JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Penapisan Fitokimia dan Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia)

    Get PDF
    Jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan secara luas untuk berbagai penyakit termasuk infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak etanol 70% dan 96% daun Citrus aurantifolia terhadap mikroba penyebab infeksi pada manusia, antara lain Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Escherichia coli, dan Candida albicans secara in vitro. Penapisan fitokimia dilakukan untuk memprediksi metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas antimikroba daun Citrus aurantifolia. Aktivitas antimikroba ditentukan menCitrus aurantifolia S. is a traditional medicinal plant that is widely used for various diseases including infections. This study aims to test the in vitro antimicrobial activity of 70% and 96% ethanolic extract of Citrus aurantifolia leaves to microbes that cause infection in humans, including Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Escherichia coli, and Candida albicans. Phytochemical screening was carried out to predict secondary metabolites that play a role in the antimicrobial activity of Citrus aurantifolia leaves. The antimicrobial activity was determined using agar diffusion method with disc paper and well diffusion method. Phytochemical screening showed that simplicia powder, 70% ethanol extract, and 96% ethanol extract from Citrus aurantifolia leaves contained flavonoids, coumarin, saponins, tannins, steroids / triterpenoids, and essential oils. This study showed that 70% and 96% ethanol extract of Citrus aurantifolia leaves can inhibit the growth of Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, and Escherichia coli bacteria. It can be concluded that the ethanol extract of Citrus aurantifolia leaves is potential to be developed as an antibacterial product.ggunakan metode difusi agar dengan kertas cakram dan metode difusi sumuran. Penapisan fitokimia menunjukkan bahwa baik serbuk simplisia, ekstrak etanol 70%, dan ekstrak etanol 96% dari daun Citrus aurantifolia mengandung metabolit sekunder flavonoid, kumarin, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, dan minyak atsiri. Ekstrak etanol 70% dan 96% daun Citrus aurantifolia dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, dan Escherichia coli. Dengan demikian dapat disimpulkan ekstrak etanol daun Citrus aurantifolia berpotensi dikembangkan sebagai produk antibakteri.  Jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan secara luas untuk berbagai penyakit termasuk infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak etanol 70% dan 96% daun Citrus aurantifolia terhadap mikroba penyebab infeksi pada manusia, antara lain Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Escherichia coli, dan Candida albicans secara in vitro. Penapisan fitokimia dilakukan untuk memprediksi metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas antimikroba daun Citrus aurantifolia. Aktivitas antimikroba ditentukan menggunakan metode difusi agar dengan kertas cakram dan metode difusi sumuran. Penapisan fitokimia menunjukkan bahwa baik serbuk simplisia, ekstrak etanol 70%, dan ekstrak etanol 96% dari daun Citrus aurantifolia mengandung metabolit sekunder flavonoid, kumarin, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, dan minyak atsiri. Ekstrak etanol 70% dan 96% daun Citrus aurantifolia dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, dan Escherichia coli. Dengan demikian dapat disimpulkan ekstrak etanol daun Citrus aurantifolia berpotensi dikembangkan sebagai produk antibakteri

    Studi Formulasi, Stabilitas dan Efektivitas Gel Hand Sanitizer Ekstrak Etanol 80% Akar Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L.) Merr.)

    Get PDF
    Hand sanitizer gel is a practical preparation method for hand sanitizers. Repeated use of hand sanitizers with chemical antiseptics can cause irritation and dry skin, so natural antiseptics could be used as an alternative to overcome these problems. Akar Kuning contains berberine alkaloid compounds, flavonoids, saponins, and terpenoids, which possess antibacterial properties. This study aims to develop a gel hand sanitizer for Akar Kuning with various gelling agents. Evaluation of the formula included organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesion, hedonic test, and freeze-thaw stability. The effectiveness of the gel preparation was measured using the replica method. The results showed that the ethanolic extract of Akar Kuning contains alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids. Based on the ANOVA analysis (sig < 0.05), there were significant differences in the characteristics of gel hand sanitizers. The stability test showed that formula one and formula. Three formulas were stable based on the analysis of the paired sample t-test. The optimal formula for hand sanitizer gel with 80% ethanol extract of Akar Kuning is formula one, which has an effect of 40.33% to reduce the number of bacteria.Gel hand sanitizer merupakan sediaan hand sanitizer yang praktis untuk digunakan. Penggunaan hand sanitizer secara berulang dengan antiseptik kimia dapat menyebabkan iritasi dan kulit kering, sehingga antiseptik alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Akar kuning mengandung alkaloid berberin, flavonoid, saponin, dan terpenoid yang memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan gel hand sanitizer akar kuning dengan variasi gelling agent. Evaluasi formula meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, uji hedonik, dan uji stabilitas freeze-thaw. Efektivitas sediaan gel diukur menggunakan metode replika. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol akar kuning mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Berdasarkan analisis ANOVA (sig < 0,05), terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik gel hand sanitizer. Uji stabilitas menunjukkan bahwa formula satu dan formula tiga merupakan formula yang stabil berdasarkan analisis uji T Paired Sample. Formula optimum gel hand sanitizer ekstrak etanol 80% akar kuning adalah formula satu yang memiliki efektifitas 40,33% untuk menurunkan jumlah bakteri

    Content

    No full text

    Analisis Efektivitas Biaya Seftriakson sebagai Antibiotik Profilaksis Pada Seksio Sesarea: Dosis Tunggal Versus Dosis Berulang

    Get PDF
    The provision of single-dose prophylactic antibiotics within 30 to 60 minutes before caesarean has been highly recommended, yet its implementation in hospitals varies considerably. This research aimed to analyze the cost-effectiveness of prophylactic antibiotics given a single dose versus multiple doses during caesarean section surgery. A retrospective observational study with a crosssectional design involved pregnant women undergoing caesarean section and receiving a ceftriaxone single dose before surgery (Group 1) versus those receiving multiple ceftriaxone doses (Group 2). The study calculated direct medical costs (hospital perspective), with surgical site infection (SSI) as the effectiveness parameter. The chi-square test was used to compare SSI between the two groups. There were 806 patients (group 1) and A total of 250 patients (Group 2) met the inclusion criteria. Analysis of total cost revealed no significant difference between both groups (approximately IDR 13,000,000/patient), yet patients receiving prolonged Ceftriaxone were associated with significantly higher antibiotic costs (p-0.000). The study documented 1.2% SSI in Group 1 and 0.8% in Group 2 (p=0.742). Calculation of the incremental cost-effectiveness ratio found that an extra IDR 3,278,000 was needed to provide additional success to prevent SSI by administering multiple doses of ceftriaxone. In conclusion, a single dose prophylactic antibiotic provides comparable efficacy to a multiple-dose regimen, but at a lower cost.Panduan klinik merekomendasikan antibiotik profilaksis dosis tunggal 30-60 menit sebelum bedah sesar, tetapi praktek di rumah sakit menunjukkan deviasi dalam implementasinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya penggunaan antibiotik profilaksis dosis tunggal versus dosis berulang pada bedah sesar. Penelitian retrospektif observasional dengan desain potong lintang melibatkan subyek penelitian wanita hamil yang menjalani bedah sesar yang menerima seftriakson dosis tunggal sebelum pembedahan (kelompok 1) ataupun yang mendapatkan seftriakson sebelum pembedahan dan diperpanjang selama perawatan (kelompok 2). Biaya yang digunakan adalah biaya medis langsung perspektif rumah sakit dan parameter efektivitas kejadian infeksi daerah operasi (IDO). Uji Chi-Square digunakan untuk membandingkan IDO antara kedua kelompok. Sejumlah 806 pasien (kelompok 1) dan 250 pasien (kelompok 2) memenuhi kriteria inklusi. Analisis biaya total tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (sekitar Rp 13.000.000/pasien) antara kedua kelompok, tetapi analisis komponen biaya menunjukkan biaya antibiotik pasien dengan dosis berulang signifikan lebih mahal (p=0,000). Pada kelompok 1 terjadi IDO 1,2% dan 0,8% pada kelompok 2 (p=0,742). Perhitungan rasio inkremental efektivitas biaya menunjukkan dibutuhkan tambahan biaya Rp 3.278.000 untuk setiap IDO yang dapat dihindari menggunakan seftriakson profilaksis dosis berulang. Penelitian ini menyimpulkan pemberian antibiotik profilaksis dosis tunggal sebelum bedah sesar menunjukkan efektivitas biaya yang sebanding dibandingkan antibiotik profilaksis dosis berulang

    Content

    No full text
    ---

    Perbandingan Efek Samping Propofol-Fentanil dan Propofol-Fentanil-Midazolam di Instalasi Medis Sentral Rumah Sakit X Bogor

    Get PDF
    Propofol is one of the most commonly used intravenous drugs employed to induce and maintain general anesthesia. The effective induction dose of propofol is 1.0-2.5 mg/kg IV caused hemodynamic instability significant as hypotension. Stability hemodynamic in used propofol can optimized with midazolam-fentanyl. The aims of this study was to determine the comparison of side effects propofol-fentanyl and propofol-fentanyl-midazolam in patient undergoing elective surgery with parameter of blood pressure, pulse, respiratory rate (RR). This study was a observational with prospective method in 60 patients undergoing elective surgery with physical status ASA I-II conducted  in the period of April to July 2019. The result showed the induction anesthesia used of propofol-fentanyl caused decreased on systolic blood pressure 17,2±3 mmHg, diastolic blood pressure 5,3±1,6 mmHg, pulse 3,9±1,5 beats/minute, and RR 1,4±0,01 breaths/minute. The induction anesthesia used of propofol-fentanyl-midazolam caused decreased on systolic blood pressure 11,8±0,4 mmHg, diastolic blood preasure 4,2±0,4 mmHg, pulse value 5,0±0,9 beats/minute, and RR 2,8±0,9 breaths/minute. Side effects in the form of blood pressure, pulse and respiratory rate from the administration of the combination of propofol-fentanyl and propofol-fentanyl-midazolam were not significantly different.Propofol adalah salah satu obat intravena yang paling umum digunakan untuk menginduksi dan mempertahankan anestesi umum. Dosis induksi efektif propofol adalah 1,0-2,5 mg/kg IV menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik yang signifikan seperti hipotensi. Stabilitas hemodinamik pada propofol yang digunakan dapat dioptimalkan dengan midazolam-fentanil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek samping propofol-fentanil dan propofol-fentanil-midazolam pada pasien yang menjalani operasi elektif dengan parameter tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan (RR). Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode prospektif pada 60 pasien yang menjalani operasi elektif dengan status fisik ASA I-II yang dilakukan pada periode April sampai Juli 2019. Hasil penelitian menunjukkan induksi anestesi yang menggunakan propofol-fentanil menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik 17,2±3 mmHg, tekanan darah diastolik 5,3±1,6 mmHg, nadi 3,9±1,5 denyut/menit, dan RR 1,4±0,01 napas/menit. Penggunaan induksi anestesi propofol-fentanil-midazolam menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik 11,8±0,4 mmHg, tekanan darah diastolik 4,2±0,4 mmHg, nilai nadi 5,0±0,9 denyut/menit, dan RR 2,8±0,9 napas/menit. Sehingga dapat disimpulkan efek samping berupa tekanan darah, nadi dan frekuensi pernapasan dari pemberian kombinasi propofol-fentanil dan propofol-fentanil-midazolam tidak berbeda nyata

    Aktivitas Antioksidan Masker Peel-Off Kopi (Coffea arabica) dan Kunyit (Curcuma longa) Menggunakan Metode DPPH

    Get PDF
    Peel-Off face mask is one of the cosmetics that is used to treat skin from free radicals. Coffee (Coffea arabica) contains chlorogenic, ferulic, caffeic, and n-coumaric acids which can be useful as antioxidants. Turmeric (Curcuma longa) contains curcumin, which has anti-inflammatory and antioxidant properties. The purpose of this study is to evaluate the quality parameters and analyzed the antioxidant activity of peel-off masks containing coffee (Coffea arabica) and turmeric (Curcuma longa). This research has made 3 mask formulas, each of which contains coffee and turmeric. The formula made was a combination of coffee and turmeric with a ratio of each formula F1 (10:0), F2 (5:,5) and F3 (0:10). The result of organoleptic parameters for F1 was dark brown with coffee aroma and consistency like gel, F2 wasyellowish-brownn with spiced coffee aroma and consistency like gel and F3 was yellow with turmeric aroma and consistency like gel. The result of the homogeneity test of all formulasmula was homogeny. The result of the pH value of all formulasmula was 5. The resulspreadabilityd ability of F1, F2 and F3 were 26.877 cm2; 26.278 cm2; 26.875 cm2. The drying time of each formula was F1 27.36 min; F2 28.38 min; F3 28.54 min. The antioxidant activity is shown the by IC50 value. The value of IC50 for each formula F1 (37.277 ppm), F2 (34.757 ppm), and F3 (37.399 ppm). The test results showed that all formulas met the quality test requirements and had very strong antioxidant activity.Masker Peel-Off merupakan salah satu kosmetik yang digunakan untuk merawat kulit dari radikal bebas. Kopi (Coffea arabica) mengandung chlorogenic, ferulic, caffeic, dan n-coumaric acids yang dapat bermanfaat sebagai antioksidan. Kunyit (Curcuma longa) memiliki kandungan utama kurkumin yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi uji mutu dan menganalisis aktivitas antioksidan masker peel-off yang mengandung kopi dan kunyit. Penelitian ini membuat 3 formula masker. Formula yang dibuat adalah kombinasi kopi dan kunyit dengan perbandingan kopi dan kunyit pada masing-masing formula F1 (10:0), F2 (5:5) dan F3 (0:10). Hasil parameter organoleptik untuk F1 berwarna coklat tua dengan aroma kopi dan tekstur seperti gel, F2 berwarna coklat kekuningan dengan aroma kopi rempah dan tekstur seperti gel dan F3 berwarna kuning dengan aroma kunyit dan tekstur seperti gel. Hasil uji homogenitas semua formula adalah homogen. Hasil nilai pH semua formula adalah 5. Hasil daya sebar F1, F2 dan F3 adalah 26,877 cm2; 26,278 cm2; 26,875 cm2. Waktu pengeringan masing-masing formula adalah F1 27,36 menit; F2 28,38 menit; F3 28,54 menit. Aktivitas antioksidan ditunjukkan dengan nilai IC50. Nilai IC50 untuk masing-masing formula F1 (37,277 ppm), F2 (34,757 ppm) dan F3 (37,399 ppm). Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan uji mutu dan memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat

    Aktivitas Anti-inflamasi Parem Instant Tradisional dari Bahan Usada Bali pada Mencit Inflamasi yang Diinduksi Karagenan

    Get PDF
    The increase of adverse reactions from anti-inflammatory drugs that are used in the long term by rheumatic patients requires a relatively safer alternative therapy. This research was aimed to evaluate the effectiveness of Usada Bali's instant parem (BIO-PAREM) as an anti-inflammatory agent against carrageenan-induced inflammatory mice. The method used was randomized pre-test and post-test with control group design using 24 mice which were divided into 4 treatment groups. The negative control group was given a vehicle, the positive control group was given anti-inflammatory gel of diclofenac sodium, group 3 (P1) was given BIO-PAREM with a concentration of 12.5% and group 4 (P2) was given BIO-PAREM with a concentration of 25%. All groups were induced with 1% carrageenan, then the mice's paw edema volume was calculated using a plethysmometer at 0, 1, 2, 3, and 4 hours. The Kruskal Wallis and Mann Whitney test were used to analyse the relative change of inflammation volume. The BIO-PAREM phytochemical screening assay showed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, steroids and triterpenoids. BIO-PAREM showed significant inhibition of mice's paw edema at concentrations of 12.5% and 25% (p <0.05) indicating its potential as a candidate for topical alternative treatment for rheumatism.Maraknya efek samping penggunaan obat anti-inflamasi steroid dan non steroid yang digunakan dalam jangka panjang oleh pasien rematik memerlukan alternatif terapi yang relatif lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas parem instan dari Usada Bali yang diberi nama BIO-PAREM sebagai agen anti-inflamasi terhadap mencit inflamasi dengan diinduksi karagenan. Penelitian ini merupakan randomized pre-test and post-test with control group design dengan subjek 24 ekor mencit terbagi dalam empat kelompok perlakuan. Kelompok pertama sebagai kontrol negatif diberikan pembawa (aquadest), kelompok dua kontrol positif diberikan gel natrium diklofenak, kelompok tiga (P1) diberikan BIO-PAREM konsentrasi 12,5% dan kelompok 4 (P2) diberikan BIO-PAREM konsentrasi 25%. Seluruh kelompok diinduksi dengan karagenan 1% (b/v), kemudian diberikan perlakuan secara topikal dan kemudian dilakukan pengukuran perubahan volume peradangan kaki mencit menggunakan pletismometer pada jam ke-0, 1, 2, 3, dan 4. Uji Kruskal Wallis dan Mann Whitney (taraf kepercayaan 95%) digunakan untuk melakukan analisis terhadap perubahan volume peradangan relatif. Dari hasil pengujian skrining fitokimia BIO-PAREM baik pada konsentrasi 12,5% maupun 25% menunjukkan adanya kandungan senyawa tannin, steroid, triterpenoid, flavonoid dan alkaloid. BIO-PAREM pada kedua konsentrasi mampu menghambat inflamasi secara bermakna jika dibandingkan dengan kontrol negatif (p<0,05), namun kedua konsentrasi tersebut menghasilkan aktivitas antiinflamasi yang sebanding (p>0,05)

    Uji Stabilitas Fisik dan Kadar Flavonoid Total Sediaan Gel Ekstrak Mesokarp Buah Semangka (Citrullus lanatus)

    Get PDF
    The content of flavonoids in the white skin or mesocarp of watermelon has antioxidant power so that the active substance can be used in the manufacture of cosmetics, one of which is a gel dosage form. This type of research is observational with a descriptive research design. The purpose of this study was to obtain data on the stability of the watermelon (Citrullus lanatus) mesocarp extract gel preparation using the cycling test method. Physical stability evaluations were carried out, including organoleptic, homogeneity, pH, adhesion, spreadability, and viscosity. The results showed that the organoleptic observation of the preparation was in the form of a semi-solid, had a characteristic aromatic odor of the extract, and had a brownish-yellow color. As for the test results for the entire homogeneous cycle, the average pH range is 4.75 - 5, adhesion is 2.45 - 3.96 seconds, dispersion is 5.59 - 6.67 cm, and viscosity is 5426 - 6830 cps, and total flavonoid content of the gel preparation was 5.27%. This study concluded that the gel preparation was physically stable before and after 12 days of storage and contained 5.27% flavonoids.Kandungan flavonoid pada kulit putih atau mesokarp buah semangka memiliki daya antioksidan sehingga zat aktif tersebut dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kosmetik, salah satunya bentuk sediaan gel. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data stabilitas sediaan gel ekstrak mesokarp buah semangka (Citrullus lanatus) dengan metode cycling test. Evaluasi stabilitas fisik yang dilakukan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar dan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan organoleptis sediaan berbentuk semi solid, memiliki bau khas aromatis ekstrak, dan bewarna kuning kecoklatan. Sedangkan untuk hasil uji sediaan pada seluruh siklus homogen, rentang rata-rata pH 4,75 - 5, daya lekat 2,45 – 3,96 detik, daya sebar 5,59 – 6,67 cm dan viskositas 5426 – 6830 cps, dan kadar flavonoid total sediaan gel sebesar 5,27%. Kesimpulan penelitian ini adalah sediaan gel stabil secara fisik sebelum dan sesudah penyimpanan 12 hari dan mengandung flavonoid sebesar 5,27%

    Isolasi Fungi Tanah Muara Desa Pasir Putih Kabupaten Situbondo serta Penapisan Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus

    Get PDF
    Healthcare-Associated Infections (HAIs) is a bacterial infections in Indonesia caused by Staphylococcus aureus. According to the World Health Organization (WHO), the prevalence of HAIs in developing countries varies between 5.7% and 19.1% with a combined prevalence of 10.1%. The prevalence of HAIs in Indonesia is 7.1%. Infections caused by bacteria are a life-threatening disease, which needs to be treated immediately by administering antibacterial agents. One of the natural products with potential as new antibacterial agents, such as soil fungi. This research aims to discover the Antibacterial activity of fungi on estuary land at Pasir Putih village, Situbondo, East Java. This research was initiated by growing the soil on the PDA media to isolate six fungi which were labeled as IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, and IS-B1-B2. All the isolated fungi were separately fermented for 14 d and extracted using ethyl acetate before the microdilution test. The result of antibacterial testing showed all extracts from isolated fungi with code IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, and IS-B1-B2 possessed antibacterial activity against Staphylococcus aureus with percentage inhibition of 51.1±2.6%; 84.6±3.1%; 72.7±7.9%; 82.9±7.6%; 65.6±0.8%; 88.2±2.8% at a concentration of 100 μg/mL.Infeksi nosokomial merupakan infeksi bakteri yang sering terjadi di Indonesia dan disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Menurut data World Health Organization (WHO) prevalensi infeksi nosokomial di negara berkembang berkisar antara 5,7% hingga 19,1% dengan prevalensi gabungan sebesar 10,1% dan prevalensi infeksi nosokomial di Indonesia sebesar 7,1%. Infeksi merupakan penyakit yang mengancam jiwa, sehingga perlu penanganan cepat dengan pemberian agen antibakteri. Salah satu sumber bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri baru yaitu fungi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fungi tanah yang diisolasi dari muara di Desa Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dengan menumbuhkan sampel tanah pada media PDA hingga didapat enam isolat yang diberi label IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, dan IS-B1-B2. Semua isolat kemudian difermentasi selama 14 hari dan diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat sebelum dilakukan uji mikrodilusi. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa semua ekstrak dari isolat fungi kode IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, dan IS-B1-B2 memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan nilai persen penghambatan sebesar 51,1±2,6%; 84,6±3,1%; 72,7±7,9%; 82,9±7,6%; 65,6±0,8%; dan 88,2±2,8% pada konsentrasi 100 μg/mL

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇