Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Hubungan Pengetahuan Lansia Dengan Status Vaksinasi Covid-19

    Get PDF
    Merebaknya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di seluruh dunia terutama di Indonesia mengakibatkan banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satu program pemerintah dalam mengatasi penularan Covid-19 terutama pada populasi rentan adalah dengan melakukan vaksinasi Covid-19. Lansia sebagai kelompok yang sangat rentan terhadap paparan Covid-19 membuat pemerintah memberi perhatian khusus kepada lansia untuk mendapatkan vaksin dengan tujuan mengendalikan angka kesakitan dan kematian pada lansia. Capaian angka vaksinasi Covid-19 khususnya di Indonesia masih tergolong rendah. Kurangnya pengetahuan membuat lansia lebih mempercayai issue hoax, takut dengan efek samping, dan ragu dengan keamanan vaksin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan status vaksinasi Covid-19 pada lansia di Dusun Lumban Panopa Desa Siborong-borong I Kabupaten Tapanuli Utara. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia di Dusun Lumban Panopa sebanyak 150 lansia dengan sampel berjumlah 60 lansia. Teknik pengambilan sampel Consecutive Sampling. Analisa data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan status vaksinasi Covid-19 pada lansia nilai p-value 0,000. Pengetahuan lansia yang kurang memiliki status vaksinasi Covid-19 tidak lengkap. Diharapkan kepada pemerintah setempat agar melakukan kunjungan secara langsung serta memberi edukasi bersama dengan petugas Satgas Covid-19 untuk meningkatkan pengetahuan lansia dalam memahami, melakukan serta melengkapi status vaksinasi Covid-19. The spread of Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) throughout the world, especially in Indonesia, has resulted in many negative impacts. One of the government's programs in overcoming the transmission of Covid-19, especially in vulnerable populations is to carry outCovid-19 vaccinations. The elderly as a group that is very vulnerable to exposure to Covid-19 have made the government pay special attention to the elderly to get vaccines with the aim of controlling morbidity and mortality in the elderly. The achievement of the Covid-19 vaccination rate, especially in Indonesia, is still relatively low. Lack of knowledge makes the elderly believe in hoax issues, are afraid of side effects, and doubt the safety of vaccines. The purpose of this study was to analyze the relationship between knowledge and Covid-19 vaccination status in the elderly in Lumban Panopa Hamlet, Siborong-borong IVillage, North Tapanuli Regency. This analytical survey research crosssectional approach. One hundred and fifty elderly the population in this research with sample is sixty elderly. The sampling technique is Consecutive Sampling. In analyzing the data, the chi-square test was used. The results showed that there was a relationship between knowledge andCovid-19 vaccination status in the elderly with a p-value of 0.000. Knowledge of the elderly who lack Covid-19 vaccination status is incomplete. It is hoped that the local government will make direct visits and provide education together with the Covid-19 Task Force officers to increase the knowledge of the elderly in understanding, carrying out, and completing the Covid-19 vaccination status

    Terapi Kombinasi Sofosbuvir dan Daclatasvir Pada Pasien dengan Hepatitis C Kronik : Sebuah Tinjauan Literatur

    Get PDF
    Latar Belakang: Hepatitis C kronik merupakan penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis c/HCV. World Health Organization/WHO melaporkan bahwa lebih dari 3% populasi dunia terinfeksi HCV. Diperkirakan bahwa HCV bertanggung jawab atas 27% sirosis dan 25% kasus HCC. kurangnya studi baru dan besar tentang kombinasi sofosbuvir dan daclatasvir telah menyebabkan kurangnya kombinasi sofosbuvir dan daclatasvir digunakan sebagai pedoman pada dunia internasional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengulas terapi hepatitis c dari berbagai sumber literatur. Metode: Pencarian literatur menggunakan database Google Scholar, PubMed dalam kurun waktu 5 (lima) tahun dari tahun 2018-2022. Kata kunci yang digunakan adalah “sofosbuvir”, “daclatasvir”, “chronic hepatitis c”. Hasil: Kombinasi sofosbuvir dengan daclatasvir efektif pada semua genotype HCV, pada kondisi tertentu seperti gangguan ginjal, fibrosis hati berat, usia anak dan lansia. Kesimpulan: Kombinasi sofosbuvir dan daclatasvir merupakan pilihan pengobatan yang dapat digunakan pada pasien dengan infeksi HCV kronis.  Kombinasi sofosbuvir dan daclatasvir dapat digunakan pada kondisi klinis tertentu.Background: Chronic hepatitis C is a liver disease caused by the hepatitis c/HCV virus. The World Health Organization/WHO reports that more than 3% of the world's population is infected with HCV. It is estimated that HCV is responsible for 27% of cirrhosis and 25% of HCC cases. The lack of new and large studies on the combination of sofosbuvir and daclatasvir has resulted in the lack of use of the combination of sofosbuvir and daclatasvir in international guidelines. Purpose: This study aims to review hepatitis c therapy from various literature sources. Method: Literature search using the Google Scholar, PubMed, Cochrane database within 5 (five) years from 2018-2022. The keywords used were "sofosbuvir", "daclatasvir", "chronic hepatitis c". Results: The combination of sofosbuvir and daclatasvir is effective in all HCV genotypes, in certain conditions such as renal impairment, severe liver fibrosis, children and the elderly. Conclusion: The combination of sofosbuvir and daclatasvir is a treatment option that can be used in patients with chronic HCV infection. The combination of sofosbuvir and daclatasvir can be used in certain clinical conditions

    Analisis Self Efficacy dengan Kejadian Hipertensi pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo

    Get PDF
    The researchers aimed to assess the self-perceived abilities of local residents within the service area of Sipatana Health Center in Gorontalo City concerning their impact on combating hypertension. This study utilized a cross-sectional methodology with correlational analysis. A total of seventy-two participants were purposively sampled using the Slovin method. Chi-square and linear regression analyses were employed. The results revealed a significant association between self-efficacy and hypertension rates in the catchment area of Sipatana Public Health Center in Gorontalo City (p=0.004). Furthermore, factors such as gender (p=0.005), higher educational attainment (p=0.014), adopting a healthy lifestyle (p=0.005), maintaining high medication adherence (p=0.022), engaging in moderate physical activity (p=0.003), refraining from smoking (p=0.045), having a normal weight (p=0.000), and having mild obesity (p=0.041) were found to influence the relationship between self-efficacy and the prevalence of hypertension. When controlling for medication adherence, physical activity, and obesity, the study showed that self-efficacy has a positive correlation with hypertension prevalence (F count 10.844, p value 0.000, R 0.569, R Squared 0.324). In summary, medication adherence, physical activity, and obesity collectively contribute to the 32.4% positive correlation observed between self-efficacy and hypertension within the Sipatana Health Center's catchment area in Gorontalo City.Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan self efficacy dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo. Rancangan penelitian analisis correlational, pendekatan cross sectional. Sampel 72 orang dengan rumus slovin, teknik purposive sampling. Analisis dilakukan menggunakan uji chi square dan analisis regresi liner. Hasil penelitian adalah ada hubungan antara self efficacy dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo (? value 0,004). Jenis kelamin laki-laki (? value 0,005), pendidikan tinggi (? value 0,014), gaya hidup baik (? value 0,005), kepatuhan minum obat tinggi (? value 0,022), aktivitas fisik sedang (? value 0,003), perilaku tidak merokok (? value 0,045) dan berat badan normal (0,000) serta obesitas ringan (0,041) menjadi faktor yang mempengaruhi hubungan antara self efficacy dengan kejadian hipertensi. Variabel kepatuhan minum obat, aktivitas fisik dan obesitas berpengaruh bersama-sama paling berpengaruh secara signifikan terhadap hubungan antara self efficacy dengan kejadian hipertensi (F hitung 10,844; ? value 0,000; R 0,569; R Square 0,324). Kesimpulan: hubungan antara self efficacy dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo dipengaruhi oleh variabel kepatuhan minum obat, aktivitas fisik dan obesitas sebesar 32,4%

    Pengaruh Jumlah Hari Perawatan Terhadap Peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR) Di Rumah Sakit EMC Cikarang

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah hari perawatan terhadap peningkatan BOR Di Rumah Sakit EMC Cikarang. Penelitian dilakukan dengan metode explanatori dengan pendekatan kuantitatif.Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan studi pustaka tentang hubungan antara jumlah hari perawatan dengan peningkatan BOR. Dari hasil penelitian Uji Regresi Linier Sederhana didapati Variabel X memiliki pengaruh terhadap Variabel Y sebesar 70% dengan persamaan regresi 0,69% dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1 harga Jumlah Hari Perawatan  Maka akan bertamba nilai Bed Occupancy Rate(BOR)  sebesar 0,714% dan hasil untuk Uji Koefisien Kolerasi sebesar 0,84 maka artinya Jumlah Hari Perawatan  dan Peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR)  memiliki hubungan linier sempurna langsung dan tingkat hubungan yang sangat kuat. Dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemui  permasalahan diantaranya: Adanya perbedaan jumlah pasien setiap bulan yang berpengaruh terhadap hari perawatan . perbedaan pasien setiap bulan ini dikarenakan banyaknya penyakit kejadian kasus luar biasa sehingga deperlukan perawatan rawat inap di Rumah Sakit EMC Cikarang. Adapun saran yang diberikan penulis untuk mengatasi masalah ini adalah: (1).Dinas kesehatan terkait dan pihak rumah sakit bekerjasama mengaplikasikan dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang dilakukan minimal 3 kali dalam satu minggu agar masyarakat mengetahui dan paham terhadap kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.(2). Menambah jumlah tempat tidur untuk mengantisipasi kenaikan nilai bed occupancy rate (BOR) yang lebih signifikan di tahun selanjutnya.This study aims to determine the effect of the number of days of treatment on the increase in BOR at EMC Cikarang Hospital.The research was carried out using an explanatory method with a quantitative approach. Data collection was carried out through observation and literature study on the relationship between the number of days of treatment and an increase in BOR. From the results of the Simple Linear Regression Test it was found that the X variable had an influence on the Y variable by 70% with a regression equation of 0.69%, which means that every 1 increase in the price of the number of days of treatment will increase the value of the Bed Occupancy Rate (BOR) of 0.714% and the result for the Correlation Coefficient Test of 0.84, it means that the Number of Days of Treatment and the Increase in Bed Occupancy Rate (BOR) has a direct perfect linear relationship and a very strong level of relationship. From the results of the research conducted, problems were encountered including: There was a difference in the number of patients each month which affected the day of treatment. The difference in patients every month is due to the large number of extraordinary cases that require inpatient treatment at the EMC Cikarang Hospital. The suggestions given by the author to overcome this problem are: (1). The related health office and the hospital work together to apply and conduct outreach to the community which is carried out at least 3 times a week so that people know and understand personal(2). Increase the number of beds to anticipate a more significant increase in the bed occupancy rate (BOR) in the following year

    Hubungan Konsumsi Kafein Pada Pasien Migrain

    Get PDF
    Migrain merupakan keadaan yang ditandai dengan episode sakit kepala sedang hingga berat, biasanya unilateral, mual dan muntah, serta berkaitan dengan peningkatan kepekaan terhadap cahaya dan suara. Faktor risiko migrain berupa genetik, stres, perubahan hormon, ovulasi, kehamilan, alkohol, merokok dan kurang tidur. Kafein dosis yang sesuai diketahui dapat digunakan sebagai terapi adjuvan dalam pengobatan migrain dengan mekanisme kerjanya yang kompleks. Sebaliknya apabila kafein dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dan dalam waktu yang lama, kemudian berhenti makan dapat menyebabkan terjadinya migrain. Sumber literatur yang digunakan yaitu Pubmed, Google scholar, Medline, Ebsco, Hindawi, Science direct dan Cochrane. Setelah ditemukan berbagai literatur yang sesuai maka penulisan literatur dimulai. Kafein terdapat dalam berbagai macam produk, salah satunya adalah kopi. Kafein dengan dosis yang tepat yaitu sekitar 50 – 100 mg dapat digunakan sebagai terapi dalam mengobati migrain sesuai dengan mekanisme kerjanya. Withdrawal kafein yang terjadi dalam 24 jam setelah konsumsi kafein reguler lebih dari 200 mg/hari selama 2 minggu merupakan salah satu faktor risiko terjadinya migraine. Hal ini menunjukan bahwa kafein dapat berguna untuk terapi migrain, tetapi juga dapat menjadi pemicu migrain. Migrain merupakan keadaan sakit kepala yang kompleks dengan faktor risiko dan tanda gejalanya. Penggunaan kafein telah diketahui dapat berfungsi sebagai terapi migrain tetapi apabila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak sesuai maka dapat menyebabkan terjadinya migrain.Migraine is a condition characterized by episodes of moderateto severe headaches, usually unilateral, nausea and vomiting, and isassociated with increased sensitivity to light and sound. Risk factorsfor migraine are genetics, stress, hormonal changes, ovulation,pregnancy, alcohol, smoking and lack of sleep. Appropriate doses ofcaffeine are known to be used as adjuvant therapy in treating migrainewith a complex mechanism of action. Conversely, if caffeine is consumedin excessive amounts and for a long time, then stopping can causemigraines. Sources of literature used are Pubmed, Google Scholar,Medline, Ebsco, Hindawi, Science Direct and Cochrane. After finding avariety of appropriate literature, the writing of the literature began.Caffeine is found in a variety of products, one of which is coffee.Caffeine with the correct dose, around 50-100 mg, can be used to treatmigraines according to its mechanism of action. Caffeine withdrawalwithin 24 hours after regular caffeine consumption of more than 200mg/day for 2 weeks is a risk factor for migraine. This shows thatcaffeine can be useful for migraine therapy, but it can also be amigraine trigger. Migraine is a complex headache with risk factors andsymptoms. Caffeine has been known to function as a migraine therapy, butit can cause migraines when consumed inappropriately

    Penggunaan Eculizumab sebagai Pilihan Terapi pada Pasien HUS dengan Transplantasi Ginjal

    Get PDF
    Latar Belakang: Hemolytic Uremic Syndrome (HUS) adalah bentuk trombotik mikroangiopati yang ditandai dengan trombositopenia, anemia hemolitik mikroangiopati dan gagal ginjal akut, serta dapat terjadi baik pada anak anak maupun orang dewasa. Eculizumab adalah antibodi monoklonal chimeric IgG2/4 yang berpasangan dengan protein komplemen C5 dan digunakan untuk mengobati atau mencegah kekambuhan HUS setelah transplantasi ginjal. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan eculizumab sebagai pilihan terapi pada pasien HUS yang telah menjalani transplantasi ginjal mengenai dampak dan cara pemberianya. Metode: Tinjauan literatur dari dua database yaitu Google Scholar dan PubMed yang terbit dalam rentang waktu 5 tahun  yaitu dari tahun 2018-2023. Hasil: Didapatkan 11 literatur yang membuktikan eculizumab dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terapi pada pasien HUS dengan transplantasi ginjal. Dampak eculizumab dapat menurunkan risiko kekambuhan atau timbulnya HUS pasca transplantasi ginjal. Walaupun kebanyakan efek samping pemberian eculizumab tidak serius, meningitis hingga kematian tidak dapat dikesampingkan. Maka dibutuhkan pedoman tatacara penggunaan eculizumab berdasarkan data yang lebih besar untuk mengurangi risiko infeksi dan memangkas biaya.Background: Hemolytic Uremic Syndrome (HUS) is a form of thrombotic microangiopathy characterized by thrombocytopenia, microangiopathic hemolytic anemia and acute renal failure, occur in both children and adults. Eculizumab is a chimeric IgG2/4 monoclonal antibody that pairs with complement protein C5 and is used to treat or prevent relapse of HUS after kidney transplantation. Purpose: This article aims to determine the use of eculizumab as a therapeutic option in HUS patients with kidney transplants and explaining both the clinical effect and the method of administration. Method: Literature review from two databases, namely Google Scholar and PubMed, which were published within the last 5 years, from 2018-2023. Results: There were 11 literatures proving that eculizumab can be considered as a therapeutic option in HUS patients with kidney transplantation. Eculizumab can reduce the risk of recurrence or the emergence of HUS after kidney transplantation. Although most of the side effects of eculizumab are not serious, meningitis and death cannot be ruled out. So guidelines for the use of eculizumab are needed based on larger data to reduce the risk of infection and cost lost

    Skrining Fitokimia serta Analisis Mikroskopik dan Makroskopik Ekstrak Etanol Daun Seledri (Apium graveolens L.)

    Get PDF
    Tumbuhan Seledri merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan kimia diantaranya flavonoid, saponin, tanin, apiin, minyak atsiri, apigenin, kolina, vitamin A, B, C, zat pahit asparagin yang berkhasiat sebagai anti hipertensi, diuretik ringan dan antiseptik pada saluran kemih serta antirematik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui parameter mutu simplisia meliputi pemeriksaan mikroskopik, makroskopik pada simplisia daun seledri (Apium graveolens L.) serta identifikasi fitokimia ekstrak daun seledri. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96% pada simplisia daun seledri, kemudian dilakukan pengujian mikroskopik dan makroskopik pada daun seledri serta dilakukan identifikasi senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid/steroid, saponin dan tanin pada ekstrak daun seledri. Penelitian ini diperoleh hasil makroskopik daun seledri berwarna hijau tua berbentuk belah ketupat miring atau bulat telur memanjang tipis, ujung daun meruncing, tepi berbagi dan bergerigi berbau khas aromatik memiliki rasa agak pedas, untuk simplisia daun seledri berwarna coklat kehijauan, berbentuk belah ketupat miring keriput, rapuh berbau aromatik tidak berasa. Hasil pengujian mikroskopik daun seledri memiliki fragmen pengenal seperti hablur kalsium oksalat, epidermis, parenkim dan xilem dengan floem. Pada pengujian skrining fitokimia hasil menunjukan bahwa ekstrak etanol daun seledri positif mengandung flavonoid, steroid, saponin dan tanin.Celery plants are plants that have chemical content including flavonoids, saponins, tanins, apiin, essential oils, apigenin, choline, vitamins A, B, C, asparagine bitter substances that are efficacious as anti-hypertension, mild diuretics and antiseptics in the urinary tract and antirheumatic. The purpose of this study was to determine the quality parameters of simplisia including microscopic, macroscopic examination of celery leaf simplisia (Apium graveolens L.) and phytochemical identification of celery leaf extract. This research uses maceration extraction method with 96% ethanol solvent on celery leaf simplisia, then microscopic and macroscopic testing on celery leaves and identification of flavonoid, alkaloid, terpenoid/steroid, saponin and tanin compounds in celery leaf extract. This study obtained macroscopic results of dark green celery leaves in the form of oblique rhombus or thin elongated ovoid, tapered leaf tips, sharing and serrated edges with a distinctive aromatic smell that has a slightly spicy taste, for celery leaf simplisia greenish brown, oblique rhombus-shaped wrinkled, fragile aromatic smell tasteless. The results of microscopic testing of celery leaves have identifying fragments such as calcium oxalate hablur, epidermis, parenchyma and xylem with phloem. In phytochemical screening test results show that ethanol extract of celery leaves is positive for flavonoids, steroids, saponins and tanins

    Hubungan antara Kadar HBA1C dan Kadar Serum Kreatinin dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Darmayu Ponorogo

    Get PDF
    This study aims to assess the relationship between HbA1c levels and serum creatinine levels with the incidence of hypertension in type 2 Diabetes Mellitus patients at Darmayu Ponorogo General Hospital. The study used a correlation design and type of analytical observational research with a cross-sectional approach with a total sample size of 95 respondents. Data on HbA1c and serum creatinine levels were measured using standard laboratory methods. The results showed that there was no significant positive correlation between the level of HbA1c and the incidence of hypertension in patients with type 2 diabetes mellitus. However, there was no significant correlation between serum creatinine levels and the incidence of hypertension in this population. These findings may guide the management and prevention of hypertensive complications in patients with type 2 diabetes mellitus.Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kadar HbA1c dan kadar serum kreatinin dengan kejadian hipertensi pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum Darmayu Ponorogo. Penelitian menggunakan desain korelasi dan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 95 responden . Data kadar HbA1c dan serum kreatinin diukur menggunakan metode laboratorium standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak lterdapat korelasi positif yang signifikan antara tingkat HbA1c dan kejadian hipertensi pada pasien Diabetes Melitus tipe 2. Namun, tidak terdapat korelasi signifikan antara kadar serum kreatinin dengan kejadian hipertensi pada populasi ini. Temuan ini dapat menjadi panduan dalam manajemen dan pencegahan komplikasi hipertensi pada pasien Diabetes Melitus tipe 2

    Perbedaan Tingkat Literasi Gizi dan Status Gizi Antara Mahasiswa Gizi dan Mahasiswa Non Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Get PDF
    Salah satu bidang yang masih kekurangan pelayanan kesehatan di Indonesia adalah bidang gizi. Mahasiswa berisiko mengalami masalah akibat perubahan perilaku terkait kesehatan, termasuk kebiasaan makan yang buruk. Literasi gizi merupakan faktor penting yang mempengaruhi kebiasaan makan sehat seseorang serta mempengaruhi kualitas pola makan seseorang. Tingkat literasi gizi seseorang diukur dari kemampuannya memperoleh, menganalisis, dan menerapkan data terkait gizi untuk menentukan pilihan pola makan yang terdidik. Penelitian ini menggunakan jenis observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel 152 mahasiswa masing-masing 76 mahasiswa gizi dan 76 mahasiswa non gizi secara consecutive sampling. Pengumpulan data tingkat literasi gizi menggunakan kuesioner Newest Vital Sign (NVS) yang telah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia dan status gizi didapatkan dari pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung. Analisis data digunakan untuk menganalisis perbedaan adalah uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan tingkat literasi gizi pada mahasiswa gizi dalam kategori memadai (97.4%) sedangkan pada mahasiswa non gizi dalam kategori terbatas (47.4%). Status gizi berdasarkan indeks massa tubuh sebagian besar normal (71.1% mahasiswa gizi dan 73.7% mahasiswa non gizi). Hasil uji statistik perbedaan menunjukan jurusan gizi dan non-jurusan di Universitas Muhammadiyah Surakarta berbeda secara signifikan (p= 0.00) dalam literasi gizi mereka, meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan (p= 0.67) dalam status gizi mereka.One area where Indonesian healthcare has fallen short is in the area of ??nutrition.. Students are at risk of experiencing problems due to changes in health-related behavior, including poor eating habits. Nutritional literacy is an important factor that influences a person's healthy eating habits and influences the quality of a person's diet. A person's level of nutritional literacy is measured by their ability to obtain, analyze, and apply nutrition-related data in order to make educated dietary choices. This research uses an observational type with a cross-sectional design. The total sample was 152 students, 76 nutrition students and 76 non-nutrition students using consecutive sampling. Data collection on nutritional literacy levels uses the Newest Vital Sign (NVS) questionnaire which has been adapted into Indonesian and nutritional status is obtained from direct measurements of body weight and height. Data analysis used to analyze differences is the Mann-Whitney test. The research results show that the level of nutritional literacy among nutrition students is in the adequate category (97.4%) while for non-nutrition students it is in the limited category (47.4%). Nutritional status based on body mass index was mostly normal (71.1% of nutrition students and 73.7% of non-nutrition students). The result is nutrition majors and non-majors at University of Muhammadiyah Surakarta differed significantly (p= 0.00) in their nutritional literacy, although there was no significant difference (p= 0.67) in their nutritional status

    Pola Tidur, Status Gizi dan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Get PDF
    Siapa pun yang terdaftar di pendidikan pasca sekolah menengah universitas, institut, sekolah menengah atas, akademi, dan politeknik dianggap sebagai Mahasiswa. Kegiatan mahasiswa yang cukup banyak seperti padatnya perkuliahan, ujian dan kegiatan diluar perkuliahan (organisasi kampus maupun luar kampus) Efeknya pada kualitas tidur dan kebiasaan makan yang tidak teratur, yang memengaruhi kinerja akademik dan kesehatan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara status gizi, prestasi akademik dengan pola tidur pada mahasiswa Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Metode yang digunakan yaitu analisis observasional dengan metode desain penelitian cross sectional. Sebanyak 142 mahasiswa dijadikan sebagai sampel penelitian. Data diambil menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur tinggi badan dengan microtoise, berat badan dengan timbangan dan prestasi akademik diambil dari IPK keseluruhan. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman di SPSS. Nilai P 0,040 (p <0,05) ditemukan dalam pemeriksaan hubungan antara pola tidur dan status gizi, dan nilai p 0,197 (p> 0,05) ditemukan dalam hubungan antara pola tidur dan prestasi. Penelitian ini menemukan bahwa pola tidur dan status gizi sangat berkorelasi, tetapi tidak ada hubungan antara pola tidur dan prestasi akademik.Anyone enrolled in post-secondary education universities, institutes,high schools, colleges, and polytechnics is considered a Student. Thelarge number of student activities such as busy lectures, exams andactivities outside of lectures (campus and off-campus organizations)have an effect on sleep quality and irregular eating habits, whichaffect academic performance and nutritional health. This study aims toinvestigate the relationship between nutritional status, academicachievement and sleep patterns in Nutrition Science students at theMuhammadiyah University of Surakarta. The analytical method used isobservational with a cross sectional research design method. A total of142 students were used as research samples. Data was taken using thePittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire, measuring heightwith microtoise, weight with scales and academic achievement taken fromoverall GPA. Data analysis used the Spearman correlation test in SPSS. AP value of 0.040 (p<0.05) was found in examining the relationshipbetween sleep patterns and nutritional status, and a p value of 0.197(p>0.05) in the relationship between sleep patterns and achievementwas found. This study found that sleep patterns and nutritional statuswere very poor, but there was no relationship between sleep patterns andacademic achievement

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇