JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
670 research outputs found
Sort by
Standardisasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bahan Alam Propolis untuk Terapi Infeksi SARS-CoV2
Natural ingredients with immunomodulatory, anti-inflammatory, and antioxidant activities can be used as supportive therapy for SARS-CoV2 infection. The aims were standardized the quality and safety of propolis and determined the antioxidant activity of propolis. There are two types of propolis powder samples: microencapsulated propolis powder containing wax (SMPW) and non-waxed (SMP). Standardization includes specific and non-specific parameters. Antioxidant activity test using FRAP and ABTS methods. The total flavonoids of SMPW and SMP were 0.31% and 1.59%. The total phenolic of SMPW and SMP were 83.9082 and 98.0821 mg GAE/g. The losses on drying of SMPW and SMP were 3.65% and 3.88%. The water content of SMPW and SMP were 5.12% and 5.11%. The total ash content of SMPW and SMP were 0.80% and 0.65%. Heavy metal propolis powder negative. ALT and AKK values < 10 CFU/g, microbiology contamination was negative. Antioxidant activity of SMPW with IC50 ABTS 2.4177 ppm and EC50 FRAP 26.41 g/mL. Meanwhile, the antioxidant activity of SMP with IC50 ABTS 2.213 ppm and EC50 FRAP 32.10 g/mL. It was concluded that the extract of propolis met the requirements of the standard for extracts of natural ingredients and had strong antioxidant activity. Propolis powder can be developed for supportive therapy for SARS-CoV2 infection.Bahan alam dengan aktivitas imunomodulator, antiinflamasi, dan antioksidan dapat digunakan sebagai terapi suportif infeksi SARS-CoV2. Tujuan penelitian standardisasi mutu dan keamanan propolis sebagai bahan baku obat terapi suportif Covid-19 serta uji aktivitas propolis sebagai antioksidan. Sampel serbuk propolis terdiri dari dua jenis: serbuk mikroenkapsulasi propolis mengandung wax (SMPW) dan non wax (SMP). Standardisasi meliputi parameter spesifik dan non spesifik. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode FRAP dan ABTS. Kadar total flavonoid SMPW dan SMP sebesar 0,31% dan 1,59%. Kadar total fenolik SMPW dan SMP sebesar 83,9082 dan 98,0821 mg GAE/g. Susut pengeringan SMPW dan SMP sebesar 3,65% dan 3,88%. Kadar air SMPW dan SMP sebesar 5,12% dan 5,11%. Kadar abu total SMPW dan SMP sebesar 0,80% dan 0,65%. Logam berat serbuk propolis negatif. Nilai ALT dan AKK < 10 CFU/g, cemaran E. Coli, S. aureus, Salmonella spp dan P. aeruginusa negatif. Aktivitas antioksidan SMPW dengan IC50 ABTS 2,4177 bpj dan EC50 FRAP 26,41 μg/mL. Sedangkan, aktivitas antioksidan SMP dengan IC50 ABTS 2,213 bpj dan EC50 FRAP 32,10 μg/mL. Disimpulkan ekstrak bahan alam propolis memenuhi persyaratan standard ekstrak bahan alam dan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Serbuk EBA propolis dapat dikembangkan menjadi bahan baku untuk OHT terapi suportif infeksi SARS-CoV2
Studi Klinik Khasiat dan Keamanan Sediaan Tablet Ekstrak Dibanding Rebusan Ramuan Hiperurisemia
Hyperuricemia is a metabolic disorder that is often found in the community, and requires long-termtreatment. To determine the effi cacy and safety of the hyperuricemia herbs, clinical studies have been carried out on the effi cacy and safety of tablet preparations compared to boiled of the hyperuricemia herbs. The clinical study was conducted with an open label research design, randomized clinical study and parallel design. The study involved 55 subjects who had met the inclusion and exclusion criteria. Subjects were randomized and divided into groups of tablets or boiled with intervention for 28 days. The tablet group took tablets with a dose of 3x2 tablets per day and the boiled group drank infusion with a dose of 3 times a glass per day. Blood uric acid was examined at D0, D14 and D28. SGOT, SGPT, urea, and creatinine were examined at D0 and D28. The tablet reduced uric acid (7.74 mg/dL to 6.53 mg/dL) and the boiled reduced uric acid (7.93 mg/dL to 7.09 mg/dL). The administration of tablet preparations eliminates the clinical symptoms of swollen/pain of leg, swollen/pain of hand, stiff ness, pain and other symptoms at the deff erent time than boiled administration. The administration of both preparations for 28 days in the subjects did not increase the value of SGOT, SGPT, urea and creatinine and no symptoms of serious side eff ects were found.Hiperurisemia merupakan penyakit gangguan metabolik yang sering ditemukan di masyarakat, danmemerlukan pengobatan jangka panjang. Untuk mengetahui khasiat dan keamanan ramuan hiperurisemia,telah dilakukan study klinik khasiat dan keamanan sediaan tablet dibanding rebusan ramuan hiperurisemia.Study klinik dilakukan dengan rancangan penelitian open label randomized clinical study dan paralel design.Penelitian melibatkan 55 orang dengan hiperurisemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek mengikuti randomisasi sehingga terbagi dalam kelompok tablet atau rebusan dengan intervensi selama 28 hari. Kelompok tablet minum tablet dengan dosis 3x2 tablet per hari dan kelompok rebusan minum infusa rebusan dengan dosis 3 kali satu gelas per hari. Dilakukan pemeriksaan asam urat darah pada H0, H14 dan H28 dan pemeriksaan laboratorium SGOT, SGPT, ureum, dan kreatinin pada H0 dan H28. Sediaan tablet rata rata menurunkan asam urat (7,74 mg/dL menjadi 6,53 mg/dL) dan sediaan rebusan rata rata menurunkan asam urat (7,93 mg/dL menjadi 7,09 mg/dL). Pemberian sediaan tablet menghilangkan gejala klinis bengkak/nyeri kaki, bengkak/nyeri tangan, pegel linu dan gejala lainnya terjadi pada waktu yang berbeda dengan pada pemberian rebusan. Pemberian kedua sediaan selama 28 hari pada subjek tidak menaikkan nilai SGOT, SGPT, ureum dan kreatinin serta tidak ditemukan gejala efek samping yang serius
Hubungan Ketepatan Peresepan Antibiotik dengan Metode Gyssens dengan Perbaikan Klinis Pasien Rawat Inap Pneumonia Komunitas
Community-acquired pneumonia is an acute inflammation of the pulmonary parenchyma caused by bacterial infection. . The main therapy for community-acquired pneumonia is the use of antibiotics. Inappropriate antibiotics can lead to bacterial resistance. The study aims to determine Appropriateness of antibiotics prescribing using the method Gyssens with clinical improvement. This study is a retrospective analytic cohort descriptive. Data was collected retrospectively based on medical records of inpatients at one of the hospital in Yogyakarta for the January-December 2019 period based. The accuracy of empiric antibiotic prescription using the Gyssens method. The clinical improvements observed were leukocyte count, temperature, respiratory rate. This study was analyzed using the chi square method. The results showed 41 patients met the inclusion and exclusion criteria, male gender (51.2%), age> 60 years 68.3%, the average length of stay was five days. Ceftriaksone is a commonly used antibiotic. Evaluation prescribing appropriateness based on the Gyssens method of 52 antibiotic regimens. appropriate antibiotic prescribing (13.5%) and inappropriate (86.5%). The correlation between appropriateness of antibiotics prescribing with clinical improvement leukocytes count, respiratory rate and temperature did not significant (p> 0.05). There was no correlation between the accurasy of antibiotics prescribing based on the Gyssens method with clinical improvement.Pneumonia komunitas merupakan peradangan akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh infeksi kuman. Standar terapi utama untuk pneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan kejadian resistensi bakteri. Tujuan penelitian untuk mengetahui ketepatan peresepan antibiotik menggunakan metode Gyssens serta melihat hubungannya dengan perbaikan klinis. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif analitik yang bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medik pasien rawat inap di salah satu rumah sakit swasta Yogyakarta periode Januari-Desember 2019. Ketepatan peresepan antibiotik empiris dievaluasi menggunakan metode Gyssens. Perbaikan klinis yang diamati berupa jumlah leukosit, frekuensi pernapasan dan suhu. Analisis data menggunakan metode Chi-square untuk melihat hubungan ketepatan peresepan antibiotik dengan perbaikan klinis. Hasil penelitian menunjukkan 41 pasien memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, jenis kelamin laki-laki (51,2%), usia>60 tahun 68,3%, length of stay rata-rata lima hari. Seftriakson merupakan antibiotik yang sering digunakan. Evaluasi ketepatan peresepan berdasarkan metode Gyssens diperoleh total 52 regimen antibiotik. Peresepan antibiotik yang tepat (13,5%) dan tidak tepat (86,5%). Uji hubungan ketepatan peresepan antibiotik dengan perbaikan klinis jumlah leukosit, frekuensi pernapasan dan suhu tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna (p>0,05). Tidak didapatkan adanya hubungan bermakna antara ketepatan peresepan antibiotik berdasarkan metode Gyssens dengan perbaikan klinis
Uji Stabilitas Protein Salep Kombinasi Ikan Gabus (Channa striata) dan Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L.) Menggunakan Metode Kjeldahl
The endemic snakehead fish (Channa striata) supposed to speed up wound healing. Antibacterial properties of green betel leaf (Piper betle L.) are well known. Wound healing necessitates moist circumstances and prolonged medication contact. Such the fact that ointment fat-based preparation that can moisturize skin or wound area due to extended contact with the skin, increasing absorbance and effectiveness. Fish protein concentrate high-protein concentrate obtained by eliminating fat and water from fish. One way that can used is freeze drying. Using Kjeldahl method, this study intends investigate protein stability of combination freeze dry ointment extract of snakehead fish (Channa striata) and ethanol extract green betel leaf (Piper betle L.). The data was analyzed using the SPSS version 25 app. On day 28, average protein content of freeze dry ointment and a combination of freeze dry ointment in aqueous phase and ethanol extract of green betel leaf was 6.321 % and 6.630 %, respectively, indicating substantial difference in protein content. As result, the freeze dry ointment including aqueous phase and ethanol extract of green betel leaf more stable and has larger protein content than the freeze dry ointment containing snakehead fish extract.Ikan gabus (Channa striata) secara endemik dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Daun sirih hijau (Piper betle L.) memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penyembuhan luka membutuhkan kondisi yang lembab dan kontak obat yang lebih lama. Salep merupakan sediaan berbahan dasar lemak serta dapat melembabkan kulit atau area luka karena kontaknya yang lebih lama terhadap kulit sehingga absorbansi dan efektivianya meningkat. Konsentrat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dengan cara menghilangkan lemak dan air, sehingga menghasilkan konsentrat protein yang tinggi. Freeze drying merupakan salah satu metode yang dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas kadar protein dalam sediaan salep kombinasi freeze dry ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betle L.) menggunakan metode Kjeldahl. Data dianalisis menggunakan aplikasi SPSS versi 25. Terdapat perbedaan signifikan kadar protein salep freeze dry dengan salep kombinasi freeze dry fase air dan ekstrak etanol daun sirih hijau dengan rata-rata kadar protein pada hari ke 28 adalah 6,321% dan 6,630%, sehingga dapat disimpulkan salep kombinasi freeze dry fase air dan ektrak etanol daun sirih hijau lebih stabil dengan kadar protein yang lebih tinggi dibanding salep freeze dry ekstrak ikan gabus
Formulasi Granul Sereal Daun Kelor dengan Variasi Jenis Pengikat dan Konsentrasi Xanthan Gum
Moringa leaves contain macronutrients and micronutrients, potential to be developed into cereal products in the form of granules using the wet granulation method. The type of binder and the concentration of the suspending agent are the main factors that affect the physical characteristics and proximate content of cereals. In this research, 6 formulas of cereal granules were optimized with various types of binders (arrowroot flour, sorghum flour, cornstarch) and variations in the concentration of xanthan gum (0.5% and 1.0%). This study aims to obtain a granule formula of Moringa leaf cereal that meets the requirements of physical, chemical, proximate, and heavy metal characteristics. The results of the evaluation of the granule characteristics showed that all Moringa leaf cereal formulas had good flow characteristics. The results of the evaluation of cereal characteristics after reconstitution showed that cereal granules dispersed quickly (12.58–16.45 seconds), viscosity 73.75 -245 cps, pseudoplastic flow characteristics, and met the pH requirements of food products (5.00-6.00). The results of proximate analysis and metal content showed that all cereal formulas met the SNI requirements for cereal milk (SNI 01-4270-1996) in terms of protein, carbohydrate, ash, lead (Pb), and copper (Cu) content parameters. The most optimal cereal formula is formula 2 because it shows physical characteristics, fat content, carbohydrates, protein, and heavy metals that meet the requirements, as well as crude fiber content (0.76%) which is closest to the requirements (0.7%).Daun kelor memiliki kandungan makronutrien dan mikronutrien sehingga potensial dikembangkan menjadi produk sereal dalam bentuk granul dengan metode granulasi basah. Jenis pengikat dan konsentrasi suspending agent merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap karakteristik fisik dan kandungan proksimat sereal. Pada penelitian ini dilakukan optimasi 6 formula granul sereal dengan berbagai jenis pengikat (tepung garut, tepung sorghum, tepung maizena) dan variasi konsentrasi xanthan gum (0,5% dan 1,0%). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula granul sereal daun kelor yang memenuhi persyaratan karakteristik fisika, kimia, proksimat, dan kandungan logam berat. Hasil evaluasi karakteristik granul menunjukkan bahwa seluruh formula sereal daun kelor memiliki karakteristik alir yang baik. Hasil evaluasi karakteristik sereal setelah direkonstitusi menunjukkan granul sereal terdispersi secara cepat (12,58–16,45 detik), viskositas 73,75 -245 cps, karakteristik aliran pseudoplastis, dan memenuhi syarat pH produk makanan dan minuman (5,00-6,00). Hasil analisis proksimat dan kadar logam menunjukkan bahwa seluruh formula sereal memenuhi persyaratan SNI susu sereal (SNI 01-4270-1996) ditinjau dari parameter kadar protein, karbohidrat, abu, timbal (Pb), dan tembaga (Cu). Formula sereal yang paling optimal adalah formula 2 karena menunjukkan karakteristik fisik, kadar karbohidrat, protein, abu, dan logam berat yang memenuhi syarat, serta kadar serat kasar (0,76%) yang paling mendekati persyaratan (0,7%)
Pengaruh Formula Jamu Anti-Alergi Terhadap Kualitas Hidup Pasien Rinitis Alergi di Klinik Hortus Medicus Tawangmangu
Allergies are health problems that can affect a person’s quality of life. It is currently unknown whether the use of anti-allergic herbs can improve the quality of life for allergic patients. The purpose of this study was to determine the effect of giving anti-allergic herbs on the quality of life of patients with allergic rhinitis at the Tawangmangu Hortus Medicus Clinic. The design of this research was a pre-post treatment quasi experimental. A total of 55 subjects were given anti-allergic herbal decoction consisting of sembung, javanese chilies, ginger, and nut grass for 4 weeks and drunk 3 times a day. Before the study and on day 28th, the subjects were examined for quality of life using the Short Form-36. The results were analyzed using the Wilcoxon test. The results showed that there was a significant increase in quality of life between before and after drinking anti-allergic herbal medicine (p<0.05), especially for the dimensions of physical function, energy and general health. The conclusion is that anti-allergic herbs can improve the quality of life for allergic rhinitis patients.Alergi merupakan masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Saat ini belum diketahui apakah penggunaan jamu anti-alergi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien alergi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian jamu anti-alergi terhadap kualitas hidup pasien rinitis alergi di Klinik Hortus Medicus, Tawangmangu. Desain penelitian ini adalah eksperimental quasi pre-post treatment. Sebanyak 55 subyek diberikan rebusan jamu anti-alergi yang terdiri dari sembung, cabe jawa, jahe, dan rumput teki selama 4 minggu dan diminum 3 kali sehari. Sebelum penelitian dan pada hari ke 28 subyek diperiksa kualitas hidupnya dengan Short Form-36. Hasil pemeriksaan dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasilnya menunjukkan terdapat peningkatan kualitas hidup yang bermakna antara sebelum dan setelah minum jamu anti-alergi (p<0,05) terutama untuk dimensi fungsi fisik, energi, dan kesehatan umum. Kesimpulannya adalah jamu anti-alergi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien rinitis alergi
Uji Potensi Antijerawat Secara In Vitro dan Ex Vivo dari Ekstrak Etanol Herba Alfalfa (Medicago sativa L.)
Propionibacterium acnes is one of the bacteria that causes acne. Acne problems can be controlled with herbal plants, namely alfalfa herbs. The content of flavonoids in alfalfa herb is efficacious as an antiacne. This study aimed to determine the total flavonoid content and to test the potency of alfalfa herb ethanol extract (AHEE) as an antiacne in vitro and ex vivo induced by Propionibacterium acnes. Determination of total flavonoid levels using the spectrophotometer method with quercetin comparison. Test of alfalfa herbs ethanol extract by in vitro using disk diffusion method in concentration series 40%, 50%, 60%, 70%, and 80%. Meanwhile, test of extract by ex vivo using rabbits induced Propionibacterium acnes bacteria intradermally in 3 optimal concentration from in vitro test (50%, 60%, dan 70%). The parameter of test in the form of zone inhibition and percentage reduction in erythema diameter. Ethanol extract of alfalfa herbs contains total flavonoids of 2,323 mgQE/g. All ethanol extract of alfalfa herbs test concentrations had antibacterial activity against P. acnes with an average diameter of the respective iradic inhibitory area 14,60 mm; 14,89 mm; 15,56 mm; 16,52 mm; and 18,59 mm. The average percentage reduction in erythema diameter by ex vivo on ethanol extract of alfalfa herbs (50%, 60%, and 70%) were 48.70%, 48.26%, and 54.09%, respectively.Bakteri Propionibacterium acnes merupakan salah satu bakteri penyebab jerawat. Permasalahan jerawat dapat dikendalikan dengan tanaman herbal yaitu herba alfalfa. Kandungan flavonoid dalam herba alfalfa berkhasiat sebagai antijerawat. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar flavonoid total serta pengujian potensi ekstrak etanol herba alfalfa (EEHA) sebagai antijerawat secara in vitro dan ex vivo yang diinduksi bakteri Propionibacterium acnes. Penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometer dengan pembanding kuersetin. Pengujian ekstrak etanol herba alfalfa secara in vitro menggunakan metode difusi cakram pada seri konsentrasi 40%, 50%, 60%, 70%, dan 80%. Sementara itu, pengujian ekstrak secara ex vivo menggunakan kelinci yang diinduksi bakteri Propionibacterium acnes secara intradermal pada 3 konsentrasi optimal dari uji in vitro (50%, 60%, dan70%). Parameter pengujian ini berupa diameter daerah hambat dan penurunan diameter eritema. Ekstrak etanol herba alfalfa mengandung flavonoid total sebesar 2,323 mgQE/g. Seluruh konsentrasi ekstrak etanol herba alfalfa memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. acnes dengan rata rata diameter daerah hambat iradikal masing masing 14,60 mm; 14,89 mm; 15,56 mm; 16,52 mm; dan 18,59 mm. Persentase rata-rata penurunan diameter eritema secara ex vivo pada ekstrak etanol herba alfalfa (50%, 60% dan 70%) secara berturut-turut sebesar 48,70%; 48,26% dan 54,09%
Formulasi dan Uji Inhibitor Tirosinase Masker Peel-Off Ekstrak Etanol 96% Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Tyrosinase is an enzyme that is widely distributed in microorganisms, plants and animals. Tyrosinaseis the main enzyme involved in the biosynthesis of melanin. Melanin has a very important role in skin protection, especially against exposure to ultraviolet rays which are harmful to the skin. This study aims to test the tyrosinase inhibitor in the peel-off mask of lime peel extract (Citrus aurantifolia). Lime peel extract is formulated into a peel-off mask with extract content of 0% (F1), 15% (F2) and 25% (F3) respectively and with the gelling agent PVA (Polyvinyl alcohol). The physical stability test was carried out by measuring the pH, the results obtained were F2 pH 6.85 and F3 pH 6.78. The analysis of tyrosinase inhibitor activity was carried out using a UV-Vis spectrophotometer and seen from the percent inhibition value obtained. The percent inhibition results obtained from the peel-off mask of lime extract were 17.89% (F2) and 18.86% (F3). Lime peel has the potential as a tyrosinase inhibitor.Tirosinase merupakan enzim yang secara luas terdistribusi dalam mikroorganisme, tumbuhan danbinatang. Tirosinase adalah enzim utama yang terlibat dalam biosintesis melanin. Melanin mempunyai peran yang sangat penting dalam perlindungan kulit terutama terhadap paparan sinar ultraviolet yang berbahaya bagi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji inhibitor tirosinase pada masker peel-off ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Ekstrak kulit jeruk nipis diformulasikan menjadi masker peel-off dengan kandungan ekstrak masing-masing 0% (F1), 15% (F2) dan 25% (F3) dan dengan gelling agent PVA ( Polivinil alkohol). Uji kestabilan fi sik dilakukan dengan pengukuran pH diperoleh hasil F2 pH 6,85 dan F3 pH 6,78. Analisis aktivitas inhibitor tirosinase dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dilihat dari nilai persen inhibisi yang didapatkan. Hasil persen inhibisi yang diperoleh dari masker peel-off ekstrak jeruk nipis yaitu 17,89 % (F2) dan 18,86 % (F3). Kulit jeruk nipis berpotensi sebagai inhibisi tirosinase
Formulasi Sediaan Nanoemulsi Antiselulit Mengandung Kafein dan Minyak Biji Anggur (Vitis vinifera L.)
Caffeine is a methylxantin derivative that has anti-cellulite activity by increasing lipolysis. Grape seed oil containing oligoproanthocyanidin which can also act as an anti-cellulite. The nanoemulsion system is known could increase percutaneous penetration of lipophilic or hydrophilic compounds such as caffeine. This study aims to develop caffeine nanoemulsion containing grape seed oil and to determine the effect of nanoemulsion formulation on the percutaneous penetration of caffeine. Nanoemulsion preparations were made using grapeseed oil as the oil phase, tween 80 as a surfactant, glycerin as a cosurfactant, with various concentration of caffeine as the active substance (1;1,5;and 2%). The preparations were characterized by organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, rheology, spreadability, %transmittance, globule size distribution, and physical stability testings. The percutaneous penetration test was carried out in vitro using franz diffusion cell. The results showed that the nanoemulsion preparation containing 1% caffeine with 5% of grapeseed oil had good physical characteristics with transparent and homogeneous appearance, Newtonian flow properties, percent transmittance value of 99.17 ± 0.06% and globule size of 101 ± 13 nm. Nanoemulsion was able to increase the penetration of caffeine based on in vitro testing compared to the gel dosage form which were statistically significant (p <0.05).Kafein adalah senyawa turunan metilxantin yang memiliki aktivitas antiselulit dengan mekanisme meningkatkan liposisis. Minyak biji anggur mengandung senyawa aktif oligoproantosianidin yang juga berfungsi sebagai antiselulit. Sistem nanoemulsi diketahui mampu meningkatkan penetrasi perkutan dari senyawa lipofilik ataupun hidrofilik seperti kafein. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan nanoemulsi kafein mengandung minyak biji anggur dengan sifat fisik yang baik dan mengetahui persen penetrasi perkutan kafein dengan pengujian secara in vitro. Sediaan nanoemulsi dibuat menggunakan minyak biji anggur sebagai fasa minyak, tween 80 sebagai surfaktan, gliserin sebagai kosurfaktan, dengan variasi konsentrasi kafein sebagai zat aktif (1; 1,5; dan 2%). Sediaan dikarakterisasi dengan pengujian organoleptis, homogentitas, pH, viskositas, sifat alir, daya sebar, persen transmitan, distribusi ukuran globul, dan uji stabilitas fisik. Uji penetrasi perkutan dilakukan secara in vitro menggunakan sel difusi franz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan nanoemulsi mengandung kafein 1% dengan minyak biji anggur 5% sebagai fasa minyak memiliki karakteristik fisik yang baik dengan penampilan transparan, homogen, sifat alir Newtonian, nilai transmitan 99,17 ± 0,06 %, dan ukuran globul 101 ± 13 nm. Jumlah kafein terpenetrasi pada menit ke-180 berdasarkan pengujian secara in vitro mencapai 88,947 ± 2,828 %. Sediaan nanoemulsi kafein memiliki karakteristik dan stabilitas fisik yang baik
Molekular Docking Senyawa Analog Kalkon sebagai Inhibitor untuk Sel Kanker Paru-Paru A549
Chalcones are compounds derived from nature, it is show the anticancer activity. The aim of thisstudy is to determine the binding free energy (affi nity) and interaction of chalcone derivatives as inhibitors for A549 lung cancer cells using 4HFZ protein as receptors. This study used 10 chalcone derivatives which were selected with three lowest IC50 values, fi ve medium IC50 values and two with higher IC50 values (i.e. more than 100 μg/mL) and 4HFZ protein was used as receptor. The structure of the chalcone derivative is transformed in 3D structure, then the docking process of chalcone compounds with amino acids on the MDM2 receptor (4HFZ) is carried out. The simulation results shown that data in the form of binding free energy value (kcal / mol) shown the stability of ligand interaction of chalcone compounds on amino acids on MDM2 receptors. The docking results shown that, compound 2 is able to bind strongly with MDM2 receptor (4HFZ) and it is also stable because it has a low binding-free energy value of -7.2 kcal / mol, with a RMSD value of 0,000. Construction of some hydrogen bonds is the same as active receptor (gefi tinib), they are Leu54 on the NH2.Senyawa kalkon merupakan senyawa yang berasal dari alam yang sudah terbukti memiliki aktivitassebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui energi bebas ikatan (afi nitas) dan interaksi dari senyawa analog kalkon sebagai inhibitor bagi sel kanker paru A549 dengan protein 4HFZ sebagai reseptor. Penelitian ini menggunakan 10 senyawa analog kalkon yang dipilih dengan tiga nilai IC50 terendah, lima nilai IC50 sedang dan dua nilai IC50 >100 dan menggunakan protein 4HFZ sebagai reseptor. Struktur senyawa analog kalkon ditransformasikan dalam struktur 3D, kemudian dilakukan proses docking senyawa kalkon dengan asam amino pada reseptor MDM2 (4HFZ). Data hasil simuasi berupa nilai energi bebas ikatan (kcal/mol) menunjukkan kestabilan interaksi ligan senyawa kalkon terhadap asam amino pada reseptor MDM2. Hasil docking menunjukkan bahwa dari ke 10 senyawa yang di-docking, senyawa 2 mampu berikatan kuat dengan reseptor MDM2 (4HFZ) dengan ikatan yang stabil. Hal ini disebabkan karena senyawa 2 tersebut memiliki nilai energi bebas ikatan yang rendah yaitu -7,2 kcal/mol, dengan nilai RMSD 0,000 dan terdapat asam amino yang membentuk ikatan hidrogen dengan sisi aktif reseptor yang sama dengan pembanding (gefi tinib) yaitu Leu54 pada gugus fungsi NH2