Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Analysis of The Implementation of the Exclusive Breastfeeding Program in Labuhanbatu District Health Office

    Full text link
    Kurang dari separuh bayi yang baru lahir saat ini menerima ASI eksklusif. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu. Metode gabungan (mix methode)  dengan rancangan desain sekuensial ekploratori. Tahap I (kualitatif), menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap 13 Informan yang dianggap berhubungan dengan program ASI eksklusif. Tahap II (kuantitatif) menggunakan cross sectional dengan 80 sampel ibu-ibu yang memiliki bayi 6-24 bulan. Hasil pada tahap I dilihat dari variabel yang dikemukakan Van Metter dan Van Horn yakni standar, tujuan, dan sasaran kebijakan; Sumber daya; karakteristik organisasi pelaksana; komunikasi antar organisasi; disposisi atau sikap pelaksana; dan kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Pada tahap II, ditemukan hubungan signifikan antara status pekerjaan, pengetahuan ibu, dukungan suami dan keluarga, dan dukungan kader kesehatan dengan nilai P < 0,05. Kesimpulan: Implementasi kebijakan pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu sudah cukup baik.  Ringkasan: Latar belakang: Cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Labuhanbatu menurun dari 46,23% (2021) menjadi 45,2% (2022), masih di bawah target nasional. Implementasi kebijakan memerlukan evaluasi menggunakan model Van Meter-Van Horn. Tujuan: Menganalisis implementasi program ASI eksklusif di Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu berdasarkan variabel yang mempengaruhi keberhasilannya. Metode: Mix method desain sekuensial eksploratori. Tahap I: wawancara mendalam 13 informan dengan variabel Van Meter-Van Horn. Tahap II: cross sectional 80 ibu bayi 6-24 bulan dengan chi-square test. Hasil: Implementasi kebijakan cukup baik namun menghadapi kendala kualitas SDM dan ketiadaan dana khusus. Variabel signifikan dengan ASI eksklusif: status pekerjaan, pengetahuan ibu, dukungan suami-keluarga, dan dukungan kader (p<0,05). Simpulan: Implementasi kebijakan ASI eksklusif Kabupaten Labuhanbatu cukup baik. Saran: Peningkatan kualitas SDM, alokasi dana khusus, dan pembentukan satuan pengawas program

    Faktor Determinasi Pengetahuan Terhadap Dengue Vaccine: Cross-Sectional Study Pada Orang Tua di Sulawesi Tenggara

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Dengue merupakan penyakit endemik dengan CFR Sulawesi Tenggara tertinggi di Indonesia; pengetahuan orang tua tentang vaksinasi demam berdarah penting untuk kesiapan adopsi kebijakan vaksinasi. Tujuan: Mengukur faktor determinan yang mempengaruhi tingkat pengetahuan orang tua terhadap vaksin demam berdarah di Sulawesi Tenggara. Metode: Studi multicenter cross-sectional pada 642 orang tua di lima kabupaten dengan kasus DBD tertinggi, dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan September–Oktober 2023 memakai kuesioner valid dan diuji reliabilitas; analisis deskriptif dan chi-square (?=0,05) dijalankan menggunakan SPSS 26. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan 71,1%; status pendidikan (p=0,000), pengalaman mendengar DBD (p=0,001), pengalaman mendengar vaksin (p=0,000), dan sumber informasi (p=0,006) berhubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan. Simpulan: Pendidikan, paparan informasi, dan pengalaman sebelumnya memengaruhi pengetahuan orang tua tentang vaksin DBD. Saran: Lakukan sosialisasi terpadu di posyandu dan fasilitas kesehatan memakai media elektronik dan interpersonal untuk meningkatkan pengetahuan orang tua.Infeksi virus demam berdarah adalah penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk dan lebih dari 100 negara tropis dan subtropis dinyatakan endemik. Sulawesi Tenggara tercatat menjadi salah satu provinsi dengan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi di Indonesia yaitu 1,9% dengan CFR nasional 0,96% dan IR mencapai 24,6/100.000 penduduk. Penelitian bertujuan untuk mengukur faktor determinan yang mempengaruhi tingkat pengetahuan orang tua. Pendekatan Multicenter Cross Sectional dan sampel dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini dilakukan selama bulan September-Oktober 2023 dan diikuti oleh 642 orang tua yang tersebar di Sulawesi Tenggara yaitu Kendari, Bau-Bau, Konawe Selatan, Muna, dan Wakatobi yang merupakan wilayah dengan daerah frekuensi demam berdarah tertinggi di Sulawesi Tenggara. Pengetahuan orang tua di Sulawesi Tenggara mengenai vaksin dan penyakit demam berdarah rata-rata sebesar 71,1%. Ada hubungan yang signifikan pada status pendidikan 0,000; pengalaman pernah mendengar penyakit demam berdarah 0,001; pengalaman pernah mendengar vaksin demam berdarah 0,000; serta sumber informasi 0,006. Perlu dilakukan sosialisasi mengenai vaksin dan penyakit demam berdarah oleh petugas kesehatan untuk dapat meningkatkan pengetahuan orang tua, sehingga ketika vaksin sudah tersedia, orang tua dapat menerima untuk memvaksinasi anak mereka

    Pengaruh Brain Gym Kombinasi Aromaterapi Ekstrak Jeruk Purut Etno Tolaki (Munde Inahu) Terhadap Penurunan Tekanan Darah Dan Protein Urine : Penelitian Kuasi Eksperimen Pada Ibu Hamil

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan dengan peningkatan tekanan darah, proteinuria dan edema. Lebih dari 25% kematian ibu Indonesia disebabkan hipertensi kehamilan, memerlukan terapi komplementer. Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi brain gym dengan aromaterapi jeruk purut etno tolaki terhadap penurunan tekanan darah dan protein urine ibu hamil. Metode: Quasi experimental two group pre-posttest design, 60 ibu hamil ?20 minggu, simple random sampling. Intervensi 3 kali/minggu selama 2 bulan. Analisis uji Mann-Whitney. Hasil: Perbedaan signifikan selisih tekanan darah sistole (p=0,027) dan diastole (p=0,019) antara kelompok intervensi-kontrol. Tidak ada perbedaan protein urine (p=0,561). Simpulan: Kombinasi brain gym-aromaterapi jeruk purut berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah. Saran: penerapan sebagai terapi komplementer dan intervensi mandiri ibu hamil.Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, proteinuria dan oedema, yang kadang-kadang disertai komplikasi sampai koma. Brain Gym merupakan rangkaian gerakan tubuh sederhana yang menimbulkan efek relaksasi dan akan lebih efektif menurunkan tekanan darah dan protein urine ibu hamil apabila dikombinasikan dengan aromaterapi jeruk purut etno memiliki efek sebagai vasoldilator pembuluh darah dengan efek relaksasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi brain gym dengan aromaterapi jeruk purut etno tolaki (munde inahu) terhadap penurunan tekanan darah dan protein urine pada ibu hamil. Desain penelitian quasi eksperiment two group pre-posttest design. Sampel sebanyak 60 ibu hamil yang dipilih secara simple random sampling. Penelitian ini menggunakan uji Uji Mann Withney. Kesimpulan penelitian terdapat pengaruh kombinasi brain gym dan aromaterapi ekstrak jeruk purut (etno tolaki) terhadap penurunan tekanan darah dan protein urin

    Malaria Microscopic Cross Test at Jayapura City Health Center Laboratory

    Full text link
    Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian serta sering menimbulkan Kejadian LuarBiasa (KLB). Salah satu upaya untuk menekantingkat mortalitas dan morbiditas penyakit malaria adalah dengan diagnosis laboratorium yang tepat dan pengobatannya. Oleh karena itu diagnosis laboratorium yang dilakukan oleh tenagalaboratorium mikroskopis malaria perlu di control untuk memastikan kualitas dari tenaga laboratoriummikroskopis malaria. Tujuan: Tujuan penelitian iniadalah untuk mengevaluasi kemampuan tenagalaboratorium mikroskopis malaria di laboratoriumklinik di wilayah kota Jayapura dengan menghitungnilai sensitivitas, spesivitas, akurasi identifikasispesies dan error rate. Metode Penelitian :penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengandesain crossexional. Populasi dalam penelitian iniadalah semua slide malaria yang sudah di periksaoleh tenaga laboratorium mikroskopis malaria di laboratorium puskesmas. Jumlah sampel dalampenelitian ini adalah sebanyak 13 tenaga laboratoriummikroskopis malaria di 13 Puskesmas Kota Jayapura. Hasil Penelitian : menunjukan bahwa terdapat 10 (58,8%) laboratorium klinik yang mendapatkan nilaibaik, terdapat 3 (17,6%) laboratorium mendapatkannilai cukup karena mendapatkan nilai akurasispesiesnya mendapatkan nilai antara 60-69%. Dan Ada 4 (23,5%) laboratorium mendapatkan nilaikurang karena nilai akurasi spesiesnya di bawah 60%. Kesimpulan : Kualitas diagnosis malaria di Kota Jayapura secara umum sudah baik, tetapi masih adapotensi kesalahan diagnosis, terutama dalam halmembedakan spesies parasit malaria. Upayapeningkatan kualitas perlu dilakukan secaraberkesinambungan untuk mencegah kesalahandiagnosis.Ringkasan: Latar belakang: Malaria tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Jayapura sebagai daerah endemik dengan angka Annual Parasite Incidence 5 per 1000 penduduk. Pemeriksaan mikroskopis sebagai gold standard diagnosis memerlukan kontrol kualitas yang ketat untuk memastikan akurasi diagnostik. Tujuan: Mengevaluasi kemampuan tenaga laboratorium mikroskopis malaria di Puskesmas Kota Jayapura melalui perhitungan sensitivitas, spesifisitas, akurasi identifikasi spesies, dan error rate. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional pada 13 laboratorium Puskesmas menggunakan 132 slide malaria. Cross-checker malaria melakukan pemeriksaan ulang untuk menghitung parameter kinerja diagnostik berdasarkan Permenkes No. 68 Tahun 2015. Hasil: Sebanyak 7 laboratorium (53,8%) mencapai kategori baik, 3 laboratorium (23,1%) kategori cukup, dan 3 laboratorium (23,1%) kategori kurang. Rata-rata sensitivitas 98,5%, spesifisitas 89%, akurasi spesies 77,9%, dengan error rate 6%. Simpulan: Kualitas diagnosis malaria Kota Jayapura umumnya baik namun masih terdapat potensi kesalahan identifikasi spesies parasit. Saran: Diperlukan pelatihan berkesinambungan untuk mencegah kesalahan diagnosis dan meningkatkan akurasi identifikasi spesies

    Analisis Determinan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Remaja Putri

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Kanker payudara merupakan penyakit keganasan paling umum pada wanita dan deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di kalangan remaja masih rendah. Tujuan: Menentukan faktor determinan pengetahuan, keterpaparan informasi, dan dukungan keluarga yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada siswi SMAN 1 Kutalimbaru. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 88 siswi terpilih melalui stratified random sampling. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar dan dianalisis univariat serta uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Tiga determinan berhubungan positif signifikan dengan perilaku SADARI: pengetahuan (r=0,290; p=0,006), keterpaparan informasi (r=0,382; p<0,001), dan dukungan keluarga (r=0,465; p<0,001). Simpulan: Pengetahuan, informasi, dan dukungan keluarga berperan penting dalam peningkatan perilaku SADARI remaja putri. Saran: Perkuat edukasi ibu sebagai agen pendukung utama dan tingkatkan penyebaran informasi melalui media elektronik di sekolah untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik SADARI.Kanker payudara menjadi kanker terbanyak yang diderita oleh wanita, Riset Penyakit Tidak Menular mengatakan jika perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan perilaku SADARI pada siswi di SMAN 1 Kutalimbaru. Metode yang digunakan yakni kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan metode stratified random sampling hingga diperoleh sebanyak 88 sampel. Sumber data penelitian menggunakan data primer yang diperoleh secara langsung melalui pengisian kuesioner. Data di analisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian ini diperoleh nilai signifikan sebesar <0,05 sehingga adanya hubungan. Besarnya hubungan dilihat dari nilai koefisien korelasi untuk pengetahuan sebesar 0,290, untuk ketepaparan informasi sebesar sebesar 0,382 dan dukungan keluarga sebesar 0,465. Nilai koefisien korelasi yang bernilai positif ini menunjukkan adanya hubungan yang searah semakin tinggi pengetahuan, ketepaparan informasi serta dukungan keluarga yang dimiliki remaja maka akan semakin baik perilaku SADARI. Determinan yang berhubungan dengan perilaku SADARI remaja putri yaitu pengetahuan, ketepaparan informasi, dan dukungan keluarga. Saran yang dapat diberikan yakni dengan memberikan edukasi terhadap para ibu tentang perilaku SADARI sehingga dengan meningkatnya pengetahuan ibu ini diharapkan seorang ibu dapat memberikan dukungan kepada putrinya yang mana hal ini akan sejalan dengan meningkatnya perilaku SADARI

    Effect of Stabilization of Storage Temperature on PH Levels in Expressed Breast Milk from Working Mothers in Campus I, Health Polytechnic, Ministry of Health, Semarang

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suhu penyimpanan terhadap kadar pH ASI sebagai indikator kualitasnya. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan variabel independen berupa suhu penyimpanan dan variabel dependen berupa kadar pH ASI. Metodeologi yang digunakan adalah pengukuran suhu penyimpanan ASI dalam dua kondisi: ASI yang di simpan pada suhu stabil pada 2-5 °C selama 6 jam, dan pada 2-4 °C selama 10 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua kondisi ini terdapat penurunan kadar pH ASI sebesar 0,13%. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara kedua kondisi ini (p = 0,739), menunjukkan bahwa suhu penyimpanan 2-5 °C selama 6 jam dan 2-4 °C selama 10 jam memiliki efek yang serupa terhadap kadar pH ASI. Perbandingan dengan metode lain, seperti penggunaan cooler bag dengan es gel, menunjukkan perbedaan yang signifikan. Cooler bag dengan es gel menghasilkan suhu yang lebih tinggi 4-9 °C setelah 6 jam, dan 13-16 °C setelah 10 jam serta penurunan kadar pH ASI yang lebih besar 2% setelah 6 jam, dan 3,47% setelah 10 jam (Vidianti, 2018; Yundelfa et al., 2018) dengan nilai p yang signifikan (p = 0,000). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa suhu penyimpanan stabil pada 2-5 °C secara efektif mempertahankan kadar pH ASI, yang merupakan indikasi penting untuk menjaga kualitas ASI. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah untuk memberikan pemahaman kepada ibu menyusui mengenai pentingnya suhu penyimpanan yang tepat untuk meminimalkan perubahan kualitas ASI. Kebijakan untuk mendukung penyediaan fasilitas penyimpanan ASI yang memadai di tempat kerja juga dapat membantu mempertahankan praktik pemberian ASI eksklusif di tengah tantangan perubahan sosial seperti meningkatnya jumlah wanita yang bekerja.Ringkasan: Latar Belakang: Peningkatan jumlah ibu bekerja menuntut strategi penyimpanan ASI perah yang optimal untuk mempertahankan kualitas nutrisi bagi bayi. Suhu dan durasi penyimpanan menjadi faktor kritis yang mempengaruhi stabilitas pH sebagai indikator kualitas ASI. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas stabilisasi suhu penyimpanan terhadap perubahan kadar pH ASI perah selama 10 jam. Metode: Penelitian quasi-eksperimen pada 34 sampel ASI dengan desain pre-post test control group. Kelompok intervensi menggunakan cooler bag termoelektrik (2-5°C), kelompok kontrol menggunakan cooler bag es gel. Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter digital pada jam ke-0, 6, dan 10. Hasil: Penyimpanan dengan cooler bag termoelektrik menunjukkan penurunan pH minimal (0,13%) tanpa perbedaan signifikan antar waktu pengukuran (p=0,739). Sebaliknya, cooler bag es gel mengalami penurunan pH signifikan hingga 3,47% (p=0,000). Simpulan: Stabilisasi suhu 2-5°C efektif mempertahankan kualitas pH ASI. Saran: Diperlukan penyediaan fasilitas penyimpanan bersuhu stabil di tempat kerja untuk mendukung program ASI eksklusif

    Effectiveness of Animated Video and Leaflet Counseling Media on Knowledge and Hemoglobin Levels in Female Students with Anemia

    Full text link
    Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di yang dapat dialami oleh semua kelompok umur. Prevalensi anemia pada kelompok usia remaja menunjukkan Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di yang dapat dialami oleh semua kelompok umur. Prevalensi anemia pada kelompok usia remaja menunjukkan hasil Riskesdas sebesar 84,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media  penyuluhan video animasi  dan leaflet terhadap  pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pre-post test group design. Penelitian ini menggambarkan perbandingan antara 2 kelompok perlakuan. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas XI SMA Negeri 6 Palembang yang menderita anemia. Dimana responden  kemudian dibagi dalam dua kelompok perlakuan yang dipilih secara random yaitu kelompok 1 yang diberi penyuluhan melalui pemutaran video  dan kelompok 2 yang diberi penyuluhan melalui leaflet.  Hasil penelitian diperoleh prevalensi anemia pada siswi SMA Negeri 6 sebesar 37,2 %. Ada perbedaan signifikan antara media video animasi dan leaflet dengan pengetahuan tentang anemia pada Siswi SMA Negeri 6 Palembang (p value = 0,043). Perlunya pengembangan media edukasi yang sesuai yang disukai oleh siswi untuk lebih bisa diterima untuk peningkatan pengetahuan tentang anemia serta aplikasi yang mampu memantau tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah guna penurunan prevalensi anemia pada remaja puterihasil Riskesdas sebesar 84,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media  penyuluhan video animasi  dan leaflet terhadap  pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pre-post test group design. Penelitian ini menggambarkan perbandingan antara 2 kelompok perlakuan. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas XI SMA Negeri 6 Palembang yang menderita anemia. Dimana responden  kemudian dibagi dalam dua kelompok perlakuan yang dipilih secara random yaitu kelompok 1 yang diberi penyuluhan melalui pemutaran video  dan kelompok 2 yang diberi penyuluhan melalui leaflet.  Hasil penelitian diperoleh prevalensi anemia pada siswi SMA Negeri 6 sebesar 37,2 %. Ada perbedaan signifikan antara media video animasi dengan leaflet dengan pengetahuan tentang anemia pada Siswi SMA Negeri 6 Palembang (p value = 0,043). Perlunya pengembangan media edukasi yang sesuai yang disukai oleh siswi untuk lebih bisa diterima untuk peningkatan pengetahuan tentang anemia serta aplikasi yang mampu memantau tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah guna penurunan prevalensi anemia pada remaja putri.Ringkasan: Latar Belakang: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi 84,6% berdasarkan Riskesdas 2018. Media penyuluhan yang efektif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan dalam pencegahan anemia. Tujuan: Mengetahui efektivitas media penyuluhan video animasi dan leaflet terhadap pengetahuan dan kadar hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMA Negeri 6 Palembang. Metode: Penelitian quasi experimental dengan pre-posttest group design pada 70 siswi kelas XI yang menderita anemia. Responden dibagi menjadi dua kelompok secara random: kelompok video animasi dan kelompok leaflet. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan google form, kadar hemoglobin diukur dengan metode Easy Touch. Hasil: Prevalensi anemia siswi 37,2% dengan rata-rata kadar Hb 13,1 mg/dl. Terdapat peningkatan pengetahuan signifikan antara pre-test dan post-test (p=0,043). Video animasi menunjukkan peningkatan pengetahuan lebih baik dibandingkan leaflet. Simpulan: Media video animasi lebih efektif meningkatkan pengetahuan anemia dibandingkan leaflet pada remaja putri. Saran: Diperlukan pengembangan media edukasi yang sesuai preferensi siswi dan aplikasi monitoring konsumsi tablet tambah darah

    Gambaran Status Gizi Balita Usia 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Status gizi balita menentukan kelangsungan hidup dan kualitas generasi mendatang, sehingga pemantauan berkelanjutan menjadi keharusan di Indonesia. Tujuan: Kajian ini bertujuan mendeskripsikan status gizi balita usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dan uji hubungan chi-square pada 360 balita yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan pengukuran antropometri berdasarkan standar WHO. Hasil: Mayoritas balita memiliki status gizi normal pada indikator TB/U (73,3%), BB/U (75,8%), BB/TB (74,4%), dan LILA (93,1%). Terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan orang tua, dan agama dengan status gizi balita (p<0,001). Simpulan: Monitoring berkala status gizi diperlukan guna deteksi dini dan pencegahan masalah gizi. Saran: Disarankan kader posyandu aktif dalam pemantauan dan edukasi gizi kepada masyarakat.Kesehatan anak di bawah usia lima tahun adalah faktor penting untuk kelangsungan hidup generasi mendatang, sehingga penilaian status gizi balita penting dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui status gzi balita. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan analisis uji korelasi chi-square. Sampel penelitian ini terdiri dari 360 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran status gizi dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan, kemudian diklasifikasikan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut standar WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi balita di wilayah Bandarharjo mengalami keragaman yang signifikan. Sebanyak 61,7% balita berusia 2-5 tahun, 59,7% berjenis kelamin laki-laki, 73,3% status gizi normal (TB/U), 75,8% status gizi normal (BB/U), 74,4% status gizi normal (BB/TB), 93,1% status gizi baik (LILA), dan 85,3% status gizi normal (lingkar kepala). Serta terdapat hubungan yang signifikan antara usia bayi, jenis kelamin bayi, pekerjaan orang tua dan agama terhadap status gizi (p<0,001) berdasarkan TB/U, BB/U, BB/TB dan Lila. Kesimpulan: usia bayi, jenis kelamin bayi, pekerjaan orang tua, dan agama memiliki hubungan signifikan dengan status gizi balita berdasarkan indikator-indikator TB/U, BB/U, BB/TB dan Lila. Mengingat pentingnya pemantauan gizi secara berkala, disarankan agar fasilitas pelayanan kesehatan terus melakukan evaluasi rutin terhadap status gizi balita untuk mendeteksi dan mencegah masalah gizi sedini mungkin

    Hubungan Masa Kerja dan Durasi Kerja dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Pemanen Sawit PT Abdi Budi Mulia Teluk Panji Labuhanbatu Selatan

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Musculoskeletal disorders (MSDs) adalah gangguan yang mempengaruhi fungsi normal sistem muskuloskeletal akibat paparan berulang berbagai faktor risiko di tempat kerja, dengan faktor masa kerja dan durasi kerja menjadi determinan utama. Tujuan: Mengetahui hubungan masa kerja dan durasi kerja dengan keluhan MSDs pada pekerja pemanen sawit PT Abdi Budi Mulia Teluk Panji, Labuhanbatu Selatan. Metode: Penelitian cross-sectional pada 101 pekerja pemanen sawit menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nordic Body Map dan dianalisis dengan uji Spearman's rank. Hasil: Sebanyak 94 responden (93,1%) mengalami keluhan MSDs sedang, 59 responden (58,4%) memiliki masa kerja <10 tahun, dan 88 responden (87,1%) bekerja <7 jam/hari. Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja dengan keluhan MSDs (p=0,001; r=0,333) dan durasi kerja dengan keluhan MSDs (p=0,006; r=0,271). Simpulan: Masa kerja dan durasi kerja berkorelasi positif dengan keluhan MSDs pada pekerja pemanen sawit. Saran: Implementasi program pencegahan ergonomis dan pelatihan postur kerja untuk mengurangi risiko MSDs.Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah gangguan yang mempengaruhi fungsi normal sistem musculoskeletal akibat paparan berulang berbagai faktor risiko di tempat bekerja. Faktor pekerjaan yang berkaitan dengan MSDs adalah beban kerja, masa kerja, dan durasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masa kerja dan durasi kerja dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada pekerja pemanen sawit yang berada di Teluk Panji. Sampel pada penelitian ini adalah semua pekerja pemanen sawit yang berada di Teluk Panji. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner nordic body map. Analisis data menggunakan uji statistik spearmen rank. Responden yang mengalami keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) lebih banyak yaitu 94 responden (93.1%). Responden yang memiliki masa kerja <10 tahun lebih banyak yaitu 59 responden (58,4%). Responden yang memiliki durasi kerja <7 jam lebih banyak yaitu 88 responden (87,1%). Ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs dengan nilai p=0,001<? (0,05) Ada hubungan antara durasi kerja dengan keluhan MSDs dengan nilai p=0,006<? (0,05). Kondisi muskuloskeletal penting sepanjang kehidupan, dari masalah jangka pendek seperti nyeri dibagian tubuh tertentu. Penelitian ini menemukan pekerja pemanen kelapa sawit sering mengalami keluhan MSDs pada bahu, punggung, paha, leher, dan lengan bawah, terkait dengan masa dan durasi kerja

    Evaluasi Potensi Hidrogel Ekstrak Daun Afrika (Vernonia Amygdalina) dalam Meningkatkan Penyembuhan Luka Perineum pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus)

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Ruptur perineum merupakan komplikasi umum persalinan yang berdampak pada kualitas hidup ibu. Pengembangan terapi alternatif menggunakan ekstrak daun afrika potensial dalam mendukung penyembuhan luka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas hidrogel daun afrika (Vernonia amygdalina) terhadap penyembuhan luka perineum pada kelinci. Metode: Penelitian true experimental dengan rancangan randomized post test with control group menggunakan 12 ekor kelinci, dibagi kelompok kontrol (perawatan luka bersih) dan intervensi (hidrogel daun afrika 30% dua kali sehari, 7 hari). Pengukuran menggunakan skala REEDA dan dianalisis statistik Friedman serta Mann Whitney. Hasil: Hasil menunjukkan penyembuhan luka pada kelompok hidrogel daun afrika signifikan lebih cepat, ditandai penurunan skor REEDA bermakna hari ke-3, 5, dan 7 dibanding kontrol (p<0,05). Simpulan: Hidrogel daun afrika efektif mempercepat penyembuhan luka perineum pada hewan model. Saran: Disarankan uji klinik lanjut pada manusia dan evaluasi mikroskopis epitelisasi.Ruptur Perineum terjadi hampir pada semua persalinan pervaginam yang dialami oleh ibu bersalin dan akan menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman, selain itu akan berpengaruh pada kondisi ibu dalam pemberian laktasi dan perawatan sehari-hari bayinya. Oleh karena itu, proses penyembuhan luka perineum yang baik  dan efektif sangat penting. Salah satu herbal yang dapat digunakan dalam membantu mempercepat proses penyembuhan luka perineum adalah daun Afrika (vernoniaa amygdalina), yang mengandung zat yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Agar semakin nyata pemanfaatan daun afrika ini maka perlu pengaplikasian pada hewan kelinci bertina (oryctolagus cuniculus) sebelum diterapkan pada luka perineum ibu postpartum. Pemilihan sediaan hidrogel mampu memberikan rasa dingin dikulit sehingga menimbulkan rasa nyaman pada saat diaplikasikan pada daerah yang dituju serta sediaannya mudah mengering membentuk lapisan film yang mudah dicuci dengan air. Design yang digunakan true experiment dengan rancangan penelitian randomized post test with control group. Populasi penelitian ini adalah 12 ekor kelinci yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok (I) perawatan luka kering bersih dan kelompok (II) perawatan luka dengan hidrogel daun afrika 30% 2 kali sehari selama 7 hari. Pengukuran luka menggunakan skala skor REEDA. Perawatan dilakukan selama 7 hari dengan prevelensi penilaian skor REEDA.  Uji statistik menggunakan Friedman dan mann whitney. Hasil pengujian  waktu penyembuhan luka perineum pada hari ke  ketiga sampai ke tujuh. Perawatan luka kering bersih lebih lama sembuh dibandingkan dengan luka yang diberi hidrogel daun afrika. Hasil analisis kedua kelompok terdapat penurunan skala REEDA yang bermakna pada hari ke 3,5 sampai ke 7, sehingga dapat disimpulkan bahwa perawatan luka perinemum pada kelinci dengan pemberian hidrogel daun afrika dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka perineu

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇