Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Isolasi Fungi Endofit Batang Bajakah (Uncaria nervosa Elmer) dan Pengujian Toksisitas dengan Metode BSLT
Bajakah (Uncaria nervosa Elmer) merupakan salah satu tumbuhan yang banyak tumbuh di Kalimantan Timur dan sulit dibudidayakan. Secara empiris, batang Bajakah dimanfaatkan oleh masyarakat pedalaman, khususnya masyarakat suku Dayak untuk pengobatan berbagai penyakit dengan cara meminum air rebusan, sehingga menyebabkan batang Bajakah di eksploitasi. Fungi endofit merupakan mikroba endofit yang hidup di jaringan tumbuhan secara asimtomatis dan dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder dengan berbagai aktivitas biologis salah satunya antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi fungi endofit batang Bajakah dan uji toksisitas dengan metode BSLT terhadap larva udang Artemia salina sebagai skrining awal untuk mengetahui potensi fungi endofit sebagai penghasil kandidat senyawa obat. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 2 isolat fungi endofit batang Bajakah. Hasil uji toksisitas ekstrak isolat UN 3B diperoleh nilai LC50 sebesar 21,4 ppm, sedangkan ekstrak isolat UN 4B sebesar 28,2 ppm. Pada masing-masing ekstrak bersifat sitotoksik karena dapat menyebabkan kematian 50% hewan uji pada konsentrasi <1000 ppm
Peran Disregulasi Imunitas dalam Terapi Kusta pada Area Endemis: Artikel Review: The Role of Immune Dysregulation in Leprosy Treatment in Endemic Areas: Review Article
Kusta, penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, masih menimbulkan masalah kesehatan dan menjadi endemis di beberapa negara. Jumlah kasus kusta baru masih dilaporkan di negara endemis secara konstan. Upaya terapi pada pasien kusta dilakukan dengan tujuan menurunkan tingkat penularan dan kecacatan penderita kusta. Terapi kusta dengan penggunaan regimen multidrug (MDT) terbukti mampu menurunkan jumlah kasus kusta namun belum dapat menekan laju pertumbuhan kasus kusta baru. Jumlah kasus kusta baru yang bersifat konstan di area endemis menunjukkan terdapat infeksi komunitas dan ketidakmampuan MDT sebagai strategi tunggal untuk menyelesaikan pengobatan dan menghentikan penularan kusta. Penularan penyakit kusta diketahui bersifat multifaktorial yang melibatkan: faktor mikroba, faktor pejamu, dan faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut diduga dapat menyebabkan disregulasi imunitas dan meningkatkan risiko infeksi kusta pada penduduk yang tinggal di daerah endemis. Pemahaman mengenai disregulasi imunitas diperlukan untuk menyelesaikan pengobatan dan pemberantasan kusta.
Aktivitas Antiobesitas Ekstrak Etanol Daun Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) pada Tikus Betina Galur Wistar: Antiobesity Activity of Kemuning Leaf Ethanol Extract (Murraya paniculata (L.) Jack) in Female Wistar Rats
Obesitas merupakan kondisi berupa penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidak seimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan tubuh dalam waktu lama. Kondisi klinis yang serius sering dialami oleh penderita obesitas menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada usia muda. Upaya penanganan obesitas secara farmakologi dilakukan dengan menggunakan zat sintetik yang bekerja di pusat ataupun perifer. Selain itu, masyarakat banyak memanfaatkan bahan alam yang secara empiris berkhasiat menurunkan kegemukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antiobesitas ekstrak etanol daun kemuning pada tikus betina galur Wistar. Pengujian diawali oleh induksi obesitas hewan dengan pemberian monosodium-L-glutamate 2 g/kgbb tikus secara subkutan selama 5 hari pertama dan pemberian makanan tinggi karbohidrat selama 45 hari. Parameter yang diamati yaitu bobot badan, ambilan makanan, konsistensi dan bobot fases, serta indeks organ hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kemuning dosis 200, 400 dan 800 mg/kgbb tikus memiliki aktivitas antiobesitas dengan menekan peningkatan bobot badan tikus berbeda bermakna terhadap kontrol positif (p<0,05). Dosis efektif ekstrak etanol daun kemuning sebagai antiobesitas yaitu 200 mg/kgbb tikus dengan persen penghambatan kenaikan bobot badan sebesar 109,28 %. Ekstrak etanol daun kemuning tidak menekan nafsu makan, tidak mempengaruhi konsistensi feses, tidak menimbulkan efek laksatif, dan tidak dapat menurunkan deposisi lemak organ hati
Polimorfisme Gen DRD2 rs1799732 (-141c) Terhadap Terapi Aripiprazole pada Pasien Skizofrenia: Polymorphism Gene DRD2 rs1799732 (-141c) Against Aripiprazole Therapy In Schizophrenia Patients
Polimorfisme rs1799732 (-141C) terletak di wilayah promotor 5\u27 dari DRD2, di mana SNP ini dapat mempengaruhi modulasi aktivitas transkripsi dan kepadatan reseptor D2. Penulisan ini bertujuan memberikan telaah pustaka mengenai polimorfisme Rs 1799732 (-141C) karena polimorfisme gen ini merupakan polimorfisme gen yang paling banyak dijumpai di seluruh dunia terkait kejadian skizofrenia. Polimorfisme gen ini diketahui berperan dalam variabilitas respons terapi antipsikotik aripiprazole pada pasien skizofrenia. Jenis telaah yang digunakan dalam artikel ini berbentuk literature review terhadap 38 literatur dari berbagai jurnal maupun textbook. Skizofrenia suatu penyakit dapat mempengaruhi otak. Pada otak terjadi proses penyampaian pesan secara kimiawi yang akan meneruskan pesan sekitar otak. Pada pasien skizofrenia, dopamin berlebihan, sedangkan kadar dopamin berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang berbeda. Jika kadar dopamin tidak seimbang, penderita bisa mengalami gejala positif dan negatif. Hipotesis menyatakan bahwa aktivitas dopaminergik yang berlebihan bisa menimbulkan skizofrenia. Sistem dopaminergik berperanan penting sebagai modulator fungsi afektif dan kognitif. Polimorfisme reseptor dopamine D2 diketahui sebagai salah satu faktor risiko dari skizofrenia. Polimorfisme menjadi faktor penentu gejala klinis dan dapat berperan dalam efektivitas dan efek samping antipsikotik, termasuk aripiprazole . Aripiprazole adalah jenis antipsikotik generasi kedua, merupakan antipsikotik dengan aktivitas agonis parsial terhadap dopamin D2.
Laporan Kasus: Penanganan Efek Samping Pseudoefedrin pada Pasien ISPA Anak: Case Report: Handling Pseudoephedrine Side Effects in Pediatric ISPA Patients
Flu dengan berbagai gejalanya dapat disebabkan oleh infeksi ataupun alergi. Laporan kasus ini berfokus pada penanganan efek samping pseudoefedrin pada pasien ISPA anak yang mendapatkan terapi polifarmasi. Pasien anak perempuan usia 8 tahun datang ke dokter praktek mengeluh batuk, pilek dan demam sudah 2 hari. Pasien tersebut kemudian diresepkan puyer dengan kandungan obat amoxicillin 200 mg dan puyer untuk gejala simptomatis dengan kandungan parasetamol 200 mg, mebhydrolin napadisylate 50 mg 1/3 tablet, amboroxol 6 mg, dexamethasone 0,5 mg 1/3 tablet, pseudoefedrin HCL 60 mg dan triprolidine HCL 2,5 mg 1/4 tablet dengan aturan pemakaian 3×1 untuk 15 puyer. Setelah minum puyer tersebut pasien mengeluhkan jantung berdebar-debar.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Komplikasi Apendisitis dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis pada Pasien Apendektomi di RSPAD Gatot Soebroto
Apendisitis diidentifikasikan berdasarkan karakteristik klinis. Apendiktomi menjadi terapi utama karena antibiotik saja tidak efektif, namun apendiktomi berisiko IDO (Infeksi Daerah Operasi) sehingga diperlukan antibiotik profilaksis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tipe leukosit, karakteristik klinis, dan faktor pembedahan dengan tipe apendisitis serta menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik profilaksis. Analisis antibiogram dilakukan berdasarkan kultur spesimen pus. Desain retrospektif cross-sectional digunakan dengan 139 subjek yang dirawat sejak 2019 hingga 2021 di RSPAD Gatot Soebroto. Pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling sesuai kriteria yang dibuat oleh peneliti. Uji chi square digunakan untuk mengetahui adanya hubungan, kemudian dilanjutkan dengan uji regresi logistik. Apendisitis komplikata terjadi pada 18% pasien pria dan 11,5% pasien wanita. Usia terbanyak pada rentang 15-40 tahun (59%) dan usia tersebut memiliki persentase appendisitis komplikata tertinggi (51,2%). 3 subjek mengalami IDO berusia <15 tahun, 15-40 tahun, dan 41-65 tahun, 2 di antaranya adalah pria. Terdapat hubungan antara neutrofil dan limfosit dengan jenis apendisitis. Urutan faktor yang paling berhubungan dengan tipe apendisitis adalah lama rawat, lama operasi, skor ASA (American Society of Anasthesiologist), usia, dan tindakan operasi. Antibiotik profilaksis yang paling sering digunakan adalah golongan sefalosporin. Antibiotik profilaksis sebagian besar efektif mencegah kejadian IDO (97,8%). Bakteri Gram-negatif secara umum menjadi penyebab apendisitis, antibiotik yang resisten umumnya adalah golongan penisilin
Analisis Penambatan Molekuler Senyawa Mangiferin dari Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) terhadap Sap 5 Candida albicans: Molecular Docking Analysis of Mangiferin Compound from Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) against Sap 5 Candida albicans
Candida albicans (C. albicans) merupakan mikroorganisme komensal. Namun, C.albicans dapat berubah menjadi sifat patogen apabila disebabkan oleh beberapa faktor, sehingga perlu adanya penemuan senyawa-senyawa yang efektif untuk dapat menghambat C. albicans dengan spesifik pada target tertentu dari C. albicans sendiri. Kami memilih Sap 5 sebagai target dari penambatan, disebabkan erat kaitannya Sap 5 dengan terjadinya invasi jaringan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan hasil berupa apakah terdapat interaksi yang kuat antara senyawa Mangiferin dengan reseptor Sap 5 C. albicans dengan melihat energi bebas Gibbs, agar nanti dapat dilanjutkan dengan uji In vitro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah preparasi reseptor dan ligan, validasi Gridbox, Penambatan dan Visualisasi hasil. Hasil yang diperoleh dari penambatan senyawa Mangiferin dengan reseptor Sap 5 pada energi bebas Gibbs pada ulangan ke satu sebesar -8.6190 Kcal/mol. Namun, hasil yang stabil dalam penambatan senyawa Mangiferin dengan Sap 5 yaitu berada pada nilai -8.6170 Kcal/mol
Formulasi dan Uji Aktivitas Sediaan Plester Hidrogel Ekstak Etanol Daun Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) sebagai Antipiretik
Antipiretik merupakan obat yang bekerja dengan cara menekan suhu tubuh pada keadaan demam. Daun randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) ialah salah satu tanaman yang memiliki aktivitas sebagai antipiretik dan berpotensi diformulasikan dalam bentuk sediaan transdermal plester hidrogel penurun demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu dan mengetahui aktivitas antipiretik sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu terhadap hewan uji tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan pepton 5%. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental. Ekstrak diformulasikan menjadi sediaan plester hidrogel dengan variasi dosis 150 mg (FI), 300 mg (FII), dan 600 mg (FIII). Dilakukan pengujian evaluasi sediaan seperti organoleptik, pH, keseragaman bobot, ketahanan lipat, ketebalan sediaan, dan daya serap kelembaban. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun randu dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan plester hidrogel yang memenuhi persyaratan fisik evaluasi. Uji aktivitas antipiretik ekstrak etanol daun randu memiliki persen (%) aktivitas antipiretik pada FI (150 mg) sebesar 1,91%, pada FII (300 mg) sebesar 2,93% dan FIII (600 mg) dengan persen (%) sebesar 3,25%. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sediaan plester hidrogel ekstrak etanol daun randu telah memenuhi persyaratan evaluasi yang baik dan memiliki aktivitas antipiretik terbaik pada formula III (600mg) dengan persen (%) aktivitas antipiretik 3,25%
Analisis Kandungan Natrium Siklamat pada Jamu Sinom di Pasar Besar Malang: Analysis of Sodium Cyclamate Content in Jamu Sinom at Malang Market
Jamu merupakan obat tradisional yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia. Penggunaan bahan pemanis buatan seperti natrium siklamat perlu diwaspadai penggunaannya, karena dapat menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh dikemudian hari. Jamu yang telah beredar di masyarakat disinyalir ditambahkan pemanis buatan saat proses pembuatannya. Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan natrium siklamat dalam jamu sinom yang dipasarkan di Pasar Besar Malang. Desain penelitian ini adalah laboratorium eksperimental dengan teknik purposive sampling pada 6 jenis sampel jamu sinom. Pengujian analisa kualitatif dilakukan dengan metode pengendapan, sedangkan analisa kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif menunjukkan terdapat 2 sampel positif mengandung natrium siklamat yaitu sampel B dan sampel D yang ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna putih. Berdasarkan hasil uji kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis, didapatkan 2 sampel tidak memenuhi standar BPOM dengan kadar natrium siklamat sebesar 5,053% pada sampel B dan 1,959% pada sampel D
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Gedi Hijau (Abelmoschus manihot L.) Terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans : Inhibitory Test of Ethanol Extract of Green Gedi Leaves (Abelmoschus manihot L.) Against the Growth of Streptococcus mutans
Tumbuhan Gedi Hijau (Abelmoschus manihot L.) mengandung saponin, kuinon, tanin, dan flavonoid yang memiliki sifat antibakteri. Menggunakan antibiotik yang tidak tepat memungkinkan terjadi resistensi. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan tujuan mengetahui aktivitas ekstrak etanol Daun Gedi Hijau (Abelmoschus manihot L.) terhadap Streptococcus mutans yang merupakan bakteri penyebab kerusakan gigi. Metode pengujian dilakukan dengan metode difusi paper disc. Sampel yang digunakan adalah Ekstrak Etanol Daun Gedi Hijau (Abelmoschus manihot L.) dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 8% serta kontrol positif Amoksisilin dan kontrol negatif Aquadest. Hasil penelitian ini menunjukkan Ekstrak Etanol Daun Gedi Hijau (Abelmoschus manihot L.) memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans