Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Fisioterapi Dada dan Batuk Efektif sebagai Penatalaksanaan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas pada Pasien TB Paru di RSUD Kota Kendari

    Get PDF
    Pulmonary tuberculosis is an infection disease with the highest prevalence in the world and being the third largest in Indonesia with 1.02 million cases. The core problem of pulmonary tuberculosis patient is ineffective airway clearance characterized by dyspnea, ronchi, excessive sputum, ineffective cough. Nursing intervention to manage the problem is chest physiotherapy and effective coughing. This study aims to obtain an overview of the application of chest physiotherapy and effective coughing as ineffective airway clearance management on pulmonary tuberculosis patient. Method: Method used descriptive case study with structured interview, studies document and observations. Participants in this study is pulmonary tuberculosis patient which is given three days and twice a day session of chest physiotherapy and effective coughing. Patency of the airway is improved after chest physiotherapy and effective coughing which characterized by normal respiratory frequencies, normal respiratory rhythms, no ronchi and able to remove sputum from airway. Chest physiotherapy and effective coughing is applicable as ineffective airway clearance management on pulmonary tuberculosis patient.Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi dengan prevalensi tertinggi di dunia dan terbesar ketiga di Indonesia dengan 1,02 juta kasus. Masalah utama pada penderita tuberkulosis paru adalah pembersihan jalan nafas yang tidak efektif yang ditandai dengan dispnea, ronchi, sputum yang berlebihan, batuk yang tidak efektif. Intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut adalah fisioterapi dada dan batuk efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penerapan fisioterapi dada dan batuk yang efektif sebagai penatalaksanaan klirens jalan nafas yang tidak efektif pada penderita tuberkulosis paru. Metode: Metode yang digunakan studi kasus deskriptif dengan wawancara terstruktur, studi dokumen dan observasi. Partisipan dalam penelitian ini adalah penderita tuberkulosis paru yang diberikan tiga hari dan dua kali sehari sesi fisioterapi dada dan batuk efektif. Patensi jalan nafas membaik setelah fisioterapi dada dan batuk efektif yang ditandai dengan frekuensi pernafasan normal, irama pernafasan normal, tidak ada ronchi dan mampu mengeluarkan sputum dari jalan nafas. Fisioterapi dada dan batuk efektif dapat diterapkan sebagai manajemen pembersihan jalan napas yang tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru

    Manajemen Kasus Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi pada Pasien Tuberkulosis Paru

    No full text
    Pulmonary tuberculosis is an infectious disease that attacks the lung parenchyma, caused by Mycobacterium tuberculosis (Somantri, 2009). In 2017 in Southeast Sulawesi, 2,587 new cases of BTA (+) were found. In 2016 in Kendari City Hospital, 229 cases of pulmonary tuberculosis were obtained, while in 2017 there were 286 cases (Medical Records and SIRS of Kendari City). Objective: Carry out nursing care for pulmonary tuberculosis patients in fulfilling oxygenation needs in the Lavender Room at the Kendari City Hospital. Methods: In this study, researchers used a descriptive study, namely a case study. Result: Nursing diagnosis, namely ineffective airway clearance associated with excessive mucus. After 3x24 hours of action, the results showed: the patient did not experience shortness of breath, breathing 20 times / minute, no additional breath sounds and the patient was able to cough effectively without the help of the nurse's instructions. Bottom Line: An effective cough action can help drain secretions and reduce chest pain.Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Somantri, 2009). Pada tahun 2017 di Sulawesi Tenggara ditemukan 2.587 kasus baru BTA (+). Pada tahun 2016 di RSUD Kota Kendari di dapatkan jumlah kasus tuberculosis paru sebanyak 229 kasus sedangkan tahun 2017 sebanyak 286 kasus ( Rekam Medik dan SIRS Kota Kendari ). Tujuan : Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien tuberculosis paru dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi di Ruang Lavender RSUD Kota Kendari. Metode: Pada penelitian ini peneliti menggunakan penelitian deksriptif yaitu dengan studi kasus. Hasil: Diagnosa Keperawatan yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mucus berlebihan. Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam didapatkan hasil : pasien tidak mengalami sesak, pernapasan 20 kali/menit, suara napas tambahan tidak ada dan pasien mampu melakukan batuk efektif tanpa bantuan instruksi perawat. Kesimpulan: Tindakan batuk efektif dapat membantu mengeluarkan sekret dan mengurangi nyeri dada

    Manajemen Kasus Penurunan Suhu Tubuh pada Anak dengan Demam Tifus

    No full text
    Typhoid fever is an acute infectious disease that usually affects the digestive tract with symptoms of fever that lasts more than one week, indigestion, and impaired consciousness (Lestari, 2016). Giving a warm compress in the axilla area has a good effect in reducing body temperature in children with fever because that area has large blood vessels. In Indonesia in 2013 the number of typhoid fever sufferers was 9,747 in hospitalized patients (Ministry of Health, 2013). Kendari City Hospital noted that there were 199 cases of typhoid in children in 2016, 234 cases in 2017, and 229 cases in 2018 (Medical Records and SIRS of Kendari City Hospital). Objective: To describe nursing care in children with typhoid fever in decreasing body temperature. Methods: In this study, researchers used a descriptive study, namely a case study. Results: Nursing diagnosis, namely hyperthermia associated with disease. After 3x24 hours of nursing care, the results obtained evaluation of temperature 37.0ºC, pulse 100 times / minute, breathing 20 times / minute, blood pressure 110/70 mmHg, and no increase in skin temperature. Bottom Line: a warm compress can treat an increase in body temperature.Demam Thypoid adalah adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran (Lestari, 2016). Pemberian kompres hangat didaerah axilla mempunyai pengaruh yang baik dalam menurunkan suhu tubuh pada anak demam karena didaerah tersebut memiliki pembuluh darah yang besar. Di Indonesia pada tahun 2013 jumlah penderita demam thypoid sebesar 9.747 kasus pada penderita rawat inap (Kemenkes, 2013). RSUD Kota Kendari mencatat bahwa penderita thypoid pada anak tahun 2016 sebanyak 199 kasus, tahun 2017 sebanyak 234 kasus, dan pada tahun 2018 sebanyak 229 kasus (Rekam Medik dn SIRS RSUD Kota Kendari). Tujuan: Untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada anak demam thypoid dalam penurunan suhu tubuh. Metode: Pada penelitian ini peneliti menggunakan penelitian deskriptif yaitu dengan studi kasus. Hasil: Diagnosa Keperwatan yaitu hipertermi berhubungan dengan penyakit. Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam didapatkan evaluasi hasil suhu 37,0ºC, nadi 100 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit, tekanan darah 110/70 mmHg, dan tidak ada peningkatan suhu kulit. Kesimpulan: kompres hangat dapat mengatasi peningkatan suhu tubuh

    Video Pijat Bayi sebagai Media Peningkatan Keterampilan Ibu dalam Merangsang Perkembangan Motorik Bayi

    Get PDF
    Baby massage has a very positive effect on the baby's growth and development process. This type of research is a Quasi experimental design with pretest-posttest control group design. The research location is Puskesmas Mokoau Kendari City. The population was infants aged 3 - 9 months. The sampling technique uses Quota and Accidental sampling techniques. The results showed that descriptively after being given a video massage, the majority of baby mothers, namely 66.67%, were skilled at infant massage. And after being given massage, the majority of babies, namely 93.33% of babies, had normal motor development. Inference, it is known that there is a significant difference in the massage skills of mothers with infants in the treatment group and the control group with p-value = 0.001 <? = 0.05 with the value of t-count = 6.162. Likewise, there was a significant difference in the motor development of infants in the treatment group given massage and the control group without massage with p-value = 0.031 <? = 0.05 with the value of t-count = 2.269. Thus it can be concluded that video infant massage is effective in improving massage skills of mother infants and giving infant massage is effective in improving motor development of infants aged 3 - 9 months.Pijat bayi sangat berpengaruh positif bagi proses tumbuh kembang bayi. Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimental dengan desain pretest-posttest contol group design. Lokasi penelitian adalah Puskesmas Mokoau Kota Kendari. Populasi adalah bayi usia 3 - 9 bulan. Teknik sampling menggunakan teknik Quota dan Accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara deskriptif setelah diberikan video pijat bayi mayoritas ibu bayi yakni 66,67% ibu bayi terampil melakukan pijat bayi. Dan setelah diberikan pemijatan mayoritas bayi yakni 93,33% bayi memiliki perkembangan motorik yang normal. Secara inferensial diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan keterampilan pijat ibu bayi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai p-value = 0,001 < ? = 0,05 dengan nilai t –hitung = 6,162. demikian pula bahwa ada perbedaan yang signifikan perkembangan motorik bayi pada kelompok perlakuan yang diberikan pijatan dan kelompok kontrol tanpa diberikan pijatan dengan nilai p-value = 0,031 < ? = 0,05 dengan nilai t –hitung = 2,269. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian video pijat bayi efektif meningkatkan keterampilan pijat ibu bayi dan pemberian pijat bayi efektif meningkatkan perkembangan motorik bayi usia 3 – 9 bulan

    Efektifitas Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil tentang Deteksi Dini Risiko Tinggi di Puskesmas Lalowaru Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara

    Get PDF
    Maternal and child health is the third SDG target, which is to ensure a healthy life and promote welfare for all people of all ages. The class of pregnant women is part of the Maternal and Child Health Program that has been implemented since 2009. The purpose of this study is to assess the effectiveness of the implementation of the class of pregnant women on the knowledge and attitudes of early detection of high risk factors in the Lalowaru Health Center, Konawe Selatan Regency. The method in this study used a quasi-experimental. The treatment group was given intervention in the form of education using a pocket book for 6 months (starting from the second trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy). The control group did not receive education and pocket books. The research sample consisted of 40 respondents consisting of the intervention group of 20 people and the control group of 20 people. Data analysis used the Wilcoxon signed test. The results showed that education increased the knowledge of pregnant women about early detection of pregnancy (mean posttest in the intervention group: 92.69 ± 0.96 (p-value = 0.000)). Education improves the attitudes of pregnant women about early detection of pregnancy (mean posttest intervention: 96.36 ± 0.84 (p-value = 0.000)). Education increases ANC visits for pregnant women about early detection of pregnancy.Kesehatan Ibu dan anak merupakan target SDGs yang ketiga yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Kelas ibu hamil merupakan bagian dari Program Kesehatan Ibu dan anak yang sudah di laksanakan sejak tahun 2009. Tujuan penelitian ini untuk menilai efektifitas pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap Pengetahuan dan sikap deteksi dini faktor Risiko Tinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Lalowaru Kabupaten Konawe Selatan. Metode pada penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen. Kelompok perlakuan diberikan intervensi berupa edukasi dengan menggunakan buku saku selama 6 bulan (mulai dari trimester II masa kehamilan hingga trimester III kehamilan). Kelompok kontrol tidak mendapatkan edukasi dan buku saku. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang terdiri dari kelompok intervensi 20 orang dan kelompok kontrol 20 orang. Analisis data mengunakan uji Wilcoxon signed. Hasil penelitian menunjukkan edukasi meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang deteksi dini kehamilan (rerata posttest kelompok intervensi: 92,69±0,96 (p-value= 0,000)). Edukasi meningkatkan sikap ibu hamil tentang deteksi dini kehamilan (rerata posttest intervensi: 96,36±0,84 (p-value= 0,000)). Edukasi meningkatkan kunjungan ANC ibu hamil tentang deteksi dini kehamilan

    Mild Cognitive Impairment (MCI) pada Aspek Kognitif dan Tingkat Kemandirian Lansia dengan Mini-Mental State Examination (MMSE)

    Get PDF
    Aging reduces physical, psychological and social functioning. Cognitive impairment causes disabilities in daily functions and limits quality of life. In the elderly there is often a partial or total dependence on external assistance or care. The importance of a study to conduct a study on Mild Cognitive Impairment (MCI) on the Cognitive Aspects and the Level of Independence of the Elderly with a Mini-Mental State Examination (MMSE) measurement tool, in elderly people living in coastal areas who are part of the assisted blood of the nursing department. The type of research used is descriptive research, in August-December 2018 on the coast of Toronipa. The population in this study were all elderly who live in the Toronipa coastal area of ??Konawe Regency, an assessment instrument that functions to measure functional independence in self-care and mobility and is also used as a criterion in assessing functional ability for 10 minutes and assessing cognitive function in the areas of orientation, memory, attention and calculation, language construction and visuals. Patients score between 0 and 30 points, and cut-offs of 23/24 are usually used to indicate significant cognitive decline. Research result; Analysis on cognitive function: normal category 20 people (40.0%) while cognitive function disorders as many as 30 people (60.0%). The category of the independence level of the elderly, independent in carrying out daily activities as many as 48 people (96.0%), while those who experienced dependence amounted to 2 people (4.0%). The results of the analysis with the Chi Square test, the value of p = 0.510, meaning that the P value is greater than 0 , 05, so that there is no relationship between MCI from a cognitive aspect with the level of independence of the elderly in the coastal area of ??Toronipa.Penuaan mengurangi fungsi fisik, psikologis, dan sosial. Gangguan kognitif menyebabkan ketidakmampuan dalam fungsi sehari-hari dan membatasi kualitas hidup. Pada lansia sering terjadi ketergantungan parsial atau total pada bantuan atau perawatan eksternal. Pentingnya sebuah studi untuk melakukan kajian tentang Mild Cognitive Impairment (MCI)  pada Aspek Kognitif dan Tingkat Kemandirian Lansia dengan alat ukur Mini-Mental State Examination (MMSE), pada lansia yang berada di daerah pesisir yang merupakan bagian darah binaan jurusan keperawatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, pada bulan Agustus-desember tahun 2018 di pesisir pantai Toronipa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang berdomisili di Pesisir pantai Toronipa Kabupaten Konawe, suatu instrumen pengkajian yang berfungsi mengukur kemandirian fungsional dalam perawatan diri dan mobilitas juga digunakan sebagai kriteria dalam menilai kemampuan fungsional bagi la10 menit dan menilai fungsi kognitif di bidang  orientasi, memori, perhatian dan perhitungan, konstruksi bahasa dan visual. Skor pasien antara 0 dan 30 poin, dan cut offs 23/24 biasanya digunakan untuk menunjukkan penurunan kognitif yang signifikan.   Hasil penelitian; Analisa pada fungsi  kognitif:   kategori  normal  20 orang (40.0 %) sedangkan gangguan fungsi kognitif  sebanyak 30 orang ( 60.0 % ). Kategori tingkat kemandirian Lansia, mandiri dalam melakukan aktifitas sehari-hari sebanyak 48 orang (96.0 % ), sedangkan yang mengalami ketergantungan berjumlah 2 orang ( 4.0 % ).Hasil analisa dengan uji Chi Square nilai p= 0.510, artinya nilai  P lebih besar dari 0,05, sehingga tidak ada hubungan antara MCI dari aspek kognitif dengan tingkat kemandirian lansia diwilayah pesisir pantai Toronipa

    Brainstorming dalam Pencegahan Pneumonia pada Anak Balita

    Get PDF
    One of the infectious diseases which is the biggest contributor to under-five mortality in Indonesia is pneumonia. In developing countries, pneumonia is called The One Killer Of Children and has become a neglected health problem because many children die from pneumonia but very little attention is paid to handling this problem. Pneumonia is an acute infectious process that affects the lung tissue (alveoli) and can be recognized through guidelines for clinical signs and other investigations. Overcoming pneumonia is not enough just by mastering treatment and handling, but it requires sufficient knowledge about the causes of pneumonia so that preventive efforts can be made to prevent pneumonia in toddlers. Brainstorming health education is one of the factors that influence knowledge. The purpose of this study was to determine the effect of the btanstorming method on the knowledge and attitudes of mothers in preventing pneumonia in children under five. Respondents in this study were mothers of toddlers. The results of this study indicate that there is an increase in knowledge in preventing pneumonia in children under five before and after the intervention. The brainstorming method of health education can change the level of knowledge of mothers at the Abeli ??Community Health Center in preventing pneumonia in children under five to a better direction. The brainstorming method of health education can change the attitudes of mothers at the Abeli ??Community Health Center in preventing pneumonia.Penyakit menular yang menjadi penyumbang terbesar kematian balita di Indonesia salah satunya adalah pneumonia. Di negara berkembang, pneumonia disebut The One Killer Of Children dan menjadi masalah kesehatan yang terabaikan karena banyak anak yang meninggal karena masalah pneumonia akan tetapi perhatian terhadap penanganan masalah ini sangat sedikit. Pneumonia merupakan proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli) dan dapat dikenali melalui pedoman tanda-tanda klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya. Mengatasi penyakit Pneumonia tersebut tidak cukup hanya dengan menguasai pengobatan maupun penanganan saja, tetapi dibutuhkan suatu pengetahuan yang cukup tentang faktor penyebab Pneumonia sehingga dapat dilakukan upaya preventif untuk mencegah Pneumonia pada balita. Pendidikan kesehatan brainstorming merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui pengaruh metode btanstorming terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam pencegahan Pneumonia pada anak balita. Responden pada penelitian ini adalah ibu dengan anak usia balita. Hasil penelian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dalam pencegahan pneumonia pada anak balita sebelum dan sesudah intervensi. Pendidikan kesehatan metode brainstorming dapat mengubah tingkat pengetahuan ibu di Puskesmas Abeli dalam mencegah terjadinya pneumonia pada balita ke arah yang lebih baik. Pendidikan kesehatan metode brainstorming dapat mengubah sikap ibu di Puskesmas Abeli dalam mencegah terjadinya pneumonia

    Analisis Tingkat Konsumsi Zat Gizi terhadap Gizi Kurang Balita di Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember

    Get PDF
    Children have a wide variety of problems with regard to growth, development and nutrition. Lack of macronutrients can lead to protein-calorie malnutrition and when combined with micronutrient deficiencies can cause nutritional problems in toddlers. This study aims to analyze the level of consumption in the incidence of malnutrition among children under five at Jelbuk Health Center, Jember Regency. This research is an analytical study with an observational design using a case control approach. The population in this study were all toddlers aged 0-5 years. The sampling technique used Simple Random Sampling. The sample size is determined based on the sample size formula in the study with a case control approach, namely as many as 42 toddlers. The results showed that there was a significant effect between the level of calorie consumption (p = 0.003), the level of protein consumption (p = 0.003), the level of carbohydrate consumption (p = 0.002) and the level of fat consumption (p = 0.005) with the incidence of malnutrition among children under five. There should be coordination and efforts from regional midwives, Puskesmas and the local Health Office to increase activities related to health promotion on parenting related to the importance of nutritional intake for toddlers.Anak-anak memiliki masalah yang sangat bervariasi berkaitan dengan pertumbuhan, perkembangan dan nutrisi. Kekurangan makronutrien dapat memicu malnutrisi protein-kalori dan ketika dikombinasikan dengan defisiensi mikronutrien dapat menimbulkan masalah gizi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat konsumsi dalam kejadian gizi kurang pada balita di Puskesmas Jelbuk, Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain observasional menggunakan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 0-5 tahun. Tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan Simple Random Sampling. Besar sampel ditentukan berdasarkan rumus besar sampel pada penelitian dengan pendekatan case control yaitu sebanyak 42 balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tingkat konsumsi kalori (p=0,003), tingkat konsumsi protein (p=0,003), tingkat konsumsi karbohidrat (p=0,002) dan tingkat konsumsi lemak (p=0,005) dengan kejadian gizi kurang pada balita. Hendaknya ada koordinasi serta upaya dari bidan wilayah, Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan promosi kesehatan tentang pola asuh berkaitan dengan pentingnya asupan nutrisi pada balita

    Efektivitas Terapi Spritual Shalat dan Dzikir terhadap Kontrol Diri Klien Penyalahgunaan Napza

    Get PDF
    Religion is one of the protective factors that provides positive results by preventing individuals from engaging in drug abuse. Religion and spirituality can inhibit addiction, and maintain self-control in drug abuse clients. Narcotics that are used continuously will result in a fairly high tolerance, and if the use is stopped it will cause with drawl or withdrawal syndrome. Healing is by means of medical and non-medical rehabilitation, non-medical rehabilitation, one of which is by means of spiritual healing techniques including prayer and dhikr, appearing as a valid Islamic spiritual healing method which is carried out by getting closer to the client to his spirituality and religion. The results of this study, on the pretest measurement results 16 respondents had negative self-control and 12 respondents had positive self-control, then after being given prayer and dzikir therapy treatment for two months, 26 respondents had positive self-control and 2 respondents had negative self-control. Mc Nemar statistical test p value <0.001 less than the value? 0.05, which means that there is an effect of the provision of prayer therapy accompanied by dhikr on client self-control of drug abuse.Agama adalah salah satu faktor perlindungan yang memberikan hasil positif dengan mencegah individu terlibat dalam penyalahgunaan Napza. Agama dan spritual dapat menghambat kecanduan, dan menjaga kontrol diri klien penyalahgunaan Napza. Narkotika yang digunakan secara terus menerus akan mengakibatkan toleransi yang cukup tinggi, dan jika pemakaian dihentikan maka akan menimbulkan with drawl atau sindroma putus zat. Penyembuhannya dengan cara rehabilitasi medis maupun non medis, rehabilitasi non medis salah satunya dengan teknik terapi spiritual termasuk shalat dan zikir muncul sebagai metode terapi spiritual Islam yang berlaku yang dilakukan dengan cara mendekatkan diri klien terhadap spritual dan agama yang dianutnya. Hasil penelitian ini, pada pretest hasil pengukuran 16 responden memiliki kontrol diri negatif dan 12 responden memiliki kontrol diri positif, kemudian setelah diberikan perlakuan terapi shalat dan  dzikir selama dua bulan pengukuran kontrol diri positif 26 responden dan 2 responden kontrol diri negatif. Uji statistik Mc Nemar nilai p <0.001 kurang dari nilai ? 0.05, yang berarti terdapat pengaruh pemberian terapi shalat disertai dzikir terhadap kontrol diri klien penyalahgunaan NAPZA

    Penerapan Intervensi Manajemen Halusinasi terhadap Tingkat Agitasi pada Pasien Skizofrenia

    Get PDF
    Schizophrenia is a condition in which a person experiences a significant change in behavior, someone who experiences this disorder becomes self-forgetful, behaves abnormally, injures himself, shuts himself in, does not want to socialize, lacks self-confidence and often enters the subconscious in a full fantasy world. delusions and hallucinations. This case study research uses a descriptive research design aimed at implementing hallucination management interventions on the level of agitation in patients with auditory hallucinations The sample in this study were schizophrenic patients who experienced cooperative auditory hallucinations. The results and conclusions of this study were that there was an effect of giving speech therapy. with others to levels of agitation, restlessness and insomnia. In the nine days of intervention, for the level of agitation agitation showed a scale of 4 categories of mild and for the level of agitation insomnia showed a scale of 3 categories of moderate. Suggestions are expected that further researchers can use it as a guide in implementing hallucination management in schizophrenia patients.Skizofrenia merupakan keadaan dimana seseorang mengalami perubahan prilaku yang signifikan seseorang yang mengalami gangguan ini menjadi lupa diri, berprilaku tidak wajar, mencederai diri sendiri, mengurung diri, tidak mau bersosialisasi, tidak percaya diri dan sering kali masuk ke alam bawah sadar dalam dunia fantasi yang pennuh delusi dan halusinasi. Penelitian studi kasus ini menggunakan desain penelitian deskriptif bertujuan untuk melakukan penerapan intervensi manajemen halusinasi terhadap tingkat agitasi pada pasien dengan halusinasi pendengaran Sampel dalam penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran yang kooperatif Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada pengaruh pemberian terapi bercakap – cakap dengan orang lain terhadap tingkat agitasi gelisah dan insomnia. Dalam sembilan hari intervensi, untuk tingkat agitasi gelisah menunjukan skala 4 kategori ringan dan untuk tingkat agitasi insomnia menunjukan skala 3 kategori sedang. Saran diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggunakan sebagai pedoman dalam melakukan penerapan manajemen halusinasi pada pasien skizofrenia

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇