JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Evaluasi Aktivitas Diuretik Ekstrak Etanol Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Sebagai Diuretik Alami: Kadar Natrium, Kalium, dan pH Urin
Previous study reported that Averrhoa bilimbi fruits had a potency as a natural diuretic. This research was conducted to examine the effects of ethanolic extract of Averrhoa bilimbi fruits on diuretic activity, urine sodium and potassium concentrations, and pH of urine male rats Sparague-Dawley. Fifteen rats were divided into 5 groups and 3 replications. Group 1 was given saline (negative control), group 2 was given furosemide 20 mg/kg bw (positive control), group 3 was given extract of Averrhoa bilimbi 0.44 g/kg bw, group 4 was given extract of Averrhoa bilimbi 0.88 g/kg bw, group 5 was given extract of Averhoa bilimbi 1.75 g/kg bw. Averrhoa bilimbi extract, saline, and furosemide were administred orally. The diuretic activity was determined by measuring cumulative urine volume for 10 hours post administration. The result showed that the extract of Averrhoa bilimbi at dosages of 0.88 and 1.75 g/kg bw increased sodium and potassium excretion by 18-36% and 22-27%, respectively. On the other hand, the increased diuretic activity and sodium and potassium excretion dramatically decreased urine pH. It was concluded that extract of Averrhoa bilimbi at dosages of 0.88 and 1.75 g/kg bw increased diuretic activity with enchanced sodium and potassium excretion in urine. The extract of Averrhoa bilimbi cosisted of alkaloid, flavonoid, and saporin that were assumed to have synergic activities as natural diuretics.Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa ekstrak etanol buah belimbing wuluh berkhasiat sebagai diuretikum. Penelitian ini dilakukan untuk melakukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai potensi tersebut dengan mempelajari aktivitas diuretik, kadar natrium dan kalium dalam urin, serta pH urin. Sebanyak 15 ekor tikus jantan galur Sparague-Dawley dibagi menjadi 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan I, tikus percobaan dicekok salin (kontrol negatif), Perlakuan II, tikus percobaan dicekok furosemid dosis 20 mg/kg bb (kontrol positif), perlakuan III, tikus percobaan dicekok ekstrak etanol buah belimbing wuluh dosis 0,44 g/kg bb, perlakuan IV, tikus percobaan dicekok ekstrak etanol buah belimbing wuluh dosis 0,88 g/kg bb, dan perlakuan V, tikus percobaan dicekok ekstrak etanol buah belimbing wuluh dosis 1,75 g/kg bb. Aktivitas diuretik, kadar natrium dan kalium urin, serta pH urin dihitung berdasarkan pengukuran volume urine kumulatif selama 10 jam setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol belimbing wuluh dosis 0,88 dan 1,75 g/kg bb memiliki aktivitas diuretik yang kuat dengan disertai peningkatan ekskresi natrium dan kalium di dalam urin berturut-turut sebesar 28-36% dan 22-27%. Sebaliknya, urin pada kelompok tikus percobaan yang diberikan estrak etanol buah belimbing wuluh mengalami penurunan pH tau peningkatan derajat keasaman. Ekstrak etanol buah belimbing wuluh mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan saponin yang diduga bekerja sinergis dalam menimbulkan efek diuretik.
 
Uji Aktivitas Fagositosis Makrofag Fraksi-fraksi dari Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Secara In Vitro
Plants can be sources of immunomodulatory agents. Piper crocatum Ruiz & Pav. (red betel) leaves have been used to heal many diseases, especially to increase endurance. The aim of this research was to investigate the imunomodulatory effect of methanolic leaf extracts of Piper crocatum Ruiz & Pav. and its fractions by in vitro phagocytic macrophage activity test. The result showed that methanolic extract of Piper crocatum Ruiz & Pav. 75μg/mL could stimulate phagocytic macrophage activity equal to 100μg/mL product-X® that contained Echinacea extract. Separation of the extract by vacuum liquid chromatography using gradient solvent n-hexane - ethyl acetate yielded 5 fractions. The second fraction showed the highest activity. It contained alkaloid and terpenoid, while the extract also contained flavonoid and essential oil. Alkaloid and/or terpenoid could be the compound in the leaves of Piper crocatum Ruiz & Pav. that responsible increasing phagocytic macrophage activity.Senyawa imunomodulator dapat diperoleh dari tanaman. Daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) secara tradisional digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit termasuk untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian ini bertujuan menguji daya imunomodulator ekstrak metanol daun sirih merah dan fraksi-fraksinya, dengan metode fagositosis makrofag secara in vitro. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun sirih merah pada dosis 75μg/mL mampu meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag yang setara dengan produk-X® 100μg/mL yang mengandung ekstrak Echinacea. Dari 5 fraksi hasil pemisahan menggunakan fase gerak n-heksana:etil asetat secara kromatografi cair vakum, fraksi II merupakan fraksi paling aktif. Fraksi II mengandung alkaloid dan terpenoid, sedangkan ekstrak metanol selain kedua golongan senyawa tersebut juga mengandung minyak atsiri dan flavonoid. Kemungkinan senyawa dalam daun sirih merah yang bertanggung jawab terhadap aktivitas fagosistosis makrofag merupakan golongan alkaloid dan/atau terpenoid
Aktivitas Antimalaria Ekstrak Kulit Batang Cempaka Kuning Terhadap Plasmodium Falciparum 3D7
Cempaka kuning (Michelia champaca) which is belongs to Magnoliaceae family, has been traditionally used for treatment fever. This research was conducted to evaluate antimalarial activity of Cempaka kuning stembark extract against Plasmodium falciparum 3D7 in vitro. Cempaka kuning stembark was extracted with n-hexane, chloroform and methanol yielded n-hexane extract, chloroform extract and methanol extract, followed by antimalarial activity assay of these extracts. Phytochemical screening showed that n-hexane extract contain volatile oil and terpenoids, chloroform extract contain Volatile oil, terpenoids and fiavonoids, then methanol extract contain volatile oil, terpenoids, flavonoids, tannins and glycosides. Result of this study also showed that n-hexane extract, chloroform extract and methanol extract were active against P. alciparum 3D7 in vitro, with an IC50 value of 0.36, 0.24 and 1.00 µg/mL. The findings indicate that Cempaka kuning stembark extracts possess strong antimalarial activity and are prospective to be developed as antimalarial.Cempaka kuning (Michelia champaca) merupakan tanaman dari suku Magnoliaceae, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan demam. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas antimalaria ekstrak kulit batang cempaka kuning secara in vitro terhadap Plasmodium alcipamm 3D7. Kulit batang cempaka kuning diekstraksi dengan n-heksana, kloroform dan metanol sehingga diperoleh ekstrak n-heksana, ekstrak kloroform dan ekstrak metanol. Ketiga ekstrak tersebut selanjutnya diuji aktivitas antimalarianya. Skrining titokirnia terhadap ketiga ekstrak tersebut menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana mengandung minyak atsiri dan terpenoid, ekstrak kloroform mengandung minyak atsiri, terpenoid dan llavonoid, serta ekstrak metanol mengandung minyak atsiri, terpenoid, flavonoid, tanin dan glikosida. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketiga ekstrak yang diuji aktif secara in vitro terhadap P. falciparum 3D7, dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 0,36 µg/mL untuk ekstrak n-heksana; 0,24 µg/mL untuk ekstrak kloroform dan 1,00 µg/ mL untuk ekstrak metanol. Ekstrak kulit batang Cempaka kuning memiliki aktivitas antimalaria sangat baik dan potensial untuk dikembangkan sebagai antimalaria
3,3’-Di(5,7-dibromoindol-3-il)-indolin-2-on: Sintesis dan Uji Sitotoksik terhadap Sel Kanker Kolon WiDr
Colon cancer is one of the causes of death in the world of concern, because until now there has not been found specific drug for its treatment. Therefore, the study aimed to synthesize compounds that have the potential as a novel anticancer compound derivative such as 3,3’-di (indol-3-yl) indolin-2-one is required. Synthesis was done by reacting 5,7-dibromoindole and isatin in methanol with an acid catalyst to produce 3,3’-di (5,7-dibromoindol-3-yl)-indolin-2-one compound with a yield of 48%. 3,3 ‘-di (5,7-dibromoindol-3-yl)-indolin-2-one is cytotoxic against colon cancer cell line WiDr with IC50 of 6.64 μM.Kanker kolon merupakan salah satu penyebab kematian yang menjadi pusat perhatian di dunia, karena hingga saat ini belum ditemukan obat yang spesifik untuk pengobatannya. Oleh sebab itu, penelitian yang bertujuan untuk mensintesis senyawa yang berpotensi sebagai anti kanker baru seperti senyawa turunan 3,3’-di(indol-3-il)indolin-2-on sangat diperlukan. Sintesis dilakukan dengan mereaksikan 5,7-dibromoindol dan isatin dalam metanol dengan katalis asam menghasilkan senyawa 3,3’-di(5,7-dibromoindol-3-il)-indolin-2-on dengan rendemen 48%. 3,3’-Di(5,7-dibromoindol-3-il)-indolin-2-on bersifat sitotoksik terhadap sel kanker kolon WiDr dengan IC50 6,64 μM
Optimasi Tablet Hancur di Mulut Metoklopramida Menggunakan Sari Tape Padat dan Pati Jagung
The preparation of brewed white sticky rice extract or brem from white glutinous rice had been researched by using variation concentration of yeast. The yeasts were bought from traditional market without trade mark. Tape extract obtained by squeezed tape mass using a pressurized equipment, water of tape obtained further filtered using a 60 mesh sieve and the waste is disposed. The variation of yeast influences the pH of liquid tape extract. The optimum concentration of yeast was 1,5%. The research of orally disintegrating tablet (ODT) that using direct compress method was designed by using Simplex Lattice Design (SLD) mixture design programme with two components mixture: brewed white sticky rice extract and corn starch (CS), and metochlopramide as model drug. Brewed white sticky rice extract and CS were formulated become nine designs of formula. Brewed white sticky rice extract was dominant increasing flow and compactability of ODT mass, but decreasing wetting time, disintegrating time and dissolution rate. CS was dominant increasing wetting time, disintegrating time, water absorption ratio and dissolution rate. The optimum ODTs formula was brewed white sticky rice extract (20%) and CS (80%) with flow (8,68±1,72 sec), hardness (2,15±0,14 kg), wetting time (40,00±1,67 sec), disintegrating time (36±10,07 sec), disintegrating time in oral cavity (46,17±2,23 sec) and dissolution rate (0,172 mg/sec).Formulasi pembuatan sari tape padat (STP) atau brem dari beras ketan putih dengan menggunakan berbagai variasi konsentrasi ragi telah diteliti. Ragi tanpa merek dagang diperoleh dari pasar tradisional. Ekstrak tape diperoleh dengan mengepres tape menggunakan alat pengepres, air tape yang diperoleh kemudian disaring dengan ayakan mesh 60 and sisa bahan yang tertinggal dibuang. Variasi konsentrasi ragi yang dipergunakan mempengaruhi pH cairan ekstrak tape. Konsentrasi ragi yang optimum adalah 1,5%. Penelitian formulasi tablet hancur di mulut dilakukan dengan menggunakan metode cetak langsung dan formula didesain dengan menggunakan program Simplex Lattice Design dua komponen campuran: STP dan pati jagung/corn starch (CS). Metoklopramida digunakan sebagai model obat. STP dan CS diformulasi menjadi 9 rancangan formula. STP dominan dalam meningkatkan daya alir dan kompaktibilitas dari granul, namun menurunkan waktu pembasahan, waktu hancur dan laju disolusi. CS dominan dalam meningkatkan waktu pembasahan, waktu hancur, rasio absorbsi air dan laju disolusi. Formula optimum ODT adalah STP (20%) dan CS (80%) dengan daya alir granul (8,68±1,72 detik), kekerasan (2,15±0,14 kg), waktu pembasahan (40,00±1,67 detik), waktu hancur (36±10,07 detik), waktu hancur di mulut (46,17±2,23 detik) dan laju disolusi (0,172 mg/detik)
Uji Penyembuhan Luka dan Potensi Iritasi Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis)
Binahong (Anredera cordi olia (Ten) Steenis) has been used as wound healing in traditional Indonesian medicine. The aim of this study was to examine the wound healing activity and irritation potency of ethanolic extract of Anredera cordifolia (Ten) Steenis. Dry Binahong leaves were ground and screened with mesh no 40. Dry Binahong leaves were macerated with 10 times of volume of 96% ethanol for 90 minutes with constant agitation (200 rpm). It was screened and concentrated until the liquid would be a quarter. Then the extract was incorporated to gel base as 2,5%; 5%; 10% and 20%. Incision wound method was employed to activity test of wound healing. Male mice (strain Swiss), weight between 25 ~ 30 g, was used to this test. The male mice were classified into 7 groups i.e. negative control, control vehicle, positive control and 4 groups of sample. The extract then was assessed to irritation potency using HET-CAM method. Lactic acid was used as the positive control for irritation assessment. The result of this study stated that the highest activity of wound healing was shown by the sample containing 5% of ethanolic extract. The percentage activity of wound healing was 63,3%. Irritation appeared on the 10% and 20% ethanolic extract of binahong leaves.Binahong (Anredera cordi olia (Ten) Steenis) telah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai penyembuh luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penyembuh luka dan potensi iritasi dari ekstrak etanol daun Binahong. Daun Binahong kering diblender dan diayak menggunakan ayakan no. 40. Serbuk kering daun binahong dimaserasi dengan 10 kali volume etanol 96% selama 90 menit dengan pengadukan 200 rpm. Hasil maserasi disaring dan dipekatkan hingga seperempatnya, kemudian dicampur homogen dengan basis gel masing-masing dengan kadar 2,5%; 5%; 10% dan 20%. Masing-masing gel diuji aktivitas penyembuhannya dengan metode incision wound pada mencit jantan galur swiss dengan berat 25-30 g. Mencit dikelompokkan menjadi 7 kelompok yang terdiri dari kontrol negatif, kontrol pembawa, kontrol positif (Bioplacenton®) dan 4 kelompok perlakuan. Potensi iritasi ekstrak diuji dengan metode hen’s egg teS corioallantal'c membrane (HET-CAM). Kontrol positif untuk uji iritasi adalah asam laktat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitaspenyembuhan luka tertinggi diperlihatkan'oleh sampel dengan kadar ekstrak 5% dengan aktivitas penyembuhan luka sebesar 63,3%. Iritasi terjadi pada penggunaan kadar ekstrak etanoi daun binahong 10% dan 20%
Rasio Efektivitas Biaya Obat Antimalaria Kombinasi Artesunat Amodiakuin dan Kombinasi Sulfadoksin Pirimethamin Dalam Terapi Malaria Falsiparum di Sumba
Malaria cases continue to increase in Indonesia, and one of the causes is many malaria parasites resistant to antimalarial drugs such as chloroquine and sulfadoxine pyrimethamine. Antimalarial drug combination recommended by the WHO yet widely available. This study aimed to explore alternative antimalarial drugs through examination of drug-effectiveness and cost-effectiveness analysis of antimalarial drug combination artesunate amodiaquine and sulfadoxine pyrimethamine. To assess the effectix eness or antimalarial drug combinations, as many asl64 patients with who meet inclusion and exclusion criteria were divided into 2 groups with 82 patients respectively. First group was given artesunate amodiaquine while the second group was given sulfadoxine pyrimethamine, and observed for 14 to 28 days. Responses to treatment according to the WHO protocol to include clinical response and parasitological response. The cost effectiveness was assessed through the pharmacoeconomic evaluation method. The results showed that fever clearence time and parasites clearence time by the artesunate amodiaquine combination was faster than by sulfadoxine pyrimethamine combination, and the cost effectiveness ratio of artesunate amodiaquine combination was lower than of sulfadoxine pyrimethamine. In conclusion, the antimalarial drug artesunate amodiaquine combination was more effective and more eflicient than the sulfadoxin pyrimethamine combination, and its cost effectiveness ratio was lower than the sulfadoxine pyrimethamine combination (p=0.05). Kasus malaria di Indonesia terus meningkat, dan salah satu penyebabnya adalah parasit malaria yang telah resisten terhadap obat antimalaria seperti klorokuin dan sulfadoksin pirimethamin. Obat anti malaria kombinasi (derivat artemisinin) yang disarankan WHO belum tersedia secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh obat antimalaria alternatif melalui uji efektilitas obat dan analisis efektifitas biaya dari obat antimalaria kombinasi artesunat amodiakuin dan sulfadoksin pirimethamin. Efektifitas obat antimalaria kombinasi dinilai menggunakan sejumlah 164 penderita malaria falsiparum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kelompok satu 82 pasien diberi artesunat amodiakuin, sedangkan kelompok dua 82 pasien diberi sulfadoksin pirimethamin, kemudian diamati selama 14 sampai 28 hari. Respon pengobatan sesuai protokol WHO meliputi respon klinis (waktu hilangnya demam) dan respon parasitologis (waktu hilangnya parasit). Efektifitas biaya dievaluasi secara farmakoekonomi melalui metode Cost Effectiveness Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat antimalaria kombinasi AA memberikan waktu hilang demam dan waktu hilang parasit lebih cepat dibandingkan dengan obat kombinasi sulfadoksin pirimethamin. Rasio efektifitas biaya obat artesunat amodiakuin lebih rendah dibandingkan dengan obat sulfadoksin pirimethamin. Dengan demikian disimpulkan bahwa obat antimalaria kombinasi artesunat amodiakuin lebih efektif dan lebih efisien, serta rasio efektifitas biayanya lebih rendah dibandingkan dengan kombinasi sulfadoksin pirimethamin ( p=0,05)
Pemodelan Statistik Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Berdasarkan Faktor Demograli
Exclusive breastfeeding is defined as giving breast milk to a baby without any additional drink, food or beverages during the first 6 months after birth. Today there is a decline in exclusive breastfeeding, and among others, one reason is the increase in the participation of mothers in the workforce, especially in urban areas. Many factors that affect the regularity of exclusive breastfeeding by working mothers, one of which, is the demographic factor. This study aims to obtain profile data of exclusive breastfeeding by working mothers and statistical modelling of exclusive breastfeeding by working mothers based on demographic factor, by conducting a survey on 384 respondents. This research uses descriptive analysis and logistic regression analysis with SPSS software version 15.0. Descriptive analysis showed that most mothers working in Jakarta (61.2%) did not give exclusive breastfeeding. Logistic regression statistical analysis showed that age, occupation, distance to work, and travel time to the workplace of working mothers are dominant factors that influence exclusive breastfeedings, with the p-value is smaller than the p value (Sig) = 0.05.Air Susu Ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi tanpa tambahan makanan atau minuman apapun selama 6 bulan pertama kelahiran. Dewasa ini terdapat penurunan jumlah maupun frekuensi pemberian ASI eksklusif, dan salah satu penyebabnya adalah kenaikan tingkat partisipasi para ibu dalam angkatan kerja terutama di perkotaan. Banyak faktor yang mempengaruhi lancarnya pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja, salah satu diantaranya adalah faktor demografi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data profil pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja dan pemodelan statistik pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja berdasarkan faktor demografi, dengan melakukan survei terhadap 384 responden. Penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif dan analisa regresi logistik dengan perangkat lunak SPSS versi 15.0. Hasil analisa deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bekerja di DKI Jakarta (61,2%) tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil analisa regresi logistik menunjukkan bahwa usia ibu bekerja, jenis pekerj aan, jarak ke tempat kerj a, dan waktu perj alanan menuju ke tempat kerj a, merupakan faktor faktor dominan yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, dengan nilai p penelitian lebih kecil dari nilai p (sig) = 0,05
Transformasi Plasmid pTRLI ke dalam Protoplas Aspergillus terreus dengan Penambahan Polietilenglikol
Plasmid transformation is the introduction and incorporation of exogenous plasmid into cells or protoplast. The purpose of this research is transformation of pTRLI plasmid into protoplasts of Aspergillus terreus and obtain stable transformants. The research was initiated by isolation of pTRLI plasmid and determining its purity and concentration by nanodrop machine. Furthermore, protoplasts of A. terreus were isolated enzymatically by addition of chitinase, cellulase, and maserozyme enzymes. pTRLI plasmid was transformed into protoplasts of A. terreus by addition of calcium chloride and polyethyleneglycol (PEG) solutions. These transformants were grown in Czapek-Dox agar medium containing pyrithiamine 1 mg/L and the number of transformants/µg of pTRLI plasmid was calculated. The number of transformants were produced ranging from 12 to 19 transformants/µg of pTRLI plasmid. The success of the transformation was indicated by ptrA gene in transformants that could be amplified by PCR of 801 base pairs in size. It was concluded that PEG solution could be used to transform pTRLI plasmid into protoplasts of A. terreus and transformants are stable up to live generations by growing the transformants in Czapek-Dox agar medium containing pyrithiamine 1 mg/L.Transformasi plasmid merupakan proses masuknya plasmid ke dalam protoplas atau sel inang yang mengakibatkan perubahan materi genetika. Tujuan dari penelitian untuk mentransformasi plasmid pTRLI ke dalam protoplas Aspergillus terreus dan menentukan stabilitas transforman. Penelitian diawali dengan isolasi plasmid pTRLI, penentuan kemurnian dan konsentrasi plasmid pTRLI dengan menggunakan serapan pada panjang gelombang 260 dan 280 nm dari alat nanodrop. Kemudian, protoplas A. terreus diisolasi secara enzimatik dengan enzim kitinase, selulase, dan maserosim. pTRLI ditransformasi ke dalam protoplas A. terreus dengan penambahan kalsium klorida dan polietilenglikol. Transforman ditumbuhkan dalam media Czapek Dox agar yang mengandung piritiamin 1 mg/L. Jumlah transforman yang dapat tumbuh antara 12 sampai 19 transforman/µg plasmid pTRLI. Transforman dideteksi dengan mengamplilikasi gen ptrA yang berukuran 801 pb. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa PEG dapat digunakan untuk mentransformasi plasmid pTRLI ke dalam protoplas A. terreus dan transforman stabil sampai generasi ke S