Journal Universitas Pasundan
Not a member yet
15441 research outputs found
Sort by
Penggunaan Majas Perbandingan pada Puisi Doa Seorang Pesolek karya Joko Pinurbo: karya sastra
This study aims to analyze and describe the use of comparative figures of speech in the poem "Doa Seorang Pesolek" by Joko Pinurbo. Literary works, especially poetry, are a medium of expression that utilizes the richness of language to convey the author's ideas and reflections. The use of figurative language (figure of speech) is an essential aspect in poetry because it functions to create aesthetic beauty and strengthen the delivery of messages. Comparative figures of speech are figures of speech used to enhance the impact of communication by comparing a specific object with another, more general object, building meaning that touches the reader's thoughts and emotions. The poem "Doa Seorang Pesolek" was chosen because it contains the inner struggle of an individual who is obsessed with physical beauty while also longing for spiritual things. Using a qualitative approach and descriptive method, this study analyzes the physical structure of the poem, especially the comparative figures of speech, which consist of metaphor, simile, personification, allegory, and hyperbole. The results of the analysis show that Joko Pinurbo uses comparative figures of speech (metaphor, personification, simile, hyperbole) and other figures of speech (repetition, metonymy, euphemism) to build a poetic narrative that is rich in meaning, contains irony, social criticism, and spiritual reflection
IMPLEMENTASI ALAT PERMAINAN EDUKATIF BATTIK PADA PEMAHAMAN MATA PELAJARAN IPAS KURIKULUM MERDEKA SISWA KELAS IV MADRASAH IBTIDAIYAH
This study aims to describe the implementation of APE BATTIK (Alat Permainan Edukatif Budaya, Akhlak, Kritis, Kreatif, Inovatif, Ketuhanan) in the IPAS subject with the topic "My Indonesia is Rich in Culture" in 4th grade at MI Nurul Islam. The research method used is descriptive qualitative with data collection tools of observation, interviews, documentation and tests. Data analysis techniques use data and method triangulation. The results of the study indicate that the implementation of APE BATTIK in the Science subject with the material My Indonesia is Rich in Culture in class IV significantly increases students' active involvement in learning and improves student learning outcomes. In learning activities, students actively discuss, ask questions, and enthusiastically complete missions in matching cultural cards and questions designed like a monopoly game. Abstract science learning is made into a concrete image visualization in the form of a game. Student learning outcomes after implementing APE BATTIK reach the criteria for achieving learning objectives of 78.57%. Based on the results of this study, APE BATTIK is an alternative innovative solution to be able to improve active, interesting, fun learning activities and is able to optimize abstract understanding to be easier
PENGEMBANGAN E-MODUL INTERAKTIF BERBASIS PROJECT-BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SENI DAN KREATIVITAS SISWA KELAS SATU SD
This research was conducted due to the low artistic skills and creativity of early grade students in grade I of Elementary School. Initial observations conducted at the pre-development stage showed that many students had difficulty in expressing ideas visually and lacked originality in their artwork, as well as the lack of learning media that could integrate interactive technology with real project experiences at the elementary level. This research took 28 grade I elementary school students as subjects. This research aims to: (1) describe the process of developing PjBL-based Interactive E-Modules, (2) describe the level of feasibility (validity and practicality) of PjBL-based Interactive E-Modules, and (3) describe the results of testing the effectiveness of PjBL-based Interactive E-Modules in art learning to improve students' artistic skills and creativity. The research methodology used a mix methods method. Research Results: (a) The process of developing PjBL-based Interactive E-Modules follows the PjBL steps: Syntax 1: Determining Basic Questions. Syntax 2: Preparing Project Planning (Project Design). Syntax 3: Schedule Preparation. Syntax 4: Implementation (Monitoring Students). Syntax 5: Assess the Outcome. Syntax 6: Evaluate the Experience. (b) The developed Interactive E-Module received a very good validation score from material and media experts, and was deemed very good by teachers and students. (c) The effectiveness test results showed a 61% increase in average art skills scores and a 30% increase in average creativity scores compared to before the module was used. The implementation of the Project-Based Learning (PjBL)-based Interactive E-Module in art learning created an active, digital, and product-oriented learning environment, thereby increasing students' motivation, participation, and artistic skill achievement. This study concluded that the Project-Based Learning (PjBL)-based Interactive E-Module was effective in improving artistic skills and creativity in first-grade elementary school students
MANAJEMEN KONFLIK ANTAR PENDIDIK DALAM MENINGKATKAN KINERJA TIM SEKOLAH
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, penyebab, serta strategi manajemen konflik antar pendidik dan pengaruhnya terhadap peningkatan kinerja tim sekolah. Konflik antar guru merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam organisasi pendidikan karena perbedaan latar belakang, nilai, gaya kerja, dan pandangan profesional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tiga sekolah menengah negeri di Kota Samarinda. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, melalui proses reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis konflik utama, yaitu konflik peran, konflik interpersonal, dan konflik profesional. Strategi yang paling efektif dalam penyelesaian konflik adalah komunikasi terbuka, mediasi kepala sekolah, serta pembentukan budaya kolaboratif antar pendidik. Manajemen konflik yang dijalankan secara integratif terbukti meningkatkan koordinasi, inovasi pembelajaran, serta kohesi dan kepercayaan antar guru. Dengan demikian, manajemen konflik tidak hanya berfungsi untuk mengurangi pertentangan, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk memperkuat kinerja tim dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis di sekolah.
 
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MEDIA FLASH LEARN PADA MATERI SIKLUS HIDUP PADA MANUSIA HEWAN DAN TUMBUHAN DI KELAS III SD NEGERI 005 BATU ENGAU: -
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Flash Learn terhadap hasil belajar, partisipasi, dan motivasi belajar siswa pada materi Siklus Hidup pada Manusia, Hewan, dan Tumbuhan di kelas III Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran dengan model PBL dan media Flash Learn, serta kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional. Instrumen yang digunakan meliputi tes hasil belajar (pretest dan posttest) untuk mengukur penguasaan konsep, lembar observasi partisipasi untuk menilai keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, serta angket motivasi belajar untuk mengetahui tingkat motivasi siswa selama proses pembelajaran. Data dianalisis menggunakan uji-t dan perhitungan N-Gain untuk melihat peningkatan hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan rata-rata N-Gain sebesar 0,73 (kategori tinggi), dibandingkan dengan kelas kontrol sebesar 0,49 (kategori sedang). Selain itu, partisipasi siswa meningkat dengan skor rata-rata 3,37 (kategori aktif), dan motivasi belajar siswa mencapai rata-rata 3,56 (kategori sangat tinggi). Dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) dengan media Flash Learn efektif dalam meningkatkan hasil belajar, partisipasi, dan motivasi siswa pada materi siklus hidup makhluk hidup di kelas III SD. Dengan demikian, kombinasi model dan media ini dapat dijadikan sebagai inovasi pembelajaran yang menarik, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar
Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) Dengan Metode Kolaboratif Pada Materi Harmoni dalam Ekosistem di kelas V SD Negeri 009 Long Kali
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, aktivitas kolaboratif, dan pemahaman konsep siswa pada materi Harmoni dalam Ekosistem melalui penerapan model Project Based Learning (PjBL) dengan metode kolaboratif di kelas V SD Negeri 009 Long Kali. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 20 siswa kelas V (10 laki-laki dan 10 perempuan). Instrumen penelitian meliputi tes hasil belajar, lembar observasi aktivitas kolaboratif, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa dari 58,2 pada pra-siklus menjadi 71,6 pada Siklus I dan 83,4 pada Siklus II, dengan ketuntasan meningkat dari 30% menjadi 85%. Aktivitas kolaboratif siswa juga meningkat dari 69% menjadi 89%, dan respon positif siswa terhadap pembelajaran naik dari 78,75% menjadi 92,75%. Penerapan PjBL dengan metode kolaboratif mendorong keterlibatan aktif, komunikasi dua arah, serta tanggung jawab kelompok dalam menghasilkan proyek seperti “Mini Ekosistem Sekolah” dan “Poster Harmoni Ekosistem”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model PjBL dengan metode kolaboratif efektif dalam meningkatkan hasil belajar, keterampilan sosial, dan kesadaran lingkungan siswa, serta relevan dengan prinsip student-centered learning dan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual dan kolaboratif
Systematic Literature Review: Analisis Implementasi Social Emotional Learning (SEL) pada Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar
Pendidikan abad ke-21 menuntut perkembangan siswa yang holistik, tidak hanya terbatas pada aspek akademik tetapi juga aspek sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Social Emotional Learning (SEL) dalam proses pembelajaran di sekolah dasar, termasuk strategi, peran guru, serta tantangan yang dihadapi. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pedoman PRISMA. Data diperoleh dari 11 artikel terpilih yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2025, bersumber dari database Scopus serta jurnal terakreditasi Sinta. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi SEL di sekolah dasar dilakukan melalui tiga strategi utama: integrasi eksplisit dalam kurikulum dan mata pelajaran, integrasi dalam praktik mengajar dan pengelolaan kelas, serta pembiasaan melalui budaya sekolah. Temuan juga menyoroti peran krusial guru sebagai teladan (role model) dan fasilitator utama dalam pengembangan lima kompetensi inti CASEL pada siswa. Namun implementasinya masih menghadapi tantangan yang signifikan, seperti kurangnya pelatihan dan pemahaman guru, keterbatasan sarana infrastruktur, serta perlunya dukungan sinergis dari orang tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa SEL merupakan elemen penting dalam membentuk karakter siswa di usia emas, dan keberhasilannya memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan seluruh ekosistem sekolah
ANALISIS KESALAHAN ARTIKULASI BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH DASAR DI WAMENA: PERBANDINGAN DUA SEKOLAH DAN IMPLIKASI PEMBELAJARAN FONETIK KONTEKSTUAL
This study analyzes patterns of Indonesian articulation errors among elementary school students in Wamena and compares findings across two schools to formulate context-specific pedagogical recommendations. Using a descriptive approach based on observational data of target-word articulations, errors were classified into substitution, distortion, elision, and epenthesis, guided by a contextual phonological framework and stakeholder interviews as the methodological design and rationale. Results from 70 students (40 from SD Lachairoi Hom-Hom; 30 from SD YPPGI Napua) show mean articulation errors per student of 3.3 (Lachairoi) and 3.1 (Napua). The most frequent patterns at both schools were /r/→/l/ substitution (9 cases at Lachairoi; 7 at Napua), /s/ distortion (five cases at each school), /k/ substitution (predominantly /k/→/g/ or /k/→/t/ at Lachairoi; notably /k/→/t/ at YPPGI Napua), elision of final –n (more frequent at Lachairoi), and epenthesis (present at both sites). The findings indicate that local first-language phonological interference strongly contributes to variation in Indonesian articulation. Accordingly, phonetic instruction grounded in local cultural knowledge and stepwise articulatory training targeting critical contrasts (/r/–/l/, /k/–/g/–/t/, fricative /s/) is recommended
PEMIKIRAN REFLEKTIF DALAM PRAKTIK PROFESIONAL GURU IPAS DI SEKOLAH DASAR
Reflective thinking is a crucial foundation of teacher professionalism, particularly in the context of integrated Science and Social Studies (IPAS) learning in elementary schools. However, its implementation continues to face structural and conceptual challenges, especially at the levels of policy and classroom practice. This study aims to systematically examine the concept, manifestations, as well as enabling and inhibiting factors of reflective thinking in the professional practice of IPAS teachers. Using a systematic literature review approach, data were analyzed through thematic analysis. The findings indicate that reflective thinking among IPAS teachers is not only oriented toward pedagogical improvement but also serves as an ethical means to realize the Pancasila Student Profile through the Merdeka Curriculum. Four main themes were identified: (1) conceptual foundations of reflection, (2) locally contextualized reflective practice, (3) structural barriers such as administrative burden, and (4) integration of character values into reflection. The results reveal a distinctive Indonesian discourse cluster that synthesizes global theoretical frameworks with local wisdom. This study recommends transforming teacher communities into collaborative reflective spaces and developing context-sensitive instruments to measure teacher reflectivity
EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA SOCIETY 5.0 DI SDN CIPETE UTARA 01 PAGI
Penelitian ini berguna untuk mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan karakter di SDN Cipete Utara 01 Pagi dalam menghadapi era Society 5.0. Evaluasi ini menggunakan pendekatan evaluatif dengan model CIPP (Context, Input, Process, Product) untuk menilai kesesuaian antara tujuan, pelaksanaan, dan hasil program. Data yang dikumpulkan lewat observasi, studi serta dokumentasi, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil evaluasi ini menunjukkan indikator bahwa pada tahap kontekstual, pelaksanaan pendidikan karakter sudah selaras dengan visi dan misi sekolah yang berorientasi pada penguatan nilai moral dan Profil Pelajar Pancasila. Dari aspek masukan, sumber daya manusia, sarana prasarana, serta kurikulum cukup mendukung, meskipun masih diperlukan peningkatan kapasitas guru dalam mengintegrasikan nilai karakter dengan pembelajaran berbasis digital. Pada aspek proses, kegiatan pembelajaran karakter telah diterapkan melalui pembiasaan, keteladanan, dan integrasi nilai-nilai karakter dalam berbagai mata pelajaran, namun pemanfaatan teknologi digital masih terbatas. Sementara dari sisi produk, program ini menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial siswa, meski sebagian kecil peserta didik masih menunjukkan perilaku kurang sopan terhadap guru maupun teman sebaya. Secara keseluruhan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa implementasi program pendidikan karakter di SDN Cipete Utara 01 berada dalam kategori baik, namun masih perlu diperkuat melalui inovasi pembelajaran digital, pelatihan guru, serta sinergi antara sekolah dan orang tua agar selaras dengan tuntutan era Society 5.0