JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Kadar Makronutrien Dan Nilai Indeks Glikemik Tepung Umbi Suweg (Amorphophallus campanulatus) Dengan Dan Tanpa Difermentasi
Low-glycemic indexed foods are increasingly in demand. The glycemic index value is influenced by macronutrient composition. Fermentation can change macronutrient levels of foods. This study aims to analize the effect of lactic acid bacteria fermentation on macronutrient content (protein, fat, carbohydrate) and glycemic index of suweg (Amorphophallus campanulatus) tuber flour. Tuber were thinly sliced, fermented with 10% lactic acid bacteria T1-2 isolated from previous studies, then incubated at room temperature for 4 days. The fermented tuber was then made into flour. The fermented suweg flour was tested to determine the glycemic index using experimental mice. Macronutrient levels of carbohydrates, fats and proteins are chemically determined. The results showed that during the lactate acid bacteria fermentation process 0-4 days there was an increase of lactat acid bacteria viability from day 0 to day 2 (3,64x108- 20,38x108 cells / ml) and decreased after day 2 (14,63x108- 7,91x108 cells / ml), the total acid count increased (0,2066% -1,2599%) as the pH decreased (5,43-4,37). The determination respectively result of protein, fat and carbohydrate contents of fermented suweg fluor was 7,41%, 0,46% and 0,38% and 6,05%, 0,38% , 82,15% in non fermented suweg fluor. The glycemic index value of fermented suweg flour was 64,6 and 69,4 in non fermented fluor. Based on statistical test, macronutrient content (fat, carbohydrate, protein) and glycemic index showed no significant difference between fermented and non fermented suweg fluor (P> 0,05). Fermentation of the lactic acid bacteria on suweg tuber for four days had no effect on the glycemic index and carbohydrate, fat and protein levels on the tubers.Bahan pangan berindeks glikemik rendah makin diminati masyarakat. Nilai indeks glikemik suatu bahan makanan dapat tergantung pada komposisi makronutrien. Fermentasi pada bahan makanan dapat merubah kadar makronutrien. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh fermentasi bakteri asam laktat pada kadar makronutrien (protein, lemak, karbohidrat) dan indeks glikemik tepung umbi suweg (Amorphophallus campanulatus). Umbi suweg diiris tipis, difermentasi dengan 10% isolat bakteri asam laktat T1-2, kemudian diinkubasi pada suhu ruangan selama 4 hari. Hasil fermentasi dibuat tepung. Tepung suweg diuji untuk menentukan indeks glikemik menggunakan mencit percobaan. Kadar makronutrien karbohidrat, lemak dan protein ditentukan secara kimia. Hasil menunjukkan selama proses fermentasi BAL 0-4 hari terjadi peningkatan viabilitas BAL dari hari ke-0 sampai hari ke-2 (3,64x108- 20,38x108 sel/ml) dan mengalami penurunan setelah hari ke-2 (14,63x108-7,91x108 sel/ml), jumlah total asam meningkat (0,2066%-1,2599%) seiring dengan pH yang menurun (5,43-4,37). Kadar protein tepung suweg terfermentasi BAL 7,41% dan tanpa fermentasi BAL 6,05%. Kadar lemak tepung suweg terfermentasi BAL 0,46% dan tanpa fermentasi BAL 0,38%. Kadar karbohidrat tepung suweg terfermentasi BAL 81,7% dan tanpa fermentasi BAL 82,15%. Nilai indeks glikemik tepung suweg terfermentasi BAL 64,6 dan tanpa fermentasi BAL 69,4. Berdasarkan uji statistik, fermentasi BAL 10% pada tepung suweg selama 4 hari menyebabkan perubahan yang tidak berbeda nyata pada kadar makronutrien (lemak, karbohidrat, protein) namun berbeda nyata pada nilai indeks glikemik (P>0,05
Natrium Alginat sebagai Polimer Mukoadhesif terhadap Daya Lekat serta Pelepasan Granul Mukoadhesif Amoksisilin
Mucoadhesive is a bioadhesive dosage form which forms a bond with mucous membranes. Mucoadhesive dosage forms stayed on mucous membranes in prolonged time so can increase bioavailability. This study intended to determine the effect of sodium alginate as bioadhesive polymer to mucoadhesive strength of granules. The granules prepared using amoxicillin as active agent and sodium alginate as bioadhesive polymer by wet granulation method. Granule evaluation are moisture content, particle size, wash off test using rat stomach and dissolution test. Test results of total recovery F1, F2, F3, F4, F5, 540 mg, 560 mg, 580 mg, 600 mg, 620 mg. Test results of flow rate 10,78-11,75 g/second, and angle of repose 33,50-35,15°, test of particle size distribution in the range of 1410-1680 µm, moisture content from 11.07 to 13.57%, wash off test of F1, F2, F3, F4 and F5 as consecutively 12.67, 14.00, 18.67, 26.00 and 33.33%. 2-way ANOVA test to % dissolution and wash-off test results sig. <0.05, so there is a significant difference between formulas. Based on the results showed that increasing concentration of sodium alginate increase mucoadhesive strength of granules but less able to resist of drug release, and the best formula is F3 that containing sodium alginate 580 mg.Mukoadhesif merupakan bentuk sediaan bioadhesif yang membentuk ikatan dengan membran mukosa. Sediaan mukoadhesif bertahan pada mukosa dalam periode waktu yang diperlama sehingga dapat meningkatkan ketersediaan hayati obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan natrium alginat sebagai polimer bioadhesif terhadap daya lekat sediaan. Granul mukoadhesif dibuat menggunakan amoksisilin sebagai model zat aktif dan natrium alginat sebagai polimer bioadhesif dengan metode granulasi basah. Evaluasi granul yang dilakukan yaitu uji susut pengeringan, uji distribusi ukuran partikel, uji wash off menggunakan mukosa lambung tikus dan uji disolusi. Hasil perolehan kembali F1, F2, F3, F4, F5, 540 mg, 560 mg, 580 mg, 600 mg, 620 mg. Hasil uji sifat alir 10,78-11,75 g/detik dan sudut diam 33,50-35,15°, hasil uji distribusi ukuran patikel berada pada rentang 1410-1680 μm, susut pengeringan 11,07-13,57%, uji wash off F1,F2,F3,F4 dan F5 yaitu 12,67, 14,00, 18,67, 26,00 dan 33,33%. Uji anova 2 arah terhadap % terdisolusi dan hasil uji wash off menghasilkan nilai sig. <0,05, sehingga terdapat perbedaan bermakna antar formula. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi natrium alginat dapat meningkatkan daya mukoadhesif granul amoksisilin pada mukosa lambung tikus tetapi kurang dapat menahan pelepasan obat, dan formula yang paling baik adalah formula 3 yang mengandung natrium alginat 580 mg
Pengaruh Metode Ekstraksi Terhadap Kandungan Senyawa Polifenol dan Aktivitas Antioksidan pada Rubus fraxinifolius
Rubus fraxinifolius can be founded in the mountainous regions of West Java. Previous studies have shown that this plant has potent antioxidant activity. The content of polyphenol compounds in this species contributes substantially to antioxidant activity, and the extraction method will affect the content of the compound. In this study an evaluation of the extraction method effect on leaves, young fruits and stems of R. fraxinifolius on the content of polyphenols and their antioxidant activity, have been done. Method: The leaves, fruits, and stems of R. fraxinifolius were extracted by maceration, reflux, and soxhlet using methanol as a solvent. Each extract was determined the total polyphenol content using Folin-Ciocalteu reagent and antioxidant activity test using DPPH reduction method. Result: The highest extract yield was R. fraxinifolius leaf reflux extract (30.20%). The highest total polyphenol content was given by the Soxhlet extract of leaf R. fraxinifolius (48.79 mg GAE / g extract). The highest antioxidant activity was leaf Soxhlet extract of R. fraxinifolius (98.29% at 100 ppm). Conclusion: From this study it was shown that the methanol extract of R. fraxinifolius leaves extracted by Soxhlet gave the highest polyphenol content and antioxidant activity.Pendahuluan: Tanaman Rubus fraxinifolius dapat ditemukan di daerah pegunungan Jawa Barat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Kandungan senyawa polifenol pada tanaman berkontribusi secara substansial terhadap aktivitas antioksidan dan metode ekstraksi akan mempengaruhi kandungan senyawa yang tersari. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi pengaruh metode ekstraksi organ daun, buah muda dan batang R. fraxinifolius terhadap kandungan polifenol serta aktivitas antioksidannya. Metode: Bagian daun, buah, dan batang R. fraxinifolius diekstraksi cair padat secara maserasi, refluks dan soxhlet menggunakan pelarut metanol. Terhadap masing-masing ekstrak dilakukan penetapan kadar polifenol total dengan pereaksi Folin-Ciocalteu serta uji aktivitas antioksidan dengan metode peredaman DPPH. Hasil: Rendemen ekstrak terbanyak adalah ekstrak refluks daun R. fraxinifolius sebesar 30,20 %. Kandungan polifenol total tertinggi adalah pada ekstrak Sokhlet daun R. fraxinifolius sebesar 48,79 mg GAE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan tertinggi yaitu ekstrak Sokhlet daun R. fraxinifolius sebesar 98,29% pada 100 bpj. Kesimpulan: Dari penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak metanol daun R. fraxinifolius yang diekstraksi secara sokhlet memiliki kandungan polifenol serta aktivitas antioksidan tertinggi
Evaluasi Efek Samping OBat Kemoterapi terhadap Quality of Life (QOL) Pasien Kanker Payudara di Rumah Sakit X Jakarta
Breast cancer is the number one cancer type discovered at women in the world. Most causes are genetic factors and hormonal factors. One cancer treatments with chemotherapy. Chemotherapy drugs active in cells dividing and reproducing, but cells normally to be affected by chemotherapy and side effects from chemotherapy drugs affect quality of life. The aim of the study to evaluate side effects of chemotherapy drugs on the quality of life of breast cancer patients. Sampling technique observational prospective breast cancer patients with completed the chemotherapy cycle from September 2017 to April 2018 with descriptive analysis and statistics by looking correlation between drug side effects and Quality of Life (QoL). Results of the study were side effects of fatigue 100%, nausea 67,5%, vomiting 60%, no appetite 63,75%, fever 42,5%, joint pain 43,75%, diarrhea 16,25%, difficulty swallowing 16,25%, allergies 5%, itching 1,25%, mouth sores 3,75%, swollen right hand 1,25%, constipation 3,75%. QoL results are physical 6,2%; psychology 5,3%; social 4,9%; spiritual 6,8%. Results of Sperman test showed no correlation between the side effects of chemotherapy and QoL P> 0,05. This study shows that there is no relationship between the side effects drug chemotherapy and QoL in breast cancer patients.Kanker payudara merupakan jenis kanker nomor satu ditemui pada wanita di dunia. Penyebab terbanyak disebabkan oleh faktor genetik dan faktor hormonal. Salah satu pengobatan kanker dengan kemoterapi. Obat kemoterapi aktif pada sel yang sedang membelah dan bereproduksi, namun sel yang normal tidak tertutup kemungkinan akan terpengaruh kemoterapi dan muncul efek samping dari obat kemoterapi yang mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi efek samping obat kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara. Teknik sampling prospektif observasional terhadap pasien kanker payudara yang sudah menyelesaikan siklus kemoterapi periode September 2017 sampai April 2018 dengan analisis deskriptif dan statistik dengan melihat korelasi antara efek samping obat dan Quality of Life (QoL). Hasil penelitian yaitu terdapat efek samping kelelahan (100%), mual (67,5%), muntah (60%), tidak ada nafsu makan (63,75%), demam (42,5%), sakit pada persendian (43,75%), diare (16,25%), sulit menelan (16,25%), alergi (5 %), gatal (1,25%), ada luka dimulut (3,75%), bengkak tangan kanan (1,25%), sembelit (3,75%). Hasil QoL yaitu domain fisik 6,2%; psikologi 5,3%; sosial 4,9%; spiritual 6,8%. Hasil uji sperman menunjukan tidak ada korelasi antara efek samping kemoterapi dan QoL P>0.05. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara efek samping obat kemoterapi dan QoL pada pasien kanker payudara
Selektivitas Pemisahan Isoniazid dan Asetilisoniazid dalam Plasma Manusia In-vitro secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Bioanalysis method is needed to pharmacokinetic study of INH as antituberculosis. The main problem is INH structure is similar to that of acetyl isoniazid (AcINH) as its metabolite. Therefore, a selective separation method is needed to separate the INH from its metabolite and matrix. The aim of this study was to test the selectivity of separation method of INH and AcINH in human plasma in-vitro by high performance liquid chromatography (HPLC). The HPLC system used a reversed phase with UV detector and hexane sulphonate as an ion counter. The optimum conditions was obtained by using C18 as stationary phase, hexane sulphonate (pH 2.47)-methanol (65:35) as mobile phase, with flow rate of 1mL/min, and UV detector at wavelength of 265nm. The selectivity of method separation was indicated by a resolution value of ≥ 1.5. The tailing factor for INH and AcINH were 1.297, dan 1.912, respectively. The k values ware less than 10 and N values were greater than 5000 indicate good separation efficiency. The developing of HPLC was a selective for separating of INH and AcINH in human plasma in-vitro.Dalam rangka studi farmakokinetik isoniazid (INH) sebagai obat anti tuberkulosis, metode bioanalisis diperlukan. Masalah utama yang timbul dalam bioanalisis INH ini adalah struktur INH mirip dengan asetilisoniazid (AcINH) sebagai metabolitnya. Oleh karena itu, metode pemisahan yang selektif diperlukan untuk memisahkan INH dari metabolit dan matriksnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji selektivitas metode pemisahan INH dan AcINH dalam plasma manusia in-vitro menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Sistem KCKT yang digunakan adalah fase balik dengan detektor UV dan heksan sulfonat sebagai pereaksi pasangan ion. Kondisi optimum yang diperoleh menggunakan fase diam C18, fase gerak heksansulfonat pH 2,47–metanol (65:35) dengan laju alir 1ml/menit, dan deteksi pada 265nm. Selektivitas pemisahan metode ditunjukkan dengan nilai resolusi ≥ 1,5. Nilai faktor ikutan untuk INH dan asetilisonizid berturut-turut adalah 1,297, dan 1,912. Nilai k yang kurang dari 10 dan nilai N yang lebih besar dari 5000 menunjukkan efisiensi pemisahan yang baik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa presisi dan akurasi metode memenuhi syarat untuk uji selektifitas sesuai FDA pada konsentrasi INH dan AcINH berturut-turut 0.1244 dan 0.1188µg/mL Metode KCKT yang dikembangkan selektif untuk pemisahan INH dan AcINH dalam plasma manusia in-vitro
Formulasi dan Uji Anti Inflamasi Masker Peel Off Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
Infl ammation of the skin often occurs in acne-prone skin. Acne can be prevented in variousways, one of them by maintaining clean skin. Noni fruit (Morinda citrifolia L.) with the active ingredientof scopoletin has been proven to be eff ective as an anti-infl ammatory. Noni is dried into simplicia,extracted was ethanol 96% solvent until it becomes concentrated extract. The extract is formulated intoa peel off mask with a concentration variation of 5%, 10 and 15%. The masks produced is evaluated forphysical characteristic of pH, viscosity, spreadability, and adhesivity test), as well as anti-infl ammatoryproperties using mice with the parameters of COX-2 expression and irritation test using rabbit. Theevaluation results of the physical characteristic of the peel off mask fulfi lled the physical characteristicrequirements of the peel off mask preparation. Whereas in the viscosity test there were groups thatmet the viscosity requirements, namely the formula I and II groups and the group that did not meet theviscosity requirements, namely the formula III group. Anti-infl ammatory test in mice showed that themask lead to reduction in the amount of COX-2 expression. The best formula in 3 preparations wasindicated in formula I with COX-2 expression value of 22.635%. The results of irritation test on rabbitsdid not cause irritation. According to the test results it can be concluded that the optimum value of theethanol extract concentration is shown in formula I with a concentration of 5%.Infl amasi pada kulit seringkali terjadi pada kulit yang mengalami jerawat. Pengatasanjerawat bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menjaga kebersihan kulit wajah.Buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan bahan aktif skopoletin telah terbukti berkhasiat sebagaianti infl amasi. Buah mengkudu dikeringkan menjadi simplisia, di ekstraksi menggunakan pelarutetanol 96% sampai menjadi ekstrak pekat. Ekstrak di formulasikan menjadi masker peel off denganvariasi konsentrasi sebesar 5%, 10 dan 15%. Masker yang dihasilkan dievaluasi sifat fi sik meliputiuji pH, viskositas, daya lekat, dan daya sebar, serta uji daya anti infl amasi menggunakan hewan ujimencit dengan parameter jumlah ekspresi COX-2, uji daya iritasi menggunakan hewan uji kelinci.Hasil uji evaluasi sifat fi sik masker peel off telah memenuhi syarat sifat fi sik sediaan masker peel off .Sedangkan pada uji viskositas terdapat kelompok yang memenuhi syarat viskositas yaitu kelompokformula I dan II dan kelompok yang tidak memenuhi syarat viskositas yaitu kelompok formula III. Ujidaya anti infl amasi pada hewan uji mencit bahwa masker menyebabkan penurunan jumlah ekspresiCOX-2. Formula terbaik pada 3 sediaan, ditunjukkan pada formula I dengan nilai ekspresi COX-2sebesar 22,635%. Hasil uji iritasi pada kelinci tidak menimbulkan iritasi. Berdasarkan hasil uji dapatdisimpulkan bahwa nilai konsentrasi ekstrak etanol yang paling optimum ditunjukkan pada formula Idengan konsentrasi sebesar 5%
Hubungan antara Karakteristik Pasien dan Terapi terhadap Nilai Retensi di RSJ Menur Surabaya
Methadone maintenance therapy program (MMTP) is the government's efforts to reduce drug abuse in Indonesia.The MMTP success parameters can be seen from the retention rate which is the length of time patients undergo methadone maintenance therapy after receiving stabilization therapy (administration of methadone for 6 weeks or 42 days). This study aimed to determine the relationshipof the patientscharacteristics and therapy to the retention rate in Menur Psychiatric Hospital Surabaya. This cross-sectional study was conducted retrospectively by reviewed the patient’s medical record dan involved 41 subjects who were selected by consecutive sampling. Patient characteristics and therapy was analyzed descriptively and the variables relationship with retention rate was analyzed by using Spearman’s correlation test.The results showed the retention rate at 6 months (4.9%), 9 months (12.2%), 12 months (19.5%), 24 months (26.8%), 36 months (26.8%) , 48 months (4.9%) and 60 months (4.9%). According to Spearman's correlation test, the smallest maintenance dose shows a significant correlation to the retention rate (p = 0.036 with sufficient correlation r = -0.382). Therefore, the selection of the smallest dose in patients undergoing MMTP needs a particular concern to increase the successfulness of this program, which is indicated by the retention rate in this study.Methadone maintenance therapy program (MMTP) is the government's efforts to reduce drug abuse in Indonesia.The MMTP success parameters can be seen from the retention rate which is the length of time patients undergo methadone maintenance therapy after receiving stabilization therapy (administration of methadone for 6 weeks or 42 days). This study aimed to determine the relationshipof the patientscharacteristics and therapy to the retention rate in Menur Psychiatric Hospital Surabaya. This cross-sectional study was conducted retrospectively by reviewed the patient’s medical record dan involved 41 subjects who were selected by consecutive sampling. Patient characteristics and therapy was analyzed descriptively and the variables relationship with retention rate was analyzed by using Spearman’s correlation test.The results showed the retention rate at 6 months (4.9%), 9 months (12.2%), 12 months (19.5%), 24 months (26.8%), 36 months (26.8%) , 48 months (4.9%) and 60 months (4.9%). According to Spearman's correlation test, the smallest maintenance dose shows a significant correlation to the retention rate (p = 0.036 with sufficient correlation r = -0.382). Therefore, the selection of the smallest dose in patients undergoing MMTP needs a particular concern to increase the successfulness of this program, which is indicated by the retention rate in this study.Program terapi rumatan metadon (PTRM) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menangani penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di Indonesia. Parameter keberhasilan PTRM dapat dilihat dari nilai retensi yang merupakan lamanya pasien didalam menjalani terapi rumatan metadon setelah mendapatkan terapi stabilisasi (pemberian metadon selama 6 minggu atau 42 hari). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien dan terapi terhadap nilai retensi pada PTRM di RSJ Menur Surabaya. Penelitian dengan rancangan cross-sectional ini dilakukan secara retrospektif dengan melihat data rekam medis pasien pecandu NAPZA. Penelitian ini melibatkan 41 subyek yang telah dipilih secaraconsecutive sampling. Data karakteristik pasien dan terapi dianalisis secara deskriptif dan hubungan variabel dengan nilai retensi dianalisis menggunakan korelasi Spearman.Hasil penelitian menunjukkan nilai retensi pada 6 bulan (4,9%), 9 bulan (12,2%), 12 bulan (19,5%), 24 bulan (26,8%), 36 bulan (26,8%), 48 bulan (4,9%) dan 60 bulan (4,9%). Berdasarkan korelasi Spearman, dosis rumatan terkecil merupakan variabel yang menunjukkan korelasi yang signifikan terhadap nilai retensi (p=0,036 dengan korelasi cukup r=-0,328). Oleh sebab itu, pemilihan dosis terkecil pada pasien yang menjalani terapi rumatan metadon perlu menjadi perhatian khusus untuk meningkatkan keberhasilan PTRM, yang dalam penelitian ini ditunjukkan dari nilai retensi
Analisis In-silico Senyawa Kimia dalam Teh Hijau yang Bekerja pada Aktivator (PPAR-γ) sebagai Antiobesitas
Teh hijau dikenal banyak memiliki manfaat dan umum digunakan masyarakat sebagai antiobesitas, tetapi senyawa aktif yang berpotensi sebagai antiobesitas. Tujuan penelitian untuk mencari bahwa senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman teh hijau mempunyai aktivitas sebagai antiobesitas pada reseptor PPAR-γ. Metode penelitian dilakukan dengan cara analisis in silico melalui molecular docking terhadap senyawa yang terdapat dalam tanaman teh hijau untuk mencari senyawa aktif dan memodelkan interaksi senyawa aktif pada reseptor yang berperan sebagai antiobesitas. Software yang digunakan adalah PLANTS, YASARA, ChemSketch, dan Pymol. Mula-mula dilakukan validasi internal pada reseptor PPAR-γ dengan kode 2ATH. Proses docking dilakukan terhadap native ligand, senyawa pembanding dan masing-masing senyawa uji dengan reseptor PPAR-γ yang sama, dan senyawa pembanding yang digunakan sebagai kontrol positif ialah Pioglitazone. Hasil penelitian menunjukan sisi aktif terdapat 3 senyawa aktif dengan sisi aktif ikatan ligan pada reseptor PPAR-γ yaitu ARG288, LYS367, PHE363, HIS323, HIS449, ILE326, MET364, LEU340, CYS285, SER342. Terdapat 3 senyawa aktif yaitu epigalokatekin-3-galat, epikatekin-3-galat dan teaflavin sebagai antiobesitas dengan mekanisme kerja mengaktivasi PPAR-γ.Teh hijau dikenal banyak memiliki manfaat dan umum digunakan masyarakat sebagai antiobesitas, tetapi senyawa aktif yang berpotensi sebagai antiobesitas dan bekerja pada reseptor (Peroxisome Proliferator Activated Receptor-Gamma) PPAR-γ belum diteliti. Tujuan penelitian untuk mencari bahwa senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman teh hijau mempunyai aktivitas sebagai antiobesitas pada reseptor PPAR-γ. Metode penelitian dilakukan dengan cara analisis in silico melalui molecular docking terhadap senyawa yang terdapat dalam tanaman teh hijau untuk mencari senyawa aktif dan memodelkan interaksi senyawa aktif pada reseptor yang berperan sebagai antiobesitas. Software yang digunakan adalah PLANTS, YASARA, ChemSketch, dan Pymol. Mula-mula dilakukan validasi internal pada reseptor PPAR-γ dengan kode 2ATH. Proses docking dilakukan terhadap native ligand, senyawa pembanding dan masing-masing senyawa uji dengan reseptor PPAR-γ yang sama, dan senyawa pembanding yang digunakan sebagai kontrol positif ialah Pioglitazone. Penelitian ini menghasilkan 3 senyawa aktif dan sisi aktif ikatan ligan pada reseptor PPAR-γ yaitu ARG288, LYS367, PHE363, HIS323, HIS449, ILE326, MET364, LEU340, CYS285, SER342. Terdapat 3 senyawa aktif yaitu epigalokatekin-3-galat, epikatekin-3-galat dan teaflavin sebagai antiobesitas dengan mekanisme kerja mengaktivasi PPAR-γ
Optimasi Nanoemulsi A/M/A Ekstrak Etanol Daun Binahong dan Konjugat AG-Kitosan Menggunakan Desain Box-Behnken
Skin premature aging which is characterized by fine wrinkles can be overcome by stimulating collagen production and inhibiting its degradation, and also reducing corneocyte buildup. Madeira vein has been shown to induce collagen production and inhibit its degradation, while glycolic acid increase desquamation. The aim of this research was to optimize W/O/W multiple nanoemulsion formula of Madeira vein-leaves extract in W1 phase and glycolic acid in W2 phase. Glycolic acid was added after conjugated with chitosan to reduce its stinging effect on skin. The W/O/W multiple nanoemulsion was prepared through two emulsification steps: W1/O primary emulsion using high speed homogenizer, and the secondary emulsion using magnetic stirrer. W1/O was optimized including the selection of co surfactant and extract concentration, followed by secondary emulsion optimization using response surface methodology consisted of 2-level factorial and Box-Behnken design. The W1/O consisted of extract, polysorbate 80 as surfactant, PEG 400 as co surfactant and isopropyl myristate as oil phase. The 2-level factorial gave the three significant factors: W1/O sonication time, W1/O concentration, and secondary emulsification stirring time. Box-Behnken optimization for globule size below 400 nm was obtained by 6-10 minutes W1/O sonication time, 12-16% W1/O concentration, and 32-42 minutes stirring time of secondary emulsification.Tuberkulosis laten disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang persisten dalam makrofag, sehingga diperlukan penghantaran obat antituberkulosis yang dapat meningkatkan akumulasi di dalam sel tersebut. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi formula lipid nanostruktur (Nanostructured Lipid Carrier, NLC) sebagai sistem penghantaran rifampisin menggunakan D-manosa sebagai agen pentargetan. Adsorpsi D-manosa pada permukaan NLC nanopartikel dilakukan melalui muatan positive dari konjugat kitosan-manosa yang dibuat menggunakan agen pereduksi amin. Konjugat kitosan-manosa menunjukan adanya perubahan bilangan gelombang pita amida dan pembentukan basa Schiff pada spektra FTIR. Campuran lemak padat-cair sebagai pembawa rifampisin dibuat NLC dengan tehnik emulsifikasi menggunakan polisorbat 80. Konjugat kitosan-manosa ditambahkan ke dalam fase air sebelum proses emulsifikasi. Solidifikasi nanopartikel NLC-kitosan-manosa dilakukan dengan metode gelasi ionotropik dan penguapan pelarut. Optimasi formula nanopartikel dilakukan dengan memilih faktor-faktor yang berpengaruh secara staristik menggunakan factorial design. Ditemukan factor utama adalah konsentrasi lipid, polisorbat 80, dan konjugat kitosan-manosa dan jumlah dioptimasi menggunakan response surface methodology. Hasil optimum nanopartikel memiliki diameter 766,1 ± 57,56 nm dengan indeks polidispersitas 0,32 ± 0,02, efisiensi enkapsulasi 91,54 ± 0,18 % dan loading obat 36,62 ± 0,07%. Profil pelepasan rifampisin hampir mirip pada pH 5,2 maupun 7,4. Formula NLC termodifikasi manosa ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai pentarget antibiotic intraselular