Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
Not a member yet
    420 research outputs found

    Analisis Variasi Konsentrasi terhadap Uji Toksisitas Akut Golongan Senyawa Metabolit Sekunder dari Ekstrak Biji Pepaya (Carica papaya L.) pada Larva Udang (Artemia salina Leach)

    No full text
    Pada bagian biji buah papaya terdiri dari embrio, jaringan bahan makanan, dan kulit biji yang dilapisi oleh suatu lapisan kulit biji yang berwarna keputihan, lunak, dan agak benik. Pada biji papaya terkandung berupa glucocide caricin dan carpai serta senyawa-senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, dan steroid. Biji papaya ini tidak hanya dijadikan sebagai benih melaikan biji papaya efektif untuk mengobati berbagai keluhan pada kesehatan tubuh. Biasanya biji papaya digunakan sebagai obat tradisional yang dapat meneymbuhkan gangguan pencernaan, obat cacing gelang, diare, penyakit kulit, kontrasepsi pria, bahan baku obat masuk angin dan sebagai sumber minyak dengan kandungan lemak-lemak tertentu. Oleh karena itu perlu dikakukan penelitian mengenai komponen senyawa metabolit sekunder pada ekstrak biji papaya dan mengetahui potensisi toksisitas.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui senyawa golongan apa saja diri suatu senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam biji papaya. Serta untuk mengetahui potensi toksisitas akut ekstrak biji papaya melalui metode BSLT dengan nilai LC 50 < 1000 ?g/ml. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahap yaitu pembentukan ekstrak biji papaya, analisis kualitatif uji fitokimia untuk senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid, dan steroid melalui pereaksi spesifik, serta analisis kuantitatif berupa uji toksisitas dengan menghitung jumlah larva yang mati pada konsentrasi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji kualitatif ekstrak biji papaya positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid, dan steroid. Saponin teruji negatef karena dilakukannya pengeringan dengan menggunakan oven sehingga saponin rusak, hal ini dikarenakan rentannya saponin terhadap suhu yang panas. Sedangkan pada uji kuantitatif ekstrak biji papaya positif bersifat sebagai toksisitas akut dengan nilai LC 50 410.875 ?g/ml

    Aktivitas Penurunan Gula Darah Kombinasi Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) dan Ekstrak Daun Insulin (Tithonia diversivolia) terhadap Mencit (Mus musculus)

    No full text
    Tanaman Kumis Kucing dan Insulin merupakan tanaman yang secara tradisional digunakan secara tunggal sebagai antihiperglikemik. Kandungan polifenol dan flavonoid pada kedua tanaman tersebut diduga mampu memberikan aktivitas sebagai antihiperglikemik. Untuk itu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas penurunan gula darah dengan mengkombinasikan ektrak daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dan ekstrak daun insulin (Tithonia diversifolia) terhadap mencit (Mus musculus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui aktivitas penurunan gula darah Mencit (Mus musculus) Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) dan Ekstrak Etanol Daun Insulin (Tithonia diversivolia). Uji penurunan gula darah dilakukan dengan metode toleransi glukosa oral dan diukur dengan glukometer. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol negatif, pembanding glibenklamid, kelompok uji ekstrak kombinasi perbandingan Ekstrak daun insulin (300 mg/kgBB):Ekstrak daun Kumis kucing (750 mg/kg) dengan perbandingan masing-masing 1:1, 2:1 dan 1:2. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar glukosa darah pada menit ke 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180 dan 210 menit. Pemberian sediaan uji dilakukan setelah diberikan pembebanan sukrosa 5 g/kgBB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak dengan perbandingan 1:1, 1:2 dan 2:1 memiliki aktifitas dalam menurunkan gula darah dengan dosis 2:1 dapat menurunkan kadar gula darah secara optimum dan efek yang dihasilkan berbeda dengan Glibenklamid

    Uji Aktivitas Tabir Surya Kombinasi Fraksi Etil Asetat Annona muricata Linn Folium, Artocarpus champeden Spreng Folium dan Plectranthus scutellaroides Folium Secara In Vitro

    No full text
    Daun sirsak (Annona muricata Linn folium), daun cempedak (Artocarpus Champeden Spreng folium) dan daun miana (Plectranthus scutellaroides L folium) merupakan tanaman yang telah terbukti memiliki aktivitas tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas tabir surya kombinasi  fraksi etil asetat daun sirsak, daun cempedak dan daun miana secara in vitro serta nilai SPF. Aktivitas tabir surya dan nilai SPF diuji menggunakan spektrofotometri. Aktivitas tabir surya pada 292,5-372,5 nm dan nilai SPF pada 290-320 nm. Hasil penelitian menunjukan perbedaan aktivitas tabir surya pada tanaman tunggal dan tanaman kombinasi yaitu pada tanaman kombinasi memiliki aktivitas tabir surya dan nilai SPF yang lebih tinggi dari pada tunggalnya. Pada tanaman kombinasi daun sirsak, daun cempedak dan daun miana mampu mencapai kategori aktivitas tabir surya tertinggi yaitu sebagai sunblock dan nilai SPF sebagai proteksi ultra

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Gonore Di RSUD AWS Samarinda Berdasarkan ATC/DDD dan DU90%

    No full text
    Gonore merupakan penyakit menular seksual yang disebakan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang dapat diobati dengan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan kuantitas penggunaan antibiotik pada penyakit gonore. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan studi retrospektif yang diambil dari catatan medik untuk menilai kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik. Sampel diambil dengan cara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 catatan medik didapatkan total penggunaan antibiotik 54,33 DDD/1000 KPRJ dan antibiotik yang masuk dalam DU 90% yaitu cefixime (28,8 DDD/1000 KPRJ), azitromisin (14,1 DDD/1000 KPRJ), amoxicillin (3,2 DDD/1000 KPRJ), doxycycline (3,2 DDD/1000 KPRJ), levofloxacine (2,12DDD/1000 KPRJ), ciprofloxacin (1,7 DDD/1000 KPRJ), dan gentamisin (0,7DDD/1000 KPRJ). Kesimpulan penelitian yang didapat menunjukkan bahwa secara kuantitas penggunaan antibiotik yang paling banyak adalah cefixime sebesar 28,8DDD/1000 KPRJ

    Potensi Antiinflamasi Ekstrak Daun Tahongai (Kleinhovia hospita L)

    No full text
    Tumbuhan tahongai (Kleinhovia hospita L) merupakan salah satu tumbuhan yang tersebar luas di Kalimantan Timur salah satunya di Samarinda. Secara empiris daun  tahongai digunakan sebagai hepatoprotektor dan untuk menyembuhkan  penyakit degeneratif. Inflamasi merupakan respon terhadap kerusakan jaringan akibat rangsangan kimia, mekanis maupun infeksi oleh mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan potensi  daun tahongai sebagai antiinflamasi menggunakan metode paw edema dengan penginduksi karegenan 1% pada tikus putih yang dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu kontrol negatif (Na CMC), kontrol positif (Na diklofenak) dan diberikan ekstrak dengan dosis 250mg/kgBB, 500mg/kgBB dan 750mg/kgBB. Pengukuran volume edema dilakukan setiap 1 jam  selama 9 jam menggunakan instrument pletismometer. Hasil pengukuran disajikan berdasarkan data rata-rata volume bengkak secara deskriptif. Berdasarkan hasil pengamatan, ekstrak daun tahongai menunjukan aktivitas terbaik sebagai  antiinflamasi  pada dosis  750mg/kgBB

    Pola Penggunaan Antibiotik Penyakit Pneumonia Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie

    Full text link
    Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat. Penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada orang dewasa dan pada orang usia lanjut. Pneumonia paling sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus atau mikoplasma. Pemilihan dan penggunaan terapi antibiotika yang tepat dan rasional akan menentukan keberhasilan pengobatan. Selain itu tidak tertutup kemungkinan penggunaan antibiotik yang lain dapat meningkatkan peluang terjadinya Drug Related Problems (DRP). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik penyakit pneumonia pasien anak di instalasi rawat inap Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Kota Samarinda. Penelitian bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada pasien pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil pada periode bulan Januari-Desember 2014 melalui rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien pneumonia paling banyak diderita oleh laki-laki sebanyak 52 kasus (63,42%) dan perempuan sebanyak 30 kasus (36,58%), berdasarkan umur yang paling banyak berusia 1 – 12 bulan sebanyak 49 pasien (59,76%). Penggunaan antibiotik berdasarkan pemilihan golongan yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin generasi III sebanyak 41 pasien (39,42%). Golongan penisilin sebanyak 22 pasien (21,15%). Kombinasi antibiotik aminoglikosida dengan sefalosporin generasi III sebanyak sebanyak 11 pasien (13,41%) dan kombinasi antibiotik penisilin dengan aminoglikosida sebanyak 11 pasien (13,41%). Penggunaan antibiotik berdasarkan jenis obat yang paling banyak digunakan adalah sefotaksim sebanyak 31 pasien (41,9%) dan ampisilin sebanyak 14 pasien (18,92%). Sefiksim sebanyak 10 pasien (13,51%) dan gentamisin sebanyak 10 pasien (13,51%). Kombinasi antibiotik sefotaksim dengan gentamisin sebanyak 11 pasien (13,41%) dan kombinasi antibiotik ampisilin dengan gentamisin sebanyak 11 pasien (13,41%)

    Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora L.) Terhadap Mikroba Candida albicans dan Staphylococcus aureus

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas daun turi sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans. Pengujian aktivitas mikroba dilakukan dengan metode difusi agar pada cawan petri menggunakan paperdisc dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35% pada bakteri Staphylococcus aureus, dan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5% dan 10% pada jamur Candida albicans, dan aquades sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas antimikroba ekstrak daun turi dilihat dari zona hambat. Konsentrasi terbaik terdapat pada konsentrasi 30% pada bakteri Staphylococcus aureus, dan konsentrasi 5% pada jamur Candida albicans

    Bioaktivitas Empat Spesies Tumbuhan dari Famili Euphorbiaceae dan Verbenaceae Di Hutan Hujan Tropis Kalimantan Timur

    No full text
    Latar Belakang dan Tujuan: Penggunaan biopestisida yang berasal dari tumbuhan dan mikroorganisme telah berkembang untuk menggantikan pestisida kimia yang dapat merusak keseimbangan  ekosistem. Tujuan penelitian ini adalah untuk menskrining bioaktivitas larvasida dan antimakan tumbuhan dari Famili Euphorbiacea dan Verbenacea sebagai penelitian dasar pengembangan biopestisida. Metode: Sampel segar disortasi, dibersihkan, dikeringkan dan dihaluskan hingga diperoleh serbuk simplisia kering. Serbuk simplisia diekstraksi dengan maserasi menggunakan metanol selama 2 x 24 jam. Bioaktivitas larvasida ekstrak diuji terhadap larva Artemia Salina Leach dan larva Culex fatigans, sedangkan  bioaktivitas antimakan diuji terhadap larva Tenebrio molitor. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ekstrak daun Lantana camara dari famili Verbenacea memiliki aktivitas LC50 yang baik terhadap Artemia Salina Leach yaitu 21,65 ppm. Bioaktivitas larvasida terhadap Culex fatigans tidak menunjukkan hasil yang memuaskan pada seluruh ekstrak yang diuji. konsentrasi terbaik terdapat pada ekstrak  Duranta erecta L. dari Famili Verbenacea dengan nilai LC95 sebesar 1.717 ppm. Hasil uji antimakan terhadap Tenebrio molitor memiliki aktivitas yang baik ditunjukkan pada ekstrak batang Euphorbia mili dari Famili Euphorbiaceae dengan IC95 sebesar 2,707 %

    Identifikasi Metabolit Sekunder, Uji Toksisitas, dan Uji Antioksidan Ekstrak Kulit Batang Terap (Artocarpus odoratissimus blanco)

    Full text link
    Terap (Artocarpus odoratissimus) merupakan salah satu tumbuhan daerah tropis yang memiliki potensi sebagai sumber bahan kimia bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder serta aktivitas antioksidan dan toksisitas dari kulit batang terap. Langkah penelitian ini meliputi proses maserasi menggunakan pelarut metanol, setelah itu dilakukan pemekatan ekstrak menggunakan Rotary evaporator. Metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak kulit batang terap yaitu flavonoid, fenolik, tannin, saponin, dan triterpenoid. Aktivitas antioksidan secara spektrofotometri UV-VIS menggunakan metode DPPH (1,1-dyphenyl-2-picrylhidrazyl) memiliki nilai IC50 50 ppm dan aktivitas toksisitas menggunakan metode BSLT memiliki nilai LC50 462,38 ppm

    Profil Kromatografi Fraksi N-Heksana Daun Belimbing Hutan (Cnetis palala (lour) Merr)

    No full text
    Belimbing Hutan (Cnetispalala (lour) Merr) berasal dari kabupaten kutai barat banyak digunakan sebagai pengobatan alternatif oleh masyarakat Kalimantan. Belimbing hutan memiliki aktivitas antioksidan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil kromatografi isolat fraksi n-heksana yang memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut metanol dan dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan pelarut n-heksana. Fraksi n-heksana kemudian ditentukan profil kromatografinya menggunakan eluen n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, 3:7, dan 2:8. Berdasarkan profil kromatografi diperoleh bahwa eluen terbaik untuk mengisolasi senyawa aktif antioksidan pada fraksi n-heksana daun belimbing hutan adalah n-heksana:etilasetat dengan perbandingan 8:2

    42

    full texts

    420

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇