JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Pola Penggunaan Obat Pada Masa Pandemi Covid-19: Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan
The COVID-19 pandemic condition has encouraged healthcare practitioners to adapt and constantly work to meet the needs of those who require healthcare, including medication supply. This study aims to provide the drug use patterns prior to and throughout the COVID-19 pandemic. This retrospective descriptive study analyzed the drug use patterns of 10 fast-moving drugs obtained through purposive sampling, as well as all medications listed in COVID-19 guideline therapy at Persahabatan general hospital. The drug use data was derived from the quarterly data from 2019 through the second quarter of 2021. The result showed that there was an increase and variation in the sampled drug usage. The top-ranking classes that have shown an upward trend during the COVID-19 pandemic were Vitamin C 500 mg tablet, Vitamin C 200 mg injection, and Vitamin D3 5000 UI tablet. Meanwhile, non-COVID-19 medicines with reduced use include Cefotaxime 1 g, Cefixime 200 mg, and Docetaxel 20 mg. Therefore, it is necessary to analyze the drug utilization continuously and as frequently as feasible throughout the pandemic and plan in stages. Forecasting demand for medicines is essential for an effective medicinessupply chain, in particular in a pandemic context to avoid shortages or overstock.Kondisi pandemi COVID-19 mendorong praktisi kesehatan termasuk tenaga farmasi untuk menyesuaikan diri dan terus berusaha menolong masyarakat termasuk dalam pemenuhan kebutuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran pola penggunaan obat sebelum dan selama masa pandemi. Metode penelitian adalah analisis deskriptif secara retrospektif terhadap pola penggunaan obat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Jakarta dengan sampel penelitian 10 item obat dengan penggunaan sering (fast-moving) secara purposive sampling dan semua obat yang masuk dalam panduan terapi COVID-19. Data yang diambil adalah data penggunaan per triwulan mulai tahun 2019 hingga triwulan II tahun 2021. Hasil pengamatan menunjukkan terjadinya peningkatan dan penurunan (fluktuasi) pada penggunaan obat yang disampling, Urutan teratas yang mengalami peningkatan penggunaan untuk obat terapi COVID-19 adalah: Vitamin C 500 mg tab, Vitamin C 200 mg inj dan Vit D3 5000 UI tab. Obat non COVID-19 mengalami penurunan dengan urutan: Sefotaksim 1 g, Sefiksim 200 mg dan Dosetaksel 20 mg. Sangat penting melakukan analisis penggunaan obat secara terus menerus saat pandemi dan melakukan perencanaan secara bertahap. Peramalan permintaan obat sangat penting untuk rantai pasokan obat yang efektif, khususnya pada keadaan pandemi untuk menghindari kekurangan atau kelebihan stok
Optimasi CMC-Na dan Gliserin dalam Sediaan Gel Ekstrak Lidah Buaya secara Simplex Lattice Design
Aloe vera (Aloe barbandesis Mill.) is a plant with many benefits, such as an antibacterial agent. A gel dosage form has many advantages, such as being easy to use, not sticky, and quickly washed with water. This pure experimental study aims to obtain the optimal composition of CMCNa as a gelling agent and glycerin as a humectant to produce a gel with good physical properties and physical stability using the Simplex Lattice Design. The results of the responses of spreadability, viscosity, viscosity shift, and spreadability shift were used to determine the optimum formula and were analyzed using Software Design Expert. The results of the research found that the optimum formulas were formulas 1, 2, and 3 with a concentration of CMC-Na and glycerin, respectively, which were 1.500 g and 1.750 g; 1.563 g and 1.688 g; and 1.625 g. In addition, formulas 1, 2, and 3 fulfill the gel's physical properties and stability parameters.Lidah buaya (Aloe barbandesis Mill.) merupakan tanaman yang mempunyai banyak manfaat salah satunya sebagai antibakteri. Ekstrak lidah buaya terbukti memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Ekstrak lidah buaya dicoba untuk diformulasikan dalam bentuk sediaan gel karena kelebihan dari sediaan gel seperti mudah diaplikasikan pada kulit, tidak lengket dan mudah dicuci dengan air sehingga mempermudah dalam penggunaannya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang bertujuan untuk mendapatkan komposisi CMC-Na sebagai gelling agent dan gliserin sebagai humektan yang optimal sehingga menghasilkan sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan gel yang baik menggunakan metode optimasi Simplex Lattice Design. Hasil respon daya sebar, viskositas, pergeseran viskositas, dan pergeseran daya sebar digunakan untuk menentukan formula optimum. Data hasil uji dianalisis dengan ANOVA satu arah menggunakan Software Design Expert. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan formula optimum yaitu pada formula 1, 2, dan 3 dengan konsentrasi CMC-Na dan gliserin secara berturut-turut yaitu 1,500 g dan 1,750 g; 1,563 g dan 1,688 g; dan 1,625. Selain itu, formula 1, 2, dan 3 memenuhi parameter sifat fisik dan stabilitas fisik gel
Analisis Efektifitas Biaya dalam Terapi Jamu Saintifik dan Konvensional untuk Terapi Dispepsia
Dyspepsia is a common digestive disorder among global health problems. This study aimed to examine the cost-effectiveness of scientific herbs in the treatment of dyspepsia. This study has used a societal perspective, but the indirect costs are considered equal because the patient is undergoing outpatient care. The analysis was used to determine the cost-effectiveness using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) method. The results were reported in rupiah currency, which includes categories of direct medical costs and direct non-medical costs. Sensitivity analysis reported changes in results, taking into account various possible influencing variables. A total of 62 patients who were respondents in this study were included in scientific herbal therapy (48.38%) and conventional dyspepsia therapy (51.62%). The cost of scientific herbal therapy was higher than conventional dyspepsia therapy (45.558±4.351 vs. 39.202±4.500). However, this difference was not statistically significant on the effectiveness of therapy (96.67% vs. 90.62%; p-value 0.600), the utility index of scientific herbal medicine was greater than conventional dyspepsia therapy (0.85±0.11 vs. 0.74±0.14). The ICER value for 1 additional unit of effectiveness was IDR 105,933; while for the addition of 1 unit of quality of life was IDR 57,781. The effectiveness of scientific herbal medicine therapy for dyspepsia was greater than the effectiveness of conventional dyspepsia therapy, where the cost was higher but the effectiveness was better.Dispepsia adalah gangguan pencernaan umum dalam masalah kesehatan global. Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa cost-effectiveness dari obat herbal dalam pengobatan dispepsia. Penelitian ini menggunakan societal perspective, tetapi biaya tidak langsung dianggap sama karena pasien sedang menjalani rawat jalan. Analisis ini digunakan untuk melihat efisiensi biaya dengan menggunakan metode Incremental Cost-Efficiency Ratio (ICER). Hasilnya dilaporkan dalam mata uang rupiah yang mencakup kategori biaya medis langsung dan biaya non-medis langsung. Analisis sensitivitas melaporkan perubahan dalam hasil dengan mempertimbangkan berbagai variabel yang mungkin berpengaruh. Total 62 responden dalam penelitian ini disertakan dalam terapi pengobatan herbal (48.38%) dan terapi dyspepsia konvensional (51.62%). Biaya terapi pengobatan herbal lebih tinggi daripada terapi dispepsia konvensional (45.558±4.351 vs 39.202±4.500). Namun, perbedaan ini tidak signifikan secara statistik pada efektivitas terapi (96.67% vs 90.62%; p-nilai 0,600), indeks utilitas obat herbal lebih besar daripada terapi dispepsia konvensional (0.85±0.11 vs. 0.74±0.14). Nilai ICER untuk 1 unit efisiensi tambahan adalah RP 105.933; sedangkan untuk tambahan 1 unit kualitas hidup adalah IDD 57.781. Efektivitas terapi obat herbal untuk dispepsia lebih besar daripada efisiensi terapi dispepsi konvensional di mana biayanya lebih tinggi tetapi efektivitas lebih baik
Formulasi Nanosuspensi Herbal Ekstrak Daun Cosmos caudatus Kunth., Karakterisasi, dan Pendekatan Sitotoksisitas Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7
Kenikir leaves (Cosmos caudatus Kunth.) contain quercetin, which has anticancer properties. To provide more effective complementary therapy for breast cancer, nanotechnology was applied to develop preparations containing kenikir leaf extract. This research aimed to formulate a nanosuspension containing kenikir leaf extract with cytotoxic activity against MCF-7 breast cancer cells. Nanosuspension of kenikir leaf extract was prepared using the ionic gelation method with 3%, 4%, and 5% PVP K-30 stabilizer. The nanosuspension formula with the highest entrapment efficiency was further characterised, including particle size, polydispersity index (PDI), zeta potential, pH, and particle morphology. Cytotoxic activity was tested against MCF-7 cells by the MTT assay. The results showed that the formula with 5% PVP has the highest entrapment efficiency value of 85.04±0.08%, a particle size of 221.9 nm, a PDI of 0.211, a zeta potential of -21.7 mV, a pH of 4.08±0.0, and a spherical morphology. The kenikir leaf extract at a concentration of 1 mg/mL inhibited the proliferation of MCF-7 cells by 23.4% (p<0.05), whereas the nanosuspension at 10 μg/mL inhibited proliferation by 23.7%. It can be concluded that kenikir leaf extract can be formulated into a nanosuspension that meets the physical criteria and has cytotoxic activity against MCF-7 cells.Daun kenikir (Cosmos caudatus Kunth.) mengandung flavonoid kuersetin yang berkhasiat sebagai antikanker. Nanoteknologi diterapkan dalam pengembangan sediaan dari ekstrak daun kenikir sebagai terapi pendamping kanker payudara yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi ekstrak daun kenikir menjadi nanosuspensi yang memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7. Nanosuspensi ekstrak daun kenikir dibuat dengan menggunakan metode gelasi ionik dengan variasi penstabil PVP K-30 3%, 4% dan 5%. Formula nanosuspensi dengan efisiensi penjerapan tertinggi dikarakterisasi lebih lanjut meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas (PDI), zeta potensial, pH, morfologi partikel dan diuji aktivitas sitotoksik terhadap sel MCF-7 dengan metode MTT assay. Hasil analisis menunjukkan formula dengan penambahan PVP 5% memiliki nilai efisiensi penjerapan tertinggi sebesar 85,04±0,08%; ukuran partikel 221,9 nm; PDI 0,211; zeta potensial -21,7 mV; pH 4,08±0,01 dengan morfologi sferis. Hasil aktivitas sitotoksik tehadap sel MCF-7 ditunjukkan dengan persentasi penghambatan proliferasi yaitu pada ekstrak daun kenikir konsentrasi 1000 μg/mL sebesar 23,368% dan pada nanosuspensi ekstrak daun kenikir konsentrasi 10 μg/mL sebesar 23,686%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kenikir dapat diformulasikan menjadi nanosuspensi yang memenuhi kriteria fisik dan memiliki aktivitas sitotoksik tehadap sel MCF-7
Analisis Senyawa Bioaktif Averrhoa bilimbi L. sebagai Penghambat Enzim Siklooksigenase-2 Menggunakan Pendekatan in silico
Averrhoa bilimbi L. is generally used as a food flavor enhancer and traditional medicine to treat inflammation, cancer sores, cough, fever, gout, rectal bleeding, and hemorrhoids. In vivo and in vitro studies on Averrhoa bilimbi L. have shown anti-inflammatory activity, but the active compounds that play a role in anti-inflammatory activity have not been reported. This study aimed to analyze sixtyfour (64) bioactive compounds in the Averrhoa bilimbi L. plant as cyclooxygenase-2 (COX-2) enzyme inhibitors using in silico approach and predict the pharmacokinetic and toxicological profiles of each compound. The cyclooxygenase-2 enzyme is an enzyme that plays a role in the inflammatory process by converting arachidonic acid into prostaglandin. Increased prostaglandins will cause inflammation. The research method used molecular docking with the application of YASARA, PLANTS, Marvinsketch, Pymol, visualization with PLIP and prediction of ADMET with pkCSM. Control compound used celecoxib. The results showed that there were 13 test compounds that were predicted to have better COX-2 inhibitor activity than celecoxib with good pharmacokinetic properties. Erucic acid has the best pharmacokinetic and toxicity profile. Erucic acid has the potential to be developed as a cyclooxygenase-2 enzyme inhibitor drug.Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) pada umumnya digunakan sebagai penambah cita rasa makanan dan obat tradisional untuk mengobati peradangan, sariawan, batuk, demam, encok, perdarahan pada rektum dan wasir. Penelitian secara in vivo dan in vitro terhadap belimbing wuluh menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi, namun belum dilaporkan senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas antiinflamasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis enam puluh empat (64) senyawa bioaktif dari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai inhibitor enzim siklooksigenase-2 secara in silico dan memprediksi profil farmakokinetika dan toksisitas masing-masing senyawa. Enzim siklooksigenase-2 merupakan enzim berperan dalam proses inflamasi dengan mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin. Prostaglandin yang meningkat akan menyebabkan inflamasi. Metode penelitian yang digunakan ialah molecular docking dengan aplikasi YASARA, PLANTS, Marvinsketch, Pymol, visualisasi dengan PLIP dan prediksi ADMET dengan pkCSM. Senyawa pembanding yang digunakan celecoxib. Hasil penelitian menunjukan ada 13 senyawa uji yang diprediksi memiliki aktivitas sebagai penghambat COX-2 yang lebih baik dibandingkan celecoxib dengan sifat farmakokinetika yang baik. Asam erukat memiliki profil farmakokinetika dan toksisitas yang baik. Asam erukat berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat inhibitor enzim siklooksigenase-2
Batas Deteksi dan Sensitivitas Metode Deteksi Staphylococcus aureus dalam Sediaan Obat
Stapylococcus aureus is a pathogen that should be absent in pharmaceutical products. Contamination of certain microorganisms can potentially reduce or inactivate therapeutic activity, affect the stability, efficacy and cause infection of the patient. Microbial detection methods must be valid and sensitive to detect the contamination of microorganisms at low concentrations. The standard method of S. aureus refers to the Indonesian Pharmacopoeia (FI). LOD and sensitivity of the method in general is not stated in FI. This study aims to determine LOD and sensitivity of S. aureus method on pharmaceutical products with route of administration in cutan, oromucosal, gingival, auricular, vaginal and oral based on Indonesian Pharmacopoeia. Experiments used nine pharmaceutical products representing six dosage forms contaminated with S. aureus ATCC 6538 with three level concentrations of ±1, ±3, and ±5 CFU per g atau mL sample. LOD and sensitivity were determined and analyzed descriptively. This study shows that the detection limit is 1-3 colonies per g or mL sample and a sensitivity of 100%. Results of this study can be used as reference for LOD value in the validation or verification process of the S. aureus detection method in the laboratory to ensure validity of the methods used.Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang dipersyaratkan tidak ada dalam sediaan farmasi. Kontaminasi mikroba dalam sediaan farmasi dapat menginaktifkan aktivitas terapeutik, mempengaruhi stabilitas, efikasi obat, dan menyebabkan infeksi pasien. Metode standar untuk deteksi S.aureus pada produk farmasi mengacu pada Farmakope Indonesia (FI). FI tidak menyatakan batas deteksi dan sensitivitas metode secara umum, sehingga nilai rentang Limit of Detection (LOD) dan sensitivitas metode perlu ditetapkan dalam berbagai matriks yang diuji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai rentang LOD dan sensitivitas metode pengujian S. aureus pada produk obat pengunaan pada kulit, oromukosa, gingival, auricular, vaginal dan oral sesuai FI. Deteksi S. aureus telah dilakukan terhadap sembilan produk obat yang mewakili enam matrik sediaan yang dicemari dengan S. aureus ATCC 6538 pada tiga tingkat konsentrasi ±1, ±3, dan ±5 koloni per g atau mL sampel. nilai rentang LOD dan sensitivitas metode ditetapkan dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Metode deteksi S. aureus sesuai farmakope dapat mendeteksi S. aureus dalam 9 sediaan obat dengan batas deteksi antara 1-3 koloni per g atau mL sampel dengan sensitivitas 100%. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan nilai LOD pada proses validasi/verifikasi metode deteksi S. aureus dalam produk obat oleh laboratorium untuk menjamin keabsahan metode yang digunakan
Evaluasi Sediaan Gel Anti Jerawat Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Cabai Rawit dan Ekstrak Etanol Daun Sirsak
Acne is a skin disease that usually occurs near adulthood. Acne is caused by several bacteria namely Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, and Staphylococcus aureus. The alternative acne treatment uses cayenne pepper leaves (Capsicum frutescens L.) and soursop leaves (Annona muricata L.). The research aimed to find out the best formulation and activity of the ethanol extract gel of cayenne pepper leaves combined with the ethanol extract of soursop leaves as an inhibitor for acne-causing bacteria. This research is an experimental research type with 3 formulation designs, each of which was made with concentrations of ethanol extract from cayenne pepper leaves and ethanol extract from soursop leaves, namely F1 (1% and 1%), F2 (3% and 3%), and F3 (5 % and 5%), then tested the physical properties, antibacterial test and physical stability test of the preparation then analyzed the data with one-way ANOVA p-value <0.05. The results showed that the gel preparations were stable in terms of organoleptic, homogeneity, spreadability, adhesion, and viscosity, while there was a change in pH after the physical stability test using the cycling test method. The F2 gel preparation had the best bacterial inhibition, namely Staphylococcus aureus of 10.83 mm. Then the F3 gel preparation best inhibited Staphylococcus epidermidis bacteria by 9.56 mm and Propionibacterium acnes by 10.4 mm.Salah satu penyakit kulit yaitu jerawat biasa terjadi mendekati usia dewasa. Jerawat disebabkan oleh beberapa bakteri yaitu Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus. Salah satu alternatif pengobatan jerawat yaitu menggunakan daun cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan daun sirsak (Annona muricata L.). Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi terbaik dan aktivitas sediaan gel ekstrak etanol daun cabai rawit yang dikombinasikan dengan esktrak etanol daun sirsak sebagai penghambat bakteri penyebab jerawat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan rancangan 3 formulasi yang masing-masingnya dibuat dengan konsentrasi ekstrak etanol daun cabai rawit dan ekstrak etanol daun sirsak yaitu F1 (1% dan 1 %), F2 (3% dan 3%), dan F3 (5% dan 5%), kemudian dilakukan uji sifat fisik, uji antibakteri dan uji stabilitas fisik sediaan kemudian dianalisis data dengan one-way ANOVA p-value <0,05. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel stabil pada organoleptis, homogenitas, daya lekat, daya sebar dan viskositas, sedangkan pada pH terjadi perubahan setelah uji stabilitas fisik menggunakan metode cycling test. Sediaan gel F2 mempunyai daya hambat bakteri paling baik yaitu pada Staphylococcus aureus sebesar 10,83 mm. Kemudian sediaan gel F3 paling baik menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis sebesar 9,56 mm dan Propionibacterium acnes sebesar 10,4 mm
Tata Kelola Obat JKN: Peran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-K) dalam Belanja Obat Strategis
The National Health Insurance System (JKN) has social and equity insurance principles aiming participants receive basic health benefits. This raises must-have other requirements for circulated medicine, namely availability and accessibility. Thus, this must meet the elements of safety, efficacy/ benefits, good quality, market availability, and easy accessibility. However, drug shortages problem still occurs and ranks 3rd for BPJS Kesehatan services complaints. This study is to identify opportunities and constraints of BPJS in strategic health purchasing to increase access to JKN medicine . This is a crosssectional study using quantitative and qualitative methods. Quantitative research uses Structural Equation Modelling (SEM), while qualitative uses Focus Group Discussion (FGD). This found the problem roots related to JKN medicine shortages, including limited human resource capabilities, in optimal planning processes, e-purchasing method constraints, e-purchasing system and manual purchases medicine prices differences, medicines ordering long lead time, and in optimal BPJS Kesehatan role as a strategic health purchaser. Therefore, it is to increase BPJS Kesehatan’s role as an active purchaser by making an information system for all medicine use in JKN services, forming a Drugs Advisory Board/JKN drug working group and coordination between policy-making institutions to optimize BPJS Kesehatan role in ensuring JKN medicines access.Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memiliki prinsip asuransi sosial dan ekuitas, yang bertujuan menjamin peserta memperoleh manfaat dasar kesehatan. Obat-obat program JKN harus memenuhi unsur keamanan, khasiat, bermutu, tersedia di pasaran, dan6 mudah diakses. Sampai saat ini masalah kekosongan obat masih terjadi dan menempati urutan ke-3 pengaduan pelayanan BPJS Kesehatan. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi peluang dan kendala BPJS Kesehatan (BPJS-K) dalam belanja obat strategis untuk meningkatkan akses ketersediaan obat JKN. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional menggunakan metode campuran penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan teknik Structural Model Equation (SEM), sedangkan penelitian kualitatif menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD). Hasil dari studi menemukan akar permasalahan kekosongan obat JKN antara lain kemampuan SDM yang terbatas, proses perencanaan yang tidak optimal, kendala proses pengadaan dengan e-purchasing, perbedaan harga obat pada sistem e-purchasing dan pembelian manual, waktu tunggu pemesanan obat yang lama, serta peran BPJS-K sebagai strategic purchaser yang masih dapat ditingkatkan. Berdasarkan hal tersebut maka disimpulkan rekomendasi untuk meningkatkan peran BPJS-K sebagai active purchaser dalam belanja obat strategis adalah dengan membuat sistem informasi penggunaan seluruh obat dalam pelayanan JKN, membentuk Drugs Advisory Board JKN dan koordinasi antar lembaga pemangku kebijakan untuk mengoptimalkan peran BPJS Kesehatan dalam menjamin akses obat JKN
Formulasi Masker Gel Peel Off dari Ekstrak Etanol Biji Kopi Robusta Hijau (Coffea canephora) dengan Alkohol Polivinil
Robusta green coffee beans (Coffea canephora) have strong potential to be used as antioxidants which can inhibit free radicals that causes premature aging. The peel-off gel mask is a cosmetic product that increases the penetration of active ingredients, is easy to use, and maintains the natural moisture of the skin. This research aimed to examine the possibility of the ethanolic extract of Robusta green coffee beans into a peel-off gel preparation. A peel-off gel mask made from the ethanolic extract of Robusta green coffee beans was formulated using 3 polyvinyl alcohol (PVA) concentrations to obtain the best preparation, which were 10% (F1), 12% (F2), and 14% (F3). All preparations produced a clear yellowish gel. Only F3 met the qualifications for all evaluation tests. The results of a mechanical property test showed that F3 has the best value for tensile strength and elongation. There were statistically significant differences between the results of the evaluation tests before and after the stability test. The results of irritation tests showed that none of the formulas caused irritation. The best peel off gel mask preparation made with ethanolic extract of Robusta green coffee beans was formula F3 that used 14% PVA.Biji kopi hijau robusta (Coffea canephora) memiliki potensi kuat untuk digunakan sebagai antioksidan yang dapat menghambat radikal bebas penyebab penuaan dini. Masker gel peel off merupakan produk kosmetik yang meningkatkan penetrasi bahan aktif, mudah digunakan, dan menjaga kelembapan alami kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemungkinan ekstrak etanol biji kopi hijau Robusta menjadi sediaan gel peel off. Masker gel peel off berbahan ekstrak etanol biji kopi hijau Robusta diformulasikan dengan menggunakan 3 konsentrasi polivinil alkohol (PVA) untuk mendapatkan sediaan terbaik yaitu 10% (F1), 12% (F2), dan 14% (F3). Semua sediaan menghasilkan gel bening kekuningan. Hanya F3 yang memenuhi kualifikasi untuk semua parameter evaluasi. Hasil uji sifat mekanik menunjukkan bahwa F3 memiliki nilai kuat tarik dan elongasi terbaik. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara hasil uji evaluasi sebelum dan sesudah uji stabilitas. Hasil uji iritasi menunjukkan bahwa tidak ada formula yang menyebabkan iritasi. Sediaan masker gel peel off terbaik yang dibuat dengan ekstrak etanol biji kopi hijau Robusta adalah formula F3 yang menggunakan PVA 14%