JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Uji Antidiare Granul dari Ekstrak Etanol Daun Kratom (Mytragina specioca Korth) terhadap Mencit Putih Jantan (Mus musculus L)
Indonesian medicinal plants have been used as traditional medicine (herbal medicine), standardized herbal medicines or phytopharmaca. Kratom leaf ethanol (Mitragyna speciose Korth) has Escherichia coli bacterial activity with a concentration of 5%. Kratom leaf extract granules. Ethanol extract of kratom leaf (Mitragyma specioca Korth) has activity against male white mice (Mus musculus L) as antidiarrheal and know the time used for granules of kratom leaf ethanol extract (Mitragyma specioca Korth) and the dosage which gives activity to white mice (Mus musculus L) as antidiarrheal and know the time used for granules of kratom leaf ethanol extract (Mitragyma specioca Korth) and the dosage which gives activity to white mice (Mus musculus L) as antidiarrheal, Kratom leaf extract granule was tested to white male mice with a concentration without active substance (blank) formula 1 as a negative control and using active ingredient kratom leaf extract formula II using a concentration of 0.4%, Formula III concentration 0.5 % and formula IV with a concentration of 0.6% using loperamid HCL as a positive control Method of randomized block design (True Experimental Post Only Control Group) 6 hours of observation time with variations seen were organoleptic, consistency, frequency and stool weight. kratom 0.4% has antidiarrheal activity with a time of 330 minutes.Tanaman obat Indonesia telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional (jamu), obat herbal terstandar ataupun fitofarmaka. Etanol daun kratom (Mitragyna speciose Korth) memiliki aktivitas bakteri Escherichia coli dengan konsentrasi 5%. Granul ekstrak daun kratom. Ekstrak etanol daun kratom (Mitragyma specioca Korth) memiliki aktivitas terhadap mencit putih jantan (Mus musculus L) sebagai antidiare dan mengetahui waktu yang digunakan untuk granul ekstrak etanol daun kratom (Mitragyma specioca Korth) dan dosis yang memberikan aktivitas terhadap mencit putih (Mus musculus L sebagai antidiare. Sediaan granul ekstrak daun kratom di uji ke hewan mencit jantan putih dengan konsentrasi tanpa zat aktif (blanko) formula 1 sebagai kontrol negatif dan menggunakan zat aktif ekstrak daun kratom formula II menggunakan konsentrasi 0,4 % , Formula III konsentrasi 0,5 % dan formula IV dengan konsentrasi 0,6 % menggunakan loperamid HCL sebagai kontrol positif. Metode rancangan acak kelompok (True Experimental Post Only Control Group) waktu pengamatan 6 jam dengan variasi yang dilihat adalah organoleptis, konsistensi,frekuensi dan bobot feses. Granul ekstrak daun kratom 0,4 % memiliki aktivitas sebagai antidiare dengan waktu 330 menit
Efektivitas Meropenem-Levofloxacin dengan Meropenem-Amikasin terhadap LOS & Leukosit Pasien Pneumonia Komuniti Stratifikasi III RASPRO
Administration of antibiotics in the private hospital "X" adopted a concept called RonaldIrwanto Antimicrobial Steweardship Program (RASPRO). The suggestion of an empirical antibioticcombination in type III stratifi cation community pneumonia patients was meropenem-levofl oxacinor meropenem-amikasin. The aim of the study was to determine the eff ect of empirical antibioticcombination meropenem-levofl oxacin with meropenem-amikacin to RASPRO type III stratifi cationcommunity pneumonia patients towards the LOS and decreased leukocytes. The test sample calculatedusing diff erence between two population proportions formula and analysed using Chi-square method.Diabetes mellitus, immobilisation and geriatrics as confounding variables were controlled by logisticregretion multivariate analysis. The results showed that meropenem-levofl oxacin had a tendency 1.81times to experience LOS < 5 days and 0.92 times to experience decreased leukocytes ≥ 10% comparedto meropenem-amikacin, but both were not signifi cant (p 0.161 and p 0.835). The result control ofconfounding variables were found that geriatrics as a meaningful confounding variable eff ect of LOSand no confounding variables were considered to aff ect the decreased leukocytes. In conclusion, thereis no eff ect of empirical antibiotic combination meropenem-levofl oxacin with meropenem-amikacintowards the LOS and decreased leukocytes to RASPRO type III stratifi cation community pneumoniapatients using statistics after controlling the confounding variables.Rumah sakit swasta “X” yang berlokasi di Jakarta, memiliki angka kejadian pneumonia komuniti mencapai 253 kasPemberian antibiotika di rumah sakit swasta “X” menerapkan konsep bernama RonaldIrwanto Antimicrobial Steweardship Program (RASPRO). Saran kombinasi antibiotika empiris padapasien pneumonia komuniti dengan stratifi kasi tipe III antara lain menggunakan kombinasi meropenem- levofl oxacin atau meropenem - amikasin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruhkombinasi antibiotika empiris meropenem - levofl oxacin dengan meropenem - amikasin pada pasienpneumonia komuniti stratifi kasi tipe III RASPRO terhadap LOS dan penurunan leukosit. Sampeluji dihitung menggunakan rumus perbedaan dua proporsi dan dianalisa menggunakan metode Chisquare. Variabel perancu diabetes mellitus, imobilisasi dan geriatri dikontrol berdasarkan uji analisamultivariat regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi meropenem - levofl oxacinmemiliki kecenderungan 1,81 kali untuk mengalami LOS < 5 hari dan 0,92 kali untuk mengalamipenurunan leukosit ≥10% dibandingkan meropenem - amikasin, namun keduanya tidak signifi kan (p0,161 dan p 0,835). Hasil kontrol variabel perancu ditemukan bahwa geriatri sebagai variabel perancuyang bermakna dalam mempengaruhi LOS dan tidak ada variabel perancu yang dianggap dapatmempengaruhi penurunan leukosit. Sebagai kesimpulan, tidak terdapat pengaruh kombinasi antibiotikaempiris meropenem - levofl oxacin dengan meropenem - amikasin terhadap LOS & penurunan leukositpada pasien pneumonia komuniti stratifi kasi tipe III RASPRO dengan menggunakan statistik setelahmengontrol variabel perancu.us selama tahun 2017 dan mencapai 270 kasus di tahun 2018. Pemberian antibiotika di rumah sakit tersebut menerapkan konsep bernama Ronald Irwanto Antimicrobial Steweardship Program (RASPRO) yang menuntun dokter untuk melakukan stratifikasi pasien sebelum memberikan antibiotika. Saran kombinasi antibiotika empiris pada pasien pneumonia komuniti dengan stratifikasi tipe III antara lain menggunakan kombinasi antibiotika meropenem - levofloxacin atau meropenem – amikasin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pengaruh kombinasi antibiotika empiris meropenem - levofloxacin dengan meropenem - amikasin yang diterapkan pada pasien pneumonia komuniti stratifikasi tipe III RASPRO di rumah sakit “X” terhadap LOS dan penurunan leukosit. Sampel uji pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus perbedaan dua proporsi. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dan sampel yang diperoleh secara retrospektif dari rekam medik dianalisa menggunakan metode Chi square untuk mengetahui perbandingan pengaruh kombinasi antibiotika empiris meropenem - levofloxacin dengan meropenem - amikasin terhadap LOS dan penurunan leukosit. Untuk mengurangi pengaruh variabel perancu diabetes mellitus (DM), imobilisasi dan geriatri dalam kriteria inklusi dikontrol berdasarkan uji analisa multivariat regresi logistik. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan software SPSS Statistics. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi antibiotika empiris meropenem – levofloxacin memiliki kecenderungan 1,81 kali untuk mengalami LOS < 5 hari dan 0,92 kali untuk mengalami penurunan leukosit ≥10% dibandingkan dengan meropenem – amikasin, namun keduanya tidak signifikan (p 0,161 dan p 0,835). Hasil kontrol variabel perancu ditemukan bahwa geriatri sebagai variabel perancu yang bermakna dalam mempengaruhi LOS dan tidak ada variabel perancu yang dianggap dapat mempengaruhi penurunan leukosit. Sebagai kesimpulan, tidak terdapat pengaruh dari pemberian kombinasi antibiotika empiris meropenem - levofloxacin dengan meropenem - amikasin terhadap LOS & penurunan leukosit pada pasien pneumonia komuniti stratifikasi tipe III RASPRO di rumah sakit “X” dari Januari 2018 hingga Desember 2019 dengan menggunakan statistik setelah mengontrol variabel perancu
Evaluasi Pelayanan Pemantauan Terapi Obat di Rumah Sakit X Tangerang
Therapeutic Drug Monitoring (TDM) is a clinical practice to increase the effectiveness of therapy and minimize the risk of adverse drug reactions (ADR). The purpose of this study is to describe the implementation of TDM, and whether it is in accordance with the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia (Permenkes) Number 72 of 2016 concerning pharmaceutical service standards at hospitals and the evaluation of TDM services conducted by pharmacists on inpatients. This research covers a descriptive study with a collection of retrospective data from TDM documents of inpatients during the period of January–May 2016 at X Hospital, Tangerang. The implementation of TDM by pharmacists based on the standards was 73%. The number of patients who met the inclusion criteria were 50 patients. Based on the diagnosis of the disease, patients with the potential of receiving TDM were patients with hypertension (10 patients; 20%), congestive heart failure (9 patients; 18%), and diabetes mellitus (8 patients; 16%). Whereas patients with both potential drug interaction and prescribed with more than 10 drugs was 29 patients (58%), patients with both potential drug interaction and diagnosed with three types of diseases was 19 patients (38%). The implementation of TDM in accordance with pharmaceutical service standards requires the competence of clinical pharmacist pharmacists with 2 years work experience. Potential drug interactions can be controlled by prioritizing TDM based on the number of drugs, complications of the disease and type of disease.Pemantauan terapi obat (PTO) merupakan suatu kegiatan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD). Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kesesuaian pelaksanaan PTO dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit dan mengevaluasi pelaksanaan PTO yang dilakukan apoteker terhadap pasien rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan dokumen PTO pasien rawat inap selama periode Januari – Mei 2016 di rumah sakit X Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian pelaksanaan PTO oleh apoteker berdasarkan standar adalah 73%. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 50 pasien. Profil potensi pasien yang mendapatkan PTO berdasarkan diagnosis penyakit adalah hipertensi 10 pasien (20%), gagal jantung kongestif 9 pasien (18%) dan diabetes mellitus 8 pasien (16%). Profil potensi terjadinya interaksi obat berdasarkan resep dengan jumlah obat lebih dari sepuluh adalah 29 pasien (58%). Profil potensi terjadinya interaksi obat pada pasien yang terdiagnosis lebih dari tiga macam penyakit adalah 19 pasien (38%). Pelaksanaan PTO sesuai standar pelayanan kefarmasian membutuhkan kompetensi apoteker farmasi klinik dengan pengalaman 2 tahun kerja. Potensi interaksi obat dapat dikontrol dengan melakukan prioritas PTO berdasarkan jumlah obat, komplikasi penyakit dan jenis penyakit
Sifat Fisikokimia dan Aktivitas Antioksidan Crude Fukoidan Hasil Ekstraksi dari Sargassum cinereum
Brown seaweed has been known as a fucoidan source that has various biological activities. Fucoidan could be obtained by various extraction methods. This study aims to extract, characterize and to evaluate the antioxidant activity of crude fucoidan extracted from Sargassum cinereum. Extraction was carried out by refluxing at 100oC for 4 and 5 hours and then precipitated with ethanol. The crude fucoidan was brown powder. The yield with 4 hours extraction time was 2.78% which did not differ significantly from the 5 hours extraction time. Phytochemical screening of crude extract showed that beside fucoidan there were flavonoids, saponins, steroids, triterpenoids, and tannins. The extraction with duration of 4 hours and 5 hours had sulfate content of 16.31% and 11.22%, total carbohydrate content were 22.94% and 22.85%, and in the FTIR spectrum showed OH absorption bands of carbohydrates, fucose, sulfates and uronic acid. Testing of antioxidant activity using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhyrazyl) free radical inhibition method produced IC50 values of 721.9 µg/ml and 749.9 µg/ml respectively and it was concluded that crude fucoidan of Sargassum cinereum had weak antioxidant activity.Rumput laut coklat telah dikenal sebagai sumber fukoidan yang memiliki berbagai aktivitas biologi. Fukoidan bisa diperoleh dengan berbagai cara ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi, mengkarakterisasi dan menguji aktivitas antioksidan crude fukoidan hasil ekstraksi dari Sargassum cinereum. Ekstraksi crude fukoidan dilakukan dengan merefluks pada suhu 100oC dengan lama waktu 4 dan 5 jam kemudian diendapkan dengan etanol. Hasil ekstraksi berupa serbuk coklat kehitaman. Rendemen dengan lama ekstraksi 4 jam sebesar 2,78% yang tidak berbeda bermakna dengan lama ekstraksi 5 jam. Penapisan fitokimia terhadap crude fukoidan menunjukkan bahwa selain fukoidan, terdapat senyawa golongan flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid, dan tannin. Hasil ekstraksi 4 jam dan 5 jam memiliki kadar sulfat sebesar 16,31% dan 11,22%, kadar karbohidrat total 22,94 % dan 22,85%, dan pada spektrum FTIR menunjukkan pita serapan OH dari karbohidrat, fukosa, sulfat, dan asam uronat. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH (1,1- difenil 2-pikrihidrazil) menghasilkan nilai IC50 untuk ekstrak 4 jam dan 5 jam sebesar 721,9 µg/ml dan 749,9 µg/ml. Dapat disimpulkan bahwa crude fukoidan Sargassum cinereum memiliki aktivitas antioksidan yang lemah
Stabilitas Fisik Transethosome Kurkumin yang Menggunakan Kombinasi Surfaktan Tween 60 dan Span 60
Curcumin has low solubility in water and has low stability so that a drug delivery system is needed
that can overcome these problems. One delivery system that can be used to overcome these problems is
transethosome. Transethosome is composed of several component, one of them is surfactant. Surfactant is a component that can help improve the stability of the transethosome system so that in this study research was conducted on the eff ect of the use of a combination of surfactants (tween 60 and span 60) on the physical stability of transethosome curcumin. In this study used a combination of tween 60 and span 60 with a ratio of 1: 2, 1: 1, 2: 1 at a concentration of 5%. Transethosome formed then characterized include organoleptic, viscosity, particle size and particle size distribution, zeta potential, adsorption effi ciency and pH. Transethosome characteristics were observed for 8 weeks to see the physical stability of the transethosome. The results at week 0 indicate that the transethosome formed a suspension with orange color and smelled of phosphatidylcholine with the highest viscosity in formula 3, has a particle size of 1-1000 nm, polydispersity 0-0.571, has a negative zeta potential value, has an absorption effi ciency above 80 % and pH 8.5-10.0. Physical stability test results show the use of a combination of tween 60 and span 60 with rasio 3:1 (F3) can improve the physical stability of transethosome curcumin.Kurkumin memiliki kelarutan yang rendah di dalam air serta memiliki stabilitas yang rendah sehingga
diperlukan suatu sistem penghantaran obat yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah transethosome. Transethosome tersusun dari beberapa komponen salah satunya surfaktan. Surfaktan merupakan komponen yang dapat membantu meningkatkan stabilitas sistem transethosome sehingga pada penelitian ini dilakukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan kombinasi surfaktan (tween 60 dan span 60) terhadap stabilitas fi sik transethosome kurkumin. Pada penelitian ini digunakan kombinasi tween 60 dan span 60 dengan perbandingan 1:2, 1:1, 2:1 pada konsentrasi 5%. Transethosome yang terbentuk kemudian dikarakterisasi meliputi organoleptis, viskositas, ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel, potensial zeta, efi siensi penjerapan dan pH. Pengamatan karakteristik transethosome dilakukan selama 8 minggu untuk melihat stabilitas fiisik dari transethosome. Hasil pada minggu ke 0 menunjukkan bahwa transethosome yang terbentuk suspensi dengan warna orange dan berbau khas fosfatidilkolin, dengan viskositas tertinggi pada formula 3, memiliki ukuran partikel 1-1000 nm, polidispersitas 0-0,571, memiliki nilai potensial zeta negatif, memiliki efi siensi penjerapan diatas 80% dan pH 8,5-10,0. Hasil uji stabilitas fisik menunjukkan penggunaan kombinasi tween 60 dan span 60 dengan perbandingan 3:1 (F3) dapat meningkatkan stabilitas fi sik transethosome kurkumi
Preparasi dan Karakterisasi Mikrokapsul Asam Mefenamat Menggunakan Polimer Natrium Alginat dengan Metode Gelasi Ionik
Mefenamic acid belongs to a class of the non-steroidal anti-infl ammatory drugs that work asan analgesic. Mefenamic acid is sensitive to the light and temperature, also has unpleasant odors andtastes. Microencapsulation technology is a technique where the active substance is coated by a thin layerso that the active substance is protected from environmental infl uences. The aim of this research was toformulate and characterize mefenamic acid in the form of microcapsule using ionic gelation methodswith sodium alginate. Preparation was done by comparing the concentrations of sodium alginatepolymers namely, 1%, 2%, and 3%. Success parameters include the entrapment effi ciency, particleshape, particle size distribution, and dissolution. The results on the entrapment effi ciency using UVVISspectrophotometer showed a concentration of 1% polymer has a high value of 94.02%, for particleshapes using the optical microscope showed that three formulas were spherical with the smallest particlesize distribution was 1266 μm. The dissolution test by type II dissolution test showed that the higherthe concentration of polymer used, the slower the drug release. This research provides an alternativeformulation of mefenamic acid microcapsule by using sodium alginate polymer.Asam mefenamat termasuk dalam golongan obat anti infl amasi non-steroid yang bekerjasebagai analgetik. Asam mefenamat rentan terhadap pengaruh cahaya serta suhu dan memiliki baudan rasa yang kurang enak. Teknologi mikroenkapsulasi merupakan teknik dimana zat aktif dilapisioleh lapisan tipis sehingga zat aktif terlindung dari pengaruh lingkungan. Tujuan dari penelitian iniuntuk memformulasi dan mengkarakterisasi asam mefenamat dalam bentuk mikrokapsul menggunakanmetode gelasi ionik dengan polimer natrium alginat. Preparasi dilakukan dengan membandingkankonsentrasi polimer natrium alginat yakni, 1%, 2%, dan 3%. Parameter keberhasilan meliputi efi siensipenjerapan, bentuk partikel, distribusi ukuran partikel, dan disolusi. Hasil pada efi siensi penjerapanmenggunakan alat spektofotometer UV-VIS menunjukkan konsentrasi polimer 1% memiliki nilaiefi siensi penjerapan yang tinggi yakni sebesar 94,02%, pengamatan bentuk partikel menggunakanmikroskop optik menunjukkan bahwa ketiga formula berbentuk sferis dengan distribusi ukuran partikelterkecil yakni 1266 μm. Uji disolusi menggunakan alat disolusi tipe II menunjukkan bahwa semakintinggi konsentrasi polimer yang digunakan maka pelepasan obat akan semakin lambat. Penelitian inimemberikan alternatif formulasi mikrokapsul asam mefenamat menggunakan polimer natrium alginat
Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Bawang Sabrang (Eleutherine americana) terhadap Shigella dysentriae dan Salmonela enteritidis
The bacteria Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis are gram-negative bacteria in the family Enterobactericeae that cause gastroenteritis. Sabrang onion (Eleutherine americana) is a family Iridaceae, containing flavonoids, alkaloids and saponins. The aims of this study was to determine the antibacterial ablitiy and contact time of ethanol extracts sabrang onion on Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis.
Research methods of Laboratory experimental. The antibacterial ability of sabrang onions was measured by the agar diffusion modification method and contact time was measured based on the minimum kill concentration values of Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis. Research data analyzed with One way ANOVA.
The results of ethanol extract of Sabrang onion have antibacterial ability against Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis, there is a correlation between the concentration of Sabrang onion extract on inhibition zone diameter. The contact time for Shigella dysentriae showed ethanol extract of Sabrang on minimal kill concentration with an 8 hour contact time had a bactericidal effect with the result of a decrease in the number of bacteria 1000 times on the initial inoculum. The bactericidal effect on Salmonella enteritidis shows ethanol extract of Sabrang onions at a minimum kill concentration with contact time of 5 and 10 minutes.
Ethanol extract of Sabrang onion has antibacterial ability against Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis. There are differences in the antibacterial effects of ethanol extracts of Sabrang onions against Shigella dysentriae and Salmonella enteritidis at the same contact time with different minimum kill concentration.Bakteri Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis merupakan bakteri gram negatif dalam famili Enterobactericeae penyebab gastroenteritis. Bawang sabrang (Eleutherine americana) adalah family Iridaceae, mengandung flavonoid, alkaloid dan saponin. Tujuan penelitian mengetahui daya antibakteri dan waktu kontak dari ekstrak etanol bawang sabrang terhadap Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis.
Metode penelitian eksperimental laboratorium. Daya antibakteri bawang sabrang diukur dengan metode modifikasi difusi agar, sedangkan waktu kontak diukur berdasarkan nilai konsentrasi bunuh minimal Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis. Data penelitian dianalisis dengan One way anova .
Hasil penelitian ekstrak etanol bawang sabrang mempunyai daya antibakteri terhadap Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis, terdapat korelasi antara konsentrasi ekstrak bawang sabrang terhadap diameter zona hambat. Waktu kontak terhadap Shigella dysentriae menunjukan ekstrak etanol bawang sabrang pada konsentrasi bunuh minimal dengan waktu kontak 8 jam mempunyai efek bakterisidal dengan hasil laju penurunan jumlah bakteri 1000 kali terhadap inokulum awal. Efek bakterisidal terhadap Salmonella enteritidis menunjukan ekstrak etanol bawang sabrang pada konsentrasi bunuh minimal dengan waktu kontak 5 dan 10 menit.
Ekstrak etanol bawang sabrang memiliki daya antibakteri terhadap Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis. Terdapat perbedaan efek antibakteri ekstrak etanol bawang sabrang terhadap Shigella dysentriae dan Salmonella enteritidis pada waktu kontak yang sama dengan konsentrasi bunuh minimal yang berbeda
Pengembangan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi yang Sederhana untuk Analisis Kurkumin dalam Plasma Manusia In-Vitro
Curcumin has antioxidant, antiinfl ammatory, antitumor, apoptotic-inducing, andantiangiogenesis eff ects. In order to study the pharmacokinetics of curcumin, a method for analysisof curcumin in plasma levels is required. The aim of this study was developing of a simple HighPerformance Liquid Chromatography (HPLC) for analysis curcumin in human plasma in-vitro. TheHPLC system was using isocratic technique in column reversed phase of C18 (Reliant® RP-18ecolumn (4.6x250 mm; 5 μm)) and mobile phase of acetonitrile–acetic acid–aquabidest (60:1:39) at fl owrate of 1.0 mL/min. Irbesartan was used as an internal standard. Detector was performed at a wavelengthof 428 nm for curcumin and 270 nm for irbesartan. Linearity test shown linear results with a correlationcoeffi cient (r) of 0.9970. LLOQ value was 0.0196 μg/mL with a diff erentiation value of 10.48-18.09%.The accuracy and precision of this method met requirement with a diff erentiation value and relativestandard deviation of between -5.51-3.04 % and 1.04-1.86 %, respectively. Recovery of this method was94.74-103.12%. This method provides good selectivity for the analysis curcurmin in human plasma.The developed of HPLC was a simple and valid method for analysis curcumin in human plasma.Kurkumin memiliki efek antioksidan, antiinfl amasi, antitumor, meningkatkan apoptosis,dan antiangiogenesis. Untuk mempelajari farmakokinetika kurkumin, diperlukan metode analisiskadar kurkumin dalam plasma. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan Kromatografi CairKinerja Tinggi (KCKT) yang sederhana untuk analisis kurkumin dalam plasma manusia secara invitro.Sistem KCKT menggunakan teknik isokratik pada fase terbalik kolom C18 (kolom Reliant® RP-18e (4,6x250mm; 5 μm)) dan fase gerak asetonitril-asam asetat-akuabides (60:1:39) pada laju alir 1,0mL/menit. Irbesartan digunakan sebagai standar internal. Detektor dilakukan pada panjang gelombang428 nm untuk kurkumin dan 270 nm untuk irbesartan. Uji linearitas menunjukkan hasil linear dengankoefi sien korelasi (r) sebesar 0,9970. Nilai LLOQ adalah 0,0196 μg/mL dengan nilai diferensiasi10,48-18,09%. Akurasi dan presisi metode ini memenuhi persyaratan dengan nilai diferensiasi danstandar deviasi relatif masing-masing antara -5,51-3,04% dan 1,04-1,86%. Recovery metode ini adalah94,74-103,12%. Metode ini memberikan selektivitas yang baik untuk analisis kurkumin dalam plasmamanusia. Metode KCKT yang dikembangkan sederhana dan valid untuk analisis kurkumin dalamplasma manusia
Formulasi Gel Transfersom Limbah Kulit Bawang Merah (Allium cepa. L) menggunakan Perbandingan Fosfolipid dan Surfaktan
Red onion tunic waste contains quercetin which has anti-inflammatory activity. The formulation of anti-inflammatory preparations with the transdermal route is a solution towards the effect of gastrointestinal in the oral route. Transfersome is a nano vesicle particle that can increase the penetration of transdermal formulation. This study aims to characterize red onion tunic waste transfersome based on the ratio of phospholipids and surfactants used. The formulation of the best transfersome will be made into gel based formulation and the particle will be evaluated. Transfersome is made in 3 formulas namely Formula 1 (F1) with a ratio of phospolipids:surfactant (90:10), F2 (85:15), and F3 (70:30). This characterization included particle size distribution, potential zeta, entraptment efficiency, deformability index, and vesicle morphology. The best transfersome formulas are then formulated into gel preparations. The results showed that the best transfersome formula was F1 (90:10), with an average particle size of 357.9 ± 6.3 nm, zeta potential of -24.9 ± 0.9 and the entraptment efficiency results reached 77.964%. The morphology of the vesicles produced is spherical according to the expected vesicle criteria, but in gel-based formulation, the particle size not distributed homogenously.Kulit bawang merah mengandung kuersetin yang memiliki aktivitas sebagai anti inflamasi. Sediaan anti inflamasi rute transdermal merupakan solusi terhadap efek samping gastrointestinal pada rute oral. Transfersom merupakan vesikel berukuran nano yang mampu meningkatkan penetrasi sediaan rute transdermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi transfersom limbah kulit bawang merah berdasarkan perbandingan fosfolipid dan surfaktan yang digunakan. Selanjutnya formula transfersom terbaik akan dibuat dalam bentuk sediaan gel dan dievaluasi ukuran partikelnya. Transfersom dibuat dalam 3 formula yaitu Formula 1 (F1) dengan perbandingan fofolipid:surfaktan (90:10), F2 (85:15),dan F3 (70:30). Karakterisasi transfersom yang dilakukan meliputi distribusi ukuran partikel, zeta potensial, efisiensi penjerapan, indeks deformabilitas, dan morfologi vesikel. Formula transfersom terbaik selanjutnya diformulasi menjadi sediaan gel. Hasil penelitian menunjukan bahwa formula transfersom terbaik adalah F1 (90:10), dengan rata-rata ukuran partikel 357,96,3 nm, zeta potensial -24,90,9 dan hasil efisiensi penjerapan mencapai 77,964%. Morfologi vesikel yang dihasilkan berbentuk spheris sesuai kriteria vesikel yang diharapkan. Tetapi pada sediaan gel, ukuran partikel tidak terdistribusi secara homogen