Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
    420 research outputs found

    Modifikasi Pati dari Buah Pisang Talas sebagai Eksipien Tablet dengan Teknik Pemanasan Dalam Berbagai Temperatur

    No full text
    Modifikasi  pati pisang talas pregelatinasi telah dilakukan dengan  memanaskan pati pada suhu gelatinisasinya. Penelitian diawali dengan menentukan suhu pregelatinasi yang tepat dan kemudian dibandingkan karakteristik fisik dan mekaniknya. Hasil rendemen pati termodifikasi sebesar 90,12% dengan suhu gelatinasi pati pisang talas yakni 60,41°C. Dari pengujian karakteristik diperoleh bahwa pati pisang talas pregelatinasi memiliki ukuran partikel yang lebih besar dibandingkan pati pisang talas. Sehingga menyebabkan sifat alir pati pisang talas pregelatinasi lebih baik yakni laju alir sebesar 9,7 g/detik dengan sudut istirahat 23,56°

    Kajian Penggunaan Leaflet Terhadap Kepatuhan pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan Di RSUD Islam Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

    No full text
    Hipertensi merupakan salah satu kontributor paling penting untuk penyakit jantung dan stroke yang keduanya menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di dunia. Berdasarkan survei dari WHO hipertensi memberi kontribusi 9,4 juta kematian akibat penyakit kardiovaskuler setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari intervensi berupa leaflet yang telah dimodifikasi pada pasien penyakit hipertensi yang dirawat diinstalasi rawat jalan RSUD Islam Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, pada priode bulan September - Oktober 2016. Analisis data selanjutnya dilakukan secara deskriptif dari data kuisioner morisky dan data tekanan darah pada rekam medik. Penelitian ini merupakan pre dan post eksperiment sebelum dan sesudah pemberian leaflet. Hasil Penelitian menunjukkan kepatuhan pasien baik yang diberikan intervensi leaflet meningkat dari 25,92% menjadi 44,44%. Tekanan darah menurun dengan rata-rata dari 142/85 mmHg menjadi 134/84 mmHg pada lntervensi leaflet

    Karakteristik dan Pengobatan Pasien Gastritis di Puskesmas Wonorejo Samarinda

    No full text
    Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran pencernaan yang paling sering terjadi. Dari data Dinas Kesehatan Kota Samarinda tahun 2013, gastritis masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak dengan urutan ke-2. Namun sampai saat ini, gastritis masih dianggap sebagai suatu hal yang remeh atau biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pengobatan pasien gastritis di Puskesmas Wonorejo Samarinda. Jenis penelitian ini bersifat prospektif. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Populasi penelitian ini adalah pasien yang berobat di Puskesmas Wonorejo dengan banyak sampel 41 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien gastritis di dominasi oleh wanita 65,85%, pada kelompok usia 36-45 tahun 36,60%, pendidikan terakhir adalah SMA 58,54%, pekerjaan Swasta 31,70%, merokok 50%, mengonsumsi obat NSAID 53,66% dan pola makan cukup 56,10%. Pengobatan pasien gastritis di bedakan menjadi 3 golongan, yaitu Antasida 21,95%, H2 reseptor antagonis menggunakan Famotidin 12,19% dan Ranitidin 53,67% serta Pompa Proton Inhibitor menggunakan Omeprazol 12,19%

    Studi Pola Penggunaan Antibiotik dan Analgesik Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) (Studi Dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap RSUD Abdul Wahab Sjahranie)

    No full text
    Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit kedua yang paling banyak dialami oleh pasien rawat inap di Rumah Sakit dan memerlukan antibiotik sebagai pengobatan utama. Sebesar 20-65% penggunaan antibiotik di rumah sakit dianggap tidak tepat sehingga dapat menimbulkan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan, karakteristik penderita ISK dan interaksi antara antibiotik dengan analgesik. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan dijabarkan secara deskriptif dengan mengambil data rekam medis pasien ISK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien yang terserang ISK terbesar merupakan perempuan 81%, usia remaja dan lansia 21%, pekerjaan ibu rumah tangga (IRT) 32%, dan tanpa penggunaan kateter 86%. Golongan antibiotik dan analgesik yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin 67% yaitu seftriakson 30% dan analgesik non opioid 96% yaitu parasetamol 71%. Dan tidak ada interaksi antara antibiotik dan analgesik yang digunakan

    Formulasi Gel Ekstrak Buah Libo (Ficus variegata Blume)

    No full text
    Tanaman libo banyak ditemukan pada daerah hutan kalimantan dan dapat tumbuh dengan cukup cepat. Buah dari tanaman libo sendiri diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan, pembasmi larva Aedes aegypti, aktivitas antibakteri, dan dapat membantu proses penyembuhan luka. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yakni untuk mengetahui proses formulasi dan aktivitas penyembuhan luka dari gel buah libo. Buah libo diekstraksi menggunakan metode maserasi dan diformulasikan dengan basis sediaan gel yakni Na-CMC dan HPMC dengan variasi konsentrasi ekstrak buah libo sebesar 1%, 2,5% dan 5% serta dilakukan evaluasi berupa uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas dan stabilitas. Hasil dari evaluasi formula tersebut dibandingkan dan dicari hasil yang paling baik. Didapatkan formula gel dengan hasil evaluasi yang stabil dan memenuhi syarat adalah gel dengan konsentrasi buah libo 5% dengan nilai pH 4,5; daya sebar 5,30 cm dan viskositas 5,01 Pa.s

    Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Ispa di Beberapa Puskesmas Kota Samarinda

    No full text
    Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah yang berlangsung hingga 14 hari dan biasanya menular. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit dengan prevalensi yang tinggi. Sebagian besar ISPA yang terjadi disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik serta pola penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Penelitian ini di lakukan secara retrospektif dengan mengambil data dari rekam medik pasien penderita ISPA sebanyak 221 pasien. Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin diperoleh persentasi pasien laki-laki dan perempuan berturut-turut (45,25%) dan (54,75%). Pasien penderita ISPA paling banyak terjadi di usia 36-45 tahun (29,41%), 18-25 tahun (28,96%), 26-35 tahun (25,34%) dan 46-55 tahun (19,29%). Hasil diagnosa dokter meliputi influenza oleh virus (4,22%), influenza (virus tidak teridentifikasi) (18,99%), faringitis akut (45,15%), tonsillitis akut (24,48%), nesofaringitis akut (4,22%), bronkitis akut (0,42%), laringitis akut (0,42%), ISPA tidak dispesifikasi (1,26%) dan sinusitis akut (0,84%). Antibiotik yang digunakan adalah amoksisilin 500 mg (83,71%), amoksisilin 250 mg (0,45%), kotrimoksazol 480 mg (8,15%), kloramfenikol 250 mg (0,45%), siprofloksasin 500 mg (4,07%), sefadroksil 500 mg (2,72%) dan eritromisin 250 mg (0,90%). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa penderita ISPA lebih banyak terjadi pada perempuan dan antibiotik yang banyak digunakan sebagai terapi ISPA adalah amoksisilin 500 mg

    Karakterisasi dan Identifikasi Metabolit Sekunder Isolat Jamur Endofit Daun Sukun (Artocarpus altilis)

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian “Karakterisasi dan Identifiksi Metabolit Sekunder Isolat Jamur Endofit Daun Sukun (Artocarpus Altilis)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi isolat jamur endofit yang diisolasi dari daun sukun dan golongan metabolit sekunder yang dimiliki oleh isolat jamur endofit tersebut. Karakterisasi isolat jamur endofit dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Untuk identifikasi metabolit sekunder isolat jamur endofit dilakukan dengan uji reaksi kimia dan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dengan pereaksi semprot spesifik. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua isolat jamur endofit (IFE1P dan IFE2HK) dari daun sukun. Hasil karakterisasi secara makroskopis menunjukkan, bahwa pada isolat IFE1P memiliki koloni berwarna putih dengan tekstur granular, permukaan berbentuk konsentris dan elevasi halus serta bentuk penonjolan timbul. Secara mikroskopis isolat IFE1P memiliki hifa aseptat dengan hialin, konidia dan konidiofor. Pengamatan secara makroskopis menunjukan, bahwa pada isolat IFE2HK memiliki koloni berwarna hijau kehitaman dengan tekstur menyerupai beludru, berbentuk bulat dengan tepi bergelombang dan elevasi halus dengan penonjolan berbentuk bukit. Secara mikroskopis isolat IFE2HK memiliki hifa septat berbentuk rhizoid dan terdapat konidiospora. Kedua isolat jamur endofit memiliki metabolit sekunder yang hampir serupa seperti tanaman inangnya, yaitu flavonoid, polifenol, triterpen, dan steroid. Senyawa saponin hanya terdapat pada isolat IFE1P dan tidak teridentifikasi pada isolat IFE2HK

    Analisis Pengetahuan dan Perilaku Pasien DM Tipe II dalam Penggunaan Insulin Secara Mandiri di Instalasi Rawat Jalan RSUD A.W Sjahranie Samarinda

    No full text
    Diabetes mellitus merupakan penyakit mematikan nomor 3 di dunia, dan Indonesia merupakan negara tertinggi ke 4 pengidap penyakit ini. Seiring dengan semakin bertambahnya penderita DM penggunaan insulin sebagai salah satu terapinya juga semakin meningkat, namun kesalahan  terapi  insulin cukup sering ditemukan dan menjadi masalah klinis yang penting. Bahkan terapi insulin termasuk dalam lima besar  pengobatan  beresiko tinggi (high-risk medication) bagi pasien di rumah sakit. Sehingga pengetahuan dan perilaku pasien harus mendapat perhatian lebih terhadap penggunaan terapi insulin agar optimalisasi terapi dapat tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pasien DM tipe 2 yang menggunakan insulin, mengetahui tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku pasien, serta mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku pasien dalam penggunaan insulin secara mandiri. Jenis penelitian ini bersifat prospektif. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Populasi penelitian ini adalah pasien yang berobat di instalasi rawat jalan bagian poli penyakit dalam RSUD A.W Sjahranie Samarinda dengan banyak sampel 43 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 di dominas oleh perempuan 51,16%, pasien pada kelompok usia 46-55 39,53%, pendidikan terakhir adalah SD 51,16%, pekerjaan Ibu rumah tangga 41,86%, serta pasien dengan riwayat keluarga yg mengidap DM sebanyak 76,74%. Pengetahuan dan perilaku pasien dalam penggunaan insulin didominasi pada tingkat yang cukup baik yakni pengetahuan sebesar 72.09%, dan perilaku sebesar 72,10%. Hasil penelitian juga menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan dan perilaku pasien yang signifikan, dimana semakin tinggi pengetahuan pasien maka perilaku pasien dalam menggunakan insulin akan semakin baik pula, hasil tersebut dibuktikan dengan didapatkannya nilai signifikansi (p) sebesar 0,000

    Cost Minimalization Analysis (CMA) dan Cost Efectivness Analysis (CEA) Antibiotika Profilaksis dan Paska Bedah Sesar Terindikasi di Salah Satu Rumah Sakit Samarinda

    No full text
    Bedah sesar adalah melahirkan janin melalui pembedahan di abdomen dan uterus. Komplikasi bedah sesar dapat terjadi sekitar 30-85%, hal ini menyebabkan peningkatan penggunaan antibiotik yang bervariasi dengan biaya yang bervariasi pula sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik profilaksis dan paska bedah dengan biaya yang lebih minimal serta mengetahui antibiotik profilaksis dengan efektivitas yang lebih baik pada kasus bedah sesar. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dengan teknik populasi sampling pada pasien bedah sesar terindikasi di salah satu rumah sakit di Samarinda periode Juni 2015-Juni 2016. Data dianalisis menggunakan metode evaluasi ekonomi Cost Minimalization Analysis (CMA) dan Cost Effectivness Analysis (CEA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotika profikasis yang paling banyak digunakan adalah seftriakson (166 kali) dan seftazidim (36 kali). Antibiotika paska bedah yang paling banyak digunakan adalah sefadroksil (117 kali) dan siprofloksasin (66 kali). Hasil analisis menunjukkan bahwa total biaya perawatan pasien dengan antibiotik profilaksis seftriakson adalah sebesar 9.179.784,- dan seftazidim adalah 9.105.537,- sedangkan antibiotik paska bedah sefadroksil sebesar 9.542.964,- dan siprofloksasin sebesar 8.843.990,-. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotika profilaksis seftazidim lebih efisien dibandingkan seftrikson. Sedangkan untuk antibiotika paska bedah siprofloksasin lebih efisien dibandingkan sefadroksil berdasarkan metode evaluasi ekonomi CMA. Antibiotik profilaksis pada kasus bedah sesar yang lebih efektif adalah seftazidim daripada seftiakson berdasarkan metode evaluasi ekonomi CEA

    Analisis Kepuasan Pasien Terhadap Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Sempaja Samarinda

    No full text
    Kepuasan pasien terhadap standar pelayanan kefarmasian di  puskesmas dapat diukur dengan membandingkan antara harapan pasien terhadap kualitas pelayanan kefarmasian yang diinginkan dengan kenyataan yang diterimanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien dan pelaksanaan standar minimal pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Penelitian observasi deskriptif dilakukan terhadap 270 responden menggunakan metode incidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner kepuasan pasien dan standar pelayanan minimal di Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81,75% responden puas terhadap pelayanan yang diberikan puskesmas. Standar pelayanan waktu tunggu resep di bagian farmasi Puskesmas dapat dikatakan baik dan hampir memenuhi standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas

    42

    full texts

    420

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇