Jurnal Sains dan Kesehatan
Not a member yet
609 research outputs found
Sort by
Review: Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Tanaman Obat Dalam Hutan Di Indonesia Dengan Teknologi Farmasi: Potensi dan Tantangan
Keanekaragaman hayati yang terdapat di hutan Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Meskipun demikian, program konservasi di Indonesia dirasakan belum optimal karena berbagai masalah seperti pembalakan liar, alih fungsi lahan dan kebakaran hutan. Salah satu upaya potensial yang bisa ditempuh untuk konservasi sumberdaya hayati adalah melalui aplikasi teknologi farmasi. Hal ini karena teknologi farmasi akan mendorong upaya pemanfaatan sumberdaya hutan, salah satunya tumbuhan obat, sehingga kebermanfaatan sumberdaya tersebut diketahui oleh masyarakat luas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi dan tantangan penggunaan teknologi farmasi untuk konservasi keanekaragaman hayati. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan data statistik kehutanan dari Kementerian Kehutanan untuk mengetahui potensi sumberdaya hayati dalam hutan Indonesia. Selain itu, analisis literatur secara kritis juga dilakukan untuk mengetahui potensi pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam bidang farmasi. Selain itu, analisis isi juga dilakukan untuk menganalisis beberapa peraturan yang berhubungan dengan upaya pemanfaatan sumberdaya tersebut. Hasil penelitian menyebutkan bahwa luas kawasan hutan konservasi di negara ini adalah 27.4 juta ha, yang terdiri dari 50 taman nasional, 250 cagar alam, 75 suaka margasatwa, 115 taman wisata alam, 23 taman hutan raya dan 13 taman buru serta kawasan perairan laut. Selain itu, berbagai jenis tumbuhan obat tradisional sebenarnya telah lama dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia yang tinggal disekitar maupun di pedalaman hutan. Selain itu, beberapa peraturan telah menyatakan komitmen pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan untuk kepentingan farmasi, seperti Peraturan Pemerintah No 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan Undang Undang No 11 tahun 2013 tentang Protokol Nagoya. Sedangkan, strategi untuk meningkatkan upaya konservasi melalui teknologi farmasi adalah mensinkronkan penelitian etnobotani kehutanan dengan teknologi farmasi, kerjasama dengan luar negeri, dan melalui pendidikan dan pelatihan
Efikasi dan Keamanan Kombinasi Kapsul Pare-Primakuin sebagai Antimalaria pada Pasien Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi Di RSUD Manokwari
Salah satu tantangan terbesar dalam upaya penanggulangan kejadian malaria yaitu penurunan efikasi terhadap obat-obatan malaria yang telah mengalami resistensi akibat penggunaan yang tidak terkontrol, adanya mutasi genertik yang secara alami terjadi pada parasit malaria serta adanya efek samping yang terhadap penggunaan terapi kombinasi artemisin. Tanaman Pare merupakan salah satu tanaman yang telah lama digunakan secara tradisional untuk mengobati malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi kombinasi kapsul pare dan primakuin pada pasien malaria falsiparum tanpa komplikasi di RSUD Manokwari. Rancangan penelitian ini dilakukan secara acak dengan ketersamaran ganda. Sebanyak 25 subjek malaria falsiparum yang berhasil direkrut dan dipantau hingga H-42. Terdapat dua kasus tidak dapat diikuti pada H-42 karena tidak kontrol secara teratur dan bepergian dalam waktu lama. Tidak ditemukan ada yang gagal pengobatan dini maupun gagal pengobatan kasep. Proporsi kesembuhan sebesar 92% dengan waktu bebas parasit pada H-7. Efek samping yang ditemukan bersifat ringan dan mirip dengan gejala khas malaria yaitu sakit perut, diare dan sakit kepala
Penggunaan Antibiotik Restriksi pada Pasien Ulkus, Abses dan Batu Kandung Kemih di Bangsal Bedah RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi Periode 2017-2019: Use of Restrictive Antibiotics in Patients with Ulcers, Abscesses and Bladder Stones in the Surgical Ward of H. Abdul Manap Hospital, Jambi City, 2017-2019
Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai meningkatkan kasus terjadinya resistensi antibiotik. Pembatasan jenis antibiotik atau antibiotik restriksi merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kejadian resistensi antibiotik, menekan biaya antibiotik serta menurunkan pemakaian antibiotik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase penggunaan antibiotik restriksi pada pasien Ulkus, Abses dan Batu Kandung Kemih di Bangsal Bedah RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi Periode 2017-2019. Penelitian ini menggunakan desain penelitian non-eksperimental yang bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara restrospektif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil perolehan sampel pada penelitian ini sebanyak 43 sampel yang memenuhi kriteria dari 135 pasien populasi diantaranya dengan diagnosis ulkus 15 sampel terdiri dari 40% pasien laki-laki dan 60% pasien perempuan, 40% usia 56-65 tahun dengan komorbid diabetes melitus tipe 2. Pasien dengan diagnosis abses 18 sampel terdiri dari 61,1% pasien laki-laki dan 38,9% pasien perempuan, 27,8% usia 36-45 tahun dengan komorbid sepsis dan diabetes melitus tipe 2. Pasien dengan diagnosis batu kandung kemih 10 sampel terdiri dari 30% pasien laki-laki dan 70% pasien perempuan, 60% usia 46-65 tahun. Selama periode 2017 sampai 2019 untuk pasien ulkus, abses dan batu kandung kemih menggunakan 2 jenis antibiotik restriksi yaitu ciprofloxacin dan levofloxacin. Pada pasien ulkus, abses dan batu kandung kemih jumlah penggunaan antibiotik restriksi yang banyak digunakan ialah antibiotik ciprofloxacin dengan persentase 21%, sedangkan penggunaan levofloxacin dengan persentase sebesar 10%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan antibiotik restriksi periode 2017-2019 pada diagnosis ulkus yaitu 41%, 35,7% dan 25%. Pada diagnosis abses yaitu 40%, 25% dan 35,2% serta pada diagnosis batu kandung kemih yaitu 18,1%, 33,3% dan 20%
Identifikasi Extended Spectrum Beta Laktamase (ESBL) Antibiotika Golongan Sefalosporin pada Bakteri Acinetobacter baumannii
Extended Spectrum Beta-Lactamases (ESBL) adalah kelompok enzim yang memecah antibiotika golongan penisilin dan sefalosporin sehingga bakteri resisten terhadap jenis antibiotika ini. Acinetobacter baumannii adalah salah satu bakteri gram negatif penghasil enzim ESBL. Secara global Acinetobacter baumannii telah menjadi patogen nosokomial yang terus meningkat frekuensinya. Prevalensi ESBL bakteri Acinetobacter spp di Indonesia sebesar 19-29 % yang resisten terhadap antibiotika sefalosporin generasi ketiga dan keempat. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling. Bakteri Acinetobacter baumannii diisolasi dari 50 pasien. Isolat tersebut berasal dari sputum, pus, darah, urine, endotrackeal (ETT), cairan pleura, bilasan bronkus dan feces. Sampel isolat diidentifikasi menggunakan metode bakteriologis standar dan sistem vitek 2 compact ® menggunakan kartu GN. Pengujian dilakukan meliputi uji sensitivitas antimikroba yang dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar Kirby-Bauer dan uji produksi ESBL dengan menggunakan metode Double Disc Synergy Test (DDST) dan Phenotypic Confirmatory Test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bakteri Acinetobacter baumannii berhasil diisolasi dari semua sampel dengan tingkat keakuratan (91%-99%). Pada uji sensitivitas antimikroba ditemukan bahwa dari 50 sampel klinik yang diuji terhadap antibiotika golongan sefalosporin, yang telah mengalami resistensi secara berurutan dari yang terbesar adalah Cefotaxime 22 sampel (44%), Ceftazidime 20 sampel (40%), Ceftriaxone 20 sampel (40 %), dan Cefepime 19 sampel (38%). Pada uji produksi ESBL ditemukan 9 sampel (18%) positif ESBL pada antibiotika ceftazidime+As.Klavulanat, 9 sampel (18%) positif ESBL pada antibiotika cefotaxime+As.Klavulanat (30 μg/10 μg)
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Balita dengan Diagnosa Infeksi Saluran Pernapasan Atas di Puskesmas Koni Kota Jambi
Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Terapi pengobatan pada penyakit ISPA terdiri dari pemberian antibiotik dan pengobatan simtomatis. Penggunaan antibiotik yang tidak perlu atau berlebihan dapat mengakibatkan timbulnya resistensi terhadap bakteri tertentu. Resistensi tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dihindari atau diperlambat dengan penggunaan antibiotik secara rasional yang tepat dan bijak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerasionalan penggunaan antibiotik pada pasien balita dengan infeksi saluran pernapasan atas di Puskesmas Koni Kota Jambi dengan parameter yang meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat durasi. Penelitian dilakukan pada 51 rekam medik pasien balita di Puskesmas Koni Kota Jambi di bulan Februari 2020-Maret 2020 secara retrospektif dengan teknik pengambilan data sampel secara purposive sampling dan kemudian dilakukan analisa data secara deskriptif. Berdasarkan 51 data rekam medik pasien balita di Puskemas Koni Kota Jambi Tahun 2019 masih ditemukan ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien ISPA tahun 2019 berdasarkan analisa kualitatif yang telah dilakukan, didapat tepat pasien sebesar 100 %, tepat indikasi sebesar 100 %, tepat dosis sebesar 100 %, dan tepat durasi sebesar 0 %. Evaluasi ketepatan pasien, tepat indikasi dan tepat dosis dinyatakan tepat sedangkan evaluasi durasi pemberian antibiotik yang digunakan belum tepat
Optimasi dan Evaluasi Kondisi Biji Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Telah Dibawa ke Luar Angkasa Secara Fisik dengan Kultur Jaringan
Tomat (Lycopersicum esculentum) adalah tanaman kelompok Solanaceae yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Permintaan buah tomat yang meningkat dapat menyebabkan kebutuhan bibit tomat meningkat. Produktivitas dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara radiasi. Biji Tomat yang dibawa ke luar angkasa, dievaluasi secara fisik dengan menggunakan alat SEM. Pengamatan SEM menunjukkan bahwa pada biji luar angkasa terdapat adanya permukaan berlubang atau berpori, yang diduga akibat pengaruh radiasi kosmik. Biji tomat (L. esculentum) kontrol pada saat kering maupun basah strukturnya terlihat lebih tebal daripada biji tomat (L. esculentum) yang telah dibawa ke ruang angkasa. Perbanyakan secara konvensional (in-vivo) sulit diterapkan, antara lain karena adanya kendala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus yang dapat terbawa dalam biji. Oleh karena itu, diperlukan satu cara untuk mengatasi masalah produksi bibit yang bebas penyakit, yaitu dengan cara in vitro menggunakan kultur jaringan. Keberhasilan kultur jaringan memerlukan beberapa kondisi yang mendukung, antara lain penggunaan medium yang tepat, eksplan yang baik, kondisi aseptik, dan faktor lingkungan yang tepat. Sehingga, dilakukan optimasi untuk mendapatkan protokol in-vitro, yang dapat digunakan untuk menghasilkan bibit yang seragam. Hasil menunjukkan bahwa protokol untuk perbanyakan bibit tomat yang telah optimal adalah medium MS dengan penambahan 0,2 ppm IAA dan 2 ppm BAP. Sedangkan medium untuk perakaran adalah MS dengan penambahan 1 ppm IBA. Bibit dapat diaklimatisasi dan ditumbuhkan ex vitro dengan tingkat keberhasilan 98 %
Efek penggunaan Antihipertensi Kombinasi Amlodipin dan Valsartan Pasien Stroke Iskemik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar: Effect of the Use of Combination Antihypertensive Amlodipine and Valsartan with Ischemic Stroke Patients at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
Telah dilakukan penelitian efek penggunaan Antihipertensi dengan pasien stroke iskemik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Stroke dapat disebabkan oleh beberapa kondisi medis, diantaranya tekanan darah tinggi, diabetes, kelainan pembuluh darah atau jantung, dan migrain, serta faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi rokok dan alkohol. Penelitian dilakukan denganmetode Kohort, dimanabersifat prospektif karena data yang diambil merupakan data assesmen dari pasien di Rumah Sakit Umum Pusat(RSUP) Dr. Wahidin SudirohusodoMakassar. Data diperoleh dianalisis terhadap hubungan antara obat Amlodipin 5 mg + Valsartan 80 mg dan Amlodipin 10 mg + Valsartan 80 mg. Pemberian obat Antihipertensi di RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo pada pasien Stroke Iskemik terbanyak dari golongan Amlodipin 5 mg + Valsartan 80 mg Efek penggunaan obat Antihipertensi pada uji Mann-whitney diperoleh nilai p>0,05 yang menunjukkan bahwatidak terdapat perbedaan penurunan tekanan darah yang signifikan antara pemakaian obat Amlodipin 5 mg + Valsartan dengan Amlodipin 10 mg + Valsartan 80 mg
Uji Aktivitas Ekstrak Daun Opo-Opo (Desmodium pulchellum Linn Benth) sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes
Faringitis dan tonsillitis akut merupakan awal keadaan infeksi dari infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Faringitis dapat disebabkan oleh bakteri. Tonsilitis akut bakterial paling banyak disebabkan Streptococcus β hemoliticus lebih kurang 30%-40%. Streptococcus β hemoliticus group A dan secara kolektif mengacu pada Streptococcus pyogenes merupakan patogen yang sangat penting pada manusia. Berbagai Streptococcus (Streptococcus viridians, Enterococcus dll) merupakan bagian flora normal pada tubuh manusia. Bakteri-bakteri ini menyebabkan penyakit hanya bila berada di bagian tubuh yang normalnya tidak didiami bakteri-bakteri ini (misalnya katup jantung). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ekstrak etanol daun Opo-opo (Desmodium pulchellum Linn Benth) terhadap pertumbuhan Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi secara maserasi terhadap bahan uji dan uji mikrobiologis menggunakan metode dilusi cair. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 0,1% b/v, 0,25% b/v, 0,5% b/v, 0,75% b/v, 1% b/v, 1,25% b/v, 1,5% b/v, 1,75% b/v, 2% b/v, 2,25% b/v, 2,5% b/v dengan kontrol negatif Na,CMC 1 % b/v. Hasil pengujian menujukkan bahwa KHM Ekstrak daun Opo-opo pada Streptococcus viridans adalah 0,75% KBM ekstrak daun opo-opo pada Streptococcus viridaans adalah 1% Sedangkan KHM ekstrak daun opo-opo pada Streptococcus pyogenes adalah 0,25% dan KBM ekstrak daun opo-opo pada Streptococcus pyogenes adalah 1%. Hasil skrining fitokimia ekstrak daun Opo-opo (Desmodium pulchellum Linn Benth) positif mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, tannin dan Terpenoid
Seorang Laki-Laki Usia 25 Tahun dengan Gambling Disorderpada Masa Pandemi Covid-19: A 25-Year-Old Man with Gambling Disorder During the Covid-19 Pandemic
Adiksi adalah suatu masalah sosial, serta bukan suatu objek yang dapat dianggap unik. Adiksi sering kali dilihat sebagai kondisi kronis disertai dengan motivasi yang kuat untuk mendapatkan suatu hasil yang memuaskan berdasarkan suatu tindakan yang tidak sengaja dapat merugikan. Pada masa pandemi Covid-19 didapatkan beberapa penelitian bila gangguan perjudian menunjukkan terdapat peningkatan, terutama ketika dan sesudah dilakukan Lockdown.penelitian ini menilai hubungan antara perilaku pasien Gambling Disorder (Gangguan Perjudian) dengan pandemi COVID-19. Didapatkan hubungan antara pandemi Covid-19 sebagai salah satu pencetus perilaku gangguan perjudian
Aktivitas Antibakteri Fraksi Daun Kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro
Tanaman kakao merupakan komoditas perkebunan di Indonesia. Bagian paling banyak pada tanaman kakao yaitu daun kakao. Salah satu pemanfaatan daun kakao oleh masyarakat yaitu sebagai pupuk kompos, namun belum dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku obat tradisional. Berdasarkan penelitian, daun kakao mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang sering menyebabkan infeksi pada manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas fraksi etanol, diklorometana, dan n-heksan dari ekstrak daun kakao sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi yaitu maserasi dan fraksinasi menggunakan pelarut etanol, diklorometana, dan n-heksan. Uji aktivitas antibakteri fraksi daun kakao menggunakan metode difusi cakram dengan seri konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etanol dan diklorometana memiliki aktivitas antibakteri