Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Uji Coba Terbatas Nuget Ikan Teri Stolephorus Sp terhadap Bone Density Mineral, Vitamin D 25-OH Total, dan Kadar Kalsium Darah pada Lanjut Usia

    Get PDF
    Osteoporosis merupakan penyakit penurunan kepadatan tulang dan terjadi seiring bertambahnya usia dan terutama pada Lanjut usia. Osteoporosis identik terhadap Bone Mineral Density rendah yang berhubungan dengan Bone Turn Over, di mana parameter biokimianya adalah osteocalcin (OC) pada serum darah. Parameter lainnya adalah Vitamin D, dan kalsium dalam darah. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan pre-post test control group design dilakukan pada 15 lansia Sentra Atensi Meohai Kendari yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok perlakuan diberikan produk nuget ikan teri Stolephorus sp 100g/hari (perlakuan 1) dan 200g/hari (perlakuan 2) selama 14 hari. Kadar bone mineral density (N-MID Osteocalcin), kadar vitamin D 25-OH total dan kadar kalsium darah dianalisis dengan one way anova/Kruskal Wallis test. Kecenderungan peningkatan kadar N-MID Osteocalcin, kadar vitamin D-25 OH total dan kadar kalsium darah setelah diberikan perlakuan nugget ikan teri (Steloporus sp), di mana kelompok P2 memiliki kecenderungan peningkatan lebih tinggi dibandingkan kelompok P0 dan P1 walaupun secara statistik tidak ada perbedaan kadar N-MID Osteocalcin, kadar vitamin D 25-OH total dan kadar kalsium darah setelah perlakuan pada ketiga kelompok penelitian. Perlu penelitian lanjutan dengan kelompok perlakuan yang lebih besar dan kontrol terhadap pembias penelitian.Osteoporosis is a disease of decreased bone density and occurs with age and especially in the elderly. Osteoporosis is identical to low Bone Mineral Density associated with Bone Turn Over, where the biochemical parameter is osteocalcin (OC) in blood serum. Other parameters are Vitamin D, and calcium in the blood. This research is a quasi-experimental research with a pre-post test control group design design conducted on 15 elderly Meohai Kendari Attention Center divided into 3 groups. The treatment group was given anchovy nuget products Stolephorus sp 100g/day (treatment 1) and 200g/day (treatment 2) for 14 days. Bone mineral density (N-MID Osteocalcin), total vitamin D 25-OH and blood calcium levels were analyzed with a one way anova/Kruskal Wallis test. The tendency to increase N-MID Osteocalcin levels, total vitamin D-25 OH levels and blood calcium levels after anchovy nugget treatment (Steloporus sp), where the P2 group had a tendency to increase higher than the P0 and P1 groups although statistically there was no difference in N-MID Osteocalcin levels, total 25-OH vitamin D levels and blood calcium levels after treatment in the three study groups. Further research is needed with larger treatment groups and control of research refractors

    Kepemilikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak Berhubungan dengan Perilaku Orang Tua dalam Memberikan Stimulasi dan Tingkat Perkembangan Anak

    Get PDF
    Carrying out adequate stimulation means stimulating the child's brain so that the development of movement, speech and language, socialization, and independence takes place optimally according to the child's age. Ownership of the MCH Handbook plays an important role for parents and caregivers, especially as a guide in providing stimulation to children. The purpose of this study was to determine the relationship between ownership of the MCH handbook and parents' behavior in providing stimulation and the level of child development. This type of research is quantitative with a cross-sectional design. This research was carried out from January to June 2021 in the working area of the Bengkuring Health Center, North Samarinda sub-district, Samarinda City. The sample used was 68 mothers who had children aged 0-18 months using a purposive sampling technique. Data collection was carried out using questionnaires and observation sheets that were used to determine the mother's behavior during stimulation. Developmental Pre-Screening Questionnaire (KPSP) is used to determine the level of development of children (0-18 months). Then the data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square test. The results showed a P value (<0.05), which means that statistically there is a relationship between ownership of the MCH handbook and parents' behavior in providing stimulation and the level of child development. So it is hoped that in the future health workers will be able to increase their role in motivating parents in providing stimulation to children under the MCH handbook as a guideline.Melakukan stimulasi yang memadai artinya merangsang otak anak sehingga perkembangan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak. Kepemilikan Buku KIA berperan penting bagi orang tua maupun pengasuh terutama sebagai pedoman dalam memberikan stimulasi pada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepemilikan buku KIA dengan perilaku orang tua dalam memberikan stimulasi dan tingkat perkembangan anak. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Juni tahun 2021 di wilayah kerja Puskesmas Bengkuring kecamatan Samarinda Utara kota Samarinda. Sampel yang digunakan sebanyak 68 ibu yang memiliki anak usia 0-18 bulan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui perilaku ibu dalam melakukan stimulasi. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan anak (0-18 bulan). Kemudian data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan p value (< 0,05) yang artinya secara statistik ada hubungan kepemilikan buku KIA dengan perilaku orang tua dalam memberikan stimulasi dan tingkat perkembangan anak. Sehingga diharapkan ke depannya agar tenaga kesehatan mampu meningkatkan perannya dalam memotivasi orang tua dalam memberikan stimulasi pada anak sesuai dengan buku KIA sebagai pedoman

    Pemilihan Kontrasepsi Pasca Salin (KBPP) di RSUD Karawang

    Get PDF
    The family planning program is one of the programs for population control through birth control. Post partum family planning is a service provided to postpartum patients up to 42 days after delivery. Postpartum family planning is an effort to prevent pregnancy by using contraceptive devices and drugs immediately after delivery up to 42 days/6 weeks after delivery. The purpose of this study was to determine the factors that influence the choice of KB PP at Karawang Hospital in 2023. This research is a quantitative study with a cross-sectional approach. The population in this study were all mothers giving birth at Karawang Hospital. While the number of samples is 62 respondents (using the slovin formula). The results showed that the majority of mothers aged > 35 years were 38 (61.3%), had good knowledge of 42 respondents (67.7%), parity ? 2 was 38 (61.3%), history of previous short-term family planning was 37 ( 59.7%), prenatal counseling 59 (95.1%) and husband support 60 (96.8%), statistical test results obtained p value for age (p value = 0.000), knowledge (p value = 0.000), parity (p value = 0.003), prenatal counseling (p value = 0.516) and husband's support (p value = 0.138). Based on the husband's statistical test results, it can be interpreted that there is a relationship between the factors of age, knowledge, parity and history of previous family planning with the choice of KBPP while prenatal counseling and support have no relationship with the choice of KBPP. It is hoped that the results of this study will further explore other factors that might influence the selection of KBPP.Program KB sebagai salah satu program untuk pengendalian penduduk melalui pengaturan kelahiran. Keluarga Berencana Pasca Persalinan (postpartum) adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien pasca persalinan sampai kurun waktu 42 hari KB pasca persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu setelah melahirkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahu faktor yang mempengaruhi pemilihan KBPP di RSUD Karawang Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin di RSUD Karawang. Sedangkan jumlah sampel 62 responden (menggunakan rumus slovin). Hasil penelitian diperoleh sebagian besar ibu memiliki usia >35 tahun sebanyak 38 (61,3%), pengetahuan baik 42 responden (67.7%), paritas ? 2 berjumlah 38 (61,3%), riwayat KB terdahulu jangka pendek 37 (59,7%), konseling pra persalinan 59 (95,1%) dan dukungan suami 60 (96,8%), Hasil uji statistic diperoleh nilai p value usia (p value = 0,000), pengetahuan (p value = 0,000), paritas (p value = 0,003), konseling pra persalinan (p value = 0,516) dan dukungan suami (p value = 0,138). Berdasarkan hasil uji statistic dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara faktor usia, pengetahuan, paritas dan riwayat KB terdahulu dengan pemilihan KBPP sedangkan konseling pra persalinan dan dukungan suami tidak ada hubungan dengan pemilihan KBPP. Diharapkan dengan hasil penelitian ini menjadi digali lebih dalam faktor lain yang mungkin berpengaruh pada pemilihan KBPP

    Survei Kebutuhan Asuhan Kebidanan dalam Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

    Get PDF
    The development of services in various fields is always directed at the needs of its users, as an answer to the demands of the needs of the community. Midwifery care with mothers as the main users, so far has not met the needs of the community. This has an impact on the achievement of success indicators for mother and child services that have not met expectations. Therefore, it is necessary to know the needs of the community for midwifery care as a basis for improving midwifery care in Indonesia. This study aims to determine satisfaction with midwifery care. This study used a survey method, to find out the picture of maternal needs for midwifery care. The affordable population is mothers who receive midwifery care in several Puskesmas Kediri Regency, Bandung City, Padang City, Jakarta, Purwokerto, Surabaya and Tangerang. Sample selection was carried out by incidental sampling on all mothers who visited the maternal and child health poly (MCH) at the Puskesmas. The instrument used is a questionnaire. The data is analyzed and presented descriptively. Based on the data obtained, of the 604 mothers, it is known that only 2% (12) of mothers expressed satisfaction with the care provided by midwives. Further analysis per question item based on the aspect of care, it is known that the perception of aspects of care that are felt to be lacking is the cognitive aspect 18%, affective aspect 38% and skill aspect 44%. The care provided by midwives has not answered the needs of the community, as evidenced by the high level of maternal dissatisfaction with midwifery care.Perkembangan pelayanan jasa di berbagai bidang selalu diarahkan pada kebutuhan penggunanya, sebagai jawaban tuntutan kebutuhan masyarakat. Asuhan kebidanan dengan ibu sebagai pengguna utamanya, selama ini belum memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini berdampak terhadap pencapaian indikator keberhasilan pelayanan ibu dan anak belum sesuai harapan. Karenanya, perlu diketahui kebutuhan masyarakat terhadap asuhan kebidanan sebagai dasar perbaikan asuhan kebidanan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan terhadap asuhan kebidanan. Studi ini menggunakan metode survei, untuk mengetahui gambaran kebutuhan ibu terhadap asuhan kebidanan. Populasi terjangkau adalah ibu yang mendapatkan asuhan kebidanan di beberapa Puskesmas Kabupaten Kediri, Kota Bandung, Kota Padang, Jakarta, Purwokerto, Surabaya dan Tangerang. Pemilihan sampel dilakukan secara incidental sampling pada seluruh ibu yang mengunjungi poli kesehatan ibu dan anak (KIA) di Puskesmas. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner. Data dianalisis dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan data yang diperoleh, dari 604 ibu diketahui hanya sebesar 2% (12) ibu menyatakan puas terhadap asuhan yang diberikan bidan. Analisis lanjut per item soal berdasarkan aspek asuhan, diketahui persepsi dari aspek asuhan yang dirasa kurang adalah aspek kognitif 18%, aspek afektif 38% dan aspek skill 44%. Asuhan yang diberikan bidan belum menjawab kebutuhan masyarakat, terbukti dengan masih tingginya ketidakpuasan ibu terhadap asuhan kebidanan

    Implementasi Kebijakan Tatalaksana COVI-19 dan Dampaknya terhadap Burnout Pelaksana di Tingkat Puskesmas

    Get PDF
    Tracking, tracing dan isolasi mandiri penderita covid-19 merupakan upaya tatalaksana terpilih dari seluruh negara didunia untuk pencegahan dan pemutusan rantai penularan. Implementasi kebijakan tatalaksana covid 19 di puskesmas perlu dievaluasi, untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dan dampak kontraproduktifnya, karena kasus sejenis dapat terjadi kapan saja. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk  mengetahui  dampak  implementasi  kebijakan  tata  laksana   covid-19   meliputi  tracking,tracing dan isolasi terhadap burnout tenaga kesehatan sesuai dengan pengalaman pelaksana. Metoda penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri  dari 24  orang  informan terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, tenaga surveilans dan tenaga kesehatan, masyarakat penyintas covid 19 di lima  puskesmas, serta  124 tenaga  kesehatan  yang  ditentukan secara purposive.  Data dikumpulkan melalui  wawancara,  diskusi  kelompok  terarah,  observasi  dan studi dokumentasi.  Analisa data menggunakan teknik kualitatif melalui  reduksi, dan interpretasi data, validasi data dengan triangulasi terhadap sumber data dan metode, serta menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan implementasi pelacakan kontak erat dan pemantauan isolasi mandiri serta vaksinasi tahun 2020 sampai Juni 2022 belum mencapai target. Pelaksana sudah memahami kebijakan sesuai fungsi pelaksana sehingga disadari sebagai tanggung jawab profesi. Kebijakan tatalaksana dikomunikasikan secara berjenjang dan bertahap sesuai kebijakan nasional yang berlaku secara struktural direktif. Koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dilakukan secara internal dan eksternal. Terbatasnya jumlah tenaga teknis pelaksana, dan belum terintegrasinya sistem informasi menyebabkan  tingkat burnout mayoritas  pelaksana  kategori  rendah  sampai  sedang, artinya  tenaga kesehatan  merasakan adanya tuntutan tugas yang tinggi dan mengganggu pikiran, dan waktu istirahat tetapi tidak mengganggu tugas, karena tata nilai budaya saling membantu dan ikhlas berkorban sebagai bentuk ibadah menjadi  motivasi kuat pelaksana tugas.Tracking, tracing and self-isolating Covid-19 sufferers is the chosen management effort from all countries in the world to prevent and break the chain of transmission. The implementation of Covid 19 management policies in community health centers needs to be evaluated, to increase effectiveness and efficiency and its counterproductive impacts, because similar cases can occur at any time. The aim of this research is to determine the impact of implementing Covid-19 management policies including tracking, tracing and isolation on burnout of health workers according to the implementer's experience. Descriptive research method with a qualitative approach. The research subjects consisted of 24 informants consisting of the Head of the Health Service, Head of the Community Health Center, surveillance staff and health workers, community survivors of Covid 19 in five community health centers, as well as 124 health workers who were determined purposively. Data was collected through interviews, focus group discussions, observation and documentation studies. Data analysis uses qualitative techniques through data reduction and interpretation, data validation by triangulation of data sources and methods, and concluding. The research results show that the implementation of close contact tracing and self-isolation monitoring and vaccination from 2020 to June 2022 has not reached the target. The implementer already understands the policy according to the implementer's function so that it is recognized as a professional responsibility. Management policies are communicated in stages and stages in accordance with applicable national policies and structural directives. Coordination, integration and synchronization are carried out internally and externally. The limited number of implementing technical personnel, and the lack of integrated information systems have caused the burnout level of the majority of implementers to be in the low to medium category, meaning that health workers feel that there are high job demands that disturb their minds, and rest time does not interfere with their tasks, because the cultural values ??are mutually helpful and sincere. sacrificing as a form of worship becomes a strong motivation for carrying out tasks

    Pengaruh breast care setelah persalinan terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di ruang kebidanan puskesmas wilayah kota Kendari Sulawesi Tenggara

    No full text
    Pengaruh breast care setelah persalinan terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di ruang kebidanan puskesmas wilayah kota Kendari Sulawesi Tenggar

    Disparitas Stunting di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan: Systematic Review

    Get PDF
    Latar belakang: Prevalensi stunting yang masih tinggi di wilayah pedesaan dibandingkan perkotaan menjadi perhatian utama dalam konteks kesehatan anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan tersebut dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi, dengan harapan memberikan wawasan krusial untuk perencanaan intervensi guna mengurangi prevalensi stunting, terutama di wilayah pedesaan. Metode: Penelitian ini menggunakan systematic review dengan pencarian literatur di PubMed dan Google Scholar, mengikuti panduan PRISMA. Kata kunci mencakup “Disparities” OR “Disparity” OR “Inequalities” AND “Rural” AND “Urban” AND “Stunting” dalam artikel bahasa Inggris yang diterbitkan antara 2013-2023. Didapatkan 12 artikel yang layak untuk diteliti. Hasil Penelitian: Prevalensi stunting pada anak di bawah 5 tahun lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan, meskipun terjadi penurunan secara keseluruhan. Kesenjangan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor kompleks seperti sosial demografi, kesenjangan ekonomi, dan akses pelayanan kesehatan. Kesimpulan: Faktor penyebab disparitas melibatkan karakteristik demografis, lingkungan, pendidikan ibu, status ekonomi, dan aksesibilitas pelayanan kesehatan. Rekomendasi kebijakan untuk mengatasi masalah ini termasuk peningkatan pemeriksaan antenatal dan pendidikan ibu, strategi gizi, perbaikan sanitasi, dan pengurangan kemiskinan

    Radiografi Mastoid Air Cell dengan Sangkaan Mastoiditis di Rumah Sakit Umum Haji Medan

    Get PDF
    Mastoid adalah rongga kecil di dalam subtansi tulang, berisi udara yang berhubungan melalui aditus ke dalam cavum timpani. Mastoid terletak ditelinga bagian tengah (auris media). Banyak kelainan terdapat pada telinga tengah (auris media) salah satunya adalah Mastoiditis. Mast oiditis adalah suatu peradangan atau infeksi yang terjadi pada pada sel-sel mastoid yang terletak pada tulang temporal yang biasanya berasal dari cavum timpani. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui teknik pemeriksaan dan memperlihatkan anatomi radiografi Mastoid Air Cell dengan diagnosa Mastoiditis dan alasan penggunaan proyeksi axiolateral pada sisi yang sakit saja dengan alasan menyesuaikan permintaan dokter pengirim, mengurangi biaya pemeriksaan bagi pasien serta mengurangi radiasi yang diterima pasien. Pemeriksaan ini menggunakan dua proyeksi, yaitu proyeksi AP Axial (Towne) dengan penyudutan sinar sebesar 30 derjat caudal dan proyeksi Axiolateral (Schuller). Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kualitatif dan deskriptif. Pelaksanaan radiografi mastoid menggunakan pencatatan gambar dengan sistem Computer Radiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam ilmu yang telah di dapat sewaktu dalam perkuliahan dan untuk melihat kelainan pada Mastoid. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Medan pada tanggal 17 Ma.ret 2022, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi. Dengan hasil ekspertise dokter radiologi “Tampak perselubungan pada mastoid air cells kanan”. Kesimpulan Mastoiditis kanan

    Tinea Berulang Pada Pengguna Anti-Epileptik Jangka Panjang

    Get PDF
    Tinea capitis is a disorder of the skin and scalp caused by dermatophyte species capable of infecting keratin, such as Trichophyton and Microsporum. Several risk factors that can cause tinea capitis include gender, age, level of hygiene, place, economic status, education level, contact with people with tinea capitis, conditions that can reduce the immune system against infection such as the use of drugs, diabetes mellitus, and obesity. Tinea capitis is classified according to its shape, including gray patch ringworm, blackdot ringworm, kerion, and favus. A case of tinea capitis is reported in a 16 year old boy with complaints of itching on the scalp since 2 weeks before going to the hospital. Localized lesions on the scalp with efflorescence in the form of erythematous papules, multiple lenticular sizes, gray scales and erosions, atypical configuration and circumscript boundaries were found. Wood's lamp examination revealed a greenish fluorescence. The patient was diagnosed with tinea cruris and was given ketononazole 2% shampoo used twice a week, griseofulvin 125 mg twice a day two tablets, and cetirizine 10 mg once a day. The patient's prognosis is good but relapse can occur because the patient also has a history of epilepsy and routine consumption of antiepileptic which is one of the predisposing factors for tinea capitis.Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita yang mampu menginfeksi keratin, seperti Trichophyton dan Microsporum. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya tinea kapitis diantaranya adalah jenis kelamin, usia, tingkat kebersihan, lokasi tempat tinggal, status ekonomi, tingkat pendidikan, kontak dengan penderita tinea kapitis, serta keadaan yang dapat menurunkan sistem imun melawan infeksi seperti penggunaan obat-obatan, diabetes melitus, dan obesitas. Klasifikasi tinea kapitis dibagi berdasarkan bentuknya, yaitu Gray Patch Rin worm, Blackdot Ringworm, Kerion, dan Favus. Dilaporkan kasus tinea kapitis pada seorang anak laki laki berusia 16 tahun dengan keluhan gatal pada kulit kepala sejak 2 minggu sebelum periksa ke rumah sakit. Ditemukan lokasi lesi pada scalp dengan efloresensi berupa papul eritema, ukuran lentikular dengan jumlah multipel, didapatkan skuama keabuan serta erosi, konfigurasi tidak khas dan batas si kumskrip. Pemeriksaan Lampu Wood didapatkan fluoresensi kuning kehijauan. Pasien didiagnosis tinea kapitis dan diberikan sampo ketononazole 2% yang digunakan dua kali seminggu, griseofulvin 125mg 2 kali sehari dua tablet, dan cetirizine 10mg satu kali sehari. Prognosis pasien baik tetapi dapat terjadi kekambuhan karena pasien juga memiliki riwayat epilepsi dan rutin mengonsumsi antiepileptik yang merupakan salah satu faktor predisposisi tinea kapitis

    Effect of Black Garlic Bawang Lanang on Ankle Brachial Index in Hypertension Patients: A Quasi-Experimental Study

    Get PDF
    Hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya penyakit arteri perifer. Hipertensi berkontribusi pada patogenesis aterosklerosis, proses patologis dasar yang mendasari penyakit vaskular perifer. Penyakit arteri perifer lebih sering terjadi pada ekstremitas bawah dan dapat menyebabkan kelelahan, sensasi kram, atau nyeri. Suplemen bawang putih telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi tekanan darah pada responden hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek black garlic bawang lanang terhadap nilai ankle brachial index (ABI) pada penderita hipertensi. Metode penelitian dengan rancangan kuasi eksperimen pada satu grup dengan total sampel 20 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Intervensi sediaan black garlic selama 14 hari dengan dosis 6 gr/hari. Instrumen yang digunakan digital sphygmomanometer untuk mengukur nilai ABI. Analisis data statistik menggunakan Paired T-Test. Rata-rata nilai ABI sebelum intervensi sebesar 1.02 dan setelah intervensi 1.05. Hasil uji statistik menujukkan terdapat perbedaan rerata nilai ABI (p <0,05). Intervensi black garlic bawang lanang dengan dosis 6gr/hari selama 14 hari meningkatkan nilai ankle brachial index pada responden dengan hipertensi. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkonfirmasi keamanan konsumsi black garlic bawang lanang secara jangka panjang.Hypertension is a risk factor for peripheral arterial disease. Hypertension contributes to the pathogenesis of atherosclerosis, the underlying pathological process of peripheral vascular disease. Peripheral arterial disease more commonly occurs in the lower extremities and can cause fatigue, cramping sensations, or pain. Garlic supplements have shown effectiveness in reducing blood pressure in hypertensive patients. This study aimed to investigate the effect of black garlic bawang lanang on ankle brachial index (ABI) in hypertensive respondent. The research method used a quasi-experimental design with one group and a total sample of 20 respondents. The sampling technique used consecutive sampling. Intervention was done with black garlic preparation for 14 days with a dose of 6 gr/day. The instrument used was a digital sphygmomanometer to measure the ABI value. Statistical data analysis used the Paired T-Test. The average ABI value before the intervention was 1.02, and after the intervention, it was 1.05. The statistical test results showed a significant difference in the mean ABI value (p <0.05). The intervention with black garlic with a dose of 6gr/day for 14 days increased the ankle brachial index value in hypertensive respondents. Further research is needed to confirm the long-term safety of consuming black garlic

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇