Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
    1530 research outputs found

    Difference Between Mordan Soda Ash and Tohor Lime on the Results of the Ivory Cacak Leaf (Sanchezia speciosa) on Wolfis Fabric Using the Pounding Technique

    Full text link
    This research is based on the use of ivory cacak leaves (Sanchezia speciosa) to provide motifs and colors using the ecoprint technique. The purpose of this study is to describe the color name and color fastness to washing, the result of ecoprint with a punch/pounding technique using ivory cacak leaves on wolfis material. The type of data in this study is primary data with data collection techniques using research instruments in the form of questionnaires. The color name using mordan soda ash produces the color name of mudy waters brown #AC915C on the tip of the leaf, the name of the color light brown #D7C370 on the leaf bone branch, the name of the color of wheat light brown #E2D4B3 on the mother of the leaf bone, the name of the color camougflage green #777850 on the flesh of the leaf, the name of the color of golden sundance #C1AF68 on the edge of the leaf, and the name of the color of clam shell pink #BDB693 at the base of the leaves. While the color name using the lime mordan produces the name of the golden sundance color #B69F5E on the tip of the leaf, the name of the pale golden color #F2E4AF on the leaf bone branch, the name of the color of wheat light Brown #D8D3B5 on the mother of the leaf bone, the name of the color camougflage green #72794D on the flesh of the leaf, the name of the color golden sundance #BCA76F on the edge of the leaf, and the name of the pale yellow color #E4DDBD at the base of the leaves. The color fading resistance to washing in wolfis materials using mordan soda ash and lime there was a significant difference in the 3rd wash

    ANALISIS SET DAN PROPERTI FILM PENYALIN CAHAYA KARYA SUTRADARA WREGAS BHANUTEJA DALAM MENDUKUNG DRAMATIK

    Full text link
    ABSTRACTThe film Copying Light directed by Wregas Bhanuteja is a thriller drama genre that lasts 120 minutes and 73 scenes, tells the story of a student who is framed by her own friends so that she threatens to have her scholarship revoked. The research entitled "Analysis of Sets and Properties of Light Copying Films by Wregas Bhanuteja in Supporting Dramatic", aims to describe about sets and properties that support dramatic. This study uses a qualitative method with a descriptive approach as an effort to describe the data obtained in the form of pictures and descriptive words.            Based on the analysis of the data used, it can be concluded that there are five scenes presenting sets and properties to build suspense, namely Scene 18, Scene 22, Scene 54. Scene 62, and Scene 62. Four scenes presenting sets and properties to build coiousity namely in Scene 25, Scene 27, Scene 33, Scene 51, then four times the scene that presents sets and properties to build conflict namely in Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene73. And there are six scenes that present sets and properties to build Surprise, namely Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, and Scene 88. Keywords: Set and Properti, Dramatic, Penyalin Cahaya ABSTRAKFilm Penyalin Cahaya disutradarai oleh Wregas Bhanuteja bergenre drama thriller yang berdurasi 120 menit dan 73 scene, menceritakan tentang seorang mahasiswi yang dijebak oleh temannya sendiri sehingga terancam beasiswanya dicabut. Penelitian dengan judul “Analisis Set Dan Properti Film Penyalin Cahaya Karya Wregas Bhanuteja Dalam Mendukung Dramatik”, bertujuan untuk mendeskripsikan tentang set dan properti yang mendukung dramatik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif sebagai upaya mendeskripsikan data yang diperoleh berupa gambar dan kata-kata yang deskriptif.Berdasarkan analisis data yang digunakan diperoleh kesimpulan bahwa bahwa terdapat lima kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun suspense yaitu pada Scene 18, Scene 22, Scene 54. Scene 62, dan Scene 62. Empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun coriousity yaitu pada Scene 25, Scene 27, Scene 33, Scene 51, lalu empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun konflik yaitu pada Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene73. Dan terdapat enam kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun Surprise yaitu pada Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, dan Scene 88. Kata Kunci: Set Dan Properti, Dramatik, Film Penyalin Cahaya 1.      PENDAHULUAN  Film tercipta dari hasil olah pikir yang dituangkan dalam bentuk naskah dan diproduksi oleh pembuat film. Sehingga tercipta sebuah  film yang terdiri dari antara gabungan audio dan visual, film juga dapat menyampaikan pesan dan hiburan tersendiri kepada penikmat film.  Jika membahas sebuah film, film secara umum  terbentuk atas dua unsur naratif dan sinematikPenelitian pada film ini, mengidentifikasi  tiap adegan yang mengandung unsur dramatik berdasarkan teori yang dipaparkan oleh Elizabeth Lutter dalam bukunya yang berjudul Kunci Menulis Skenario. Lutter mengelompokkan dramatik menjadi empat unsur yaitu, Suspense, Surprise, Coriousity dan  Konflik.  Selain itu penulis juga memaparkan set dan properti berdasarkan teori yang dipaparkan oleh Himawan Pratista dan boggs dalam bukunya Memahami film dan The art of watching film,Objek penelitian yaitu Penyalin Cahaya diproduksi oleh dua rumah produksi, Rekata Studio dan Kaninga Pictures Film ini dirilis pada tanggal 08 Oktober 2022. Film yang bergenre thriller drama ini berdurasi 120 menit di disutradarai oleh Wregaas Bhanuteja yang sekaligus sebagai penulis cerita.  Film Penyalin Cahaya menceritakan  seorang mahasiswa pintar yang bernama Suryani, ia merupakan mahasiswa jurusan informatika yang mendapatkan beasiswa dari kampusnya, ia juga mengikuti organisasi  kampus  yang bernama Teater Matahari. Ia merupakan anggota baru sebagai pembuat web Teater Matahari. Awal mula permasalahan dimulai dari kemenangan kelompok Teater tersebut, Sur yang menghadiri pesta  perayaan atas kemanangan Teater Matahari,  ia yang  mengikuti sebuah permainan yang harus terpaksa meminum alkohol sehingga membuat dirinya tidak sadarkan diriSur mencoba mencari tahu kebenaran pada pesta malam itu karena curiga sesuatu telah terjadi kepadanya. Ia yang dibantu oleh Amin yang diperankan oleh Chico Kurniawan merupakan sahabatnya dari kecil, amin yang berkerja sebagai fotokopi didekat kampusnya dan merasa kasihan terhadap Sur mencoba  membantu menyelesaikan masalanya2.      TINJAUAN PUSTAKAUntuk menghindari kesamaan dalam penelitian yang sudah ada sebelumnya, maka peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang sejenis dengan topik penelitian yang berbeda, antara lain. Asih Sayekti dengan judul Analisis Konsep Tata Artistik Program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta, 2015 Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Insititut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian  Asih mendeskripsikan bagaimana penerapan konsep tataartistik pada program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta. Asih mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif,  skripsi ini membahas proses perancangan dan perubahan pada  Properti pada program Pangkur Jenggleng TVRI Stasiun Yogyakarta disebabkan oleh putusnya sponsor sebagai properti utama,Properti menjadi identitas  program karena dapat memberikan ciri khas pada program. Skripsi tersebut menjadi acuan dalam penelitian yang akan dilakukan karena sama-sama meneliti tentang, Properti artistik, yang membedakanya dari segi objek penelitian, karena penulis lebih fokus meneliti properti untuk mendukung dramatik pada film Penyalin Cahaya, sedangkan Asih lebih meneliti program televisi .Dipa Utomo dalam skripsinya berjudul “Analisis Pengunaan Mise-En-Scene  Yang mendukung Realisme Pada Film Siti”. Dipa yang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Seni Rupa Dan Desain, Program Studi Televisi Dan Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pada Skripsi tersebut Dipa menganalisis bagaimana pengunaan Mise-en Scene  dalam sebuah film, Skripsi ini dapat menjadi acuan bagi penulis karena  Mise-en Scene  adalah bagian dari properti hal yang membedakan adalah penulis lebih fokus membahas properti sebagai pendukung DramatikSkripsi dari Reo Saputra mahasiswa ISI Surakarta yang berjudul “Visualisai Properti dalam film Aku Jatuh Cinta”  yang ditulis pada tahun 2018 penelitian ini membahas mengenai properti sebagi penunjuk waktu. Kesamaan dengan penelitian sama-sama membahas mengenai properti. yang membedakan dengan penulis mengunakan metode deskriptif sedangkan skripsi ini mengunakan metode deskriptif kualitatif.Wahyu Rianto dalam skripsinya berjudul fungsi Properti dalam mendukung karakter tokoh utama pada film, “Copy Of Mind “  Wahyu yang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Seni Rupa dan Desain, program studi Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Padang Panjang, persamaan penulis dengan skripsi lebih fokus menganalisis tentang properti, sebagai acuan bagi penulis.3.      METODEmengunakan pendekatan kualitatif Dalam penelitian kualitatif tidak mengunakan angka-angka namun lebih mengunakan  pada bentuk kata-kata, kalimat, pernyataan, foto sebagainya. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif  ini lebih mengandalkan manusia sebagai alat penelitian. Sebagai penunjuk sasaran penelitianya pada usaha mengunakan teori penelitianya.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primier dan data sekunder. Data primier pada penelitian ini Film Penyalin Cahaya dan data sekunder pada penelitian ini adalah buku buku yang berkaitan dengan set dan properti, juga buku yang berkaitan dengan dramatik. Beserta jurnal yang mengenai penelitian ini.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi, wawancara, dokumentasi dan studi Pustaka Teknik analisis data mencari, menganalisis, dan menarik kesimpulan pada penelitian ini yaitu berupa data yang sudah terklarifikasi, dilakukan analisi data dengan mengunakan teori setting dan properti dan dramatik. Aktivitas dalam analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan cara mengelompokkan data dan membandingkan data, menginterprestasikan data.4.      HASILSet Dan Properti Yang Mendukung Dramatik4.1  Set Dan Properti Yang Mendukung Dramatik suspens  menghadirkan set diruang sidang kampusnya Sur, ruang sidang tersebut diperjelas dengan menghadirkan beberapa meja dengan bentuk yang sama disusun membentuk leter U, dan menempatkan sebuah kursi dan meja kecil ditengah-tengah sebagai tempat duduk Sur, lalu terdapat lampu support di dinding bewarna tungsten sebagai pencahayaan utama di ruangan tersebut tanpa memperlihatkan adanya jendela, sehingga membuat set tersebut minim cahaya atau low light, ditambah dengan penggunaan warna gelap pada dinding, hal tersebut bertujuan untuk mendukung adegan sidang yang dialami oleh Sur, dengan menempatkan Sur di tengah-tengah diantara para dewan mahasiswa membuat Sur lebih tertekan, dan yang didapat Sur lebih tinggi, sehingga adegan sidang tersebut lebih natural dan lebih dramatismenghadirkam tumpukan kertas yang berada di atas meja, sebagai data dan bahan yang telah dikumpulkan sebelum persidangan dimulai dan menunjukkan bahwa permasalahan tersebut akan berpengaruh terhadap perkuliahan Sur, juga untuk meyakinkan penonton bahwa lokasi benar-benar berada diruang sidang. Laptop dan layar proyektor yang berwana putih dihadirkan sebagai key prop yang digunakan untuk menunjukan foto-foto Sur yang sedang mabuk, sehingga menampilkan ekspresi cemas dan takut dari Sur, Sur tidak menyangka persidangan tersebut akan membahas hal itu dan juga tidak mengira bahwa foto-foto resebut akan terekspos. Penggunaan properti tersebut menambah ketegangan bagi penonton karena membuat suasana jadi tegang.4.2  Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik Konflik adegan Sur yang baru saja tiba di rumah, namun ia disambut dengan raut wajah kecewa ibunya karena mendapatkan Surat dari kampus yang menyatakan bahwa dia tidak berprilaku baik sehingga beasiswanya  dicabut, ayah Sur yang mendengar percakapan antara Sur dan ibunya, langsung marah karena sebelumnya dia telah diperingati untuk tidak meminum alkohol, Sur mencoba membela diri, sehingga menimbulkan perdebatan anatara Sur dan ayahnya dan membuat ayahnya semakin emosi dan menjetik mulut Sur karena dianggap melawan, lantaran emosi, ayahnya kemudian menarik  Sur keluar bersama sebuah tas yang berisi pakain miliknyaSet yang dihadirkan disebuah ruangan yang menggunakan warna abu-abu tua agar terlihat lebih Suram, adanya meja, kursi, lemari es, buah, kotak-kotak kerupuk yang digantung didinding, dan etalase yang berisi sambal dan lauk, yang ditempatkan persis seperti warung warteg (warung tegal). Penggunaan properti tersebut untuk memperjelas status ekonomi karakter karena pekerjaan mereka adalah pedagang makanan menandakan bahwa mereka bukanlah orang kaya.Pintu rolling yang ditutup setengah padahal mereka lagi jualan sebagai petanda mereka belum buka karena sedang berdebat dan tidak ingin orang lain tau, hal tersebut menandakan konflik tersebut sangat sensitive untuk diketahui orang lain. Selain itu penggunaan asap untuk memperjelas cahaya terobosan dibuat agar konflik keluarga yang terjadi lebih dramatis.Properti yang digunakan untuk mendukung dramatik konflik pada Scene 23 adalah handphone sebagai key prop, karena Surat pemberitahuan dari kampus yang dikirim melalui handphone membuat Ibu dan ayah terkejut dan marah, sehingga mengakibatkan konflik diantara mereka yang membuat Sur diusir dari rumah. Adegan pengusiran yang dilakukan tersebut juga didukung dengan penggunaan tas yang berisikan baju dilempar keluar pintu, tas tersebut menjadi penanda bahwa Sur diusir dari rumah dan membuktikan bahwa konflik yang terjadi sangat berat dan berpengaruh besar terhadap cerita.Pada Scene 23 dramatik yang dihadirkan adalah konflik,  ayahnya sangat marah kepada Sur,  langsung mengusirnya dari rumah karena perbuatannya Sur dianggap telah merusak nama baik keluarga dan kehilangan beasiswa yang menunjukan kalau kelurga Sur bukan keluarga kaya, dan meletakkan harapan mereka terhadap Sur yang mendapat beasiswa pendidikan agar bisa sukses, tetapi dihancurkan oleh tindakan yang dilakukan oleh Sur, sehingga menjadi penambah motivasi konflik, dimana prilaku Sur yang mabuk menimbulkan pertingkian antara ia dan keluarganya.4.3   Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik curiosity   dari lantai 2 toko tersebut Sur mencoba meretas data pribadi anggota Teater Matahari yang berada dilantai 1 disaat mereka menghubungkan handphone-nya disalah satu komputer yang berada difotokopi tersebut, Sur pun dengan cepat dapat langsung menyalin data pribadi anggota Teater Matahari.Penerapan properti disett fotokopi sudah natural menggambarkan sebuah ruangan tempat fotokopi pada umumnya, key prop dalam Scene 33 adalah satu set komputer, satu unit handphone yang dipegang oleh salah satu anggota Teater Matahari, laptop pribadi milik Sur yang digunakan untuk mencuri data pribadi anggota Teater Matahari, dan satu unit speaker. Handphone, speaker dan laptop tersebut menjadi properti kunci karena adanya adegan pemindahan data non fisik yang hanya bisa dilakukan oleh dua perangkat elektronik tersebut. Sedangkan speaker digunakan Sur untuk mengkode Amin, di mana jika lagu dangdut diputarkan maka berarti Sur sedang menyalin data sehingga Amin harus mengulur waktu agar handphone anggota Teater Matahari tetapp terhubung ke komputer fotokopi Amin, lalu jika lagu rocks diputarkan maka berarti Sur sudah selesai menyalin data.Properti tersebut menjadi pendukung unSur dramatik coriousity karena menambah penasaran penonton terhadap adegan selanjutnya, apakah tindakan yang mereka lakukan akan berhasil dan akan sempat karena waktu yang singkat, dan apakah akan ada masalah ketika melakukan tindakan tersebut, karena berhubungan dengan alat electronic dan mengakses privasi oranglain secara illegal. Tindakan yang Sur lakukan dalam mencoba mengungkap siapa pelaku dibalik masalahnya dapat membuat penonton merasa terpancing untuk juga ingin mengetahui siapa pelakunya, apakah pelaku tersebut ada diantara orang-orang yang handphone nya diretas oleh Sur, apakah Sur akan mendapatkan petunjuk dari handphone tersebut atau apakah Sur akan ketahuan atas tindakan yang dilakukannya itu4.4   Sett Dan Properti Yang Mendukung Dramatik surpeise . 63 berada dilantai dua tempat fotokopi, terdapat beberapa lemari yang digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi Amin, penggunaan warna gelap pada Properti yang digunakan serta cahaya yang minim (mati lampu) menunjukan setting waktu pada malam hari, serta memberikan kesan intimidasi untuk karakter tokoh. Set pada scene 63 masih sama seperti yang penulis bahas pada scene 63, karena masih di ruangan yang sama dan adegan yang berkelanjutan, set ini adalah space kosong yang dimamfaatkan sebagai tempat tinggal dan tempat penyimpanan barang.Properti sebagai pendukung dramatik pada Scene 63 adalah laptop dan hardisk, Sur kaget setelah mengeatahui isi hardisk tersebut yang dibuka melalui laptop, Sur menemukan bahwa terdapat banyak foto-foto seksi perempuan anak kampusnya, termasuk dirinya yang disimpan oleh rama dan Amin, hal tersebut membuat Surprise (kejutan) baru antara Amin dan Sur yang sebelumnya adalah sahabat, Scene ini merupakan klimaks atas beberapa konflik yang dihadirkan pada film, Dita Gambiro juga menambahkan bahwa setiap adegan dibikin semisteri mungkin, sehinnga dapat dinikmati oleh penonton dengan pencapain konsep yang dinginkan (Wawancara, 2023) .Dramatik yang dibangun pada Scene 63 adalah Surprise ,  penonton dibuat kaget karena tidak menyangka Amin yang merupakan sahabat Sur mempunyai hubungan dekat dengan Rama yakni orang yang dicurigai Sur sebagai pelaku dibalik foto selfinya dan telah melakukan tindakan yang tidak disangka oleh Sur, rama dan Amin bekerja sama menyimpan foto-foto cewek seksi dari data yang mereka dapatkan secara ilegal, termasuk Sur, hal tersebut membuat penonton dan Sur kaget, Amin yang selalu membantu Sur, bahkan memberikan tempat tinggalnya kepada Sur untuk menetap setelah Sur di usir dari rumah, pada Scene ini Amin diketahui bekerjasama dengan rama, sehingga membuat jalan cerita semakin tidak midah ditebak.5.      SIMPULANFilm Penyalin Cahaya meruapakan film bergenre drama thriller yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja yang menceritakan tentang tentang perjuangan Suryani yang biasa dipanggil Sur merupakan seorang mahasiswi penerima beasiswa untuk kuliah. Sur yang tidak pernah  berpesta, terpaksa minum alkohol  hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Lalu Sur bergegas kekampus dan mendapatkan kabar bahwa beasiswanya dicabut pihak kampus. Hal ini bukan tanpa sebab karena foto Sur yang sedang mabuk telah tersebar ke penjuru kampus, Sur mencari bantuan dari teman masa kecilnya, yang bernama Amin yang bekerja dan tinggal di toko fotokopi dekat kampus. Di toko itu mereka mencoba menemukan kebenaran tentang foto pada malam  pesta tersebut dengan meretas ponsel para mahasiswaFilm Penyalin Cahaya memiliki beberapa Scene yang menghadirkan set dan properti yang digunakan untuk membangun dramatik didalam alur ceritanya, set dan properti tersebut diidentifikasi kemudian dianalisis apa saja yang membangun dramatik seperti suspense, Surprise, coriousity, dan konflik, menggunakan teori setting dan dramatik yang diutarakan oleh Elizabeth Lutters.Berdasarkan analisis data yang digunakan diperoleh hasil bahwa terdapat 4 kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun suspense yaitu pada Scene 18, Scene 22, Scene . Scene 62, dan Scene 62. Lima kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun coriousity yaitu pada Scene 25, Scene 27, Scene 33, 54 Scene 51, lalu empat kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun konflik yaitu pada Scene 23, Scene 43, Scene 62, Scene 94 Dan terdapat enam kali adegan yang menghadirkan set dan properti untuk membangun Surprise yaitu pada Scene 39, Scene 58, Scene 46, Scene 58, Scene 54, dan Scene 88.Penelitian mengenai set dan properti untuk membangun dramatik dalam film Penyalin Cahaya disimpulkan bahwa set dan properti mampu untuk membangun dramatik pada film Penyalin Cahaya, sehingga properti yang digunakan sangat berpengaruh terhadap alur dan cerita film6.      DAFTAR AJUAN Biran, Misbach Yusa. 2006. Teknik Menulis         Skenario Film Cerita. Jakarta:        Dunia Pustaka Jaya.Boggs, M Joseph.1992.The art of watching film, terjamahan Drs.Asrul Sani. Jakarta: Yayasan CitraJ. Moleong, Lexy. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandug: Remaja RosdakaryaLutters, Elizabeth. 2004. Kunci sukses menulis skenario. Jakarta : PT. Gramedia    Widiasarana IndonesiaMiles, and Michel Huberman 1992. Analis Data Kualitatif Buku Sumber Metode-Metode Baru; Jakarta: UIP Pratista, Himawan. 2018. Memahami Film           Edisi 2. Yogyakarta : Montase Press. Sugioyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitattif, Kualitatif dan R&D. Indonesia : Alfabeta.Sumarno, Marselli 1996. Dasar- Dasar Apreasiasi Film. Jakarta :Gramedia Widiasarana IndonesiaSkripsi. Syekti, asih. 2015 . “Analisis Konsep      Tata Artistik Program Pangkur    Jenggleng         TVRI Stasiun     Yogyakarta”,  Insititut Seni Indonesia   Yogyakarta. YogyakartaSkripsi. Rianto wahyu ,2019. Analisis Properti     Dalam Mendukung Karakter Tokoh          Utama Pada Film Copy Of Min.             Padang panjang : Institut Seni    Indonesia Padang Panjang,Skripsi Utomo, Dipo, 2018 .Analisiss Yang         mendukung Realisme Pada Film Siti.      yogyakarta : insititut seni indonesia             yogyakartaSkripsi. Saputra , Reo. 2018. Visualisasi             Properti Dalam Film Aku Jatuh Cinta       .yogyakarta: institut seni indonesia             yogyakartaSubranto, Darwanto.1994. Produksi Acara          Televisi. Yogyakarta: Duta Wancana      University Press            Skripsi Dicha, Nurlaily, 2019. Mise en     Scene Dalam Membangung Adegan                    Dramatik Pada Film Torture. Jember:            Universitas JemberINTERNET https://www.google.com/ =poster+film+penyalin+cahaya )(https://www.google.com/film+penyalin+cahaya )https://www.intipseleb.com/lokal/32625-2022Sumber:https://arsip.festivalfilm.id/name/gunnar-nimpuno/)://www.festivalfilm.id/arsip/name/dita-gambiro)NARASUMBERDita Gambiro Crew Film Penyalin Cahaya Sebagai ART DIRECTOR Film Penyalin Cahaya  

    ANALISIS SEMIOTIK PEMANFAATAN PRACTICAL EFFECT PADA NARASI VISUAL FILM “OPPENHEIMER” (2023)

    Full text link
    With the development of technology, the majority of widescreen movies are now produced utilizing computer assistance such as CGI. Even though biopics are based on true stories, many of them use computer-generated imagery (CGI) in their production. However, the increasing creativity of directors and the film industry, practical effects are still used to create more realistic scene atmosphere. Christopher Nolan is a famous director known for his distinctive use of practical effects in his films. The objective of this research is to analyse the correlation between the use of practical effects and their significance to the visual narrative in the film Oppenheimer (2023). This study involves observational research methods and is descriptive qualitative. The writer then selects visual representations of Oppenheimer's thought processes that utilize practical effect techniques. The author uses Ferdinand De Saussure's semiotic theory to identify the meanings of the practical effect shots used for visualization within Oppenheimer's mind in the film Oppenheimer (2023). The study's conclusion is that each scene's narrative in the film Oppenheimer (2023) holds significance that are related to the practical effects used to portray Oppenheimer's thought processes

    BEGENDANG BESERUNAI: INTEGRATION OF TRADITIONAL VALUES IN THE CREATION OF BENGKULU KARAWITAN MUSIC COMPOSITION

    Full text link
    The work “Begendang Beserunai” is a contemporary karawitan music composition inspired by the musical phenomenon of the gendang serunai, one of Bengkulu’s traditional arts that plays an important role in ceremonial processions and community entertainment. The gendang serunai, consisting of two long drums (melalu and ningkah) and a serunai as the melody carrier, is distinctive for its interlocking rhythmic patterns and melodic motifs in a scale close to a-b-c-d-e-f#-g-a’. This creation aims to preserve the essence of tradition while introducing innovation through techniques such as unison, canon, polyrhythmic, responsorial, polymetric, and accentuation, supported by additional instruments such as dol, kompang, kolintang, accordion, bass guitar, and cymbals. The method used is a mixed methods approach combining qualitative methods—through participatory observation, in-depth interviews, and recording analysis—and quantitative methods—through measuring tempo, dynamics, rhythmic pattern duration, and audience questionnaires. The results show that this work successfully integrates traditional musical idioms into a modern composition format while maintaining its identity. Questionnaire analysis (n = 50) shows that 84% of respondents perceived the traditional nuance as strong, while 78% rated the aesthetic appeal as high. This work contributes to cultural preservation through documentation, education, and artistic innovation relevant to the contemporary context. “Begendang Beserunai” serves as a model for developing tradition-based works applicable to other regional music forms, as well as an academic and artistic reference for artists, researchers, and art education institutions

    Adolesensi: Karya Tari Baru tentang Perubahan Sikap dan Emosional Anak Perempuan di Masa Pubertas

    Full text link
    Pubertas merupakan masa transisi penting yang dialami anak perempuan, ditandai dengan perubahan biologis, emosional, dan sosial yang signifikan. Perubahan ini sering menimbulkan ketidakstabilan emosional seperti mudah marah, bingung, malu, atau menjadi lebih centil dalam menarik perhatian. Karya tari Adolesensi lahir sebagai refleksi fenomena ini, mengeksplorasi bagaimana anak perempuan merespon perubahan sikap dan emosional selama masa pubertas. Penelitian penciptaan ini menggunakan metode Alma M. Hawkins yang meliputi pengumpulan data, observasi lapangan, eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya ini ditarikan oleh delapan penari perempuan diiringi musik techno live, menggunakan properti sepatu heels dan kursi panjang sebagai simbol transisi menuju kedewasaan. Struktur pertunjukan terbagi menjadi tiga bagian: keriangan centil masa awal pubertas, fase kebingungan emosional, hingga penerimaan diri yang stabil. Hasilnya menunjukkan bahwa gerak tari murni yang abstrak namun eksploratif dapat mengomunikasikan perubahan emosional remaja secara simbolik. Adolesensi bukan hanya sekadar karya estetis, tetapi juga sarana edukasi sosial tentang pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan pada masa pubertas anak perempua

    Dikie Mauluik Dalam Upacara Maulid Nabi Di Korong Bukit Bio-Bio Nagari Sikucua Padang Pariaman

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk penyajian dikie mauluik yang berlangsung di Korong Bukit Bio-bio, Nagari Sikucua Utara, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Dikie mauluik merupakan seni vokal tradisional bernuansa Islam, dilantunkan dengan irama bataranun, yang mengungkapkan rasa cinta dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini berfungsi sebagai media spiritual serta sebagai penguat identitas kolektif masyarakat. Penyajian dikie mauluik terdiri dari 12 bagian lagu yang diambil dari kitab Syarafal Anam, dan dinyanyikan secara bergantian oleh urang siak dalam posisi duduk melingkar. Pertunjukan ini dilaksanakan di surau, baik pada malam maupun siang hari, dengan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemuda, ibu rumah tangga, hingga niniak mamak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai religiusitas, kebersamaan, dan menjadi media spiritual bagi masyarakat Korong Bukit Bio- bio, Nagari Sikucua Utara, Kabupaten Padang Pariaman

    PEMBELAJARAN MEMBACA NOTASI ANGKA PADA LAGU WAJIB NASIONAL PADA SISWA KELAS XI DI SMK PELAYARAN MAKARYA PALEMBANG

    Full text link
    Pembelajaran Membaca Notasi Angka Pada Lagu Wajib Nasional Siswa Kelas Xi Di Smk Pelayaran Makarya Palembang, Penelitian ini mengkaji bagaimana pembelajaran membaca notasi angka pada lagu wajib nasional di kelas XI SMK Pelayaran Makarya Palembang. Upaya ini bertujuan meningkatkan minat siswa dalam mempelajari Lagu Wajib Nasional dan mencapai standar kompetensi yang diinginkan serta mengevaluasi efektivitas metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca notasi angka pada lagu tersebut. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini melibatkan 20 orang siswa siswi kelas XI, antaranya 16 orang laki-laki dan 4 orang perempuan sebagai subjek pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran membaca notasi angka pada lagu "Ibu Kita Kartini" dikategorikan efektif, dengan peningkatan kemampuan siswa yang signifikan. Penggunaan dan pemilihan metode dalam pembelajaran membaca notasi angka sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa di kelas XI SMK Pelayaran Makarya Palembang

    Pengaruh Mordan Tawas, Kapur Tohor dan Tunjung Terhadap Hasil Ecoprint Daun Bidara Laut (Ziziphus mauritiana L) pada Bahan Rayon Twill dengan Teknik Hammering

    Full text link
    This research is motivated by the development of ecoprint using natural materials so as to reduce the use of harmful synthetic substances. The purpose of this study is to describe the color name, clarity of the motif shape and color resistance to washing with soap produced from ecoprint of bidara laut leaves on rayon twill material with hammering technique using alum, calcium oxide and tunjung mordants. This research is an experimental research with the object of research rayon twill fabric given a motif of bidara laut leaves. The type of data in this study is primary data sourced from questionnaires. The data analysis technique uses the Friedman K-Related Sample test with SPSS version 30.0. The results of ecoprint without mordant, with alum, calcium oxide and tunjung mordant produce various colors. The results of the clarity of the motif shape without mordant is clear, alum mordant is clear, calcium oxide mordant is clear and tunjung mordant is quite clear. The results of color resistance to washing with soap without mordant changed, the alum changed slightly, the calcium oxide changed and the tunjung changed, the results of the Friedman K-Related Sample test from the clarity of the leaf motif shape were 0.001 <0.05. Meanwhile, the color fastness to washing with soap is 0.000 < 0.05. From these data, it can be concluded that there is a significant effect due to the use of alum, calcium oxide, and tunjung mordants on the clarity of the motif shape and color fastness to washing with soap produced from the ecoprin

    FOTOGRAFI DOKUMENTER SEBAGAI MEDIA PELESTARIAN KERAJINAN ALAT MUSIK TALEMPONG DI NAGARI SUNGAI PUA, KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT.

    Full text link
    Fotografi dokumenter dianggap sebagai akar dari fotografi. Fotografi dokumenter bercerita tentang hal-hal di sekililing kita, yang membuat kita berpikir tentang dunia dan kehidupan di dalamnya Pelestarian warisan budaya lokal menjadi tugas penting dalam menjaga identitas dan keberlanjutan sebuah Masyarakat. Pada intinya Fotografi dokumenter mengajarkan bagaimana cara melihat sesuatu lebih dalam, tidak hanya melihat realitas dari permukaan saja, selain itu hal ini juga dapat melatih seseorang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial yang sedang terjadi.  Salah satu bentuk kearifan lokal yang kaya akan Sejarah dan nilai-nilai budaya adalah kerajinan alat musik talempong di Nagari Sungai Pua, kabupaten Agam, Sumatera barat.

    Community Engagement: Optimalisasi Kualitas Tekstil Huyula Eco Craft Melalui Teknik Gesek Godhong Inovatif

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk tekstil UMKM Huyula Eco Craft melalui penerapan teknik gesek godhong dengan kombinasi pewarna sintetis serta pengunci warna waterglass dan garam kasar. Teknik gesek godhong dipilih karena mampu menciptakan motif unik dengan warna lebih cerah dibandingkan metode ecoprint tradisional. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui eksperimen dan wawancara. Eksperimen dilakukan secara mandiri dan bersama perajin untuk mengevaluasi dampak pewarna dan pengunci warna terhadap kualitas hasil tekstil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pewarna sintetis yang diracik khusus menghasilkan warna lebih cerah dan bervariasi. Waterglass sebagai pengunci warna memberikan hasil warna yang cerah, tetapi membuat tekstur kain sedikit kasar. Sebaliknya, penggunaan garam kasar menghasilkan warna yang lebih tahan lama dengan tekstur kain yang lebih halus. Teknik gesek godhong juga memberikan inovasi motif yang meningkatkan daya tarik estetika tekstil.Kesimpulannya, teknik gesek godhong dengan kombinasi pewarna sintetis dan pengunci warna garam kasar memberikan hasil terbaik dari segi warna, tekstur, dan estetika, serta berpotensi meningkatkan daya saing produk tekstil UMKM Huyula Eco Craft. Temuan ini direkomendasikan untuk diadopsi sebagai strategi inovasi produk tekstil oleh UMKM serupa

    1,195

    full texts

    1,530

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal Online ISI Padangpanjang
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇