Jurnal Mitra Kesehatan
Not a member yet
    155 research outputs found

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PERAWAT DENGAN KEJADIAN HEMATOMA PASKA KATETERISASI JANTUNG

    Full text link
    Pendahuluan: Kateterisasi jantung adalah prosedur memasukkan catheter kedalam arteri femoralis atau arteri radialis yang didorong dari otot aorta desenden menuju arteri koronaria. Salah satu komplikasi dari kateterisasi jantung adalah hematoma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku perawat dengan kejadian hematoma paska cateterisasi jantung. Metode: Metode penelitian  kuantitatif, desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini yaitu seluruh perawat di IMC, ICU dan Angiografi RS X sebanyak 37 orang. Teknik pengambilan sampel mengunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan.. Alat pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner. Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan pada 30 responden di RS Y Jakarta. Hasil: Hasil analisis univariat, mayoritas responden berada pada rentang usia dewasa muda (83,8%), masa kerja pada jenjang karir Perawat Klinik III (40,5%), pendidikan DIII Keperawatan (78,4%). Sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik tentang prosedur paska kateterisasi jantung serta sebagian besar perawat memiliki perilaku yang baik tentang prosedur paska kateterisasi jantung (59,5%). Hasil bivariate dengan uji chi- square didapatkan secara statistik ada hubungan pengetahuan perawat (p=0,001), dan perilaku perawat  (p=0,000) dengan kejadian hematoma. Kesimpulan: Diharapkan melalui seminar, workshop dan pelatihan perawat dapat memperoleh pengetahuan adekuat tentang prosedur paska kateterisasi jantung sehingga perawat dapat menjalankan prosedur sesuai dengan ketentuan yang ada, baik dalam pemantauan, kompresi dan pelepasan  sheath

    EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT X SWASTA BEKASI PADA TAHUN 2020

    Full text link
    Pendahuluan: Demam tifoid merupakan penyakit yang bersifat endemik dan disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di Indonesia. Jumlah penderita demam tifoid cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Terapi demam tifoid dengan antibiotik dapat menghalangi terjadinya komplikasi dan menurunkan angka kematian. Metode: Tujuan Penelitian untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit X Swasta Bekasi pada tahun 2020. Metode yang digunakan  dalam penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Sampel diambil dari rekam medis pasien dewasa di RS X Swasta Bekasi. Hasil: Hasil yang diperoleh sebanyak 62 pasien dewasa dengan diagnosis demam tifoid. Golongan antibiotik yang digunakan yaitu sefalosporin generasi ke-3 dengan jenis antibiotik seftriakson dengan rute pemberian secara intravena selama 1-4 hari. Penilaian ketepatan pemberian antibiotik pada pasien demam tifoid berdasarkan tiga parameter yaitu tepat obat 82%, tepat dosis 81%, dan tepat lama pemberian 45%. Kesimpulan: Antibiotik yang sering diresepkan di RS X Swasta Bekasi adalah seftriakson secara intravena selama 1-4 hari. Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid berdasarkan kriteria tepat obat sebesar 82%, tepat dosis sebesar 81% dan tepat lama pemberian sebesar 45%

    PENGALAMAN ORANGTUA DAN HASIL FAMILY CENTERED CARE (FCC) PADA ANAK YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT: LITERATURE REVIEW

    Full text link
    Latar Belakang: Hospitalisasi merupakan suatu keadaan yang menimbulkan dampak kecemasan pada anak dan orangtua. Orangtua sebagian besar mengalami stres ringan (68.0%) sedangkan anak mengalami gangguan kecemasan (60-80%). Perawat anak bertugas untuk memberikan asuhan keperawatan dalam memfasilitasi orangtua mengoptimalkan Family Centered Care (FCC) melalui pemberian pendidikan kesehatan dan pendampingan berkelanjutan dari awal masuk rumah sakit sampai persiapan pulang ke rumah untuk mengurangi dampak hospitalisasi pada anak-anak di rumah sakit. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi pengalaman keluarga terhadap FCC pada anak yang mengalami hospitalisasi serta untuk mengetahui outcome FCC pada orang tua. Metode: Tinjauan sistematis menggunakan PRISMA dengan mengumpulkan hasil publikasi ilmiah dalam rentang tahun 2014 hingga 2022 yang diperoleh dari PubMed, ProQuest, Science direct dan pencarian sekunder. Kemudian dilakukan screaning artikel sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Dalam tinjauan sistematis ini, 4 studi klinis diidentifikasi yang sesuai dengan kriteria penelitian tentang FCC pada anak. Ada 3 penelitian qualitative dan 1 penelitian menggunakan study cross-sectional. Kesimpulan: FCC dapat meningkatkan keterampilan orangtua dan menurunkan kecemasan orangtua dalam merawat anak di rumah sakit.  Namun, orangtua memiliki hambatan-hambatan dalam penerapan FCC

    PEMBUATAN PIE VLA DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KACANG MERAH (PHASEOLUS VULGARIS) DAN BUAH BIT (BETA VULGARIS L.) SEBAGAI CAMILAN UNTUK REMAJA ANEMIA

    Full text link
    Pendahuluan: Anemia merupakan suatu masalah kesehatan yang banyak dialami oleh masyarakat dan telah menyebar ke seluruh dunia, baik di negara berkembang maupun negara maju. Prevalensi anemia global berkisar 40% sampai 88%. Angka kejadian anemia pada remaja putri di negara berkembang sekitar 53,7% dari seluruh remaja putri. Zat besi merupakan mineral terpenting yang dapat mempengaruhi fungsi semua organ vital dengan baik. Penggunaan utamanya adalah dalam membangun hemoglobin, substansi dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis uji organoleptik, hedonik dan zat besi pada hasil produk Pie Vla dengan substitusi tepung kacang merah dan buah bit yang dapat diterima masyarakat sebagai cemilan untuk remaja anemia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor yaitu tepung kacang merah dan buah bit dengan tiga perlakuan. Penelitian dilakukan pada 31 responden yang merupakan panelis tidak terlatih diwilayah Bekasi. Metode pengambilan sampel menggunakan Random Sampling. Analisis data statistik dengan Friedman Test untuk menguji kesamaan pengaruh perlakuan tetap dari ketiga formula yang diuji organoleptik. Hasil: Hasil analisis organoleptik didapatkan perlakuan F2 lebih unggul dengan perbandingan 150g tepung kacang merah dan 50g buah bit. Analisis hedonik didapatkan perlakuan F3 lebih disukai dengan perbandingan tepung kacang merah 115 g dan buah bit 50 g. Hasil Uji Zat Besi didapatkan kadar Fe perbandingan antara perlakuan F3 dan F Kontrol yaitu 3,07 mg/100 gram dan 2,94 mg/100 gram. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian hasil analisis sensori terdapat perbedaan yang signifikan pada rasa dan tekstur. Hasil analisis kesukaan panelis diperoleh perlakuan F3 paling disukai. Hasil uji kadar Fe perbandingan antara perlakuan F3 dan F Kontrol memiliki perbedaan kadar Fe sebesar 0,13 mg/100 gram. Pemberian pie vla ini sebagai camilan dalam 100 gram/hari berkontribusi sebesar 11%/hari

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP LANSIA: LITERATURE REVIEW

    Full text link
    Pendahuluan: Kualitas hidup ialah persepsi individu mengenai adat-istiadat dan aturan yang layak dengan tempat tinggal atau domisili yang berhubungan dengan arah tujuan, keinginan, standar dan sikap caring semasa hidupnya. Berdasarkan sudut pandang kesehatan, lanjut usia dapat merasakan yang namanya process aging yang ditandai dengan kemunduran fungsi tubuh terhadap fungsi fisik dalam hal ini lansia mudah terserang penyakit. Bertambahnya penyakit dikelompok lanjut usia dapat menimbulkan transformasi pada kualitas hidup lansia itu sendiri. Kesehatan lansia memiliki tujuan untuk mengupgrade kualitas hidup Lansia agar sehat, independent, tumbuh dan berkembang secara produktif, bermanfaat dan makmur sehingga lansia dapat hidup sehat dan Bahagia di hari tuanya. Studi ini bermaksud untuk memberitahukan dan membahas variabel demografi yang mempengaruhi kualitas hidup Lansia. Metode: Metode penulisan analysis artikel ini berbasis literature review data base yang ditelusuri menggunakan website Google Scholar dan Pubmed antara tahun 2016-2022 dengan kata kunci pencarian ((status demografi) AND (kualitas hidup)) AND (lansia). Standar yang diinginkan penulis meliputi: (1) riset yang mengupas variabel status demografi dengan kualitas hidup lanjut usia, (2) jenis riset kuantitatif dengan metode crossectional. Total artikel yang diperoleh sebanyak 10 yang memenuhi pertanyaan penelitian. Hasil: Berdasarkan hasil analisis terhadap 10 artikel di temukan variabel yang terkait dengan kualitas hidup usia yang lebih tua ialah umur, gender, tingkat pendidikan, kapasitas ekonomi, status perkawinan, pendapatan, serta pekerjaan. Sehingga di butuhkan peran tenaga kesehatan dalam mengupaya pembangunan pada bagian kesehatan yang didasari  program kesehatan dengan menjalankan peran Kesehatan terkait promosi, pencegahan, penyembuhan serta pelayanan rehabilitatif. Kesimpulan: Upaya pengembangan kesehatan ini ialah untuk menaikkan harkat dan martabat masyarakat

    SKRINNING RHIZOBAKTERI MANGROVE Rhizosphora Sp. PENGHASIL AMILASE

    Full text link
    Pendahuluan: Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kaya akan nutrisi karena dipengaruhi oleh pasang surut air laut, asupan air tawar dari daratan, akumulasi mineral, dan aktivitas mikroorganisme. Kondisi tersebut menghasilkan ekosistem yang unik dan memiliki keanekaragaman mikroorganisme. Rhizobakteri adalah bakteri yang hidup pada daerah rhizosfer dan membentuk koloni pada sistem perakaran tumbuhan. Rhizobakteri diketahui memiliki bermacam enzim, salah satunya antara lain enzim amilase. Enzim amilase banyak digunakan di industri makanan, tekstil, dam kertas. Metode: Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan menskrining amilase yang dihasilkan rizhobakteri dari tanaman mangrove dan bakteri serasah pada mangrove Rhizophora Sp. Isolasi bakteri dilakukan dengan seri pengenceran yang ditumbuhkan dalam medium zobell. Skrinning aktivitas amilase dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dalam medium zobell agar yang mengandung pati. Hasil: Isolat rhizobakteri yang berhasil diisolasi dari tumbuhan mangrove muda, mangrove tua, dan serasah berjumlah 42 isolat. Hasil skrining menunjukkan 30 isolat mampu menghasilkan a-amilase. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa isolat Rhizobakteri mangrove yang berhasil diisolasi dari akar tanaman mangrove Pulau Bira Kepulauan Seribu sebanyak 42 isolat dan 30 isolat menghasilkan enzim a-amilase. Isolat yang paling banyak menghasilkan enzim tersebut berasal dari rhizobakteri tanaman mangrove muda dan zona bening yang yang terbesar yaitu 7 mm

    FAKTOR KEJADIAN IN-STENT RE-STENOSIS PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER

    Full text link
    Pendahuluan: Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit yang diakibatkan penyempitan pembuluh darah koroner akibat aterosklerosis. Salah satu penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner adalah pemasangan stent untuk mengatasi sumbatan pada pembuluh darah jantung. Tindakan tersebut dapat berulang apabila terjadi sumbatan pada lokasi pembuluh darah yang terpasang stent atau disebut in-stent re-stenosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang berhubungan dengan tindakan PCI berulang. Metode: Desain penelitian menggunakan desain non eksperimental jenis cross sectional analitik. Responden sebanyak 70 orang, diperoleh melalui teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (chi square dan uji t tidak berpasangan) serta multivariat (regresi logistik berganda). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat merokok memiliki hubungan yang signifikan dan merupakan faktor dominan dengan tindakan PCI berulang. Kesimpulan: Implikasi hasil penelitian dalam keperawatan  peningkatan peran perawat sebagai pendidik dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang in-stent re-stenosis khususnya pengendalian faktor risiko khususnya kebiasaan merokok pada pasien yang terpasang stent dalam mencegah re-stenosis

    PENGARUH AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA: TELAAH LITERATUR

    Full text link
    Pendahuluan: Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun yang dimana sudah mengalami penuaan. Lansia secara fisiologis terjadi kemunduran fungsi-fungsi dalam tubuh yang menyebabkan lansia rentan terkena gangguan kesehatan. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebabnya salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang manfaat aktivitas fisik. Aktivitas fisik sendiri merupakan gerakan tubuh yang menghasilkan energi atau latihan yang telah diatur sebelumnya, disengaja, dan berulang. Tujuan dilakukannya telaah ini untuk mengetahui intervensi yang efektif dengan melakukan aktivitas fisik pada lansia dengan demensia. Metode: Metode dalam penulisan artikel ini melalui pendekatan sederhana. penulusuran database artikel menggunakan google scholar, di dapatkan 10 artikel. Hasil: Hasil menunjukkan dengan aktivitas fisik dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia demensia. Kesimpulan: Adanya pengaruh dari aktivitas fisik atau kegiatan latihan kognitif yang merangsang otak dengan menyediakan stimulasi yang memadai untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif

    ANALISIS KADAR BENZOAT DAN SORBAT PADA SAUS SAMBAL KEMASAN YANG DIJUAL DI PASAR BARU BEKASI DENGAN METODE HPLC

    Full text link
    Pendahuluan: Bahan Tambahan Pangan (BTP) digunakan secara luas oleh masyarakat. Bahan Tambahan Pangan(BTP) yang banyak digunakan dalam saus sambal adalah pengawet seperti benzoat dan sorbat. Penggunaan pengawetpada bahan pangan tidak boleh melebihi ambang batas yang sudah ditentukan karena dapat memberikan efek bagikesehatan, seperti benzoat yang dapat menimbulkan reaksi alergi dan bersifat karsinogenik karena adanya benzeneserta sorbat yang dapat menyebabkan mutasi gen bila dikombinasikan dengan asam askorbat. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui kadar benzoat dan sorbat pada saus sambal kemasan yang dijual di Pasar Baru Bekasi dan melihatkesesuaian kadar pengawet dengan ambang batas yang sudah ditentukan.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Kadarbenzoat dan sorbat diperiksa menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Datakuantitatif yang diperoleh dari hasil pengukuran dianalisis dengan membandingkan kadar maksimum benzoat dansorbat yang diperbolehkan pada saus menurut Peraturan Kepala BPOM No. 36 Tahun 2013, yaitu 1000 mg/kg. Kadarbenzoat dan sorbat yang melebihi ambang batas menandakan bahwa saus sambal tersebut tidak boleh untukdikonsumsi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh 100% sampel mengandung benzoat melebihi kadar maksimumyang telah ditetapkan dan 50% sampel mengandung sorbat dengan kadar di bawah ambang batas yang telahditentukan.Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnyaadalah melakukan analisis kadar benzoat dan sorbat pada sampel bahan pangan yang lain mengingat bahwa benzoatdan sorbat sering digunakan sebagai kombinasi pengawet dan diperbolehkan untuk digunakan dalam bahan pangan

    PENGARUH SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KADAR VITAMIN C PADA MINUMAN KEMASAN JAMBU BIJI MERAH YANG DIJUAL DIKOTA BEKASI

    Full text link
    Pendahuluan: Minuman kemasan jambu biji merah memiliki kandungan vitamin C. Vitamin C atau asam askorbat mempunyai sifat yang dapat larut dalam air dan dapat teroksidasi. Faktor yang mengoksidasi vitamin C, seperti suhu dan pH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap kadar vitamin C dalam minuman kemasan jambu biji merah yang dijual di kota Bekasi. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif menggunakan uji warna KMnO4 dan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 289 nm. Hasil: Kadar vitamin C paling tinggi terdapat pada pemanasan suhu 30C dan kadar terendah pada suhu 50C. Pada sampel A dengan perlakuan suhu 30C memiliki rata-rata kadar sebesar 86,674mg/250mL; suhu 40C 70,634 mg/250mL; suhu 50C 42,736 mg/250mL, pada sampel B suhu 30C 77,156 mg/250mL; suhu 40C 57,953 mg/250mL; suhu 50C 37,210 mg/250mL, pada sampel C suhu 30C 63,025 mg/250mL; suhu 40C 47,808 mg/250mL, suhu 50C 30,507 mg/250mL. Pengolahan dan Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu One Way ANOVA diperoleh 0,00 < 0,05. Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa suhu mempengaruhi kadar Vitamin C dalam minuman kemasan jambu biji

    142

    full texts

    155

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mitra Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇