Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Efektivitas Kombinasi Daun Katuk (Sauropus Androgynus L.Merr) dan Susu Kedelai Terhadap Produksi Asi dengan Indikator Berat Badan Bayi
Ringkasan: Latar belakang: Kendala produksi ASI yang inadequat menjadi penyebab utama kegagalan pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui. Pendekatan non-farmakologis menggunakan kombinasi herbal berpotensi sebagai solusi alternatif tanpa efek samping. Tujuan: Menganalisis efektivitas tablet effervescent kombinasi daun katuk (Sauropus Androgynus L. Merr) dan susu kedelai terhadap produksi ASI dengan indikator berat badan bayi. Metode: Penelitian quasi-experiment dengan pretest-posttest control group design pada 34 ibu nifas hari ke-1 sampai 10 di Puskesmas Karang Pule dan Babakan, Kota Mataram. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 4 kelompok (kombinasi, ekstrak daun katuk, susu kedelai, dan kontrol). Hasil: Seluruh kelompok menunjukkan peningkatan berat badan bayi signifikan (p<0,05). Kelompok kombinasi mencapai peningkatan tertinggi 211,77 gram, diikuti ekstrak daun katuk dan susu kedelai 194,12 gram, serta kontrol 164,71 gram. Simpulan: Kombinasi daun katuk-susu kedelai efektif meningkatkan produksi ASI. Saran: Implementasi tablet effervescent sebagai galaktagog alami untuk mendukung program ASI eksklusif.Dalam proses pemberian ASI eksklusif terdapat kendala yang dialami oleh ibu yang menjadi penyebab kegagalan dalam pemberian ASI salah satunya disebabkan oleh produksi ASI ibu yang sedikit. Upaya yang dilakukan untuk peningkatan produksi ASI yaitu dengan cara non farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas tablet effervescent kombinasi daun katuk (Sauropus Androgynus L. Merr) dan susu kedelai terhadap produksi ASI pada ibu menyusui dengan indikator berat badan bayi. Metode dalam penelitian ini adalah Quasy experiment dengan pretest and posttest control group design. Pengambilan sampel secara Purposive Sampling. Jumlah sampel sebanyak 68 ibu nifas normal hari ke 1-10. Analisis data menggunakan uji Repetaed Measures Anova, One Way Anova dan Uji Kruskal Wallis. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan dengan nilai signifikansi (p=0,000) < 0,05, yang artinya terdapat perbedaan rata-rata berat badan bayi pada kelompok intervensi yang diberikan tablet effervescent kombinasi daun katuk dan susu kedelai sebelum dan setelah diberikan perlakua
Perbedaan Terapi Pijat Effleurage Dan Terapi Kompres Terhadap Penurunan Afterpain Pada Ibu Postpartum Di RS. Dewi Sartika Kota Kendari Sulawesi Tenggara
Ringkasan: Latar Belakang: Involusio uterus pada masa postpartum menimbulkan kontraksi otot-otot uterus yang menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri afterpain selama 3-4 hari postpartum. Tindakan non-farmakologis seperti terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat diperlukan untuk meredakan nyeri. Tujuan: Mengidentifikasi perbedaan terapi pijat effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretest posttest pada 50 ibu postpartum normal hari ke-1 di RS Dewi Sartika Kendari. Sampel dibagi menjadi dua kelompok menggunakan consecutive sampling. Nyeri dinilai dengan Numerical Rating Scale (NRS) dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Kedua terapi efektif menurunkan afterpain dengan nilai p=0,000. Uji perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,750) antara terapi pijat effleurage dan kompres hangat. Simpulan: Terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum. Saran: Kedua terapi dapat menjadi pilihan intervensi keperawatan untuk mengatasi afterpain dan memberikan kenyamanan ibu postpartum.Periode postpartum, juga dikenal sebagai "trimester keempat kehamilan", adalah waktu antara kelahiran bayi baru lahir dan kembalinya fungsi rahim seperti sebelum hamil. Pada masa postpartum terjadi perubahan baik secara fisiologis maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi selama periode postpartum termasuk yang terkait secara spesifik dengan sistem reproduksi serta perubahan sistemik lainnya. Salah satu perubahan fisiologis pada ibu postpartum adalah terjadi involusio uterus yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot-otot uterus sehingga menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang di sebut afterpain. Tindakan non farmakologis yang bisa di berikan untuk meredakan nyeri pada ibu diantaranya memberikan terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan terapi masage effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretess posttest yaitu rancangan eksperimen yang dilakukan pada kedua kelompok yang berbeda yang mendapatkan intervensi yang berbeda. Hasil uji beda berpasangan wilcoxon didapatkan hasil pada terapi masage effleurage dan terapi kompres hangat p value = 0,000 yang bermakna ada pengaruh kedua terapi terhadap penurunan afterpain pada ibu postpartum. Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan uji mann whitney antara terapi massage effleurage dan terapi kompres air hangat tidak signifikan dengan nilai p value = 0,750, tidak ada perbedaan pada kedua terapi tersebut dengan demikian terapi masage eflleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif dalam menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum
Studi Evaluasi Kualitas Penggunaan Pewarna Giemsa Pada Pemeriksaan Mikroskopis Malaria di Laboratorium Fasilitas Layanan Kesehatan Kota Jayapura Tahun 2023
Ringkasan: Latar belakang: Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Giemsa tetap menjadi standar emas diagnosis malaria. Kualitas pewarnaan Giemsa bervariasi antarprodusen sehingga berkontribusi terhadap kesalahan diagnosis dan variabilitas hasil antarlaboratorium. Tujuan: Mengevaluasi kualitas penggunaan pewarna Giemsa pada pemeriksaan mikroskopis malaria di laboratorium fasilitas layanan kesehatan Kota Jayapura. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional pada 20 laboratorium menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner manajemen pewarnaan Giemsa dan uji kualitas dengan metode kertas saring Whatman No.2. Hasil: Manajemen pewarnaan menunjukkan 45% memperoleh Giemsa dari toko kesehatan, 90% menggunakan air mineral sebagai pengencer, 85% tidak menyaring larutan, dan 55% tidak melakukan quality control. Uji kertas saring menunjukkan 65% terdapat lingkaran biru methylene blue, 75% lingkaran ungu methylene azur, dan 55% lingkaran merah eosin. Simpulan: Sebanyak 60% laboratorium telah menangani Giemsa dengan baik. Saran: Standardisasi prosedur pewarnaan sesuai pedoman Kementerian Kesehatan untuk mengoptimalkan diagnosis malaria.Malaria adalah penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di Jayapura, karena dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta memicu Kejadian Luar Biasa (KLB). Jayapura merupakan daerah endemik malaria. Salah satu upaya untuk menekan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit malaria adalah dengan pemeriksaan yang tepat, baik gejala maupun pengobatannya. Oleh karena itu, diagnosis laboratorium yang dilakukan oleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria perlu di kontrol untuk memastikan kualitas dari tenaga laboratorium mikroskopis malaria. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium Puskesmas di wilayah kota Jayapura dengan menghitung nilai sensitivitas, spesivitas, akurasi identifikasi spesies dan error rate. Jenis Penelitian ini deskriptif dengan desain crossexional. Populasinya adalah semua slide malaria, yang telah di periksa oleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium puskesmas Kota Jayapura. Jumlah sampel sebanyak 13 tenaga laboratorium mikroskopis malaria di 13 Puskesmas Kota Jayapura. Hasil Penelitian : menunjukan terdapat 7 (53,8%) laboratorium Puskesmas yang mendapatkan nilai baik, terdapat 3 (23,1%) laboratorium mendapatkan nilai cukup dan ada 3 (23,1%) laboratorium mendapatkan nilai kurang. Kesimpulan : Kualitas diagnosis malaria di Kota Jayapura secara umum sudah baik, tetapi masih ada potensi kesalahan diagnosis, terutama dalam hal membedakan spesies parasit malaria. Upaya peningkatan kualitas bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan secara berkesinambungan untuk mencegah kesalahan diagnosis
Pengaruh Beban Kerja Mental dan Motivasi Kerja terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja di PKS PTPN IV Bah Jambi
Pendahuluan: Latar belakang: Beban kerja mental dan motivasi kerja menjadi faktor kritis yang mempengaruhi kelelahan kerja pada pekerja industri kelapa sawit. Kelelahan kerja yang tidak terkendali dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Tujuan: Menganalisis pengaruh beban kerja mental dan motivasi kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja di Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi. Metode: Penelitian analitik cross-sectional pada 68 pekerja menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data melalui kuesioner NASA-TLX untuk beban kerja mental, kuesioner motivasi kerja tervalidasi, dan Subjective Self Rating Test (SSRT) untuk kelelahan kerja. Analisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebanyak 83,8% pekerja mengalami beban kerja mental sedang, 51,5% memiliki motivasi kerja sedang, dan 61,8% mengalami kelelahan kerja sedang. Terdapat hubungan signifikan antara beban kerja mental dengan kelelahan kerja (p=0,001) dan motivasi kerja dengan kelelahan kerja (p=0,003). Simpulan: Beban kerja mental dan motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kelelahan kerja. Saran: Diperlukan manajemen beban kerja optimal dan peningkatan motivasi untuk mengurangi kelelahan kerja pekerja.Pendahuluan: Beban kerja tidak terbatas pada tugas fisik pekerja, tetapi tugas kognitif dan mental juga memainkan peran penting dalam menciptakan beban kerja mereka. Penelitian ini Mengeksplorasi beban kerja mental, Motivasi, dan pengaruhnya terhadap Kelelahan pekerja pada pekerja di Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kuantitatif menggunakan metode cross sectional, maka yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner yang digunakan berupa skala model Likert. Populasi penelitian ini sebanyak 68 orang pekerja di bagian pengolahan di Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi. Dengan teknik pengambilan sampel menggunkan total sampling maka, jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 68 orang. Analisis data yang di gunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja mental dengan kelelahan kerja dengan hasil uji statistik chi square diperoleh p = 0.001 (? ? 0.05). selain itu, hasil peneltian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan kelelahan kerja dengan Hasil uji statistik chi square diperoleh p = 0.003 (? ? 0.05) kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini berdasarkan dari hasil yang diperoleh adalah ada hubungan antara beban merja mental dengan kelelahan kerja, dan ada hubungan antara motivasi kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian pengolahan di Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi
Penetapan Sifat Fisikokimia Ekstrak Etanol Daun Mimba (Azadiractha indica A. Juss) : Penelitian Eksperimen Berskala Laboratorium
Ringkasan: Latar Belakang: Daun mimba (Azadirachta indica A. Juss.) mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan. Sifat fisikokimia ekstrak menentukan aktivitas senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Tujuan: Menentukan karakteristik fisikokimia ekstrak etanol 70% daun mimba sebagai dasar pengembangan sediaan fitofarmaka. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, organoleptik, kadar senyawa terlarut, skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid total menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil: Rendemen ekstrak 19,438%, karakteristik organoleptik menunjukkan bentuk kental berwarna hijau kehitaman dengan bau khas dan rasa pahit. Kadar senyawa terlarut air 62,5% dan etanol 71,3%. Skrining fitokimia positif alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan tanin. Kadar flavonoid total 1,829%. Simpulan: Ekstrak etanol daun mimba memiliki karakteristik fisikokimia yang memenuhi parameter standar simplisia. Saran: Ekstrak berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sediaan fitofarmaka dengan optimasi formulasi lebih lanjut.Daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) banyak digunakan sebagai obat tradisional yaitu untuk mengobati malaria, kencing manis, diare, penurun panas, dan antitukak lambung. Aktivitas suatu ekstrak dapat dipengaruhi oleh senyawa aktif yang terkandung di dalamnya yang bergantung pada sifat fisikokimia dari ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisikokimia ekstrak etanol daun mimba (A. indica A. Juss.). Penelitian bersifat experimental berskala laboratorium yang dimulai dengan sampel diproses hingga menjadi simplisia; kemudian, simplisia diekstraksi melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Penetapan sifat fisikokimia meliputi beberapa parameter yaitu rendemen, organoleptik, kadar senyawa terlarut, penetapan kadar senyawa terlarut, skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol menghasilkan sifat fisikokimia yaitu rendemen ekstrak 19,438 %, organoleptik ekstrak (bentuk (kental); warna (hijau kehitaman); bau (khas); dan rasa (pahit)), penetapan kadar senyawa terlarut (senyawa terlarut air (62.5%); senyawa terlarut pada etanol (71.3%)), skrining fitokimia mengandung (alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan tannin), dan kadar flavonoid total ekstrak yaitu 1.829%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun mimba (A. indica A. Juss.) dapat ditetapkan sifatnya secara fisikokimia dengan beberapa parameter yang telah diuji untuk mengetahui karakteristiknya sehingga disarankan ekstrak ini dapat dikembangkan dalam bentuk sediaan obat bahan alam
Analisis Persepsi Hambatan Berdasarkan Teori Health Belief Model dengan Pemberian ASI Eksklusif dalam Pencegahan Stunting
Persepsi ibu menyusui mengenai hambatan yang dialami sangat penting untuk merumuskan strategi yang lebih efektif dalam mendorong praktik pemberian ASI Eksklusif. Tujuan penelitian ini menganalisis persepsi hambatan berdasarkan teori health belief model dengan pemberian ASI Eksklusif dalam pencegahan stunting. Metode pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 154 sampel dengan kriteria sampel yaitu ibu yang memiliki anak berusia 6-36 bulan. Teknik analisis data dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan sikap ibu, pengetahuan dan status pendidikan berhubungan signifikan terhadap persepsi hambatan dengan pemberian ASI Eksklusif dalam pencegahan stunting. Kesimpulan berdasarkan teori Health Belief Model (HBM) yang signifikan berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif untuk pencegahan stunting, yaitu sikap, pengetahuan, dan status pendidikan ibu. Faktor persepsi hambatan berdasarkan teori HBM yang paling dominan adalah sikap ibu.Ringkasan: Latar Belakang: Persepsi ibu menyusui mengenai hambatan yang dialami sangat penting untuk merumuskan strategi yang lebih efektif dalam mendorong praktik pemberian ASI Eksklusif. Tujuan: Penelitian ini menganalisis persepsi hambatan berdasarkan teori health belief model dengan pemberian ASI Eksklusif dalam pencegahan stunting. Metode: Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 154 sampel dengan kriteria sampel yaitu ibu yang memiliki anak berusia 6-36 bulan. Teknik analisis data dengan uji regresi logistik. Hasil: Penelitian menunjukkan sikap ibu, pengetahuan dan status pendidikan berhubungan signifikan terhadap persepsi hambatan dengan pemberian ASI Eksklusif dalam pencegahan stunting. Kesimpulan: berdasarkan teori Health Belief Model (HBM) yang signifikan berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif untuk pencegahan stunting, yaitu sikap, pengetahuan, dan status pendidikan ibu. Faktor persepsi hambatan berdasarkan teori HBM yang paling dominan adalah sikap ibu. Saran: Pada penelitian selanjutnya sebaiknya memperluas dengan menambahkan variabel untuk dilakukan pengkajian lebih lanju
Cross Sectional: Faktor Analisis Tingkat Kecemasan Pasien Di Ruang Instalasi Gawat Darurat
Ringkasan: Latar belakang: Lingkungan Instalasi Gawat Darurat yang overcrowded seringkali mengabaikan aspek psikologis pasien, menyebabkan berbagai permasalahan termasuk kecemasan yang dapat menghambat proses penyembuhan. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien di ruang IGD RSUD Kota Kendari. Metode: Penelitian cross-sectional pada 87 responden menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data melalui kuesioner tervalidasi untuk mengukur dukungan keluarga, pengalaman masuk IGD, komunikasi terapeutik, dan tingkat kecemasan. Analisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas responden perempuan (65,5%) dengan rentang usia 31-50 tahun (51,7%). Sebanyak 24,1% mengalami panik dan 21,8% cemas berat. Terdapat hubungan signifikan antara pengalaman masuk IGD (p=0,027, phi=0,35) dan komunikasi terapeutik (p=0,006, phi=0,40) dengan tingkat kecemasan, sedangkan dukungan keluarga tidak berhubungan signifikan (p=0,822). Simpulan: Pengalaman masuk IGD dan komunikasi terapeutik berpengaruh sedang terhadap kecemasan pasien. Saran: Peningkatan komunikasi terapeutik perawat untuk mengurangi kecemasan dan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga keperawatan.Kondisi lingkungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang terlalu padat seringkali mengabaikan aspek mental pasien hingga menyebabkan berbagai permasalahan psikologis, salah satunya ialah perubahan status kesehatan individu yang mengakibatkan terjadinya kecemasan. Kecemasan timbul ketika seseorang dihadapkan pada keadaan yang mengancam jiwa. Kecemasan membuat individu merasa tidak nyaman dan merasa takut dengan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya adalah rasa tidak nyaman, kurangnya dukungan keluarga, hospitalisasi, pengalaman masuk di ruang instalasi gawat darurat. Melalui penelitian ini perawat dapat mengidentifikasi tentang kecemasan pasien sehingga dapat memberikan penatalaksanaan yang baik untuk mengurangi kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien di ruang intalasi gawat darurat RSUD Kota Kendari. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode Cross-sectional study. Jumlah sampel sebanyak 87 responden dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan sampling probabilitas yaitu random sampling dengan pendekatan simple random sampling. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan sedang antara pengalaman masuk IGD (P-value = 0,027) dan komunikasi terapeutik (P-value = 0,006) dengan tingkat kecemasan pasien di ruang intalasi gawat darurat rumah sakit daerah Kota Kendari, sedangkan dukungan keluarga (P-value = 0,822) tidak ada hubungannya dengan tingkat kecemasan pasien di ruang intalasi gawat darurat rumah sakit daerah Kota Kendari. Perawat dapat meningkatkan komunikasi terapeutik untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien di IGD
Hubungan Derajat Merokok dengan Aldrete score pada Pasien Post General Anestesi
Ringkasan: Latar Belakang: Merokok mempengaruhi sirkulasi dan pernapasan pasien pasca operasi yang merupakan komponen penilaian Aldrete score. Pemulihan pasca anestesi umum memerlukan monitoring ketat untuk mencegah komplikasi dan morbiditas. Tujuan: Menganalisis hubungan antara derajat merokok dengan Aldrete score pada pasien post operasi dengan general anestesi. Metode: Penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional terhadap 67 responden perokok aktif yang menjalani operasi general anestesi di RSUD Karsa Husada Batu. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Indeks Brinkman dan lembar observasi Aldrete score. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara derajat merokok dengan Aldrete score (p=0,001) dengan koefisien korelasi -0,754, menunjukkan korelasi kuat arah negatif. Semakin tinggi derajat merokok, semakin rendah nilai Aldrete score. Simpulan: Derajat merokok berhubungan dengan penurunan Aldrete score pada pasien post general anestesi. Saran: Tenaga kesehatan perlu memperhatikan riwayat merokok dan monitoring ketat fase pulih sadar pasien perokok.Merokok dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernapasan pasien post operasi. Kedua hal diatas adalah komponen penilaian dari skor Aldrete. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara derajat merokok dengan Aldrete score pada pasien post operasi dengan general anestesi. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan 67 responden. Penentuan responden berdasarkan kriteria inklusi pasien perokok aktif dan telah menjalani operasi menggunakan general anestesi. Variabel independen yaitu derajat merokok, sedangkan variabel dependen yaitu Aldrete score. Uji analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil uji statistik menunjukkan p value 0,001 dengan koefisien korelasi -0,754 yang berarti ada hubungan antara derajat merokok dengan Aldrete score pada pasien post general anestesi, kekuatan korelasi kuat dengan arah berlawanan yang artinya semakin tinggi derajat merokok maka semakin rendah nilai Aldrete score. Maka sebelum dilakukan operasi sebaiknya pasien mengurangi bahkan berhenti merokok untuk mencegah komplikasi dan pulih sadar yang lama pada pasien post operasi
Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Menopause di Desa Lambangi Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan
Ringkasan: Latar Belakang: Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan semakin banyak perempuan mengalami menopause dengan berbagai dampak kesehatan fisik dan psikologis yang memerlukan identifikasi faktor risiko untuk intervensi dini. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menopause di Desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional terhadap 64 ibu berusia 40-65 tahun menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik dan pengetahuan menopause, kemudian dianalisis dengan Chi-Square (? = 0,05) dan Confidence Interval 95%. Hasil: Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan (p < 0,05) antara usia menarche (p = 0,003), paritas (p = 0,011), pendidikan (p = 0,045), pekerjaan (p = 0,003), dan riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal (p = 0,015) dengan kejadian menopause. Simpulan: Usia menarche, paritas, pendidikan, pekerjaan, dan penggunaan kontrasepsi hormonal merupakan faktor determinan kejadian menopause. Saran: Diperlukan peningkatan pelayanan konseling pra-menopause dan penelitian lanjutan faktor menopause untuk mengurangi dampak negatif.Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan jumlah perempuan yang mengalami menopause semakin banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian menopause di desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe selatan. Penelitian ini menggunakan rancangan Cros sectional. Populasi adalah semua ibu berusia 40-65 tahun yang berada di Desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan yang berjumlah 64 orang. Cara pengambilan sampel dengan teknik total sampling, penelitian ini dilakukan pada 64 responden. Analisis data dengan menggunakan Chi-Square (x²) dilanjutkan dengan Confidence Interval (CI) 95%. Hasil uji stsistik menunjukkan bahwa variabel usia menarche, paritas, pekerjaan, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal, menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai denga nilai P < 0,05
Evaluasi EVALUASI DAMPAK SOSIAL DAN PSIKOLOGIS PADA PERNIKAHAN DINI
Ringkasan: Latar Belakang: Pernikahan dini merupakan masalah global dengan konsekuensi kesehatan dan sosial bagi remaja perempuan. Indonesia menempati peringkat ke-8 dunia dengan 1,2 juta kasus pada tahun 2022. Faktor pergaulan bebas, keterbatasan ekonomi, dan kurangnya pengetahuan memicu peningkatan kasus pernikahan dini. Tujuan: Mengevaluasi dampak sosial dan psikologis pada remaja wanita yang melakukan pernikahan dini di Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir. Metode: Penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam menggunakan analisis tematik. Informan terdiri dari 12 remaja perempuan berusia 14-17 tahun yang menikah dini, 12 orang tua, kepala KUA, bidan desa, dan kepala desa. Data dianalisis dengan triangulasi sumber dan triangulasi data. Hasil: Dampak sosial meliputi peningkatan perceraian karena masalah ekonomi dan isolasi sosial. Dampak psikologis berupa ketidakmatangan emosional, ketakutan, kecemasan, dan kesulitan mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah keluarga. Simpulan: Pernikahan dini menimbulkan dampak sosial dan psikologis negatif pada remaja wanita. Saran: Diperlukan edukasi intensif dan program pemberdayaan keluarga untuk pencegahan pernikahan dini.Nations Children's Fund (UNICEF) menyatakan di tahun 2023 Indonesia menempati peringkat empat dengan 25,53 juta kasus pernikahan dini. Kabupaten Ogan Komering Provinsi Sumatera mengalami peningkatan praktik pernikahan dini sebanyak 35 kasus dari tahun 2019 ke tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai dampak sosial dan psikologis akibat pernikahan dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan melibatkan 42 informan di Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir. Informan kunci terdiri dari 12 remaja wanita yang berusia 14-17 tahun yang telah menikah dan 12 orang tua remaja sedangkan informan kunci ahli antara lain kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala desa dan bidan desa. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi data. Kemudian peneliti menggunakan teknik tematik analisis dalam proses analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak sosial pernikahan dini antara lain meningkatnya perceraian karena masalah ekonomi dan menarik diri atau tidak bergaul dengan masyarakat. Di sisi lain, dampak psikologis yang dirasakan remaja yang menikah di usia dini yakni, timbulnya perubahan sikap seperti ketakutan terkait masalah yang akan mereka hadapi setelah berkeluarga. Sehingga diperlukan edukasi bagi remaja untuk menunda usia pernikahan agar terhindar dari dampak negatif pernikahan dini