Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Tindakan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Pada Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Drugs are substances/drugs obtained through plants or non-plants either synthetically or semi-synthetically. Abuse of Narcotics and Addictive Substances (Drugs) in Indonesia is a very concerning problem, especially for today's young people who continue to be close to Drugs. The purpose of this study was to identify the bond between knowledge and behavior with drug prevention actions in public health students at the State Islamic University of North Sumatra. This study has a cross sectional design and is quantitative in nature. The research population was 2020 Public Health Study Program Students at the State Islamic University of North Sumatra. With a population of 450 students, and a sample size of 40 students using the simple random sampling method. With p value = 0.037 (p value 0.05), the results of this study show that there is a relationship between knowledge and prevention of drug use. In addition, attitudes and drug addiction prevention measures are related to a p value of 0.032 (p value of 0.05).Narkoba merupakan zat/obat yang didapatkan melalui tanaman atau bukan tanaman baik itu secara sintesis atau semi sintetis. Penyalahgunaan Narkotika serta Zat Adiktif( Narkoba) di Indonesia ialah permasalahan yang sangat memprihatinkan, paling utama untuk anak muda dikala ini yang terus menjadi dekat dengan Narkoba. Tujuan riset ini merupakan mengenali ikatan antara pengetahuan serta perilaku dengan aksi penangkalan penyalahgunaan narkoba pada mahasiswa kesehatan masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Penelitian ini memiliki desain cross-sectional dan bersifat kuantitatif. Populasi penelitian adalah Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara 2020.Dengan populasi 450 mahasiswa, dan total sampel 40 Mahasiswa dengan metode simple random sampling. Dengan p value = 0,037 (p value 0,05), Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan pencegahan penggunaan narkoba. Selain itu, sikap dan tindakan pencegahan penyalahgunaan narkoba memiliki keterkaitan dengan nilai p 0,032 (nilai p 0,05)
Pengaruh Pemberian Gel Ekstrak Daun Pegagan (Cantella asiatica) sebagai Peningkat Neovaskularisasi, Fibroblast dan Epitalisasi dalam Penyembuhan Luka Tikus Jantan
Penyembuhan luka (wound healing) adalah suatu bentuk proses untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada struktur jaringan kulit. Dalam proses penyembuhan luka diperlukan proses neovaskularisasi, epitalisasi dan fibroblas untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Daun pegagan (Centella asiatica) berperan sebagai penyembuh luka yang mengandung senyawa antioksidan, agen antimikroba dan agen sintesis kolagen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemberian gel ekstrak daun pegagan dalam meningkatkan neovaskularisasi, epitelisasi, dan jumlah fibroblas pada tikus jantan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental Post test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) dewasa yang berjumlah 36 ekor berjenis kelamin jantan dan sehat, dengan umur 24 bulan dan berat 350-550 gram. Pada penelitian ini sampel dengan jumlah sebanyak 26 ekor tikur dibagi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang diadaptasi selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji komparabilitas menunjukkan vaskularisasi diperoleh nilai sig 0,003 (0,003<0,05) dengan nilai rerata vaskularisasi setelah perlakuan 10 hari adalah 0.44±0.53, pada epitaliasi diperoleh nilai sig 0,003 (0,003<0,05) dengan nilai rerata epitaliasi setelah perlakuan 10 hari adalah 3.00±0.00, pada fibroblas diperoleh nilai sig 0,000 dengan nilai rerata fibroblast setelah perlakuan 10 hari adalah 0.56±0.53. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel ekstrak daun pegagan dalam meningkatkan neovaskularisasi, epitelisasi, dan jumlah fibroblas pada tikus jantan.Wound healing is a form of process to repair damage that occurs in the skin tissue structure. In the wound healing process, neovascularization, epithelialization and fibroblast processes are needed to accelerate the wound healing process. Gotu kola leaves (Centella asiatica) acts as a wound healer which contains antioxidant compounds, antimicrobial agents and collagen synthesis agents. This study aims to find out how administration of Centella asiatica leaf extract gel increases neovascularization, epithelialization, and the number of fibroblasts in male rats. This research uses experimental research type Post test Only Control Group Design. The population in this study were 36 adult white rats (Rattus norvegicus), male and healthy, aged 24 months and weighing 350-550 grams. In this study, a sample of 26 rats was divided into 2 groups, namely the control group and the treatment group and adapted for 10 days. The results showed that based on the comparability test showing vascularization, a sig value of 0.003 (0.003 <0.05) was obtained with an average value of vascularity after 10 days of treatment was 0.44 ± 0.53, in epithelialization a sig value of 0.003 (0.003 <0.05) with an average value of epithelialization after 10 days of treatment was 3.00 ± 0.00, for fibroblasts a sig value of 0.000 (0.000 <0.05) was obtained with the mean value of fibroblasts after 10 days of treatment was 0.56 ± 0.53. based on the results of the study showed that administration of Centella asiatica leaf extract gel increased neovascularization, epithelialization, and the number of fibroblasts in male rats
Hubungan Konsumsi Antiplatelet Dengan Kejadian Perdarahan Intrakranial
Terapi antiplatelet semakin sering digunakan terapi pencegahan sekunder penyakit kardiovaskular dan mengurangi risiko kejadian iskemik berulang. Penggunaan antiplatelet sering dikaitkan dengan risiko terjadinya perdarahan intrakranial. Perdarahan intrakranial merupakan perdarahan yang terjadi di dalam kranium, terbagi atas beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda. Pendapat mengenai peningkatan risiko perdarahan intrakranial yang diakibatkan oleh terapi antiplatelet tidak sepenuhnya disetujui oleh para peneliti. Faktor risiko lainnya seperti usia lanjut dianggap lebih berisiko dalam terjadinya perdarahan intrakranial. Sumber literatur yang digunakan yaitu Pubmed, Google scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science direct dan Cochrane. Setelah ditemukan berbagai literatur yang sesuai maka penulisan literatur dimulai. Obat-obatan antiplatelet digunakan sebagai terapi pencegahan sekunder penyakit kardiovaskular dan mengurangi risiko terjadinya kejadian iskemik berulang. Penggunaan antiplatelet dianggap sebagai faktor risiko terjadinya perdarahan intrakranial bagi pasien yang mengalami trauma maupun nontraumatik. Pendapat ini belum sepenuhnya disetujui oleh para peneliti. Berdasarkan penelusuran literatur yang telah dilakukan, maka penggunaan antiplatelet diketahui tidak berhubungan dengan terjadinya perdarahan intrakranial baik yang disebabkan oleh trauma maupun nontraumatik. Perdarahan intrakranial merupakan suatu keadaan dengan proses patologis yang kompleks. Perdarahan intrakranial diketahui tidak berhubungan dengan penggunaan antiplatelet.Antiplatelet therapy is increasingly being used for secondaryprevention of cardiovascular disease and reducing the risk of recurrentischemic events. The use of antiplatelets is often associated with therisk of intracranial bleeding. Intracranial haemorrhage is bleedingwithin the cranium, divided into several types with differentcharacteristics. The researchers do not fully agree upon opinionsregarding the increased risk of intracranial bleeding resulting fromantiplatelet therapy. Other risk factors, such as old age, areconsidered more at risk in intracranial bleeding. Sources of literatureused are Pubmed, Google Scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science Directand Cochrane. After finding a variety of appropriate literature, thewriting of the literature began. Antiplatelet drugs are used forsecondary prevention of cardiovascular disease and to reduce the risk ofrecurrent ischemic events. Antiplatelet use is considered a risk factorfor intracranial haemorrhage in trauma and nontraumatic patients.Researchers have not fully agreed with this opinion. Based on aliterature search that has been carried out, it is known that the use ofantiplatelets is not associated with the occurrence of intracranialbleeding caused by both trauma and nontraumatic causes. Intracranialhemorrhage is a condition with a complex pathological process.Intracranial bleeding is known to be unrelated to antiplateletuse
Strategi Implementasi Quality Governance di Puskesmas: Literature Review
Sebanyak 5,7 sampai 8,4 juta kematian dikaitkan dengan perawatan berkualitas buruk setiap tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Untuk menjamin kualitas mutu pelayanan diperlukan suatu mekanisme akreditasi, agar implementasi tata kelola mutu puskesmas dapat optimal dan terjamin kesinambungannya maka diperlukan dukungan penyelenggaraan mulai dari input yang bermutu, proses yang bermutu dan akhirnya menghasilkan output berupa produk layanan kesehatan yang bermutu. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran implementasi tata kelola mutu di puskesmas. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan mengkaji secara kritis didalam tubuh literatur berorientasi akademik. Sumber literatur ada 8 jurnal penelitian yang disesuaikan dengan permasalahan literatur review. Metode Analisa data menggunakan anotasi bibliografi (annotated bibliography) dimana setiap sumber akan ditarik simpulan terkait dengan yang tertulis. Hasil telaah krisis diketahui variabel input yaitu komitmen, kepemimpinan, pengorganisasian merupakan dukungan penyelenggaraan yang berpengaruh dan telah dilaksanakan untuk menghasilkan layanan yang berkualitas. Pada variabel proses, Puskesmas mengalami permasalahan dalam siklus PDSA dimana dokumen mutu yang komprehensif diketahui tidak lengkap, strategi implementasi Quality Assurance (QA) dengan pendekatan PDSA (Plan, Do, Study, Action) yang diterapkan lebih menekankan pada proses monitoring atau mempelajari hasil (studi) dari pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, selanjutnya untuk variable output, fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat untuk menerapkan sistem manajemen mutu yang berkelanjutan agar dapat terus meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanannya.income countries. To guarantee the quality of service quality, an accreditation mechanism is needed, so that the implementation of quality governance at the public health centers can be optimal and its continuity guaranteed, it requires implementation support starting from quality inputs, quality processes and finally producing output in the form of quality health service products. This article aims to provide an overview of the implementation of quality governance in public health centers. This study used the library research method by critically examining the body of academic-oriented literature. Literature sources are 8 research journals that are adapted to the problems of the literature review. Methods of data analysis using annotated bibliography where each source will draw conclusions related to what is written. The results of the crisis analysis revealed that the input variables, namely commitment, leadership, and organizing, were influential implementation supports and had been implemented to produce quality services. In the process variable, the Community Health Center experiences problems in the PDSA cycle where comprehensive quality documents are known to be incomplete, the Quality Assurance (QA) implementation strategy with the PDSA approach (Plan, Do, Study, Action) which is applied places more emphasis on the process of monitoring or studying results (study ) from the implementation of planned activities, then for output variables, public health service facilities to implement a sustainable quality management system to continue to improve and maintain the quality of their services
The Pathogenesis of Fungal Coinfections in COVID-19 Cases: A Literature Review
Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a disease that attacks the human respiratory tract caused by the SARS-CoV2 virus. Critically ill patients admitted to the ICU, require a ventilator or are hospitalized for a long time are susceptible to fungal coinfection. Several fungi were detected to cause coinfection with COVID-19, such as Candida spp, Aspergillus spp, Mucor spp, and Cryptococcus spp. Research on the mechanism of fungal infection in COVID-19 patients still requires further research, but several possibilities can be associated with both. Several factors that can cause fungal coinfection, including the use of corticosteroids, ventilators, and oxygen masks in COVID-19 patients. The condition of immune dysregulation in COVID-19 patients causes the patient’s body to be unable to fight fungal infections. Some prevention can be done by regularly coordinating the early detection of fungal infections in COVID-19 patients to reduce risk factors and improve routine treatment protocols. If the patient has a fungal infection, treatment can be done using some of the recommended drug combinations. In addition, to maintain the cleanliness of medical devices, especially ventilators, the cleanliness of hospital wards, and the process of handling COVID-19 patients, it is also necessary to pay attention to preventing the transmission of COVID-19 hospitalized patients.Penyakit virus corona tahun 2019 (COVID-19), yang menyerang sistem pernapasan manusia, disebabkan oleh virus SARS-CoV2. Pasien yang sakit kritis lebih mungkin mengalami koinfeksi jamur jika mereka dirawat di rumah sakit dalam waktu lama, memerlukan ventilator, atau dirawat di ICU. Banyak jamur, seperti spesies Candida, spesies Aspergillus, spesies Mucor, dan spesies Cryptococcus, telah dikaitkan dengan koinfeksi COVID-19. Penelitian tentang mekanisme koinfeksi jamur pada pasien COVID-19 masih memerlukan penelitian lebih lanjut, namun ada beberapa kemungkinan yang dapat mengaitkan keduanya. Penggunaan kortikosteroid, ventilator dan masker oksigen pada pasien COVID-19 dapat menjadi salah satu jalan terjadinya koinfeksi fungal. Kondisi disregulasi imun pada pasien COVID-19 menyebabkan tubuh pasien tidak mampu melawan infeksi fungal. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengkoordinasikan deteksi dini infeksi fungal pada pasien COVID-19 secara rutin untuk mengurangi faktor rsiiko dan meningkatkan protokol perawatan rutin. Apabila pasien sudah terkena koinfeksi fungal dapat dilakukan pengobatan dengan menggunakan beberapa kombinasi obat yang disarankan. Selain itu, dalam upaya menjaga kebersihan alat kesehatan khususnya ventilator, kebersihan bangsal rumah sakit dan proses penanganan limbah pasien COVID-19, perlu juga memperhatikan pencegahan penularan jamur pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit
Pengaruh Pemberian Beras Analog Umbi Gembili (Dioscorea esculenta) Terhadap Kadar Trigliserida Pada Tikus Diabetes Melitus Tipe 2
Background: Triglycerides are a type of fat in the body formed from fat and glycerol. Triglyceride levels are influenced by diet consumed. Gembili Tuber Rice Analog contains inulin fiber and is a prebiotic that can reduce triglyceride levels in mice with type 2 diabetes. Objective: To determine the effects of administration of gembili root rice analogs on triglyceride levels in type 2 diabeticrats. Method: This type of research is truly experimental with a pre-test post-test control group design. The model used wasmale Albino Wistar rats with a total of 28 rats divided into 4 treatment groups. Rice treatment similar to gembili tubers iscarried out for 14 days. Triglyceride concentrations were tested using an enzymatic colorimetric method (GPO-PAP). Effects of different diets of Gembili rice on triglyceride levels using the Kruskal Wallis test and different doses of Gembilirice on triglyceride levels calculated using a one-way Anova test-t. Results: There was an effect of the gembilituber rice diet: there was a significant reduction in triglyceride levels (p<0.001) in type 2 diabetic rats when treated with rice at a similar dose of gembilituber of 4.16 and 6.17 g/mouse/day. Treatment I by administering a dose of gembili tuber rice analogue 4.16 g/mouse/day, triglyceride concentration decreased by 26.67mg/dL and treatment II by administration of a dose of tuber rice analogue gembili 6.17 g/mouse/day, triglyceride leveldecreased by 38.35 mg/dL. Conclusion: Administration of rice analogs with gembili tubers reduced the triglyceride levels of mice with type 2diabetes, reducing them by 20 to 30%.Keywords: Diabetes mellitus, Triglycerides, Tuber gembili.Latar Belakang : Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak didalam tubuh yang terbentuk dari lemak dan gliserol. Kadar trigliserida dipengaruhi oleh diet makanan yang dikonsumsi, khususnya asupan serat pangannya. Beras analog umbi gembili memiliki kandungan serat inulin dan menjadi prebiotik yang dapat menurunkan kadar trigliserida tikus diabetes mellitus tipe 2. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian beras analog umbi gembili terhadap kadar trigliserida pada tikus diabetes mellitus tipe 2. Metode : Jenis penelitian ini true experimental dengan pre test-post test control grup design. Sampel yang digunakan tikus Albino Wistar jantan dengan total 28 ekor tikus dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan. Perlakuan pemberian beras analog umbi gembili dilakukan selama 14 hari. Pemeriksaan kadar trigliserida menggunakan metode enzimatis kolorimetri (GPO-PAP). Pengaruh perbedaan diet beras analog umbi gembili terhadap kadar trigliserida menggunakan uji kruskal wallis dan perbedaan dosis beras analog umbi gembili terhadap kadar trigliserida menggunakan uji one way anova. Hasil : Terdapat pengaruh diet beras analog umbi gembili terhadap penurunan kadar trigliserida yang signifikan (p<0,001) pada tikus diabetes mellitus tipe 2 dengan perlakuan dosis beras analog umbi gembili 4,16 dan 6,17 g/tikus/hari. Perlakuan I dengan pemberian dosis beras analog umbi gembili sebesar 4,16 g/tikus/hari kadar trigliserida turun sebesar 26,67mg/dL dan perlakuan II dengan pemberian dosis beras analog umbi gembili sebesar 6,17 g/tikus/hari kadar trigliserida turun sebesar 38,35 mg/dL. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian beras analog umbi gembili terhadap kadar trigliserida tikus diabetes mellitus tipe 2 yang turun sebesar 20-30%
Hubungan Tipe Kepribadian Dengan Tingkat Depresi Pada Penyandang Diabetes Mellitus Dengan Komplikasi
Diabetes mellitus suatu penyakit yang terjadi karena gangguan metabolisme tubuh pada fungsi insulin yang mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah dalam tubuh. Diabetes mellitus dapat menyebabkan komplikasi. Hal ini dapat menyebabkan munculnya gangguan psikologis salah satunya depresi. Depresi merupakan masalah gangguan psikologis yang sering terjadi pada peyandang diabetes mellitus. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi depresi salah satunya tipe kepribadian introvert dan esktrovert. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan tingkat depresi pada penyandang diabetes mellitus dengan komplikasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah responden 58 dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan kuisioner BDI-II untuk mengetahui tingkat depresi, jung’s type indicator untuk mengetahui tipe kepribadian. Analisa univariat menggunakan statistic deskriptif dan bivariat dengan spearmen’s rho. Hasil penelitian menunjukkan Penyandang diabetes mellitus mayoritas memiliki kepribadian introvert dan tingkat depresi minimal. Ada hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat depresi dengan nilai P-value 0.014 < 0,05 dengan korelasi cukup dan tidak searah. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan bisa memperluas tipe kepribadian dengan macam yang berbeda dan dapat faktor lain yang berhubungan dengan diabetes mellitus.Diabetes mellitus is a condition caused by a metabolic malfunction of insulin action, which raises the body's blood glucose levels. Complications from diabetes mellitus are possible. This could result in a mental breakdown, such depression. Diabetes mellitus is associated with a persistent psychological issue called depression. In addition to personality traits like introversion and extroversion, there are other factors that can affect sadness. The goal of research is to ascertain the association between personality types and the severity of depression in people with complications from diabetes mellitus. The research was quantitative and used a sample technique on 58 respondents in a series of sectional designs. The BDI-II questionnaire and Jung's Type Indicator are used in the research tool to determine depression severity. Statistic decryptive and bivariate with spearmen's rho are used in univariate analysis. According to studies, the majority of diabetics are introverted and experience little depression. There is a significant, exaggerated connection between personality type and depression rate at P-value 0.014<0.05. In turn, it is envisaged that it will be feasible to broaden the scope of other personality types and incorporate additional diabetes-related elements
Growth Monitoring through Stimulation of Toddlers of the Bajo Tribe using a Developmental Pre-screening Questionnaire Instrument
Pada periode setelah ASI eksklusif, anak akan diberi makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Kebiasaan budaya yang berlaku dalam pengolahan dan pemberian makanan dapat mempengaruhi asupan nutrisi pada anak. Pada suku Bajo, akses terhadap pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai masih kurang baik. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian tentang pemantauan pertumbuhan anak melalui stimulasi anak pada Suku Bajo menggunakan instrumen Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP).After exclusive breastfeeding, the child will be given complementary food from Breast Milk Substitute (BMS). Cultural habits in food preparation and feeding practices can affect nutrient intake in children. In the Bajo tribe, access to adequate health and nutrition services is still inadequate. Therefore, it is essential to research monitoring child growth through child stimulation in the Bajo tribe using the Pre-screening Development Questionnaire (KPSP) instrument
Analysis of Factors Related to the Preparedness of Puskesmas Nurses in Facing Haze Disasters
Telah terjadi kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 dan menyebabkan bencana kabut asap sehingga 43 juta orang terkena kabut asap, 503.874 orang terkena penyakit ISPA, jatuhnya korban jiwa 26 orang, serta kerugian ekonomi sebanyak 200 triliun rupiah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor pengetahuan, keterampilan, kesiapan manajemen bencana, regulasi diri, dan suasana pelayanan kesehatan berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat Puskesmas dalam menghadapi bencana kabut asap di Kota Pontianak. Desain penelitian menggunakan survey analitik dengan teknik cross sectional. Jumlah responden didapatkan 90 perawat Puskesmas melalui simple random sampling. Penelitian ini dilakukan di seluruh Puskesmas wilayah kerja Kota Pontianak berjumlah 23 Puskesmas. Uji spearman ranks menunjukkan terdapat hubungan antara faktor kesiapan manajemen bencana (p= 0.013), keterampilan (p= 0.000), namun tidak dengan suasana pelayanan kesehatan (p= 0.558) dengan kesiapsiagaan perawat Puskesmas dalam menghadapi bencana kabut asap. Uji regresi logistik didapatkan nilai hitung Exp(B) sebesar 6.559 yang menjelaskan bahwa keterampilan adalah faktor yang paling berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat Puskesmas dalam menghadapi bencana kabut asap. Kesiapan manajemen bencana yang baik akan menghasilkan keterampilan yang baik pula, sehingga perawat bisa mengikuti seminar, pelatihan maupun simulasi tentang bencana. Perawat juga harus berperan aktif dalam proses penanggulangan bencana (fase kesiapsiagaan dan fase respons).The haze disaster that occurred due to forest and land fires in 2015 caused 43 million people to be exposed to smoke haze, 503,874 people suffered from ISPA, caused 26 deaths, and economic losses of 200 trillion rupiah. The purpose of this study was to analyze the factors of knowledge, skills, disaster management readiness, self-regulation, and the atmosphere of health services related to the preparedness of Puskesmas nurses in dealing with the haze disaster in Pontianak City. The design of this research is an analytic survey with a cross sectional approach. The number of respondents as many as 90 health center nurses by simple random sampling. This research was conducted in 23 health centers in the working area of ??Pontianak City. Spearman ranks test shows the relationship between skill factor (p= 0.000), disaster management readiness (p= 0.013), but not with the health service atmosphere (p= 0.558) and the preparedness of Puskesmas nurses in dealing with haze disaster. The logistic regression test explained that skills were the most related factor to the preparedness of Puskesmas nurses in dealing with the haze disaster with an Exp (B) value of 6,559. Skills cannot be achieved properly without good preparedness of disaster management. Therefore nurses can take part in simulations, seminars and training on disasters and play an active role in the disaster management process, both in the preparedness and response phases
Laboratory Tests for the Content of Macronutrients and Iron in Snakehead Fish Flour Snack Bars with the Addition of Peanuts
Sebagai upaya perbaikan pangan dan gizi masyarakat dengan menggunakan metode konsumsi pangan lokal dan penggunaan teknologi tepat guna. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kandungan gizi makro dan mineral besi melalui produk snack bar. Penelitian dilakukan dengan memformulasikan snack bar dengan bahan utama tepung ikan gabus dan kacang tanah pada perbandingan 50:50, 60:40, dan 40:60. Dilakukan uji organoleptik, dan uji laboratorium. Formula snack bar dengan tingkat kesukaan tertinggi adalah snack bar F3 (40:60) dengan kandungan energi 409,03 kkal, protein 20 gr, lemak 11.99 gr, karbohidrat 55.28 gr, kadar air 10.75%, kadar abu 1.98% dan zat besi (Fe) 0.94 gr. Terdapat perbedan yang nyata pada indikator nilai gizi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menetapkan formulasi yang tepat dengan kandungan kaya gizi dan produk yang disukai.As an effort to improve people's food and nutrition by using local food consumption methods and using appropriate technology. This study aims to assess the content of macronutrients and iron minerals through snack bar products. The research was conducted by formulating snack bars with the main ingredients of snakehead fish flour and peanuts at a ratio of 50:50, 60:40 and 40:60. Organoleptic tests and laboratory tests were carried out. The snack bar formula with the highest level of preference was the F3 snack bar (40:60) with an energy content of 409.03 kcal, 20 gr protein, 11.99 gr fat, 55.28 gr carbohydrates, 10.75% moisture content, 1.98% ash content and iron (Fe ) 0.94 gr. There are significant differences in the nutritional value indicators. Further research is needed to determine the right formulation with rich nutrient content and preferred product