Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
    420 research outputs found

    Analisis Biaya Minimal dan Efektivitas Biaya Penggunaan Analgesik Pada Pasien Bedah Sesar di Salah Satu Rumah Sakit Samarinda

    No full text
    Bedah sesar merupakan tindakan pembedahan untuk melahirkan bayi dengan cara  membuka dinding perut dan rahim. Salah satu komplikasi pada pasien dengan luka operasi sesar  adalah rasa nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analgesik dengan biaya minimal dan mengetahui efektivitas biaya penggunaan analgesik pada pasien bedah sesar. Penelitian ini dilakukan secara observasional melalui penelusuran data secara prospektif. Data dianalisis menggunakan metode Cost Minimization Analysis (CMA) dan Cost Effectivness Analysis (CEA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analgesik yang paling banyak digunakan adalah kombinasi tramadol dengan natrium metamizole dan kombinasi tramadol dengan ketorolak, dengan lama rawat inap 2-4 hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa analgesik yang memiliki biaya lebih minimal dan efektif  adalah kombinasi tramadol dengan ketorolak dengan nilai  CMA Rp10,499,009.60 dan nilai ACER sebesar Rp156,667.50

    Formulasi Nanoemulsi Kombinasi Ekstrak Bunga Mawar (Rosa damascena Mill.) dan Ekstrak Umbi Bengkuang (Pachyrhizus erosus L.) Menggunakan Minyak Pembawa Virgin Coconut Oil (VCO)

    No full text
    Ekstrak bunga mawar dan umbi bengkuang telah lama dimanfaatkan dalam bidang kosmetik karena dapat mencerahkan kulit sehingga agar dapat meningkatkan penetrasi dan absorpsinya melalui kulit dapat dibuat dalam bentuk sediaan nanoemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi kombinasi kedua ekstrak tersebut dalam sediaan nanoemulsi kemudian dilakukan karakterisasi fisik meliputi organoleptis, persen transmitan, ukuran partikel, dan pH. Nanoemulsi terdiri atas tiga komponen utama yaitu fase minyak, surfaktan dan kosurfaktan yang diformulasi menggunakan metode sonikasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah, formula terbaik untuk nanoemulsi kombinasi ekstrak bunga mawar dan umbi bengkuang yaitu formula dengan bahan VCO, Cremophor RH40 dan PEG 400 (2:7:1) dengan persen transmitan 95,8% , ukuran partikel 31,3 nm , indeks polidispersibilitas 0,274 dan pH 5,33

    Uji Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Bunga Mawar (Rosa damascena MILL) dan Umbi Bengkoang (Pachyrizus erosus)

    No full text
    Bunga mawar (Rosa damascena MILL) dan Umbi bengkoang (Pachyrizus erosus) mengandung senyawa flavonoid dan daidzein yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak tersebut dengan perbandingan 1:1, 1:2, 2:1, 1:3 dan 2:3. Metode penelitian dilakukan dengan persiapan sampel bunga mawar dimaserasi dengan pelarut etanol 96% dan umbi bengkuang disokletasi dengan pelarut petroleum eter, kemudian residu diekstraksi dengan metanol dan dilanjutkan fraksinasi cair-cair dengan etil asetat dan pengujian antioksidan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan IC50 kombinasi ekstrak dengan perbandingan 1:1 sebesar 38,422 ppm, 1:2 sebesar 30,490 ppm, 2:1 sebesar 78,613 ppm, 1:3 sebesar 18,222 ppm dan 2:3 sebesar 22,62 ppm

    Cost Minimization Analysis (CMA) Antibiotika Pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) Di RSUD Kota Samarinda

    No full text
    Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu istilah yang menggambarkan adanya infeksi melibatkan saluran kemih yang umumnya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Penggunaan antibiotika pada pasien yang berbeda dapat memberikan biaya yang berbeda beda juga,  dimana dengan biaya yang telah dikeluarkan tersebut belum tentu menjamin efektivitas kesembuhan pasien. Penelitian ini  bertujuan untuk menganalisis biaya yang dikeluarkan dan efektivitas penggunaan antibiotika ISK menggunakan analisis Farmakoekonomi dengan metode Cost Minimization Analysis (CMA). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dan dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medik pasien ISK di RSUD Kota Samarinda periode Januari 2017 - Juni 2018. Hasil penelitian menunjukan bahwa antibiotika pasien ISK yang paling banyak digunakan adalah seftriakson dan siprofloksasin, analisis menunjukkan bahwa biaya perawatan pasien dengan seftriakson sebesar Rp.3.600.138,- dan siprofloksasin sebesar Rp.3.635.140,-. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa biaya yang dikeluarkan cenderung sama, maka dibutuhkan evaluasi ekonomi lain untuk menilai ke efektivan antibiotika dengan metode Cost Effective Analysis (CEA)

    Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Stabilitas Warna Sari Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus Brriton and Rose)

    No full text
    Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap stabilitas sari buah naga.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder sari buah naga merah dan mengetahui stabilitas pigmen warna dari sari buah naga terhadap pengaruh suhu dan lama penyimpanan. Identifikasi metabolit sekunder sari buah naga dilakukan dengan menguji alkaloid, flavonoid, antosianin, steroid, tanin dan saponin, pengukuran suhu dan lama penyimpanan dilakukan dengan mengukur absorbansi sari buah naga merah dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang antosianin (534 nm) pada variasi suhu dingin (14°C) dan suhu ruang (30°C) pada durasi waktu hari ke-0, 1, 2, 4, 5,6, dan 7 hari. Hasil penelitian diperoleh sari buah naga mengandung alkaloid, flavonoid, antosianin, dan saponin, dan hasil pengukuran menunjukkan stabilitas warna sari buah naga merah lebih baik pada suhu dingin (14°C) dibandingkan dengan suhu ruang (30°C)

    Studi Penggunaan Analgesik dan Antibiotik pada Pasien Fraktur

    No full text
    Analgesik dan antibiotik merupakan terapi utama pada pasien fraktur. Berbagai macam jenis fraktur mendapatkan terapi analgesik dan antibiotik yang berbeda-beda. Oleh karena itu perlu diketahui pola penggunaan obat pada pasien fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, dan jenis fraktur serta pola penggunaan analgesik dan antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara retrospektif berdasarkan catatan rekam medik tahun 2017 di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang di diagnosis fraktur femur terbesar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang (51,17%) dan fraktur radius terbesar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang (53,15%).  Fraktur femur banyak terjadi pada usia remaja (15-24) sebanyak 17 orang (39,53%) dan fraktur radius banyak terjadi pada usia dewasa (25-44) sebanyak 11 orang (34,39%). Fraktur femur dan radius banyak terjadi pada jenis tertutup dengan persentasi 83,73% dan 84.37%. Hasil menunjukkan seftriakson adalah antibiotik yang paling banyak digunakan pada kedua fraktur, digunakan selama operasi dan juga pasca operasi dengan 100% dan 90,7% pada fraktur femur dan 100% dan 93,75% dalam fraktur radius. Hasil menunjukkan natrium metamizol adalah analgesik yang paling banyak digunakan pada kedua fraktur, digunakan selama operasi dan juga pasca operasi dengan 100% dan 86,05% pada fraktur femur dan 96,87% dan 93,75% dalam fraktur radius

    Pengaruh Pemberian Infusa Daun Sirsak (Annona muricata L.) terhadap Profil Kadar Malondialdehida (MDA) Tikus Putih (Rattus norvegicus)

    No full text
    Daun sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman yang telah digunakan secara empiris oleh masyarakat karena salah satu manfaatnya sebagai antioksidan. Daun sirsak diketahui banyak mengandung berbagai senyawa antara lain steroid/terpenoid, flavonoid, kumarin, alkaloid, dan tanin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui IC50, kadar MDA pemberian infusa daun sirsak dan pengaruh pemberian infusa daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap tikus putih yang terpapar asap rokok berdasarkan pengukuran kadar malondialdehida (MDA). Penelitian ini menggunakan 20 tikus putih yang dibagi dalam empat kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol, paparan 7 hari, paparan 14 hari dan paparan 7 hari lalu pemberian infusa daun sirsak 7 hari. Metode yang digunakan dalam pengukuran kadar MDA yaitu metode Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS) yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada ? = 531 nm. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini yaitu uji-t. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu IC50 sebesar 66,08 ppm (kuat), kadar MDA pada kelompok pemberian infusa daun sirsak pada hari ke 0, 7 dan 14 nilainya berturut-turut sebesar 0,470 nmol/mL; 0,652 nmol/mL dan 0,470 nmol/mL. Hasil statistik menunjukkan bahwa adanya pengaruh pemberian infusa daun sirsak terhadap profil kadar MDA (p<0,05)

    Pengaruh Pengobatan ARV terhadap Peningkatan Limfosit Pasien HIV-AIDS Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

    No full text
    Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi dan menyerang sel limfosit CD4. Virus ini mampu berkembang biak dengan cepat hingga membunuh sel CD4 dan akhirnya dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Sehingga virus ini dapat dicegah dengan obat ARV (antiretroviral). Keberhasilan terapi ARV dapat diukur seberapa patuhnya pasien ODHA dalam melakukan terapi ARV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, pola pengobatan dan pengaruh peningkatan limfosit terhadap pasien HIV-AIDS. Penelitian dilakukan dengan rancangan studi observasional dengan pengambilan data secara retrospektif, dianalisis secara deskriptif dengan kriteria inklusi adalah pasien HIV-AIDS rawat jalan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita HIV-AIDS terbanyak adalah perempuan dengan usia 20-43 tahun (51,92%). Pola pengobatan menunjukkan bahwa kombinasi ARV TDF(300)+3TC(300)+EFV(600) adalah kombinasi ARV terbanyak yang digunakan pada pasien HIV-AIDS dengan jumlah 20 pasien (38,46%). Dari hasil uji t-test didapatkan adanya pengaruh (p<0,05) pengobatan ARV dengan limfosit CD4 sehingga dapat disimpulkan bahwa pengobatan ARV dapat meningkatkan limfosit CD4 pada pasien HIV-AIDS

    Gambaran Karakteristik dan Adherence Pasien dengan Terapi Second-Line MDR-TB Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

    Get PDF
    Program Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dengan terapi HRZE (first line) adalah pengobatan Tuberkulosis yang dilakukan selama 6-8 bulan dengan kepatuhan yang rendah (non adherence) yang menyebabkan responden menjadi MDR-TB. Terapi second-line  MDR-TB adalah regimen terapi yang rumit dan efek samping yang dirasakan lebih besar dibandingkan dengan terapi first-line. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik dan adherence pasien dengan terapi second-line MDR-TB di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan cara pengambilan data secara retrospektif dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini berupa karakteristik pasien MDR-TB yaitu yang menjalani pengobatan tahap intensif sebanyak 12,1%, yang menjalani pengobatan tahap lanjutan sebanyak 87,9%, yang menjalani pengobatan di satelit sebanyak 69,7%, yang menjalani pengobatan di pusat sebanyak 30,3%, yang memiliki penyakit penyerta sebanyak 21,2%, yang tidak memiliki penyakit penyerta sebanyak 78,8%, laki-laki sebanyak 63,6%, perempuan sebanyak 36,4%, pada usia 18-55 tahun sebanyak 90,9%, pada usia >55 tahun sebanyak 9,1%, yang bekerja sebanyak 63,6%, dan yang tidak bekerja sebanyak 36,4%. Serta adherence pasien MDR-TB di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda adalah responden yang adherence sebanyak 72,7% dan non adherence sebanyak 27,3%

    Sintesis Senyawa Turunan Flavanon dan Uji Bioaktivitas Senyawa Kalkon sebagai Senyawa Antara dalam Sintesis Flavanon

    No full text
    Golongan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologi sepeti antikanker, antitumor, antiproliferatif, dan antimikroba adalah golongan flavonoid dimana flavanon merupakan salah satu senyawanya. Dalam penelitian ini senyawa 2-hidroksi-5-kloro asetofenon dan 4-hidroksi benzaldehida direaksikan melalui reaksi Kondensasi Claisen-Schmidt menghasilkan senyawa turunan kalkon yaitu 2’-hidroksi-5’-kloro-4-hidroksikalkon. Kemudian senyawa 6-kloro-4’-hidroksi flavanon disintesis melalui reaksi siklisasi turunan kalkon dengan metode refluks menggunakan asam sulfat di dalam etanol sebagai katalis. Senyawa hasil sintesis dikarakterisasi dengan teknik elusidasi struktur menggunakan  1H-NMR, 13C-NMR dan MS (Mass Spectroscopy). Dilakukan uji aktivitas antioksidan dan uji toksisitas dari senyawa 2’-hidroksi-5’-kloro-4-hidroksi kalkon hasil sintesis dengan menggunakan metode DPPH dan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan dihitung nilai IC50 dan LC50 dengan menggunakan analisis Reed and Muench. Nilai IC50 dan LC50 senyawa 2’-hidroksi-5’-kloro-4-hidroksi kalkon diperoleh 131,19 ppm dan 46,465 pp

    42

    full texts

    420

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇