Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
Penyajian Kesenian Baleganjur Di Desa Adat Nusa Agung Kecamatan Belitang III
Kesenian Baleganjur merupakan salah satu bentuk musik tradisional Bali yang memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan masyarakat, baik yang bersifat keagamaan maupun nonkeagamaan. Ensambel ini terdiri atas instrumen perkusi dan melodi, seperti Kendang Lanang, Kendang Wadon, Reong, Cengceng, Kempur, Kempli, Ponggang, Kajar, dan Gong, yang bersama-sama membentuk karakter bunyi yang ritmis dan energik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara rinci proses kreatif penyajian Baleganjur oleh organisasi STT Widya Dharma Shanti. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap aktivitas musikal, wawancara dengan para pelaku seni, dan dokumentasi audiovisual. Keabsahan data diperkuat melalui teknik member check. Analisis data meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif Baleganjur melibatkan pengembangan ide musikal yang diarahkan untuk membangkitkan suasana semangat bagi masyarakat yang akan melaksanakan persembahyangan. Selain itu, konsep garapan disusun dalam dua karakter tempo, yaitu cepat dan lambat, dengan teknik permainan seluruh instrumen yang dominan dipukul. Penelitian ini juga menegaskan adanya proses pengembangan bentuk sebagai bagian dari penciptaan karya yang menjaga dinamika dan keberlanjutan tradisi Baleganjur
Rasisme Dalam Fotografi Konseptual
Penciptaan karya tulis ilmiah yang berjudul “Rasisme Dalam Fotografi Konseptual” ini bertujuan untuk memvisualkan bentuk serta dampak rasisme melalui media fotografi konseptual. Penciptaan karya ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce yang menganalisis tentang ikon, indeks, dan simbol guna mengungkap pesan yang mendalam dari karya fotografi. Metode penciptaan karya meliputi studi literatur, wawancara. Visualisasi karya diwujudkan melalui elemen-elemen yang memiliki makna yang mengacu kepada konsep rasisme seperti kopi hitam sebagai simbol kulit hitam, mie sebagai rambut keriting, resleting sebagai simbol penglihatan mata sipit, dan sebagainya. Penciptaan karya dilakukan melalui tahap persiapan,perancangan, perwujudan, penyajian dan pameran. Tugas akhir ini dirancang untuk menjadi sebuah karya seni yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga memberikan ruang refleksi kepada penikmatnya tentang dampak fisik dan psikologis yang timbul akibat rasisme. Dengan pendekatan ini, diharapkan karya ini dapat menjadi sarana yang membangkitkan kesadaran terhadap bentuk dampak rasisme supaya tidak memaklumi rasisme. Dalam fotografi konseptual berjumlah sebanyak 20 karya foto dan dicetak diatas media photo paper laminating doff.Kata kunci: Fotogarfi Konseptual, Rasisme, Semiotik
Tari Rangguk Sebagai Ide Penciptaan Pada Karya Kulit
Penciptaan karya “Tari Rangguk Sebagai Ide Penciptaan Pada Kriya Kulit” dilatarbelakangioleh ketertarikan pengkarya, terhadap tari rangguk yang ada di wilayah Kumun Debai. MasyarakatKumun Debai masih menjaga dan melestarikan tradisi ini sampai sekarang. Tari Rangguk adalahsalah satu kesenian tradisional yang bernuansakan Islam yang tumbuh dan berkembang di KumunDebai. Tari rangguk biasanya ditarikan oleh 7 sampai 15 orang remaja putri sebagai penari, 2 oranglaki-laki sebagai penabuh rebana dan 2 orang perempuan sebagai pelantun tale. Penciptaan karyaini menjadi salah satu media promosi bagi masyarakat luas, tidak hanya masyarakat pemilik tradisitersebut, namun juga masyarakat luas. Metode penciptaan karya yaitu melalui tahapan dan proseseksplorasi terhadap sumber ide, perancangan dengan menghasilkan sketsa dan desain, danperwujudan atau visualisasi menjadi karya. Secara umum penciptaan karya menggunakan landasanteori berupa bentuk, fungsi, estetis, dan dekoratif. Sementara perwujudan karya menggunakanmedia kulit samak nabati, dengan teknik tatah kempa dan pyrography
Cat Figures Using Assemblage Techniques as an Idea for Creating Two-Dimensional Artworks
The process of creating this artwork is closely connected to the artist’s personal experiences. An emotional attachment to cats serves as a significant source of inspiration in the creative process. The primary aim of this study is to describe the creative process involved in visualizing cat figures as an artistic idea through two-dimensional artworks employing an assemblage approach. This creation process adopts Alma M. Hawkins’ method as a reference for the stages of producing collage-based works, consisting of exploration, experimentation, and realization. The exploration stage involves direct data collection through observation and literature review. The subsequent stage, experimentation, includes developing drawing patterns and beginning to experiment with the assemblage forms and techniques employed. The final stage, realization, encompasses executing the work according to the established design until the finishing process is completed. The distinctive characteristics of cats inspire collage artworks that utilize assemblage techniques, mixed media, and materials such as clay, tissue paper, and magazine cuttings. These artworks depict the daily behaviors of cats on 50 × 60 cm canvases. The final output consists of three pieces that portray various behaviors, myths, and beliefs associated with cat figures, which can be interpreted in relation to human life
Breaking the Path to Contextual Music Education: A Pedagogical Biography of Dirwan Wakidi and His Contribution to the Development of the Discipline in West Sumatra
Individual biographies in the context of arts education play a crucial role in uncovering pedagogical practices, teaching philosophies, and contributions to the development of the discipline. This journal article presents an in-depth biographical study of Dirwan Wakidi, an influential music teacher in Indonesia, focusing on his unique contributions to music pedagogy and curriculum development. This study employs qualitative methods through an oral history approach, in-depth interviews with students, colleagues, and family, analysis of personal archives (teaching notes, musical compositions, learning programs), and participant observation within his teaching environment. The research findings reveal three key contributions of Dirwan Wakidi: (1) The development of a “Music for All” pedagogical model that integrates local wisdom values with contemporary music techniques, thereby enhancing the relevance and accessibility of music education; (2) His role as a catalyst in building a collaborative music education ecosystem at the regional level, which has impacted on enhancing the capacity of other music teachers; and (3) The formulation of a context-based music curriculum framework that emphasizes creativity, self-expression, and cultural appreciation, in addition to mastery of techniques. This study concludes that Dirwan Wakidi's biography not only captures a personal narrative but also reflects the broader dynamics of the history of music arts education in Indonesia, offering a model for contextual and sustainable teaching practices. The implications of this research provide a theoretical foundation for the development of inclusive music arts pedagogy and policy recommendations for arts teacher training oriented toward local strengths. This research fills a gap in the literature by documenting and analyzing the practice of an arts education practitioner whose work is significant but has not been academically documented in leading journals
Edukasi Sharing Session Mengenai Kesuksesan Akademis dan Sosial di SMA Sains Cahaya Al-Qur’an Kota Pekalongan
Peserta didik tingkat SMA seyogyanya sudah mampu menentukan karir yang akan dipersiapkan untuk masa depannya. Tujuan pelaksanaan sharing session yang dihadirkan sebagai wadah motivasi akademik dan sosial yang lebih mendalam mengenai melanjutkan keperguruan tinggi. Metode pengabdian menggunakan metode berbasis ceramah dalam bentuk sharing session. Sharing session ini berbagai metode interaktif, termasuk presentasi, diskusi, dan aktivitas refleksi. Selain itu, peserta didik dapat mengaplikasikannya dalam perjalanan pendidikannya, baik di SMA maupun untuk bekal nanti di perkuliahan. Sharing session ini diikuti peserta didik SMA Sains Cahaya Al-Qur’an Pekalongan. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan luring di Laboratorium Komputer, SMA Sains Cahaya Al-Qur’an. Sharing Session dapat menumbuhkan pengetahuan dan wawasan yang diharapkan dapat menjadi dorongan peserta didik untuk berprestasi dalam pendidikannya. Lokasi Pengabdian di Jalan Kyai Akrom Khasani Jenggot, Pekalongan Selatan. Kegiatan Sharing Session yang merupakan program tahunan di SMA Sains Cahaya Al-Quran Pekalongan sebagai upaya dalam meningkatkan motivasi dan semangat belajar peserta didik, khususnya Kelas XII sebagai informasi dan referensi untuk masuk perguruan tinggi
Pertunjukan solis gitar dengan repertoar Elogio de la Danza, Nurlela, dan It's A Beautiful Day
Pertunjukan musik dari berbagai zaman seperti klasik, modern, melayu dan popular dibalut kedalam sebuah pertunjukan solis gitar dengan menggunakan teknik pertunjukan musik yang mengandung kaidah konvensional. Pertunjukan ini terdiri dari beberapa repertoar dari zaman yang bebeda. Repertoar pertama berasal dari zaman modern yang berjudul Elogio de la danza dengan komposer Leo Brower yang diciptakan pada tahun 1964. Repertoar kedua yaitu Nurlela yang dipopulerkan oleh Bing Slamet. Repertoar ketiga berjudul It’s a beautiful day dengan komposer Tohpati yang diciptakan pada tahun 2013. Penyaji mengaplikasikan berbagai teknik seperti tirando, arpegio, harmonic, apoyando, slur, golpe, dan rasgueado untuk mewujudkan pertunjukan yang sempurna.Kata Kunci: Pertunjukan; Gitar Klasik; Soli
ANALISIS KOMPARATIF DESAIN KARAKTER PADA SERI ANIMASI PLUTO (2023) DAN KOMIK ASTRO BOY (1952)
Seri animasi Pluto (2023) adalah sebuah adaptasi dari komik ciptaan Naoki Urasawa dengan judul yang sama pada tahun 2003. Pluto menceritakan ulang satu bab dalam komik Astro Boy (1952) dari sudut pandang tokoh lain yakni Gesicht. Gaya visual, narasi, dan pensuasanaan berubah menjadi lebih bernuansa kelam seperti ciri khas karya-karya Urasawa. Meskipun resepsi dari berbagai ulasan cukup postif, tetapi tampaknya seri animasi Pluto ini kurang populer padahal membawa narasi Astro Boy yang terkenal. Dari beberapa temuan, hal ini disebabkan oleh citra visual karakter yang kurang dikenal oleh khalayak umum. Maka dilakukan analisis komparatif desain karakter dari beberapa tokoh utama pada kedua seri menggunakan Teori Tiga Dimensi Karakter oleh Egri Lajos. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara dimensi sosiologis dan psikologis karakter terdapat kesamaan fundamental dengan kompleksitas yang lebih tinggi. Sementara secara fisiologis terlihat ada beberapa upaya Urasawa untuk mempertahankan beberapa elemen visual dari yang aslinya. Namun gaya visual yang realistis membuat hilangnya exaggeration atau hiperbola dari desain Tezuka. Pergantian protagonis utama dari Atom yang lebih dikenal khalayak umum juga memengaruhi seberapa besar identitas Astro Boy yang terpapar pada layar. Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan untuk mengenali karakter-karakter yang ada. Dapat disimpulkan, seri Pluto memang merupakan adaptasi tematik yang ditujukan sebagai interpretasi alternatif untuk demografi yang lebih dewasa. Sesuai dengan narasinya yang bergenre misteri, tentunya eksekusi visual akan berbeda jauh. Pada akhirnya, kedua seri ini merupakan penghormatan terhadap satu cerita yang sama
Addressing Students' Musical Interests in Non-Art Schools Through Playing the Song Kejar Mimpi
The song Chasing Dreams is a popular song created and popularized by Maudy Ayunda. This song was rearranged for the needs of non-arts schools to address some students' interest in music. In particular, schools that implement an independent learning curriculum do not have music education. Even though the independent curriculum provides space for students to express themselves freely. To address the school's needs and students' interests, this song will be played by seven students of SMKN 2 Padangpanjang from class 12. The instrument formats used to accommodate the students' interests include Keyboard, Cajon, Guitar, Bass Guitar, and Vocals. The method used to train non-arts students is action research through: lectures, demonstrations, exercises, experiments, and evaluations. The results of this research show that students' interest in this non-arts school is being able to demonstrate their abilities well in front of an audience at the graduation ceremony for PL students at SMKN 2 Padang Panjang
Study on Hand Embroidery in Jopang Manganti, Mungka Subdistrict, Lima Puluh Kota Regency
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Sulaman Tangan Jopang Manganti Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota yang meliputi desain motif, pola hias, kombinasi warna dan teknik pembuatan sulaman tangan di Jopang Manganti. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Bentuk desain motif di Jopang Manganti yaitu bentuk naturalis terdiri dari motif bunga mawar, melati, tulip, kupu-kupu. Bentuk dekoratif yaitu suntiang ameh. 2) Pola hias yang digunakan pada sulaman tangan di Jopang Manganti adalah pola hias tabur, pola hias pinggiran, pola hias bebas dan pola hias mengisi bidang. 3) Kombinasi warna yang dipakai pada sulaman tangan di Jopang Manganti adalah kombinasi warna harmonis, kombinasi warna komplementer. 4) Teknik pembuatan yang digunakan pada sulaman tangan di Jopang Manganti adalah teknik manual dengan macam-macam tusuk pada bentuk desain motif sulaman