aureus dan E.coli secara in vitro

    Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Turunan 2-Benzamido- N-Benzoilbenzamida

    Full text link
    Anthranilamide derivatives exhibit anti-inflammatory, antipyretic, antibacterial, antiangiogenic, and anticoagulant properties. With an early in silico examination of its analgesic capabilities, this study aimed to generate a novel anthranilamide molecule by altering 2-Benzamido-N-Benzylbenzamide. Modification of anthranilamide with 1/2/3-chloro benzoyl chloride by acylation resulted in the design, synthesis, characterization, and research of the analgesic effects of 2-benzamido-N-benzoylbenzamide derivatives. 2-(2-chlorobenzamido)-N-(2-chlorobenzoyl)benzamide, 2-(3-chlorobenzamido)-N-(3-chlorobenzoyl)benzamide, and 2-(4-chlorobenzamido)-N-(4-chlorobenzoyl)benzamide were prepared. The nucleophilic acyl substitution reaction method was used to prepare these three chemicals by interaction with anthranylamide and benzoyl chloride molecules. Melting point and thin-layer chromatography were used to check the purity of the synthesis fi ndings. The structure was confi rmed by UV-Vis and infrared spectrophotometry.Turunan antranilamida memiliki aktivitas analgesik, antipiretik, antiinflamasi, antimikroba, antiangiogenik, dan antikoagulan. Penelitian ini bertujuan membuat senyawa antranilamida baru dengan memodifikasi 2-Benzamido-N-Benzylbenzamide dengan studi pendahuluan in silico atas kemampuan analgesiknya. Telah dilakukan perancangan, sintesis, karakterisasi dan studi tentang sifat analgesik turunan 2-benzamido-N-benzoilbenzamida dengan memodifikasi Anthranilamida dengan 1/2/3-kloro benzoil klorida melalui reaksi melalui asilasi. Diperoleh senyawa 2-(2-klorobenzamido)-N-(2-klorobenzoil)benzamida; 2-(3-klorobenzamido)-N-(3-klorobenzoil)benzamida; dan 2-(4-klorobenzamido)-N-(4-klorobenzoil)benzamide. Ketiga senyawa ini diperoleh dengan mereaksikan antranilamida dan senyawa-senyawa benzoil klorida kemudian diperoleh senyawa hasil sintesis dengan rendemen sebanyak 71-73 %. Hasil sintesis diuji kemurnian dengan melakukan pengamatan terhadap Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan titik lebur. Karakterisasi struktur senyawa menggunakan Spektrofotometri Ultra Violet-Visible (UV-Vis), Spektrofotometri inframerah (FT-IR), Spektrofotometri resonansi magnetik nuklir (NMR) dan Spektrofotometri Massa (MS). Uji in silico dilakukan untuk memprediksi sifat analgesik melalui besarnya interaksi senyawa turunan terhadap reseptor COX-2(pdb: 1PXX). Pada tahap ini interaksi senyawa uji terhadap reseptor 1PXX dibandingkan besarnya nilai rerank score senyawa turunan, antranilamida dengan asam mefenamat. Hasil interaksi senyawa uji terhadap reseptor menunjukkan nilai rerank score senyawa hasil sintesis (-91 hingga -112) lebih kecil dibandingkan dengan antranilamida (-54) dan asam mefenamat (-84) dan hal ini menunjukkan prediksi aktivitas analgesik turunan senyawa ini lebih baik dibanding antranilamida dan asam mefenamat

    Aktivitas Antimikroba Sabun Antiseptik Bunga Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dengan Basis Minyak Jelantah

    Full text link
    Water hyacinth flowers (Eichhornia crassipes) contain antibacterial phenols, flavonoids, alkaloids, tannins, terpenoids, sterols, and glycosides that can be made into antiseptic soaps. Used cooking oil purifi ed with banana peel can be used to make soap. This study aimed to determine how to process used cooking oil, formulate and test antimicrobial antiseptic soaps using water hyacinth flower extract. The method uses antiseptic soap formulated with 10%, 15%, and 20% water hyacinth infusion. Physical, chemical, irritation, and antibacterial testing of the preparation. Used cooking oil is refined and clear, not thick. Water hyacinth flower extract can be formulated into antiseptic soap with a 1.5 cm foam height, cleaning power in criteria 3, pH in the range 9-10, water content >15%, and free alkali content of 0.6- 1.3%. Formula A (19.17 mm), B (20.01 mm), and C have strong antibacterial activity against E. coli based on the diameter of the barrier (20.13 mm). Water hyacinth flower extract and used cooking oil can be used to make antimicrobial antiseptic soap.Bunga Eceng gondok (Eichhornia crassipes) mengandung fenol, flavonoid, alkaloid, tannin, terpenoid, sterol dan glikosida yang mempunyai aktivitas antibakteri dan berpotensi diformulasi menjadi sabun antisptik. Minyak jelantah yang telah dimurnikan menggunakan kulit pisang kepok berpotensi sebagai bahan pembuatan sabun. Tujuan untuk mengetahui metode pengolahan minyak jelantah, formulasi dan uji aktivitas antimikroba sediaan sabun antiseptik ekstrak air bunga eceng gondok dengan memanfaatakan minyak jelantah. Metode yaitu quasi eksperimen laboratorium yakni sabun antiseptic diformulasi berdasarkan tiga konsentrasi infusa bunga eceng gondok, Formula A (10%); B (15%) dan C (20%). Evaluasi sediaan berupa fisik dan kimia, uji iritasi dan uji aktivitas antibakteri. Hasil pemurnian minyak jelantah yaitu minyak yang jernih dan tidak kental. Ekstrak air bunga eceng gondok dapat diformulasi menjadi sabun antiseptik dengan tinggi busa rata-rata 1,5 cm, daya bersih pada kriteria 3 (kesat), pH pada rentang 9-10, kadar air >15%, kadar alkali bebas 0,6-1,3 % dan tidak menunjukkan iritasi. Sabun antiseptik ekstrak air bunga eceng gondok memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli kategori kuat berdasarkan diameter hambatannya, yakni Formula A (19,17 mm), B (20,01 mm) dan C (20,13 mm). Kesimpulannya ekstrak air bunga eceng gondok dan minyak jelantah dapat menjadi alternative pemanfaatan limbah menjadi sediaan sabun antiseptik yang memiliki aktivitas antimikroba

    Penentuan Kurva Pertumbuhan dan Aktivitas Antibakteri dari Isolat Ekstrak Etil Asetat Bakteri (Te.325) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

    Full text link
    The development of infection cases and inappropriate use of antibiotics has led to cases of antibiotic resistance. An alternative to overcoming the many antibiotics that are already resistant to bacteria has led to the discovery of new antibiotics. One of the processes of discovering antibiotics is from microorganisms, namely bacteria. The exploration process for the discovery of antibiotics uses a bacterial growth phase approach, namely the stationary phase which produces secondary metabolites, one of, which are bacteria that contain antibiotic compounds. Te.325 isolate is a producer of bacterial antibiotics but The growth phase is not yet known and can be used to approach the process of obtaining antibiotics. The study was to obtain the growth phase time of the Te.325 isolate and to extract antibiotic compounds from the isolate. The determination of the growth curve is based on the weight of cell biomass and the absorbance value on UV/ Vis spectrophotometry of the culture sampled every day for 14 days of culture incubation. The results showed a log/exponential phase on 5th day and a stationary phase on 9th day. The activity test of the ethyl acetate extract was carried out using the well method with an extract concentration of 40%, which resulted in an average diameter of 8.04mm in Staphylococcus aureus and 9.035mm in Escherichia coli. The ethyl acetate extract of Te.325 has medium potency.Perkembangan kasus infeksi dan penggunaan antibiotik yang kurang tepat menimbulkan kasus resistensi antibiotik. Alternatif dalam mengatasi banyaknya antibiotik yang sudah resisten bakteri, yaitu dengan penemuan antibiotik baru. Proses penemuan antibiotik salah satunya dari mikroorganisme, yaitu dari bakteri. Proses eksplorasi penemuan antibiotik tersebut menggunakan pendekatan fase pertumbuhan bakteri, yaitu fase stasioner dimana bakteri memproduksi metabolit sekunder, salah satunya adalah senyawa antibiotik. Isolat Te.325 merupakan bakteri penghasil antibiotik tetapi belum diketahui fase pertumbuhannya yang dapat digunakan untuk melakukan pendekatan proses perolehan antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan waktu fase pertumbuhan isolat Te.325 dan melakukan ekstraksi senyawa antibiotik dari isolat tersebut. Penentuan kurva pertumbuhan yaitu berdasarkan berat biomassa sel dan nilai absorbansi pada spektrofotometri UV/ Vis dari kultur yang disampling setiap hari selama 14 hari waktu inkubasi kultur. Hasil penelitian menunjukkan fase log/eksponensial pada hari ke-5 dan fase stasioner pada hari ke-9. Aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat dilakukan pengujian menggunakan metode sumuran dengan konsentrasi ekstrak 40% yang menghasilkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 8,04 mm terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan 9,035 mm pada Escherichia coli. Ekstrak etilasetat Te.325 tergolong dalam potensi sedang

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇