Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
420 research outputs found
Sort by
Formulasi Sediaan Tablet Parasetamol dengan Pati Buah Sukun (Artocarpus communis) Sebagai Pengisi
Penggunaan pati sebagai bahan pengisi umum digunakan dalam pembuatan tablet guna menyempurnakan bentuk tablet. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi kualitas granul dan sifat fisik sediaan tablet parasetamol menggunakan pati sukun sebagai bahan. Pati dibuat dengan cara dekantasi dan pengeringan. Empat formula sediaan tablet (F1, F2, F3, dan F4) dibuat menggunakan metode granulasi basah dengan bobot 575mg (F1), 600mg (F2), 650mg (F3), dan 700mg (F4) dengan menggunakan pati sebesar 4,3% (F1), 8,3% (F2), 15,3% (F3), dan 21,4% (F4). Evaluasi kualitas granul, meliputi pengujian laju alir, sudut istirahat, densitas dan indeks kompresibilitas. Sedangkan evaluasi sifat fisik tablet meliputi pengujian keseragaman ukuran, keseragaman bobot, waktu hancur dan friabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi kualitas granul memenuhi persyaratan laju alir, sudut istirahat, dan indeks kompresibilitas, tetapi tidak memenuhi syarat distribusi ukuran partikel. F1 dan F2 dapat dikempa. F2 tidak memenuhi syarat friabilitas namun memenuhi syarat keseragaman bobot, ukuran dan waktu hancur. F1 memenuhi semua syarat uji sifat fisik table
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Hutan (Cnestis palala (LOUR)MERR)
Tanaman belimbing hutan merupakan tanaman yang secara empiris digunakan untuk meredakan sakit perut dan juga untuk menyembuhkan luka yang disertai infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder serta mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak daun belimbing hutan (Cnestis Palala(Lour)Merr) terhadap beberapa bakteri uji. Sampel dikumpulkan kemudian dimaserasi menggunakan pelarut metanol. Identifikasi senyawa metabolit sekunder dilakukan menggunakan uji kualitatif dengan mereaksikan sampel dengan beberapa reagen. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Data hasil identifikasi metabolit sekunder dianalisis secara kualitatif dengan melihat adanya perubahan warna. Hasil identifikasi golongan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak positif terdapat senyawa flavonoid, fenol dan tannin. Data hasil pengujian antibakteri dianalisis dengan mengukur zona bening yang terbentuk disekitar paper disc. Hasil pengujian antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing hutan memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Konsentrasi terbaik ekstrak daun belimbing hutan dalam membunuh bakteri yaitu 50% dengan rata-rata diameter zona bunuh Escherichia coli (10.40 mm), Salmonella thyposa (9.77 mm), Staphylococcus aureus (10.17 mm), dan Bacillus subtilis (9.67 mm)
Pegaruh Konsentrasi HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) Sebagai Gelling Agent dengan Kombinasi Humektan Terhadap Karakteristik Fisik Basis Gel
Sediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan cara memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah pemilihan gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) merupakan gelling agent yang sering digunakan dalam produksi kosmetik dan obat karena dapat menghasilkan gel yang bening, mudah larut dalam air, dan toksisitasnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC sebagai gelling agent dengan kombinasi humektan yaitu gliserin dan propilen glikol, yang memiliki karakteristik fisik yang sesuai dengan persyaratan. Formulasi gel dibuat dengan variasi konsentrasi HPMC 3%, 5% dan 7%, selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisik yang meliputi viskositas, pH, daya sebar, organoleptis, homogenitas. Evaluasi fisik dilakukan selama 4 minggu pada suhu kamar. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa basis gel dengan konsentrasi HPMC 3% memenuhi persyaratan dengan nilai viskositas yaitu 4,69 ± 0,14 Pa., nilai pH yaitu 5,17 ± 0,02, daya sebar yaitu 32,98 ± 0,85 cm, organoleptis yaitu berwarna bening, tidak memiliki bau dan berbentuk agak cair, serta homogen
Uji Aktivitas Mukolitik dari Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn) Menggunakan Mukosa Usus Sapi Secara In Vitro
Daun sirsak (Annona muricata Linn) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang belum banyak diteliti penggunaannya sebagai obat batuk. Batuk merupakan gejala adanya gangguan pada saluran pernafasan dan seringkali menyebabkan rasa tidak nyaman. Salah satu contoh batuk yaitu batuk berdahak. Mukolitik merupakan obat yang bekerja dengan cara memecah benang-benang mukoprotein. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi dari ekstrak daun sirsak sebagai mukolitik dan mengidentifikasi golongan senyawa aktifnya. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi menggunakan etanol 70%. Pengujian ini menggunakan mukosa usus sapi dengan kontrol negatif berupa dapar posfat, kontrol positif berupa obat herbal X dan kelompok uji menggunakan ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi 0,5%; 0,75% dan 1%. Viskositas larutan uji diukur dengan Viskometer rion. Aktivitas mukolitik dilihat dari penurunan nilai viskositas mukus. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun sirsak pada konsentrasi 1% memberikan efek mukolitik yang sebanding dengan obat herbal X sebagai kontrol positif. Ekstrak daun sirsak mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin
Efek Toksik Pemberian Ekstrak Etanol Daun Mekai (Albertisia papuana Becc.) Terhadap Mencit: Toxic Effects of Mekai (Albertisia papuana Becc.) Leaf Ethanol Extract on Mice
Daun mekai merupakan tanaman khas Kalimantan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak secara tradisional sebagai terapi untuk penyakit seperti hipertensi, stroke, kanker. Secara ilmiah daun mekai memiliki potensi sebagai anti plasmodium, antibakteri dan antifungi. Saat ini penelitian dan pengembangan daun mekai sebagai kandidat obat baru masih terus berlanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksik pemberian ekstrak etanol daun mekai berdasarkan kematian, tanda toksisitas, perubahan berat badan, dan indeks organ. Mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol (NaCMC) dan 4 kelompok dosis ekstrak etanol daun mekai (5000, 10000, 15000, dan 30000 mg/KgBB). Masing-masing diamati dalam rentang waktu 30, 60, 120, 180, dan 240 menit setelah pemberian ekstrak etanol daun mekai. Pengamatan dilanjutkan hingga 14 hari untuk mengamati gejala toksik, perubahan berat badan dan kematian serta mencit dibedah setelah 14 hari untuk diamati organnya. Berdasarkan hasil penelitian efek toksik pemberian ekstrak etanol daun mekai memberikan pengaruh pada mencit uji berdasarkan tanda toksisitas, indeks organ dan kematian dengan nilai LD50 31,5723 g/KgBB namun tidak memberikan pengaruh terhadap berat badan mencit
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI DAUN ALPUKAT (PERSEAAMERICANA MILL) TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI DANSTAPHYLOCOCCUS AUREUS
Daun alpukat (Persea americana Mill) merupakan tanaman yang sudah sejak lama dikenal masyarakat indonesia serta digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Salah satunya adalah sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan konsentrasi efektif dari fraksi n-heksan, etil asetat dan n-butanol. Pengujian daun alpukat ini menggunakan metode disc diffusion dengan mengamati Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum. Bakteri yang diujikan adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Konsentrasi fraksi yang digunakan yakni 0,5%, 1%, 3%, 5% dan 10%. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi antibakteri pada semua fraksi daun alpukat yang ditunjukkan dengan adanya zona bening di sekitar paper disk. Zona bening terbesar adalah 10,09 mm diperoleh dari fraksi n-heksan dengan konsentrasi 10% pada biakan bakteri Escherichia coli
Pengujian Kualitas Aspek Mikrobiologi Air Minum Isi Ulang
Beberapa tahun terakhir ini usaha air minum isi ulang telah berkembang pesat di di Indonesia, khususnya di Kota Samarinda. Setiap usaha air minum wajib melakukan pemeriksaan mutu produk sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kualitas aspek mikrobiologi air minum isi ulang yang dijual di tiga depo air minum isi ulang di Samarinda. Pengujian mikrobiologis dilakukan meliputi pemeriksaan angka cemaran bakteri dengan metode angka lempeng total (ALT), pemeriksaan mikrobiologis dengan Most Probable Number (MPN), serta pemeriksaan bakteri koliform dan bakteri patogen, seperti Escherichia coli, Salmonella thyposa, dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satupun sampel yang melebihi batas yang dipersyaratkan dalam air minum serta sampel yang diuji tidak mengandung Escherichia coli dan Salmonella thyposa, namun 2 sampel mengandung bakteri Staphylococcus aureus
Identifikasi Metabolit Sekunder Minyak Atsiri Kulit Jeruk Manis Pontianak (Citrus nobilis Lour.) Menggunakan Metode Ekstraksi Microwave Hydrodistillation: Identification of Secondary Metabolites of Essential Oil Sweet Orange Pontianak Peel (Citrus nobilis Lour.) Using Microwave Hydrodistillation Extraction Method
Jeruk manis pontianak (Citrus nobilis Lour.) merupakan salah satu komoditas unggulan tanaman holtikultura di Kalimantan Barat, Pontianak. Umumnya, kulit jeruk di Indonesia hanya dibuang begitu saja padahal kulit jeruk memiliki banyak khasiat terlebih jika diolah menjadi minyak atsiri. Senyawa yang terkandung dalam kulit jeruk bermanfaat dalam bidang kesehatan yaitu sebagai antibakteri, antijamur, antioksidan, antiaging, dan dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam minyak atsiri kulit jeruk manis pontianak yang diekstraksi dengan metode microwave hydrodistillation. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan adalah analisis fitokimia. Minyak atsiri kulit jeruk manis pontianak diperoleh dengan ekstraksi microwave hydrodistillation. Minyak atsiri kulit jeruk manis pontianak yang dihasilkan kemudian dilakukan uji skrining fitokimia. Hasil uji skrining fitokimia didapatkan hasil bahwa minyak atsiri kulit jeruk manis pontianak positif mengandung senyawa flavonoid, saponin, terpenoid, dan alkaloid, sedangkan hasil negatif mengandung senyawa steroi
Isolasi Jamur Endofit Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata) dan Uji Aktivitas Antioksidan
Temu kunci (Boesenbergia pandurata) merupakan tanaman dari suku Zingiberaceae) yang memiliki aktivitas biologis salah satunya adalah antioksidan. Jamur endofit merupakan jamur yang terdapat di dalam sistem jaringan tumbuhan seperti daun, bunga, cortex dan akar. Jamur endofit mampu yang menghasilkan metabolit sekunder seperti inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit pada rimpang temu kunci yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Metode isolasi yang digunakan menggunakan teknik sterilisasi permukaan dan penanaman eksplan pada permukaan media Yeast Extract Agar Chloramphenicol (YEAC) kemudian dilakukan pemurnian, karakterisasi, fermentasi dan uji antioksidan dengan metode autografi DPPH. Hasil penelitian diperoleh 2 isolat jamur endofit yang tumbuh pada rimpang temu kunci yaitu genus Aspergilus sp dan Fusarium sp. Ekstrak isolat jamur endofit tersebut memiliki aktivitas antioksidan
Identifikasi Metabolit Sekunder dan Pengujian Toksisitas Ekstrak Metanol Kulit Kayu Laban (Vitex pinnata L.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Laban (Vitex pinnata) merupakan salah satu tanaman tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat dayak, untuk menyembuhkan diare dan disenteri Dalam penelitian ini digunakan bagian kulit kayunya sebagai sampel. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menghitung nilai rendemen, mengidentifikasi senyawa aktif dan analisis toksisitas dari kulit kayu laban dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan menggunakan larva udang Artemia salina L. sebagai bioindikator. Penelitian ini dimulai dari ekstraksi kulit kayu laban (Vitex pinnata) dengan metode refluks, dengan pelarut metanol. Ekstrak metanol kemudian dipekatkan, lalu dihitung nilai rendemen, dilakukan uji fitokimia dan uji toksisitas. Dari proses ekstraksi, diketahui bahwa nilai rendemen ekstrak metanol kulit kayu laban (Vitex pinnata) adalah sebesar 17%. Dari uji metabolit sekunder, diperoleh data bahwa ekstrak kulit kayu laban positif mengandung flavonoid, tanin dan senyawa fenolik. Dari hasil uji toksisitas diperoleh bahwa ekstrak metanol kulit kayu laban memiliki nilai toksisitas sebesar 177 ppm. Dari nilai LC50 ini, diduga bahwa ekstrak metanol kulit kayu laban (Vitex pinnata) memiliki aktivitas sebagai antimikroba