Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
420 research outputs found
Sort by
Uji Efek Antidiare Ekstrak Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia Roxb.) terhadap Mencit (Mus musculus)
Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan frekuensi defekasi dan penurunan konsistensi feses disebabkan oleh gangguan absorpsi air dan elektrolit di dalam usus. Kunyit hitam disebut sebagai tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat tradisional untuk berbagai jenis penyakit salah satunya diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek antidiare ekstrak rimpang kunyit hitam dan dosis terbaik dalam memberikan efek penurunan frekuensi defekasi dan peningkatan konsistensi feses pada mencit diare. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 40 ekor mencit yang diinduksi diare menggunakan oleum ricini 0,75 ml. Mencit dibagi menjadi 8 kelompok yaitu kelompok normal tanpa perlakuan, kontrol positif diberi Loperamide HCl, kontrol negatif diberi NaCMC 1%, kelompok kontrol uji diberi 5 variasi dosis ekstrak rimpang kunyit hitam 50 mg/KgBB, 150 mg/KgBB, 250 mg/KgBB, 300 mg/KgBB, dan 500 mg/KgBB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ekstrak rimpang kunyit hitam dapat menurunkan frekuensi defekasi dan meningkatkan konsistensi feses dengan nilai signifikasi (p<0,05). Ekstrak rimpang kunyit hitam dosis 250 mg/KgBB merupakan dosis terbaik karena dapat menurunkan frekuensi defekasi dan meningkatkan konsistensi feses dengan hasil lebih baik dari Loperamide HCl
Characteristics of Kersen Leaf (Muntingia calabura L.) and Bay Leaf (Syzygium polyanthum) Herbal Tea as Antioxidants
Antioxidants can protect body cells from damage caused by free radicals. Free radicals can damage cells and body tissue. The body has natural antioxidants but not in large quantities so the body needs antioxidants that come from outside. Antioxidants from outside the body can come from various natural ingredients native to Indonesia which have potential as antioxidants, one of which comes from cherry leaves (Muntingia calabura L.) and bay leaves (Syzygium polyanthum). This research aims to determine the antioxidant activity of cherry leaf (Muntingia calabura L.) and bay leaf (Syzygium polyanthum) herbal tea so that people can use it as an alternative source of antioxidants. The data collection method is carried out using instruments in the laboratory. The research results showed that cherry leaves (Muntingia calabura L.) and bay leaves (Syzygium polyanthum) were identified as containing alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Simplicia\u27s characteristic data meets the requirements of SNI (Indonesian National Standards). As well as the IC50 value of herbal tea, cherry leaves (Muntingia calabura L.) were found to be 1,39 µg/ml and bay leaves (Syzygium polyanthum) 1,72 µg/ml, which means they have very strong antioxidant activity because the IC50 value is <50
The Effect of Several Varying Chitosan Concentrations on the Zeta Potential of Dayak Onion (Eleutherine bulbosa) Extract Nanoparticles
Dayak onion bulb extract (Eleutherine bulbosa) contains alkaloids, flavonoids and saponin which have antioxidant and antidiabetic activity. The bioavailability of dayak onion bulb extract can theoretically be increased by reducing the particle size of the extract into nanoparticles. The zeta potential value is one of the factors that influences the surface charge and stability of nanoparticles. This research aims to determine the effect of several variations in chitosan concentration on the zeta potential of dayak onion extract nanoparticles. Dayak onion extract nanoparticle formulation was carried out with 4 variations of chitosan concentration, namely 0,1%, 0,2%, 0,3%, and 0,4%. The results of the zeta potential value for each chitosan concentration are -20,8 mV, 11,2 mV, 23,7 mV, and 29,5 mV
Hubungan Pelayanan Informasi Obat dengan Pengetahuan dan Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi di Puskesmas Kerang Kecamatan Batu Engau: Hipertensi
Salah satu cara untuk menanggulangi hipertensi adalah meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam pengobatan dengan cara pemberian Pelayanan Informasi Obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan dan tingkat kepatuhan, mengetahui pelayanan informasi obat serta mengetahui hubungan pelayanan informasi obat dengan pengetahuan dan tingkat kepatuhan pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah observasional analisis dengan pengambilan data secara pendekatan prospektif menggunakan data rekam medik dan hasil wawancara. Hasil penelitian karakteristik pasien mayoritas masuk fase dewasa akhir sebesar 25,4%, berjenis kelamin perempuan sebesar 70,1%, berpendidikan SD sebesar 59,7% dan berprofesi sebagai IRT sebanyak 64%. Tingkat kepatuhan pasien hipertensi masih rendah dengan presentase 59,80% dan tingkat pengetahuan pasien hipertensi juga termasuk kategori rendah dengan presentase 52,24%, pelayanan informasi obat yang sering diberikan hanya nama obat, sediaan, dosis, cara pakai, penyimpanan, dan efek samping dan diperoleh nilai signifikan pada Tingkat Pengetahuan nilai korelasi sebesar 0,344 dan Tingkat Kepatuhan dengan nilai korelasi sebesar 0,649
Skrining Fitokimia dan Karakterisasi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccana L.)
Kemiri merupakan tanaman yang menarik, khususnya aktivitasnya sebagai penguat rambut serta aktivitas antibakterinya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk mendapatkan minyak biji kemiri, salah satunya dengan metode sangrai. Metode ini merupakan metode yang murah dan mudah dilakukan. Namun belum ada informasi fitokimia terhadap minyak kemiri yang dihasilkan dengan metode sangrai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung pada minyak biji kemiri dan mengkarakterisasi minyak biji kemiri. Metode penelitian skrining fitokimia minyak biji kemiri meliputi alkaloid, flavonoid, steroid/ terpenoid, tannin, fenol, dan saponin. Karakterisasi minyak biji kemiri meliputi uji organoleptik, uji kadar air, uji bilangan asam, uji bilangan penyabunan, dan uji massa jenis. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa minyak biji kemiri mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, dan steroid. Hasil yang diperoleh dari karakterisasi minyak biji kemiri yaitu dari organoleptik minyak biji kemiri berwarna kuning, tekstur licin dan berbau khas minyak kemiri, kadar air 0,01%; bilangan asam 5%; bilangan penyabunan 184,1825 mg KOH/ g; massa jenis 1,03 g/ mL. Hasil ini memperlihatkan bahwa minyak biji kemiri yang diperoleh telah sesuai dengan standar SNI minyak
Antimicrobial Activity from Extract and Fraction of Banitan Stem Bark (Monocarpia kalimantanensis)
Banitan (Monocarpia kalimantanensis) is a plant that grows in the Samboja area, East Kalimantan. Antimicrobial activity extract and fractions of banitan stem barks against Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Candida albicans has never been done. This study aims to determine the yield and antimicrobial activity produced by banitan bark extract and fractions (n-hexane, ethyl acetate and n-butanol) against Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Candida albicans. Antimicrobial activity was assayed by agar well diffusion method using 5 concentration groups of the extract and fractions of banitan stem bark, namely 0,625%; 1,25%; 2,5%; 5%; and 10% with chloramphenicol and ketoconazole as positive control and DMSO 10% as negative control. The diameter inhibition zone value of ethanol extract, n-hexane, ethyl acetate and n-butanol fractions at the concentration 10% for Staphylococcus aureus were 13,63; 9,08; 21,18; 6,05 mm, Escherichia coli were 14,46; 9,93; 21,97; 6,90 mm and Candida albicans were 11,85; 18,09; 19,36; 13,17 mm. The ethyl acetate fraction showed the highest inhibitory activity at a concentration of 10%
Karakteristik Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) sebagai Kandidat Bahan Aktif dalam Formulasi Gel Sleeping Mask
Tumbuhan kersen (Muntingia calabura L.) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan fitokimia dalam tanaman kersen meliputi flavonoid, terpenoid, steroid, fenolik, saponin dan tanin. Kandungan ini menjadikan tumbuhan kersen memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan berpotensi untuk diformulasikan dalam bentuk sediaan gel sleeping mask. Antioksidan memiliki peran penting yaitu dapat menetralkan radikal bebas yang ada di dalam tubuh, dimana radikal bebas ini berkaitan erat dengan percepatan penuaan dan karsinogenik. Oleh karena itu, dilakukan pengujian aktivitas antioksidan ekstrak daun kersen secara kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mengetahui potensi tumbuhan kersen sebagai sumber antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan kersen memiliki karakteristik warna coklat kehitaman, berwujud padat, aroma khas, dengan pH ekstrak 4,29. Kandungan senyawa metabolit sekunder yang ada di dalamnya antara lain flavonoid, alkaloid, dan tanin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak daun kersen menunjukkan nilai IC50 sebesar 13.11242 dan termasuk dalam kategori sangat kuat
Skrining Fitokimia dan Pengujian Toksisitas Ekstrak Etanol Buah Mangrove (Sonneratia ovata) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
The mangrove plant (Sonneratia ovata) serves ecological, culinary, and traditional medicinal purposes, such as treating asthma, reducing fever, addressing hemorrhoids, muscle pain, back pain, bone pain, joint pain, and hepatitis. However, data on the toxicity of this plant is still limited. This research aims to determine the yield value, secondary metabolite outcomes, and toxicity profile of ethanol extract from mangrove fruits (Sonneratia ovata). The research method involves sample preparation, maceration extraction with 96% ethanol, phytochemical screening, and toxicity testing using the BSLT method. The findings reveal a yield value of 56.458% for the mangrove fruit extract. Phytochemical screening indicates the presence of flavonoids, tannins, phenolics, and saponins in the ethanol extract. The toxicity test results show a toxicity value of 7727.914 ppm for the mangrove fruit ethanol extract. In conclusion, based on the BSLT method, the ethanol extract of mangrove fruit falls into the non-toxic category
Profil Kromatografi Lapis Tipis Antioksidan Tumbuhan Gulma: Axonopus compressus (Sw.) P. Beauv and Digitaria ciliaris (Retz.) Koeler
Gulma merupakan spesies tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman budidaya dan sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu yang tidak diinginkan karena dianggap merugikan. Tumbuhan gulma yang sering dianggap mengganggu ini dapat dimanfaatkan khususnya sebagai sumber pengobatan. Telah banyak Penelitian yang menyajikan informasi mengenai manfaat tumbuhan gulma sebagai sumber pengobatan penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada tumbuhan gulma Axonopus compressus and Digitaria ciliaris melalui profil kromatografi lapis tipis (KLT). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol dan didapatkan hasil nilai rendemen ekstrak Axonopus compressus sebesar 3.01% dan ekstrak Digitaria ciliaris sebesar 3,27%. Uji profil KLT didapatkan golongan metabolit sekunder ekstrak metanol Axonopus compressus dan Digitaria ciliaris yaitu flavonoid, alkaloid, steroid/terpenoid, saponin, dan tanin. Uji kualitatif aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH pada plat KLT ekstrak metanol Axonopus compressus dan Digitaria ciliaris didapatkan hasil positif noda berwarna kuning dengan nilai RF 0,6; 0,65 dan 0,7 yang menunjukkan adanya senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan
Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit Hitam (Curcuma caesia ROXB.) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Kunyit hitam (Curcuma caesia ROXB.) merupakan salah satu spesies dari kunyit, dari family Zingberaceae yang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan memiliki hubungan erat dengan aktivitas tabir surya yang merupakan senyawa untuk menyerap atau memantulkan sinar matahari sehingga dapat mencegah gangguan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) ekstrak etanol rimpang kunyit hitam dengan metode ekstraksi soxletasi menggunakan pelarut etanol 96% dan penentuan nilai SPF menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Pengujian dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm yang diukur pada panjang gelombang UV 290-320 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SPF dari seri konsentrasi 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm berturut-turut 10,93; 10,90; 13,49; 19,31; 20,42. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa nilai SPF yang tinggi terdapat pada konsentrasi 250 ppm dan 300 ppm yakni 19,31 dan 20,42 yang termasuk dalam kategori proteksi ultra