Jurnal Budaya Etnika
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
SIMBOL DAN MAKNA TRADISI RITUAL ZIARAH KE PETILASAN GEGER HANJUANG DI KAMPUNG CIHANJUANG DESA MANDALASARI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Abstrak: Budaya spiritual yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Indonesia salah satunya adalah tradisi ziarah. Tradisi ziarah petilasan Geger Hanjuang, pada praktiknya memerlukan sesajian dalam prosesinya. Hal inilah yang membuat ritual ziarah petilasan geger Hanjuang sarat akan simbol dan makna. Sehingga dalam mengetahui simbol dan makna yang ada penulis menggunakan teori Interpretivisme simbolik Clifford Geertz unutuk mengkaji hasil data. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian. Observasi dilakukan di wilayah petilasan Geger Hanjuang Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari. Adapun proses pengumpulan data melalui wawancara ke beberapa informan penting seperti kuncen; sesepuh kampung; dan pelaku ziarah. hasil penelitian ini akan menjelasakan 1) Bentuk dan prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang; 2) Simbol dan makna yang terkandung dalam rangkaian prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang. Kata kunci: Ziarah, Petilasan, Sesajen. Abstract: One of the spiritual cultures that are still practiced by some Indonesians is the pilgrimage tradition. Geger Hanjuang\u27s pilgrimage tradition, in practice, requires offerings in the procession. This is what makes the pilgrimage ritual of the ‘Petilasan Geger Hanjuang’ full of symbols and meanings. So that in knowing the symbols and meanings that exist, the author uses the theory of symbolic interpretation of Clifford Geertz to examine the results of the data. This study also uses participant observation and interviews in collecting research data. Observations were made in the Petilasan Geger Hanjuang, Kampung Cihanjuang, Desa Mandalasar. The process of collecting data through interviews with several important informants such as kuncen; village elders; and pilgrims. the results of this study will explain 1) the form and procession of the pilgrimage at the Geger Hanjuang shrine; 2) The symbols and meanings contained in the series of pilgrimage processions at the Geger Hanjuang shrine. Keywords: Pilgrimage, Petilasan, Offering
EKSISTENSI KEBAYA MODERN DALAM IDENTITAS BUDAYA PEREMPUAN JAWA GEN Z DI ERA KONTEMPORER
Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa yang mengalami transformasi di era generasi Z dan era kontemporer saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei berupa kuisioner. Objek kajian dalam penelitian ini yaitu eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa. Subjek penelitiannya yaitu perempuan Jawa generasi Z. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pada era kontemporer saat ini, perkembangan budaya semakin pesat, sehingga melahirkan berbagai model kebaya baru yang lebih modern. Kebaya ini yang kemudian dijadikan sebagai inovasi yang sangat populer di kalangan generasi Z saat ini, khususnya pada perempuan Jawa. Mereka menjadikan kebaya modern sebagai alat untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas sebagai identitas perempuan di Jawa tanpa harus menghilangkan makna dan filosofi budaya yang sudah melekat di dalamnya. Kata kunci: Eksistensi, Kebaya, Gen Z, Kontemporer Abstract: This research aims to the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women who have undergone transformation in the era of generation Z and the current contemporary era. The method is a qualitative descriptive method with data collection techniques through a survey in the form of a questionnaire. The object of this research is the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women, and the subjects are Javanese women of generation Z. The results show that in the current contemporary era, cultural development is increasingly rapid, thus giving birth to various new, more modern kebaya models. This kebaya then became a very popular innovation among Generation Z today, especially among Javanese women. They use modern kebaya as a tool to freely express themselves as a Javanese woman\u27s identity without having to eliminate the meaning and cultural philosophy that is inherent in it. Keywords: Existence, Kebaya, Gen Z, Contemporar
PERAJIN GERABAH DUKUH KRAJAN DESA GEBANGSARI, KEC. KLIRONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH
Abstrak: Permasalahan penelitian ini ialah bagaimana bentuk interaksi sosial dan strategi adaptasi perajin gerabah dalam mempertahankan teknik tradisional di tengah berbagai kendala yang ada di RT 03 RW 02 Dukuh Krajan, Desa Gebangsari, Kec. Klirong, Kebumen. Tujuan penelitian adalah menjelaskan bentuk interaksi sosial dan strategi adaptasi perajin gerabah dalam upaya mempertahankan kelestarian pembuatan kerajinan gerabah tradisional menurut struktural fungsional AGIL. Manfaat teoretisnya adalah mengembangkan penelitian antropologi ekonomi tentang tingkah laku kolektif manusia dalam analisis AGIL. Manfaat praktisya berupa pemecahan masalah yang ada sebagai bahan pertimbangan strategis dalam suatu kebijakan. Metode penelitian adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Populasi penelitian adalah perajin gerabah di RT 03 RW 02 Dukuh Krajan Desa Gebangsari. Variabel penelitian meliputi interaksi sosial dan strategi adaptasi. Hasil penelitian menemukan bahwa interaksi sosial yang terjalin di antara para perajin membangun hubungan yang positif dengan cara saling bekerja sama dan bergotong royong dalam memenuhi kebutuhan produksi gerabah. Perajin gerabah beradaptasi dalam menghadapi segala tantangan, kendala, dan peluang dalam rangka mempertahankan teknik tradisional cara pembuatan gerabah.
Kata kunci: perajin gerabah, interaksi sosial, adaptasi
Abstract: The subject addressed in this study is how pottery craftsmen in RT 03 RW 02 Dukuh Krajan, Gebangsari Village, Klirong District, Kebumen, use social interaction and adaptation strategies to sustain traditional techniques in the face of numerous challenges. The purpose of this research is to explain about the different types of social interaction and adaption tactics used by pottery artists in order to keep traditional pottery manufacture alive and well according to AGIL\u27s functional structure. The theoretical value of AGIL analysis is the development of economic anthropological research on human collective behavior. The practical benefits come in the form of existing problems being solved as strategic policy concerns. The research method is qualitative approach to data collecting, which includes literature reviews, interviews, and documentation. The research population is pottery craftsmen in RT 03 and RW 02, Dukuh Krajan, Gebangsari Village. Research variables include social interaction and adaptation strategies. The results of the study found that the social interactions that existed between the craftsmen built positive relationships by working together and working together to meet the needs of pottery production. Pottery craftsmen adapt in the face of all challenges, obstacles, and opportunities in order to maintain the traditional techniques of pottery making.
Keywords: Pottery craftsmen, social interaction, adaptatio
ANALISIS LIMINALITAS PADA RITUAL BUBUKA SENI REAK DI KAMPUNG RANCABANGO RANCAEKEK BANDUNG
Abstrak: Penelitian ini mempunyai fokus kajian terkait permasalahan bagaimana sebuah ritual bubuka dapat mendatangkan perasaan aman dan merasa dilindungi bagi rombongan grup seni Reak grup Cuta Muda menggunakan teori Liminalitas Victor Turner. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan tekhnik pengumpulan data berupa observasi ke lapangan, wawancara terstruktur, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat ruang liminalitas pada saat ritual bubuka yang dapat menghilangkan ke khawatiran rombongan grup seni Reak Cuta Muda yang dialami langsung oleh pemimpin ritual. Hal tersebut ditandai dengan adanya persembahan melalui sesajen sebagai bentuk negosiasi kepada makhluk adikodrati. Melalui ritual bubuka, rombongan grup merasa aman dan merasa dilindungi saat kesenian Reak berlangsung.
Kata kunci: Kesenian Reak, ritual bubuka, liminalitas.
Abstract: This research focuses on studies that communicated the problem of how a powder ritual can bring the excitement of safety and insurance to the Reak group, and the Cuta Muda group, utilizing Liminality Victor Turner. This research utilizes qualitative research methods, with data assortment techniques in the aspect of observations, structured conferences, literature studies, and documentation. The outcomes revealed that there was an expanse of liminality during the ritual which could eradicate the concerns of the Reak Cuta Muda art group that were encountered promptly by the ritual leader. This is captioned by the existence of contributions through contributions as an aspect of negotiation with supernatural beings. Through the ritual, the group felt safe and conserved during Reak\u27s performing arts.
Keywords: Reak art, bubuka ritual, liminality.
WEBTOON KERAJAAN INSTRUMEN ENKULTURASI
Abstrak: Permasalahan penelitian ini ialah bagaimana nilai-nilai etika hidup dalam webtoon tema kerajaan dapat memunculkan fungsi enkulturasi bagi pembacanya. Tujuan penelitian adalah menjelaskan webtoon tema kerajaan dapat menjadi media enkulturasi bagi pembacanya. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, serta studi pustaka. Menggunakan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk menganalisis fungsi dari webtoon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa webtoon memiliki fungsi tambahan yakni sebagai media enkulturasi.
Kata Kunci: Webtoon, fungsi, enkulturasi, nilai-nilai etika hidup
Abstract: The problem of this research is how the ethical values of life in the royal theme webtoon can bring out the enculturation function for the readers. The purpose of this research is to explain that royal theme webtoon can be a medium of enculturation for its readers. Using qualitative research methods with data collection techniques in the form of participatory observation, interviews, documentation, and literature study. Using the functionalism theory of Bronislaw Malinowski to analyze the function of the webtoon. The results showed that the webtoon has an additional function, namely as an enculturation medium.
Keywords: webtoon, function, enculturation, ethical values of lif
NILAI MORAL DALAM DASA KRETA NASKAH SANGHYANG SIKSA KANDANG KARESIAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP MASYARAKAT SUNDA
Abstrak: Penelitian ini membahas mengenai nilai moral yang terdapat dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang termasuk dalam jajaran naskah Sunda Kuna, ditulis di atas lontar menggunakan tinta dengan aksara Buda atau Gunung, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif serta riset kepustakaan dengan mengumpulkan bahan bacaan, naskah serta dokumen yang relevan untuk mendapatkan hasil penelitian mengani nilai moral di dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini, yaitu nilai-nilai moral yang terdapat dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian diantaranya adalah gotong royong sesama manusia, mengandalkan satu sama lain dan tidak hidup secara individualis, menjaga serta memelihara keseimbangan alam, dan menjaga panca indera yang dimiliki oleh manusia.
Kata kunci: Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Dasakreta, Nilai Moral, Naskah Sunda
Abstract: This research discusses the moral values contained in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript which is included in the ranks of Old Sundanese manuscripts, written on lontar using ink with Buda or Gunung script, the research method used in this research is a qualitative method and library research by collecting reading materials, manuscripts and relevant documents to obtain research results on moral values in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript. The results of this research, namely the moral values contained in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript include mutual cooperation among humans, relying on each other and not living individually, maintaining and maintaining the balance of nature, and maintaining the five senses possessed by humans.
Keywords: Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Dasa Kreta, moral values, Sundanese manuscrip
NASIONALISME DALAM ERA GLOBALISASI: TANTANGAN DAN POTENSI
Abstrak: Globalisasi merupakan fenomena yang telah mengubah dunia dengan cepat. Indonesia, dengan keragaman budayanya, telah merasakan dampak positif dan negatif globalisasi. Jurnal ini menganalisis pengaruh globalisasi terhadap identitas nasional Indonesia. Globalisasi membawa perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan peluang internasional, tetapi juga membawa resiko penggeseran budaya lokal dan nilai-nilai tradisional. Jurnal ini juga membahas upaya untuk mempertahankan eksistensi kebudayaan daerah di Indonesia melalui peran pemimpin visioner dan penanaman karakter nasionalisme pada generasi muda. Identitas nasional Indonesia terbentuk dari berbagai unsur yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi, dan jurnal ini memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai pengaruh globalisasi terhadap identitas nasional Indonesia. Jurnal ini memberikan gambaran tentang bagaimana globalisasi mempengaruhi budaya bangsa Indonesia dan bagaimana cara menyikapinya untuk mempertahankan eksistensi kebudayaan daerah di Indonesia.
Kata kunci: Globalisasi, Identitas Nasional, Budaya
Abstract: Globalization is a phenomenon that has changed the world rapidly. Indonesia, with its cultural diversity, has felt the positive and negative impacts of globalization. This journal analyzes the influence of globalization on Indonesia\u27s national identity. Globalization brings technological development, economic growth, and international opportunities, but it also brings the risk of displacement of local culture and traditional values. This journal also discusses efforts to maintain the existence of regional culture in Indonesia through the role of visionary leaders and instilling the character of nationalism in the younger generation. Indonesia\u27s national identity is formed from various elements that interact and influence each other, and this journal provides a deeper understanding of the influence of globalization on Indonesia\u27s national identity. This journal provides an overview of how globalization affects the culture of the Indonesian nation and how to respond to it to maintain the existence of regional culture in Indonesia.
Keywords: Globalization, National Identity, Cultur
PERSEPSI PENONTON TERHADAP COSPLAYER PADA EVENT COSPLAY DI KOTA KENDARI
Abstrak: Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya populer Jepang seperti anime, manga, dan cosplay dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas penggemar di Kota Kendari yang aktif menggelar event cosplay sejak 2012. Cosplay menjadi media ekspresi diri, kreativitas, dan identitas sosial, namun memunculkan beragam persepsi di masyarakat, dari yang menganggapnya seni hingga yang melihatnya aneh. Setelah pandemi, aktivitas cosplay kembali marak dan menarik perhatian publik. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persepsi penonton terhadap cosplayer serta faktor yang memengaruhinya, mengingat hal ini dapat memengaruhi penerimaan subkultur tersebut di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi penonton terhadap cosplayer pada event cosplay di Kota Kendari serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari anggota komunitas cosplay, penonton, dan panitia event. Data dianalisis dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead (1934) melalui tahap kategorisasi fenomena, pelabelan kategori, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat dari yang awalnya menganggap cosplay aneh menjadi lebih positif seiring meningkatnya intensitas event cosplay dan interaksi langsung antara cosplayer dan penonton. Kini cosplay dipandang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seni, kreativitas, dan ekspresi identitas yang diterima dalam masyarakat Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa cosplay di Kota Kendari kini semakin diterima sebagai bagian dari seni, kreativitas, dan ekspresi identitas, seiring meningkatnya pemahaman dan interaksi masyarakat dengan para cosplayer. Oleh karena itu, disarankan agar event cosplay terus difasilitasi dan melibatkan berbagai elemen masyarakat guna memperkuat penerimaan sosial, sekaligus mengedukasi publik tentang nilai positif di balik budaya populer ini. Kata kunci: cosplay, persepsi penonton, budaya popular, anime, manga Abstract: In the era of globalization and technological advancement, Japanese popular culture such as anime, manga, and cosplay has quickly spread to various countries, including Indonesia. This has sparked the growth of a fan community in Kendari City, which has been actively holding cosplay events since 2012. Cosplay has become a medium for self-expression, creativity, and social identity, but it has also given rise to various perceptions in society, from those who consider it art to those who see it as strange. Following the pandemic, cosplay activities have resurfaced and gained public attention. Therefore, it is important to examine audience perceptions of cosplayers and the factors influencing them, as this can impact the acceptance of this subculture in society. This study aims to identify and describe audience perceptions of cosplayers at cosplay events in Kendari City, as well as the factors influencing these perceptions. This study employs a qualitative ethnographic method using participatory observation and in-depth interviews with eight informants consisting of cosplay community members, spectators, and event organizers. Data were analyzed using George Herbert Mead\u27s (1934) Symbolic Interactionism theory through the stages of phenomenon categorization, category labeling, and conclusion drawing. The results of the study indicate a shift in public perception from initially viewing cosplay as strange to a more positive outlook as the intensity of cosplay events increases and direct interaction between cosplayers and spectators grows. Today, cosplay is not only seen as entertainment but also as art, creativity, and a form of identity expression accepted within the community of Kendari City. Based on this, it can be concluded that cosplay in Kendari City is increasingly accepted as part of art, creativity, and identity expression, alongside growing public understanding and interaction with cosplayers. Therefore, it is recommended that cosplay events continue to be facilitated and involve various community elements to strengthen social acceptance while educating the public about the positive values behind this popular culture. Keywords: cosplay, audience perception, popular culture, anime, mang
REVITALISASI RITUAL MITEMBEYAN SEBAGAI PELESTARIAN LEWAT YOUTUBE PADA KELOMPOK TANI SINDANG HURIP DI DUSUN SINDANG, DESA/KEC. RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep dan metode revitalisasi ritual mitembeyan meuseul sebagai upaya pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat petani Sunda di tengah perubahan sosial budaya akibat modernisasi pertanian, serta mendiseminasikan hasil revitalisasi melalui media digital. Modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin penggiling gabah (huller) telah menyebabkan memudarnya praktik ritual mitembeyan yang sebelumnya menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan, kosmologi, dan kehidupan komunal petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Sindang, Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi ritual dilakukan melalui rekonstruksi bentuk otentik berbasis memori kolektif, reaktualisasi tahapan ritual, serta penggalian kembali makna simbolik dan nilai kearifan lokal yang mencakup nilai spiritual-religius, keselarasan dengan alam, dan solidaritas sosial komunal. Dokumentasi ritual melalui platform YouTube berfungsi sebagai arsip visual sekaligus strategi adaptif pelestarian budaya di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi ritual mitembeyan meuseul merupakan bentuk modernisasi selektif yang memungkinkan masyarakat petani mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai fundamental tanpa menolak kemajuan teknologi.
Kata kunci: revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digital. Abstract: This study aims to formulate concepts and methods for revitalizing the mitembeyan meuseul ritual as an effort to preserve local cultural wisdom among Sundanese farming communities amid socio-cultural changes caused by agricultural modernization, as well as to disseminate the revitalization outcomes through digital media. The introduction of rice milling machines (hullers) has gradually diminished the practice of mitembeyan, which was previously an integral part of farmers’ belief systems, cosmology, and communal life. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in Sindang Hamlet, Rancakalong Village/Subdistrict, Sumedang Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature review. The findings indicate that ritual revitalization was carried out through reconstructing its authentic form based on collective memory, reactualizing ritual stages, and reinterpreting symbolic meanings and local wisdom values, including spiritual-religious beliefs, harmony with nature, and communal social solidarity. Digital documentation via YouTube functions as a visual archive and an adaptive strategy for cultural preservation in the digital era. The study concludes that revitalizing the mitembeyan meuseul ritual represents a form of selective modernization that enables farming communities to maintain cultural identity and fundamental values without rejecting technological advancement.
Keywords: cultural revitalization, mitembeyan ritual, local wisdom, traditional agriculture, digital media.
OBJEKTIFIKASI PEREMPUAN DALAM FILM I SPIT ON YOUR GRAVE DAN MARLINA SI PEMBUNUH EMPAT BABAK PENDEKATAN ANTROPOLOGI FEMINIS
Abstrak: Penelitian ini mengkaji penggambaran perempuan dalam film menggunakan teori objektifikasi. Penelitian ini pada dasarnya menganalisis dua film, I Spit on Your Grave dan Marlina si Pembunuh Empat Babak. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana film menggambarkan perempuan, terutama dalam konteks budaya. Melalui metode penelitian kualitatif, teknik analisis yang digunakan adalah analisis semiotika. Penulis menganalisis dan mengkritik adegan kedua film tersebut sehubungan dengan bahasa yang digunakan, tempat adegan film berlangsung, dan detail kecil lainnya seperti bagaimana sutradara menarasikan dan mengartikulasikan berbagai peristiwa, serta adegan dengan simbol budaya yang berbeda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan mendapat liputan negatif. Asosiasi stereotip yang konsisten dengan simbol seksual, ketidakberdayaan, dan ketidakberdayaan menandai representasi wanita dalam film-film ini. Representasi tersebut berbeda-beda menurut latar belakang budayanya.
Kata kunci: Film, Wanita, Objektifikasi
Abstract: This research is concerned with film’s portrayal of women in the context of Objectification Theory. This research paper is basically analyses of two films, I Spit on Your Grave and Marlina Si Pembunuh Empat Babak. It consists the analysis of these movies to find out how film portrays women, especially in cultural context. Through the qualitative research method, the analysis technique in use is semiotics analysis. I analyzed and criticized the two movies’ scenes with regard to the language they used, the places where the scenes of movies took place and other minor details such as how the directors narrated and articulated different events and scenes with different cultural symbols. The findings indicate that women received negative coverage. A consistent stereotyped association with sexual symbol, helplessness and voicelessness marks the representations of women in these movies. These representations are different according to their cultural background.
Keywords: Film, Women, Objectificatio