Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Prevalensi Malnutrisi Balita di Desa Karimunting, Kec. Sungai Raya, Kab. Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat: Malnutrition Prevalence of Toddler in Karimunting Village, Sungai Raya District, Bengkayang Regency, West Kalimantan Province
Anak-anak di Indonesia masih mengalami risiko beban gizi gandamalnutrisi, yaitu risikogizi kurang dangizi lebih.Berdasarkan salah satu penelitian,terdapat efek antargenerasiyaitu kondisi pendekorang tua saat kecilterhadap pertumbuhan dan perkembangan generasi selanjutnyadan risiko terjadinya keterlambatan perkembangan kognitif. Adanya data status gizi balita di Desa Karimunting diharapkan dapat membantu dan menjadi acuan pemerintah lokal maupun nasional dalam penetapan strategi penanganan malnutrisiuntuk menuju kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional. Penelitian ini merupakan studideskriptif cross sectionaldengan total samplingyangmenggunakan data sekunder dari322 balitadi wilayah Puskesmas Kecamatan Sungai Raya dari bulan Juli-Agustus 2021, berasal dari 7 posyandu. Data yang diperoleh berupa berat badan (BB), panjang badan (PB)/ tinggi badan (TB), Usia (U)dan akan diklasifikasikan sesuai dengan kurva WHO (BB/U, TB/U, BB/TB) dan kemudian dilakukan perhitungan nilai Z score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian balita pendek sebesar 19% dan sangat pendek sebesar 13% di desa Karimunting. Balita yang mengalami gizi berlebihdan obesitasberdasarkan indikator BB/TBpada penelitian ini adalah 7% dan 5%. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat problem ganda malnutrisi pada balita di Desa Karimunting yang melampaui jumlah rata-rata nasional
Identifikasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Kulit Buah Petai (Parkia Speciosa) Asal Bulukumba Secara Spektrofotometer Infra Merah: Identification of Flavonoid Compounds in Petai (Parkia Speciosa) Bark Extract from Bulukumba Regency by Infrared Spectrophotometer
Tanaman petai (Parkia Speciosa) merupakan salah satu tanaman yang melimpah di Indonesia karena tanaman ini mudah tumbuh dimana saja. Diketahui kulit buah petai memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis senyawa flavonoid dalam ekstrak Kulit Buah Petai (Parkia Speciosa) asal Kota Bulukumba. Metode yang di gunakan adalah spektrofotometri infra merah. Hasil Identifkasi senyawa Flavonoid dilakukan dengan teknik pemisahan secara KLT menggunakan cairan pengelusi Klorofom : Metanol : Air (20 : 6 : 1) ekstrak n-Butanol kemudian diKromatografi Lapis Tipis dengan cairan pengelusi Klorofom : Metanol: Air (20 : 6 : 1) diperoleh 1 Fraksi yaitu Fraksi A. Fraksi tersebut menunjukkan masing-masing 1 noda dan diduga sebagai Noda Tunggal. Selanjutnya Fraksi A diukur dengan Spektrofotometri Infra Merah diperoleh gugus O-H, C-C, dan C-H yang merupakan bagian dari struktur senyawa Flavonoid. Dengan demikian kulit buah petai mengandung senyawa flavonoi
Pengaruh Ekstrak Bonggol Nanas (Ananas comosus L.) sebagai Biolarvasida terhadap Kematian Larva Aedes aegypti: The Effect of Pineapple Extract (Ananas comosus L.) as a Biolarvacide of Larva death of Aedes aegypti
Vektor utama penyebab DBD yang menjadi ancaman bagi manusia yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian vektor secara kimiawi dapat memberikan dampak negatif dan resisten pada lingkungan sekitar, salah satu cara alternatif pengendalian vektor yang berasal dari bahan alam seperti ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus L.). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus L.) sebagai biolarvasida terhadap kematian larva Aedes aegypti. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen untuk mengetahui pengaruh ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus L.) terhadap kematian larva Aedes aegypti. Sampel menggunakan purposive sampling berupa larva instar III. Pengujian dilakukan dengan 5 konsentrasi ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus L.) yaitu 0,1%, 0,5%, 1%, 1,5%, 4% dan kontrol positif serta negatif. Lalu dilanjutkan uji lanjutan dengan 4 konsentrasi yaitu 3,5%, 4%, 4,5%, 5% dan kontrol positif serta negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis uji one way ANOVA dengan nilai p=0.00 (p<0.05) dan pada hasil analisis probit didapatkan nilai LC50 pada konsentrasi 4.39%. Pada pengamatan 24 jam didapatkan kematian larva terendah pada konsentrasi 3,5% dengan kematian 29% dan kematian tertinggi pada konsentrasi 5% dengan kematian 62%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak bonggol nanas (Ananas comosus L.) memberikan pengaruh larvasida dan dapat menjadi larvasida alternatif
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Belimbing Hutan (Cnestis palala(Lour).Merr) Asal Kalimantan Timur
Tumbuhan belimbing hutan (Cnestis palala(Lour).Merr) adalah salah satu tumbuhan Kalimantan Timur yang banyak digunakan oleh masyarakat asli kalimantan untuk mengatasi penyakit dalam. Namun belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat dari tumbuhan ini. Oleh karena itu sebagai penelitian awal dilakukan penelitian kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan pada bagian daun Belimbing Hutan. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode perendaman radikal bebas DPPH pada ekstrak methanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi n-butanol. Hasil identifikasi golongan metabolit sekunder pada daun belimbing hutan adalah flavonoid, fenolik,tannin, dan steroid/terpenoid. Ekstrak dan fraksi daun belimbing hutan memiliki aktivitas antioksidan.Aktivitasantioksidan fraksi etil asetat sebanding dengan vitamin C
Uji Fitokimia Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiacaL.) Bahan Alam Sebagai Pestisida Nabati Berpotensi Menekan Serangan Serangga Hama Tanaman Umur Pendek
Kulit pisang merupakan bahan buangan (limbah buah pisang) yang banyak jumlahnya. Beberapa penelitian telah mengungkap manfaat kulit pisang kepok. Berdasarkan kajian tentang pemanfaatan kulit pisang kepok yang telah dilakukan sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia yang ada pada kulit pisang kapok sebagai bahan pestisida nabati menekan serangan serangga hama tanaman umur pendek. Sampel pada penelitian ini adalah kulit pisang kepok yang terbengkalai. Sampel selanjutnya dikeringkan dan dibuat menjadi serbuk kasar. Sampel dimaserasi selama 72 jam menggunakan pelarut etanol 96%. Kemudian dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui adanya flavonoid, alkaloid, steroid, tanin, saponin dan triterpenoid. Hasil uji fitokimia kulit pisang kapok menunjukkan adanya kandungan bahan aktif flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan triterpenoid. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada kulit pisang kapok tersebut memiliki potensi sebagai bahan alam pestisida nabati karena dapat mempengaruhi serangga hama tanaman umur pendek
Analisis Secara GC-MS Senyawa Aktif Antioksidan Fraksi N-Heksana Daun Libo (Ficus variegata Blume)
Tanaman Libo (Ficus variegata Blume) merupakan salah satu tumbuhan liar khas Kalimantan Timur sebagai sumber bahan larvasida dan antioksidan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komponen senyawa aktif antioksidan dalam fraksi n-heksana daun Libo dengan metode GC-MS. Interpretasi spektrum GC-MS dilakukan menggunakan database standar National Institute Standard and Technology (NIST). Komponen mayor fraksi n-heksana yang memiliki aktivitas antioksidan antara lain: cyclotetracosane; 1-heneicosanol; 1-docosene; 1,2-benzenedicarboxilic acid; 1-heptacosanol; octacosanol; dan cyclooctacosane
Observasi Klinik Pemberian Aroma Pandan Wangi Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi
Daun pandan wangi memiliki aroma khas yang berasal dari minyak atsiri. Kandungan minyak atsiri pada daun pandan wangi terdiri dari 6–42% hidrokarbon sesquiterpen dan 6% monoterpen linalool dan 10% senyawa aromatik berupa 2-acetyl-1 pyrroline. Senyawa minyak atsiri daun pandan wangi memberikan efek relaksasi pada pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik, pola pengobatan dan efek dari pemberian aroma pandan wangi terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Sempaja Samarinda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental quasy. Prosedur dalam penelitian ini menggunakan pengukuran awal dan pengukuran akhir. Pengumpulan data karakteristik dilakukan secara retrospektif dan didapatkan persentase tertinggi dari jenis kelamin adalah perempuan sebanyak 55,36%. Usia dengan persentase tertinggi adalah usia pertengahan sebanyak 57,14%. Obat yang paling banyak dikonsumsi adalah amlodipin sebanyak 75,45%. Hasil analisis dari pemberian aroma pandan wangi sebelum dan setelah pemberian aroma terjadi penurunan pada tekanan sistol sebanyak 7,5 mmHg, pada tekanan diastol sebanyak 1,1 mmHg dan penurunan pada denyut jantung sebanyak 3,1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perempuan lebih banyak menderita hipertensi, usia yang paling tinggi terkena hipertensi adalah usia pertengahan dan obat yang paling banyak dikonsumsi adalah amlodipin. Hasil dari intervensi aroma dari pandan wangi dapat menurunkan tekanan darah dan denyut jantung
Profil GC-MS Senyawa Metabolit Sekunder dari Jahe Merah (Zingiber officinale) dengan Metode Ekstraksi Etil Asetat, Etanol dan Destilasi
Jahe Merah (Zingiber officinale) memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena penggunaannya sebagai bumbu dan juga sebagai obat tradisional. Uji fitokimia dari berbagai rimpang Zingiber officinalemenunjukkan bahwa mereka memiliki senyawa bioaktif. Senyawa bioaktif diekstraksi menggunakan teknik maserasi (menggunakan etil asetat dan etanol) dan destilasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan profil senyawa metabolit sekunderdan membandingkannya dari beberapa teknik ekstraksi. Hasil GC-MS menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder dari ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, dan destilasi mengandung ar-curcumen, zingiberene, -bisabolene, -sesquiphellandrene, zingerone dan geraniol (tidak ditemukan dari destilasi). Zingiberene merupakan senyawa dominan dari ekstrak etanol dan etil asetat dengan kelimpahan 31,43% dan 14,88%. Sedangkan pada destilasi adalah senyawa ar-curcumene sekitar 17,10
Evaluasi Pelaksanaan Konseling di Apotek Etika Farma Brebes berdasarkan PERMENKES RI Nomor 73 Tahun 2016
Pelayanan konseling di apotek merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mencegah terjadinya medication error. Pelayanan konseling ditujukan agar pasien dapat menggunakan obat secara benar. Hanya saja selama ini pelaksanaan pelayanan konseling belum berjalan maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti atau menjawab untuk memecahkan permasalahan yangsedang dihadapi pada situasi sekarang. Jenis penelitian ini adalah evaluasi (evaluation study) yang dilakukan dengan menilai suatu program yang sedang dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan konseling diberikan hanya kepada pasien penerima resep. Konseling dilaksanakan oleh apoteker, namun ketika apoteker tidak berada di apotek, konseling dilaksanakan oleh tenaga teknis kefarmasian. Kesulitan dalam melakukan konseling adalah pada saat menyampaikan efek samping obat. Penyampaiantentang efek samping obat harus disampaikan dengan bahasa yang tepat, sehingga tidak membuat pasien merasa khawatir dalam mengkonsumsi obat. Dokumentasi konseling belum dilakukan di apotek Etika Farma, hanya ada dokumentasi resep
Pengaruh Zat Besi dan Seng terhadap Perkembangan Balita serta Implementasinya
Angka kejadian gangguan perkembangan balita di Indonesia cukup tinggi. Gangguan perkembangan pada balita, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan dapat menurunkan produktivitas anak tersebut sampai dewasa. Akibatnya, kemampuan belajar tahap pendidikan selanjutnya tidak tercapai secara optimal dan berkaitan dengan penghasilan di masa depan. Beberapa faktor dapat memengaruhi perkembangan balita, diantaranya adalah defisiensi seng dan zat besi. Defisiensi zat besi dapat menyebabkan hipomyelinasi, gangguan pertumbuhan, diferensiasi, dan elektrofisiologi neuron, serta perubahan regulasi neurotransmiter di otak. Seng berperan dalam neurotransmiter di area neuron presinaptik dan postsinaptik serta berperan dalam neurogenesis, maturasi dan migrasi neuron dan pembentukan sinapsis otak. Defisiensi kedua mineral ini akan menyebabkan perkembangan balita terganggu atau tidak optimal. Guna mencegah anemia, WHO merekomendasikan pemberian suplementasi zat besi setiap hari selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun untuk anak 6 bulan hingga 5 tahun. Pemberian seng rutin untuk balita sampai saat ini belum menjadi rekomendasi dari WHO. Rekomendasi yang telah dikeluarkan terkait seng masih terbatas pada pemberian seng sebagai terapi tambahan pada anak dengan diare