Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
    609 research outputs found

    Perbedaan Nilai Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri (LVEF) Pasien IMA-EST yang Menjalani Terapi Reperfusi dengan Fibrinolitik dan IKPP di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda

    No full text
    Pasien Infark Miokard akut dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST) perlu diberikan terapi reperfusi dengan fibrinolitik atau IKPP (Intervensi Koroner Perkutan Primer), untuk mencegah kerusakan miokard jantung yang lebih lanjut. Saat ini IKPP merupakan pilihan terapi utama pada pasien IMA-EST, tetapi tidak semua fasilitas kesehatan memiliki fasilitas tersebut. Sehingga, fibrinolitik dapat menjadi terapi reperfusi pilihan pada pasien IMA- -EST dapat mempengaruhi fungsi jantung, sehingga pemeriksaan Nilai LVEF (Left Ventricular Ejection Fraction) dapat digunakan untuk menilai fungsi sistolik jantung yang dapat mempengaruhi prognosis pasien IMA-EST. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai LVEF antara pasien IMA-EST yang menjalani terapi reperfusi dengan fibrinolitik dan IKPP di RSUD Abdul Wahab Sajahranie Samarinda. Penelitian ini tergolong penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien IMA-EST yang menjalani terapi reperfusi dengan fibrinolitik dan IKPP di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda periode 2018-2019. Pengambilan sampel secara purposive sampling, dengan sumber data berasal dari rekam medis pasien. Nilai LVEF diperiksa menggunakan ekokardiografi transtorakal, dan analisis perbedaan nilai LVEF pada kelompok pasien fibrinolitik dan IKPP menggunakan uji Independent T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan nilai LVEF pasien IMA-EST yang menjalani terapi reperfusi dengan Fibrinolitik dan IKPP(Fibrinolitik 51,37±12,254%, IKPP 56,47±11,98%; p = 0,103 (p > 0,05))

    Protein Intake, Nutritional Status, and Family Socioeconomic Relationships with Learning Achievement of Children Aged 13-15 Years at Nabil Husein Junior High School Samarinda Year 2022

    No full text
    Nutritional problems in adolescents will affect the quality of human resources which can result in reduced generations and have an impact on the nation\u27s economic situation in the future. Vulnerable aged 13-15 years experiencing nutritional needs much faster. Protein intake, nutritional status and socioeconomic status in several studies showed different results. The purpose of this study was to determine the relationship between protein intake, nutritional status, and socioeconomic status with the learning achievement of children aged 13-15 years at SMP Nabil Husein Samarinda. Quantitative research design, correlational descriptive type, cross sectional approach. The sample used was 49 students of class VIII using a purposive sampling technique. Protein intake was obtained through a 24-hour food recall interview, nutritional status measurements based on BMI/Age, and socioeconomic status were obtained by filling out a questionnaire form. The results obtained from this study were the relationship between protein intake and learning achievement with a p-value of 0.670, nutritional status with learning achievement with a p-value of 0.358, parents\u27 education with learning achievement with a p-value of 0.429, parental income with learning achievement with a p-value -value 0.441, parents\u27 work with learning achievement with a p-value of 0.437. The conclusion of this studyis that there is no relationship between protein intake, nutritional status and socioeconomic status of parents with learning achievement of class VIII students of Junior High School Nabil Husein Samarinda

    Review: Moleculary Imprinted Polymer Solid Phase Extraction (MIP-SPE) untuk Pengujian Glibenklamid dalam Cairan Biologis: Review: Molecularly Imprinted Polymer Solid Phase Extraction (MIP-SPE) for Testing Glibenclamide in Biological Fluids

    No full text
    Glibenklamid merupakan salah satu obat antidiabetes golongan sulfonilurea yang digunakan dalam penanganan diabetes melitus tipe 2 dan penggunaannya yang jangka panjang sehingga untuk mengetahui efektivitas obat tersebut diperlukan monitoring kadar obat dalam sampel biologis. Secara umum analisis glibenklamid dapat menggunakan metode Solid Phase Extraction (SPE). Salah satu kelemahan SPE yaitu kurang selektif sehingga kemungkinan masih terdapat komponen lain selain analit yang ikut terekstraksi dari matriks sampel. Maka digunakan teknik Molecularly Imprinted Polymer (MIP) untuk memperbaiki kekurangan SPE. Tujuan dilakukan review ini untuk mengetahui efisiensi penggunaan MIP sebagai metode pemisahan glibenklamid dari berbagai matriks sampel biologis. Review artikel ini dilakukan dengan menelusuri dan mengkaji jurnal ilmiah nasional maupun internasional tentang MIP-SPE yang diperoleh dari situs google.com, Google Scholar, Science Direct, ResearchGate dan PubMed. Berdasarkan hasil review, rata-rata nilai % recovery MIP-SPE lebih tinggi dibandingkan dengan SPE. Penggunaan MIP sebagai metode pemisahan glibenklamid dari berbagai matriks sampel biologis lebih efisien

    Difusi Polifenol dari Krim Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) dengan Peningkat Penetrasi Dimethyl Sulfoxide (DMSO)

    No full text
    Daun Kelor merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa polifenol sehingga berpotensi dibuat sediaan krim. Disamping itu, sediaan krim sepatutnya mempunyai zat yang berkhasiat sebagai penetrasi menembus ke dalam kulit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana DMSO sebagai peningkat penetrasi mempengaruhi penetrasi dan difusi polifenol pada krim ekstrak daun kelor. Krim dibuat dengan 4 formulasi yang tiap formulanya memiliki variasi konsentrasi DMSO 0%, 15%, 20%, dan 25%. Pengujian difusi oleh krim daun kelor menggunakan sel Difusi Franz serta membrane difusi berupa membrane selofan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa F2 dengan konsentrasi DMSO 20% menunjukkan difusi polifenol tertinggi, jumlah kumulatif polifenol terpenetrasi tertinggi dan profil pelepasan polifenol terbaik. Hasil analisis statistic menggunakan One Way ANOVA menunjukkan bahwa F2 dan F3 memiliki signifikansi (p < 0,05) dibanding F0 tanpa penetrasi

    Hubungan Praktik Pemberian Makanan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat

    No full text
    Stunting adalah keadaan gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Penyebab masalah pertumbuhan pada awal kehidupan disebabkan oleh masalah kurang gizi, pemberian makanan pendamping air susu ibu terlalu dini atau terlalu lambat, dan pemberian makanan yang tidak sesuai usia. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui hubungan praktik pemberian makanan dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Barong Tongkok Kutai Barat. Desain penelitian ini observasional analitik dengan metode kasus kontrol. Data diperoleh dari kuesioner dan data pasien di Puskesmas Barong Tongkok dengan teknik purposive samplingdidapatkan 32 kasus dan 32 kontrol. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan uji fisher’s exact. Analisis data secara statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara frekuensi makanan dengan p= 0,740 (p lebih besar 0,05), jenis makanan dengan p = 1,000 (p lebih besar 0,05), jumlah makanan dengan p = 0,545 (p lebih besar 0,05), dan praktik pemberian makanan dengan p = 1,000 (p lebih besar 0,05) dengan kejadian stunting. Tidak terdapat hubungan antara frekuensi, jenis, jumlah, dan praktik pemberian makanan dengan kejadian stunting. Pemberian makanan cukup gizi dalam jangka waktu yang pendek mengakibatkan asupan gizi tidak terpenuhi

    Efektivitas Ekstrak Etanol Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Kadar Kreatinin dan Ureum Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Streptozotocin

    No full text
    Salah satu faktor yang paling mempengaruhi penyakit ginjal adalah Diabetes Melitus. Diabetes Melitus yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang disebut dengan nefropati diabetik. Gangguan fungsi ginjal tersebut diukur dengan Glomerular Filtration Rate (GFR). Dimana penurunan GFR diikuti dengan kenaikan kadar kreatinin dan ureum darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak kulit buah pepaya (Carica papaya L.) serta dosis berapakah ekstrak kulit buah pepaya memberikan pengaruh terhadap kadar kreatinin dan ureum tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 kelompok perlakuan yang terdiri dari 5 ekor hewan uji. Kelompok I kontrol normal (suspensi Na CMC 0,5%). Kelompok II kontrol negatif (streptozotocin 40 mg/kg BB). Kelompok III diberikan ekstrak etanol kulit buah pepaya 100 mg/kg BB. Kelompok IV diberikan ekstrak etanol kulit buah pepaya 200 mg/kg BB dan kelompok V diberikan ekstrak etanol kulit buah pepaya 400 mg/kg BB. Perlakuan diberikan selama 28 hari dan dilakukan pengukuran kadar kreatinin dan ureum pada hari ke- 14, 21 dan 28. Analisis data yang digunakan yaitu One Way Anova dan uji lanjut LSD menggunakan program SPSS 24. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah pepaya mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid, alkaloid dan saponin serta ekstrak etanol kulit buah pepaya menunjukkan adanya efek penurunan kadar kreatinin dan ureum tikus putih jantan pada dosis 400 mg/kg BB

    Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas dan Desain Senyawa Novel PhenylBenzimidazoles sebagai Penghambat Wnt/β-Catenin untuk Terapi PancreaticDuctal Adenocarcinoma: Quantitative Structure-Activity Relationship and Design of Novel PhenylBenzimidazoles as Wnt/β-Catenin Inhibitors for Pancreatic DuctalAdenocarcinoma Therapy

    No full text
    Jalur pensinyalan Wnt/?-Catenin sangat penting dalam inisiasi dan perkembangan dari pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC). Studi sebelumnya menunjukkan bahwa fenil benzimidazol baru memiliki aktivitas penghambatan di jalur Wnt/?-Catenin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang fenil benzimidazol baru sebagai penghambat Wnt/?Catenin pada PDAC berdasarkan metode Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas (HKSA). Struktur molekul dibangun dan dioptimalkan dengan metode AM1 semi empiris menggunakan Gaussian. Sebanyak 12 Deskriptor dipilih yang mewakili parameter elektronik, hidrofobik, dan sterik menggunakan MOE 2014.0901. Senyawa-senyawa yang diduga outlier kemudian dikeluarkan dari kumpulan data berdasarkan nilai XZ-score, yaitu senyawa-senyawa dengan XZ-score di atas 2,5. Kumpulan data kemudian diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu training set dan test set. Validasi dilakukan menggunakan metode statistik Leave One Out (LOO). Turunan baru dirancang menggunakan skema topliss, dimana senyawa induk dengan nilai IC terendah digunakan sebagai template. Analisis statistik menunjukkan bahwa ada dua deskriptor paling berpengaruh dari aktivitas penghambatan Wnt/?-Catenin: mr dan LogS. Validasi LOO menunjukkan niali Q2 = 0,7363. Enam turunan baru, diprediksi memiliki IC yang lebih rendah dari senyawa induknya

    Bioaktivitas dan Kandungan Senyawa Kimia Tumbuhan Merung (Coptosapelta tomentosa): Bioactivity and Chemical Compounds of Merung Plants (Coptosapelta tomentosa)

    No full text
    Coptosapelta tomentosa (sinonim: Coptosapelta flavescens Korth) merupakan salah satu tumbuhan obat yang banyak digunakan secara tradisional. Coptosapelta tomentosa dikenal dengan nama lokal Merung di Kalimantan Timur. Dalam pengobatan tradisional, akar Merung digunakan untuk mengobati diare, pemulihan persalinan, anti-malaria, meredakan kolik, bisul, masuk angin, demam  dan keputihan. Berdasarkan hasil kajian litetaratur menunjukkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam Merung berpotensi sebagai antikanker, antiinflamasi, antbakteri, dan antioksidan

    Hubungan Terapi Kombinasi Mood Stabilizer dan Antipsikotik dengan Kemampuan Fungsional Pasien Gangguan Afektif Bipolar di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta: Relationship between Mood Stabilizer and Antipsychotic Combination Therapy with Functional Ability of Bipolar Affective Disorder Patients at Grhasia Mental Hospital Yogyakarta

    No full text
    Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang dapat mempengaruhi kemampuan fungsional pasien. Gangguan bipolar bersifat persisten meski dalam kondisi eutimik. Telah banyak studi terkait efektivitas mood stabilizer dan antipsikotik pada gangguan bipolar, namun masih sedikit studi terkait efek kombinasi terapi mood stabilizer dan antipsikotik terhadap kemampuan fungsional pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian kombinasi terapi mood stabilizer dan antipsikotik terhadap kemampuan fungsional pasien dengan gangguan bipolar afektif di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis rawat inap RSJ Grhasia Yogyakarta periode Januari-Desember 2018. Sebanyak 46 pasien masuk dalam kriteria inklusi, 38 mendapat kombinasi terapi valproat + antipsikotik dan 8 mendapat kombinasi terapi litium + antipsikotik. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara pemberian kombinasi mood stabilizer dan antipsikotik terhadap kemampuan fungsional pasien gangguan afektif bipolar [Odds Ratio (OR) = 1,71; 95% Confidence Interval(CI): 0,37 –7,95 ; p = 0,963

    Identifikasi Metabolit Sekunder dan Profil Farmakognosi Kulit Bawang Merah (Allium cepa L) Sebagai Bahan Baku Farmasi Terbarukan: Identification of Secondary Metabolites and Pharmacognosy Profile of Shallot Skin (Allium cepa L) as Renewable Pharmaceutical Raw Materials

    No full text
    Bawang merah (Allium cepa L) merupakan salah satu tanaman yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Kulit bawang merah digunakan secara luas pada bagian umbinya namun pada bagian kulitnya sendiri masih terbatas, sedangkan kulit bawang merah memiliki potensi yang baik untuk digunakan menjadi bahan baku farmasi karena kandungan metabolit sekunder di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dari ekstrak etanol kulit bawang merah dan mengetahui hasil profil farmakognosi serbuk simplisia kulit bawang merah. Ekstrak kulit bawang merah diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit bawang merah mengandung metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid, dan saponin dan diperoleh karakterisasi parameter non spesifik kadar air 4,0086% ; kadar abu 7,5965% ; kadar abu tidak larut asam 0,6709%. Hasil penelitian menunjukkan terpenuhi syarat yang tidak melebihi batasan karakterisasi parameter non spesifik dan pada hasil mikroskopik menunjukkan karakteristik organel yang terpantau jelas sebagai profil mikroskopik kulit bawang merah serta pada hasil KLT ditunjukkan identitas yang khas dari profil pemisahan ekstrak kulit bawang merah.

    135

    full texts

    609

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains dan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇