Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Efektivitas Alternate Day Fasting Terhadap Profil Lipid Pada Pasien Non Alcoholic Fatty Liver Disease
NAFLD sering dikaitkan dengan dislipidemia (trigliserida tinggi, HDL rendah, VLDL tinggi) dan peningkatan kadar sitokin proinflamasi yang bersifat aterogenik dan mendorong perkembangan penyakit kardiovaskular. Potensi efek menguntungkan dari alternate-day fasting pada dislipidemia masih kontroversial. Kolesterol, total direct HDL, LDL, dan trigliserida telah terbukti berkurang dengan diet puasa, tetapi efek ini secara statistic tidak berbeda dari nilai awal. Dalam penelitian Cai et. al, 2019 ditemukan penurunan kadar trigliserida pada kelompok intervensi dua kali lipat lebih tinggi dari kelompok control (± 1,9% vs ± 1%). Akumulasi bukti menunjukkan bahwa penurunan berat badan >5% diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi lipid plasma dan factor glukoregulasi, oleh karena itu penurunan berat badan yang dicapai oleh diet kontrol mungkin tidak cukup besar untuk menimbulkan efek pada dislipidemia. Temuan pada pasien dengan ADF dibanding dengan kelompok kontrol, terdapat penurunan signifikan pada kadar LDL. Namun, tidak ada perubahan signifikan pada semua parameter lipid yang diukur (kolesterol total, LDL, HDL, dan TG) setelah 8 minggu protocol MACR (Modified Alternate-day Calorie Restriction). Ini mungkin dikarenakan durasi intervensi yang singkat dan tidak ada rejimen olahraga yang ditentukan. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau lebih dalam tentang peran alternate day fasting terhadap profil lipid pada pasien NAFLD. Pencarian literatur dilakukan dari artikel jurnal dengan rentang waktu 2013-2023 dengan database berupa Pubmed, Ebsco, Google Scholar, Science Direct, Medline, Cochrane, dan Hindawi. Penurunan enzim hati dapat dijelaskan dengan peningkatan lemak visceral dan steatosis di hati. Di sisi lain, peningkatan enzim hati yang paradoks telah diamati setelah puasa, namun peningkatannya minimal dan reversible saat pemberian makan ulang. Diketahui dari literatur bahwa autophagy terganggu pada NAFLD dan IF tampaknya telah mendorong proses pemulihan hepatosit. Namun, diketahui penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivasi PPARa dari puasa mendorong degradasi nuclear receptor co-repressor 1 (NCoR1) dan autophagy hati berikutnya.NAFLD is often associated with dyslipidemia (high triglycerides, low HDL, high VLDL) and increased levels of pro-inflammatory cytokines that are atherogenic and promote the development of cardiovascular disease. The potential beneficial effect of alternate-day fasting on dyslipidemia is controversial. Cholesterol, total direct HDL, LDL, and triglycerides have been shown to be reduced by fasting diets, but these effects were not statistically different from baseline. In the research of Cai et. al, 2019 found a decrease in triglyceride levels in the intervention group two times higher than the control group (± 1.9% vs ± 1%). Accumulating evidence suggests that >5% weight loss is required to increase plasma lipid concentrations and glucoregulatory factors, therefore the weight loss achieved by a control diet may not be large enough to have an effect on dyslipidemia. Findings in patients with ADF compared to the control group, there was a significant reduction in LDL levels. 1 However, there were no significant changes in all measured lipid parameters (total cholesterol, LDL, HDL, and TG) after 8 weeks MACR (Modified Alternate-day Calorie Restriction) protocol. This may be due to the short duration of the intervention and no defined exercise regimen. This study was conducted to review more deeply the role of alternate day fasting on lipid profiles in NAFLD patients. A literature search was carried out from journal articles with a period of 2013-2023 with databases in the form of Pubmed, Ebsco, Google Scholar, Science Direct, Medline, Cochrane, and Hindawi. Decreased liver enzymes can be explained by increased visceral fat and steatosis in the liver. On the other hand, paradoxical increases in liver enzymes have been observed after fasting, but the increases are minimal and reversible on repeated feedings. It is known from the literature that impaired autophagy in NAFLD and IF appears to promote hepatocyte recovery. However, it is known that recent studies have shown that PPARa activation from fasting promotes nuclear receptor co-repressor 1 (NCoR1) degradation and subsequent hepatic autophagy
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Kb 3 Bulan Terhadap Kepatuhan Jadwal Suntik Di Desa Sudirejo Kecamatan Namo Rambe
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utama dan yang lain. Selain itu, pelayanan kesehatan reproduksi juga responsif terhadap berbagai tahap kehidupan reproduksi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain studi cross sectional yang digunakan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Kontrasepsi KB Suntik 3 Bulan Terhadap Kepatuhan Jadwal Suntik Ulang. Penelitian dilaksanakan Di Desa Sudirejo Kecamatan Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang bulan Januari-Juli Tahun 2022 dimana jumlah sampel sampel 38 orang dengan cara pengambilan sampel total sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis bivariate dengan uji chi square pada ? = 5%. Hasil penelitian bahwa dapat diketahui bahwa dari 38 responden mayoritas responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 21 orang (55,3%), mayoritas responden memiliki sikap positif sebanyak 21 orang (55,3%). mayoritas responden tidak patuh melakukan suntik ulang 21 orang (56,3%), Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan Kepatuhan jadwal Suntik Ulang dengan nilai uji chi square 0,003, Ada hubungan antara Sikap ibu dengan Kepatuhan jadwal Suntik Ulang dengan nilai uji chi square 0,018. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk lebih aktif memberikan informasi jenis alat kontrasepsi supaya dapat memilih alat kontrasepsi yang paling tepat.Family planning (KB) is one of the most basic and primary preventive health services. To optimize the health benefits of family planning, these services must be provided for women by combining and fulfilling the needs of the main reproductive health services and others. In addition, reproductive health services are also responsive to various stages of a woman's reproductive life. Improving and expanding family planning services is one of the efforts to reduce the high maternal morbidity and mortality due to pregnancy experienced by women. This type of research is an analytic study with a cross-sectional study design that is used to determine the relationship between knowledge and attitudes of mothers about 3-month injection contraception against adherence to repeat injection schedules. The research was carried out in Sudirejo Village, Namo Rambe District, Deli Serdang Regency in January-July 2022 where the number of samples was 38 people by taking total sampling. Data analysis was performed using bivariate analysis with the chi scuare test at ? = 5%. The results of the study showed that out of 38 respondents, the majority of respondents had good knowledge, 21 people (55.3%), the majority of respondents had a positive attitude, 21 people (55.3%). the majority of respondents did not adhere to re-injection 21 people (56.3%). Thus it can be concluded that there is a relationship between mother's knowledge and repeat injection schedule compliance with a chi square test value of 0.003, there is a relationship between mother's attitude and repeat injection schedule compliance with a value chi square test 0.018. It is hoped that health workers will be more active in providing information on types of contraceptives so they can choose the most appropriate contraceptive method
The Occurrence of Stunting during The COVID-19 Pandemic at Integrated Health Center: An Observational Study in Mekarjaya, Depok, West Java
Pandemi COVID-19 dapat meningkatkan tantangan pemenuhan zat gizi, terutama untuk kelompok balita di negara dengan kondisi karakteristik dengan pendapatan rendah-mencegah termasuk Indonesia. Gangguan infeksi pada anak-anak, termasuk balita dapat diperburuk oleh kejadian malnutrisi dan berkontribusi pada kemungkinan transmisi virus SARS-CoV-2.
Posyandu menjadi ujung tombak dalam program pemantauan status gizi balita, termasuk di masa pandemi. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status gizi pada balita saat pandemi covid-19 di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) “Kuntum Mekar A RW 21” di Mekarjaya, Kota Depok, Jawa Barat. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder dari kegiatan penimbangan balita yakni: tinggi/panjang badan, jenis kelamin, dan usia. Hasil penelitian dengan total jumlah subjek 135 balita yang data hasil pengukurannya dapat diolah. Subyek terdiri dari 1 bayi baru lahir (0-3 bulan) yang tidak mengalami kategori stunting, 27 anak (4-12 bulan) dengan persentase stunting 7,4% dan stunting parah 3,7%, 31 balita (usia 13-23 bulan) dengan persentase stunting 12,9% dan stunting parah 3,2%. Dua puluh tujuh anak usia (24-35 bulan) persentase stunting 14,8%, 22 anak usia (36-47 bulan) persentase stunting 22,7% dan stunting parah 4,5%, dan untuk kelompok umur 47-59 bulan, 27 anak, persentase stunting 14,8%. Total prevalensi stunting di wilayah kerja Posyandu Kuntum Mekar A RW 21 Mekarjaya, Depok adalah 16,3%. Pendekatan penanganan stunting memerlukan kerjasama multisektor dan berkelanjutan untuk menciptakan generasi emas tahun 2045.The COVID-19 pandemic could challenge the nutrition fulfillment case, especially for under five-year-old children in low-middle-income countries, including Indonesia. Infection in children could be worsened by malnutrition, contributing to virus transmission. Local healthcare facilities monitored the nutritional status of under-five-year-old children, particularly during the pandemic. This study aimed to identify the nutritional status of under-five-year-old children during the COVID-19 pandemic in the Integrated Health Post "Kuntum Mekar A RW 21" in Depok District, West Java. This research used secondary data analysis: height/length, age, and sex. The study results involved 135 data from subjects included in the analysis. Those are one newborn (0-3 months old) who did not experience stunting, 27 toddlers (4-12 months old) with a stunting percentage of 7.4% and severe stunting of 3.7%, 31 children (13-23 months old) with a stunting prevalence of 12.9% and severe stunting 3.2%. Twenty-seven children ((24-35 months old) had a stunting prevalence of 14.8%, 22 children (35-47 months old) had a prevalence of stunting at 22,7%, and 4,5% of them were severe stunting. Last, the children aged 47-59 months old had a prevalence of stunting at 14.8%. The total prevalence of stunting in the Posyandu Kuntum Mekar A RW 21 Mekarjaya, Depok, was 16.3%. The stunting eradication program required multi sectors approach to reach the goal of gold generation in 2045
Early Identification Of The N-Acetyltransferase 2 (Nat2) Gene Polymorphism In The Batak
Indonesia memiliki berbagai macam suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang terdiri lebih dari 300 etnik. Penelitian tentang TB pada suku Jawa (40%) Sunda (15,50%), Melayu (3,7%), Batak (3,6%), Madura (3%) dan Betawi (2,88%). Tujuannya untuk mengetahui adanya polimorfisme pada gen NAT2 subyek sehat suku Batak beserta tipe polimorfisme dan jenis tipe asetilatornya. Dampak polimorfisme NAT2 yaitu toksisitas obat, neuropati perifer.
Metode menggunakan metode RFLP dengan pengambilan sampel 10 suku Batak. Sampel darah di isolasi DNA menggunakan Wizard® Genomic DNA Purification Kit kemudian dilakukan PCR RFLP dengan menggunakan enzim restriksi : Taq1, Kpn1, BamH1 dan dielektroforesis.
RFLP enzim restriksi Kpn1 menggunakan marker berukuran 100bp. Taq1 didapatkan NAT2*4 dan alel mutan NAT2*6A. BamH1 didapatkan NAT2*4 dan alel mutan NAT2*7B. Terdapat polimorfisme gen NAT2 pada suku Batak yaitu NAT2*4/*5B, NAT2*4/*6A, NAT2*4/*7B, NAT2*5B/*5B dan NAT2*7B/*7B dan tipe polimorfisme gen NAT2 pada suku Batak yaitu asetilator sedang NAT2*4/*5B (20%), NAT2*4/*6A (33,3%) dan pada NAT2*4/*7B (20%), asetilator lambat NAT2*5B/*5B (13,3%) dan NAT2*7B (13,3%). Tipe asetilator pada suku Batak provinsi Sumatra Utara yaitu asetilator sedang dan lambat.Indonesia has various ethnic groups spread from Sabang to Merauke consisting of more than 300 ethnic groups, Research on the TB gene in Javanese (40%) Sundanese (15.50%), Malay (3.7%), Batak (3.6%), Madura (3%) and Betawi (2.88%). The aim is to determine the presence of polymorphisms in the NAT2 gene of healthy Batak subjects along with the types of polymorphisms and types of acetylators. The impact of NAT2 polymorphisms are drug toxicity, peripheral neuropathy.
The method uses the RFLP method with a sample of 10 Batak tribes. Blood samples were isolated by DNA using the Wizard® Genomic DNA Purification Kit then RFLP PCR using restriction enzymes: Taq1, Kpn1, BamH1 and electrophoresis.
The RFLP of the Kpn1 restriction enzyme used a 100bp marker. Taq1 obtained NAT2*4 and the mutant allele NAT2*6A. BamH1 obtained NAT2*4 and the mutant allele NAT2*7B. There are NAT2 gene polymorphisms in the Batak tribe, namely NAT2*4/*5B, NAT2*4/*6A, NAT2*4/*7B, NAT2*5B/*5B and NAT2*7B/*7B and the type of NAT2 gene polymorphism in the Batak tribe. namely medium acetylator NAT2*4/*5B (20%), NAT2*4/*6A (33.3%) and in NAT2*4/*7B (20%), slow acetylator NAT2*5B/*5B (13,3%) and NAT2*7B (13.3%). The types of acetylators in the Batak tribe of North Sumatra province are medium and slow acetylators
Efek Antihipergklikemi dan Perbaikan Fungsi Ginjal, Ekstrak Etanol Daun Matoa (Pometia Pinnata J.R & G.Forst) dengan Parameter Kadar Kreatinin dan Histopatologi pada Tikus Diabetes Nefropati yang Diinduksi Streptozotosin-Nikotinamid
Daun matoa (Pometia pinnata J.R. & G. Forst) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai pengobatan di Indonesia. Tanaman matoa telah digunakan oleh masyarakat Asia (Papua Nugini, Malaysia dan Indonesia) sebagai salah satu obat tradisional dan empiris yang memiliki banyak kegunaan dalam pengobatan antihipertensi, antioksidan dan antibakteri. Salah satu kegunaannya adalah sebagai obat antidiabetes. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui efek antihiperglikemi dan pengaruh pemberian ekstrak etanol terhadap daun matoa dapat mempengaruhi kreatinin, dan menurunkan kadar glukosa darah yang telah diinduksi STZ-NA. serta hasil histopatologi ginjal. Subyek penelitian eksperimental dengan menggunakan 30 ekor tikus jantan wistar yang dikondisikan DM tipe 2 selama 24 hari. Tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok I normal, kelompok II kontrol negatif STZ-NA 65 mg/kg BB dan 230 mg/kg BB, kelompok III kontrol positif glibenklamid 0,45 mg/kg BB, kelompok IV ekstrak etanol daun matoa 98 mg/kg BB, kelompok V ekstrak daun matoa 196 mg/kg BB, kelompok VI ektrak daun matoa 392 mg/kg BB. Semua kelompok diberikan induksi STZ-NA kecuali kelompok normal diberikan pakan standar. Pemberian ekstrak sediaan uji dilakukan selama 14 hari. Kesimpulan ekstrak daun matoa (Pometia pinnata J.R. & G. Forst) memiliki efek dalam menurunkan kadar glukosa darah dan kadar kreatinin terhadap fungsi ginjal tikus, serta mampu memperbaiki pada gambaran histopatologi ginjal tikus diabete nefropati.
Kata kunci: Ekstrak etanol daun matoa, serum kreatinin, diabetes nefropati dan histopatologi ginjal. .Matoa leaf (Pometia pinnata J.R. & G. Forst) is one of the plants used as medicine in Indonesia. The matoa plant has been used by Asian people (Papua New Guinea, Malaysia and Indonesia) as a traditional and empirical medicine which has many uses in antihypertensive, antioxidant and antibacterial treatment. One of its uses is as an antidiabetic drug. The purpose of this study was to determine the antihyperglycemic effect and the effect of ethanol extract on matoa leaves that could affect serum creatinine and reduce blood glucose levels induced by STZ-NA. and renal histopathology. Experimental research subjects used 30 male wistar rats conditioned with type 2 DM for 24 days. Rats were divided into 6 groups, namely group I normal, group II negative control STZ-NA 65 mg/kg body weight and 230 mg/kg body weight, group III positive control glibenclamide 0.45 mg/kg body weight, group IV ethanol extract of matoa leaves 98 mg /kg BW, group V matoa leaf extract 196 mg/kg BW, group VI matoa leaf extract 392 mg/kg BW. All groups were given STZ-NA induction except the normal group were given standard feed. The test preparation extract was administered for 14 days. In conclusion, matoa leaf extract (Pometia pinnata J.R. & G. Forst) has an effect on reducing blood glucose levels and creatinine levels on rat kidney function, and is able to improve the histopathological picture of the kidney in diabetic nephropathy rats.
Keywords: Ethanol extract of matoa leaves, serum creatinine, diabetic nephropathy and kidney histopathology
Penerapan Program PHBS Dalam Penanggulangan DBD Di Kecamatan Medan Selayang
Permenkes No. 2269/MENKES/PER/XI/2011, yang mengatur upaya mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat di Indonesia, mengacu pada praktik manajemen PHBS yang dimulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh kurangnya pelaksanaan Program PHBS, oleh karena itu penting untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pelaksanaan Program PHBS dengan pemberantasan penyakit DBD di Kecamatan Medan Selayang. Penelitian ini menggunakan strategi pengambilan sampel secara acak. Populasi penelitian terdiri dari semua penduduk yang terkena DBD di Kecamatan Medan Selayang; sampel penelitian terdiri dari 69 orang dari populasi yang tersedia. Temuan penelitian ini adalah Berdasarkan hasil uji chi-square p = 0,009, Ho ditolak dan Ha diterima karena p < 0,05. Cara pencegahan DBD memiliki hubungan yang signifikan dengan pelaksanaan Program PHBS. Kesimpulannya, diketahui bahwa pelaksanaan program PHBS lemah, dengan tingkat pencegahan DBD sebesar 20,3%, dan PHBS tidak memadai, dengan tingkat pencegahan DBD sebesar 11,6%. Nilai p sebesar 0,009 diperoleh dari uji chi-square, yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara cara pencegahan DBD dan pelaksanaan program PHBS; perilaku pencegahan DBD berisiko 2,6 kali lebih besar terhadap pelaksanaan program PHBS.Permenkes or Minister of Health Regulation No. 2269/MENKES/PER/XI/2011, which regulates efforts to promote clean and healthy living behavior in Indonesia, refers to PHBS management practices such as assessment, planning, implementation, monitoring, and evaluation. One of the diseases that arises from the lack of proper implementation of the PHBS program is dengue hemorrhagic fever. This research uses the accidental sampling method. The survey population consisted of all people in Medan Selayang district who were affected by DHF and the survey sample consisted of 69 people from the available population. The study's findings were based on the chi-square analysis test, which yielded a p value of 0.009, indicating that the Ho value was denied and Ha was accepted. There is a substantial connection between preventing DHF and implementing the PHBS program. The conclusion is that the PHBS program's implementation method is very poor, with adequate DHF prevention of 11.7% and acceptable DHF prevention of 20.3%. A p-value of 0.009 was derived from the chi-square test, indicating that there is a significant relationship between CDI prevention methods and the implementation of the PHBS program. The behavior to prevent DHF is 2.6 times riskier than implementing the PHBS program
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA RISIKO DI PUSKESMAS LINGGAR KABUPATEN BANDUNG
Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dapat menyebabkan masalah terutama dalam bidang kesehatan. Proses degeneratif pada menyebabkan lansia terjadinya penurunan kondisi fisiologi. Pada lansia tekanan darah akan cenderung tinggi sehingga lansia beresiko mengalami hipertensi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan hipertensi salah satunya kualitas tidur. Kualitas tidur adalah suatu keadaan dimana tidur yang dijalani seseorang menghasilkan kesegaran dan kebugaran pada saat terbangun. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia risiko di Puskesmas Linggar Kabupaten Bandung. Metode penelitian analitik kolerasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan menggunakan total sampling dengan responden sebanyak 86 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner PQSI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk mengetahui kualitas tidur dan pengukuran tekanan darah menggunakan spyhgmomanometer dan stetoskop. Metode analisa data yang digunakan yaitu uji spearmen rank. Hasil analisis diperoleh sebagian besar responden sebanyak 64 responden (74,4%) memiliki kualitas tidur buruk dan sebagian besar responden sebanyak 30 responden (34,9%) mengalami hipertensi stadium 1. Hasil uji spearmen rank diperoleh nilai p value (0,000) < (0,05), maka H1 diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia risiko di Puskesmas Linggar Kabupaten Bandung. Dari penelitian ini diharapkan lansia risiko dapat meningkatkan kualitas tidur untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah dengan cara mengubah kebiasaan minum terlalu banyak di malam hari.Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dapat menyebabkan masalah terutama dalam segi kesehatan. Proses degeneratif pada lansia menyebabkan terjadinya penurunan kondisi fisiologi. Pada lansia tekanan darah akan cenderung tinggi sehingga lansia beresiko mengalami hipertensi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan hipertensi salah satunya kualitas tidur. Kualitas tidur adalah suatu keadaan dimana tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran di saat terbangun . Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia risiko di Puskesmas Linggar Kabupaten Bandung. Metode penelitian analitik kolerasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan menggunakan total sampling dengan responden sebanyak 86 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner PQSI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk mengetahui kualitas tidur dan pengukuran tekanan darah menggunakan spyhgmomanometer dan stethoscope. Metode analisa data yang digunakan yaitu uji spearmen rank. Hasil analisis didapatkan sebagian besar responden sebanyak 64 responden (74,4%) memiliki kualitas tidur buruk dan sebagian besar responden sebanyak 30 responden (34,9%) mengalami hipertensi stadium 1. Hasil uji spearmen rank didapatkan nilai p-value (0,000) < (0,05), maka H1 diterima. Hal ini berarti terdapat hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia risiko di Puskesmas Linggar Kabupaten Bandung. Dari penelitian ini diharapkan lansia risiko dapat meningkatkan kualitas tidur untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah dengan cara merubah kebiasaan minum terlalu banyak dimalam hari
Phenomenological Study of Patient and Family Perceptions of Diabetic Foot Wounds
Kondisi luka kaki diabetes memiliki berbagai permasalahan penyerta seperti luka yang tidak kunjung sembuh, bau luka, dan banyak eksudat luka, bahkan ancaman amputasi dan kecacatan. Respons pasien dan keluarga sangat bervariasi terhadap luka kaki diabetes yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi pasien dan keluarga tentang luka kaki diabetes. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 12 partisipan yang merupakan keluarga dan pasien penyandang luka kronis kaki diabetes. Data yang telah diverbatim dianalisis dengang tahapan Colaizi. Hasil: Penelitian ini merumuskan 4 tema yaitu (1) pencetus luka kaki diabetes sederhana namun akibatnya kompleks, (2) semua penyandang DM berisiko mengalami luka kaki diabetes, (3) penyandang luka kaki diabetes menghadapai ancaman kecacatan dan amputasi, (4) luka kaki diabetes menimbulkan banyak beban. Penyandang luka kaki diabetes memiliki persepsi positif dan negatif terhadap luka yang dialami. Dampak dari persepsi yang diyakini terhadap proses penyembuhan luka perlu diidentifikasi lebih lanjut.The condition of diabetic foot ulcers has various accompanying problems such as wounds that don't heal, wound odor, and lots of wound exudate, even the threat of amputation and disability. Patient and family responses vary greatly to the diabetic foot ulcers they experience. This study aims to explore patient and family perceptions of diabetic foot ulcers. This research is a type of qualitative research using a phenomenological approach. In-depth interviews were conducted with 12 participants who were family and patients with chronic diabetic foot ulcers. Data that has been analyzed verbatim with the Colaizi stage. The results of this study formulated 4 themes, namely (1) the predispose of diabetic foot ulcers is simple but complex, (2) all people with DM are at risk of developing diabetic foot ulcers, (3) people with foot injuries diabetes threaten the threat of disability and amputation, (4) diabetic foot ulcers cause a lot of burden. People with diabetic foot ulcers have positive and negative perceptions of their wounds. The impact of the perceptions that are believed to the wound healing process needs to be further identified
Inisiasi Pengembangan Metode Asuhan Keperawatan Primer di Ruang Rawat inap Rumah Sakit X Depok
Latar Belakang: Asuhan keperawatan merupakan salah satu indikator dalam menentukan kualitas dalam pelayanan. Metode asuhan keperawatan primer merupakan asuhan profesional yang komprehensif, dalam praktek keperawatan di rumah sakit pelaksanaan metode keperawatan primer belum optimal. Tujuan: laporan kasus bertujuan merancang pelaksanaan perubahan berencana dalam inisiasi pengembangan metode asuhan keperawatan primer di ruang rawat inap. Metode: dengan menggunakan Case Report, pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. kemudian dilakukan analisis melalui pendekatan strength, weakness, opportunity, threats (SWOT) dan Fishbone, selanjutkan akan dirumuskan Plan of Action (POA) sehingga dapat di implementasi dan evaluasi Hasil: Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diperoleh bahwa belum optimalnya pelaksanaan metode Asuhan Keperawatan Primer di ruang rawat inap, sehingga dalam fungsi perencanaan adanya pembuatan panduan metode asuhan keperawatan primer yang akan menggunakan pendekatan perubahan berencana teori Lewin’s three step model. Rekomendasi: Pendekatan perubahan berencana Lewin’s three step model dapat digunakan serta dilanjutkan oleh rawat inap rumah sakit dengan pengembangan metode asuhan keperawatan primer.Background: Nursing care is an indicator in determining the quality of service. The primary nursing care method is a comprehensive professional care, in nursing practice in hospitals the implementation of the primary nursing method is not optimal. Objective: the case report aims to design the implementation of planned changes in the initiation of the development of primary nursing care methods in inpatient rooms. Method: using the Case Report, collecting data through questionnaires, interviews, and observations, then analyzing through the approaches of strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT) and Fishbone, then formulated a Plan of Action (POA) so that it can be implemented and evaluated Results: Based on the results of data collection it can be obtained that the implementation of the Primary Nursing Care method in the inpatient room is not yet optimal, so that in the planning function there is a guideline for care methods primary nursing which will use the change planning approach to Lewin's three step model theory. Recommendation: Lewin's three step model change planning approach can be used and continued by hospital inpatients with the development of primary nursing care method
Efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi di ruang bayi blud rumah sakit Propinsi Sulawesi Tenggra
Efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi di ruang bayi blud rumah sakit Propinsi Sulawesi Tenggr