JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Kombinasi Colocasia esculenta L. dan Zingiber officinale Potensial Menghambat Inflamasi dan Nyeri

    Full text link
    The active metabolites of Colocasia esculenta L. and Zingiber officinale L. have been reported to reduce pain and exert anti-inflammatory effects. This study aimed to examine the anti-inflammatory and analgesic effects of a combination of C. esculenta and Z. officinale extract. Thirty rats and mice were each divided into 6 groups (n=5), namely the normal group, negative control, positive control (Nadiclofenac), and 3 test groups were given a extract combination (dose 1.3 mg/20 gBW, 2.6 mg/20 gBW, and 5.2 mg/20 gBW). Winter's method was used for anti-inflammatory tests by inducing carrageenan in rat paws, and Sigmund's method was used for analgesic tests by the intraperitoneal induction of acetic acid in mice. The percentage of inhibition of leg edema in rats was 11.33%, 18.90%, and 19.10% for the three doses of the combined extracts of C. esculenta and Z. officinale, and 22.72% for Na-diclofenac (p<0.05). The percentage inhibition in the analgesic test in the positive control group and the three test groups was 61.17%, 41.19%, 51.79%, and 52.35%, respectively (p<0.05). The combination of the C. esculenta and Z. officinale extracts exhibited anti-inflammatory and analgesic effects. Dose of 2.6 mg/20 gBW and 5.2 mg/20 gBW as effective as Na-diclofenac.Kandungan metabolit aktif dari tanaman Colocasia esculenta L. dan Zingiber officinale L. dilaporkan dapat mengurangi rasa nyeri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek anti-inflamasi dan analgesik dari kombinasi ekstrak C. esculenta dan Z. officinale. Tigapuluh ekor tikus dan mencit masing-masing dibagi menjadi 6 kelompok (n=5) yaitu kelompok normal, kontrol negatif, kontrol positif (Na-diklofenak),dan 3 kelompok uji diberi kombinasi ekstrak (dosis 1,3 mg/20 gBB, 2,6 mg/20 gBB, dan 5,2 mg/20 gBB). Metode Winter digunakan untuk uji antiinflamasi dengan menginduksi karagenan pada kaki tikus, dan metode Sigmund untuk uji analgesik dengan induksi asam asetat secara intraperitoneal pada mencit. Pembengkakan kaki mencapai tingkat maksimum pada jam ke-5. Persentase penghambatan edema kaki pada tikus berturut-turut adalah 11,33%, 18,90%, 19,10% untuk 3 dosis kombinasi ekstrak C. esculenta dan Z. officinale dan 22,72 % untuk Na-diklofenak (p<0,05). Persentase penghambatan uji analgesik pada mencit kelompok kontrol positif dan 3 kelompok uji berturut-turut adalah 61,17%, 41,19%, 51,79% dan 52,35% (p<0,05). Kombinasi ekstrak C. esculenta dan Z. officinale memberikan efek anti-inflamasi dan analgesik. Dosis 2,6 mg/20 gBB dan 5,2 mg/20 gBB memiliki efek setara dengan Na-diklofenak

    Hubungan Tingkat Pengetahuan Penggunaan Obat dengan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Hipertensi di Puskesmas

    Full text link
    Hypertension is a silent killer disease because the symptoms are often without complaints and the treatment requires a long period of time, so the outcomes are greatly affected by patient compliance. Hypertension is one of the main factors causing heart problems, kidney failure and cerebrovascular disease. Compliance with taking medication in patients with hypertension is very important because it can control blood pressure to prevent complications. This study was conducted to determine the relationship between knowledge and drug compliance in hypertensive patients. The measurement of knowledge was done using the Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) questionnaire and the measurement of compliance using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire. The samples used were patients at Pasir Panjang community health center and Buntok community health center with a total sample of 95 people. The results obtained, the level of good knowledge was 39%, 33% sufficient knowledge and 28% less knowledge. Meanwhile, the high level of compliance is 41% and the level of compliance is 31% and the level of knowledge is at 28%. Data analysis using the chi-square test showed p-values of <0.05 which means that there was a relationship between the level of knowledge and drug compliance in hypertensive patients.Hipertensi merupakan suatu penyakit “silent killer” karena gejalanya sering tanpa keluhan dan pengobatannya membutuhkan jangka waktu yang lama sehingga sangat mempengaruhi kepatuhan konsumsi obat. Hipertensi merupakan salah satu faktor utama penyebab gangguan jantung, gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi sangatlah penting karena dapat mengontrol tekanan darah pada penderita hipertensi sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Pengukuran pengetahuan menggunakan kuesioner Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) dan pengukuran kepatuhan dengan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Sampel yang digunakan adalah pasien di Puskesmas Pasir Panjang dan Puskesmas Buntok dengan jumlah sampel 95 orang. Didapatkan hasil untuk tingkat pengetahuan baik 39%, pengetahuan cukup 33% dan pengetahuan kurang 28%. Sedangkan untuk tingkat kepatuhan tinggi 41% dan tingkat kepatuhan sedang 31% dan tingkat pengetahuan rendah 28%. Dan dari uji chi-square di dapat p value <0,05 yang berarti ada hubungan antara tingkat pengetahun dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi

    Analisis Gelatin pada Soft Candy Produk Dalam Negeri Menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) dengan Kombinasi Kemometrika

    Full text link
    Gelatin is widely used in the food industry, including soft candy. It is generally sourced from cows and pigs. However, adding porcine gelatin to food will be problematic for the Muslim community due to its prohibition in their beliefs. Therefore, the soft candy’s components should be analysed to determine whether the functional groups are of bovine or porcine gelatin. From three local soft candy products in Indonesia, gelatin was isolated with acetone by vortexing and centrifugation. The supernatant was analysed with FTIR to determine its spectral profile. Furthermore, the wavenumbers and absorbances of gelatin’s functional groups were analysed in Minitab 18 with multivariate PLS and PCA. FTIR showed that gelatin contained proteins with O-H, aliphatic C-H, C=O, N-H, and C-N groups. PLS and PCA were conducted in the wavenumber range of 1576–1481 cm-1. The calibration yielded R2 = 0.9997 and RMSEC = 0.9376%. The internal validation showed R2 = 0.9998 and RMSECV = 1.29%, while the external validation produced R2 = 0.9996 and RMSEP = 1.04%. Clustering with PCA revealed that the gelatin sample from one soft candy was in the same quadrant as the reference bovine gelatin, while the other two were in different quadrants from both references.Gelatin banyak digunakan dalam industri pangan, salah satunya pada produk permen lunak (soft candy). Gelatin umumnya berasal dari sapi dan babi. Namun, penggunaan gelatin babi akan bermasalah bagi umat Islam karena adanya larangan dalam keyakinan mereka. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis komponen soft candy untuk mengetahui perbedaan gugus fungsi antara gelatin sapi dan babi. Gelatin diisolasi dengan aseton menggunakan metode vortexing dan sentrifugasi. Supernatan yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan spektrofotometer FTIR untuk mengetahui profil spektrumnya. Selanjutnya, dilakukan analisis multivariat partial least square (PLS) dan principal component analysis (PCA) menggunakan software Minitab 18 terhadap bilangan gelombang dan absorbansi gugus fungsi gelatin. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa senyawa penyusun gelatin merupakan protein yang terdiri dari gugus O-H, C-H alifatik, C=O, N-H, dan C-N. Analisis PLS dan PCA dilakukan pada bilangan gelombang 1576-1481 cm-1. Hasil kalibrasi menunjukkan nilai R2 = 0,9997 dan RMSEC = 0,9376%. Hasil validasi internal menunjukkan nilai R2 = 0,9998 dan RMSECV = 1,29% dan validasi eksternal menghasilkan R2 = 0,9996 dan RMSEP = 1,04%. Analisis PCA menunjukkan bahwa satu produk soft candy berada dalam satu kuadran dengan soft candy yang digunakan sebagai referensi gelatin sapi, sedangkan dua sampel lainnya berada di luar kuadran referensi gelatin sapi dan babi

    Efek Sindrom Antimetabolik Ekstrak Daun Etanol 70% Ficus carica Linn. pada Tikus yang Diinduksi Streptozotocin dan Diet Tinggi Lemak

    Full text link
    Diabetes and obesity are risk factors for metabolic syndrome. Fig (Ficus carica L.) one of the plants is well known in traditional medicine system for their medicinal and therapeutic potentials. Fig leaves contain flavonoid and triterpenoid compounds which have antimetabolic effect. Streptozotocin is used to make diabetogenic rats to produce hyperglycemia conditions in test animals and high-fat diet to make rats model obesity. This study aimed to test the antidiabetic and antiobesity effect of 70% ethanol extract of fig leaves based on the parameters of measuring blood glucose levels with glucometer and Cholesterol strips. In thisstudy, rats were divided into 6 groups, namely normal, negative, positive control, and 3 control groups at 70%ethanol extract dose level (250, 500, and 600 mg/kgBW) per oral. The measurement results in normal, negative, and positive control dose of 250, 500, 600 mg/kgBW at blood glucose levels were 105.8, 192, 134.2, 161, 157.75, 145.2 mg/dL. The conclusion of the results obtained was that 70% ethanol extract of fig leaves with a dose of 600 mg/kgBW can have an antidiabetic and obesity effect by lowering blood glucose levels as measured using glucometer, cholesterol strips and decreased body weight rats.Diabetes dan obesitas merupakan faktor risiko sindrom metabolik. Tin (Ficus carica L.) salah satu tumbuhan yang dikenal dalam sistem pengobatan tradisional karena potensi pengobatan dan terapinya. Daun tin mengandung senyawa flavonoid dan triterpenoid yang memiliki efek antimetabolik. Streptozotocin digunakan untuk membuat tikus diabetes untuk menghasilkan kondisi hiperglikemia pada hewan uji dan high-fat diet untuk membuat tikus model obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek antidiabetes dan antiobesitas ekstrak etanol 70% daun tin berdasarkan parameter pengukuran kadar glukosa darah dengan strip glukometer dan kolesterol. Pada penelitian ini tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, dan 3 kelompok kontrol pada taraf dosis ekstrak etanol 70% (250, 500, dan 600 mg/kgBB) per oral. Hasil pengukuran pada kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, 600 mg/ kgBB pada kadar glukosa darah adalah 105,8 mg/dL; 192 mg/dL; 134,2 mg/dL; 161 mg/dL; 157,75 mg/dL; 145,2 mg/dL. Kesimpulan dari hasil yang diperoleh adalah ekstrak etanol daun tin 70% dengan dosis 600 mg/kgBB dapat memberikan efek antidiabetes dan obesitas dengan cara menurunkan kadar glukosa darah yang diukur menggunakan strip glukometer, kolesterol, dan penurunan berat badan tikus

    Efek Ramuan Tradisional Kaliputih terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa, SOD, HbA1c, dan Histopatologi Pankreas pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin)

    Full text link
    Prevention of DM by controlling sugar and lipid levels is the main therapy. The traditional medicine diabetes herb from Kaliputih Batur, Banjarnegara, Central Java consists of 11 kinds of medicinal plants that are empirically proven to be efficacious for diabetes mellitus. The potion is prepared by the infundation method. Three control groups (normal, positive, and negative) and three test groups with different doses (18, 36, and 54 mL/kg BW) that had previously been induced by streptozotocin were created using Sprague Dawley (SD) albino rats. Using HE staining, observations were obtained on fasting blood glucose (FBG), superoxide dismutase (SOD), HbA1c, and pancreatic organs. At doses of 36 and 54 mL/kg bw, results analysis of biochemical parameters of FBG levels revealed a substantial decline (P<0.05). At all dosages of the herb, there was a significant change in SOD activity (P<0.05), and at a dose of 18 mL/kg BW compared to negative control, there was a significant difference in HbA1c levels (P<0.05). HE staining results revealed no distinctpathological alterations in pancreatic organ at the test dose compared to negative control with necrosis in the Langerhans insula. Herbal medicine for diabetes traditional medicine from Kaliputih Batur, Banjarnegara, Central Java has decreased blood glucose.Pencegahan diabetes mellitus (DM) dengan mengontrol kadar gula dan lipid adalah terapi utama. Ramuantradisional dari Kaliputih Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah terdiri dari 11 macam tanaman obat terbukti secara empiris berkhasiat untuk penyakit diabetes melitus. Tujuan penelitian untuk menentukan efek ramuan tradisional Kaliputih pada kadar gula darah, SOD, HbA1c, dan gambaran histopatologi pankreas pada tikus. Ramuan disiapkan dengan metode infundasi. Tikus jantan albino Sprague Dawley (SD) dibagi menjadi 3 kelompok kontrol (normal, positif dan negatif) dan 3 kelompok uji dengan 3 dosis berbeda (18, 36, dan 54 mL/kg BB) yang sebelumnya diinduksi streptozotocin. Pengamatan dilakukan terhadap kadar glukosa darah puasa (GDP), superoksida dismutase (SOD), HbA1c, dan organ pankreas secara histopatologi dengan pewarnaan HE. Hasil pemeriksaan parameter biokimia kadar GDP menunjukkan adanya penurunan yang bermakna (P<0,05) pada dosis 36 dan 54 mL/kg BB. Aktivitas SOD terdapat perbedaan yang bermakna (P<0,05) pada semua dosis ramuan, dan kadar HbA1c menunjukan perbedaan bermakna (P<0,05) pada dosis 18 mL/kg BB dibandingkan kontrol negatif. Hasil pewarnaan HE menunjukkan tidak ada perubahan patologi yang spesifik pada organ pankreas dosis uji dibandingkan dengan kontrol negatif yang mengalami nekrosis di insula Langerhans. Ramuan tradisional untuk diabetes dari Kaliputih Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah mampu menurunkan kadar gula darah tikus diabetes

    Penggunaan Obat Herbal untuk Meningkatkan Libido Mencit Jantan (Mus musculus): Tribulus terrestris dan Panax ginseng

    Full text link
    Tribulus terrestris and Panax ginseng are two therapeutic plants that might increase libido. The aim of the study was to see the effects of herbal medicine containing Tribulus terrestris and Panax ginseng on increasing male mice libido. This study used mice divided into two sets of 7 and 14 days. Each group was divided into four parts: control (solvent), comparator (Vitan), and test 1 (herbal medicine). Parameters measured were mice sexual behaviour (introduction, climbing, coitus), sperm concentration, sperm motility, and testicular weight. Except for coitus behaviour, there were no significant changes between groups in the 7 days of treatment. There were significant differences in introduction and climbing behaviour between the control group and test 2 after 14 days of treatment, but not in other parameters. There were no significant variations in any parameters of the mice’s libido between 7 and 14 days of treatment with 1x dose of herbal medicine; however, with 2x doses, only introduction behaviour showed a significant difference. Based on the research results, it can be concluded that administering two doses of herbal medicine can increase the frequency of treatment for 14 days.Tribulus terrestris dan Panax ginseng merupakan tanaman obat yang dapat meningkatkan libido. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh obat herbal yang mengandung Tribulus terrestris dan Panax ginseng terhadap peningkatan libido mencit jantan. Penelitian ini menggunakan mencit yang terbagi menjadi 2 grup yaitu kelompok 7 dan 14 hari. Masing-masing grup dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol (pelarut), pembanding (Vitan), uji 1 (obat herbal 10 mg) dan uji 2 (obat herbal 20 mg). Parameter yang diamati adalah perilaku seksual mencit (introduction, climbing, coitus), konsentrasi sperma, motilitas sperma, bobot testis. Parameter bobot testis, konsentrasi sperma, motilitas sperma, perilaku introduction dan climbing menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antar kelompok pada perlakuan selama 7 hari kecuali perilaku coitus. Pada perlakuan selama 14 hari terdapat perbedaan bermakna perilaku introduction dan climbing antara kelompok kontrol dan uji 2, sedangkan parameter yang lain tidak ada perbedaan bermakna. Perbandingan perlakuan antara 7 hari dan 14 hari pada obat herbal 1x dosis tidak terdapat perbedaan bermakna pada setiap parameter libido mencit, sedangkan pada obat herbal 2x dosis hanya perilaku introduction yang menunjukkan perbedaan bermakna. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian obat herbal 2x dosis dapat meningkatkan frekuensi introduction pada perlakuan selama 14 hari

    Formulasi Gel Nanostructured Lipid Carriers Ekstrak Akar Murbei (Morus alba L.) sebagai Pencerah Kulit pada Model Zebrafish

    Full text link
    Mulberry is a plant that has been shown to be effective as a whitening agent. The objective of this research was to evaluate the efficacy of mulberry root extract (MRE) and its nanostructured lipid carrier (NLC) extracts in terms of their ability to lighten skin tone by using zebrafish as a model. NLC were formulated into gel preparations. The whitening effect of MRE and NLC was evaluated, and the melanin content of the extracts was found to be the result of the evaluation. Based on the results of morphological observations, a decrease in melanin levels was seen in the eye. In the mulberry root extract, the melanin level decreased with an increase in the concentration of the mulberry root extract. In the NLC of mulberry root extract, a decrease in melanin levels was obtained at an increased NLC concentration of mulberry root extract. It can be concluded that mulberry root NLC has the ability to act as a whitening agent, which is distinguished by the reduction of melanin content.Akar murbei (Morus alba L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki khasiat sebagai pencerah kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas pencerah kulit secara in vivo menggunakan pemodelan dengan zebrafish pada ekstrak dan NLC ekstrak akar murbei yang diformulasikan menjadi sediaan gel. Pengujian inhibisi tirosinase dilakukan pada ekstrak dan gel NLC ekstrak akar murbei, aktivitas pencerah kulit dilihat dari kadar melanin. Hasil yang diperoleh memperlihatkan penurunan level melanin seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak akar murbei. Demikian pula terjadi penurunan level melanin pada peningkatan konsentrasi NLC. Disimpulkan, gel NLC ekstrak akar murbei memiliki aktivitas sebagai pencerah kulit ditandai dengan kadar melanin yang menurun

    Pendidikan dan Pelatihan untuk Peningkatan Kompetensi Apoteker terkait Telefarmasi: Scoping Review

    Full text link
    Antihypertensive and antidiabetic drugs in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialyThe high demand for telepharmacy services led to the urge for proper training and education to enhance its quality. This review aimed to assess the implementation and outcomes of telepharmacy training and education programmes. This scoping review was conducted on ScienceDirect, Sage Journal, SpringerLink, and Google Scholar databases using keywords “training” OR “education” AND “telepharmacy,” “training” OR “education” AND “digital competency” AND “pharmacy.” Only English-written articles published between 2000 – 2023, original research and brief report were included in this review. Eight of 171 articles met the criteria and the study’s objectives. Those studies discussed telepharmacy learning programmes for pharmacy students in the USA (5 articles), UAE (2 articles), and Malaysia (1 article). The learning methods included didactic learning, case-based study, simulation/roleplay, and clerkship employing technological tools. Rubrics, quizzes, questionnaires, and objective structured clinical examination (OSCE) were used as assessment methods. All studies reported improved students’ knowledge, perceptions, and telepharmacy competencies. In conclusion, the telepharmacy learning programmes have effectively upgraded students’ knowledge and skills by various methods at every level. However, there remains a considerable need for evidence on suitable training for pharmacists to improve their telepharmacy competencies and service quality.Peningkatan kebutuhan pelayanan telefarmasi mengarah pada urgensi pendidikan dan pelatihan telefarmasi untuk meningkatkan kualitas layanannya. Tujuan dari artikel ini adalah mengkaji implementasi program pendidikan dan pelatihan telefarmasi serta output yang dihasilkan. Kajian scoping dilakukan pada literatur dari pangkalan data ScienceDirect, Sage Journal, SpringerLink, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “training” atau“education” dan “telepharmacy,” “training” atau “education” dan “digital competency” AND “pharmacy.” Hanya artikel berbahasa Inggris, dipublikasikan pada periode 2000 – 2023 serta merupakan hasil riset dan laporan singkat yang diikutsertakan pada kajian ini. Delapan dari 171 artikel yang ditemukan memenuhi kriteria inklusi dan tujuan kajian. Studi tersebut membahas implementasi dan evaluasi program pendidikan terkait telefarmasi di negara Amerika (5 artikel), Arab (2 artikel), dan Malaysia (1 artikel). Metode pembelajaran yang digunakan meliputi paparan, pembelajaran berbasis kasus, simulasi/roleplay, dan magang menggunakan berbagai media teknologi. Metode penilaian menggunakan rubrik, kuis, kuesioner, dan objective structured clinical examination (OSCE). Seluruh penelitian melaporkan peningkatan pengetahuan, persepsi dan kompetensi telefarmasi mahasiswa. Dapat disimpulkan bahwa program pembelajaran terkait telefarmasi efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dengan berbagai metode pada setiap tingkat. Namun, masih sangat dibutuhkan bukti program pelatihan yang sesuai bagi apoteker untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan telefarmasi

    Analisis Pengetahuan, Kepatuhan, dan Outcome Klinis Pasien Hipertensi di Puskesmas Jetis Yogyakarta

    Full text link
    Hypertension has been an increasing global epidemic problem over years and considered as one of the deadly disease with a high cardiovascular complication risk. Knowledge and adherence play an important role in patient's clinical impact, which determined the level of medication’s adherence. Thus, adherence level determines the achievement of clinical outcome. The optimum clinical optimum will be achieved if the adherence level is at good level. The method in this study was using observational analytics with a cross sectional approach. The sampling method was consecutive sampling. The subjects were the adult hypertensive patients at Puskesmas Jetis Kota from August until October 2020. Univariate analysis was conducted in patient’s and medication characteristics. Kendal Tau test was used to analyze the relationship between adherence and clinical outcome. 81 hypertensive patients were included in this study. The highest prevalence of patient’s characteristics were shown on the women’s group: 45-59 years old, senior high school education background, and no occupation. Amlodipine was the highest medication used as a single therapy. It was found that there is no relationship between knowledge and adherence level. In addition to that, there was no relationship between adherence level and clinical outcome measured by systole and diastole.Hipertensi telah menjadi masalah epidemi global yang mengalami peningkatan tiap tahunnya dan menjadi salah satu penyakit mematikan dengan komplikasi serius pada kadiovaskular. Pengetahuan dan kepatuhan adalah kunci optimalnya hasil klinis yang akan dirasakan oleh pasien. Tingkat pengetahuan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kepatuhan seorang pasien terhadap pengobatannya serta kepatuhan pengobatan seorang pasien akan menentukan hasil klinis yang akan dicapainya. Hasil klinis yang optimal akan dapat dicapai apabila kepatuhan pasien akan terapi yang dijalani bernilai baik. Metode yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan model cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Subyek penelitian adalah pasien hipertensi dewasa di Puskesmas Jetis Kota dengan waktu penelitian di Bulan Agustus hingga Oktober 2020. Analisis univariat dilakukan pada deksripsi pasien dan pengobatan. Uji Kendal Tau dilakukan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, kepatuhan, dan outcome klinis. Sebanyak 81 pasien hipertensi memenuhi kriteria masuk dalam penelitian ini. Prevalensi tertinggi penderita hipertensi adalah perempuan, usia 45-59 tahun, latar belakang pendidikan SMA, dan tidak bekerja. Pengobatan tunggal dengan amlodipin adalah terapi farmakologi yang banyak diberikan. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan serta tidak terdapat hubungan antara kepatuhan dan outcome klinis yang berupa ketercapaian sistol dan diastol

    Penyembuhan Luka Diabetes dan Aktivitas Antimikroba dari Gel Ekstrak Melastoma malabathricum L. dan Psidium guajava L. pada Tikus Sprague Dawley

    Full text link
    Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease characterized by abnormalities in carbohydrate, lipid, and protein metabolisms. This research was aimed at the gel’s pharmacological activity, the extract’s potential in treating diabetic wounds in male rats of Melastoma malabathricum L leaves (ML) and Psidium guajava L leaves (PL), as well as microbiological activity. Viscous extracts of ML and PL were prepared in gel dosage form with concentrations of 4% and 6%. Clindamycin was used as a positive control. This study was conducted using an experimental laboratory method, and the study population included white male rats. The pharmacological activity was tested in the form of a gel dosage formula, and the rats were made diabetic using alloxan. The potential of the extract was observed in healing diabetic wounds in male rats. ML and PL leaf extract gels affect wound healing in diabetic patients. This can be seen from the change in diameter. Wound swab examination revealed the presence of bacteria Klebsiella pneumoniae and Staphylococcus aureus. Secondary metabolites of flavonoids, tannins, steroids, and saponins help stimulate the regeneration of epithelial cells and tissues. The results for wound healing of 4% and 6% gel formulations were derived from maturation data on day 10.Diabetes melitus (DM), merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan kelainan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas farmakologis gel dan potensi gel dalam mengobati luka diabetik pada tikus jantan dari ekstrak daun Melastoma malabathricum L (ML) dan daun Psidium guajava L (PL) serta aktivitas mikrobiologisnya. Ekstrak kental daun Melastoma malabathricum L dan Psidium guajava dibuat dalam bentuk sediaan gel dengan konsentrasi 4% dan 6%. Klindamisin digunakan sebagai kontrol positif. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium, dan populasinya adalah tikus putih jantan. Aktivitas farmakologi diuji dalam bentuk formula sediaan gel, dan tikus dibuat menggunakan aloksan. Kemudian, potensi ekstrak tersebut terlihat dalam penyembuhan luka diabetes pada tikus jantan. Gel ekstrak daun Melastoma malabathricum L dan Psidium guajava L memiliki efek penyembuhan luka pada penderita diabetes. Hal ini terlihat dari perubahan diameternya. Hasil pemeriksaan swab luka menunjukkan adanya bakteri Klebsiella pneumoniae dan Staphylococcus aureus. Metabolit sekunder dari flavonoid, tanin, steroid, dan saponin, membantu merangsang sel dan jaringan epitel sehingga mereka beregenerasi. Hasil penyembuhan luka formulasi gel 4% dan 6% diperoleh dari data maturasi pada hari ke-10. Koloni pada hari ke-10 uji aktivitas mikroba lebih sedikit

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇