JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Not a member yet
    670 research outputs found

    Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanol Daun Pucuk Merah (Syzygium Myrtifolium Walp.) Terhadap Fungsi Hati Dan Ginjal

    Get PDF
    For the development of natural medicines from the ethanolic extract of Syzygium myrtifolium Walp leaves it is necessary to know the pre-clinical safety test so that its safety if used in the long term. The subchronic toxicity test of the ethanolic extract of  Syzygium myrtifolium Walp leaves l was carried out by assessing the kidney and liver function of the test animals given after 60 days of test preparation, in the form of blood biochemical examination using the Mindray®BA-88A device and histological examination of the kidneys and liver. The results showed that the administration of ethanol extract of  Syzygium myrtifolium Walp  leaves at doses of 300, 600 and 900 mg/kgBW did not significantly affect the activity of SGOT, SGPT, serum creatinine levels (p>0.05). Microscopically on the percentage of damage to the glomerulus of the right and left kidneys. at doses of 600 and 900 mg/kgBW there was a significant difference to the control group (p<0.05). For qualitative microscopic examination, namely observation of sinusoids and hepatocyte cells at each level, there were abnormal changes. Meanwhile, quantitative microscopic examination at doses of 600 and 900 mg/kgBW caused an increase in the percentage of central vein damage (p<0.05). From the research, it was found that the ethanolic extract of Syzygium myrtifolium Walp leaves of white mice was safe for liver and kidney function at a dose of 300 mg/kgBW, but the doses group of 600 and 900 mg/kgBW gave a toxic effect on the kidneys and liver when compared to the control group.Untuk pengembangan obat bahan alam dari ekstrak etanol daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp) harus dilakukan serangkaian uji keamanan secara praklinik agar diketahui keamanannya jika  digunakan jangka panjang. Uji toksisitas subkronis ekstrak etanol daun pucuk merah dilakukan dengan menilai fungsi ginjal dan hati hewan uji setelah diberikan sediaan uji yang diberikan selama 60 hari, berupa pemeriksaan biokimia darah menggunakan alat Mindray®BA-88A dan pemeriksaan histologi organ ginjal dan hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun pucuk merah dosis 300, 600 dan 900 mg/kgBB tidak mempengaruhi aktivitas SGOT, SGPT, kadar kreatinin serum secara signifikan (p>0,05). Secara mikroskopis terhadap persentase kerusakan glomerulus ginjal kanan dan ginjal kiri pada dosis 600 dan 900 mg/kgBB terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kelompok kontrol (p<0,05). Untuk pemeriksaan mikroskopis secara kualitatif yakni pengamatan sinusoid dan sel hepatosit pada tiap pemberian tingkatan dosis mengalami perubahan abnormal. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis secara kuantitatif  pada dosis 600 dan 900 mg/kgBB menyebabkan kenaikan persentase kerusakan vena sentralis (p<0,05). Dari  penelitian dapat disimpulkan pemberian ekstrak etanol daun pucuk merah  pada mencit putih  aman terhadap fungsi hati dan ginjal pada dosis 300 mg/kgBB tetapi kelompok dosis 600 dan 900 mg/kgBB memberikan efek toksik terhadap organ ginjal dan hati bila dibandingkan dengan kelompok kontrol

    Hubungan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Karang Pule 2019

    Get PDF
    Anemia is a problem experienced by 38.2% of pregnant women in the world in 2011. The prevalence of anemia in pregnant women in Indonesia is 37.1%. Provision of iron (Fe) tablets in the city of Mataram is still low compared to other districts in NTB where not all pregnant women get iron (Fe)  tablets as many as 90 tablets (91.5%). The prevalence of pregnant women with the most anemia in 2018 is 117 people in Karang Pule Primary Health Center. This study aims to correlate the level of compliance with iron (Fe)  tablets consumption with anemia in pregnant women at Karang Pule Health Center. This study used an analytic observational method with a cross sectional approach in June-August 2019. The data collected were respondents' characteristics, level of compliance using MMAS-8 questionnaires and measurement of hemoglobin levels. The research subjects were pregnant women in the working area of Karang Pule Primary Health Center who had obtained iron (Fe)  tablets with 110 respondents. The data analysis used chi square test (P = 95%). Anemia occurred in 105 respondents (65.6%) and those without anemia were 55 respondents (34.4%). The level of compliance of respondents consuming Fe tablets was 24.4% with high adherence, 47.5% with moderate adherence and 28.1% with low adherence. Chi square test showed that there was no relationship between adherence to consume Fe tablets with anemia in pregnant women with a asyimp sig of 0.577.Anemia merupakan masalah yang dialami oleh 38,2% ibu hamil di dunia pada tahun 2011. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1%. Pemberian tablet Fe di Kota Mataram masih rendah dibandingkan dengan Kabupaten lain di NTB dimana belum semua ibu hamil mendapatkan tablet Fe sebanyak 90 tablet (91,5%). Prevalensi ibu hamil yang paling banyak mengalami anemia pada tahun 2018 adalah di Puskesmas Karang Pule sebanyak 117 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan konsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Karang Pule. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan secara cross sectional pada bulan Juni-Agustus 2019. Data dikumpulkan menggunakan kuesiner MMAS-8 dan pengukuran kadar hemoglobin. Subyek penelitian adalah ibu hamil yang di wilayah kerja Puskesmas Karang Pule yang telah medapatkan tablet Fe yang berjumah 160 respoden. Analisis data menggunakan uji chi square (P=95%). Anemia terjadi pada 105 responden (65,6%) dan yang tidak mengalami anemia sebesar 55 responden (34,4%). Tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe sebesar 24,4% dengan kepatuhan tinggi, 47,5% dengan kepatuhan sedang dan 28,1% dengan kepatuhan rendah. Uji chi square menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan nilai asyimp. Sig 0,577

    Uji Aktivitas Ekstrak Etanol 70% Daun Kaliandra Merah (Calliandra calothyrsus Meisn.) sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah pada Tikus Hiperglikemia

    Get PDF
    Diabetes mellitus (DM) is an increase in blood glucose levels due to impaired metabolism of carbohydrates, fats, and proteins. Red kaliandra leaf (Calliandra calothyrsus Meisn.) contains tocopherol, carotenoid, flavonoid, saponin, and tannin compounds are natural sources of non-enzymatic antioxidants. The active compound has inhibitory activity against the α-glucosidase enzyme so that it can be potential as an antidiabetic. This study aims to determine the activity of 70% ethanol extract of red calliandra leaves on the decrease in blood glucose levels in male white rats Sprague Dawley hyperglycemia strain. Test animals were divided into 6 groups consisting of normal controls (standard feed), negative controls (alloxan induction), positive controls (metformin HCL dose 51.38 mg/kg), group I dose (50 mg/kg), dose II (100 mg/kg), and dose III (200 mg/kg). Data were analyzed using one way ANOVA and continued by Tukey test. The results showed that doses 1, 2, and 3 can reduce blood glucose. Dose 3 had a decrease in the percentage of 58.08% which was comparable to a positive control (metformin HCl dose 51.38 mg/kg) of 63.85%.Diabetes Melitus (DM) adalah peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Daun kaliandra merah (Calliandra calothyrsus Meisn.) memiliki kandungan senyawa tokoferol, karetenoid, flavonoid, saponin, dan tanin merupakan sumber antioksidan non-enzimatik alami. Senyawa aktif tersebut memiliki aktivitas inhibisi terhadap enzim α-glukosidase sehingga dapat berpotensi sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 70% daun kaliandra merah terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan galur sparague dawley hiperglikemia. Hewan uji dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kontrol normal (pakan standar), kontrol negatif (induksi aloksan), kontrol positif (metformin HCl dosis 51,38 mg/kg), kelompok dosis I (50 mg/kg), dosis II (100 mg/kg), dan dosis III (200 mg/kg). Data dianalisis menggunakan one way ANOVA dan dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis 1, 2 dan 3 mampu menurunkan glukosa darah. Dosis 3 memiliki presentase penurunan sebesar 58,08 % yang sebanding terhadap kontrol positif (metformin HCl dosis 51,38 mg/kg) sebesar 63,85%

    Analisis Aktivitas Inhibitor Lipase Pankreas Derivat Asam Klorogenat Pada Biji Kopi Hijau Sebagai Antiobesitas Secara In Silico

    Get PDF
    Obesity or overweight is defi ned as the accumulation of abnormal or excessive fat in adipose tissue whichcan damage health.Several plants have been used empirically as antiobesity.This study aims to obtain candidate antiobesity compounds that act as pancreatic lipase enzyme inhibitors, fi nd some amino acids that involved on the active site of the receptors and modelling the interactions of these active compounds at antiobesity receptors.The study start with internal validation of the receptors used (4DOQ), then carried out the docking process for the native ligand, comparison compound (Orlistat) and each test compound with the same receptor. The softwares used are PLANTS, YASARA, ChemSketch, and Pymol. The results of the 4DOQ receptor validation have an RMSD value of 1.7097 Ǻ. The results of the docking score for orlistat (-65.3258), and 4 active compounds namely chlorogenic acid (-69,3009), 5-O-caff eoylquinat acid (-70.6911), 4,5-O-dicaff eoilkuinic acid (-85 , 3375), 5-Op-coumaroilkuinic acid (-67,1886). Amino acids that play a role in the affi nity on the active side of the ligand bond with the pancreatic lipase receptor are THR21 (Threonine), ASN84 (Asparagine), GLY19 (Glycine), GLN156 (Glutamine), ALA85 (Alanine), ILE63 (Isoleucine), ARG62 (Arginine) . The conclusion of this study there are 4 chemical compounds in green coff ee beans that are active as antiobesity with the mechanism of action of the pancreatic lipase enzyme inhibitor, namely chlorogenic acid, 5-O-caff eoylquinic acid, 4,5-O-diphoeilquinic acid, 5-op-coumaroilquinic acid.Obesitas atau kegemukan di defi nisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan di jaringanadiposa yang dapat merusak kesehatan. Beberapa tanaman secara empirik telah digunakan sebagai antiobesitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kandidat senyawa antiobesitas yang berkerja sebagai inhibitor enzim lipase pankreas, mendapatkan asam amino yang berperan pada sisi aktif reseptor dan memodelkan interaksi senyawa aktif tersebut pada reseptor antiobesitas. Penelitian dimulai dengan melakukan validasi internal reseptor yang digunakan (4DOQ), kemudian dilakukan proses docking terhadap native ligand, senyawa pembanding (Orlistat) dan masing-masing senyawa uji dengan reseptor yang sama. Software yang digunakan adalah PLANTS, YASARA, ChemSketch, dan Pymol. Hasil validasi reseptor 4DOQ mempunyai nilai RMSD 1,7097 Ǻ. Hasil score docking terhadap orlistat (-65,3258), dan 4 senyawa aktif yaitu asam klorogenat (-69,3009), asam 5-O-kafeoilkuinat (-70,6911), Asam 4,5-O-dicaff eoilkuinat (-85,3375), Asam 5-O-p-kumaroilkuinat (-67,1886). Asam amino yang berperan terhadap afi nitas pada sisi aktif ikatan ligan dengan reseptor lipase pankreas adalah THR21 (Threonine), ASN84 (Asparagin), GLY19 (Glisin), GLN156 (Glutamin), ALA85 (Alanin), ILE63 (Isoleusin), ARG62 (Arginin). Simpulan dari penelitian ini terdapat 4 senyawa kimia dalam biji kopi hijau yang aktif sebagai antiobesitas dengan mekanisme kerja inhibitor enzim lipase pankreas, yaitu asam klorogenat, asam 5-O-kafeoilkuinat , asam 4,5-O-dikafeoilkuinat, Asam 5-O-p-kumaroilkuinat

    Formulasi Dan Uji Aktivitas Anti-Aging Gel Lendir Lidah Buaya (Aloe vera Linn.)

    Get PDF
    Aging is one of the problems that occurs in the skin. The factors cause aging are either free radicals. The use of antioxidants can prevent aging. Mucous Aloe vera known to have an antioxidant effect. The purpose of this study is to get aloe vera gel that stable and has anti-aging effects. This research was conducted by making a gel of aloe vera preparations in three formulas, each with aloe vera mucous of 5% (F1), 15% (F2) and blank (F0). Evaluation of gel preparations includes organoleptic, pH, Stability checks at room and cold temperatures, Scatter test, Adhesion, homogenity, irritation and anti-aging test on the skin of the backs of volunteers using skin analyzer with measured parameters including moisture, evenness, large pores, spot, and wrinkles. Gel was used twice a day for 30 days and was carried out every week. Statistical data were analyzed using the two-way ANOVA and continued with the Tukey test. The results showed that the stable a gel of aloe vera formula was F2 with a aloe vera concentration of 15%. Anti-aging activity test results showed that aloe vera gel preparations 15% (F2) faster recovery in increasing moisture, skin smoothness, shrinking pore size, reducing spot and wrinkles.Penuaan dini merupakan salah satu masalah yang terjadi pada kulit. Faktor yang menyebabkan penuaan salah satunya adalah radikal bebas. Salah satu upaya mengatasi penuaan adalah dengan antioksidan. Lendir lidah buaya telah terbukti memiliki efek antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan sediaan gel lendir lidah buaya yang stabil dan memiliki efek anti-aging. Penelitian ini dilakukan dengan membuat sediaan gel lidah buaya dalam tiga formula yaitu masing-masing dengan konsentrasi lendir lidah buaya 5% (F1), 15% (F2) dan blanko (F0). Evaluasi sediaan gel meliputi organoleptis, pH, pemeriksaan stabilitas pada suhu kamar dan suhu dingin, uji daya sebar, uji daya lekat, uji homogenitas, uji iritasi dan aktivitas anti-aging terhadap kulit bagian punggung tangan sukarelawan menggunakan skin analyzer dengan parameter meliputi kadar air, kehalusan, besar pori, banyak noda dan keriput. Pemakaian sediaan gel dilakukan dua kali sehari selama 30 hari dan pengujian dilakukan setiap minggu. Data statistik dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil menunjukkan formula gel lidah buaya yang stabil adalah F2 dengan lidah buaya 15%. Hasil uji aktivitas anti-aging menunjukkan sediaan gel lidah buaya 15% (F2) lebih cepat terjadi perubahan dalam meningkatkan kadar air, kehalusan kulit, mengecilkan ukuran pori, mengurangi noda dan keriput

    Pengaruh Pemberian Antibiotika Profilaksis Golongan Penisilin dengan Golongan Sefalosporin terhadap Tanda Klinis IDO Superfisial dan LOS ada Pasien SC di Rumah Sakit “X”

    Get PDF
    A hospital "X" in Jakarta has priority obstetrics services with a high birth rate. Sectio caesarea (SC) at the hospital uses prophylactic antibiotics penicillin and cephalosporins to reducing superficial Surgical Site Infection (IDO). Complication of infection can increase prolongs stay patient (length of stay - LOS). The aim of this study is to look the influence administration of penicillin prophylactic antibiotics with cephalosporins towards the clinical signs of superficial IDO and LOS to SC patients in hospital "X". The test sample calculated using a formula of two proportions difference with retrospective data tracing from medical records which are analyzed using the Chi-Square method with the help of Microsoft Excel to determine the influence administration of penicillin prophylactic antibiotics with cephalosporins towards the clinical signs of superficial IDO and LOS. The results showed that the chi-square calculated value in bivariate analysis of prophylactic antibiotics with LOS and clinical signs of IDO are smaller than the Chi-Square table value (Chi-Square table value at degree of freedom (DF) 1 and significance of 0.05 = 3.8415) with a p value greater than 0.05. In conclusion, there is no statistically significant difference in influence between the group receiving penicillin prophylactic antibiotics with the group receiving cephalosporin prophylactic antibiotics towards the clinical signs of superficial IDO and LOS to SC patients in hospital "X".Sebuah rumah sakit “X” di Jakarta mempunyai pelayanan prioritas kebidanan dengan angka lahiran yang tinggi. Tindakan sectio caesarea (SC) di rumah sakit tersebut menggunakan antibiotika profilaksis golongan penisilin dan sefalosporin untuk mengurangi Infeksi Daerah Operasi (IDO) superfisial. Komplikasi infeksi dapat meningkatkan lama rawat pasien (length of stay – LOS). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian antibiotika profilaksis golongan penisilin dengan golongan sefalosporin terhadap tanda klinis IDO superfisial dan LOS pada pasien SC di rumah sakit “X”. Sampel uji dihitung menggunakan rumus perbedaan dua proporsi dengan penelusuran data retrospektif dari rekam medik dianalisa menggunakan metode Chi-Square dengan bantuan microsoft excel untuk mengetahui pengaruh pemberian antibiotika profilaksis golongan penisilin dengan golongan sefalosporin terhadap tanda klinis IDO superfisial dan LOS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Chi-Square hitung pada analisa bivariat antibiotika profilaksis dengan LOS dan tanda klinis IDO lebih kecil daripada nilai Chi-Square tabel (Chi-Square tabel pada degree of freedom (DF) 1 dan signifikansi 0,05 = 3,8415) dengan nilai p lebih besar dari 0,05. Sebagai kesimpulan, tidak ada perbedaan pengaruh signifikan secara statistik antara kelompok yang menerima antibiotika profilaksis penisilin dengan kelompok yang menerima antibiotika profilaksis sefalosporin terhadap tanda klinis IDO superfisial dan LOS pada pasien SC di rumah sakit “X”

    Evaluasi Kesesuaian Pemberian Antibiotik Empiris Terhadap Antibiogram dan Luaran Klinis pada Pasien Pneumonia Dewasa

    Get PDF
    The mortality rate for Community-Acquired Pneumonia (CAP) in Indonesia is in the fourth rankand the top ten diseases each year. The main therapeutic principle of CAP is the administration of antibiotics.Improper antibiotic usage can aff ect the success of therapy. The pattern of antibiotics used in hospitals is usually based on clinical and empirical experience, not based on the germ pattern and the sensitivity of antibiotics. The study aims to describe the suitability of empiric antibiotics against the antibiogram profi le and treatment outcomes in inpatients with CAP at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. This study was conducted under the descriptive-analytic observational study design with a retrospective cohort design where the data source came from secondary data, namely the medical records of community pneumonia patients in 2019 and hospital antibiogram data. The data were collected by using the total sampling method. There were 79 community pneumonia patients. The results of the empirical antibiotic suitability test results on antibiograms and clinical outcomes showed that there was no signifi cant relationship between the suitability of empirical antibiotics to the clinical outcome of leukocytes (p = 0.550; RR = 0.725; 95% CI = 0.252-2.086), clinical outcome temperature (p= 0.545; RR = 0.576; 95% CI = 0.049-6.747) and clinical outcome length of stay (p = 0.631; RR = 0.767; CI95= 0.258-2.275). The conclutions there was no signifi cant relationship between the appropriateness of empirical using of antibiotics and antibiogram profi le include leukocyte, temperature and length of stay of the patients (p>0.05).Angka kematian Community-Acquired Penumonia (CAP) di Indonesia menduduki peringkat keempatdari sepuluh penyakit terbanyak tiap tahun. Prinsip terapi utama CAP adalah pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mempengaruhi keberhasilan terapi. Pola penggunaan antibiotik di rumah sakit biasanya masih berdasarkan pengalaman klinik dan empiris, belum berdasarkan pola kuman dan sensivitas dari antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesesuaian jenis antibiotik empiris terhadap profi l antibiogram dan luaran klinis pada pasien rawat inap dengan CAP di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif-analitik dengan desain cohort retrospektif yang diperoleh dari data rekam medis pasien pneumonia komunitas bulan Januari-Desember 2019 dan data antibiogram Rumah Sakit periode Januari-Juni 2019. Data dikumpulkan dengan metode total sampling dan diperoleh sebanyak 79 pasien pneumonia komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifi kan antara kesesuaian pemberian antibiotik empiris terhadap profi l antibiogram dan luaran klinis pasien pada angka leukosit (p = 0.550; RR = 0.725; 95% CI = 0.252-2.086), suhu (p = 0.545; RR = 0.576; 95% CI = 0.049-6.747) dan lama rawat inap (p = 0.631; RR = 0.767; CI95 = 0.258-2.275). Kesimpulan tidak ada hubungan signifi kan antara kesesuaian pemberian antibiotik empiris terhadap profi l antibiogram dan luaran klinis pasien pada angka leukosit, suhu dan lama rawat inap pasien (p>0.05)

    Efektifitas Rebusan Daun Babadotan dan Kombinasinya dengan Pregabalin sebagai Anti Nyeri Neuropatik serta Uji Toksisitas Akutnya

    Get PDF
    Neuropathic pain is a condition that is difficult to treated and impaired quality of life. The objective of the study was to determine the anti-neuropathic pain effectivity of Ageratum conyzoides aqueous extract and the acute toxicity study. We had 7 groups (normal, negative, pregabalin, ageratum. conyzoides-I (AC-I) 50mg/kg BW, A. conyzoides-II (AC-II) 100mg/kg BW, combination of pregabalin and AC-II), combination of AC-II and naloxone). Each group contain 5 animals (mice). All groups was induced with pyridoxine 400 mg/kg BW i.p for 14 days to cause neuropathy and followed by hyperalgesia, allodynia, and wire-hang test. In the acute toxicity study, we had 1 group and contain 5 animals (rats).  The results of the hyperalgesia and allodynia study showed the effect of AC-II was better than AC-I. The combination of pregabalin and AC-II was better than AC-II as monotherapy (p<0.05). However, AC II activity was abolished when combined with naloxone. In wire hang test demonstrated no difference between falling score (p: 0.053) and reaching score (0.903), that showed AC-II wasn’t impaired the motoric system. No death or toxicity symptoms were observed for 14 days in the acute toxicity study. A. conyzoides aqueous extract is potential for anti-neuropathic pain..Nyeri neuropatik merupakan kondisi yang sulit untuk ditangani dan mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek rebusan daun Ageratum conyzoides L (AC) sebagai anti-nyeri neuropatik disertai profil keamanannya. Hewan percobaan (mencit) dikelompokkan menjadi tujuh kelompok dengan masing-masing terdiri dari 5 hewan. Pada semua kelompok diberikan induksi piridoksin (400 mg/Kb BB) selama 14 hari kecuali kelompok normal, yang diikuti pemberian sediaan sesuai dengan kelompoknya serta dilanjutkan dengan pengujian thermal allodynia, hiperlagesia, dan wire hang. Pengujian toksisitas akut menggunakan tikus dengan menggunakan dosis 2000 mg/kg BB. Hasil thermal allodynia dan hiperalgesia menunjukkan AC-II memberikan efek peningkatan threshold pain lebih baik dibandingkan AC-I. Pada kombinasi AC-II dan pregabalin memberikan efek paling baik dibandingkan dengan kelompok lainnya dan menunjukkan efek sinergistik. Akan tetapi, efek AC-II mengalami penurunan (reversal) bila dikombinasikan dengan naloxone, hal ini menunjukkan adanya keterlibatan pada reseptor opioid (µ, κ and σ). Pengujian wire hang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam falling score (p;0.053) dan reaching score (p: 0.903), hal ini menunjukkan bahwa AC-II tidak mengakibatkan gangguan terhadap fungsi motorik. Pada pengujian toksisitas akut, tidak ditemukan gejala toksisitas ataupun kematian terhadap hewan percobaan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa rebusan daun babadotan berpotensi sebagai anti-nyeri neuropatik

    Pengaruh Pemberian Patient Information Leaflet (PIL) dan SMS Motivasi Terhadap Pengetahuan, Persepsi, dan Kepatuhan Pasien Hamil di Pelayanan Primer

    No full text
    Based on data from WHO (World Health Organization), it is estimated that 41.8% of anemia occurs in pregnant women, with the highest prevalence rate of 61.3% in Africa and 52.5% in Asia. Pharmacist interventions have shown a positive effect in improving therapeutic adherence to hypertensive patients, as well as diabetes mellitus who routinely taking the drugs. The aim of the study was to know effect of giving patient information leaflet (PIL) along with motivational SMS on knowledge, perception, and compliance of pregnant patients in primary care. This study used a quasi-experimental method with pre-post design for two groups, the control group who received the Patient Information leaflet (PIL) and the intervention group who received the Patient Information leaflet (PIL) and motivational SMS from the researcher. Statistical analysis using SPSS with paired t test was used to determine differences in knowledge, perceptions and patient compliance before and after the intervention. Respondents who met the inclusion and exclusion criteria in this study were 74 patients. In the control group the mean score showed a significant difference was the knowledge of iron supplementation with p value= 0.001. Whereas in the treatment group, the mean score showed a significantly different were knowledge of iron supplementation and patient compliance with p values ​​were 0.002 and 0.001.  Berdasarkan dari data WHO (World Health Organization) diperkirakan sekitar 41.8% anemia terjadi pada pasien ibu hamil, dengan tingkat prevalensi tertinggi 61.3% di daerah Afrika, dan 52.5% di daerah Asia. Intervensi  Farmasis  telah  menunjukkan  pengaruh  positif dalam  peningkatan kepatuhan terapi pasien hipertensi, maupun diabetes mellitus yang mana rutin mengkonsumsi obat. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  melihat  pengaruh  pemberian  patient  information  leaflet (PIL)   disertai SMS motivasi terhadap pengetahuan, persepsi, dan kepatuhan pasien hamil di pelayanan primer. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pre-post desain terhadap dua kelompok yaitu kelompok kontrol yang mendapatkan Patient Information leaflet (PIL) dan kelompok intervensi yang mendapatkan Patient Information leaflet (PIL) dan SMS motivasi dari peneliti. Analisis statistik menggunakan SPSS dengan uji paired t test digunakan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, persepsi dan kepatuhan pasien sebelum dan sesudah intervensi. Responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi pada penelitian ini sebanyak 74 pasien. Pada kelompok kontrol  rerata skor yang menunjukkan nilai berbeda signifikan adalah pada pengetahuan suplementasi zat besi dengan nilai p =0,001. Sedangkan pada kelompok perlakuan, nilai rerata yang berbeda secara signifikan yaiu pada pengetahuan suplementasi zat besi dan kepatuhan pasien dengan nilai p berturut-turut adalah 0,002 dan 0,001

    Evaluasi Fitokimia dan Antioksidan dari Piper hispidum Sw. yang dikoleksi dari Desa Gunung Malang pada Vegetasi yang Berbeda

    Get PDF
    Jamaican pepper (Piper hispidum Sw.) is a wild plant, member of Piperaceae family and invasive plant species reported used to heal wounds and treat symptoms of skin leishmaniasis. This study aims to explore phytochemicals of Piper hispidum, especially phenolic content and antioxidant capacity, in two different abiotic condition of the forest, shaded and open area. Exploration of P. hispidum was conducted in Gunung Malang Village, Halimun Salak Mountain National Park (TNGHS). The sample was extracted with the ultrasonic method. The phenolic level and antioxidant activity were determined with Folin Ciocalteu and DPPH method where gallic acid was used as a standard. The total phenolic content assay showed 70% ethanol extract of P. hispidum Sw. leaves from the shaded and open forest were 17.4775 mg GAE/g and 12.6137 mg GAE/g of sample respectively. The antioxidant activity assay showed that IC50 of the sample from shaded and open forest were 94.8414 and 94.3412 ppm and gallic acid was 7.9817 ppm. This study showed that differences in vegetation and environmental abiotic factor may contributed in the amount of chemical compounds where open vegetation exposed to the sunlight had lower values than shaded but not significantly affected the antioxidant value.Jamaican pepper (Piper hispidum Sw.) adalah anggota Piperaceae, tumbuhan liar, dan merupakan jenis tumbuhan invasif yang dilaporkan digunakan untuk menyembuhkan luka dan mengobati gejala leishmaniasis kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia, khususnya kadar fenolik dan aktivitas antioksidan Piper hispidum di dua kondisi abiotik yang berbeda di dalam hutan, yaitu hutan terbuka dan hutan ternanungi. Eksplorasi dilakukan di Desa Gunung Malang, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Metode ekstraksi menggunakan ultrasonik, asam galat sebagai pembanding pada pengujian fenol dan metode DPPH untuk pengujian antioksidannya. Hasil uji kandungan total fenol menunjukkan ekstrak etanol 70% daun P. hispidum Sw. yang ternaung adalah 17,4775 mg GAE/g dan di hutan terbuka adalah 12,6137 mg GAE/g sampel. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa IC50 dari vegetasi tertutup dan terbuka berturut-turut adalah 94,8414 dan 94,3412 ppm dan serta asam galat sebagai pembanding sebesar 7,9817 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan vegetasi dan faktor biotik dan abiotik dapat mempengaruhi perbedaan kadar senyawa kimia, nilai uji fenol vegetasi terbuka dan terpapar matahari memiliki nilai yang lebih rendah dibanding ternanung tetapi tidak signifikan mempengaruhi kapasitas antioksidan

    461

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇