Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Kadar Testosteron Darah Pasien Setelah Pemberian Jamu Aprodisiaka Di Rumah Riset Jamu“Hortus Medicus” Tawangmangu
Aprodisiaka dikenal sebagai zat untuk meningkatkan gairah seksual khususnya pada laki-laki. Pemberian jamu aprodisiaka untuk meningkatkan libido memerlukan bukti ilmiah yang memadai terutama dalam efikasinya. Salah satu indikator efikasi adalah dengan mengukur kadar testosteron darah. Sebuah penelitian uji klinik dengan desain pre-post test telah dilakukan di Rumah Riset Jamu “Hortus Medicus” Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu untuk menilai kadar testoseron darah setelah pemberian jamu aprodiaka. Sebanyak 25 subjek secara sukarela mengikuti penelitian ini mendapatkan terapi formula jamu selama 2 bulan. Formula jamu merupakan infusa yang terdiri dari rimpang temulawak 15 gram, buah cabe jawa 3 gram, herba pegagan 9 gram, buah krangean 3 gram, biji adas 3 gram diminum 2 kali sehari. Kadar testosteron subyek diukur pada awal (hari ke-0), hari ke 28 dan hari ke 56. Hasil uji T antara kadar testosteron pada H-0 dibandingkan H-28, didapatkan nilai p=0,000, sedangkan hari ke-0 dibandingkan hari ke-56 didapapatkan nilai p=0,000. Hal tersebut menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara sebelum dengan sesudah perlakuan. Dapat disimpulkan formula jamu untuk aprodisiaka meningkatkan kadar testosteron darah subjek
Peningkatan Aktivitas Antimikroba Ekstrak Nanas (Ananas comosus (L.). Merr) dengan Pembentukan Nanopartikel
Bonggol nanas (Ananas comosus (L.). Merr) mengandung enzim bromelain dengan kadar tertinggi dibandingkan bagian nanas lainnya. Salah satu fungsi enzim bromelain adalah sebagai antimikroba. Ekstrak bonggol nanas dibuat dalam bentuk nanopartikel dengan menggunakan kitosan kemudian dikeringkan dengan metode freeze drying. Serbuk kering ekstrak ditentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) terhadap Staphylococcus aureus. Nanopartikel ekstrak kering dilakukan uji ukuran partikel, zeta potensial, dan morfologi partikel. Nanopartikel ekstrak kemudian diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel. Tiap formula dilakukan uji mutu fisik antara lain organoleptik, homogenitas, viskositas dan sifat alir dan uji mutu kimia (pH). Hasil penelitian menunjukkan nanopartikel ekstrak memiliki ukuran partikel 60,8 nm dan bentuk partikel kering sferis. Ekstrak bonggol nanas memiliki KHM pada konsentrasi 1,25%. Gel formula IV menunjukkan DDH tertinggi yaitu 62,5 mm dan memiliki viskositas dan pH yang stabil. Dengan demikian pembuatan nanopartikel pada ekstrak bonggol nanas dapat meningkatkan aktivitas antimikroba dalam sediaan gel untuk penggunaan secara topika
Analisis GC-MS Senyawa Aktif Antioksidan Fraksi Etil Asetat Daun Libo (Ficus variegata Blume.)
Daun Libo (Ficus variegata Blume.) memiliki daun yang tidak dimakan oleh hama/serangga, hal ini diduga karena kandungan metabolit sekunder daun libo mengandung senyawa aktif yang potensial salah satunya adalah sebagai antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komponen senyawa antioksidan fraksi etil asetat daun libo dengan metode GC-MS. Interpretasi spektrum massa GC-MS dilakukan dengan menggunakan database WILLEY9THN 08.L. Hasil analisis spektrum GC-MS fraksi etil asetat aktif antioksidan mengandung 2,5-Cyclohexadiene-1,4-dione, 2,6-bis(1,1-dimethylethyl (0,65%), 1-Octadecene (1,29%), 2-Hexadecen-1-ol, 3,7,11,15-tetramethyl- (1,54%), 7,9-Di-tert-butyl-1-oxaspiro(4,5)deca-6,9-diene-2,8-dione (1,52%), 1-Nonadecene (3,39%), 1-Docosene (3,39%), Nonadecyltrifluoroacetate (2,12%), 1,2-Benzenedicarboxylic acid,(2-ethylhexyl) ester (45,53%), 1-Docosene (2,71%), Pyrene, hexadecahydro (4,56%), Urs-12-en-3-ol, acetate,(3.beta.) (1,97%), 12-Oleanen-3-yl acetate, (3.alpha.)- (5,19%), Urs-12-en-3-ol, acetate,(3.beta.) (1,53 %), Taraxasterol-acetate (0,30%), 1-(Dimethylamino)-5-{[4\u27-(5"-(4"\u27-iodophenyl ethynyl|)-1"-naphthylethynyl]-1(8,46%), dan 7,8,17,18-Tetrahydro-35-methoxy-1,3,21,23-tetramethyl-16H,31H-5,9,15,19-dime (10,04%)
Karakterisasi Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.)
Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.) banyak tumbuh di sekitar kawah gunung berapi namun belum banyak informasi yang terkuak. Tujuan penelitian: Melakukan karakterisasi ekstrak daun Cantigi yang diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat, dan etanol 95%; penapisan fitokimia ekstrak; uji aktivitas sitotoksik ekstrak; fraksinasi ekstrak dengan kromatografi kolom; uji sitotoksik fraksi; pembuatan profil GC/MS fraksi teraktif. Hasil penelitian: Hasil penapisan fitokimia menunjukkan positif untuk flavonoid, steroid, tannin, dan triterpenoid. Aktivitas sitotoksik pada sel leukemia L1210 (IC50) 12,67; 8,29; dan 10,42 µg/mL. Fraksinasi ekstrak teraktif etilasetat (Kromatografi kolom: Fase diam silika gel 60, fase gerak kloroform:metanol 10:1, 8:1, dan 4:1) diperoleh 4 fraksi. Aktivitas sitotoksik (IC50) Fraksi 1-4 adalah 3,62; 1,69; 2,98; dan 2,96 µg/mL. Karakterisasi fraksi F2 dengan GC/MS menunjukkan 15 senyawa. Simpulan: Aktivitas sitotoksik fraksi ekstrak etilasetat (F2) lebih tinggi dibandingkan non-fraksi ekstrak etilasetat dan ini belum pernah dilaporkan sebelumnya
Studi Klinik Efek Ramuan Jamu untuk Insomnia terhadap Fungsi Hati Pasien Klinik Hortus Medicus
Hati merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Organ ini merupakan pusat metabolisme, salah satunya adalah metabolisme obat. Pengobatan konvensional yang menggunakan bahan kimia dapat menimbulkan perubahan pada fungsi hati. Sedangkan pada pengobatan tradisional, efek pengobatan pada fungsi hati masih jarang dipublikasikan. Salah satu penggunaan obat tradisional adalah jamu sebagai sedatif. Sebuah penelitian diadakan di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) tahun 2013 untuk mengetahui perubahan terhadap fungsi hati pasien-pasien yang mendapatkan terapi ramuan jamu insomnia. Penelitian berupa observasi terhadap 30 pasien insomnia yang datang dan berobat di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus. Pasien insomnia yang mendapat terapi ramuan jamu selama 14 hari diobservasi fungsi hatinya. Evaluasi dilakukan pada nilai laboratoris yang merepresentasikan fungsi hati (SGOT dan SGPT) pada hari ke-0 dan hari ke-14. Perbandingan hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah terapi menggambarkan perbedaan yang tidak bermakna kadar SGOT dan SGPT subjek penelitian(p>0,05). Semua subjek memiliki nilai SGOT dan SGPT yang normal secara klinis dan laboratoris. Pemberian ramuan jamu untuk insomnia tidak mengganggu fungsi hati
Efektivitas Antiinflamasi Fraksi Air Ekstrak Daun Sembukan (Paederia foetida L.) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Telah dilakukan penelitian Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Daun Sembukan (Paederia foetida L.) Pada Tikus Putih (Rattus Norvegiens). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa dosis efektif dari fraksi ekstrak daun sembukan yang paling baik memberikan efek antiinflamasi terhadap edema buatan pada telapak kaki tikus putih. Penelitian menggunakan metode pembentukan edema buatan dan mengukur volume kaki tikus putih secara berkala dengan menggunakan alat pletismometer. Dosis yang digunakan untuk ekstrak adalah 25mg/200gBB, 50mg/200gBB, dan 100mg/200gBB. Data hasil penelitian selanjutnya diolah dengan menggunakan analisis varian (Anava) dua arah, pengujian lanjutan uji BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan). Hasil penelitian yang menyatakan dosis efektif ekstrak daun sembukan yaitu dosis 50mg/200gBB yang memiliki aktivitas antiinflamasi paling baik
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pacar (Lawsonia Inermis L.)
Telah dilakukan penelitian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Pacar (Lawsonia inermis L.). Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar dengan konsentrasi uji 10%, 15% dan 20% pada ekstrak metanol dan 1%, 5%, 10%, 15% dan 20% pada fraksi n-heksana, etil asetat dan n-butanol terhadap bakteri uji S.aureus dan P.aeruginosa. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun pacar dengan nilai zona hambat pada konsentrasi 10% (3,40 mm dan 2,50 mm), 15% (6,48 mm dan 6,05 mm) dan 20% (2,86 mm dan 3,18 mm). Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana dengan nilai zona hambat pada konsentrasi 1% (0,66 mm dan 0 mm), 5% (2,15 mm dan 1,81 mm), 10% (5,00 mm dan 3,36 mm), 15% (4,26 mm dan 1,98 mm) dan 20% (3,84 mm dan 4,60 mm). Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat dengan nilai zona pada konsentrasi 1% (0,57 mm dan 0,78 mm), 5% (3,61 mm dan 2,80 mm), 10% (6,99 mm dan 5,82 mm), 15% (4,83 mm dan 6,75 mm) dan 20% (4,84 mm dan 5,23 mm). Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-butanol dengan nilai zona hambat pada konsentrasi 1% (0 mm dan 0 mm), 5% (7,00 mm dan 1,91 mm), 10% (5,87 mm dan 4,71 mm), 15% (8,57 mm dan 6,08 mm) dan 20% (6,69 dan 4,82 mm). Kontrol negatif aquades tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri
Analisis Karakteristik dan Kejadian Drug Related Problems pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Temindung Samarinda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien hipertensi, dan jenis-jenis serta persentase Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien hipertensi di Puskesmas Temindung Samarinda. Penelitian bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospektif pada pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil pada periode bulan Februari 2014 melalui rekam medik, wawancara dan pemberian kuisioner.Dari data tersebut selanjutnya dianalisis karakteristik pasien dan adanya kejadian drug related problems (DRPs). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderitahipertensi terbanyak adalah pasien wanita dengan usia 41 hingga 60 tahun, pasien yang memiliki gaya hidup kurang sehat 23,80 %, pasien yang memiliki riwayat hipertensi keluarga 63,49 %. Kejadian Interaksi obat7,5 %, Adverse Drug Reaction 37,5 %, dan ketidakpatuhan pasien 37,5 %
Kandungan Metabolit Sekunder dan Efek Penurunan Glukosa Darah Ekstrak Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L) Pada Mencit (Mus musculus)
Telah dilakukan penelitian dengan judul “Kandungan Metabolit Sekunder dan Efek Penurunan Glukosa Darah Ekstrak Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L)Pada Mencit (Mus Musculus)” bertujuan untuk mengetahui metabolit skunder, aktivitas dan dosis efektif ekstrak biji buah rambutan terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit. Hasil pengujian metabolit sekunder menunjukan bahwa biji rambutan mengandung senyawa fenol, flavonoid dan tannin. Penelitian dilakukan dengan pemberian dosis ekstrak yaitu 0,05 mg/20g, 0,09 mg/20g dan 0,18 mg/20g BB Mencit, serta kontrol negatifnya Na CMC yang diberikan per oral setiap satu kali sehari selama 7 hari. Pengukuran glukosa dilakukan pada hari ke-0, ke-4 dan ke-8 menggunakan alat Glukosameter. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik ANAVA satu arah, dilanjutkan dengan uji BNJD. Hasil ANAVA satu arah dan dilanjutkan dengan BNJD menunjukan bahwa dosis 0,09 mg/BB Mencit merupakan dosis efektif sebagai penurunan kadar glukosa darah
Pengaruh Edukasi terhadap Penurunan Risiko Penyakit Kardiovaskur pada Pria dengan Obesitas
Prevalensi obesitas di Indonesia telah meningkat beberapa tahun terakhir. Meningkatnya prevalensi obesitas disebabkan oleh banyaknya jumlah makanan yang terjangkau harganya dan gaya hidup aktivitas menetap. Melihat besarnya dampak dari obesitas, maka perlu dilakukan usaha-usaha pencegahan maupun penanggulangan. Penanggulangan obesitas dapat dilakukan salah satunya dengan modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup adalah suatu perubahan perilaku, yang mana gaya hidup merupakan perilaku individu yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas, minat dan pandangan individu yang di pengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan sekitar. Modifikasi gaya hidup dapat diwujudkan dalam bentuk edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap fakor risiko kardiovaskular pada pasien obesitas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode Before-after Study untuk menguji efektivitas dari edukasi pada 23 karyawan pria Universitas Surabaya yang mengalami obesitas. Faktor risiko kardiovaskular diukur dengan menggunakan Framingham Scoring. Semua pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Hasil penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diedukasi pada faktor risiko kardiovaskular berdasarkan body mass index (BMI) dan profil lipid (2,10%± 0,01 and 1,78%± 0,02 p=0,00). Metode edukasi lisan dapat digunakan sebagai alat edukasi dan informasi bagi pasien yang mengalami obesitas