Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
Relasi Dendang Padang Pulai Dengan Tari Piring Basiang Batanam pada Sanggar Beringin Jaya Nagari Kuncir Kabupaten Solok
Relasi dendang Padang Pulai dengan tari piring Basiang Batanam di Nagari Kuncir merupakan kolaborasi dua seni pertunjukan yang saling berkaitan serta memiliki relasi kuasa di dalamnya. Teks dendang dan gerakan tari piring ini terinspirasi dari aktivitas masyarakatnya yang sedang bertani serta keadaaan alam disekelilinya. Dalam pertunjukannya pendendang memiliki kuasa menentukan gerakan penari melalui ungkapan-ungkapan teks dendang yang dinyanyikan sambil diiringi instrumen saluang bansi dan rebana yang dimainkan. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap relasi dendang Padang Pulai dengan tari piring Basiang Batanam serta unsur-unsur musik di dalamnya. Penelitian ini berjenis kualitatif, menggunakan metode etnografi dengan pendekatan musikologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan seperti: Observasi, menetapkan informan, wawancara, membuat catatan etnografi, membuat pertanyaan deskriptif, menulis suatu etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjalinnya kolaborasi antara seni musik dendang Padang Pulai dengan seni tari piring Basiang Batanam di Nagari Kuncir, sehingga terlihat relasi yang saling mendukung diantara keduanya baik pada teks maupun unsur-unsur musik di dalamnya yang membuat kesenian tersebut unik dan menarik.Kata Kunci: Dendang Padang Pulai, Relasi, Tari piring Basiang Batanam, Unsur Musika
Bentuk Palaminan sebagai Interior Istano Basa Pagaruyuang
This research is entitled "The Shape of Palaminan as the Interior of Istano Basa Pagaruyung." Its
purpose is to describe the form of application and what elements, in terms of motifs and colors, are found
in the palaminan at Istano Basa Pagaruyung. This research uses a descriptive qualitative research
method. The object of this research is Palaminan in Istano Basa Pagaruyung. Informants in this study
were obtained using a purposive sampling method.
This palaminan research method was conducted through qualitative research to describe the palaminans
found in Istano Basa Pagaruyung. Data was collected through observation, interviews, documentation,
and recording of the interview results.
The results of Palaminan research in Istano Basa Paguruyung consist of nine elements in their
application, there are 5 motifs and colors that give the value of Minangkabau traditionalism, seen in
terms of aspects of color psychology. Palaminan color has a meaning that is compatible with the function
of space utilization that applies Palaminan to the building in Istano Basa Paguruyung.
Keywords: shape, palaminan, interior, Istana Basa Pagaruyuan
User Interface Matters : Analysing The Complexity Of Mobile Applications BCA Mobile From a Visual Perspective
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kepuasan pengguna dalam perspektif visual dari User Interface (UI) BCA Mobile Banking menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ). Metode penelitian yang digunakan adalah Sequential mixed method yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap layanan BCA Mobile Banking, namun terdapat kelemahan dalam aspek visual seperti tampilan yang terlihat kuno, ketidak konsistenan, dan tata letak yang tidak rapi. Perbedaan persepsi dan kesulitan dalam penggunaan menu transfer juga diidentifikasi. Kesimpulannya, penilaian UI Mobile Banking BCA belum mencakup aspek estetika, konsistensi, dan tata letak yang mencerminkan nilai-nilai desain grafis dan komunikasi visual. Kata Kunci: BCA, antarmuka, user experience questionnaire, Sequential mixed method , observas
Tambua Tansa Performance Form By Sanggar Shimpony Badantiang In Nagari Lubuk Basung, West Sumatera
Tambua Tansa is a Minangkabau tradition passed down from generation to generation in West Sumatra. One area that still pays attention to the existence of Tambua Tansa is Lubuk Basung, under Sanggar Shimpony Badantiang, founded by Marisha Isman in 2012. The focus of this research is on the form of Tambua Tansa performance developed by Sanggar Shimpony Badantiang, as well as the existence of this studio in Nagari Lubuk Basung. This research uses qualitative research methods, using a theoretical approach to performance forms and existence theory as supporting theories in examining the existence of Sanggar Shimpony Badantiang. The characteristics of the Tambua Tansa game use simple musical motifs which are then developed into songs. The songs that are often played in performances are divided into two songs, namely; Pangka Matam and Atam Panjang. The existence of Sanggar Shimpony Badantiang has been able to be maintained until now due to good organizational governance as well as creativity and innovation carried out by artists
Musicological Study Of Famözi Göndra in Si’ulu Death Ceremony in Bawömataluo Nias South, North Sumatera
This article is the result of research into the Si'ulu death ceremony in the village of Bawömataluo, South Nias, Sumatra, Indonesia which uses Nias customs using the traditional art of Famözi Göndra which has a melodic interweaving of percussion instruments. This traditional music research is a qualitative research with a descriptive analysis method to analyse the musical elements found in the community of Bawömataluo Village, South Nias. Data coded from various performances of Famözi Göndra, in the form of musical elements, were reduced, then presented descriptively. The elements of traditional Famözi Göndra music include instruments and performers. In addition to musical elements such as: Rhythm, Melody, Timbre, and Tempo can be enjoyed by the audience
Kontribusi Koreografer Dalam Kreativitas Penciptaan Tari Piring Bagi Perkembangan Seni Pertunjukan Di Minangkabau Sumatera Barat
Jurnal ini mengkaji tentang, kontribusi koreografer dalam kreativitas penciptaan tari piring bagi seni pertunjukan di Minangkabau Sumatera Barat. dimana tari piring merupakan salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. tari piring juga merupakan tari tradisi yang sekarang sudah menjadi Icon/identitas Minangkabau, Sumatera Barat. Keberadaan tari piring dapat dilihat karena munculnya inspirasi para koreografer dalam mengembangkan budaya kedalam bentuk garapan baru. kontribusi yang diberikan oleh para koreografer tentunya melalui kreativitas koreografer dalam memberikan ide dan imajinasi. Lahirnya karya seni unggulan tentunya dengan ide-ide baru yang merupakan hasil dari proses berfikir kreatif dan inovatif nya dalam mengembangkan tari piring.Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbentuk deskripsi analisis. Dimana pendekatakn ini menunjang keakuratan dalam mengumpulkan data. Tujuan penelitian ini untuk menjawab berbagai permasalahan tentang kontribusi koreografer dalam kreativitas penciptaan tari piring seni pertunjukan di Minangkabau Sumatera barat
THE POWER OF HERITAGE: INNOVATION OF KERANCANG EMBROIDERY IN KEBAYA FOR THE GLOBAL MARKET
Di era globalisasi, tantangan bagi industri fashion Indonesia adalah bagaimana menggabungkan kekayaan warisan budaya dengan tren kontemporer yang berkembang pesat di pasar global. Transformasi inovatif diperlukan untuk memastikan bahwa kerajinan tradisional seperti bordir kerancang tetap relevan dan menarik bagi konsumen modern di seluruh dunia. Dalam konteks ini, penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi potensi inovasi dalam pengembangan kebaya dengan memanfaatkan seni bordir kerancang. Memadukan teknik tradisional bordir kerancang dengan desain yang sesuai dengan selera global, sehingga dapat tercipta produk fashion kebaya yang memikat hati pasar global dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan keindahan warisan budaya Minangkabau. Penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi pada pengembangan produk fashion lokal oleh UMKM, tetapi juga dapat membuka peluang baru bagi ekspor produk fashion Minangkabau ke pasar internasional, sehingga meningkatkan citra dan daya saing industri fashion nasional secara keseluruhan
EKSPLORASI PERJUANGAN TJOET NJA’ DHIEN KE DALAM BATIK GEUMASEH DAN APLIKASINYA PADA READY TO WEAR DELUXE
The geumaseh batik motif is a narrative batik that tells the story of Tjoet Nja’ Dhien’s struggle against the dutch during the Aceh war (1880-1908). In Acehnese geumaseh means an expression of love which in this case refers to Tjoet Nja’ Dhien’s love for Aceh exspressed throught her fight against the dutch. The purpose of this creation is to enrich batik motifs and ready-to-wear deluxe designs that can be used as a medium for historical education without neglecting the function of the garment itself. Ready-to-wear deluxe is chosen as a medium of expression because this type of clothing has an exclusive and luxurious character, making it appropriate to represent the greatness of Tjoet Nja' Dhien's love for Aceh. The Geumaseh motif is constructed using the hand-drawn batik technique to suit the character of ready-to-wear deluxe, taking inspiration from the 9 phases of Tjoet Nja' Dhien's struggle. The methods used in the creative process are exploration, design, and realization. The physical results of this creation are 9 (nine) ready-to-wear deluxe looks, which will be presented at the National Indonesia Fashion Week 2024 event
Al Farabi's Philosophy on The Existence of Gambus Music In International Music Education
Penelitian ini menjelaskan pengaruh filosofis Al Farabi terhadap eksistensi musik gambus dalam pendidikan seni musik mancanegara. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep-konsep Al Farabi tentang musik dan bagaimana konsep-konsep tersebut mempengaruhi pengembangan musik gambus dalam konteks pendidikan seni musik internasional. Metode penelitian melibatkan analisis teks-teks filosofis Al Farabi, serta studi kasus tentang implementasi konsep-konsepnya dalam pengajaran dan praktik musik gambus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Al Farabi, khususnya mengenai harmoni, pengaruh musik pada jiwa, dan tujuan moral musik, memiliki dampak signifikan dalam perkembangan musik gambus. Penemuan ini mengindikasikan bahwa pemikiran Al Farabi masih relevan dan dapat diterapkan dalam konteks pendidikan seni musik mancanegara. Konsep-konsep filosofisnya mendorong pengalaman musik yang lebih dalam, spiritual, dan bermakna, dan dapat membantu musisi gambus serta pendidik seni musik mancanegara dalam mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih holistik dan berpusat pada nilai-nilai
Realisasi Konsep Trilogi Aristoteles dalam Penyutradaraan Lakon Pencuri Berbudi Luhur Karya Dario Fo
Proses penciptaan lakon Pencuri Berbudi Luhur karya Dario Fo, terjemahan Dian Ardiansyah, dilakukan dengan menggunakan konsep realisme, sebuah aliran seni yang berusaha mencapai ilusi atas penggambaran kenyataan. Konsep ini dikenal melalui trilogi Aristoteles yang disebut three unity (tiga kesatuan), yaitu kesatuan ruang, kesatuan waktu, dan kesatuan kejadian. Melalui pertunjukan realisme, seorang sutradara berupaya menghadirkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Lakon Pencuri Berbudi Luhur karya Dario Fo menyajikan tokoh-tokoh dan konflik yang umum ditemukan di tengah masyarakat. Ir o ni dalam cerita ini disampaikan melalui sindiran halus, sementara fakta dan realita dikemas secara rapi dengan mengusung genre komedi. Komedi dalam lakon ini berfungsi untuk menyingkap cacat dan kelemahan sifat manusia secara humoris, sehingga penonton dapat menghayati kenyataan kehidupan. Metode penciptaan yang digunakan dalam mewujudkan garapan panggung terdiri atas beberapa tahapan: (1) Tahap pencarian, (2) Tahap pengisian, (3) Tahap pengembangan, dan (4) Tahap pemantapan. Melalui lakon ini, Dario Fo ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang tampak baik belum tentu ‘bersih’ sepenuhnya