JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Identifikasi Rhodamin B pada Produk Pangan dan Kosmetik yang Beredar di Bandung

    Get PDF
    Rhodamine B is a colouring agent for paint industry, textile and paper. It causes irritation at respiration systems and has a carcinogenic effect. At high concentration rhodamine B causes liver damages. Nowadays, it has been reported being added into cosmetics and food product such as lipstick, eye shadow, rouge, food paste, and kerupuk. This research was conducted to determine rhodamine B in the products by using HPLC and spectrophotometry UV-Vis. It was done through sample collection, sample preparation, validation of analytical method, and analysis of rhodamine B using HPLC and spectrophotometry UV-Vis. The results of HPLC and spectrophotometry UV-Vis showed that four samples of kerupuk (57,14%) and four samples of food paste (50%) contained rhodamine B. However, rhodamine B was not found in cosmetics. The results showed the urgency of fast methods to identify rhodamine, thus its content in food products is carefully controlled.Rhodamin B merupakan pewarna yang digunakan untuk industri cat, industri tekstil dan industri kertas. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi sistem pernapasan dan mempunyai efek karsinogenik. Pada konsentrasi tinggi rhodamin B dapat menyebabkan kerusakan hati. Rhodamin B telah dilaporkan ditambahkan ke dalam kosmetik dan pangan seperti lisptik, eye shadow, rouge, terasi dan kerupuk. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan keberadaan rhodamin dalam produk-produk tersebut menggunakan KCKT dan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan pengumpulan dan preparasi sampel, validasi metode analisis, kemudian analisis kandungan rhodamin B menggunakan KCKT dan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa empat sampel kerupuk (57,14%) dan empat sampel terasi (50%) mengandung rhodamin B tetapi tidak ditemukan adanya rhodamin B pada produk kosmetik. Hasil ini menunjukan perlunya metode identifikasi yang cepat untuk mengontrol kandungan rhodamin dalam produk pangan

    Lelutung Tokak (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) sebagai Sumber Zat Bioaktif Antioksidan dan Antikanker

    Get PDF
    This research was aimed to determine biologic activities of n-hexane, ethylacetate, ethanol and water extracts of lelutung tokak (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) stem as antioxidant and anticancer. The result of this research showed that four extracts of T. Macrocarpa Jack. stem have antioxidation and anticancer activity. The antioxidant activity test with brine shrimp lethality test (BSLT) showed the LC50 value of n-hexane, ethylacetate, ethanol and water extracts of lelutung tokak stem were 567.89; 119.34; 120.56 and 156.44 ppm respectively; with DPPH method were 653.54; 48.10; 53.322 and 121.02 ppm, respectively. The anticancer test result showed that the IC50 of ethylacetate and ethanol extracts were 6.04 and 7.14 ppm, respectively. The phytochemical analysis result showed that four extracts of stem of T. macrocarpa Jack. preliminary contained alkaloid, flavonoid, saponin and tanin compounds. It was concluded that ethylacetate and ethanol extracts of stem of T. macrocarpa Jack. possess a powerful anticancer and antioxidation activities.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas biologis ekstrak (n-heksan, etilasetat, etanol dan air) batang Lelutung Tokak (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) sebagai antioksidan dan antikanker. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat ekstrak batang T. Macrocarpa Jack.yang memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) menunjukkan nilai LC50 untuk ekstrak n-heksan, etil asetat, etanol dan air batang lelutung tokak secara berturut-turut adalah 567,89; 119,34; 120,56 dan 156,44 bpj; dengan metode DPPH secara berturut-turut adalah 653,54; 48,10; 53,32 dan 121,02 bpj. Hasil uji antikanker menunjukkan bahwa nilai IC50 ekstrak etil asetat dan etanol secara berturut-turut adalah 6,039 dan 7,145 bpj. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa pada keempat ekstrak batang lelutung tokak.mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Dari penelitian ini dapat disimpulkan ekstrak etil asetat dan etanol memiliki aktivitas antikanker dan antioksidan yang sangat tinggi

    Aktivitas Minyak Ikan dalam Menghambat Preneoplasia Kolon Mencit yang Diinduksi Azoksimetan dan Dextran Sodium Sulfate

    Get PDF
     Epidemiologic studies of dietary marine n-3 fatty acids and risk of colorectal cancer have been  inconsistent. The study was conducted to understand the inhibitory effect of fish oil in mice with colorectal  preneoplasia induced by azoxymethane (AOM) and dextran sodium sulfate (DSS). In this study, Balb/c  mice was induced by AOM 10 mg/kg body weight followed by administration of 1 % DSS during a  week. Fish oil administrated orally at a dose of 1.5, 3, and 6 mg per day. Histopathological examination  of the colon tissue (hematoxylin-eosin staining) was done by counting the number of inflammation, and  hyperplasia foci, the number of mitosis epithelial cells, and the scores of dysplasia in ten visual fields.  In the second month, decreasing in the number of inflammation foci occurred between the control and  low dose groups with medium and high dose groups (p<0,05). While in the third and fourth month,  decreasing in the number of inflammation foci were observed in all treatment group (p<0.001). The  number of mitotic colonic crypt epithelial cells was statistically significant between control group and  treatment groups, initially observed since the second month. In the second month to the fourth month,  generally increasing of doses of fish oil has decreased the number of hyperplasia foci. Our research indicates that fish oil also inhibits the occurrence of dysplasia. In the third and fourth month, dysplasia was found in the control group. Dysplasia was found only in the fouth month in the treatment group. Studi epidemiologi penggunaan suplemen minyak ikan dan pengaruhnya terhadap kanker  kolon masih kontroversial. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh minyak ikan dalam  menghambat preneoplasia kolon mencit yang diinduksi azoksimetan (AOM) dan dextran sodium sulfate  (DSS). Digunakan mencit Balb/C yang diinduksi dengan AOM 10 mg/kg BB yang dilanjutkan dengan  pemberian minum DSS 1% selama seminggu. Pemberian minyak ikan dilakukan per oral dengan dosis  1,5, 3, dan 6 mg per mencit per hari. Pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan kolon yang diwarnai  hematoksilin-eosin dilakukan dengan menghitung jumlah fokus radang, hiperplasia, jumlah sel mitosis,  dan skor displasia pada 10 lapang pandang. Penurunan jumlah fokus radang terjadi sejak bulan ke-2  dimana kelompok kontrol dan dosis rendah berbeda dengan dosis sedang dan tinggi (p<0,05). Sedangkan  pada bulan ketiga dan keempat, penurunan jumlah fokus radang terjadi sejak dosis rendah, sedang dan  tinggi (p<0,01). Jumlah sel epitel kripta kolon mitosis mengalami penurunan mulai bulan kedua hingga  keempat. Jumlah fokus sel epitel mukosa hiperplasia juga mengalami perbedaan pada bulan kedua.  Pemberian minyak ikan juga menghambat terjadinya displasia yang terjadi sejak bulan keempat pada  semua kelompok perlakuan, dan pada bulan ketiga pada kontro

    Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Metanol Benalu Batu (Begonia sp.): Ethnomedicine Suku Wana Sulawesi Tengah

    Get PDF
    Benalu batu (Begonia sp.) is used as traditional medicine by Wana tribe in Central Sulawesi to treat various diseases, including cancer. In an effort to search potential anticancer drugs from natural sources, investigation was conducted on the cytotoxic activity of Begonia sp. methanol extract against cervic cancer cells (HeLa) and breast cancer cells (T47D) and identification of the chemical compound groups in methanol extract that is responsible for the anticancer activity. Investigations including the extraction of Begonia sp. dried herb by soxhletation using methanol, followed by evaporation on rotary vapor until viscous extract gained. The cytotoxic test were carried out by tetrazolium bromide (MTT) method. The concentration series of Begonia sp. methanol extract were 250, 125, 62.5 and 31.25 μg /mL. Results showed that the Begonia sp. methanol extract inhibited the growth of cervic cancer cells (HeLa) (IC50 = 70.97 μg/mL) stronger than inhibition on breast cancer cells (T47D) (IC50 = 122.21 μg/mL). Analysis of chemical compound groups in the methanol extract using thin-layer chromatography (TLC) method indicated that polyphenolic flavonoid might be the main compound responsible for the anticancer activity.Benalu batu (Begonia sp.) merupakan tumbuhan obat tradisional yang digunakan oleh suku Wana di Sulawesi Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit, termasuk penyakit kanker. Dalam usaha mendapatkan obat antikanker yang potensial dari bahan alam, maka dilakukan pengujian aktivitas antikanker ekstrak metanol herba benalu batu terhadap sel kanker leher rahim (HeLa) dan sel kanker payudara (T47D) serta menentukan golongan senyawa kimia dari ekstrak yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas antikanker. Penelitian ini meliputi ekstraksi herba kering benalu batu dengan metode sokhletasi menggunakan pelarut metanol, dilanjutkan dengan penguapan pelarut menggunakan rotarivapor sampai didapatkan ekstrak kental. Pengujian aktivitas antikanker ekstrak metanol benalu batu terhadap sel kanker leher rahim (HeLa) dan sel kanker payudara (T47D) dilakukan secara in vitro dengan metode tetrazolium bromida (MTT). Seri konsentrasi ekstrak metanol yang digunakan adalah 250, 125, 62,5 dan 31,25 μg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol benalu batu memberikan efek hambatan pertumbuhan sel kanker leher rahim (HeLa) lebih besar (IC50 = 70,97 μg/mL) daripada terhadap sel kanker payudara (T47D) (IC50 = 122,21μg/mL). Hasil analisis komponen kimia ekstrak menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) mengindikasikan bahwa golongan senyawa polifenol flavonoid berperan dalam memberikan aktivitas antikanker

    Uji Aktivitas Penghambatan Enzim α-Glukosidase serta Uji Mutu Ekstrak Etanol Batang Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers.)

    Get PDF
    In attempt to develop Indonesian traditional medicine (Jamu) to become standardize herbal, it is need to examine the extract that can guarantee its efficacy, quality and safety. Brotowali stem (Tinospora crispa (L.) Miers.) known has antidiabetic effect and no toxic activity. In this research, the  quality and α-glukosidase inhibitor activity of ethanolic extract of brotowali stem has been determined. In the quality test were determined specific parameters (identity, organoleptic, extractable matter), non specific parameters (loss on drying, water content, total ash content, solvent residue, heavy metal, and microbial contamination), quantification of markers content (total flavonoid content with spectrophotometric UV-Vis  and assay of apigenin content with densitometric method). The research showed that the extract was fulfiled the requirement, total flavonoid content was 0.52% and apigenin content was 0.03635%. The result of α-glukosidase inhibitor activity test gave IC50 of 237.26 ppm.Dalam upaya pengembangan sediaan  jamu menjadi suatu herbal terstandar perlu dilakukan pemeriksaan terhadap ekstrak yang dapat menjamin khasiat, mutu dan keamanannya. Batang brotowali  (Tinospora crispa (L.) Miers.) diketahui memiliki aktivitas antidiabetes dan tidak toksik. Pada penelitian ini, telah dilakukan uji mutu ekstrak dan uji aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase ekstrak etanol kental batang brotowali. Uji mutu ekstrak meliputi penetapan parameter spesifik (identitas, organoleptik, senyawa terlarut dalam pelarut), parameter non spesifik (susut pengeringan, kadar air, kadar abu, sisa pelarut, cemaran  logam berat dan cemaran mikroba) dan penetapan kandungan kimia senyawa marker yaitu penetapan kadar flavonoid total secara spektrofotometri UV-Vis dan penetapan kadar apigenin secara densitometri. Dari hasil pengujian mutu menunjukkan ekstrak memenuhi persyaratan, kadar flavonoid total 0,52% dan kadar apigenin 0,03635%, hasil uji aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase diperoleh  IC50 237,26 bpj

    Pengaruh pH dan Kekuatan Ionik terhadap Profil Kelarutan Ofloksasin

    Get PDF
    Ofloxacin is an antibiotic and categorized as class 2 in Biopharmaceutics Classification System (BCS). Ofloxacin solubility is dependent on pH of the solvent due to its amphoteric properties. The objectives of this research was to investigate the effects of pH and ionic strength on solubility profile of ofloxacin. Ofloxacin solubilities were measured at various pH ranged from 1.5 to 12.5 and ionic strengths from 0.01 to 0.20 respectively. Solubility experiments were carried out using shaking thermostatic-waterbath for 3 hours at a temperature of 37°C ± 1°C. Results showed that ofloxacin solubility increased at pH’s below the pKa1 value (6.08) and above the pKa2 value (8.25). However, the solubility decreased at pH’s between pKa1 and pKa2. Changing the solution pH from 6.2 to 1.5 or to 12.5 affected the solubility of ofloxacin increased about 9.96 and 8.64 times higher, respectively. Ofloxacin solubility in various ionic strengths showed that stronger ionic strength solution caused an increase in ofloxacin solubility. This mean that there was a salting in phenomena. Least-Square Fitting Analysis using Henderson-Hasselbalch equation for amphoteric compound was insufficient to describe ofloxacin solubility process in a series of pH.Ofloksasin merupakan antibiotik yang termasuk dalam kelas 2 pada penggolongan Biopharmaceutics Classification System (BCS). Berdasarkan karakteristik senyawa amfoter, kelarutan ofloksasin bergantung pada kondisi pH dan kekuatan ionik pelarutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pH dan kekuatan ionik pelarut dapar terhadap profil kelarutan ofloksasin. Pengujian kelarutan ofloksasin dengan variasi pH dilakukan pada pH 1,5 sampai dengan 12,5 sedangkan variasi kekuatan ionik antara 0,01 sampai dengan 0,20. Pengujian dilakukan dengan menggunakan shaking thermostatic-waterbath selama 3 jam pada suhu 37°C ± 1°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelarutan ofloksasin semakin meningkat pada pH di bawah pKa1 (6,08) dan di atas pKa2 (8,25), akan tetapi kelarutan ofloksasin semakin menurun pada pH diantara pKa1 dan pKa2. Perubahan pH dari pH 6,2 menjadi pH 1,5 meningkatkan kelarutan ofloksasin hingga 9,96 kali, sedangkan perubahan menjadi pH 12,5 peningkatan kelarutan hingga 8,64 kali. Kelarutan ofloksasin pada berbagai variasi kekuatan ionik menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan ionik akan mengakibatkan peningkatan kelarutan. Pengamatan tersebut mengindikasikan terjadinya peristiwa salting in. Least-Square Fitting Analysis menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch untuk senyawa amfoter kurang dapat menjelaskan proses pelarutan ofloksasin dalam pelarut dapar berbagai pH

    Pengetahuan Asma: Pengaruh Pemberian Buku Edukasi Asma Terhadap Peningkatan Pengetahuan Guru-guru Sekolah Dasar

    Get PDF
    The knowledge of teachers on asthma and its managements are very important, in order that teachers can provide the assistance required by the students in primary school who suffered an asthma attack while at school. This study aimed to examine the effect of an educational book to improve knowledge among primary school teachers on asthma and its management. This study was descriptive study, using questionnaires and educational book “Asthma: The Role of Teachers in the Management of Asthma in Schools”. The research was conducted in 3 phases: (1) asses the knowledge of teachers on asthma before being given an educational book, (2) administration of an educational book “Asthma: The Role of Teachers in the Management of Asthma in Schools”, (3) re-asses the knowledge of teachers on asthma after administration an educational book. A total of 48 teachers from three primary schools in the Medan Deli District involved in the study. In general, their knowledge of asthma before being given education is fairly low. After administering education the teacher knowledge increased, this can be seen from the increase in the number of teachers who answered correctly on any given question. An increase of almost 30% of teachers who correctly answer to questions about the causes of asthma after booklet administration and about 20% for questions about symptoms, and treatment of asthma. It can be concluded that the educational materials such as educational book has the effect to increase the knowledge of teachers about asthma and its treatment. It can be seen from the existence of increase in the number of teachers who answered correct on every the question given. This study concluded that the educational book entitle “Asthma: The Role of Teachers in the Management of Asthma in Schools “ has effective to improve knowledge among primary school teachers on asthma and its managements.Pengetahuan guru terhadap penyakit asma dan perawatannya adalah sangat penting agar guru-guru dapat memberikan bantuan yang diperlukan oleh murid-murid di sekolah dasar yang mengalami serangan asma ketika waktu sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh edukasi berupa buku untuk meningkatkan pengetahuan guru sekolah dasar terhadap penyakit asma dan perawatannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan bahan edukasi berupa buku “Asma: Peranan Guru dalam Pengobatan Asma di Sekolah”. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap yakni: (1) menilai tingkat pengetahuan guru sebelum edukasi, (2) pemberian buku edukasi, dan (3) menilai kembali tingkat pengetahuan guru setelah edukasi. Sebanyak 48 orang guru dari 3 Sekolah Dasar di Kecamatan Medan Deli terlibat dalam penelitian ini. Secara umum tingkat pengetahuan mereka terhadap asma sebelum diberikan edukasi adalah cukup rendah. Setelah pemberian edukasi pengetahuan guru meningkat hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan jumlah guru yang menjawab benar pada setiap pertanyaan yang diberikan. Terjadi peningkatan sebanyak hampir 30% guru menjawab benar pada pertanyaan mengenai penyebab asma setelah pemberian buklet dan sekitar 20% untuk pertanyaan mengenai gejala, dan perawatan asma. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bahan edukasi berupa buku “Asma: Peranan Guru dalam Pengobatan Asma di Sekolah” mempunyai pengaruh untuk meningkatkan pengetahuan guru-guru mengenai penyakit asma dan perawatannya

    Metoda Penyiapan Konjugat (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(Trastuzumab)m Sebagai Bahan Radiofarmaka Radioimunoterapi (177Lu-DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]- (Trastuzumab)m

    Get PDF
    Radioimmunotherapy is one of modalities means of treatment for cancer that exploits the antibody monoclonal specificity to bind to its receptor and the ability of alfa or beta radiation in destroying cancer cells.  Trastuzumab is humanized IgG1 monoclonal antibodies which selectively bind to extracellular domain of Human Epidermal Growth Factor Receptor-2 (HER-2). HER-2 has now became a target receptor for treatment of human breast cancer due to their overexpression in the human breast cancer cell surface. This study was aimed in developing a method for preparation of  (DOTA) n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumabm conjugate, a precursor of (177Lu-DOTA)n-PAMAM-(trastuzumab) m radioimmunoconjugate, which is expected to be  potential for breast cancer radioimmunotherapy. The conjugate was prepared through several conjugation steps. Characterization of (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m which was carried out by  using a HPLC equipped size exclusion column (SEC) gave a clean peak with retention time (tR) of 10.53 mins which was slower compared to tR of its precursor unconjugated trastuzumab (10.70 mins). This result indicated that molecular weight of (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m was bigger than its precursor (unconjugated trastuzumab) and pure. The purity of (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-  (trastuzumab)m was verified by measuring the Rf of 177Lu-radiolabeled-(DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m using instance thin layer chromatography-silica gel (ITLC-SG). The ITLC-SG of (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m which was radiolabeled with 177Lu- gave a clean peak with Rf of  <0.3, while the precursors which were regards as impurities, (free 177Lu in form 177Lu-EDTA, 177Lu-DOTA, and 177Lu- dendrimer PAMAM which was incubated as non specific binding), all of them gave Rf of >0.6. These ITLC results indicated that (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m radiolabeled with 177Lu was pure.Radioimunoterapi adalah terapi kanker yang memanfaatkan sifat spesifitas antibodi monoklonal dan efektivitas radionuklida pemancar radiasi alfa atau beta dalam menghancurkan sel kanker. Antibodi monoklonal humanized IgG1, trastuzumab, berinteraksi terarah secara selektif ke domain ekstraselular Human Epidermal Growth Factor Receptor-2 (HER-2). HER-2 merupakan reseptor target untuk terapi kanker payudara karena jenis kanker ini mengekspresikan berlebih HER-2. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metoda penyiapan konjugat (DOTA)n-[Dendrimer PAMAM]-(trastuzumab)m sebagai prekursor untuk pembuatan radioimukonjugat, (177 Lu-DOTA)n - PAMAM-(trastuzumab)m yang berpotensi untuk terapi kanker  payudara.  Sintesis  konjugat  (DOTA)n- [ Dendrimer PAMAM ]- (trastuzumab)m dilakukan dengan beberapa tahapan reaksi konjugasi. Karakterisasi hasil sintesis konjugat yang  dilakukan dengan sistem HPLC menggunakan kolom size exclusion (SE) dan detektor UV-Visible menunjukkan adanya serapan konjugat pada tR (waktu retensi) 10,53 menit, sehingga dapat dibedakan dari trastuzumab yang pada sistem tersebut menghasilkan serapan pada tR 10,70 menit. Kemurnian konjugat diuji dengan penandaan konjugat  tersebut menggunakan 177Lu dan kromatogram HPLC-nya diverifikasi dengan kromatogram 177Lu-EDTA, 177Lu-DOTA, dan 177Lu-DOTA-dendrimer- PAMAM sebagai uji non specific binding (NSB). Hasil menunjukkan bahwa kompleks 177Lu-konjugat pada Rf <0,3 sedangkan uji NSB menghasilkan kompleks 177Lu-EDTA,  177Lu-DOTA, dan 177Lu-EDTA pada Rf >0,6

    Pengembangan Metode Analisis Amoksisilin yang Selektif dan Tidak Dipengaruhi Keberadaan Produk Degradasinya

    Get PDF
    Assay of amoxycillin level in suspension form using spectrophotometry method at maximum wavelength around 291 nm is predicted to provide accurate and selective result because it is not interferred with its degradation products. This research aimed to obtain the predicted result. This research employed laboratory experimental method which included the process of measuring of maximum wavelength and operating time measurement, making of standard curve by measuring absorbance of amoxycillin standard solution at 40, 50, 80, 100 and 120 ppm at 290 nm and testing the selectivity and accuracy. Selectivity test was done by comparing UV spectrum and maximum absorbance of 1 mg/mL amoxycillin standard solution and 125 mg/5 mL amoxycillin suspension immediately after reconstitution with the one that was stored 9 days. Accuracy test was conducted by standard addition method using 1 mL amoxycillin suspension that was stored 9 days added by 1 mL 6260 ppm amoxycillin standard solution. Assay of amoxycillin on amoxycillin suspension by UV spectrophotometry at 290 nm using NaOH 0,1 N as solvent gave selective and accurate result with 97,36% recovery and it is not interfered with by its degradation product.Penetapan kadar amoksisilin dalam sediaan suspensi menggunakan metode spektrofotometri pada kisaran panjang gelombang 291 nm diduga memberikan hasil yang akurat dan selektif karena tidak dipengaruhi oleh keberadaan produk degradasinya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh prosedur penetapan kadar amoksisilin dalam sediaan suspensi yang memenuhi dugaan tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental laboratorium meliputi penetapan panjang gelombang serapan maksimum dan operating time, pembuatan kurva baku dengan mengukur serapan larutan amoksisilin baku pembanding farmakope indonesia (BPFI) 40, 50, 80, 100 dan 120 bpj pada panjang gelombang 290 nm dan pengujian selektivitas dan akurasi terhadap metoda analisis. Pengujian selektivitas dilakukan dengan membandingkan spektrum UV dan nilai serapan maksimum larutan amoksisilin BPFI 1 mg/mL dan suspensi amoksisilin 125 mg/5 mL sesaat setelah rekonstitusi dengan yang sudah disimpan 9 hari. Pengujian akurasi dilakukan dengan stándard addition method menggunakan 1 mL sediaan suspensi amoksisilin yang sudah disimpan 9 hari ditambah 1 mL larutan amoksisilin BPFI 6260 bpj. Penetapan kadar amoksisilin dalam sediaan suspensi amoksisilin dengan metoda spektrofotometri UV pada 290 nm menggunakan pelarut NaOH 0,1N memberikan hasil yang selektif dan akurat dengan perolehan kembali 97,36% tanpa dipengaruhi keberadaan produk degradasinya

    Karakterisasi Isolat JS-1, Bakteri Alkalofilik Penghasil Siklodekstrin Glikosiltransferase (CGTase) dari Sumedang, Jawa Barat

    Get PDF
    Cyclodextrin glycosyltransferase (CGTase) is an extracellular enzyme which is produced by some bacteria and archae that converts starch into cyclodextrin (CD). This enzyme has a high commercial value because of its product (CD) is widely used in several industries, such as pharmaceutical, chemistry, cosmetic, food, textile and also for environment protection. In Indonesia, there are still a few bacteria as CGTase producer were discovered and observed. The aim of this research was to find bacteria as CGTase producer from soil of corn farm land in Sumedang, West Java, and further characterized the isolate in produce CGTase. Horikoshi agar media was used as screening media. An alkalophylic bacteria as CGTase producer, JS-1 was successfully gained from this process. This isolate was characterized in the term of Gram staining, oxygen demand, motility and catalase test. The characterization results showed that JS-1 is a bacillus, Gram positive, facultative anaerob, motil and catalase positive. JS-1 isolate was also further characterized in order to determine optimum incubation period and temperature for CGTase production. The results were showed that JS-1 isolate was produced CGTase in maximum level if incubated for 48h at 37 °C.Enzim siklodestrin glikosiltransferase (CGTase) adalah suatu enzim ekstraseluler yang diproduksi oleh beberapa bakteri dan archae, yang mengkonversi pati menjadi siklodekstrin (CD). Enzim ini memiliki nilai komersial tinggi karena senyawa yang dihasilkannya (CD) dimanfaatkan dalam berbagai industri, seperti farmasi, kimia, kosmetik, makanan, tekstil, maupun pelestarian lingkungan. Di Indonesia, bakteri penghasil CGTase belum banyak ditemukan dan diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat bakteri penghasil CGTase dari tanah perkebunan jagung di daerah Sumedang, Jawa Barat dan mengkarakterisasi isolat tersebut dalam produksi CGTase. Proses skrining dilakukan menggunakan media agar Horikoshi. Dari proses ini berhasil diperoleh satu bakteri alkalofilik penghasil CGTase yang diberi nama isolat JS-1. Isolat ini dikarakterisasi berdasarkan pewarnaan Gram, kebutuhan oksigen, motilitas dan uji katalase. Dari hasil karakterisasi tersebut, diketahui bahwa JS-1 merupakan bakteri Gram positif berbentuk basil, anaerob fakultatif, motil dan positif dalam uji katalase. Isolat JS-1 juga dikarakterisasi lebih lanjut untuk mengetahui periode inkubasi dan suhu optimum yang diperlukan untuk menghasilkan CGTase yang maksimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa isolat JS-1 menghasilkan CGTase yang maksimal jika diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇