Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF MOTIF AND PHILOSOPHICAL MEANING OF KUANTAN SINGINGI BATIK
This inquire about analyzes the themes and philosophical meaning of Kuantan Singingi Batik, a social legacy starting from Kuantan Singingi Rule, Riau Territory, Indonesia. Kuantan Singingi Batik is known for its unmistakable and significant themes that reflect the social values and reasoning of the nearby community. This inquire about points to recognize different themes found in Kuantan Singingi Batik and uncover the philosophical meaning contained in that. The inquire about strategy utilized is graphic subjective with an ethnographic approach. Information was gotten through coordinate perception, in-depth interviews with neighborhood batik creators and social figures, as well as writing considers. Perceptions were carried out to watch the batik making prepare and archive the different themes utilized. In-depth interviews point to investigate a profound understanding of the philosophical meaning related with each theme. The inquire about comes about appear that Kuantan Singingi Batik includes a assortment of themes, each of which encompasses a profound philosophical meaning. A few themes that are frequently found incorporate flower, fauna and geometric themes. Botanical themes such as blossoms and clears out regularly symbolize ripeness, life and normal excellence. Faunal themes such as fowls and angle portray opportunity, mettle and nearby intelligence. In the interim, geometric themes reflect adjust, arrange and concordance between people and nature. The philosophical meaning contained in Kuantan Singingi Batik reflects the see of life of the Kuantan Singingi individuals who truly regard nature and the encompassing environment
Eksplorasi Material Limbah Kain dengan Menerapkan Prinsip Recycle untuk Desain Produk Ramah Lingkungan
Dalam beberapa dekade terakhir, isu lingkungan telah menjadi perhatian utama di berbagai sektor, termasuk industri desain dan manufaktur. Salah satu masalah lingkungan yang signifikan adalah peningkatan jumlah limbah tekstil, yang sebagian besar berasal dari industri fashion dan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kain menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah dan kualitas yang lebih tinggi melalui proses daur ulang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Material Driven Design (MDD), yang melibatkan empat tahapan utama: memahami karakteristik material, menciptakan visi pengalaman material, mewujudkan pola pengalaman material, dan merancang konsep produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pengolahan limbah kain dengan metode pencacahan (shredding) dan penggabungan dengan bahan perekat dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan memiliki nilai guna yang optimal. Hasil lain dari penelitian ini yaitu berhasil mengidentifikasi bahan perekat yang paling efektif dalam menggabungkan potongan-potongan kain hasil daur ulang, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan dan menjadi inspirasi bagi pengembangan produk-produk ramah lingkungan lainnya
BUSANA TRADISI BATOBO SEBAGAI INSPIRASI BUSANA ART OF BEAT STYLE
Tulisan yang berjudul “Busana Tradisi Batobo Sebagai Inspirasi Busana Art of Beat Style”, merupakan suatu bentuk penggarapan karya busana. Karya ini mengangkat tradisi batobo yang ada di daerah Kuansing, Teluk Kuantan, yaitu situasi bergotong royong dalam mengerjakan lahan pertanian secara bergantian antara anggota tobo. Orang yang pergi batobo memakai pakaian yang berlapis-lapis yang berfungsi untuk mengurangi rasa panas dan melindungi tubuh dari miang. Pemakaian busana batobo dilengkapi juga dengan caping sebagai pelindung kepala serta memakai sepatu bot. Keunikan dari busana tradisi batobo ini memberikan tantangan baru bagi pengkarya untuk menciptakan busana yang fashionable, dan bisa dipakai untuk berbagai kesempatan dengan style art of beat. Busana art of beat ini dikombinasikan dengan kain batik yang berasal dari Kuantan Singingi yang identik menggunakan warna-warna yang cerah dan mencolok sehingga menambah kesan art of beat pada busana. Penciptaan karya ini menggunakan metode eksplorasi, perancangan, perwujudan hingga penyajian karya. Proses penciptaan karya busana menggunakan teknik standar butik dengan menggunakan pelapis (furing), rapi serta apik sehingga menghasilkan busana dengan 3 tingkatan yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute coutur
Pemeranan Tokoh Pelayan I Dalam Naskah Ba-Bi & Ba-Bu Karya Jean Genet Menggunakan Metode Stanislavski
Servant I is a character in the Ba-Bi & Ba-Bu script by Jean Genet translated by Asrul Sani Adapted by Rachman Sabur which was the choice of the Final Exam for the interest in Acting by the author. This script is an absurdist script that can be seen from Martin Jullius Esslin in his book The Theatre Of The Absurd discussing Jean Genet. Jean Genet himself was one of the pioneers of absurd theater that greatly shook the world's thinking at that time. The Ba-Bi & Ba-Bu script is a representation of life between the master and his two servants. Servant one is an association of an unstable psyche that occurs due to pressure from the environment. The actor plays the role of the Grand Lady for substitutive satisfaction of her compulsive obsession with fate, but in the end she is suffocated in her own game. Servant I represents the prisoner's daydream, the fantasy of an outcast who makes a futile effort to teach the world about acceptance and ownership. The process of developing and identifying the character of this servant one uses the reference book "Becoming an Actor" by Suyatna Anirun with an effort to apply the Stanislavsky Method described
FUNGSI RATEB MENSA PADA MASYARAKAT DI DESA KUTA TEUNGOH KECAMATAN BEUTONG ATEUH BANGGALANG KABUPATEN NAGAN RAYA
Rateb Mensa adalah tradisi masyarakat Desa Kuta Teungoh di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang dilaksanakan rutin pada akhir bulan Ramadhan. Tradisi ini melibatkan bacaan pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan sanjungan kepada Hasan Husein, yang dibawakan bersama gerakan tubuh. Tujuan dari penelitian Untuk mengkaji fungsi Rateb Mensa pada masyarakat di Desa Kuta Teungoh Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggunakan teknik pengumpulan data seperti pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen. Metode ini dipilih karena kemudahannya dalam menyesuaikan dengan kenyataan jamak, menyajikan hubungan langsung antara peneliti dan responden, serta kepekaan terhadap nilai-nilai yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Rateb Mensa memiliki beberapa fungsi utama yang kuat dalam masyarakat, yaitu: pengungkapan emosional, hiburan, komunikasi, reaksi jasmani, penerapan norma-norma sosial, dan mempererat solidaritas sosial. Fungsi-fungsi ini memastikan tradisi tetap kokoh dan berperan penting dalam kehidupan masyarakat setempat.Tradisi Rateb Mensa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah dan perayaan akhir Ramadhan, tetapi juga mempererat solidaritas sosial, memperdalam spiritualitas, dan memberikan hiburan. Kehadiran dan keterlibatan masyarakat dalam tradisi ini meningkat, menjadikannya sarana penting untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyebarkan ajaran Islam. Pertunjukan Rateb Mensa juga mengajarkan generasi muda tentang zikir dan nilai- nilai keagamaan. Penelitian tentang Rateb Mensa masih terbatas, dengan kajian terakhir oleh Nusawari pada tahun 2015. Penelitian baru ini bertujuan menggali lebih dalam fungsi sosial, spiritual, dan rekreatif dari Rateb Mensa, diharapkan dapat melestarikan dan mempromosikan tradisi ini, membuka wawasan baru bagi masyarakat luar, serta memperkaya literatur ilmiah tentang budaya Aceh. Penelitian ini penting dalam memahami dan melestarikan kearifan lokal masyarakat Beutong Ateuh
Potensi Wisata Pantai Bahagia Nongsa Kota Batam Sebagai Obat Patah Hati Bagi Gen Z
Pantai Bahagia is located in Nongsa area, located at RT 001 RW 006, Sambau, Nongsa, Batam City, Riau Islands. This article discusses the tourism potential at Pantai Bahagia, Nongsa, Batam, using qualitative research methods. The objectives of this research are to explore the 3A components of tourism, analyze SWOT, identify the young people who visit, and understand the reasons for the large number of heartbroken people who choose Pantai Bahagia as their healing destination. The results show that Pantai Bahagia has a diversity of tourist attractions, adequate supporting facilities, and good accessibility. In addition, this article explains why Pantai Bahagia was chosen as a place to overcome heartbreak, by illustrating that the beach provides an opportunity for introspection, reflection, and the creation of new memories in an atmosphere that supports the healing process
Legaran Demokrasi: Kolaborasi Nyanyian Mentawai dan Legaran Randai Minangkabau dalam Perspektif Seni Pertunjukan
The composition “Legaran Demokrasi” is an artistic representation of the cultural dynamics of Minangkabau and Mentawai within the framework of interpreting the contemporary democratic system. Through a collaborative approach, this work explores the fusion of traditional Mentawai songs and the legaran randai of Minangkabau, arranged in a multi-part dramatic structure and accompanied by the use of non-conventional instruments such as sewing machines, vacuum cleaners, and sarongs. This work not only emphasizes innovation in the musical aspect but also affirms that art forms can serve as reflective media for social issues such as the marginalization of local cultures, the transformation of collective values, and the shifting of identities in the current of globalization. The creative process was carried out through stages of exploration, improvisation, and formation, culminating in a theatrical presentation with an interactive format and collective narrative. The symbolism of movement, sound, and bodily formations is interpreted as a visualization of the spirit of musyawarah (deliberation) and mufakat (consensus) that underlies democracy in the Minangkabau context. The results demonstrate that cross-cultural and cross-media approaches can open new spaces in the creation of contemporary performing arts while remaining rooted in tradition. This finding reinforces the idea that cultural preservation does not necessarily require the perpetuation of old forms but can be achieved through innovations that are sensitive to local values and open to the interpretations of the times
Makna Simbolik Pada Tari Piring: Kajian Semiotika Dalam Tari Tradisional Minangkabau
Tari Piring (Plate Dance) is one of the intangible cultural heritages of the Minangkabau people that holds strong aesthetic and symbolic values. As a form of traditional artistic expression, every element in Tari Piring—from movement, plate props, costumes, to accompanying music—contains cultural signs that can be analyzed through the semiotic approach of Charles Sanders Peirce, which includes three main elements: icon, index, and symbol. This study aims to uncover the symbolic meanings embedded in Tari Piring using a descriptive qualitative method, with data collected through performance observation, interviews with Minangkabau dance artists, and literature review. The results show that the circular plate movement, for example, is not merely a performance technique but represents the values of caution and diligence in the agrarian life of Minangkabau society. The sound of the plates touching the dancer’s fingers or body acts as an index of the collective rhythm of labor. Meanwhile, the brightly colored costumes with traditional motifs symbolize pride in cultural identity. This study concludes that Tari Piring is not just an aesthetic performance, but a medium of cultural communication that reflects the social, spiritual, and historical values of the Minangkabau community. Understanding these symbolic meanings allows for a more comprehensive and meaningful preservation of Tari Piring across generations
PERTUNJUKAN KESENIAN KUDA LUMPING DI SUNGAI DUO KECAMATAN PAUH DUO KABUPATEN SOLOK SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk membahas pertunjukan kesenian Kuda Lumping di Sungai Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mengacu pada pendapat Sugiyono, dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pelaku seni, tokoh masyarakat, dan penonton, serta observasi langsung terhadap pertunjukan yang berlangsung di lokasi. Hasil dari penelitian ini menjelaskan tentang asal-usul kesenian Kuda Lumping yang berkembang di daerah tersebut, keberadaan serta peranannya dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat, serta bagaimana kesenian ini tetap dilestarikan dari generasi ke generasi. Penelitian ini juga menguraikan secara rinci proses pertunjukan Kuda Lumping, yang meliputi unsur gerak tari yang ditampilkan para penari, jumlah penari dalam satu pertunjukan, jenis alat musik yang digunakan sebagai pengiring, kostum dan tata rias yang dikenakan, serta properti yang digunakan seperti kuda tiruan. Selain itu, dijelaskan pula pola lantai yang diterapkan dalam formasi tari, serta lokasi atau tempat pertunjukan yang biasa digunakan, baik dalam acara adat maupun hiburan masyarakat. Semua unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk keutuhan dan kekhasan pertunjukan Kuda Lumping di Sungai Duo
TRANSFORMASI IDENTITAS ANAK MELALUI PEMBELAJARAN SENI PERTUNJUKAN BERBASIS MASYARAKAT: PENGALAMAN ARTISTIK KOMUNITAS RUMAH KREATIF TAMBAK BAYAN DALAM MENCIPTAKAN ESETIKA SENI PERTUNJUKAN
Komunitas berfungsi sebagai lingkungan belajar non-formal yang signifikan. Komunitas Rumah Kreatif Tambak Bayan (RKTB) adalah inisiatif yang mengimplementasikan pendidikan seni pertunjukan berbasis masyarakat, menawarkan pengalaman belajar unik. RKTB membimbing anak-anak mengubah material non-artistik (misalnya serbuk kayu, barang bekas) menjadi karya artistik, menstimulasi imajinasi, inovasi, dan apresiasi estetika. Pendekatan ini tidak hanya mengembangkan kemampuan artistik, tetapi juga mendorong adaptasi lingkungan dan pemecahan masalah. Secara intrinsik, proses ini berkontribusi pada pembentukan identitas berbudaya anak, menumbuhkan penghargaan terhadap warisan lokal, pemahaman nilai estetika, dan ekspresi diri autentik.Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi identitas berbudaya anak melalui pembelajaran seni pertunjukan berbasis masyarakat di RKTB. Menggunakan pendekatan etnografi, yang didefinisikan oleh Gumperz (dalam Hammersley & Atkinson, 1983) sebagai kajian interaksi sosial mendetail dan oleh Lutz sebagai analisis holistik masyarakat, penelitian ini berfokus pada kontribusi pengalaman artistik unik terhadap pembentukan identitas berbudaya dan adaptif pada anak untuk menciptakan esetika seni