JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Standardization of the Extract of Cultivated Ipomoea reptans Poir. Leaves from Sardonoharjo, Sleman and Its Potency as Antioxidant

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui nilai parameter spesifik dan nonspesifik standardisasi ekstrak kangkung darat hasil budidaya di wilayah Sardonoharjo, Sleman serta potensinya sebagai antioksidan. Sampel yang digunakan dipanen pada saat usia kangkung darat ±25-30 hari setelah penanaman. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Parameter spesifik terdiri dari uji organoleptik, pola kromatografi, kadar senyawa marker dan parameter nonspesifik terdiri dari uji bobot jenis,uji kadar air, uji kadar abu total, uji kadar abu tidak larut asam, uji cemaran logam, uji cemaran mikroba, uji cemaran kapang dan khamir, perkiraan angka koliform, dan uji sisa pelarut etanol. Hasil standardisasi ekstrak menunjukkan nilai pengukuran berturut-turut untuk parameter kadar air 16,45±0,05%, bobot jenis ekstrak 3,26±3,37x10-3 g/mL, kadar abu total 4,52± 0,77%. Tidak terdapat sisa pelarut etanol di dalam ekstrak, serta angka cemaran mikroba, angka kapang dan khamir, angka koliform, serta cemaran logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd), di dalam ekstrak di bawah standar batas maksimal yang ditetapkan BPOM. Hasil pengukuran dengan KLT densitometri menunjukkan nilai kadar β-karoten di dalam ekstrak sebesar 5,7% (b/b). Hasil Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan 2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl (DPPH) menunjukkan nilai IC50 ekstrak daun kangkung sebesar 178,3 μg/ mL.Standardization of the extract is conducted to assure the uniformity of the efficacy and to improve the quality of the herbal medicine. The aims of this study were to determine the values of specific and nonspecific parameter of the standardized extract of cultivated Ipomoea reptans Poir. leaves from Sardonoharjo, Sleman, DIY. The Ipomoea reptans Poir was harvested at the age of ± 25-30 days. Extraction was performed by maceration method using ethanol 96%. Specific parameters include the organoleptic tests, chromatography profile, concentration of the marker compound. The result showed that the standardized extract of cultivated Ipomoea reptans Poir. leaves from Sardonoharjo, Sleman, DIY has moisture content value of 16.45 ±0.05% with the density of the extract was 3.26±3.37x10-3 g/mL and the total ash value of 4.52± 0.77%. There was no ethanol residue detected in the extract. Furthermore, the values of microbial contamination, mold and yeast contamination, coliform contamination and metal contamination such as Pb and Cd in the extract were below the maximum standard of BPOM. Based on the chromatogram evaluation using TLC-densitometry, the concentration value of β-karoten in the extract was 5.7 % w/w. The IC50 value of extract was 178.3 μg/ mL

    Efek Hepatoprotektor Ekstrak Etanol Daun Pucuk Merah (Syzygium campanulatum (Korth) dan Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L. M. Perry) pada Tikus Jantan Galur Wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi Paracetamol

    Get PDF
    Syzygium campanulatum and Syzygium aromaticum contains antioxidant components suchas flavonoids, phenolic, and terpenoids. May have hepatoprotective properties in reducing SGPT and SGOT activity. This research wants to determine the potency of hepatoprotective of ethanolic extract of Syzygium campanulatum (Korth) and Syzygium aromaticum leaf compared with curcuma tablets. This research uses 24 male Wistar rats divided into 6 groups: I, II, III (as a normal, induction, and compared control), group IV, V, VI were treated 105, 210, and 420 mg/kg BW respectively. The study was conducted for 9 days. After 7 days of treatment, treated groups were exposed by hepatotoxic dose of paracetamol (2000 mg/kg BW). The SGPT and SGOT activity of all groups was measured by enzimatic assay. The result can be concluded that Syzygium campanulatum extract was found to be active as hepatoprotective agent with 210 mg/kg BW dosage (SGPT 21.76 ± 3.98 U/L and SGOT 7.32±6.74U/L) as eff ective as with the curcuma tablets (SGPT 23.91 ± 4.41 U/L and SGOT 14.12±5.37 U/L) and the hepatoprotective activity of Syzygium campanulatum extract at a dosage 420 mg/kg BW better than curcuma tablets (SGPT 12.43 ± 6.51 U/L and SGOT 6.64 ± 5.88 U/L). While the hepatoprotec Syzygium campanulatum and Syzygium aromaticum contains antioxidant components such as flavonoids, phenolic, and terpenoids.May have hepatoprotective properties in reducing SGPT and SGOT activity. This research wants to determine the potency of hepatoprotective of ethanolic extract of Syzygium campanulatum (Korth) and Syzygium aromaticum leaf compared with curcuma tablets. This research uses 24 male Wistar rats divided into 6 groups: I, II, III (as a normal, induction, and compared control), group IV, V, VI were treated 105, 210, and 420 mg/kg BW respectively. The study was conducted for 9 days. After 7 days of treatment, treated groups were exposed by hepatotoxic dose of paracetamol (2000 mg/kg BW). The SGPT and SGOT activity of all groups was measured by enzimatic assay. The result can be concluded that Syzygium campanulatum extract was found to be active as hepatoprotective agent with 210 mg/kg BW dosage (SGPT 21.76 ± 3.98 U/L and SGOT 7.32±6.74U/L) as eff ective as with the curcuma tablets (SGPT 23.91 ± 4.41 U/L and SGOT 14.12±5.37 U/L) and the hepatoprotective activity of Syzygium campanulatum extract at a dosage 420 mg/kg BW better than curcuma tablets (SGPT 12.43 ± 6.51 U/L and SGOT 6.64 ± 5.88 U/L). While the hepatoprotective activity of Syzygium aromaticum extracts eff ective as with curcuma tablets at all dosage variation.Daun cengkeh dan daun pucuk merah mengandung komponen antioksidan seperti flavonoid,fenolik, dan terpenoid sehingga diduga memiliki efek hepatoprotektor dalam mengurangi SGPT dan SGOT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektor dan menentukan potensi hepatoprotektif dari ekstrak etanol daun pucuk merah dan daun cengkeh yang dibandingkan dengan tablet Curcuma. Penelitian ini menggunakan tikus jantan galur wistar yang dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok I, II, III (sebagai kontrol normal, kontrol induksi, dan kontrol pembanding), kelompok IV, V, VI diberi ekstrak uji dengan dosis 105, 210, dan 420 mg/kg BB. Penelitian dilakukan selama 9 hari. Setelah 7 hari diberi perlakuan, semua kelompok diberi parasetamol dosis hepatotoksik kecuali kelompok kontrol normal. Setelah 48 jam diinduksi oleh parasetamol, dilakukan pengukuran SGPT dan SGOT terhadap semua kelompok. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun pucuk merah mempunyai aktivitas sebagai hepatoprotektor pada dosis 210 mg/kg BB yang sebanding dengan tablet curcuma (SGPT 21,76±3,98 U/L dan SGOT 7,32±6,74 U/L) dan pada dosis 420 mg/kg BB ekstrak daun pucuk merah memiliki aktivitas hepatoprotektor yang lebih baik dari tablet curcuma (SGPT 12,43±6,51 U/L dan SGOT 6,64±5,88 U/L). Sedangkan ekstrak etanol daun cengkeh mempunyai aktivitas hepatoprotektor yang sebanding dengan tablet curcuma pada dosis 105, 210, dan 420 mg/kgBB

    Validasi Kuesioner Baru Menilai Pengetahuan dan Persepsi tentang Kombinasi antara Pengobatan Herbal dan Konvensional

    Get PDF
    Indonesia is a country which has great potential of herbal medicine, although combination between herbal and conventional medicine can be benefi cial or harmful. Knowledge and perceptions about that combination are needed to achieve the best treatment eff ect. To validate a new instrument assessing knowledge and perceptions of patients about combination between herbal and conventional medicine. This study used cross sectional study which was conducted in some of pharmacy in Yogyakarta. Inclusion criterias of the subject were people who visited to the pharmacy with ages above 18 years old and below 65 years old, also had used the combination of herbal and conventional medicine for minimal a month to achieve the same goal of treatment. Items of the questionnaire were developedby existing literatures and added some new items. The content validity had been conducted by some experts. Analysis statistic with bivariate correlations was used to determine the validity and reliability of the questionnaire. Subjects who met the inclusion criteria were 30 people, which are consisted of 15 ofhealthy people and the rest are people who use the combination. In the domain of knowledge, there are 16 valid questions over 19 questions. Reliability had been calculated by 16 questions and it was reliable (cronbach alpha 0.863). In the perception domain, there were 8 valid questions. The reliability showed that the questions were reliable (cronbach alpha 0.862). There are 3 invalid questions because all of the answer is similar. Our study provides that this new questionnaire was valid and reliable to  a ssessknowledge and perception of the patient who use combination of herbal and conventional medicine.Indonesia adalah negara yang memiliki potensi jamu yang besar, meski kombinasi antara obat herbal dan konvensional bisa bermanfaat atau berbahaya. Pengetahuan dan persepsi tentang kombinasi itu diperlukan untuk mencapai efek pengobatan terbaik. Untuk memvalidasi instrumen baru yang menilai pengetahuan dan persepsi pasien tentang kombinasi antara obat herbal dan konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di beberapa apotek di Yogyakarta. Kriteria inklusi dari subjek adalah orang-orang yang mengunjungi apotek dengan usia di atas 18 tahun dan di bawah 65 tahun, serta memiliki kombinasi obat herbal dan konvensional paling sedikit sebulan untuk mencapai tujuan pengobatan yang sama. Item kuesioner dikembangkan oleh literatur yang ada dan menambahkan beberapa item baru. Validitas isi telah dilakukan oleh beberapa ahli. Analisis statistik dengan korelasi bivariate digunakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi adalah 30 orang, yang terdiri dari 15 orang sehat dan sisanya adalah orang yang menggunakan kombinasi. Dalam domain pengetahuan, ada 16 pertanyaan yang valid selama 19pertanyaan. Tingkat kepercayaan telah dihitung dengan 16 pertanyaan dan reliabelnya (cronbach alpha0.863). Dalam domain persepsi, ada 8 pertanyaan yang valid. tingkat kepercayaannya menunjukkanbahwa pertanyaan itu reliabel (cronbach alpha 0.862). Ada 3 pertanyaan yang tidak benar karena semuajawabannya serupa. Studi kami menunjukkan bahwa kuesioner itu valid dan dapat diandalkan untuk menilai pengetahuan dan persepsi pasien yang menggunakan kombinasi obat herbal dan konvensional

    Studi Observasional Kesalahan Pengobatan di Depo Farmasi Rawat Jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

    Get PDF
    Medication error can occur at all stages, starting from prescribing, dispensing and administration of drugs. This study aims to assess the medication errors that occur in the pharmaceutical care process and analyze the cause of failure using the root cause analysis method, to improvement action and decrease the incidence of medication errors. The data were completeness prescription, frequency of dispensing error and completeness of drug information. The number of sample was 1100 prescriptions Prescribing errors were found the potential injury 15.69±11.51% and near missed error 0.5±0.55%. At dispensing stage, occur 427 incidences (9.71%), consist of two incidences (0.04%) for validation assessment regulations, 224 incidences (5.09%) of data entry, 113 incidences (2.57%) of retrieval of drugs, 19 incidences (0.43%) of fi ll in drugs, 69 incidences (1.57%) of fi nal check. At dispensing stage, near missed 330 incidences (7.51%) of near missed and 97 incidences (2.21%) of potential injury. Failure mode and effect analysis calculate of risk priority number, the drug retrieval (RPN 210) and data entry (RPN 126) were analyzed root cause of the analysis for man, material, method, facility and environment.Kesalahan obat dapat terjadi pada semua tahap, mulai dari penulisan resep, penyiapan, dan pemberian obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesalahan pengobatan yang terjadi pada proses pelayanan farmasi dan menganalisis akar masalah penyebab kegagalan menggunakan metode RCA untuk tindakan perbaikan dan menekan angka kejadian kesalahan pengobatan. Data yang diambil yaitu, kelengkapan resep, frekuensi kejadian kesalahan penyiapan, dan data kelengkapan pemberian informasi obat. Jumlah sampel resep yang diambil adalah 1100 lembar resep. Pada peresepan terjadi kesalahan kejadian potensi cedera 15,69±11,51% dan kejadian nyaris cedera 0,5±0,55%. Pada fase penyiapan ditemukan 427 kejadian kesalahan (9,71%) yang terdiri dari 2 kesalahan (0,04%) tahap pengkajian administrasi peraturan BPJS, 224 kesalahan (5,09%) tahap entri data, 113 kesalahan (2,57%) tahap pengambilan obat, 19 kesalahan (0,43%) tahap pengisian obat dan 69 kesalahan (1,57%) terjadi pada tahap pemeriksaan akhir. Kesalahan penyiapan berdasarkan tipe kesalahannya yaitu kejadian nyaris cedera 330 (7,51%) dan kejadian potensi cedera 97 (2,21%). Analisa efek dan mode kegagalan dilakukan perhitungan angka kegawatdaruratan, tahap pengambilan obat (RPN 210) dan entri data (RPN 126) menempati urutan tertinggi yang akan dilakukan analisis akar penyebab masalah dinilai dari faktor SDM, material, metode, sarana dan lingkungan

    Pengembangan Formulasi Pasta Antiinflamasi Piroksikam Berbasis Ampas Tahu dalam Pemanfaatan Limbah Tahu Di Purwokerto

    Get PDF
    The soybean curd residue is the waste product of soybean. It has potential for being excipients in pharmaceutical preparations because of its high carbohydrate element. This study aims to evaluate the soybean curd residue as excipients of piroxicam antiinfl ammatory paste. The excipient of soybean curd residue is made by isolating it with 0.1% KOH, then being characterized by physical, chemical, and functional test after becoming starch. It was prepared in piroxicam antiinfl ammatory paste preparations with ratio of soybean curd residue starch and manihot strach are F1 (0:0.25), F2 (0.25:0), F3 (1.25:1.25), F4 (1.5:1), and F5 (1:1.5). The result of physical and freeze-thaw stability test were analyzed descriptively. The data of viscosity, stickiness, and spreading power test were analyzed using one-way ANOVA. Soybean curd residue starch’s physic is slightly coarse, cubic-shapes powder, uneven surface and nonporous, slightly hygroscopic, and brownish-white. It has distinctive odor and has no taste. Chemical test showed that it contained carbohydrate and had pH 4.9. Functional test showed on average 15% it has viscosity 1959 cps, fl ow time 6.7 seconds and still angle 39.2o. Results of physical and stability tests showed that F3 were the best piroxicam antiinfl ammatory paste formula.Ampas tahu adalah residu hasil perasan kedelai yang mengandung karbohidrat tinggi sehingga berpotensi untuk diolah menjadi eksipien dalam sediaan farmasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan ampas tahu sebagai eksipien pada sediaan farmasi pasta antiinfl amasi piroksikam. Eksipien pati ampas tahu dibuat dengan cara diisolasi menggunakan KOH 0,1%, kemudian dikarakterikasi sifat fi sika, kimia, dan fungsional setelah menjadi tahu. Pati ampas tahu selanjutnya dibuat sediaan pasta antiinfl amasi piroksikam dengan perbandingan pati ampas tahu dan amilum manihot F1 (0:0,25), F2 (0,25:0), F3 (1,25:1,25), F4 (1,5:1), F5 (1:1,5). Hasil uji sifat fi sik dan uji stabilitas Freeze-thawdianalisis secara deskriptif. Hasil uji viskositas, daya lekat, dan daya sebar dianalisis menggunakan one way ANOVA. Hasil karakterisasi fi sik pati ampas tahu berupa serbuk sedikit kasar, berbentuk batang, permukaan tidak rata dan tidak berpori, sedikit higroskopis, berwarna putih kecoklatan, memiliki bau yang khas, dan tidak memiliki rasa. Hasil karakterisasi kimia menunjukkan bahwa pati ampas tahu mengandung karbohidrat dan memiliki pH 4,9. Hasil karakterisasi fungsional pati ampas tahu memiliki viskositas 1959 cps (15%), waktu alir 6,7 detik dan sudut diam (α) 39,2o. Hasil uji sifat fi sik dan stabilitas menunjukkan bahwa F3 sebagai formula pasta antiinfl amasi piroksikam terbaik

    Kecukupan Penggunaan Garam Beryodium di Provinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan Hasil Tes Cepat

    Get PDF
    Kekurangan yodium merupakan penyebab keterbelakangan mental pada anak-anak tertinggi di dunia. Pengadaan dan penggunaan garam beryodium merupakan strategi yang aman, cost-effective dan berkelanjutan untuk memastikan asupan yodium yang memadai untuk semua masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penggunaan garam beryodium oleh rumah tangga di Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan dengan cara menganalisis data sekunder yang didapat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium di Provinsi Kalimantan Tengah adalah 90,5%, jauh lebih tinggi dari persentase konsumsi nasional yang hanya 77,1%, tetapi dengan penyebaran yang tidak merata antar kabupaten/kota serta antara pedesaan dan perkotaan. Kecukupan konsumsi garam beryodium dalam rumah tangga berhubungan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat sosial ekonomi keluarga.Iodine deficiency is the major cause of mental retardation in children. One strategy that is a safe, cost-effective and sustainable to ensure sufficient intake of iodine by all individuals is the use of iodized salt. This study was conducted to assess the pattern of consumption of iodized salt in the households in Central Kalimantan Province. This study was done by analyzing the secondary data obtained from the National Basic Health Research (Riskesdas) in 2013.The results showed that the percentage of households using iodized salt in the Central Kalimantan Province was 90.5%, higher than the national percentage, which was only 77.1%. However, it was spread unevenly among districts/cities and between the rural and urban areas. In addition, adequacy of iodized salt consumption in the households was associated to the educational level ofthe family as well as the family’s socioeconomic level. Households whose members are of higher education are most likely to have Iodized salt in their homes compared to those whose members are illiterate

    Formulasi dan Uji Penetrasi In-Vitro Sediaan Topikal Nanoemulsi Genistein dari Tanaman Sophora japonica Linn

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah memformulasi genistein menjadi nanoemulsi dan membandingkan penetrasinya dengan produk Gen90 Nano. Dibuat sebanyak 3 jenis formula dengan perbandingan komposisi antara genistein dan lesitin soya menggunakan metode emulsifikasi spontan. Hasilnya formula 3 merupakan formula terpilih yang menghasilkan nanoemulsi berukuran 191,7 nm dengan indeks polidispersitas 0,171 dan potensial zeta -47,5 mV. Uji penetrasi secara in-vitro menggunakan sel difusi Franz menunjukkan jumlah kumulatif terpenetrasi dari nanoemulsi genistein sebesar 18,29 ± 0,16 (μg/cm2) dibandingkan dengan produk Gen90 Nano sebesar 24,60 ± 0,57 (μg/cm2). Perbandingan ini dilakukan untuk melihat kualitas penetrasi dari formula nanoemulsi genistein, karena Gen90 Nano merupakan produk paten dari kompleks inklusi hidroksipropil siklodekstrin-genisteinThe purpose of this study was to prepared genistein in nanoemulsion and compared its penetration with Gen90 Nano. There was 3 types of formula with composition ratio between genistein and soy lecithin using a spontaneous emulsification methods. The results showed that formula 3 was the chosen formula which has 191,7 nm particle size, 0,171 polydispersity index and -47,5 mV zeta potential. In-vitro penetration study using Franz diffusion cell showed that amount cumulative in penetration of genistein nanoemulsion was 18,29 ± 0,16 (μg/cm2) compared with Gen90 Nano was 24,60 ± 0,57 (μg/cm2). This comparison was done to see the quality of penetration of genistein nanoemulsion formula, because Gen90 Nano was a patent product consist of Genistein - Hydroxypropyl Cyclodextrin (HPCD) inclusion complex

    Free Radical Scavenger Activity of Green Algae Ethanolic Extract Spirogyra sp. and Ulva lactuca Using DPPH Method

    Get PDF
    Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Spirogyra sp. merupakan contoh spesies yang hidup di perairan tawar, sedangkan Ulva lactuca di perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan sebagai penangkap radikal bebas ekstrak etanol ganggang hijau Spirogyra sp. dan Ulva lactuca dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Ekstrak etanol serbuk ganggang hijau Spirogyra sp. dan Ulva lactuca dibuat dengan dengan metode maserasi. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH secara spektrofotometri visibel. Asam galat digunakan sebagai kontrol positif. Aktivitas penangkapan radikal bebas dinyatakan dalam ES50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol Spirogyra sp. dan Ulva lactuca memiliki aktivitas sebagai penangkap radikal bebas. Nilai ES50 Spirogyra sp. sebesar (92,83±0,58) μg/mL dan Ulva lactuca sebesar (1376,65±7,80) μg/mL, sedangkan asam galat memiliki harga ES50 sebesar (0,73 ± 0,04) μg/mLAntioxidants are compounds that can inhibit the oxidation reaction, to scavenge free radicals and highly reactive molecules. Green algae is the largest division consisting of more than 500 genera and about 15,000 species. Spirogyra sp. is an example of species that lives in fresh water, while Ulva lactuca lives in the sea. This study aims to determine the antioxidant activity as scavenger free radicals of the ethanol extract of green algae Spirogyra sp. and Ulva lactuca by using DPPH (1,1-diphenyl-2-pikrilhidrazil). Ethanol extract of green algae Spirogyra sp. and Ulva lactuca were prepared from the powder by maceration method. Trials of antioxidant activity in DPPH visible spectrophotometry. Gallic acid used as a positive control. The free radicals scavenging expressed with ES50. The result showed that ethanolic extract of Spirogyra sp. and Ulva lactuca have activity as scavenger free radicals. The ES50 value of Spirogyra sp. was (92,83±0,58) μg/mL and steamed of Ulva lactuca was (1376,65 ± 7,80) μg/mL and the positive control, gallic acid was (0,73±0,04) μg/m

    Pemanfaatan Nanoteknologi dalam Sistem Penghantaran Obat Baru untuk Produk Bahan Alam

    Get PDF
    Sejak dahulu banyak ekstrak dari bahan alam yang secara empiris dimanfaatkan untuk pengobatan. Ekstrak-ekstrak tersebut digunakan karena mengandung senyawa bioaktif yang dapat memberikan efek farmakologis. Isolat dari ekstrak tersebut diuji baik secara in vitro maupun in vivo untuk mengetahui efek dan bioavailabilitas dalam tubuh secara ilmiah. Namun demikian diperkirakan lebih dari 40% senyawa bahan alam memiliki kelarutan yang rendah di dalam air atau bahkan memberikan toksisitas yang tinggi. Kelarutan yang rendah di dalam air serta kurangnya kemampuan permeabilitas menembus barrier absorpsi dapat mempengaruhi bioavailabilitas senyawa bahan alam di dalam tubuh. Tidak hanya itu, bioavailabilitas suatu senyawa juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas terhadap pH lambung dan kolon, metabolisme oleh mikroflora normal dalam saluran pencernaan, absorpsi melalui dinding usus, mekanisme aktif pompa efflux dan metabolisme lintas pertama. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem penghantaran obat yang dikenal dengan sistem penghataran obat baru (novel drug delivery system). Sistem penghantaran obat baru merupakan suatu sistem penghantaran obat yang lebih modern dengan cara mengontrol pelepasan obat sehingga aktivitas farmakologis menjadi lebih baik. Pembuatan sediaan berbasis teknologi baru ini dapat menjadi alternatif dalam pembuatan produk herbal dan diharapkan bioavailabilitas produk herbal dalam tubuh menjadi lebih baik sehingga dapat memberikan efek terapi yang lebih baikNatural products have been known to have a major role in maintaining health. Some studies reported that they demonstrated various pharmacological activities and provided a lead compound or drug candidate. Isolated compounds from the extracts have been studied both in vitro and in vivo to determine their effects and bioavailability in the body. However, more than 40% natural products have low solubility in water, or even give a high toxicity. Low solubility in water and the lack of ability to penetrate the absorption barrier may affect the bioavailability in the body. Furthermore, the bioavailability of a compound is also influenced by the stability of drugs in the pH of the stomach and colon, metabolism by normal microflora in the digestive tract, absorption through the intestinal wall, efflux pumps mechanism and first-pass metabolism. Solution to overcome these problems is by developing a drug delivery system known as a novel drug delivery system (NDDS). The NDDS is a more modern system to control the release of drugs so that it will give better pharmacological activity. Making dosage forms based on this novel technology can be an alternative for manufacturing herbal products. It can increase their bioavailability in the body so that it can provide a better therapeutic effect

    Pengaruh Pengental terhadap Mutu Minyak Atsiri Kulit Buah Jeruk Purut (Citrus hystrix Dc) dalam Sediaan Deodoran

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah pemanfaatan kandungan minyak atsiri dari tanaman obat Indonesia yaitu kulit buah jeruk purut sebagai produk deodorant roll on untuk antiseptik yang berefek bakterisid. Target khususnya adalah menghasilkan formula yang stabil secara fisik dan kimia serta keamanan produk.Uji mutu minyak atsiri dilakukan dengan penetapan parameter fisik berupa identitas, organoletik dan kelarutan. Uji antiseptik dilakukan dengan mengukur diameter daya hambat (DDH) sediaan deodoran pada konsentrasi minyak atsiri 1-7 % terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi agar. Hasil DDH sediaan deodoran dengan thickening agent HPC-m diperoleh sebesar 10,90-12,26 mm, sedangkan dengan thickening agent karbomer 940 tidak memiliki ativitas pada bulan ketiga, serta uji iritasi pada panelis tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji stabilitas dipercepat suhu kamar dan 40oC terhadap sediaan, dihasilkan organoleptik dengan warna putih kekuningan dan bau khas jeruk purut. Formula terbaik dari sediaan deodoran roll-on adalah formula III dengan konsentrasi thikening agent HPC-m sebesar 4%, yang menghasilkan tampilan fisik dan homogenitas yang baik, viskositas 5.200 cps pada suhu kamar dan 5.940 cps pada suhu 40oC. Deodoran memiliki sifat alir pseudoplastis, dengan pH 4,55 pada suhu kamar dan pH 5,22 pada suhu 40oC. Dengan thickening agent karbomer 940, deodoran memiliki kemampuan sebar yang semakin kecil sehingga dapat dikategorikan sediaan semi padat.The purpose of this study is the use of essential oil content of medicinal plants in Indonesia, namely rind lime as deodorant roll on for antiseptic bactericidal effect. The aim of this study was to produce a formula that is stable physically and chemically and also safe products. Essential oil quality test carried out by the determination of physical parameters such as identity, organoleptic and solubility. Antiseptic test was carried out by measuring the diameter of the inhibition zone of deodorant preparations at a concentration of 1-7% volatile oil against Staphylococcus aureus using agar diffusion method. The results showed that preparations with HPC-m as a thickening agent gave inhibition zone of 10.90-12.26 mm, while carbomer 940 did not have an activity in the third month, whereas the irritation test did not display irritation. The results of an accelerated stability test at room temperature and the temperature of 40 °C on the preparation resulted in organoleptic with a yellowish white color and a distinctive smell of lime. The best formula of the preparation of deodorant was the formula III with the concentration of thickening agent HPC-m of 4%, The preparation has a viscosity of 5,200 cps at room temperature and 5,940 cps at 40°C, has pseudoplastis characteristic, with pH value of 4.55 at room temperature and pH value of 5.22 at temperature of 40oC. While carbomer 940 obtained a low ability to spread. Therefore, it can be considered as semi-solid preparations

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇