Indonesian Health Issue
Not a member yet
    108 research outputs found

    Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Pada Bayi Ny “F” dengan BBLR dan Hiperbilirubinemia

    Get PDF
    Latar Belakang: Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dapat didefinisikan sebagi bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi atau usia kehamilan. Dari seluruh data Neonatal Mortality Rate, 80% (16.156) terjadi pada 6 hari pertama setelah.Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko lebih besar pada morbiditas dan mortalitas dibandingkan pada bayi yang lahir dengan berat badan normal. Sehingga bayi dengan BBLR menjadi salah satu penyebab utama tingginya morbiditas pada neonates. Bayi  berat  lahir    rendah    merupakan    risiko    hiperbilirubinemia. Prevalensi       hiperbilirubinemia   berkisar   antara   60%   pada   bayi   cukup  bulan  dan  80%  pada  bayi  prematur. Tujuan: Menganalisis asuhan yang diberikan kepada bayi Ny ”F” di ruang NICU Metode : Jenis data yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer dan sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan rekam medik pasien. Hasil : Bayi Ny.F mendapat asuhan intensif di Ruang NICU. Kesimpulan: Pemberian penatalaksanaan sudah sesuai dengan teori dan prosedur. Background: One of the risk factors for high rates of neonatal mortality and morbidity is low birth weight (LBW) babies. Data shows that the neonatal mortality rate in the first 6 days after birth is 80% (16,156). LBW has a risk of hyperbilirubinemia, with a prevalence of 60% in term babies and 80% in premature babies. Efforts were made to reduce this problem by providing comprehensive midwifery care appropriately and correctly in accordance with the hospital's regular procedures. Purpose: To provide midwifery care to Mrs "F"'s baby in the NICU room. Methods: The type of data used is descriptive research through case studies , through the initial steps of the results of the anamnesis and the patient's medical record, so that primary and secondary data, results of physical examinations, diagnostic examinations and supporting examinations are obtained. Results: Mrs. F's baby with LBW and hyperbilirubinemia received intensive care in the NICU room. Conclusion: Management is provided in accordance with the theory and standard procedures in the NICU roo

    Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Pada Ny “H” Dengan Hiperplasia Endometrium

    Get PDF
    ABSTRAK Latar Belakang: Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2018 ditemukan 897 jiwa menderita penyakit Reproduksi. kasus Hiperplasia Endometrium di NTB sebanyak 24%. Menurut hasil penelitian di RSUD Sumbawa menunjukkan jumlah wanita yang mengalami gangguan kesehatan Reproduksi pada tahun 2020 yaitu sebanyak 190 kasus dari jumlah tersebut ditemukan kasus hiperplasia endometrium sebanyak 21 kasus. pada tahun 2021 sebanyak  192 kasus gangguan kesehatan kespro  dari jumlah tersebut ditemukan kasus hiperplasia endometrium sebanyak 24 kasus. oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengambil studi kasus tentang “Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. H dengan Hiperplasia Endometrium di RSUD Sumbawa ” Tujuan Studi kasus : Untuk mengetahui Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. H dengan Hiperplasia Endometrium di RSUD Sumbawa secara komprehensif tahun 2021 Metode penelitian : jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan data primer dan data sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan USG, buku register dan rekam medik. Subyek dalam studi kasus ini adalah Ny.H dengan hiperplasia endometrium di RSUD Sumbawa. Hasil : pada awal kunjungan keluar darah banyak dari jalan lahir. kemudian dilakukan tindakan kuretase. Gejala  hiperplasia endometrium yaitu : siklus menstruasi tak teratur, tidak haid dalam jangka waktu lama (amenore) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak. evaluasi post kuret yaitu keadaan pasien membaik serta berkurangnya perdarahan pervaginam. asuhan kebidanan ibu post kuret yaitu observasi perdarahan serta menjaga personal hygine mencukupi kebutuhan nutrisi dan istirahat. Kesimpulan : berkurangnya Perdarahan pasca kuretase Kata Kunci : Hiperplasia Endometrium, Kesehatan Reproduksi. &nbsp

    Studi Literatur: Intervensi Spesifik Penanganan Stunting

    Get PDF
    Latar Belakang: Prevalensi stunting di Indonesia pada dasarnya sudah mengalami penurunan setiap tahunnya, namun angkanya masih jauh di atas batas yang ditetapkan WHO yaitu di bawah 20%. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 angka prevalensi stunting Indonesia sebesar 24,4 %. Tujuan: Mengidentifikasi intervensi spesifik penanganan stunting Metode: Studi literature dari berbagai sumber elektornik Hasil: Terdapat sebelas intervensi spesifik penanganan stunting.  Kesimpulan: Intervensi tersebut  meliputi empat sasaran mulai remaja putri, ibu hamil, bayi balita dan masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain Skrining anemia, konsumsi tablet tambah darah, Pemeriksaan kehamilan (ANC), Konsumsi tablet tambah darah bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronis (KEK), Pemantauan pertumbuhan balita, ASI Eksklusif, Pemberian MP ASII kaya protein hewani bagi baduta, tata laksana masalah gizi, peningkatan cakupan imunisasi, edukasi ibu hamil, remaja dan keluarga termasuk pemicuan bebas buang air besar sembarangan (BABS). Background : The prevalence of stunting in Indonesia has basically decreased every year, but the figure is still far above the limit set by WHO, which is below 20%. Based on the 2021 Indonesian Nutritional Status Study Indonesia's stunting prevalence rate is 24.4%. Purpose: To identify specific interventions for treating stunting Method: Study of literature from various electronic sources. Results: There are eleven specific interventions for treating stunting. Conclusion: The intervention includes four targets, starting with young women, pregnant women, toddlers and the community. These activities include screening for anemia, taking blood-boosting tablets, pregnancy checks (ANC), consuming blood-boosting tablets for pregnant women, providing additional food for pregnant women with chronic energy deficiency monitoring toddler growth, exclusive breastfeeding, giving MP ASI rich animal protein for children under two, management of nutritional problems, increasing immunization coverage, education for pregnant women, adolescents and families including triggering open defecation

    Peningkatan Motivasi Ibu Hamil Trimester III Dalam Memberikan Asi Eksklusif Dengan Audiovisual

    Get PDF
         Latar Belakang: Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir. Berdasarkan data WHO tahun 2015 hanya 44 persen dari bayi baru lahir di dunia yang mendapat ASI dalam waktu satu jam pertama sejak lahir, bahkan masih sedikit bayi dibawah usia enam bulan masih disusui secara esklusif.  Tujuan: Untuk Mengevaluasi Peningkatan Motivasi Ibu Hamil dalam Memberikan ASI Eksklusif dengan Audiovisual. Metode: Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif dengan Quasi eksperimen dengan rancangan design penelitian pretest posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu hamil Trimester III pada bulan April berjumlah 48 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 orang ibu hamil Trimester III, tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik purposive sampling. Hasil: Distribusi frekuensi motivasi ibu hamil dalam memberikan ASI Eksklusif pada kelompok kontrol pretest mayoritas rendah yaitu 14 (58,3 %) dengan mean 2,4583 dan pengukuran saat postest mayoritas tetap memiliki motivasi yang rendah yaitu 12 (50,0 %) dengan mean 2,3333. Distribusi frekuensi motivasi ibu hamil dalam memberikan ASI Eksklusif pada kelompok intervensi pretest mayoritas rendah yaitu 11 (45,8 %) dengan mean 2,2500 dan pengukuran saat postest mayoritas ibu hamil memiliki motivasi yang tinggi yaitu menjadi 13 (27,1 %) dengan mean 1,5417. Untuk analisis bivariat dilakukan uji Mann-Whitney diperoleh hasil untuk P Value = 0,000 artinya p <  0,05. Kesimpulan: Audiovisual dapat meningkatkan Motivasi Ibu Hamil dalam Memberikan ASI Eksklusif. Diharapkan bagi Pimpinan Puskesmas agar bekerjasama dengan  tenaga kesehatan dalam melakukan sosialisasi manfaat Audiovisual yang dapat meningkatkan Motivasi Ibu Hamil dalam Memberikan ASI Eksklusif. Background: According to WHO data for 2015, only 44% of babies worldwide are Breast Milk within the first hour after birth, and some babies under the age of 6 months are still exclusively Breast Milk. Purpose : Evaluation of increased motivation of pregnant women in giving exclusive Breast Milk audiovisually. Method: This type of research is a quantitative study with a quasi-experimental design with a pretest and posttest design with a control group design. The population of this study was third trimester pregnant women in April totaling 48 people. The sample in this study was 48 third trimester pregnant women, the sampling technique was carried out by purposive sampling technique. Results: The frequency distribution of the motivation of exclusive Breast Milk pregnant women according to the pretest control group was the majority low, namely 14 (58.3%) with a mean of 2.4583 and measurements during the posttest, the majority still had low motivation, namely 12 (50.0%) with a standard of 2, 3333. The frequency distribution of cause for exclusive Breast Milk in the pretest intervention group is primarily low, namely 11 (45.8%) with a mean of 2.2500 and measurements during the post-test, the majority of pregnant women have high motivation, which is 13 (27.1%) with a mean of 1.5417. The Mann-Whitney test was used for bivariate analysis to obtain results for P Value = 0.000, meaning p <0.05. Conclusion: Audiovisual can increase the motivation of pregnant women in giving exclusive Breast Milk. It is hoped that the leadership of the Puskesmas will cooperate with health workers in socializing the benefits of Audiovisual, which can increase pregnant women's motivation to provide exclusive Breast Milk

    Pengaruh Edukasi Kesehatan Reproduksi Pra Nikah Pada Peningkatan Pengetahuan Remaja Untuk Pencegahan Stunting

    Get PDF
    Latar Belakang: Di Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya Kabupaten Lombok Barat, jumlah dan presentasi wanita menurut usia perkawinan pertama persentase yang cukup tinggi terjadi pada umur 16 – 19 tahun sebesar 47,22 %, umur 20 – 29 tahun sebesar 47,01 %, < 16 tahun sebesar 4, 27 % dan umur > 30 tahun sebesar 1, 50 % (BPS Lobar, 2020). Faktor penyebab pernikahan usia dini di NTB memang sangat kompleks diantaranya pemaksaan dari orang tua atau keluarga dan karena cinta. Sebagian besar remaja menikah belum mencukupi umur dan tidak mendapat ijin dari KUA sehingga kebanyakan menikah di bawah tangan atau lebih dikenal sebagai nikah siri.Tujuan: Penelitian ini untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan reproduksi pra nikah terhdap tingkat pengetahuan remaja. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah pre eksperimental dengan pre post one grup test design, dengan jumlah sampel sebanyak 30 remaja. Hasil: Terdapat pengaruh edukasi pra nikah dalam meningkatkan pengetahuan remaja. Kesimpulan: Edukasi pra nikah mampu meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi pra nikah. Background: In West Nusa Tenggara Province, especially West Lombok Regency, the number and presentation of women according to the age of first marriage is quite high, at the age of 16 - 19 years at 47.22%, at the age of 20 - 29 years at 47.01%, < 16 years old is 4.27% and age > 30 years is 1.50% (BPS Lobar, 2020). The factors causing early marriage in NTB are very complex, including coercion from parents or family and because of love. Most teenagers who marry are not old enough and do not have permission from the KUA, so most of them marry under the hand, better known as unregistered marriages. Objective: This research analyzes the effect of pre-marital reproductive health education on teenagers' knowledge levels. Method: The research method was pre-experimental with a pre-post one group test design, with a sample size of 30 teenagers. Results: There is an influence of premarital education in increasing teenagers' knowledge. Conclusion: Pre-marital education can increase teenagers' knowledge about pre-marital reproduction health

    Asupan Makan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Setelah Mendapatkan Konseling Gizi

    Get PDF
    Latar Belakang : Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit kronis ketika kadar glukosa dalam tubuh melebihi batas normal. Salah satu penyebab gula darah yang tinggi adalah pola makan yang salah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pasien terhadap makanan dalam hal ini pasien perlu mendapatkan sesi konseling gizi yang memiliki tujuan untuk membantu pasien dalam mengambil keputusan, termasuk dalam mengatur pola makan yang mematuhi prinsip 3J (jumlah, jadwal, dan jenis). Penting juga untuk mempertimbangkan prinsip keragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup sehat, serta menjaga berat badan yang seimbang dalam memenuhi kebutuhan gizi. sehingga asupan makan pasien menjadi lebih baik. Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran asupan makan pasien Diabetes Melitus Tipe 2 usai menjalani sesi konseling gizi selama masa perawatan di ruang rawat inap. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional untuk mengkaji tentang gambaran asupan makan pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 setelah menjalani sesi konseling gizi selama masa perawatan di ruang rawat inap. Hasil : Tingkat konsumsi Ny. B memiliki rata-rata energi yaitu 759,7 kkal, protein 45,4 gram, lemak 25,2 gram, dan karbohidrat 94,5 gram. Ny.S rata-rata energi yaitu 912,4 kkal, protein52,6 gram, lemak 26,1 gram, dan karbohidrat 150,7 gram dan Ny. K rata-rata tingkat konsumsi energi yaitu 822 kkal, protein 46,7 gram, lemak 25,9 gram, dan karbohidrat 106,8 gram. Kesimpulan : Setelah mendapatkan konseling gizi, pengetahuan pasien menjadi lebih baik dalam hal memilih makanan yang ditunjukkan dengan hasil identifikasi asupan makan pasien Ny. B dan N. S memiliki rata-rata asupan makan baik.   Background: Diabetes Mellitus is a chronic disease when glucose levels in the body exceed normal limits. One of the causes of high blood sugar is an incorrect eating pattern caused by the patient's lack of knowledge about food, in this case, the patient needs to receive a nutritional counseling session which aims to help the patient make decisions, including managing a diet that adheres to the 3J principles (quantity, schedule, and type). It is also essential to consider the principles of food diversity, physical activity, healthy living behavior, and maintaining a balanced body weight to meet nutritional needs. So that the patient's food intake becomes better. Research Objective: To determine the description of food intake of Type 2 Diabetes Mellitus patients after undergoing nutritional counseling sessions during the treatment period in the inpatient room. Research Method: The study used a descriptive observational method to examine the description of the food intake of patients suffering from type 2 diabetes mellitus after undergoing nutritional counseling sessions during the treatment period in the inpatient room. Results: Mrs. B has an average energy of 759.7 kcal, 45.4 grams of protein, 25.2 grams of fat, and 94.5 grams of carbohydrates. Mrs. S's average energy is 912.4 kcal, protein 52.6 grams, fat 26.1 grams, carbohydrates 150.7 grams, and Mrs. The intermediate level of energy consumption is 822 kcal, 46.7 grams of protein, 25.9 grams of fat, and 106.8 grams of carbohydrates. Conclusion: After receiving nutritional counseling, the patient's knowledge became better in choosing food, as indicated by identifying the patient's food intake. Mrs. B and N. S have an excellent average food intak

    Pemanfaatan Layanan Keluarga Berencana Oleh Wanita Usia Subur Di Masa Pandemi Covid-19

    Get PDF
    Latar Belakang : Pandemi virus SARS-Cov-2 telah menginfeksi lebih dari 6,8 juta orang dan menyebabkan kematian lebih dari 362.000 diseluruh dunia. Pemberlakuan aturan PSBB terbukti efektif menurunkan angka penyebaran COVID-19 namun terjadi penurunan pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat. Tujuan : mengkaji pemanfaatan layanan keluarga berencana oleh wanita usia subur di masa pandemi COVID-19. Metode : Penelitian secara literature review menggunakan artikel sebanyak 15 artikel penelitian yang terdiri dari 10 artikel penelitian nasional dan 5 artikel penelitian internasional. Hasil : Pada masa pandemi COVID-19 terjadi 7 juta kelahiran yang tidak diinginkan akibat penurunan pemanfaatan layanan Kesehatan oleh para akseptor KB. Pada masa ini juga terjadi peningkatan pengguna kondom sedangkan pengguna IUD/AKDR cenderung menurun. Padahal efektivitas IUD/AKDR dalam mencegah kehamilan lebih tinggi dibandingkan kondom. Kesimpulan : Pandemi COVID-19 meningkatkan angka kehamilan tidak diinginkan. Pemberian edukasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan wanita usia subur dalam memenuhi kebutuhan layanan keluarga berencana. Disarankan adanya upaya peningkatan pengetahuan wanita usia subur tentang alternatif akses layanan Keluarga Berencana yang tidak meningkatkan risiko penularan COVID-19. Background: The SARS-Cov-2 virus pandemic has infected more than 6.8 million people and caused the deaths of more than 362,000 worldwide. The implementation of the PSBB regulations has proven effective in reducing the spread of COVID-19 but there has been a decrease in the use of health services by the community. Objective: to examine the use of family planning services by women of childbearing age during the COVID-19 pandemic. Method: Literature review research using 15 research articles consisting of 10 national research articles and 5 international research articles. Results: During the COVID-19 pandemic, 7 million unwanted births occurred due to a decrease in the use of health services by family planning acceptors. During this period there was also an increase in condom users, while IUD/IUD users tended to decrease. Even though the effectiveness of IUDs/IUDs in preventing pregnancy is higher than condoms. Conclusion: The COVID-19 pandemic increases the rate of unwanted pregnancies. Providing education has been proven to be effective in increasing the knowledge of women of childbearing age in meeting their needs for family planning services. It is recommended that efforts be made to increase knowledge of women of childbearing age about alternative access to family planning services that do not increase the risk of transmission of COVID-19

    Faktor Yang Memengaruhi Fenomena Menunda Pernikahan Pada Generasi Z

    Get PDF
    Salah satu fenomena yang terjadi pada Generasi Z adalah menunda pernikahan.Fenomena inid apat menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan sosial dan psikologis generasi Z. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi fenomena menunda pernikahan pada Generasi Z serta dampak yang ditimbulkan dari fenomena tersebut.Penelitian ini menggunakan metode survei. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (64,8%) mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk menunda pernikahan hingga meraih kesuksesan dalam karir atau pendidikan. Tekanan dari lingkungan sosial (24,6%) dan perubahan nilai sosial (10,6%) mempengaruhi keputusan mereka dalam menunda pernikahan. Dalam hal dampak dari fenomena menunda pernikahan pada generasi Z, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (61,2%) menganggap bahwa menunda pernikahan dapat memberikan waktu yang lebih banyak untuk berkembang dan mengembangkan diri. Secara statistik, faktor-faktor yang memengaruhi keputusan generasi Z dalam menunda pernikahan adalah pendidikan, karir, dan tekanan dari lingkungan sosial. Regresi linier menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih memilih untuk menunda pernikahan (β 0,274, p 0,05). Demikian pula, responden yang lebih fokus pada karir cenderung lebih memilih untuk menunda pernikahan (β 0,379, p 0,01). Sementara itu, tekanan dari lingkungan sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan generasi Z dalam menunda pernikahan (β 0,225, p 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keputusan generasi Z dalam menunda pernikahan adalah pendidikan, karir, dan tekanan dari lingkungan sosial. Menunda pernikahan dapat memberikan waktu yang lebih banyak untuk berkembang dan mengembangkan diri, namun juga dapat memberikan tekanan sosial dan psikologis One of the phenomena that occur in Generation Z is delaying marriage. This phenomenon can have positive and negative impacts on the social and psychological life of Generation Z. The purpose of this study is to determine what factors influence the phenomenon of delaying marriage in Generation Z and the impact arising from this phenomenon. This study uses a survey method. The data analysis technique used is descriptive analysis and linear regression. The results showed that most respondents (64.8%) preferred to postpone marriage until they achieved success in their career or education. Pressure from the social environment (24.6%) and changes in social values (10.6%) influenced their decision to postpone marriage. Regarding the impact of delaying marriage on Generation Z, the results show that most respondents (61.2%) think delaying marriage can give them more time to develop and develop themselves. Statistically, the factors influencing Generation Z's decision to postpone marriage are education, career, and pressure from the social environment. Linear regression shows that respondents with a higher education level tend to prefer to delay marriage (β 0.274, p 0.05). Likewise, more career-focused respondents tend to prefer to postpone marriage (β 0.379, p 0.01). Meanwhile, pressure from the social environment significantly influences the decision of Generation Z to postpone marriage (β 0.225, p 0.05). Based on the results of the research and discussion that has been done, it can be concluded that the factors that influence Generation Z's decision to postpone marriage are education, career, and pressure from the social environment. Delaying marriage can give them more time to grow and develop themself, but it can also put social and psychological pressure.. &nbsp

    Edukasi Laktasi Prenatal Untuk Meningkatkan Praktik Inisiasi Menyusu Dini

    Get PDF
    Latar Belakang: Inisiasi Menyusui Dini (IMD) merupakan suatu kesempatan yang diberikan kepada bayi segera setelah bayi itu lahir. Di Indonesia sendiri persentase proses mulai mendapat ASI kurang dari satu jam Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada bayi sebesar 42,7%.  Persentase proses mulai mendapat ASI antara usia 0-5 bulan sebesar 54,0%. Pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di Provinsi Sumatra Utara Utara tahun 2016 sebesar 30,3%.Tujuan: Untuk Mengevaluasi Edukasi Laktasi Prenatal untuk Meningkatkan Praktik Inisiasi Menyusui Dini. Metode: Peneliti menggunakan jenis kuantitatif design dengan penelitian quasi eksperimen kuantitatif dan rancangan posttest nonequivalent with control group yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan memberikan sebuah perlakuan untuk mengetahui gejala atau pengaruh yang timbul akibat perlakuan yang diberikan untuk membandingkan hasil pemberian edukasi laktasi prenatal pada kelompok perlakuan dibandingkan  dengan suatu kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 orang ibu hamil Trimester III, dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil: Distribusi frekuensi praktik inisiasi menyusui dini pada kelompok kontrol mayoritas ibu tidak berhasil melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini yaitu 17 (70,9 %) dengan mean 1,71. Distribusi frekuensi praktik inisiasi menyusui dini pada kelompok intervensi mayoritas ibu berhasil melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini yaitu 18 (75,0 %) dengan mean 1,25. Analisis bivariat dilakukan uji Mann-Whitney didapatkan hasil untuk P Value = 0,002 artinya p <  0,05. Kesimpulan: Edukasi Laktasi Prenatal terbukti dapat meningkatkan praktik inisiasi menyusui dini. Diharapkan bagi Pimpinan Puskesmas agar bekerjasama dengan  tenaga kesehatan dalam melakukan sosialisasi manfaat Edukasi Laktasi Prenatal terbukti dapat meningkatkan praktik inisiasi menyusui dini. Background: Early Breastfeeding Initiation (IMD) is an opportunity given to babies from birth. In Indonesia, the rate of breastfeeding initiation in one hour of early initiation of breastfeeding (IMD) in infants is 42.7%. The initiation rate of breastfeeding from 0 to 5 months is 54.0%. The early breastfeeding implementation rate (IMD) in North Sumatra Province 2016 was 30.3%. Purpose: To evaluate the practice of early breastfeeding initiation to improve prenatal lactation education. Methods: Researchers used a quantitative design with quasi-experimental quantitative research and post-test, which is not the same as the control group design, namely a study conducted while being treated to explore the symptoms or effects that occur during treatment. provided to compare the outcomes of prenatal lactation education in the treatment group versus the control group without any treatment intervention. The sample of this study was 48 third-trimester pregnant women, with the sampling technique being intentional sampling. Results: The frequency distribution of early breastfeeding practices in the control group for the majority of mothers who failed to initiate early breastfeeding was 17 (70.9%) with a mean of 1.71. The frequency distribution of the practice of early breastfeeding initiation in the intervention group for the majority of mothers succeeded in carrying out early breastfeeding initiation, namely 18 (75.0%) with a mean of 1.25. Bivariate analysis was carried out using the Mann-Whitney test to obtain results for P Value = 0.002, meaning p <0.05. Conclusion: Prenatal Lactation Education is proven to improve the practice of early breastfeeding initiation. It is hoped that the leadership of the Puskesmas will work together with health workers in socializing the benefits of Prenatal Lactation Education as proven to be able to improve the practice of early breastfeeding initiation.

    Pengaruh Pengetahuan Tentang Dysminorea Terhadap Aktivitas Belajar di SMAN 3 Nabire

    Get PDF
    Latar Belakang: Dysmenore merupakan salah satu masalah ginekologiyang paling umum dialami wanita dari berbagai tingkat usia. Angkakejadian dismenore di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50%perempuan di setiap dunia mengalaminya. Tujuan: untuk mengetahuiapakah ada pengaruh tingkat pengetahuan tentang dysmenorheaterhadap aktivitas belajar siswa di SMAN 3 Nabire Kabupaten Nabire.Metode: survey analitik dengan pendekatan waktu cross sectional.Populasi dalam penelitian ini berjumlah 273 orang. Metode pengambilansampel menggunakan purposive sampling dan didapatkan sampelsebanyak 121 responden. Analisa data menggunakan uji Kendall-tau.Hasil: ada hubungan yang signifikan (nyata) antara variabelPengetahuan Siswi tentang disminore dengan aktifitas belajar p value0,042(<0,05), koefisien korelasi -0,183. Kesimpulan: makin tinggipengetahuan siswi tentang disminore maka semakin rendah jumlah siswayang mengalami gangguang aktivitas belajar. Background: Dysmenorrhea was one of the most commongynecological problems experienced by women of different ages. Thenumber of dysmenorrhea events in the world is huge. On average, morethan 50% of women in the world experience it. Objective: to find out ifthere is an influence of the level of knowledge about dysmenorhea on thelearning activities of students in SMAN 3 Nabire Nabire Regency.Method: analytical survey with a cross sectional time approach. Thepopulation in this study was 273 people. Sampling method usingpurposive sampling and obtained a sample of 121 respondents. Dataanalysis using the Kendall-tau test. Results: there is a significant(noticeable) relationship between the student knowledge variable ondysminore and learning activity p value 0.042(<0.05), correlationcoefficient -0.183. Conclusion: The higher the student's knowledge ofdysminore, the lower the number of students who experience impairedlearning activities

    104

    full texts

    108

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Health Issue
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇