Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
High Calcium Boba from Egg Shells to Prevent Stunting and Boost the Immune System
Nutritional status and stunting are problems in several countries, including Indonesia. Calcium is one of the important micronutrients to prevent stunting, and the immune system can act as a second messenger of lymphocytes to maintain the body\u27s immune response. Calcium in eggshells can be processed into boba which is popular in the community. This study aims to examine eggshells as a high-calcium food source to prevent stunting and help increase immunity. This research is a Literature Review of open access articles published in 2016 - 2021 on Google Scholar, PubMed, and Science Direct. Duplicate reports were excluded from the study. The keywords used in searching the journal in the database are eggshells, calcium, stunting, immune system, and popular foods. Research shows that every gram of eggshell contains 381 mg of calcium. Adequate calcium intake supports increasing height, maintaining bone health, and preventing stunting. Increased intracellular calcium is essential for the steps of intracellular signaling that induce proliferation, cytokine production, and regulation of several transcription factors. Eggshells can be safely consumed if they are kept for 20 minutes and finely ground with the high calcium content. High calcium boba from eggshell flour can prevent stunting and boost the immune system
Flavonoid dalam Penyembuhan Luka Bakar pada Kulit: Flavonoids in Healing Burns on the Skin
Luka bakar dapat sebabkan oleh panas atau trauma akut lain, saat ini jumlah kasusnya masih tinggi di Indonesia maupun dunia. Kemajuan pengobatan luka bakar dilakukan melalui penelitian bahan alami yang berpotensi. Flavonoid adalah senyawa polifenolik yang paling banyak ditemukan pada tumbuh-tumbuhan serta berpotensi dalam penyembuhan luka bakar. Literature review ini bertujuan mengulas tentang luka bakar, struktur histologi kulit serta potensi flavonoid pada penyembuhan luka bakar. Metode yang digunakan dalam pembuatan literature review ini dengan pencarian data melalui database pada Science Direct, PubMed, dan Google chrome. Dari hasil pencarian ditemukan 19 jurnal yang sesuai, diperoleh hasil bahwa senyawa jenis flavonoid yang terkandung pada beberapa tumbuhan berpotensi menyembuhkan luka bakar melalui kemampuannya dalam penghambatan biosintesis prostanoid, penghambatan fosfodiesterase, serta berbagai mekanisme penting lainnya
Variasi Manifestasi Klinis Adverse Cutaneous Drug Reaction (ACDR) pada Pasien di RS Atma Jaya Tahun 2020-2024: Patterns of Clinical Manifestation in Adverse Cutaneous Drug Reactions (ACDR) in Patients at Atma Jaya Hospital from 2020 to 2024
Prevalensi adverse cutaneous drug reaction (ACDR) terus meningkat seiring dengan tingginya penggunaan obat di populasi global. Di Indonesia, data mengenai variasi manifestasi klinis ACDR masih terbatas, terutama dalam konteks pelayanan kesehatan di rumah sakit swasta. Penelitian ini bertujuan untuk melihat variasi manifestasi klinis ACDR pada pasien di RS Atma Jaya selama periode 2020-2024. Studi ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis untuk mengetahui karakteristik klinis dan demografis, riwayat pengobatan dan luaran klinis pasien. Sebanyak 17 pasien dengan ACDR tercatat, dengan rerata usia 49,9 ± 20,8 tahun (rentang 18-80 tahun), dan proporsi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Manifestasi klinis ACDR yang paling sering ditemukan adalah fixed drug eruption (FDE) sebesar 29,4%, diikuti dengan erupsi makulopapular, eritroderma dan Stevens-Johnson Syndrome (SJS), masing-masing sebesar 17,6%. Komorbiditas yang paling banyak dijumpai adalah diabetes melitus (22,2%), hipertensi (14,8%) dan penyakit gagal ginjal (14,8%). Jenis obat yang paling banyak dikonsumsi pasien sebelum timbulnya ACDR adalah antibiotik (16,7%), antihipertensi (14,3%) dan parasetamol (11,9%). Temuan ini menegaskan pentingnya untuk mengenali variasi manifestasi klinis ACDR serta pemantauan ketat dalam penggunaan obat-obatan yang diketahui memiliki potensi tinggi dalam memicu ACDR
Profil Penyakit Periodontal di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda: Periodontal Diseases Profile in Abdoel Wahab Sjahranie Hospital
Penyakit periodontal merupakan penyakit pada gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi yang ditandai adanya inflamasi pada gingiva, tulang alveolar, sementum, dan ligamen periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penyakit periodontal di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda (RSUDAWS) tahun 2016-2020. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif yang dilakukan dengan mengumpulkan data rekam medis pasien penyakit periodontal tahun 2016-2020. Data diperoleh sebanyak 130 kasus dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian didapatkan jenis penyakit periodontal yang banyak ditemukan pada penelitian ini adalah chronic periodontitis sebanyak 70 orang (53,8%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 71 orang (54,6%), rentang usia pasien terbanyak adalah 17-25 tahun sebanyak 35 orang (26,9%), pekerjaan pada pasien terbanyak adalah swasta, yaitu 57 orang (43,8%), tingkat pendidikan pasien terbanyak adalah SMA sebanyak 73 orang (56,2%), dan penyakit sistemik penyerta terbanyak yang dialami pasien penyakit periodontal adalah karsinoma nasofaring sebanyak 17 orang (13,1%). RSUDAWS sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di provinsi Kalimantan Timur cenderung mendapatkan kasus penyakit periodontal yang lebih sedikit dengan tingkat keparahan kasus penyakit periodontal yang lebih tinggi dibandingkan fasilitas kesehatan lainnya di wilayah tersebut
Profil Elektrolit dan Hematologi Pasien Balita Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan-Sedang di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda: Electrolyte and Hematological Profiles of Children Under Five with Acute Diarrhea Complicated by Mild to Moderate Dehydration at RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda
Di seluruh dunia, diare berada pada urutan kedua teratas sebagai penyebab mortalitas pada anak di bawah lima tahun (balita). Diare juga menjadi penyebab kematian tertinggi pada balita di Indonesia maupun di Kalimantan Timur. Berbagai komplikasi dapat ditimbulkan oleh diare, seperti dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga kematian. Sebagian besar komplikasi tersebut terkait dengan keterlambatan diagnosis serta pemberian terapi yang tidak tepat. Salah satu modalitas yang dapat membantu penegakan diagnosis diare akut pada anak adalah pemeriksaan elektrolit dan hematologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil elektrolit dan hematologi pasien balita diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data penelitian diperoleh dari rekam medis RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2019-2021 menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 102 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan pada pemeriksaan hematologi, nilai rata-rata leukosit, hemoglobin, dan hematokrit masing-masing 12500/µL, 12.04 g/dL, dan 35.91%. Pada pemeriksaan elektrolit, didapatkan nilai rata-rata natrium, kalium, dan klorida masing-masing 135.4 mmol/L, 4.31 mmol/L, dan 106.39 mmol/L. Kesimpulan penelitian ini adalah profil elektrolit dan hematologi pada sebagian besar balita diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang berada pada nilai normal serta gangguan elektrolit yang paling sering terjadi adalah hiponatremi, diikuti oleh hipokalemi dan hiperkloremi
An Evaluation of the Antidiabetic and Antimicrobial Activity of an Ethanolic Extract from Rhizophora mucronata Leaf
The aim of this research was to determine the antidiabetic and antimicrobial properties of ethanolic extract of Rhizophora mucronata leaves, as well as the phytochemical elements contained in the leaf extract. Extracts from R. mucronata leaf samples were obtained by maceration in ethanol-based solvents. The ethanolic extract of R. mucronata leaves is known to have an antidiabetic effect on mice, evidenced by its ability to reduce blood glucose levels. Giving ethanol extract at a dose of 600 mg/kg BW gives the greatest antidiabetic effect. The antibacterial activity of the extract against the tested bacteria and fungi was also limited due to the presence of contaminants in the ethanolic extract. The analysis of secondary metabolites using LC-MS revealed that the ethanolic extract of R. mucronata leaves contained 25 different secondary metabolite compounds. Furthermore research to purify and identify the compounds in the ethanolic extract of R. mucronata is required to develop this resource as an antimicrobial and antidiabetic drug based on natural materials
Efikasi Biolarvasida Berbagai Tanaman Untuk Pengendalian Vektor Nyamuk Anopheles: Biolarvicidal Efficacy of Various Plants for Controlling Anopheles Mosquito Vectors
Vektor nyamuk menjadi salah satu ancaman yang serius terhadap prevalensi dan insidensi penyakit malaria, demam berdarah, demam kuning dan filariasis. Malaria merupakan penyakit infeksi Plasmodium yang ditularkan nyamuk Anopheles betina. Kasus malaria di negara tropis dan subtropis menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Pengendalian vektor nyamuk selama ini menggunakan senyawa kimia dan sintesis. Metode ini mampu menurunkan kasus malaria, namun dalam jangka panjang menimbulkan masalah baru yang turut memperlambat eliminasi malaria. Pengendalian vektor pada fase larva menggunakan senyawa bioaktif berbagai tanaman menjadi alternatif untuk memberantas vektor, disamping itu memanfaatan senyawa bioaktif tersebut relatif lebih aman, murah, mudah. Tanaman mengandung sejumlah senyawa yang bersifat toksik pada larva nyamuk Anopheles. Studi literatur ini bertujuan untuk hasil-hasil riset mengenai ekstrak berbagai tanaman yang berfungsi sebagai biolarvasida nyamuk Anopheles. Metode penelitian menggunakan studi literatur. Literatur yang berhungan dengan topik penelitian diperoleh dari basis data google scholar, semantic sholar, garuda, pubMed dan science direct. Literatur utama merupakan publikasi 10 tahun terakhir. Hasil studi literatur menunjukkan tanaman Vitex negundo Linn., Lawsonia inermis Linn., Stachys byzantina K.Koch., Pithecellobium dulce Bth., Olax dissitiflora Oliv., Ipomea cairica Linn., Ricinnus communis Linn., Carica papaya Linn., Paederia foetida Linn., Glycosmis pentaphylla Retz., Terminalia chebula Retz., Annona squamosa Linn., Tagetes erecta Linn. dan Azadiracha indica Juss. terbukti memiliki kemampuan larvasida terhadap vektor nyamuk. Simpulan studi ini adalah senyawa metabolit sekunder tanaman dapat digunakan sebagai kandidat sekaligus alternatif untuk pengendalian larva nyamuk Anopheles
Potensi Interaksi Polifarmasi Pasien Jantung Koroner (PJK) di Rumah Sakit I.A. Moeis Samarinda: Polypharmacy Potential Interactions in Coronary Heart (CHD) Patients at I.A. Moeis Hospital, Samarinda
Kondisi jantung mengalami perubahan disebut Penyakit Jantung Koroner yaitu, terjadinya perubahan sel-sel tubuh yang mendorong kerja organ. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, penyakit jantung koroner di Indonesia sebesar 1,5% atau diperkirakan menjadi 883.447 orang dan untuk Kalimantan Timur sebesar 1,9% atau sebanyak 13.977 orang. Penggunaan obat yang banyak, sering terjadi pada pasien jantung koroner dengan tambahan penyakit penyerta yang mengharuskan dokter meresepkan obat lebih dari satu untuk mengatasi keluhan yang dialami pasien. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui interaksi dari penggunaan obat pasien penyakit jantung koroner dan tambahan penyakit penyerta dengan adanya penelitian ini agar menjadi sumber informasi agar dapat meningkatkan profil pengobatan pada peresepan obat. Konsep dilakukan dengan metode pengumpulan data random sampling berupa pengambilan data resep pasien rawat jalan yang ada di poliklinik jantung selama 1 tahun yaitu pada bulan Januari – Desember 2021. Ditemukan 242 pasien, 59,1% laki-laki dan 40,9% perempuan. Penyakit penyerta tertinggi, dari 7 penyakit penyerta dengan pasien terbanyak adalah hipertensi berjumlah 122 dan disusul diabetes melitus 40 pasien. Interaksi obat terbanyak ditemukan pada obat clopidogrel dengan lansoprazole sebanyak 108, spironolakton dengan furosemide sebanyak 31, dan pada obat simvastatin dengan amlodipine sebanyak 26. Dengan kejadian interaksi obat sebanyak 218 dari 242 sampel
Analisis Kadar Total Flavonoid Ekstrak Etanol Kulit Pisang Cavendish (Musa paradisiaca var. Sapientum) Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis: Analysis of Total Flavonoids in the Ethanol Extract of Cavendish Banana Peel (Musa paradisiaca var. Sapientum) Using the Spectrophotometry Uv-Vis Method
Pisang cavendish (Musa paradisiaca var. Sapientum) adalah salah satu jenis pisang yang tersebar luas di berbagai Negara tropis dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan. Pisang memiliki kapabilitas dalam meningkatkan kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi dan mampu membantu memelihara lapisan sel yang berada di usus. Hal tersebut karena kandungan yang terdapat di dalam buah pisang yaitu senyawa asam lemak rantai pendek. Kulit Pisang cavendish kaya akan senyawa flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar flavonoid total pada ekstrak etanol kulit Pisang cavendish (Musa paradisiaca var. Sapientum). Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) yang ditandai dengan adanya penampakan noda dengan fluoresensi kuning pada UV 366 menggunakan AlCl3 & noda fluoresensi kuning kehijauan pada UV 366 menggunakan Sitroborat. Penetapan kadar flavonoid totalnya dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan standar rutin yang diukur pada panjang gelombang 410 nm. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar flavonoid pada kulit Pisang cavendish yaitu 1,643%
Profil Sosiodemografi dan Penyakit Penyerta Lansia di Panti Wreda PUSAKA Cengkareng, Jakarta
Pendahuluan:
Fenomena penuaan penduduk menjadi isu global dan di Indonesia diproyeksikan mencapai 19-21% pada 2045. Lansia menghadapi risiko tinggi penyakit degeneratif, gangguan kognitif, gangguan mental, dan isolasi sosial, yang menuntut perhatian kesehatan jangka panjang, termasuk yang berada di panti wreda.
Metode Penelitian:
Penelitian potong lintang melibatkan 20 lansia penghuni panti wreda dengan mengumpulkan data sosiodemografi, riwayat penyakit, jumlah anak, dan lama tinggal. Analisis deskriptif digunakan untuk melihat data profil sosiodemografi dan penyakit penyerta pada lansia.
Hasil dan Pembahasan:
Usia rerata responden 71,8 +_ 6,1 tahun, lama tinggal 9,3 +_6,9 tahun, dengan rerata jumlah anak 3,9 +_ 1,8 orang. Hipertensi paling sering ditemui (56,2%), diikuti gangguan lambung dan sendi (masing-masing 12,5%). Korelasi jumlah anak dan lama tinggal sangat lemah dan tidak signifikan (p=0,19; p=0,46). Temuan ini menekankan perlunya program skrining penyakit kronis berkala, dan promosi gaya hidup sehat di panti wreda.
Kesimpulan:
Lansia panti wreda memiliki profil penyakit dan kebutuhan sosial kompleks. Intervensi kesehatan fisik dan mental yang terencana sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan mendukung kebijakan kesehatan masyarakat menghadapi populasi menua.