Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
ETNIS BALI MUKOMUKO DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER
Jurnal berjudul “Etnis Bali Mukomuko Dalam Fotografi Dokumenter” bertujuan untuk menghadirkan narasi visual secara deskriptif. Penelitian ini mendokumentasikan kehidupan masyarakat etnis Bali Mukomuko, Provinsi Bengkulu, melalui pendekatan fotografi dokumenter. Kedatangan etnis Bali sebagai kebijakan program transmigrasi pada tahun 1995. Etnis Bali di Mukomuko ini berhasil dalam mempertahankan agama, seni, arsitektur, tradisi dan kearifan lokalnya ditengah lingkungan yang multikulturasi. Tujuan dari penelitian fotogarfi dokumenter ini untuk menjadi sarana edukasi dalam memperkenalkan etnis Bali Mukomuko kepada khalayak luas dan menjadi bentuk pelestarian budaya. Penelitian karya ini meliputi aspek upacara keagamaan, aktifitas sehari-hari, seni, arsitektur hingga adaptasi budaya dalam penggunaan sesajen alternatif pada saat hari raya Galungan. Proses penelitian karya menggunakan metode EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, Time). Hasil dari penelitian karya fotografi ini tidak hanya dokumentasi visual, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya dan edukasi bagi masyarakat. Dalam hal ini, penulis menciptakan dalam sebuah visualisasi beserta deskripsi nya yang akan lebih mudah dalam menyampaikan cerita pada setiap karya
Analisis Karya Julien De Wilde Dalam Foto "The House Of The Holy" Dalam Semiotika Roland Barthes
“The House Of The Holy” merupakan salah satu karya fotografi Julien De Wilde yang dibuat pada tahun 2018. Pada foto “The House Of The Holy” ini Wilde menggunakan warna hitam putih, dimana Wilde menggabungkan fotografi jurnalistik dengan fine art photography. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan atau menganalisis tanda dan makna dari karya foto “The House Of The Holy” tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna dan tanda-tanda yang muncul pada karya “The House Of The Holy” yang terdiri dari 7 karya dari 20 karya foto serta mengungkap mitos dari kemiskinan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa karya foto “The House Of The Holy” menemukan temuan-temuan sebagai berikut : (1) Makna denotasi dan konotasi pada foto ini dapat memberikan pemahaman kepada siapa pun bahwa pentingnya rasa syukur dan kerja keras dalam menjalankan suatu kehidupan dengan kehidupan yang tergolong sulit. (2) Mitos yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah bentuk kehidupan dari sepasang suami istri yang bernama “Vien” dan “Nee” yang merupakan sebuah keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Di balik kehidupan mereka yang miskin, masih ada sebuah harapan bagi mereka untuk tetap menjalani kehidupanya
HOPE IN CONTEMPORARY PHOTOGRAPHY: THE PORTRAIT OF SELLERS OF GOODS AND SERVICES DURING A PANDEMIC
It has been more than 2 years since the covid-19 pandemic struck the world, affecting many aspects ranging from economics to education. As time went on, new habits began to be implemented in people's daily activities, or what is known as the New Normal, such as the obligation to wear masks and wash hands during activities. Departing from here, there is a feeling of longing that arises when communicating and interacting with the community. The mandatory use of masks during the New Normal era makes it difficult to guess the expressions or facial expressions of the other person. The media, which is rife with reports about the spread of covid-19, is also a factor that makes people wary of one another, which makes caring for others not like it used to be. In this case, the worker makes the seller of goods and services an object of work, which is the party that has been negatively affected by the covid-19 pandemic in the economic sector. Portrait photography is a representation of the similarity of human figures in a two-dimensional form. Portrait photography provides a personal indication of both the portrait owner and the portrait subject. Portrait photography is used as a media approach in the cultivation of works for sellers of goods and services in Bukittinggi. With the medium of portrait photography, it brings the artist closer and lets him know how life and problems are felt by sellers of goods and services in Bukittinggi, which are then presented in the form of contemporary photography works. Contemporary photography is part of art photography that is influenced by modernization and is not bound by conventional rules
The Effect of Adding Electrolytes (NaCl) in Tunjung Mordan on Ecoprint Results Using Jatropha curcas Linn Leaves with Pounding Technique on Chiffon Material
This research is motivated by the use of jatropha leaves to make motifs with the ecoprint technique. The purpose of this study is to describe the color name, color fastness and the effect of adding electrolyte to the tunjung mordan on the results of ecoprint by pounding technique on chiffon material. The type of research is experimental research with primary data types sourced from filling out a questionnaire of 18 panelists. Ecoprint of jatropha leaves without mordan produces the names of canary yellow on leaf sheets, pale golden on leaf bones, and reef green leaf bone branches. With mordan tunjung produces dark olive green on the leaf sheet, canary yellow on the leaf bone mother, and reef green on the leaf bone branch. The addition of electrolytes to the tunjung mordan produced the name of camouflage green on the leaf leaf, green smoke on the leaf bone, and reef green on the leaf bone branch. The color fading resistance to washing in chiffon material without mordan, in mordan tunjung, and the addition of electrolyte to mordan tunjung 1time and 2times Ho washing was declared accepted, meaning that there was no significant difference in the results of the K-Related Sample test on color fastness to washing. While 3times of washing Ho was rejected, it means that there is a significant difference in the results of the K-Related Sample test on color fastness to washing
Studi bentuk pertunjukan saluang pauah pada upacara perkawinan di Kecamatan Pauh Kota Padang
Saluang Pauah merupakan alat musik tradisional Minangkabau yang tumbuh dan berkembang di Kecamatan Pauh Kota Padang. Saluang pauah mempunyai enam lubang nada dan menghasilkan tujuh nada. Saluang pauah digunakan sebagai media hiburan dalam berbagai upacara adat seperti baralek, akikah, dan lain-lain. Pertunjukan saluang pauah biasanya dilakukan pada malam hari dalam berbagai upacara, pertunjukan saluang pauah hanya terdiri dari dua orang yaitu tukang saluang pauah dan tukang dendang. Dengan alat musik saluang pauah lagu-lagu yang dibawakan berupa (kaba) atau cerita pengalaman hidup masyarakat atau pemainnya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bentuk pertunjukan saluang pauah pada upacara pernikahan di Kota Padang. Data untuk penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan cara observasi, wawancara, studi literatur, dan mengumpulkan beberapa dokumentasi yang berkaitan dengan seni saluang pauah, untuk menghasilkan data deskriptif analitis berdasarkan teori dan pendapat konseptual dari para ahli. Teori yang digunakan terdiri dari aspek bentuk, struktur, organologi dan musikal. Artikel ini terdiri dari lima bab. Bab pertama berisi pendahuluan, bab kedua berisi tinjauan pustaka, bab ketiga berisi metode penelitian, bab keempat berisi pembahasan, dan bab kelima berisi saran penutup
Analisis Peran Bahasa Asing dalam Profesi Pemandu Wisata di Era Globalisasi
This study explores the significance of foreign language proficiency in enhancing the professionalism of tour guides in the era of globalization. Mastery of foreign languages—particularly English—is a fundamental skill required to establish effective communication with international tourists, improve service quality, and enhance the competitiveness of tourism destinations. This research adopts a qualitative descriptive approach through literature review based on relevant academic sources. The findings indicate that language proficiency not only facilitates interaction but also plays a vital role in shaping tourists’ positive perceptions of destinations and enriching their overall experience. Nevertheless, several challenges remain, including limited access to continuous training, regional disparities in human resource development, and insufficient intercultural communication skills. Consequently, structured and collaborative strategies are necessary—particularly those involving government, educational institutions, and tourism stakeholders—to develop foreign language competencies. Integrating cultural understanding and digital technology into training is recommended as a solution to the challenges posed by globalization in the tourism sector
"The Broken Wings" by Kahlil Gibran as an Inspiration in the Creation of Painting Artworks
The Broken Wings is a novel by Kahlil Gibran that portrays a tragic love story rich in symbolism and emotional depth. This literary work, which stimulates strong visual imagination, inspired the creation of a series of surrealist-style paintings. The central themes—unfulfilled love and irreversible loss—are reinterpreted visually through impasto techniques using oil paint on canvas. The creative process began with a deep reflection on the novel’s emotional layers, followed by textual and visual research to develop symbolic compositions. A series of sketches explored various compositional possibilities before final realization on canvas. Each painting expresses aspects of the novel’s narrative through metaphorical imagery, colour symbolism, and textured surfaces. The outcome consists of five paintings, each representing key moments or emotional states drawn from the novel. These artworks were exhibited as part of a curated presentation, demonstrating how literature can be transformed into a compelling visual language. This creation contributes to the discourse of interdisciplinary art by bridging literary and visual narratives, offering new insights into emotional storytelling through painting
Aesthetics of the Babuai Dance and the Transformation of Tradition at the Singo Barantai Traditional Arts Institute, Padang
Babuai dance is one of the traditional Minangkabau dances that developed at the Singo Barantai Padang Traditional Arts School. This dance is one of the unique traditional dances. Because the movements of this dance depict agility, softness, firmness and sharpness. In every movement is full of accents (movement jerks) besides that there is also acceleration and deceleration. This dance is used for body exercise for a silat athlete before they carry out silat training. The object of this research uses Dance as its formal object, "Babuai Dance" as its material object. This research uses a qualitative method with a descriptive analytical approach. This research was conducted at a silat school, namely the Singo Barantai Padang City Traditional Arts School, which is located in Lubuk Leetah, Kuranji District, Padang. Singo Barantai Traditional Arts College is one of the non-formal educational institutions engaged in the field of arts and culture, where the activities or materials taught at this College include traditional martial arts with the SilekPauh flow, randai, traditional dance, traditional Minangkabau music, and traditional pasambahan speeches. This journal examines the tradition of challenging change in the study of dance aesthetics. Babuai dance is viewed using aesthetic studies with the aim of revealing and exploring in depth everything related to the beauty of the Babuai Dance and changes in the development of the babuai dance at the Singo Barantai Traditional Arts College. In this study, the author was actively involved in the Singo Barantai Traditional Arts College, namely as a participant observer, which means that the author directly enters and is involved in the membership of the Singo Barantai Colleg
Perkembangan Garap Karawitan Ketoprak Laras Budoyo Wedarijaksa Kabupaten Pati
Ketoprak Laras Budoyo merupakan kelompok ketoprak di Pati yang mempertahankan bentuk pertunjukan tradisional dengan struktur sajian yang meliputi bonangan, uyon-uyon, pembuka, tari Gambyong, jejer keraton, gandrungan, perang, taman sari, dan dagelan. Musik menjadi elemen utama yang tidak hanya membangun suasana dramatik, tetapi juga mengatur alur dan menegaskan perubahan emosi dalam pementasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif menurut Saryono, dengan pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara terhadap para pemain, penggarap, dan pihak yang terlibat langsung dalam proses kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan garap musik pada ketoprak Laras Budoyo terbagi ke dalam dua periode, yaitu periode 2017–2019 yang masih mengacu pada pakem tradisional dan mempertahankan struktur musikal yang baku, serta periode 2019–2024 yang mulai menunjukkan inovasi. Pada periode kedua, perubahan paling terlihat pada garap pembuka dan budhalan yang mulai mengadopsi pola garap wayang sehingga memberi nuansa musikal yang lebih dinamis. Unsur pembentuk garap yang mencakup materi garap, penggarap, sarana garap, dan penentu garap menjadi faktor penting yang memengaruhi arah perkembangan tersebut. Temuan ini memperlihatkan bagaimana Laras Budoyo mampu menjaga identitas tradisional sambil menyesuaikan bentuk musikalnya dengan tuntutan pertunjukan kontemporer
Style Fashion era 60'an dalam Fotografi Fashion
Era 1960-an merupakan masa kebangkitan budaya muda yang sarat akan semangat kebebasan berekspresi, terutama melalui fashion. Gaya berpakaian pada periode ini mencerminkan perubahan sosial yang radikal dan terbagi ke dalam beberapa subgaya dominan, yaitu mod, bohemian, dan hippie. Gaya mod ditandai oleh mini dress, motif geometris, warna cerah, serta aksesori mencolok seperti anting besar dan go-go boots. Sementara itu, gaya bohemian menampilkan nuansa kasual dengan sentuhan etnik dan floral, sedangkan gaya hippie menonjolkan pakaian longgar, warna-warna bumi, dan simbol perdamaian. Karya ini bertujuan merepresentasikan kembali style fashion era 60-an dalam bentuk fotografi fashion editorial yang dikembangkan secara visual dan konseptual. Proses penciptaan melibatkan studi pustaka, pemilihan wardrobe vintage, teknik pencahayaan menggunakan mix lighting, serta eksplorasi lokasi dengan nuansa retro untuk mendukung narasi visual. Sebanyak 20 karya foto diproduksi dan disajikan dalam format cetak 40x60 cm di atas photo papper laminating canvas, kemudian dipamerkan secara tematik sesuai dengan subgaya yang diangkat. Karya ini tidak hanya menjadi interpretasi gaya fashion masa lalu, tetapi juga kontribusi visual terhadap pelestarian budaya berpakaian serta inspirasi kreatif bagi dunia fotografi dan fashion saat ini