JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Uji Aktivitas Antidiare Infusa Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L.) pada Mencit Jantan Swiss Webster dengan Metode Oleum Ricini
Diarrhea is a condition in which a person defecates with a soft or liquid consistency, which can evenbe water. Diarrhea can be treated with drugs derived from plants, one of which is white pomegranate skin. Theskin of white pomegranate (Punica granatum L.) is thought to have anti-diarrheal activity because it has fl avonoidsand tannins. This study aims to determine the activity and optimal dose of pomegranate skin infusion.Mice were grouped into 5 groups: negative control (Na CMC 0.5%), positive control (Loperamid HCl), andpomegranate peel infusion test group with a dose of 8 mg / 20 g mice BW, 16 mg / 20 g weight mice and 32 mg./ 20 gr BB mouse. Mice induced diarrhea with Oleum ricini, 30 minutes later the mice were given a test preparation.The onset of diarrhea, stool consistency, diarrhea frequency, duration of diarrhea and stool weight weremeasured every 30 minutes for 6 hours. The results showed that the fi rst dose (8 mg / 20 gr BW of mice) wasthe optimal dose for the initial parameters of diarrhea and fecal weight, which means that there was a signifi cantdiff erence with negative control and positive control (<0.05). The parameters of stool consistency, frequency ofdiarrhea and duration of occurrence of diarrhea showed no signifi cant diff erence between groups of 8 mg / 20 gmice BW, 16 mg / 20 g mice BW and 32 mg / 20 g mice BW, negative control and positive control (p> 0, 05).Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair,bahkan dapat berupa air. Diare dapat diatasi secara tradisional dengan obat dari tanaman, salah satunya kulit buah delima putih. Kulit buah delima putih (Punica granatum L.) diduga memiliki aktivitas antidiare karena memiliki Flavonoid dan Tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan dosis optimal infusa kulit buah delima. Mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok, kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kontrol positif (Loperamid HCl), dan kelompok uji infusa kulit buah delima dosis 8 mg/20 g BB mencit, 16 mg/20 g BB mencit dan 32 mg/20 g BB mencit. Mencit diinduksi diare dengan Oleum ricini, 30 menit kemudian mencit diberikan sediaan uji. Awal terjadinya diare, konsistensi feses, frekuensi diare, lama terjadinya diare dan bobot feses diukur setiap 30 menit selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 5 parameter uji antidiare, infusa kulit buah delima putih (Punica granatum L.) memiliki aktivitas antidiare pada parameter awal terjadinya diare dan bobot feses, dimana dosis 1, 2 dan 3 memiliki aktivitas meningkatkan awal terjadinya diare dan menurunkan bobot feses. Dosis 2 merupakan dosis optimal yang bisa meningkatkan awal terjadinya diare dengan nilai sig. 0.030 dan menurunkan bobot feses dengan nilai sig. 0.001
Analisis Peresepan Obat Formularium Nasional Berdasarkan Kesesuaian Restriksinya di Rumah Sakit Umum Daerah Sawah Besar Tahun 2018
Health services provided to the public in the implementation of the National Health Insurance (NHI) includepromotional, preventive, curative and rehabilitative. In supporting the implementation of NHI, it is necessaryto make eff orts to ensure the availability, aff ordability and accessibility of medicines through the application of the National Formulary (Fornas) as a reference in health services in all health facilities. The purpose of this study was to determine the percentage of prescription drugs in accordance with the National Formulary at Sawah Besar Hospital in 2018. The research design descriptive analysis and data collection was carried out retrospectively in the form of prescribing drugs and from the Hospital Management Information System and Patient Medical Record data. This research was conducted with a sample size of around 19.690 recipes and a length of 6 months of research from July 2018 to December 2018. From the results of the study pattern of prescription writing against the suitability of the National Formulary was 71.22%. Compatibility of 75% antihyperlipidemic drugs with atorvastatin as the drug with the most non-conformity of restrictions. The conformity of antihypertension drugs 54.11% with Valsatran as one of the inconsistencies in restriction and insulin drugs, 70.03% the antihyperglycemia drug restriction inconsistencies.Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat dalam pelaksanaan Jaminan KesehatanNasional (JKN) mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Dalam mendukungpelaksanaan JKN perlu adanya upaya untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan aksesibilitas obatmelalui penerapan Formularium Nasional (Fornas) sebagai acuan dalam pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persentase peresepan obat sesuai dengan Formularium Nasional di RSUD Sawah Besar tahun 2018. Desain penelitian deskrptif analisis dan pengambilan data dilakukan secara retrospektif berupa peresepan obat dan dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) serta data Rekam Medis pasien. Penelitian ini dilakukan dengan besar sampel sekitar 19.690 resep dan lama penelitian 6 (enam) bulan dari bulan Juli 2018 sampai Desember 2018. Dari hasil penelitian didapatkan data bahwa pola penulisan resep terhadap kesesuaian Formularium Nasional (Fornas) sangat rendah 71,22%. Dari kesesuaian Fornas dilihat terhadap tiga kelas terapi: hiperlipidemia, hipertensi, hiperglikemia. Kesesuaian obat hiperlipidemia 75% dengan obat atorvastatin sebagai obat dengan ketidak sesuaian restriksi terbanyak.Kesesuaian obat antihipertensi 54,11% dengan obat valsatran sebagai salah satu ketidaksesuaian dalam restriksidan obat-obat insulin sebagai penyumbang ketidaksesuaian restriksi pada obat hipeglikemia sebanyak 70,03%
Formulasi Gel Antijerawat Dengan 1,5-Bis(3’-Etoksi-4’-Hidroksifenil)-1,4-Pentadien-3-On (EHP) Sebagai Bahan Antibakteri
Acne is a skin disease that causes non-inflammatory follicular papules, nodules, pustules and inflammatory papules. There are various oral and topical anti-acne preparations on the market. Gels are topical preparations that have better absorption than cream preparations. The anti-acne gel is formulated with antibacterial active compounds. The compound 1,5-bis(3’-ethoxy-4’-hydroxyphenyl)-1,4-pentadien-3-one (EHP) is one of the curcumin analogue compounds that have been successfully synthesized by Mumpuni et al, 2010. EHP has the potential to inhibit growth of pathogenic microbes such as Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli and Salmonella typhi, and has anti-inflammatory activity. This study aims to make an anti-acne gel formula with the active ingredient EHP as an antimicrobial agent. The formula was tested for physical and chemical stability including organoleptic, spreadability, homogeneity, viscosity, flow properties, microbiological activity and skin irritation ability. EHP is formulated in gel preparations in various concentrations. Stability test of gel preparations was carried out at a temperature of 40 °C; RH ± 75% for 4 weeks.The results showed that EHP can be formulated into gel preparations that meet the physical and chemical quality requirements. Gel preparations with the active ingredient EHP 0.1%; tretionine 0.01%; carbopol 940 1.0%; triethanolamine 1.0%; propylenglycol 15%; ethanol (96%) 10%; can inhibit the Propionibacterium acnes bacteria with a diameter of 19.6 mm in the inhibition area, the skin irritation test of rabbits does not cause irritation, thus the gel preparation with the active ingredient EHP is suitable to be developed as an anti-acne gel product.Jerawat merupakan penyakit kulit yang menyebabkan papula folikuler non-inflamasi, nodul, pustule dan radang papula. Di pasaran terdapat berbagai sediaan antijerawat oral maupun topikal. Gel merupakan sediaan topikal yang mempunyai daya absorpsi yang lebih baik daripada krim. Gel anti jerawat diformulasi dengan senyawa aktif antibakteri. Senyawa 1,5-bis(3’-etoksi-4’-hidroksifenil) 1,4-pentadien-3-on (EHP) adalah salah satu senyawa analog kurkumin yang telah berhasil disintesis oleh Mumpuni dkk, 2010. EHP berpotensi menghambat pertumbuhan mikroba patogen seperti Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Escherichia coli dan Salmonella tyhpi, serta memiliki aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan membuat formula gel antijerawat dengan bahan aktif EHP sebagai agent antimikroba. Formula diuji stabilitas fisika dan kimia meliputi organoleptik, daya sebar, homogenitas, viskositas, sifat alir, aktivitas mikrobiologi serta kemampuan iritasi kulit. EHP diformulasikan dalam sediaan gel dalam berbagai konsentrasi.Uji stabilitas sediaan gel dilakukan pada suhu 40 °C; RH ± 75% selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan EHP dapat diformulasikan menjadi sediaan gel yang memenuhi persyaratan mutu fisika dan kimia. Sediaan gel dengan bahan aktif EHP 0.1%; tretionin 0,01%; carbopol 940 1,0%; trietanolamin 1,0%; propilenglikol 15%; etanol (96%) 10%; dapat menghambat bakteri Propionibacterium acnes dengan nilai diameter daerah hambat sebesar 19,6 mm, uji iritasi terhadap kulit kelinci tidak menimbulkan iritasi, dengan demikian sediaan gel dengan bahan aktif EHP layak dikembangkan sebagai produk gel antijerawat
Formulasi dan Aktivitas Antibakteri Gel Ekstrak Daun Murbei (Morus alba L.) terhadap Staphylococcus aureus
Mulberry leaves (Morus alba L.) contain quercetin, a flavonoid compound with antibacterial activity against Staphylococcus aureus. For convenience, dosage accuracy, and hygiene, a gel formulation with a mixture of carbopol and propylene glycol is required. This study aimed to determine the right concentration of carbopol and propylene glycol to obtain a gel with good physical properties and antibacterial activity on Staphylococcus aureus. Mulberry leaf extract was obtained by maceration method. A factorial design method was used to optimize carbopol and propylene glycol concentrations. The parameters of gel physical properties were the viscosity, spreadability, adhesion, and pH test. The optimal area was determined by creating a contour plot of the parameters test result. Validation of the optimum formula was by comparing the prediction result to the actual research result. The data were analyzed using SPSS with a 95% confidence level. The results showed that the concentration of carbopol and propylene glycol was 1.04% and 7.85%, 1832.42 ± 62.48 cP viscosity, 5.96 ± 0.08 cm spreadability, 64.63 ± 0.97 seconds of adhesion, and pH 5.26 ± 0.03. The antibacterial test showed an inhibitory power with 28.67 ± 0.76 mm. From the teat result, it can be concluded that the gel had antibacterial activity and good physical properties.Daun murbei (Morus alba L.) mengandung kuersetin yang merupakan senyawa flavonoid dengan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Untuk mempermudah penggunaan, ketepatan dosis, dan higienitas diperlukan formulasi gel dengan campuran karbopol dan propilen glikol. Penelitian bertujuan menentukan konsentrasi karbopol dan propilen glikol yang tepat agar diperoleh gel dengan sifat fisik yang baik serta memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak daun murbei diperoleh dengan metode maserasi. Optimasi konsentrasi karbopol dan propilen glikol menggunakan metode factorial design. Parameter sifat fisik gel yang diukur meliputi uji viskositas, daya sebar, daya lekat, dan pH. Area optimal ditentukan dengan membuat contour plot hasil uji parameter tersebut. Validasi formula optimum dilakukan oleh peneliti dengan membandingkan hasil predicted dan actual. Data uji sifat fisik gel dan antibakteri dianalisis menggunakan SPSS one sample t-test dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi karbopol 1,04% dan propilen glikol sebesar 7,85%, memiliki viskositas sebesar 1832,42 ± 62,48 cP, daya sebar 5,96 ± 0,08 cm, daya lekat 64,63 ± 0,97 detik, dan pH 5,26 ± 0,03. Uji antibakteri menunjukkan adanya daya hambat dengan diameter sebesar 28,67 ± 0,76 mm. Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa gel ekstrak daun murbei memiliki sifat fisik gel yang baik serta memiliki aktivitas antibakteri
Isolasi Fungi Tanah Kabupaten Situbondo serta Skrining Aktivitas Antibakteri Terhadap Pseudomonas Aeruginosa
Bacterial resistance to antibiotics is a serious concern. The search for new antibacterial compoundsfrom medicinal plants can result in overexploitation of natural ingredients. Therefore, it is necessary to search for new alternative sources. This study was aimed to fi nd new antibacterial agents derived from soil fungi isolated from swampy soil in the Pasir Putih Beach area of Situbondo Regency in inhibiting Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa). Isolation was carried out using Potato Dextrose Agar (PDA) dissolved in sea water. The isolation results showed that 5 isolates fungi. The fungi IS-STB-III-4 and IS-STB-III-5 have the potential to inhibit bacterial using antagonist tests. Potential soil fungi were fermented for 14 days and extracted with ethyl acetate as a solvent. The extraction results were dissolved in 10% DMSO with a concentration series of 1000 μg /mL, 2000 μg/mL, 4000 μg/mL, 6000 μg/mL, 8000 μg/mL which will be used for antibacterial activity test using the disc diff usion method. The extract activity test showed results that were directly proportional to the extract concentration. The analysis and profi ling of the extract using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) instrument showed that the extract contained alkaloids which were then isolated and identifi ed by HPLC.Resistensi agen antibakteri terhadap bakteri menjadi perhatian serius. Pencarian senyawa antibakteribaru dari tanaman obat dapat mengakibatkan eksploitasi bahan alam secara berlebihan. Oleh karena itu pencarian sumber alternatif baru perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari agen antibakteri baru yang berasal dari fungi tanah yang diisolasi dari tanah rawa di kawasan Pantai Pasir Putih Kabupaten Situbondo dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa). Isolasi dilakukan dengan media Potato Dextrose Agar (PDA) yang dilarutkan dalam air laut. Hasil dari isolasi didapatkan 5 isolat fungi. Fungi dengan kode IS-STBIII- 4 dan IS-STB-III-5 memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan uji antagonis. Fungi tanah potensial dilakukan fermentasi selama 14 hari dan dilakukan ekstraksi dengan pelarut etil asetat. Hasil ekstraksi dilarutkan dalam pelarut DMSO 10% dengan seri konsentrasi 1000 μg/mL, 2000 μg/mL, 4000 μg/mL, 6000 μg/mL, 8000 μg/mL yang akan digunakan sebagai larutan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Hasil uji aktivitas ekstrak menunjukan hasil yang berbanding lurus dengan konsentrasi ekstrak. Hasil analisis dan profi ling senyawa dalam ekstrak dengan instrumen Kromatografi Cepat Kinerja Tinggi (KCKT) menunjukan bahwa ekstrak mengandung alkaloid yang kemudian diisolasi dan diidentifi kasi dengan KCKT
Efek Ekstrak Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens) untuk Mengurangi Ketombe pada Kulit Kepala
Gynura procumbens is a medicinal plant commonly used in Asian countries such as China, Thailand, Indonesia, Malaysia, and Vietnam. G. procumbens content flavonoids and glycosides and have bacteria activity and anti-fungal activity such as Candida albicans and Aspergillus niger. The purpose of this study was to obtain empirical data about the effect of using the G. procumbens leaves extract on reducing dandruff on the scalp. The extract was obtained by the maceration method using 70% ethanol solvent. The phytochemical compound content is determined with spectrophotometry ultraviolet. Two observers observe the scalp by using observation sheets and grating instruments assisted by a skin and hair analyzer. The reduction of scalp dandruff was the difference between the initial the results and the final test (after treatment). The sample was selected using a purposive sampling technique totaling ten people and divided into two groups (experimental and control groups). The results showed that the calculation of hypothesis testing after analyzing the data obtained a value of t count (5.817)>t table (1.86). This showed an effect of using the G. procumbens leaves extract as a shampoo for reducing dandruff on the scalp. The use of G. procumbens leaves extract as shampoo can reduce dandruff.Gynura procumbens merupakan tanaman obat yang umum digunakan di negara-negara Asia seperti China, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. G. procumbens mengandung flavonoid dan glikosida serta memiliki aktivitas sebagai anti jamur seperti Candida albicans dan Aspergillus niger. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang pengaruh penggunaan ekstrak daun G. procumbens terhadap pengurangan ketombe pada kulit kepala. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Penetapan kadar senyawa fitokimia dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Pengamatan kulit kepala dilakukan oleh dua ahli dengan menggunakan lembar observasi dengan menggunakan alat analisa kulit dan rambut. Kondisi ketombe kulit kepala diamati pada saat sebelum perawatan dan setelah perawatan setiap perlakuan. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 10 orang dan dibagi menjadi dua kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol). Hasil perhitungan pengujian hipotesis setelah dilakukan analisis data diperoleh nilai t hitung (5,817)>t tabel (1,86). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan ekstrak daun G. procumbens sebagai sampo untuk mengurangi ketombe pada kulit kepala. Penggunaan ekstrak daun G. procumbens sebagai sampo dapat mengurangi ketomb
Pemberian Serbuk Kelopak Rosella Merah yang Diseduh Mampu Mencegah Penurunan HDL Pada Sprague dawley yang Dipapar Jelantah
Lipid metabolism disorder is caused by waste cooking oil that is one of the source of exogenous free radicals. Publics know the utilization of red rosella calyx is used as a brew that contains antioxidants. Purpose of this research is to find out the effect of giving brewed red rosella calyx to rat lipid metabolism caused by waste cooking oil on High-density Lipoprotein (HDL) value. This research used 24 male rats which were selected by random sampling and divided into 4 groups: positive control (2 ml kg/BW waste cooking oil given), negative control (without treatment), treatment 1 (2 ml/kg BW waste cooking oil given and giving of 540 mg/kg BW brewed red rosella calyx), and treatment 2 (2 ml/kg BW waste cooking oil given and giving of 810 mg/kg BW brewed red rosella calyx). One-way Analysis of Variance (α = 0.01) and Tukey honestly significant difference test showed that HDL p-value = 0.00. All groups have a significant effect on HDL. The best value is giving of 810 mg/kg BW dose of brewed red rosella calyx (HDL of 57.47 mg/dl). Giving of brewed red rosella calyx dose of 540 mg/kg BW (EC50 = 407.52 bpj) and red rosella calyx dose 810 mg/kg BW (EC50 = 247.82 bpj) can prevent HDL decrease. Red rosella calyx can improve the lipid profile of waste cooking oil treated to Sprague Dawley rats (especially for HDL on this research).Gangguan metabolisme lipid disebabkan minyak jelantah yang merupakan sumber radikal bebas eksogen. Masyarakat mengetahui penggunaan kelopak bunga rosella merah sebagai minuman yang mengandung antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kelopak bunga rosella merah pada metabolissme lipid tikus yang disebabkan oleh minyak jelantah terhadap nilai HDL (High-density Lipoprotein). Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus jantan yang dipilih menggunakan pengambilan sampel acak dan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kontrol positif (2 ml kg/BB minyak jelantah diberikan), kontrol negatif (tanpa perlakuan), perlakuan 1 (2 ml/kg BB minyak jelantah diberikan dan pemberian 540 mg/kg BB seduhan kelopak bunga rosella merah), dan perlakuan 2 (2 ml/kg BB minyak jelantah diberikan dan pemberian 810 mg/kg BB seduhan kelopak bunga rosella merah). One-way Analysis of Variance (α = 0,01) dan uji Tukey honestly significant difference menunjukkan bahwa nilai p HDL = 0,00. Semua kelompok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap HDL. Nilai terbaik adalah pemberian seduhan kelopak rosella merah 810 mg/kg BB dosis (HDL 57,47 mg/dl). Pemberian kelopak bunga rosella merah yang diseduh sejumlah dosis 540 mg/kg BB (EC50 = 407,52 bpj) dan 810 mg/kg BB (EC50 = 247,82 bpj) dapat mencegah penurunan HDL. Kelopak rosella merah dapat memperbaiki profil lipid minyak jelantah yang diolah pada tikus Sprague Dawley (khususnya HDL pada penelitian ini)
Produk Esktraseluler Isolat Kapang Endofi t C.1.1 dan C.3.3 dari Ranting Cempaka Kuning (Michelia champaca L.) Sebagai Antimikroba
Michelia champaca L. is known to have effi cacy as an antimicrobial, antioxidant, and anticancer.In general, endophytic fungi that live in plant tissues is capable of producing secondary metabolites as theirhost plant. The objective of this research is to examine the antimicrobial potential of endophytic mold isolates C.1.1 and C.3.3 from yellow cempaka branches (Michelia champaca L.). Isolates obtained from previous research, fi rst was rejuvenated on PDA. Fermentation was carried out on each isolate for 12 days. The fermented supernatant was then extracted partially with n-hexane, ethyl acetate, and n-butanol solvent. The extract was then concentrated and tested for antimicrobial activity using disk diff usion and microdilution methods. N-butanol extract of endophytic fungi isolates of yellow champaca branches was able to inhibit the microbial growth with the largest inhibition area in isolate C.1.1 in Staphylococcus aureus ATCC 6538 (12.26 mm), Escherichia coli ATCC 8739 (11.40 mm), Candida albicans ATCC 10231 (10.50 mm), and Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (11.30 mm) with Minimum Inhibitory Concentration and Minimum Concentration of 12,5% . It was concluded that both endophytic fungi isolates of yellow champaca branches had the potential to inhibit the growth of pathogenic microbes.empaka Kuning (Michelia champaca L.) adalah tanaman yang diketahui memiliki khasiat sebagai antimikroba, antioksidan, dan antikanker. Secara umum kapang endofi t yang hidup di dalam jaringan tanaman dapat menghasilkan senyawa yang memiliki khasiat sama dengan tumbuhan inangnya. Penelitian ini bertujuanuntuk menguji potensi antimikroba isolat kapang endofi t C.1.1 dan C.3.3 dari ranting cempaka kuning (Micheliachampaca L.). Isolat yang telah didapat dari penelitian sebelumnya, diremajakan terlebih dahulu pada mediaPDA. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada setiap isolat selama 12 hari. Supernatan hasil fermentasidiekstraksi secara partisi dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan n-butanol. Ekstrak kemudian dipekatkan dandiuji aktivitas antimikroba dengan kombinasi dua metode yaitu metode difusi cakram dan mikrodilusi. Ekstrakn-butanol isolat kapang endofi t ranting cempaka kuning mampu menghambat pertumbuhan mikroba dengannilai diameter daerah hambat terbesar pada isolat C.1.1 terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538 (12.26mm), Escherichia coli ATCC 8739 (11.40 mm), Candida albicans ATCC 10231 (10.50 mm), dan Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (11.30 mm) dengan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi BunuhMinimum sebesar 12,5%. Disimpulkan bahwa kedua isolat kapang endofi t ranting cempaka kuning memilikipotensi dalam menghambat pertumbuhan mikroba patogen
Optimasi Perolehan DNA Mikrobioma yang Diekstraksi dari Mekonium dan Feses Neonatus Prematur untuk diaplikasikan pada Next-Gen Sequencing 16S rRNA
The composition of the intestinal microbiome of neonates can be identified from meconium and feces by Next-Generation Sequencing (NGS) technology. However, the yield of microbiome DNA of meconium and feces has its own challenges due to the consistency and the high content of PCR inhibitors in these samples. This study aims to optimize the yield of microbiome DNA from meconium sample and feces of pre-term neonates. The DNA yield was obtained by applying certain optimized parameters, i.e., considering the replication and condition of the sample, using a particular kit for DNA extraction, and modifying the DNA elution of the column purification. The genomic DNA obtained was quantified and confirmed using Polymerase Chain Reaction. Results showed that the best DNA yield was achieved by replicating the number of samples twice in the pre-extraction stage, working on fresh meconium and feces samples instead, and suspended the sample in ddH2O prior to extraction process as observed on agarose gel visualization with UV trans-illuminator, as well as in quantitative measurement by a nano spectrophotometer. The best extraction process was using MP Biomedical FastDNA Spin Kit for Soil, in addition to the use of an elution buffer in a smaller volume, resulting in a higher concentration and purity of DNA. In conclusion, we were able to obtain an optimized yet reliable DNA yields, especially from meconium, which fulfilled the quality and quantity requirement for further sequencing process of microbiome.Komposisi mikrobioma usus pada neonatus prematur dapat diidentifikasi dari mekonium dan feses dengan teknologi Next-Generation Sequencing (NGS). Akan tetapi, perolehan DNA mikrobioma sampel mekonium dan feses memiliki tantangan karena konsistensi serta kandungan inhibitor PCR yang tinggi pada sampel tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimasi perolehan DNA mikrobioma dari mekonium dan feses neonatus. Proses perolehan DNA dilakukan dengan menerapkan optimasi parameter yaitu pertimbangan tahap pra-ekstraksi yaitu replikasi dan kondisi sampel, penggunaan pilihan kit ekstraksi, dan tahap elusi DNA hasil ekstraksi. DNA genomik yang diperoleh dikuantifikasi serta dikonfirmasi menggunakan Polymerase Chain Reaction. Hasil optimasi terbaik berdasarkan pengamatan visual kualitas DNA dengan agaros gel dan transiluminator UV, maupun secara kuantitas yang diukur dengan spektrofotometer nano adalah dengan replikasi jumlah sampel sebanyak 2 kali lipat, menggunakan sampel mekonium dan feses yang segar, dan terlebih dahulu disuspensikan menggunakan ddH2O untuk tahap-tahap pra-ekstraksi. Kit terbaik untuk ekstraksi DNA adalah MP Biomedical Fast DNA Spin Kit for Soil, serta penggunaan dapar elusi dengan volume yang lebih sedikit untuk menghasilkan konsentrasi serta kemurnian DNA yang lebih tinggi. Dapat disimpulkan bahwa perolehan DNA yang andal terutama dari sampel meconium berhasil teroptimasi untuk memenuhi kualitas dan kuantitas DNA untuk tahap selanjutnya dengan teknologi sekuensing mikrobioma
Penyesuaian Dosis Digoxin pada Pasien Gagal Jantung di RSUD Margono Soekardjo Purwokerto
Due to the high prevalence of heart failure in Indonesia causes the use of digoxin is increasing. The drug level in blood needs to be monitored because digoxin is a narrow therapeutic index drug. It is necessary to adjust the dose in the patient, so that clinical outcomes are achieve and toxic effects can be avoided if the estimated drug levels in the blood do not match the therapeutic range. The maintenance dose of oral digoxin is 0.0625 - 0.125 mg / day for heart failure patients and it is expected that the therapeutic range of digoxin in the blood range from 0.5 to 0.9 ng / ml. The purpose of this study was to determine the estimation of digoxin levels in blood in patients with heart failure and the calculation of dosage adjustments using a pharmacokinetic approach so that blood levels of drugs ware in the therapeutic range. This research employs a quantitative observational method conducted prospectively by using a total sampling technique. The results showed that the digoxin level of 4 patients (13,33%) were in the range of therapeutic range (0,50 – 0,90 ng/ml) and 26 patients (86,67%) exceed the therapeutic range (>1,00 ng/ml). Digoxin dose adjustment was made in 26 patients (86,67%) individually with an interval of every 24 hours in order to achieve Css according to the therapeutic range. Based on the results it can be concluded that in heart failure patients who have blood digoxin levels exceed the therapeutic range need dose adjustments to improve clinical outcomes and prevent toxicity in patients.Tingginya prevalensi penyakit gagal jantung di Indonesia menyebabkan penggunaan obat digoxin semakin meningkat. Digoxin merupakan obat indeks terapi sempit yang perlu dilakukan pemantauan kadar obat dalam darah. Apabila estimasi kadar obat dalam darah tidak sesuai kisaran terapetik maka diperlukan penyesuaian dosis pada pasien, sehingga outcome klinis tercapai dan efek toksik dapat dihindari. Dosis pemeliharaan digoksin oral adalah 0,0625 – 0,125 mg/hari untuk pasien gagal jantung dan diharapkan kadar kisaran terapetik digoksin dalam darah berkisar 0,5-0,9 ng/ml. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi kadar digoxin dalam darah pada pasien gagal jantung dan perhitungan penyesuaian dosis secara pendekatan farmakokinetika agar kadar obat dalam darah sesuai kisaran terapetik. Metode penelitian ini adalah observasional kuantitatif yang dilakukan secara prospektif. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah pasien yang berada dalam kisaran terapeutik (0,50 – 0,90 ng/ml) sebanyak 4 pasien (13,33%) dan jumlah pasien yang berada diluar kisaran terapeutik (>1,00 ng/ml) sebanyak 26 pasien (86,67%). Penyesuaian dosis digoxin dilakukan kepada 26 pasien (86,67%) secara individual dengan interval pemberian tiap 24 jam agar dapat mencapai Css sesuai kisaran terapetik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien gagal jantung yang memiliki estimasi kadar obat dalam darah tidak sesuai kisaran terapetik perlu adanya penyesuaian dosis untuk meningkatkan outcome clinic dan mencegah kejadian toksisitas pada pasien