JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Efek Antidiare Ekstrak Air Bunga Nagasari (Mesua Ferrea L.) Terhadap Mencit BALB/c yang Diinduksi Minyak Jarak
Nagasari (Mesua ferrea L.) has a empirically repute for management of diarrhea in West Nusa Tenggara Province. However, the safety and efficacy of the nagasari flowers extract have not been scientifically validated in animal model. This study wasaimed to investigate the antidiarrheal effect of water extract of the nagasari flowers in BALB/c mice. The antidiarrhea activity of nagasari flowerswas investigated using castor oil-induced diarrhea increase in diarrhea index in mice.In castor oil-induced diarrhea test, mice received various consentrations of nagasari flowers extract (0,4% w/v; 0,8% w/v; and 1,6% w/v), where as negative controls received CMC-Na 1% and positive controls received loperamide 0,7 mg/kgBW orally once daily for 1 day and the mice droppings were observed. The phytochemical screening of nagasari flowers contain flavonoid, saponin, and phenolic. Water extract of nagasari flowers at concentration 1,6% showed significant inhibitory activity against castor oil-induced diarrhea when compared with positive controls (diarrhea index 0,083 ; p>0,05). Therefore, this study provides a scientific support for the acclaimed traditional use water extract of Mesua ferrea L. for the treatment of diarrheal diseases.Nagasari (Mesua ferrea L.) secara empiris digunakan sebagai penanganan diare di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun, keamanan dan kemanjuran dari ekstrak bunga nagasari belum divalidasi secara ilmiah dalam model hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiare ekstrak air bunga nagasari pada mencit BALB/c. Aktivitas antidiare bunga nagasari diteliti dengan menggunakan minyak jarak sebagai penginduksi diare yang meningkatkan indeks diare pada mencit. Pada pengujian diare menggunakan penginduksi minyak jarak, mencit menerima variasi konsentrasi ekstrak bunga nagasari (0,4% b/v; 0,8% b/v; and 1,6% b/v),sedangkan kontrol negatif menerima CMC-Na 1% dan kontrol positif menerima loperamide 0,7 mg/kgBB per oral satu kali sehari selama satu hari dan feses mencit diamati. Skrining fitokimia bunga nagasari mengandung flavonoid, saponin, dan fenolik. Ekstrak air bunga nagasari pada konsentrasi 1,6% menunjukkan aktivitas penghambatan diare yang signifikan terhadap diare yang diinduksi minyak jarak jika dibandingkan dengan kontrol positif (indeks diare 0,083 ; p>0,05). Oleh karena itu, penelitian ini memberikan dukungan ilmiah untuk penggunaan tradisional ekstrak air bunga nagasari untuk penanganan diare
Isolasi dan Identifikasi Snyawa Geraniol dari Minyak Atsiri Tanaman Sereh Wangi Cymbopogon nardus (L.) Rendle
Background: Indonesia is a major producer of several essential oils such as citronella oil, clove oil, cananga oil, vetiver oil, sandalwood oil, and patchouli oil. The Cymbopogon (Poaceae) genus has the most important components of essential oils, namely citral, geraniol, citronellol, citronellal. Geraniol is one of the most important chemical compounds in the aroma and fragrance industry and shows the nature of insecticides and natural insect repellents which show low toxicity and is suggested to represent a new class of chemoprevention agents for cancer, antimicrobial, anti-oxidant, anti-inflammatory and some vascular effects Transdermal drugs also attract the attention of researchers and scientists in the field of formulation.
Objective: This study aimed to obtain geraniol compounds obtained from Cymbopogon nardus (L.) Rendle and identification.
Methodology: The citronella, essential oil was obtained from the Cymbopogon nardus (L) Rendle plant using a water-steam distillation method, then fractionation was carried out and continued by purification isolation by column chromatography.
Results: Based on the interpretation of IR data, Core magnetic resonance (proton and carbon RMI) and mass spectra for isolate 5 were determined as geraniol compounds.
Conclusion: Geraniol can be obtained from Cymbopogon nardus (L) Rendle plants by water-steam distillation, fractionation and isolation methods.Latar Belakang : Indonesia merupakan negara penghasil utama beberapa minyak atsiri seperti minyak sereh, minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak akar wangi, minyak cendana, dan minyak nilam. Genus Cymbopogon (Poaceae) memiliki komponen minyak esensial yang paling penting yaitu citral, geraniol, sitronelol, sitronelal. Geraniol adalah salah satu senyawa kimia yang paling penting dalam industri aroma, wewangian, menunjukkan sifat insektisida dan penolak serangga alami yang menunjukkan toksisitas rendah serta kelas baru agen kemoprevensi untuk kanker, antimikroba, antioksidan, antiinflamasi, beberapa efek vaskular, penambah penetrasi penghantaran obat transdermal.
Objektif : Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa geraniol yang diperoleh dari Cymbopogon nardus (L.)Rendle dan identifikasinya.
Metodologi : Minyak atsiri sereh wangi diperoleh dari tanaman Cymbopogon nardus (L) Rendle dengan menggunakan metode destilasi uap-air, lalu dilakukan proses fraksinasi dan dilanjutkan proses isolasi dan pemurnian dengan kromatografi kolom dan diperoleh senyawa murni dari fraksi 5.
Hasil: Berdasarkan interpretasi data IR, Resonansi magnet Inti (RMI proton dan karbon) dan spektra massa (GC-MS) untuk isolate dari fraksi 5 ditetapkan sebagai senyawa geraniol.
Kesimpulan: Geraniol dari minyak atsiri tanaman sereh wangi Cymbopogon nardus (L) Rendle dapat diperoleh dengan metode destilasi uap-air, fraksinasi dan isolasi
Uji Aktivitas Immunomodulator Berbagai Tanaman Famili Piperaceae pada Mencit Galur Balb/C dengan Metode Carbon Clearance
Plants of Piperaceae family are widespread in the tropics region and have been widely used as medicinal plants, these includes kemukus (Piper cubeba), kiseureuh (Piper aduncum), and Java chili (Piper retrofractum). The purpose of this study was to evaluate the immunomodulatory activity of ethanol extracts of several plants from the Piperaceae family in Balb/C strain mice with carbon clearance method. The study was conducted by dividing the experimental animals into 12 groups : normal control group, immunosuppressant comparison, immunostimulant comparison, and low, moderate, and high dose of kemukus, kiseureuh, and Java chili, resepctively. Immunomodulatory activity was measured by phagocytosis index, peripheral blood leukocyte levels, and splenic leukocyte levels. The results showed that ethanol kemukus extract (Piper cubeba) acts as an immunosuppressant, increasing the dose increased the immunosuppressant effect. Low doses of ethanol extract of kiseureh (Piper aduncum) also acts as immunosuppressant, whereas at medium and high doses has a tendency to be immunostimulant. Ethanol extract of Java chili (Piper retrofractum) acts as an immunostimulant, with the highest activity achieved at moderate doses. Ethanol extract of kemukus (Piper cubeba), kiseureh (Piper aduncum), and Java chili (Piper retrofractum) affect the number of peripheral blood granulocyte components, neutrophils levels affects the increase in phagocytic effects. Ethanol extract of kemukus (Piper cubeba), kiseureh (Piper aduncum), and Java chili (Piper retrofractum) did not affect the number of splenic blood granulocyte components.
Tanaman keluarga Piperaceae tersebar luas di daerah tropis dan telah banyak digunakan sebagai tanaman obat, diantaranya adalah kemukus (Piper cubeba), kiseureuh (Piper aduncum), dan cabe jawa (Piper retrofractum). Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi aktivitas imunomodulator ekstrak etanol beberapa tanaman dari keluarga Piperaceae pada mencit jantan galur Balb/c dengan metode carbon clearance. Penelitian dilakukan dengan membagi hewan coba menjadi 12 kelompok, yaitu kelompok kontrol normal, pembanding imunosupresan, pembanding imunostimulan, serta masing-masing tiga kelompok variasi dosis kemukus, kiseureuh, dan cabe jawa. Parameter aktivitas imunomodulator ditinjau dari indeks fagositosis, kadar leukosit darah tepi, dan kadar leukosit limpa. Hasil penelitian menunjukkan Ekstrak etanol kemukus (Piper cubeba) memiliki aktivitas imunomodulator sebagai imunosupresan, peningkatan dosis meningkatkan efek imunosupresan. Ekstrak etanol kiseureh (Piper aduncum) dosis rendah memiliki aktivitas imunomodulator sebagai imunosupresan, sedangkan pada dosis sedang dan tinggi memiliki kecenderungan sebagai imunostimulan. Ekstrak etanol cabe jawa (Piper retrofractum) memiliki aktivitas imunomodulator sebagai imunostimulan, dengan aktivitas tertinggi dicapai pada dosis sedang. Ekstrak etanol kemukus (Piper cubeba), kiseureh (Piper aduncum), dan cabe jawa (Piper retrofractum) mempengaruhi jumlah komponen granulosit darah tepi, dimana peningkatan neutrofil mempengaruhi peningkatan efek fagositosis. Ekstrak etanol kemukus (Piper cubeba), kiseureh (Piper aduncum), dan cabe jawa (Piper retrofractum) tidak mempengaruhi jumlah komponen granulosit limpa
Konsentrasi Kreatinin dan Urea dalam Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar Akibat Pemberian Natrium Nitrit
Sodium nitrite is one of common food addition in most meat product. This kind of food preservative is allowed by Permenkes No. 722/Menkes/Per/IX/88 only in minimum doses due to its carcinogenic effect. The most targeted organ is kidney which is sensitive to chemical matter as nefrotoxin. When the kidney is damaged, the erytropoietin secretion to form erytrocite is disturbed. Physiological damage in kidney can be identified by the concentration of blood creatinin and urea. The objective of this research is to study about blood creatinin and urea concentration of Wistar rats which is induced by sodium nitrite. Two groups of Wistar rats were induced by two doses of sodium nitrite (11.25 and 22.50 mg/kg body weight, respectively) a day with one group of control. Blood serum of those three groups were then be analyzed for creatinin and urea concentration each week for three months. The result showed that creatinin concertration is fluctuative during the day one to day ninety. The average of creatinin concentration for two treated groups is not significantly lower than control group. Generally, the urea concentration is increasing for day fourteen to seventy seven then decreasing in day eighty four to ninety. However, there are no significant differences among three groups.Natrium nitrit adalah bahan pengawet yang sering digunakan untuk olahan daging. Penggunaannya diatur oleh pemerintah melalui Permenkes No. 722/Menkes/Per/IX/88 dengan dosis minimal karena adanya efek karsinogenik. Natrium nitrit seringkali menyerang ginjal sebagai organ target karena organ ini sensitif terhadap senyawa kimia yang bersifat nefrotoksin. Ketika ginjal mengalami kerusakan, sekresi eritropoietin untuk pembentukan eritrosit pun terganggu. Kerusakan fisiologis pada ginjal dapat diidentifikasi melalui kosentrasi kreatinin dan urea pada darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari konsentrasi kreatinin dan urea pada darah tikus putih galur Wistar yang diberi perlakuan natrium nitrit. Dua kelompok tikus putih galur Wistar diberi perlakuan masing-masing 11.25 dan 22.50 mg/kgBB/hari natrium nitrit, dengan satu kelompok kontrol. Serum darah dari ketiga kelompok tersebut dianalisis konsentrasi kreatinin dan urea nya setiap minggu selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kreatinin cenderung fluktuatif antara hari pertama hingga ke-sembilan puluh. Rata-rata konsentrasi kreatinin pada dua kelompok perlakuan tidak signifikan lebih rendah dari kelompok kontrol. Secara umum, konsentrasi urea meningkat pada hari ke-empat belas hingga tujuh puluh tujuh, kemudian menurun di hari ke-delapan puluh empat hingga sembilan puluh. Tetapi, konsentrasi kreatinin dan urea pada ketiga kelompok tidak menunjukkan beda nyata
¬Potensi Biduri [Calotropis gigantea (L.) W.T. Aiton] sebagai Tanaman Obat
Calotropis gigantea (L.) W.T. Aiton or known as Biduri in Indonesia has been used in traditional medicine as an anti-inflammatory, antitoxin and antipyretic. This plant is often found in hot and arid climates. Research on the potential of this plant has not been done much in Indonesia. This article aims to examine the potential of Biduri as a source of medicinal plants. The study was carried out by reviewing research literatures of the botanical plants both sourced from international and national journals. The results of the study indicate that various types of extracts from the biduri plant have therapeutic activities for further development. The phytochemical testing and isolation has also been carried out to look for active substances that play a role in the pharmacological activity being tested. Based on the studies that have been carried out, biduri plants have great potential to be researched and further developed to become one of the sources of medicinal plants in Indonesia.Calotropis gigantea (L.) W.T. Aiton atau yang dikenal dengan nama Biduri di Indonesia telah digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai antiinflamasi, antitoksin, dan antipiretik. Tanaman ini sering dijumpai di daerah yang beriklim panas dan gersang. Penelitian tentang potensi tanaman ini belum banyak dilakukan di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menelaah potensi tanaman biduri sebagai sumber tanaman obat. Penelaahan dilakukan dengan mengkaji literatur penelitian tanaman biduri baik yang bersumber dari jurnal internasional maupun nasional. Hasil telaah menunjukkan bahwa berbagai jenis ekstrak dari tanaman biduri memiliki potensi terapeutik untuk dikembangkan lebih lanjut. Terhadap ekstrak-ekstrak tersebut juga telah dilakukan pengujian dan isolasi fitokimia untuk mencari zat aktif yang berperan dalam aktivitas farmakologi yang diuji. Berdasarkan telaah yang telah dilakukan, tanaman biduri memiliki potensi yang besar untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut menjadi salah satu sumber tanaman obat di Indonesia
Aktivitas Anti Obesitas Ekstrak Daun Tin (Ficus carica Linn) pada Tikus yang diberi Diet Lemak Tinggi
Obesity is a health problem in the community because it can cause a risk of degenerative diseases such as type 2 diabetes mellitus, high blood pressure, heart disease, cancer, and atherosclerosis. Unhealthy lifestyles such as lack of physical activity by exercising, a diet high in carbohydrates and fats, can cause fat deposits in the body, especially in the abdomen. The use of chemical drugs such as Orlistat as a weight loss or to help reduce the risk of regaining lost weight, is less effective because it requires a long consumption time and the presence of side effects. Tin leaf content (Ficus carica Linn) is flavonoids, alkaloids, tannins and steroids, tin leaf extract has IC50 150mg/L antioxidant activity. This study was to determine the anti-obesity activity of tin leaf extract in male Sprague-Dawley rats given a high fat diet. 30 Sprague-Dawley rats were classified into 6 groups. The results obtained, in the group dose of 100 mg / kg obtained an average body weight of 381.8 grams, the test group 200 mg / kg obtained an average body weight of 414.5 grams, in the test group 400 mg / kg obtained 387 grams. The conclusion of this study is that the activity of Tin leaf extract (Ficus carica Linn) can be used as an anti-obesity.Kegemukan merupakan masalah kesehatan di masyarakat karena dapat menyebabkan resiko penyakit degeneratif seperti diabetes militus tipe 2, tekanan darah tinggi, jantung, kanker, dan aterosklerosis. Gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik dengan berolahraga, diet tinggi karbohidrat dan lemak, dapat menimbulkan timbunan lemak didalam tubuh terutama pada abdomen. Penggunaan obat kimia seperti Orlistat sebagai penurun berat badan atau untuk membantu mengurangi risiko mendapatkan kembali berat badan yang sudah hilang, kurang efektif karena memerlukan waktu konsumsi yang lama dan adanya efek samping. Kandungan daun Tin (Ficus carica Linn) adalah flavonoid, alkaloid, tanin dan steroid, ekstrak daun timah memiliki aktivitas antioksidan IC50 150mg/L. Penelitian ini untuk mengetahui aktivitas anti obesitas ekstrak daun tin pada tikus Sprague-Dawley jantan yang diberikan diet lemak tinggi. 30 tikus Sprague-Dawley diklasifikasikan ke dalam 6 kelompok. Hasil yang diperoleh, pada kelompok dosis 100 mg / kg diperoleh berat badan rata-rata 381,8 gram, kelompok uji 200 mg / kg diperoleh berat badan rata-rata 414,5 gram, pada kelompok uji 400 mg / kg diperoleh 387 gram. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aktivitas ekstrak daun Tin (Ficus carica Linn) dapat digunakan sebagai anti-obesitas
Penilaian Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pasien Kanker Payudara di RSUP dr. M. Djamil Padang, Indonesia
Health related quality of life is a feeling of comfort and patient satisfaction with the function of controlling diseases including psychological, social, and physical health. Measurement of quality of life needs to be done because therapeutic interventions such as drugs potentialy to increase or decrease the quality of life. The purpose of this study to determine the effect of chemotherapy on the quality of life of breast cancer patients in Dr. M. Djamil Hospital Padang. Assessment of the quality of life of breast cancer patients was performed using an EORTC QLC-30 questionnaire. The sample of the study was breast cancer patients in surgical polyclinic of Dr. M. Djamil Hospital Padang during the period of March to May 2018 meeting the inclusion criteria. The data is rated in the range 0-100 using a linear transformation formula, then presented as a mean value. The quality of life of breast cancer patients based on the functional scale group of cognitive function domain (71,09 ± 21,05), role function (66,65 ± 26,52), physical function (61,97 ± 22,22), emotional function 60,91 ± 18,24), and social function (51,47 ± 15,24), whereas in symptom scale group from diarrhea domain (24,41 ± 23,69), constipation (26,38 ± 29,36) , dyspnea (31.35 ± 31.80), insomnia (42.24 ± 34.26), financial difficulties (48.03 ± 22.24), decreased appetite (53.00 ± 26.28), pain ( 55,41 ± 20,11), fatigue (58,59 ± 17,58), and nausea and vomiting (68,00 ± 28,82), last for general health status / QoL obtained 65,03 ± 14,83.Kualitas hidup terkait kesehatan merupakan rasa nyaman dan kepuasan pasien terhadap fungsi, pengendalian penyakit termasuk psikologis, sosial, dan kesehatan fisiknya. Pengukuran kualitas hidup perlu dilakukan karena intervensi terapi seperti obat berpotensi untuk meningkatkan atau menurunkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penilaian kualitas hidup dilakukan menggunakan kuesioner EORTC QLC-30. Sampel penelitian adalah pasien kanker payudara di Poliklinik Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang selama bulan Maret - Mei 2018 yang memenuhi kriteria inklusi. Data ditransformasikan menjadi skor dengan rentang 0-100 menggunakan rumus transformasi linear, kemudian disajikan berupa nilai mean. Kualitas hidup pasien kanker payudara berdasarkan kelompok skala fungsional dari domain fungsi kognitif (71,09 ± 21,05), fungsi peran (66,65 ± 26,52), fungsi fisik (61,97 ± 22,22), fungsi emosional (60,91 ± 18,24), dan fungsi sosial (51,47 ± 15,24), sedangkan pada kelompok skala gejala dari domain diare (24,41 ± 23,69), konstipasi (26,38 ± 29,36), dyspnea (31,35 ± 31,80), insomnia (42,24 ± 34,26), kesulitan keuangan (48,03 ± 22,24), penurunan nafsu makan (53,00 ± 26,28), nyeri (55,41 ± 20,11), kelelahan (58,59 ± 17,58), dan mual dan muntah (68,00 ± 28,82), terakhir untuk status kesehatan umum/QoL diperoleh 65,03 ± 14,83
Hewan Model Kanker Ovarium untuk Studi Preklinik dan Pengembangan Obat Kanker Ovarium
Treatment for ovarian carcinoma is still far from optimal, animal models are still needed to study human epithelial ovarian cancer. Animal models of ovarian cancer are very important for understanding the pathogenesis of the disease and for testing new treatment strategies. Ovarian carcinogenesis models in mice have been modified and repaired to produce preneoplastic lesions and neoplastic ovaries that are pathogens resembling human ovarian cancer. Although spontaneous ovarian tumors in mice have been reported, some of the shortcomings of existing studies preclude their use as animal models of ovarian cancer. Because of this, many efforts have been made to develop animal models that are relevant for ovarian cancer. Experimental animal models are developed accurately to represent cellular and molecular changes associated with the initiation and development of human ovarian cancer. Accurate experimental models have significant potential in facilitating the development of better methods for early detection and treatment of ovarian cancer. Several animal models of ovarian cancer have been reported, including manipulation of various reproductive factors or exposure to carcinogens. The latest advance in ovarian cancer modeling is using genetically engineered mice.Pengobatan pada karsinoma ovarium masih jauh dari optimal, model hewan masih diperlukan untuk mempelajari kanker ovarium tipe epitelial manusia. Hewan model kanker ovarium sangat penting untuk memahami patogenesis penyakit dan untuk menguji strategi pengobatan baru. Model karsinogenesis ovarium pada tikus telah dimodifikasi dan diperbaiki untuk menghasilkan lesi preneoplastik dan neoplastik ovarium yang secara patogen menyerupai kanker ovarium manusia. Meskipun tumor ovarium spontan pada tikus telah dilaporkan, namun beberapa kekurangan dari penelitian yang telah ada menghalangi penggunaannya sebagai hewan coba model kanker ovarium. Karena itu, banyak upaya telah dilakukan untuk mengembangkan model hewan yang relevan untuk kanker ovarium. Model-model hewan coba dikembangkan secara akurat agar dapat mewakili perubahan seluler dan molekuler yang terkait dengan inisiasi dan perkembangan kanker ovarium manusia. Model hewan coba yang akurat memiliki potensi signifikan dalam memfasilitasi pengembangan metode yang lebih baik untuk deteksi dini dan pengobatan kanker ovarium. Beberapa model hewan coba kanker ovarium telah dilaporkan, termasuk manipulasi berbagai faktor reproduksi atau paparan karsinogen. Kemajuan terbaru dalam pemodelan kanker ovarium adalah menggunakan tikus yang direkayasa genetika
Pengaruh Crude Fukoidan dari Ekstrak Sargassum crassifolium terhadap Kadar ICAM-1 dan VCAM-1 pada Sel Raw 264.7 yang Diinduksi Lipopolisakarida
Inflammation is the response of vascular tissue to infection and damaged tissue to remove agents that cause inflammation. Macrophages are the dominant cells in the inflammatory reaction. Adhesion of leukocytes to vascular endothelium is a main feature of the inflammatory process. The presence of adhesion molecules, such as ICAM-1 and VCAM-1, can lead to adhesion of monocytes and lymphocytes to endothelial cells via bonding adhesion molecules to endothelial cells. Crude fukoidan derived from Sargassum crassifolium taken from Garut waters and extracted with dilute HCl, tested for anti-inflammatory activity through inhibition of ICAM-1 and VCAM-1 using lipopolysaccharide-induced RAW 264.7 cell models. The viability test was carried out in the concentration range of 0.49-1000 µg / mL. The pattern of inhibition of cell proliferation is influenced by concentration. The highest concentration that caused cell viability of 80% was the concentration of 86.46μg / ml. Crude fukoidan reduced ICAM-1 and VCAM-1 levels at concentrations of 50 and 25 μg / ml.. Percent inhibition of ICAM-1 at 50 µg / mL concentration was 61.04% compared to control and 74.26% at 25 µg / mL concentration. While the percent inhibition of VCAM-1 aInflamasi adalah respon jaringan pembuluh darah terhadap infeksi dan jaringan yang rusak untuk menghilangkan penyebab inflamasi. Tapi dalam beberapa kondisi, inflamasi dapat menyebabkan timbulnya penyakit kronis, seperti aterosklerosis. Adesi leukosit ke endotelium vaskular merupakan ciri proses inflamasi Adanya molekul adesi, seperti ICAM-1dan VCAM-1 yang meningkat dapat menyebabkan adesi monosit dan limfosit pada sel endotel melalui ikatan molekul adesi pada sel endotel. Crude fukoidan berasal dari Sargassum crassifolium yang diambil dari perairan Garut dan diekstraksi dengan HCl encer, diuji aktivitas antiinflamasi melalui penghambatan kadar ICAM-1 dan VCAM-1 menggunakan model sel RAW 264.7 yang diinduksi inflamasi dengan lipopolisakarida. Uji viabilitas dilakukan dengan metode MTT pada rentang konsentrasi 0,49-1000 µg/mL. Pola penghambatan proliferasi sel dipengaruhi oleh konsentrasi. Dari uji viabilitas didapat konsentrasi tertinggi yang menyebabkan viabilitas sel sebesar 80% adalah konsentrasi crude fukoidan 86,46 μg/ml. Crude fukoidan terbukti dapat menurunkan kadar ICAM-1 dan VCAM-1 pada konsentrasi 50 dan 25 μg/ml. Persen penghambatan kadar ICAM pada konsentrasi 50 µg/mL adalah 61,04% dibanding kontrol inflamasi dan 74,26% pada konsentrasi 25 µg/mL. Sementara persen penghamabatan kadar VCAM-1 pada konsentrasi 50 µg/mL adalah74,76% dibanding kontrol inflamasi dan 79,94% pada konsentrasi 25 µg/mL