Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
Penulisan Naskah Dalam Pembuatan Film Pendek “Elegi Melodi”
Penulisan naskah merupakan elemen penting dalam proses pembuatan film. Naskah film pendek “Elegi Melodi” yang bergenre komedi pahit dan memiliki alur campuran ini memerlukan struktur yang mendalam agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis naskah film pendek “Elegi Melodi”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan teori struktur tiga babak Aristoteles dalam penulisan naskah film pendek “Elegi Melodi”. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktur tiga babak yang terdiri dari Babak I, Babak II, dan Babak III. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik studi dokumenter untuk mengumpulkan final draft naskah film pendek “Elegi Melodi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan struktur tiga babak pada naskah “Elegi Melodi” memberikan panduan yang jelas dalam membantu menyusun alur cerita. Pada babak I digunakan untuk pengenalan tokoh, babak II berhasil memunculkan konflik, dan babak III menyajikan penyelesaian yang memberikan dampak emosional pada penonton
Reading Between The Shadows: Barthes' Semiotic Analysis of 'The Monstrumologist' Cover Design
The book cover design plays a crucial role in attracting readers' attention and conveying the essence of the story within. This article analyzes the cover of "The Monstrumologist" by Rick Yancey, designed by Olvyanda Ariesta, using Roland Barthes' semiotic approach. The analysis explores three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. At the denotation level, visual elements such as a dark road, large shadow, red blood, and a big clock are identified and described. At the connotation level, these elements reveal deeper meanings related to themes of horror, threat, and the tension of time. At the myth level, the combination of these visual elements reflects profound cultural and social values about the struggle between good and evil, as well as human fear of the unknown. Furthermore, this article discusses the influence and experimentation of the designer in achieving an engaging and meaningful final design. Through a qualitative approach with an emphasis on literature studies, this article presents a comprehensive analysis of how the visual elements on the cover of "The Monstrumologist" not only attract attention but also convey deep themes within the story. The results of the analysis show that this cover design successfully creates a rich visual narrative and enhances readers' experience of this horror novel
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN COMPUTATIONAL THINKING DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI SCRATCH DI PONDOK PESANTREN AL ASROR KOTA SEMARANG
Tujuan pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah untuk memperkenalkan santri dalam memahami dan mengajarkan metode pembelajaran dengan metode berfikir secara komputasi dengan menggunakan aplikasi scracth di Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang.Metode yang digunakan dalam kegiatan Pengabdian kepada masyarakat ini adalah PAR (Participatory Action Research). Pada kegiatan ini menggunakan PAR tipe tematik, yakni pengenalan suatu metode pembelajaran secara komputasi berbasis Pondok Pesantren. Populasi dalam kegiatan ini adalah santri Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik quota random sampling sehingga didapatkan sebanyak 150 sampel. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi.Hasil dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: 1). Bahwa sebanyak 41% dari total 150 responden (62 Orang) menjawab perlu adanya penerapan metode computational thinking dalam Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang. 2). Bahwa sebanyak 56 % (84 orang) menjawab sangat penting dalam penguassan CT. 3). Bahwa sebanyak 62 % (93 orang) menjawab sangat penting CT diajarkan kepada peserta didik sejak dini. 4). bahwa sebanyak 39% (59 orang) menjawab sangat penting penerapan CT ke kurikulum pendidikan pendidikan di Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang penting dilakukan. 5). bahwa sebanyak 98% (147 orang) menjawab perlu Pelatihan CT Lebih Lanjut, dan 6). bahwa sebanyak 97 % (146 orang) menjawab puas Dalam Mempelajari CT
Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMAN 11 Muaro Jambi Melalui Pelatihan Akting Teater Modern
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMAN 11 Muaro Jambi melalui pelatihan akting teater modern. Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui dua tahapan, yaitu pelatihan akting dan presentasi akting. Akting teater modern yang dipilih dalam kegiatan pelatihan ini adalah akting teater realis yang berlandaskan kepada metode akting Stanislavski. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah metode praktik dan kolaborasi. Peserta kegiatan adalah anggota dari ekstrakulikuler teater di SMAN 11 Muaro Jambi. Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebanyak dua kali seminggu dalam tiga bulan. Hasil dari pengabdian ini adalah siswa SMAN 11 Muaro Jambi menjadi lebih percaya diri ketika berhadapan dengan publik
SKENARIO FILM FIKSI KASIH LILY MENGGUNAKAN METODE EIGHT SEQUENCES UNTUK MEMBENTUK KARAKTER
Skenario Kasih Lily merupakan drama keluarga yang mengangkat tentang kisah percintaan yang dihalangi oleh keinginan orang tua. Perihal keluarga, apalagi sudah urusan perjodohan, selalu menjadi kisah yang menarik. Ada yang terhalang oleh adat, ada yang terhalang oleh agama, dan untuk Kasih Lily mereka terhalang oleh keinginan orang tua. Ide ini tercipta dari pengalaman, pengamatan dan imajinasi yang diproses menjadi sebuah karya melalui tahapan, menentukan ide cerita, tema, intisari, latar belakang, sinopsis dan treatment. Skenario Kasih Lily menggunakan salah satu metode penciptaan skenario film yaitu metode Eight Sequences. Tujuan dari tulisan ini yaitu mampu menciptakan skenario film fiksi menggunakan metode Eight Sequences untuk membentuk karakter. Metode Eight Sequences ini adalah metode pengembangan dari struktur tiga babak yaitu memiliki awal, tengah dan akhir, lalu babak 1 dikembangkan menjadi sequence 1 dan 2, Babak 2 menjadi sequence 3, 4, 5, dan 6 lalu babak 3 menjadi sequence 7 dan 8. Perubahan karakter Lily dalam 8 sequence ini dikemas menggunakan unsur dramatik yaitu Conflict, Suspense, Coriusity dan Suprise. Hasil dari proses Eight Sequences ini membentuk karakter Lily mulai dari munculnya conflict atau plot point I pada sequence 2, lalu berkembang pada conflict atau plot poin II pada sequence 6, dan mendapatkan penyelesaian di sequence 8. Dengan demikian, metode Eight Sequences menjadi salah satu metode yang walaupun sederhana namun efektif untuk digunakan dalam membangun sebuah skenario yang rapi dan mudah dipahami
Innovation in the Use of Cocoa Peel Waste as a Natural Textile Dye
In the current era, the fashion industry is very developed, high market demand has resulted in mass production of clothing. To prevent the occurrence of fast fashion, world fashion players have now implemented a sustainability system which is done by producing clothes from fabrics made from natural fabric, minimal patterns, and using natural textile dyes. In Indonesia, people now know more about sustainable fashion, one of which is the application of natural textile dyes to fashion products. With abundant natural resources, especially plant species, it can be utilized and has the potential to be developed. One of them is cocoa, cocoa plantations in Indonesia are very developed, especially in Jembrana Regency, Bali, which is the largest cocoa producer in Bali. Cocoa shells are waste that has not been utilized much, in this paper we will present a new innovation in the form of textile dyes from cocoa shell waste, which is expected to help reduce chemical dye pollution in the environment and develop local regional potential in terms of the welfare of local farmers
Representasi Visual Perempuan dalam Ilustrasi Ipe Ma’aruf pada Buku Fiksi Inpres (1974–1984)
Buku fiksi keluaran Instruksi Presiden (INPRES) menjadi momentum penting dalam perkembangan perbukuan di Indonesia dan secara tidak langsung membutuhkan banyak ilustrator untuk mengilustrasikan buku-buku tersebut, salah satunya adalah Ipe Ma'aruf. Ilustrasi yang dibuat merupakan hasil ingatannya terhadap suatu tempat, suasana, dan segala sesuatu yang ingin dihadirkan di atas selembar kertas. Bersamaan dengan berkemangnya perbukuan Indonesia, ada aspek lain yang ikut berubah pada era Orde Baru, yakni peran perempuan. Pada era tersebut, perempuan dikontrol posisinya dan didomestikasi perannya sebagai pendukung laki-laki. Kajian ini bertujuan untuk melihat bagaimana Ipe Ma'aruf menggambarkan tokoh perempuan dalam ilustrasinya pada buku-buku fiksi INPRES tahun 1974-1984 serta untuk mengetahui bagaimana penggambaran tokoh perempuan tersebut mencerminkan konstruksi sosial dan budaya terkait kedudukan perempuan pada masa Orde Baru. Dengan menggunakan analisis konten, penelitian kualitatif ini mengkaji representasi visual dalam 11 buku anak yang diterbitkan dengan Instruksi Presiden pada periode 1974-1984. Analisis menunjukkan bahwa ilustrasi yang dibuat Ipe sejalan dengan kebijakan sosial-politik pada era Orde Baru, di mana perempuan digambarkan sesuai dengan harapan pemerintah terhadap perempuan di era tersebut
Nilai Estetika Motif pada Rumah Gadang Bapaserek
Penelitian ini mengeksplorasi nilai estetika dan fungsional rumah gadang Bapaserek, arsitektur tradisional
Minangkabau yang kaya simbolisme. Secara estetika, rumah ini menampilkan ukiran dan motif tradisional seperti
Tanguak Lama, Lumuik Anyuik, Dan Paku Manunduak, Jarek Takambang, Saluak Laka, Manti Barunlang, Aka
Sangagang, Sikumbang Manih, Paku Marunduak, Tupai Managun yang mencerminkan filosofi adat dan harmoni
dengan alam. Secara fungsional, rumah gadang menjadi pusat kegiatan sosial dan adat, serta dirancang adaptif
terhadap iklim tropis dengan atap melengkung yang mendukung ventilasi dan pengaliran air. Selain itu, rumah ini juga
mencerminkan status sosial pemiliknya. Penelitian menyimpulkan bahwa rumah gadang Bapaserek memiliki nilai
estetika dan fungsional yang relevan dengan lingkungan dan budaya Minangkaba
Designing An Exhibition Booth For Gift Products From Local Smes In North Sumatra
Pengenalan produk lokal khas Sumatera Utara dilakukan sebagai upaya meningkatkan brand image setiap daerah untuk lebih diketahui oleh masyarakat setempat maupun wisatawan pendatang dari luar Provinsi. Senjata strategi pemasaran yang dilakukan adalah berupa mengikuti atau mengadakan pameran untuk setiap event kebudayaan dan nasional, karena sangat berpeluang mendatangkan pengunjung lebih banyak sehingga misi dan tujuan promosi yang diharapkan meningkat ketercapaiannya. Seiring perkembangan zaman, desain suatu booth pameran ikut andil berperan penting dalam menentukan indikator keberhasilan sebuah pameran sebagai daya tarik untuk dikunjungi berdasarkan dari rasa penasaran dan kekaguman pengunjung terhadap Booth pameran. Perancangan Exhibition Booth menerapkan konsep melalui tata pajang, tata letak, estetika, dan warna yang mewakili cerminan dari suku budaya Sumatera Utara serta suasana desain yang unik dan bernilai. Ukuran desain Booth mengikuti standar pameran untuk mengurangi space-consuming dan efektif dalam meletakkan produk. Material bahan utama pembuatan booth menggunakan Plywood dengan kualitas tidak mudah rusak, ringan dan mudah untuk dibentuk
Silek Lanyah: A Form of Tourism Performing Art in Padang Panjang City
This research endeavors to explore the appeal of Silek Lanyah as a form of tourist entertainment in Padang Panjang. Employing a qualitative approach, the study adopts descriptive analysis to elucidate field data and subsequently analyze it in line with the research objectives. Drawing upon the insights of scholars such as Koentjaraningrat on the concept of change, R.M Soedarsono's perspectives on the packaging of tourism art, and I Gusti Ngurah's views on tourist performances, this paper aims to provide a comprehensive understanding of the subject matter. The findings of this investigation underscore the allure of Silek Lanyah as a captivating tourist attraction, capable of enticing visitors to explore and appreciate the charm of Kubu Gadang Tourism Village, while simultaneously showcasing Silek Lanyah as a cherished traditional art form within the region. Through this study, it becomes evident that Silek Lanyah holds significant potential in enriching the cultural landscape of Padang Panjang and contributing to the tourism industry by offering a unique and authentic experience for travelers