Indonesian Health Issue
Not a member yet
108 research outputs found
Sort by
Hubungan Usia Ibu Saat Hamil dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Kabupaten Tangerang
Latar Belakang: Kondisi stunting pada masa depan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia, yang akan berpengaruh pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Usia Ibu saat hamil menjadi salah satu faktor risiko penyebab stunting pada anak. Stunting diakibatkan masalah gizi kompleks pada balita yang terjadi sejak kehamilan, salah satunya adalah kehamilan diusia remaja ataupun terlalu tua. Tujuan: untuk mengetahui hubungan usia ibu saat hamil dengan kejadian stunting di Kabupaten Tangerang.. Metode: Desain penelitian ini yaitu cross sectional dengan populasi adalah seluruh balita usia 0-5 tahun di desa Taban, Jambe, Tangerang dengan besar sampel 72 responden, diperoleh dengan teknik sytematic random sampling. Analisa Data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil: Usia ibu saat hamil berhubungan dengan kejadian stunting (p=0,036). Kesimpulan: Pentingnya pemberian informasi mengenai stunting kepada masyarakat terutama pasangan yang merencanakan kehamilan untuk mempersiapakan fisik dan psikis sejak awal kehamilan dan meningkatkan pengetahuan pemberian nutrisi pada anak.
Background: Stunting conditions in the future affect the quality of human resources, which will affect the Human Development Index (HDI). Maternal age during pregnancy is one of the risk factors for stunting in children. Stunting is caused by complex nutritional problems in toddlers that have occurred since pregnancy, one of which is pregnancy at the age of teenagers or too old. Purpose: to determine the relationship between maternal age during pregnancy and the incidence of stunting in Tangerang Regency. Method: The design used a cross sectional design. The study population was all toddlers aged 0-5 years in Taban village, Jambe, Tangerang with a sample size of 72 respondents, obtained by systematic random sampling technique. Data analysis used univariate and bivariate analysis with chi-square test. Results: The results of the study obtained that maternal age during pregnancy was associated with the incidence of stunting (p = 0.036). Conclusion: The importance of providing information about stunting to the public, especially couples planning a pregnancy to be able to prepare physically and psychologically from the beginning of pregnancy and increase knowledge of nutrition for children
Pengaruh Pijat Bayi Diiringi Murrotal Terhadap Berat Badan Bayi Usia 2-4 Bulan di Puskesmas Jatinegara
Latar Belakang: Data wilayah kerja Puskesmas Jatinegara bahwa orangtua bayi usia 2-4 bulan belum ada yang melakukan teknik pemijatan bayi untuk meningkatkan kesehatan dan perawatan suportif bagi bayi. Pijat bayi dengan terapi musik sebagai salah satu upaya nonfarmokologi dalam mengatasi masalah berat badan dan budaya pijat sudah ada di wilayah Puskesmas Jatinegara namun masih dilakukan oleh dukun bayi. Tujuan: Mengetahui pengaruh pijat bayi diiringi murottal terhadap berat badan bayi usia 2-4 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jatinegara. Metode: Jenis penelitian Quasi Experiment dengan one group pretest-posttest design. Jumlah sampel 18 bayi. Analisa data univariat menggunakan uji tendensi sentral, minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi (sd). Selanjutnya dilakukan uji normalitas data dengan Saphiro Wilk Analisa data menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil: Rerata kenaikan berat badan bayi setelah diberikan pijat bayi diiringi murrotal adalah 5900 gram dengan standar deviasi 576.557. Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk mengetahui distribusi normal atau tidak, data yang berdistribusi normal jika nilai p value ≥ 0,05. Kenaikan berat badan bayi paling rendah adalah 4700 gram dan paling tinggi adalah 6700 gram.hasil uji statistik paired test peningkatan berat badan bayi diiringi murrotal didapatkan p=0,000. Karena p=0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukkan ada pengaruh pijat bayi diiringi murrotal terhadap berat badan bayii. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pijat bayi diiringi murottal terhadap kenaikan berat badan bayi usia 2-4 bulan di Puskesmas Jatinegara
Pengaruh Yoga Postnatal Terhadap Kondisi Psikologis Ibu Postpartum
Latar Belakang: Sebagian besar ibu postpartum mengalami penurunan kondisi fisik psikologi dan sosila selama menjalankan peran barunya sebagai ibu, hal ini akan berpengaruh pada kondisi psikologisnya. Yoga meruapakan salah satu alternatif terapi komplementer untuk meningktakan dan menstabilkan kondisi psikologis ibu. Tujuan: untuk mnegetahui pengruh yoga postnatal terhadap kondisi psikologis ibu postpartum. Metode: Quasi experiment dengan pre test and post test, 24 orang ibu postpartum,tehnik pengambilan data random sampling waktu penelitian Oktober 2020- April 2021 dan analisi data dengan paired sample t test. Hasil: Adanya pengaruh yoga postnatal terhadap kondisi psikologis ibu sebelum dan sesudah melakukan yoga postnatal P value (0.000) < α (0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh Yoga postnatal terhadap kondisi psikologis postpartum.
Background: Most postpartum mothers experience a decrease in their physical, psychological and social conditions while carrying out their new role as mothers, this will affect their psychological condition. Yoga is an alternative to complementary therapy to improve and stabilize the mother's psychological condition. Purpose: to find out the effect of postnatal yoga on the psychological condition of postpartum mothers. Methods: Quasi experiment with pre test and post test, 24 postpartum mothers, random sampling data collection technique during the study October 2020-April 2021 and data analysis with paired sample t test. Results: There is an effect of postnatal yoga on the psychological condition of the mother before and after doing postnatal yoga P value (0.000) < (0.05). Conclusion: There is an effect of postnatal Yoga on postpartum psychological condition
Pengaruh Pemberian Rebusan Daun Kelor Terhadap Kelancaran Produksi Asi Pada Ibu Nifas
Latar Belakang: World Health Organization (WHO) merekomendasikan dua hal penting yang harus dilakukan yaitu, memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, dan memberikan hanya ASI saja atau pemberian ASI secara eksklusif. Rendahnya cakupan ASI di Indonesia menyebabkan akibat yang tidak baik bagi kesehatan bayi. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan suplai ASI adalah dengan mengkonsumsi rebusan daun kelor yang dipercaya mengandung senyawa fitosterol yang berfungsi meningkatkan dan memperlancar produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rebusan daun kelor terhadap kelancaran produksi ASI di Desa Desa Beringin kecamatan beringin Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah Quasy Eksperiment dengan rancangan penelitian One Group Pretest-Posttest, dengan menggunakan teknik sampel jenuh dengan jumlah sampel 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kelancaran produksi ASI sebelum diberikan rebusan daun kelor adalah 4,00 dengan standar deviasi 1,622, sedangkan rata-rata kelancaran produksi ASI setelah diberikan rebusan daun kelor adalah 6,15 dengan standar deviasi 1,137. Dari analisis data dengan menggunakan uji Wilcoxon didapatkan P value (0,000) < a (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Diharapkan pada tenaga kesehatan untuk agar menggunakan rebusan daun kelor sebagai alternative untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas
Background: World Health Organization(WHO) recommends two important things to do namely, giving breast milk to the baby immediately within 30 minutes after the baby is born, and giving only breast milk or exclusive breastfeeding. The low coverage of breast milk in Indonesia contributes a bad effect on the health of infants. One of the efforts made to increase the supply of breast milk is by consuming boiled moringa leaves which are believed to contain phytosterol compounds that function to increase and facilitate milk production. This study aims to determine the effect of Moringa leaf decoction on the smooth production of breast milk in Beringin districts beringin in 2021. This type of research is Quasy Experiment with One Group Pretest-Posttest research design, using saturated sample technique with a sample of 20 people. The results showed that the average smoothness of ASI production before given Moringa leaf decoction was 4.00 with a standard deviation of 1.622, while the average smoothness of ASI production after given Moringa leaf decoction was 6.15 with a standard deviation of 1.137. From the data analysis using the Wilcoxon test, it was obtained that P value (0,000) <a (0.05), it can be concluded that H0 was rejected and Ha was accepted. It is expected that health workers should use boiled Moringa leaves as an alternative to increase milk production in postpartum mothers. From the data analysis using the Wilcoxon test, it was obtained that P value (0,000) <a (0.05), it can be concluded that H0 was rejected and Ha was accepted. It is expected that health workers should use boiled Moringa leaves as an alternative to increase milk production in postpartum mothers. From the data analysis using the Wilcoxon test, it was obtained that P value (0,000) <a (0.05), it can be concluded that H0 was rejected and Ha was accepted. It is expected that health workers should use boiled Moringa leaves as an alternative to increase milk production in postpartum mothers
 
Manfaat Kompres Dingin Pada Nyeri Perineum Kala IV
Latar Belakang: Rasa sakit yang dialami ibu saat persalinan kala IV disebabkan karena laserasi pada perinium. Laserasi tersebut terjadi karena adanya tindakan medis atas indikasi tertentu yaitu episiotomi atau terjadi ruptur perinium secara alami yang diakibatkan oleh desakan kepala bayi yang terlalu cepat. Laserasi perineum dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan selama beberapa minggu. Tujuan: Menganalisa pengaruh kompres dingin perinium terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala IV di ruang bersalin RSUD dr Gunawan Mangunkusumo Ambarawa) Metode: Penelitian ini merupakan quasi experiment. Desain penelitian post test with control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin pervaginam kala IV sejumlah 20 responden yang dibagi menajdi kelompok perlakuan dan kontrol dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling. Penelitian ini menggunakan uji statistic Mann Whitney. Hasil: Intensitas nyeri Kala IV pada kelompok kontrol sesudah tindakan kompres dingin (air dingin) perinium rata-rata 5,80. Intensitas nyeri kala IV pada kelompok intervensi sesudah tindakan kompres dingin (es) perinium rata-rata 4,70 dengan nilai signifikansi p<α (0,05). Kesimpulan: Ada pengaruh kompres dingin perinium terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala IV. Tenaga kesehatan terutama bidan sebaiknya dapat melakukan intervensi nonfarmakologi dengan memberikan kompres dingin perinium dan pijat perinium dalam upaya mengatasi masalah nyeri yang terdapat pada ibu bersalin kala IV.
Background: Pain experienced by the mother during the fourth stage of labor is caused by laceration of the perineum. The laceration occurs because of medical action for certain indications, namely an episiotomy or natural perineal rupture caused by the pressure of the baby's head too fast. Perineal lacerations can cause pain and discomfort for several weeks. Purpose: To analyze the effect of perineal cold compresses on pain intensity in the fourth stage of labor in the delivery room of RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa. Methods: This study is a quasi-experimental study. Post-test research design with control group design. The sample in this study were women who gave birth vaginally during the fourth stage of the study with a total of 20 respondents who were divided into treatment and control groups using non-probability sampling. This study uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The fourth stage of pain intensity in the control group after cold compresses (cold water) on the perineum was on average 5.80. The fourth stage of pain intensity in the intervention group after the perineal cold compress (ice) was an average of 4.70 with a significance value of p<α (0.05). Conclusion: There is an effect of perineal cold compresses on the intensity of pain in the fourth stage of labor. Health workers especially midwives, should be able to carry out non-pharmacological interventions by providing perineal cold compresses and perineal massage in an effort to overcome the pain problems found in women giving birth in the fourth stage
Studi Kasus:Asuhan Kebidanan Neonatus Pada Bayi Ny.N Dengan Kelainan Kongenital Labiopalatoschizis, Polidaktili Disertai Asfiksia Berat
Latar Belakang: Kelainan kongenital dapat didefinisikan sebagai kelainan struktural atau fungsional termasuk gangguan metabolisme yang hadir saat lahir. Kelainan ini dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun non-genetik. . Prevalensi kelahiran kelainan bawaan di Inggris adalah 2% dan di Afrika Selatan adalah 1,49%. Di Lebanon tingkat kejadian anomali congenital adalah 2,4%.2 Di Asia Tenggara, jumlah penderita kelainan kongenital cukup tinggi yaitu mencapai 5%. Sedangkan pada kasus Asfiksia di Indonesia tingginya angka kematian bayi sebanyak 27,4%.Tujuan:Menganalisis asuhan yang diberikan pada bayi Ny.N Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam studi kasus ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer dan sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan rekam medik. Hasil: Bayi Ny.N mendapat asuhan intensif di Ruang NICU. Kesimpulan: Pemberian penatalaksanaan sudah sesuai dengan teori dan prosedur.
Background: Congenital abnormalities can be defined as structural or functional abnormalities including metabolic disorders that are present at birth. This disorder can be caused by genetic or non-genetic factors. . The prevalence of birth defects in the UK is 2% and in South Africa it is 1.49%. In Lebanon the incidence rate of congenital anomalies is 2.4%.2 In Southeast Asia, the number of people with congenital abnormalities is quite high, reaching 5%. Meanwhile, in the case of asphyxia in Indonesia, the infant mortality rate is 27.4%. Objective: To observe midwifery care at NICU Room Method: The type of research used in this case study is descriptive research using primary and secondary data from anamnesis, physical examination, laboratory examination, and medical records. Results: Baby Mrs. N received intensive care in the NICU Room. Conclusion: The administration of the treatment was in accordance with the theory and procedure
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan Home Care Terhadap Motivasi dan Kepatuhan Ibu Melakukan Senam Hamil
Latar Belakang: Upaya pengurangan dan penurunan angka kematian dan kesakitan ibu di Indonesia dapat dilakukan dengan meningkatkan kesehatan ibu selama hamil yaitu salah satunya melalui program senam hamil. Gerakkan dalam latihan senam, yang dilakukan secara rutin dan teratur terbukti dapat menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan serta mendukung kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. Home care merupakan salah satu model pemberian pelayanan kesehatan yang cepat dan terjangkau dalam konteks asuhan kebidanan. Tujuan Penelitian: Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dalam pelayanan home care terhadap motivasi dan kepatuhan ibu hamil tentang senam hamil. Metode Penelitian: Penelitian Quasi eksperimen dengan rancangan Nonequivalent Control Group Design. Penelitian dilaksanakan bulan Mei sampai Juni 2021. Sampel ibu hamil trimester II dan III di wilayah kerja Puskesmas Ubung sejumlah 30 ibu hamil. Pengukuran menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, selanjutnya data motivasi dan kepatuhan dianalisa dengan menggunakan uji wilxocon test dan Mann-Whitney Test Hasil Penelitian: Terdapat peningkatan skor motivasi dan kepatuhan sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan pada kedua kelompok. Rerata selisih skor motivasi pada kelompok intervensi 12,26 (SD± 7,22) sementara pada kelompok kontrol 6,40 (SD± 3,13) dengan nilai p value 0,019 dan untuk skor kepatuhan rerata selisih pada kelompok intervensi 5,26 (SD±1,62) pada kelompok kontrol 3,33 (SD±2,02), dengan nilai p value 0,003, artinya ada pengaruh pendidikan kesehatan melalui pelayanan Home Care terhadap motivasi dan kepatuhan ibu melakukan senam hamil. Kesimpulan: Pemberian pendidikan kesehatan tentang senam hamil dapat diberikan saat pelayanan homecare atau saat kunjungan rumah
Background: One of the health care interventions carried out to reduce or reduce morbidity and mortality of pregnant women in Indonesia is physical exercise such as pregnancy exercise. Pregnancy exercise at this time is one of the self-help solutions that support the process of pregnancy, and birth, and is a way that supports ease of delivery because pregnancy exercise that is carried out regularly and intensively can maintain optimal health of the body and fetus. Research Objectives: To determine the effect of health education in home care services on the motivation and compliance of pregnant women about pregnancy exercise. Research Methods: Quasi-experimental research with Nonequivalent Control Group Design. The study was conducted from May to June 2021. The sample of pregnant women in the second and third trimesters who were in the working area of the UPTD Puskesmas Ubung was 30 pregnant women. Measurements used pre-test and post-test questionnaires, then motivation and compliance data were analyzed using the Wilxocon test and Mann-Whitney Test. Results: There was an increase in motivation and compliance scores before and after being given health education in both groups. The mean difference in motivation scores in the intervention group was 12.26 (SD ± 7.22) while in the control group 6.40 (SD ± 3.13) with a p value of 0.019 and for the mean adherence score the difference in the intervention group was 5.26 (SD ±1.62) in the control group 3.33 (SD±2.02), with a p value of 0.003, meaning that there is an effect of health education through Home Care services on the motivation and compliance of mothers doing pregnancy exercise. Conclusion: The provision of health education about pregnancy exercise can be given during home care services or during home visit
Pengaruh Aroma Terapi Mawar Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Bersalin Kala I
Latar Belakang: Kecemasan bersalin merupakan penyebab kematian Ibu dan Bayi. Kecemasan bersalin dapat dikurangi dengan beberapa terapi penurunan kecemasan yaitu terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu solusi penurunan kecemasan masa bersalin adalah aroma terapi mawar.Tujuan: untuk mengetahui pengruh aromaterapi mawar terhadap tingkat kecemasan pada ibu persalinan kala I. Metode: . Penelitian ini menggunakan pendekatan rancangan non equivalent control group yang menggunakan kelompok perlakuan dan kelompok control sebanyak 30 orang ibu bersalin, tehnik pengambilan data random sampling waktu penelitian April-Mei 2021 dan analisis untuk komparatif menarik berpasangan dua kelompok adalah Uji T berpasangan. Hasil: Adanya pengaruh aroma terapi mawar terhadap kecemasan ibu bersalin Kala I sebelum dan sesudah terapi aroma mawar P value (0.000) < α (0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh aroma terapi mawar terhadap kecemasan ibu bersalin Kala I.
Background: Maternity anxiety is a cause of maternal and infant mortality. Maternity anxiety can be reduced by several anxiety-reducing therapies, namely pharmacological and non-pharmacological therapies. One solution to reduce anxiety during childbirth is aromatherapy roses. Objective: To determine the effect of aromatherapy roses on anxiety levels in the first stage of labor. Method:This study uses a non-equivalent control group design approach that uses a treatment group and a control group of 30 maternity mothers, the technique of data collection is random sampling during the April-May 2021 study and the analysis for comparatively interesting pairs of two groups is the paired T-test. Result: The effect of rose aroma therapy on maternal anxiety in the first stage before and after rose aroma therapy P value (0.000) < (0.05). Conclusion: There is an effect of rose aroma therapy on the anxiety of maternity mothers in fisrt stage.
 
Faktor Yang Berkorelasi Dengan Kejadian Drop Out Pada Pengobatan Tuberculosis Paru
Latar Belakang: Pasien yang berhasil berobat dalam pengobatan tuberculosis di Papua hanya 60%, selebihnya dinyatakan gagal dalam pengobatan. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berkorelasi dengan kejadian drop out tuberkulosis paru antara lain dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, kesulitan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan dan faktor obat anti tuberkulosis (OAT). Metode penelitian: menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan studi kasus kontrol, dimana sampel terdiri dari kasus yaitu pasien yang dinyatakan gagal mengikuti pengobatan, sedangkan kontrol adalah pasien yang sudah sembuh dari pengobatan. Jumlah masing-masing sampel adalah 41 orang sehingga n = 82 orang. Untuk mengetahui faktor penyebab putus pengobatan dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji spearman, mengingat data yang disajikan tidak berdistribusi normal setelah melalui uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov smirnov.
Hasil : Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil dukungan keluarga sebesar 0,000, dukungan tenaga kesehatan sebesar 0,003, kesulitan berobat ke fasilitas kesehatan sebesar 0,002 dan faktor obat sebesar 0,06, dimana P = < 0,05.
Kesimpulan: Faktor yang berkolerasi dengan kejadian drop out pengobatan tuberkulosis di kabupaten Nabire adalah dukungan keluarga, sulitnya mengakses fasilitas kesehatan sedangkan faktor obat bukan penyebab putus pengobatan, karena tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor obat dan kejadian putus pengobatan tuberkulosis
Background: Only 60% of patients who are successful in the treatment of tuberculosis in Papua, the rest are declared to have failed in treatment Purposes: This study aims to determine the factors associated with the incidence of drop out of pulmonary tuberculosis treatment, including family support, support from health workers, difficulty in accessing health care facilities and factors of anti-tuberculosis drugs (OAT).Methods: using a cross-sectional study with a case-control study approach, where the sample consisted of cases, namely patients who were declared to have failed to follow treatment, while controls were patients who had recovered from treatment. The number of each sample is 41 people so that n = 82 people. To find out the factors that cause drop out of treatment, statistical tests were carried out using the spearman's test, considering that the data presented were not normally distributed after going through the One-Sample-Kolmogorov-Smirnov-Test test.Result: based on the statistical test, the results of family support were 0.000, the support of health workers was 0.003, the difficulty of going to health facilities was 0.002 and the drug factor was 0.06, where P = <0.05.Conclusion: the Factors related to the incidence of tuberculosis treatment drop out in Nabire district are family support, difficulty in accessing health facilities while the drug factor is not the cause of the drop out of treatment, because there is no significant relationship between the drug factor and the incidence of drop out of tuberculosis treatmen
Penghisapan Sekresi Endotrakheal Pada Pasien Dengan Ventilator Mekanik (VM)
Latar belakang: Dampak dari terjadi pemasangan Ventilator Mekanik(VM) begitu komplek, salah satunya adalah kemampuan pasien mengeluarkan sekret ke percabangan trakeo bronkhia lsangat terbatas, sehingga perlu sekali menolong pasien agar jalan napasnya tetap bersih, agar proses pertukaran oksigen dan karbondioksida lancar dan mencegah timbulnya pneumonia. Tindakan yang dilakukan yaitu penghisapan sekret endotrakeal dengan tehnik aseptik. Tujuan: Mengidentifikasi gambaran penghisapan sekresi endotrakeal pada pasien dengan ventilator mekanik di ruang ICU RSUP NTB. Dilakukan di Ruang ICU Rumah Sakit Umum Provinsi NTB. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif hanya melihat gambaran penghisapan sekresi endotrakheal pada pasien dengan ventilator mekanik, sampel dalam penelitian ini total populasi 16 orang, yang melakukan tindakan penghisapan sekresi endotrakheal pasien yang menggunakan ventilator mekanik di ruang ICU RSUP NTB. Hasil: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam penghisapan sekresi endotrakheal dalam katagori cukup yaitu sebanyak 9 orang (56%), sedangkan dalam kategori baik sebanyak 6 orang (38%) dan kurang sebanyak 1 orang (6%).
Background: The impact of installing a Mechanical Ventilator (VM) is so complex, one of which is that the patient's ability to expel secretions into the tracheobronchial tree is very limited, so it is very necessary to help patients keep their airways clean so that the process of exchanging oxygen and carbon dioxide runs smoothly and prevents the onset of pneumonia. The action taken was suctioning of endotracheal secretions with an aseptic technique Purpose: The purpose of this study was to identify the description of suctioning of endotracheal secretions in patients with mechanical ventilators in the ICU room of West Nusa Tenggara Hospital. Conducted in the ICU Room of the West Nusa Tenggara Provincial General Hospital. Methods: The research design used was descriptive in nature only looking at the description of suctioning of endotracheal secretions in patients with mechanical ventilators, the sample in this study was a total population of 16 people, who performed suctioning of endotracheal secretions in patients using mechanical ventilators in the operating room. Results: Based on the research, it can be concluded that the majority of respondents in suctioning endotracheal secretions were in the sufficient category, namely 9 people (56%), while in the good category, there were 6 people (38%) and fewer, 1 person (6%).
good early mobilization experienced normal uterine involution of 88% with a P-value of 0.001 ≤ alpha (0.05) meaning that there was a relationship between early mobilization and uterine involution in postpartum mothers.
Conclusion: Based on the research, it can be concluded that the majority of respondents in suctioning endotracheal secretions were in the sufficient categor